Tathayyur (Merasa Sial)

Posted: 9 Juni 2010 in Adat, Kepercayaan Dan Tradisi
Tag:

Merasa sial kerana sesuatu, tempat, waktu, seseorang dan sebagainya adalah termasuk ramalan yang sangat laku di pasaran, secara berkelompok atau perorangan.

Di zaman dahulu pernah juga terjadi demikian, misalnya tentang kaum Nabi Saleh, mereka ini berkata kepadanya:

“Kami merasa sial sebab kamu dan orang-orang yang bersamamu.” (an-Naml: 47)

Fir’aun dan kaumnya apabila ditimpa suatu musibah, mereka menganggap kesialannya itu kerana Musa dan orang-orang yang bersamanya [1].

Dan ramai pula orang-orang kafir yang sesat itu kalau mendapat bala’ dari Allah, mereka kemudian berkata kepada para juru da’wah dan Rasul:

“Kami merasa sial sebab kamu semua.” (Yasin:18)

Tetapi para Rasul itu kemudian menjawab:

“Kesialanmu itu sebab kamu sendiri.” (Yasin: 19)

Yakni sebab-sebab kesialanmu itu ada pada kamu sendiri, iaitu lantaran kamu kufur, ingkar dan memusuhi Allah dan RasulNya.

Orang-orang Arab jahiliah dalam segi ini mempunyai doa yang panjang dan bermacam-macam kepercayaan. Sehingga datanglah Islam kemudian dihapusnya dan mereka dikembalikan untuk mengikuti jalan fikiran yang lurus.

Rasulullah merangkaikan ramalan dan sihir dalam satu susunan, seperti sabdanya: “Bukan dari golongan kami siapa yang merasa sial, atau minta diramalkan kesialannya, atau menenung, atau minta ditenungkan, atau mensihir, atau minta disihirkan.” (Riwayat Thabarani)

Dan sabdanya pula: “Membuat garis di tanah, menganggap sial kerana alamat dan melempar kerikil kerana ada suatu kepercayaan, adalah termasuk menyembah selain Allah.” (Riwayat Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Hibban)

Tathayyur, satu hal yang berdiri tanpa landasan ilmu pengetahuan atau suatu kenyataan yang benar. Tathayyur, hanya berjalan mengikuti kelemahan dan membenarkan dugaan yang salah (waham). Kalau tidak demikian, apa artinya seorang yang berakal percaya mendapat sial kerana seseorang, atau kerana tempat, kerana dengkurnya suara burung, geraknya mata atau terdengarnya suatu perkataan?!

Apabila nalurinya manusia itu ada kelemahan, maka akan mengalir pada dirinya suatu anggapan sial kerana sesuatu. Seharusnya dia tidak mahu menerima kelemahan ini. Lebih-lebih apabila dia sudah sampai pada fase bekerja dan pelaksanaan.

Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: “Ada tiga perkara yang tidak boleh selamat satupun, iaitu: menuduh, tathayyur dan hasud. Oleh kerana itu kalau kamu menuduh jangan kamu nyatakan, dan kalau merasa sial jangan surut (jangan kamu gagalkan pekerjaanmu), dan kalau kamu hasud, jangan lanjutkan.” (Riwayat Thabarani)

Oleh kerana ketiga perkara ini hanya semata-mata perasaan yang tidak berpengaruh pada suatu sikap dan perbuatan, maka dimaafkannya oleh Allah. Dan diriwayatkan pula dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tathayyur (merasa sial) adalah syirik.” 3 kali.

Dan Ibnu Mas’ud sendiri berkata: ” …tetapi Allah akan menghilangkannya dengan tawakkal.” (Riwayat Abu Daud dan Tarmizi)

Apa yang dimaksudkan oleh Ibnu Mas’ud itu, ialah: setiap orang di antara kita ini ada perasaan-perasaan seperti itu, tetapi perasaan semacam ini akan hilang lenyap dari hati orang yang selalu tawakkal dan tidak membiarkan perasaannya itu tinggal dalam hati.

Komentar
  1. […] setuju bila al-Qur’an merupakan hukum tertinggi dalam Islam, apapun literatur diluarnya harus dikonfrontasikan terlebih dahulu dengan al-Qur’an agar bisa diterima nilai […]

  2. […] Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al Waqiah : […]

  3. […] Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al Waqiah : […]

  4. […] “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung […]

  5. […] Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al Waqiah : […]

  6. […] Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al Waqiah : […]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s