Archive for the ‘Makanan & Minuman’ Category

Sebab Babi Diharamkan

ALLAH telah melarang dengan alasan yang akan dijelaskan secara singkat memakan daging bangkai, darah, daging babi dan daging binatang yang dicekik, dipukul, dibanting hingga mati, ditanduk dan dimangsa oleh binatang pemangsa.
Empat belas abad yang silam, ayat ini kedengarannya aneh dan mungkin beberapa kalangan sampai hari ini pun masih bertanya-tanya apa latar belakang pelarangan yang dikehendaki oleh Sang Maha Kuasa ini sebenarnya.
Tapi berkat kemajuan ilmu dan teknologi dibidang kedokteran saat ini, setidaknya 175 mikro-organisme pathogenik diketahui menyebabkan penyakit didunia non-manusia. Penyakit-penyakit ini dinyatakan sebagai zoones.

Binatang yang berpenyakit, baik mati atau hidup, mengandung mikro-organisme ini dalam darah dan organ-organ lainnya.
Binatang yang telah dipukul atau digigit oleh binatang pemburu bisa menetaskan atau menderita penyakit yang ditularkan lewat gigitan, seperti rabies. Selain itu, bangkai binatang mati biasanya dikuasai atau didiami oleh berbagai mikro-organisme.
Darah, yang mengandung bakteri dan toksinnya, virus, bahan kimia, racun dan sebagainya, akan sangat berbagaya jika dimakan oleh manusia. Disinilah letak kearifan ayat-ayat al-Qur’an baru benar-benar bisa dimengerti.
Semuanya hanya ditujukan demi mencapai kemaslahatan hidup manusia seutuhnya, yang sehat lahir dan batin demi menjalankan tugasnya selaku pengelola planet bumi ini.
Tuhan juga menegaskan bahwa binatang tidak boleh dianiaya dan karenanya dilarang memakan daging binatang yang digunakan dalam upacara kurban musyrik atau ritual kedewaan yang pada umumnya dilakukan secara kejam dan brutal. Hal ini membina kesehatan rohani, yaitu untuk tidak terbiasa dengan prilaku yang kasar serta menumpahkan darah secara serampangan, mengasihi sesama makhluk Tuhan, sebab tidak mungkin Tuhan haus akan segala bentuk darah dan daging sesembahan.
Islam melalui ritual ibadah kurbannya pada setiap bulan haji mengajarkan bahwa hewan yang dikorbankan itu adalah hanya demi menunjang hidup masyarakat yang kurang mampu atau katakanlah hamba Allah yang papa dan tidak terbiasa mengkonsumsi daging karena memang tidak mampu untuk membelinya.
Daging babi telah diharamkan dengan alasan yang sangat tepat, sebab biasanya babi tertulari dengan cacing pita taenia solium. Penularan ini sudah sangat lazim dimasa lampau karena ternyata sangat sulit untuk mengontrol sekalipun dengan ilmu pengetahuan kita yang sudah maju sekarang ini. Penularan ini dapat ditemukan diseluruh dunia, khususnya di Eropa Barat, Amerika Tengah dan Selatan, Spanyol, Portugal, beberapa bagian Afrika, China dan India.
Taenia solium hanyalah salah satu cacing pita yang dapat menulari manusia. Taenia saginata terdapat pada lembu. Kedua jenis cacing pita ini menyebabkan sakit pada manusia yang mengikuti dua tahap siklus hidup cacing.
Tahap dewasa menghasilkan gejala gastrointestinal (radang usus) pada manusia, yang kebetulan menjadi rumah tetap bagi cacing pita dewasa, karena tubuh manusia memungkinkan cacing pita berkembang biak sempurna.
Pada tahap larva, cacing pita menembus mukosa intestinal dan hidup terus dalam jaringan tersebut selama jangka waktu yang berlainan. Ironinya, tubuh manusia dapat menopang larva (jentik) atau tahap menengah (Echinococcus Granulosus) dari cacing pita taenia solium yang ada pada babi.
Siklus cacing pita dimulai dengan memakan daging babi yang berpenyakit atau tertular yang mengandung larva dalam bentuk kista (Cysticercus). Larva ini merupakan sebuah kantung cairan yang mengandung kepala larva dan berdiameter beberapa sentimeter saja.
Ketika daging babi yang tertulari kista dikonsumsi, maka kistanya akan menetas dan larva akan melekat pada usus dengan kepalanya atau Scolex, yang dimaksudkan sebagai alat tambahan oleh sebuah Rostellum yang dikelilingi dengan sekelompok cantelan.
