Posts Tagged ‘Tathayyur’

https://tausyah.wordpress.com/Ahlul-Jannah

Ahlul Jannah

Diantara rahmat Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan petunjuk kepada manusia tentang jalan yang dapat mengantarkan ke dalam al janah tanpa hisab dan adzab. Jalan tersebut telah dijelaskan oleh Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dalam haditsnya, yang artinya: Akan masuk al jannah dari umatku tujuh puluh ribu tanpa hisab dan adzab (dalam riwayat lain; wajah-wajah mereka bercahaya bagaikan cahaya rembulan di bulan purnama). Kemudian Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam berdiri dan masuk ke dalam rumah. Sementara para shahabat Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam menduga-duga siapakah golongan mereka itu. Diantara para shahabat ada yang menduga, Semoga mereka adalah orang-orang yang menjadi shahabatnya, yang lainnya mengira; “Semoga mereka adalah orang-orang yang lahir dalam keadaan Islam dan tidak pernah berbuat kesyirikan, dan perkiraan-perkiraan yang lainnya.

Kemudian Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam keluar dari rumahnya dan mengkhabarkan sifat golongan yang bakal menjadi penghuni al jannah tanpa hisab dan adzab. Beliau Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, yang artinya: Mereka itu adalah orang-orang yang tidak meminta kay (praktek pengobatan dengan menempelkan besi panas atau semisalnya pada bagian tubuh yang sakit), tidak meminta ruqyah, dan tidak pula berfirasat sial (dengan sebab melihat sesuatu yang disangka ganjil seperti burung dan semisalnya), serta mereka bertawakkal penuh kepada Rabb mereka. Kemudian Ukasyah bin Mihshan berdiri seraya berkata:(Wahai Rasululloh) berdoalah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala supaya aku termasuk golongan mereka. Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam  bersabda: Engkau termasuk dalam golongan tersebut. (HR: Al Bukhari no. 5752 dan Muslim no. 374) (lebih…)

Merasa sial kerana sesuatu, tempat, waktu, seseorang dan sebagainya adalah termasuk ramalan yang sangat laku di pasaran, secara berkelompok atau perorangan.

Di zaman dahulu pernah juga terjadi demikian, misalnya tentang kaum Nabi Saleh, mereka ini berkata kepadanya:

“Kami merasa sial sebab kamu dan orang-orang yang bersamamu.” (an-Naml: 47)

Fir’aun dan kaumnya apabila ditimpa suatu musibah, mereka menganggap kesialannya itu kerana Musa dan orang-orang yang bersamanya [1].

Dan ramai pula orang-orang kafir yang sesat itu kalau mendapat bala’ dari Allah, mereka kemudian berkata kepada para juru da’wah dan Rasul:

“Kami merasa sial sebab kamu semua.” (Yasin:18)

Tetapi para Rasul itu kemudian menjawab:

“Kesialanmu itu sebab kamu sendiri.” (Yasin: 19)

Yakni sebab-sebab kesialanmu itu ada pada kamu sendiri, iaitu lantaran kamu kufur, ingkar dan memusuhi Allah dan RasulNya.

Orang-orang Arab jahiliah dalam segi ini mempunyai doa yang panjang dan bermacam-macam kepercayaan. Sehingga datanglah Islam kemudian dihapusnya dan mereka dikembalikan untuk mengikuti jalan fikiran yang lurus.

Rasulullah merangkaikan ramalan dan sihir dalam satu susunan, seperti sabdanya: “Bukan dari golongan kami siapa yang merasa sial, atau minta diramalkan kesialannya, atau menenung, atau minta ditenungkan, atau mensihir, atau minta disihirkan.” (Riwayat Thabarani)

Dan sabdanya pula: “Membuat garis di tanah, menganggap sial kerana alamat dan melempar kerikil kerana ada suatu kepercayaan, adalah termasuk menyembah selain Allah.” (Riwayat Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Hibban)

Tathayyur, satu hal yang berdiri tanpa landasan ilmu pengetahuan atau suatu kenyataan yang benar. Tathayyur, hanya berjalan mengikuti kelemahan dan membenarkan dugaan yang salah (waham). Kalau tidak demikian, apa artinya seorang yang berakal percaya mendapat sial kerana seseorang, atau kerana tempat, kerana dengkurnya suara burung, geraknya mata atau terdengarnya suatu perkataan?!

Apabila nalurinya manusia itu ada kelemahan, maka akan mengalir pada dirinya suatu anggapan sial kerana sesuatu. Seharusnya dia tidak mahu menerima kelemahan ini. Lebih-lebih apabila dia sudah sampai pada fase bekerja dan pelaksanaan.

Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: “Ada tiga perkara yang tidak boleh selamat satupun, iaitu: menuduh, tathayyur dan hasud. Oleh kerana itu kalau kamu menuduh jangan kamu nyatakan, dan kalau merasa sial jangan surut (jangan kamu gagalkan pekerjaanmu), dan kalau kamu hasud, jangan lanjutkan.” (Riwayat Thabarani)

Oleh kerana ketiga perkara ini hanya semata-mata perasaan yang tidak berpengaruh pada suatu sikap dan perbuatan, maka dimaafkannya oleh Allah. Dan diriwayatkan pula dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tathayyur (merasa sial) adalah syirik.” 3 kali.

Dan Ibnu Mas’ud sendiri berkata: ” …tetapi Allah akan menghilangkannya dengan tawakkal.” (Riwayat Abu Daud dan Tarmizi)

Apa yang dimaksudkan oleh Ibnu Mas’ud itu, ialah: setiap orang di antara kita ini ada perasaan-perasaan seperti itu, tetapi perasaan semacam ini akan hilang lenyap dari hati orang yang selalu tawakkal dan tidak membiarkan perasaannya itu tinggal dalam hati.