Bagian tubuh kista lainnya dapat berkembang hingga mencapai kepanjangan 10 atau 20 kaki. Kepalanya muncul dengan leher yang pendek, kemudian disusul dengan bagian tubuh lainnya. Bagian tubuh ini terbagi kedalam beberapa ruas (Proglottids) yang mengandung organ-organ reproduksi jantan dan betina.
Telur kemudian terbentuk, dibuahi dan kemudian dimasukkan kedalam usus atau kalau tidak ruas-ruasnya dilepaskan seluruhnya melalui kotoran. Baik telur maupun ruas dapat ditemukan dalam kotoran manusia. Ketika kotoran tersebut dimakan oleh Intermediate Host (misalnya Babi, anjing, kucing), maka telurnya akan berkembang menjadi larva yang berpindah tempat melalui usus babi keotot-ototnya dan organ-organ lainnya.
Human Cysticercosis terjadi melalui kontak dengan kotoran manusia yang mengandung telur taenia solium. Kita dapat tertulari melalui makanan atau air yang telah terkontaminasi oleh kotoran manusia.
Gerakan Perstaltik usus yang terbalik juga bisa menyebabkan penularan didalam.
Tahap menengah (Cysticercus Cellulose) termasuk penetasan telur, menerobosnya larva dari dinding usus dan perubahannya menjadi kista yang mengandung kepala.
Diameter kista adalah 0,5-1 cm dan dapat hidup terus selama 3 hingga 5 tahun, dan setelah itu ia menjadi keras karena kapur. Meskipun kista-kista ini dapat berkembang dihampir setiap bagian tubuh, mereka biasanya mempengaruhi otak besar, ruang Subarachnoid didasar otak dan Ventricle (Bilik Jantung).
Orang yang tertulari akan menderita sakit kepala, kelumpuhan, kebutaan parsial dan epilepsi. Juga bisa mempengaruhi mata, jantung, hati dan limpa.
Binatang yang telah dicekik, dipukul, ditanduk, disantap oleh binatang buas atau dilumpuhkan hingga mati harus dianggap sebagai bangkai yang luka-lukanya mungkin mengandung infeksi yang membahayakan kesehatan.
Meskipun perintah dari ayat al-Qur’an melarang mengkonsumsi daging binatang yang sekarat atau yang tertular atau mayatnya, namun akal sehat tetap berlaku.
Misalnya, jika seseorang menderita kelaparan ditengah-tengah gurun pasir atau berada dalam lingkungan lainnya yang memaksa, maka ia boleh memakan daging yang ada untuk menyelamatkan kelangsungan hidupnya.
“Sesunguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih tidak atas nama Allah; namun barang siapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampau batas, maka sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Penyayang.”
(Qs. an-Nahl 16:115)
Binatang dan burung yang telah dilatih oleh manusia untuk berburu biasanya tidak melukai mangsanya secara brutal dan tentunya telah dirawat baik kesehatannya, karena itu Allah memperbolehkan manusia memakan binatang yang ditangkap dengan cara ini asalkan tetap menyebut asma Allah didalamnya.
“Mereka menanyakan kepada kamu, “Apakah yang dihalalkan bagi mereka ?”; katakanlah: “Dihalalkan bagi kamu yang baik-baik dan apa yang kamu ajarkan pada binatang buruanmu, kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepada kamu; maka makanlah apa yang ditangkapnya untukmu; dan sebutlah nama Allah atasnya.” (Qs. al-Maidah 5:4)
Dalam penyembelihan hewan pun, Islam mengatur tata pelaksanaannya secara ketat, dimulai dengan mengucapkan asma Allah yang Pengasih dan Penyayang dengan do’a agar menjadikan daging tersebut bersih dan murni (halal) secara agama, karena mengikuti pedoman pengorbanan binatang dengan kasih sayang dan dengan rasa sakit yang minimal.
Metoda ini juga membersihkan mayat binatang yang disembelih dari setiap toksin, bakteri, virus dan parasit yang menyebar dengan cara memotong urat darah tenggorokan pada salah satu sisi lehernya.
Tindakan ini memutuskan suplai darah ke otak dengan segera, sehingga binatang tidak akan merasa sakit selama waktu yang panjang. Metode ini juga memungkinkan jantung untuk terus berdegup dan dengan demikian mengosongkan urat-urat daging dan jaringan sistem peredaran darah.
Darah akan mengalir dari daerah urat darah yang dipotong, sehingga akan membersihkan otot-otot dan organ dalam dari darah dan bahan yang bisa membahayakan.

Untuk lebih lanjud, bagi yang belum melihat videonya. silahkan arahkan kursor anda pada islamic vodpod video di sidebar, klik tanda panah ke arah kanan dan temukan videonya. Melalui pengujian dengan air soda, dalam kurun waktu yang singkat (berkisar dua jam) daging babi yang disirami dengan air soda tersebut berulat dengan sendirinya.

Semoga bermanfaat.
Diambil dari buku :
“Singgasana-Nya diatas air”
(His Throne Wa on Water)
Penciptaan Alam Semesta menurut al-Qur’an & Sains
Oleh Dr. Adel M.A. Abbas
Amana Publications Beltsvills, Maryland USA.
Cetakan pertama 1997 Lentera Basritama

https://tausyah.wordpress.com

Untuk kesekian kalinya Islam tetap bersikap tegas terhadap masalah arak. Tidak lagi dipandang kadar minumannya, sedikit atau banyak. Kiranya arak telah cukup dapat menggelincirkan kaki manusia. Oleh kerana itu sedikitpun tidak boleh disentuh. Justru itu pula Rasulullah s.a.w. pernah menegaskan:

“Minuman apapun kalau banyaknya itu memabukkan, maka sedikitnya pun adalah haram.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Tarmizi)

“Minuman apapun kalau sebanyak furq [9] itu memabukkan, maka sepenuh tapak tangan adalah haram.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Tarmizi)

Di sini ada suatu kaidah yang menyeluruh dan telah diakuinya dalam syariat Islam, iaitu bahawa setiap muslim tidak diperkenankan makan atau minum sesuatu yang dapat membunuh, lambat ataupun cepat, misalnya racun dengan segala macamnya; atau sesuatu yang membahayakan termasuk makan atau minum yang terlalu banyak yang menyebabkan sakit. Sebab seorang muslim itu bukan menjadi milik dirinya sendiri, tetapi dia adalah milik agama dan umatnya. Hidupnya, kesihatannya, hartanya dan seluruh nikmat yang diberikan Allah kepadanya adalah sebagai barang titipan (amanat). Oleh kerana itu dia tidak boleh meneledorkan amanat itu. Firman Allah:

“Janganlah kamu membunuh diri-diri kamu, kerana sesungguhnya Allah Maha Belas-kasih kepadamu.” (an-Nisa’: 29)

“Jangan kamu mencampakkan diri-diri kamu kepada kebinasaan.” (al-Baqarah: 195)

Dan Rasulullah s.a.w. pun bersabda: “Tidak boleh membuat bahaya dan membalas bahaya.” (Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah)

Sesuai dengan kaidah ini, maka kami berpendapat: sesungguhnya rokok (tembakau) selama hal itu dinyatakan membahayakan, maka menghisap rokok hukumnya adalah haram. Lebih-lebih kalau dokter spesialis sudah menetapkan hal tersebut kepada seseorang tertentu.

Kalaupun toh ditakdirkan tidak jelas bahayanya terhadap kesihatan seseorang, tetapi yang jelas adalah membuang-buang wang untuk sesuatu yang tidak bermanfaat, baik untuk agama ataupun untuk urusan dunia. Sedang dalam hadisnya dengan tegas Rasulullah s.a.w. melarang membuang-buang harta.

Larangan ini dapat diperkuat lagi, kalau ternyata harta tersebut amat diperlukan untuk dirinya sendiri, atau keluarganya.

Narkotik

Posted: 8 Juni 2010 in Makanan & Minuman
Tag:

Al-KHAMRU maa khaamaral aqla (arak ialah semua bahan yang dapat menutupi akal), suatu ungkapan yang pernah dikatakan oleh Umar Ibnul-Khattab dari atas mimbar Rasulullah s.a.w. Kalimat ini memberikan pengertian yang tajam sekali tentang apa yang dimaksud arak itu. Sehingga dengan demikian tidak banyak lagi pertanyaan-pertanyaan dan kesamaran.

Demikianlah, maka setiap yang dapat mengganggu fikiran dan mengeluarkan akal dari tabiatnya yang sebenarnya, adalah disebut arak yang dengan tegas telah diharamkan Allah dan Rasul sampai hari kiamat nanti.

Dari itu pula, semua bahan yang kini dikenal dengan nama narkotik, seperti ganja, marijuana dan sebagainya yang sudah terkenal pengaruhnya terhadap perasaan dan akal fikiran, sehingga yang jauh menjadi dekat dan yang dekat menjadi jauh, dapat melupakan suatu kenyataan, dapat mengkhayal yang tidak akan terjadi dan orang boleh tenggelam dalam mimpi dan lamunan yang bukan-bukan. Orang yang minum bahan ini dapat melupakan dirinya, agamanya dan dunianya serta tenggelam dalam lembah khayal.

Ini, belum lagi apa yang akan terjadi pada tubuh manusia, bahawa narkotik dapat melumpuhkan anggota tubuh manusia dan menurunkan kesihatan.

Lebih dari itu, narkotik dapat mengganggu kemurnian jiwa, dan menghancurkan moral, meruntuhkan iradah dan melemahkan perasaan untuk melaksanakan kewajiban yang oleh pecandu-pecandu dijadikan sebagai alat untuk meracuni tubuh masyarakat.

Dibalik itu semua, narkotik dapat menghabiskan wang dan merobohkan rumahtangga. Wang yang dipakai untuk membeli bahan tersebut adalah standard rumahtangga yang mungkin juga oleh pecandu-pecandu narkotik akan diambilnya dari harta standard hidup anak-anaknya; dan mungkin juga dia akan berbelok ke suatu jalan yang tidak baik justru untuk mengambil keuntungan dari penjualan narkotik.

Kalau di atas telah kita sebutkan bahawa perbuatan haram itu dapat membawa kepada keburukan dan bahaya, maka bagi kita sudah cukup jelas tentang haramnya bahan yang amat jelek ini, yang tidak diragukan lagi bahayanya terhadap kesihatan, jiwa, moral, masyarakat dan perekonomian.

Haramnya narkotik ini telah disepakati oleh ahli-ahli fiqih yang pada zamannya dikenal dengan nama alkhabaits (yang jelek-jelek).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam tinjauannya, mengatakan: “Ganja (hasyisy) adalah bahan yang haram, baik orang yang merasakan itu mabuk ataupun tidak … Hasyisy ini selalu dipakai oleh orang-orang jahat, kerana di dalamnya mengandung unsur-unsur yang memabukkan dan menyenangkan. Biasanya dicampur dengan minuman-minuman yang memabukkan.

Bezanya hasyisy dengan arak, bahawa arak dapat menimbulkan suatu reaksi dan pertentangan. Tetapi hasyisy dapat menimbulkan suatu krisis dan kelemahan. Justru itu dia dapat merusak fikiran dan membuka pintu syahwat serta hilangnya perasaan semangat (ghirah). Justru itu dia lebih berbahaya daripada minuman keras.

Ini sudah pernah terjadi di kalangan orang-orang Tartar. Dan bagi yang merasakannya, sedikit ataupun banyak didera 80 atau 40 kali.

Barangsiapa yang dengan terang-terangan merasakan hasyisy ini dia akan ditempatkan sebagaimana halnya orang yang terang-terangan minum arak, dan dalam beberapa hal lebih buruk daripada arak. Untuk itu dia akan dikenakan hukuman sebagaimana hukuman yang berlaku bagi peminum arak.”

Kata Ibnu Taimiyah selanjutnya: “Menurut kaidah syara’, semua barang haram yang dapat mengganggu jiwa seperti arak, zina dan sebagainya dikenakan hukum had (hukuman tindak kriminal), sedang yang tidak mengganggu jiwa seperti makan bangkai dikenakan tindakan ta’zir [11]. Sedang hasyisy termasuk bahan yang barangsiapa merasakannya berat untuk mahu berhenti. Hukum haramnya telah ditegaskan dalam al-Quran dan Sunnah terhadap orang yang merasakannya sebagaimana makan makanan lainnya.”[12]

Dengan nas-nas yang jelas, maka Islam dengan gigih memberantas arak dan menjauhkan umat Islam dari arak, serta dibuatnya suatu pagar antara umat Islam dan arak itu. Tidak ada satupun pintu yang terbuka, betapapun sempitnya pintu itu, buat meraihnya.

Tidak seorang Islam pun yang diperkenankan minum arak walaupun hanya sedikit. Tidak juga diperkenankan untuk menjual, membeli, menghadiahkan ataupun membuatnya. Disamping itu tidak pula diperkenankan menyimpan di tokonya atau di rumahnya. Termasuk juga dilarang menghidangkan arak dalam perayaan-perayaan, baik kepada orang Islam ataupun kepada orang lain. Juga dilarang mencampurkan arak pada makanan ataupun minuman.

Tinggal ada satu segi yang sering oleh sementara orang ditanyakan, iaitu tentang arak dipakai untuk berubat Dalam hal ini Rasulullah s.a.w. pernah menjawab kepada orang yang bertanya tentang hukum arak. Lantas Nabi menjawab: Dilarang! Kata laki-laki itu kemudian: “Innama nashna’uha liddawa’ (kami hanya pakai untuk berubat).

Maka jawab Nabi selanjutnya: “Arak itu bukan ubat, tetapi penyakit.” (Riwayat Muslim, Ahmad, Abu Daud dan Tarmizi)

Dan sabdanya pula: Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan ubat, dan menjadikan untuk kamu bahawa tiap penyakit ada ubatnya, oleh kerana itu berubatlah, tetapi jangan berubat dengan yang haram.” (Riwayat Abu Daud)

Dan Ibnu Mas’ud pernah juga mengatakan perihal minuman yang memabukkan: “Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhanmu dengan sesuatu yang Ia haramkan atas kamu.” (Riwayat Bukhari).

Memang tidak menghairankan kalau Islam melarang berubat dengan arak dan benda-benda lain yang diharamkannya, sebab diharamkannya sesuatu, sesuai dengan analisa Ibnul Qayim, mengharuskan untuk dijauhi selamanya dengan jalan apapun. Maka kalau arak itu boleh dipakai untuk berubat, berarti ada suatu anjuran supaya mencintai dan menggunakan arak itu. Ini jelas berlawanan dengan apa yang dimaksud oleh syara’.

Selanjutnya kata Ibnul Qayim: Membolehkan berubat dengan arak, lebih-lebih bagi jiwa yang ada kecenderungan terhadap arak, akan cukup menarik orang untuk meminumnya demi memenuhi selera dan untuk bersenang-senang, terutama orang yang memahami akan manfaatnya arak dan dianggapnya dapat menghilangkan sakitnya, maka pasti dia akan menggunakan arak guna kesembuhan penyakitnya itu.

Sebenarnya ubat-ubat yang haram itu tidak lebih hanya kira-kira saja dapat menyembuhkan.

Ibnul Qayim memperingatkan juga yang ditinjau dari segi kejiwaan, ia mengatakan: “Bahawa syaratnya sembuh dari penyakit haruslah berubat yang dapat diterima akal, dan yakin akan manfaatnya ubat itu serta adanya barakah kesembuhan yang dibuatnya oleh Allah. Sedang dalam hal ini telah dimaklumi, bahawa setiap muslim sudah berkeyakinan akan haramnya arak, yang kerana keyakinannya ini dapat mencegah orang Islam untuk mempercayai kemanfaatan dan barakahnya arak itu, dan tidak boleh jadi seorang muslim dengan keyakinannya semacam itu untuk berhusnundz-dzan (beranggapan baik) terhadap arak dan dianggapnya sebagai ubat yang dapat diterima akal. Bahkan makin tingginya iman seseorang, makin besar pula kebenciannya terhadap arak dan makin tidak baik keyakinannya terhadap arak itu. Sebab kepribadian seorang muslim harus membenci arak. Kalau demikian halnya, arak adalah penyakit, bukan ubat.” [10]

Walaupun demikian, kalau sampai terjadi keadaan darurat, maka darurat itu dalam pandangan syariat Islam ada hukumnya tersendiri.

Oleh kerana itu, kalau seandainya arak atau ubat yang dicampur dengan arak itu dapat dinyatakan sebagai ubat untuk sesuatu penyakit yang sangat mengancam kehidupan manusia, dimana tidak ada ubat lainnya kecuali arak, dan saya sendiri percaya hal itu tidak akan terjadi, dan setelah mendapat pengesahan dari dokter muslim yang mahir dalam ilmu kedokteran dan mempunyai jiwa semangat (ghirah) terhadap agama, maka dalam keadaan demikian berdasar kaidah agama yang selalu membuat kemudahan dan menghilangkan beban yang berat, maka berubat dengan arak tidaklah dilarang, dengan syarat dalam batas seminimal mungkin. Sesuai dengan firman Allah:

“Barangsiapa terpaksa dengan tidak sengaja dan tidak melampaui batas maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun dan Maha Belas-kasih.” (al-An’am: 145)

Berdasar sunnah Nabi, orang Islam diharuskan meninggalkan tempat persidangan arak, termasuk juga berduduk-duduk dengan orang yang sedang minum arak.

Diriwayatkan dari Umar r.a. bahawa dia pernah mendengar Rasulullah s,a.w. bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah duduk pada suatu hidangan yang padanya diedarkan arak.” (Riwayat Ahmad)

Setiap muslim diperintah untuk menghentikan kemungkaran kalau menyaksikannya. Tetapi kalau tidak mampu dia harus menyingkir dan menjaga masyarakat dan keluarganya.

Dalam salah satu kisah diceriterakan, bahawa Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah mendera orang-orang yang minum arak dan yang ikut menyaksikan persidangan mereka itu, sekalipun orang yang menyaksikan itu tidak turut minum bersama mereka.

Dan diriwayatkan pula, bahawa pernah ada suatu kaum yang diadukan kepadanya kerana minum arak, kemudian beliau memerintahkan agar semuanya didera. Lantas ada orang yang berkata: ‘Bahawa di antara mereka itu ada yang berpuasa.’ Maka jawab Umar: ‘Dera dulu dia!’. Apakah kamu tidak mendengarkan firman Allah yang mengatakan;

“Sungguh Allah telah menurunkan kepadamu dalam al-Ouran, bahawa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah ditentangnya dan diejeknya. Oleh kerana itu jangan kamu duduk bersama mereka, sehingga mereka itu tenggelam dalam omongan lain, sebab sesungguhnya kamu kalau demikian keadaannya adalah sama dengan mereka.” (an-Nisa’: 140)

Kalau menjual dan memakan harga arak itu diharamkan bagi seorang muslim, maka menghadiahkannya walaupun tanpa ganti, kepada seorang Yahudi, Nasrani atau yang lain, tetap haram juga.

Seorang muslim tidak boleh menghadiahkan atau menerima hadiah arak. Sebab seorang muslim adalah baik, dia tidak boleh menerima kecuali yang baik pula.

Diriwayatkan, ada seorang laki-laki yang memberi hadiah satu guci arak kepada Nabi s.a.w., kemudian Nabi memberitahu bahawa arak telah diharamkan Allah. Orang laki-laki itu bertanya:

Rajul: Bolehkah saya jual?
Nabi: Zat yang mengharamkan meminumnya, mengharamkannya juga menjualnya.
Rajul: Bagaimana kalau saya hadiahkan raja kepada orang Yahudi?
Nabi: Sesungguhnya Allah yang telah mengharamkan arak, mengharamkan juga untuk dihadiahkan kepada orang Yahudi.
Rajul: Habis, apa yang harus saya perbuat?
Nabi: Tuang saja di selokan air. (Al-Humaidi dalam musnadnya)

Rasulullah tidak menganggap sudah cukup dengan mengharamkan minum arak, sedikit ataupun banyak, bahkan memperdagangkan pun tetap diharamkan, sekalipun dengan orang di luar Islam. Oleh kerana itu tidak halal hukumnya seorang Islam mengimport arak, atau memproduser arak, atau membuka warung arak, atau bekerja di tempat penjualan arak.

Dalam hal ini Rasulullah s.a.w. pernah melaknatnya, iaitu seperti tersebut dalam riwayat di bawah ini: “Rasulullah s.a.w. melaknat tentang arak, sepuluh golongan: (1) yang memerasnya, (2) yang minta diperaskannya, (3) yang meminumnya, (4) yang membawanya, (5) yang minta dihantarinya, (6) yang menuangkannya, (7) yang menjualnya, (8) yang makan harganya, (9) yang membelinya, (10) yang minta dibelikannya.” (Riwayat Tarmizi dan Ibnu Majah)

Setelah ayat al-Quran surah al-Maidah (90-91) itu turun, Rasulullah s.a.w. kemudian bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan arak, maka barangsiapa yang telah mengetahui ayat ini dan dia masih mempunyai arak walaupun sedikit, jangan minum dan jangan menjualnya.” (Riwayat Muslim)

Rawi hadis tersebut menjelaskan, bahawa para sahabat kemudian mencegat orang-orang yang masih menyimpan arak di jalan-jalan Madinah lantas dituangnya ke tanah.

Sebagai cara untuk membendung jalan yang akan membawa kepada perbuatan yang haram (saddud dzara’ik), maka seorang muslim dilarang menjual anggur kepada orang yang sudah diketahui, bahawa anggur itu akan dibuat arak. kerana dalam salah satu hadis dikatakan: “Barangsiapa menahan anggurnya pada musim-musim memetiknya, kemudian dijual kepada seorang Yahudi atau Nasrani atau kepada tukang membuat arak, maka sungguh jelas dia akan masuk neraka.” (Riwayat Thabarani)

Khamar (Arak)

Posted: 8 Juni 2010 in Makanan & Minuman
Tag:

KHAMAR adalah bahan yang mengandung alkohol yang memabukkan. Untuk lebih jelasnya, di sini akan kami sebutkan beberapa bahaya khamar terhadap pribadi seseorang, baik akalnya, tubuhnya, agamanya dan dunianya. Akan kami jelaskan juga betapa bahayanya terhadap rumahtangga ditinjau dari segi pemeliharaannya mahupun pengurusannya terhadap isteri dan anak-anak. Dan akan kami bentangkan juga betapa mengancamnya arak terhadap masyarakat dan bangsa dalam existensinya, baik yang berupa moral mahupun etika.

Sungguh benar apa yang dikatakan oleh salah seorang penyelidik, bahawa tidak ada bahaya yang lebih parah yang diderita manusia, selain bahaya arak. Kalau diadakan penyelidikan secara teliti di rumah-rumah sakit, bahawa kebanyakan orang yang gila dan mendapat gangguan saraf adalah disebabkan arak. Dan kebanyakan orang yang bunuh diri ataupun yang membunuh kawannya adalah disebabkan arak. Termasuk juga kebanyakan orang yang mengadukan dirinya kerana diliputi oleh suasana kegelisahan, orang yang membawa dirinya kepada lembah kebangkrutan dan menghabiskan hak miliknya, adalah disebabkan oleh arak.

Begitulah, kalau terus diadakan suatu penelitian yang cermat, niscaya akan mencapai batas klimaks yang sangat mengerikan yang kita jumpai, bahawa nasihat-nasihat, kecil sekali artinya.

Orang-orang Arab dalam masa kejahilannya selalu disilaukan untuk minum khamar dan menjadi pencandu arak. Ini dapat dibuktikan dalam bahasa mereka yang tidak kurang dari 100 hama dibuatnya untuk mensifati khamar itu. Dalam syair-syairnya mereka puji khamar itu, termasuk sloki-slokinya, pertemuan-pertemuannya dan sebagainya.

Setelah Islam datang, dibuatnyalah rencana pendidikan yang sangat bijaksana sekali, iaitu dengan bertahap khamar itu dilarang. Pertama kali yang dilakukan, iaitu dengan melarang mereka untuk mengerjakan sembahyang dalam keadaan mabuk, kemudian meningkatkan dengan diterangkan bahayanya sekalipun manfaatnya juga ada, dan terakhir baru Allah turunkan ayat secara menyeluruh dan tegas, iaitu sebagaimana firmanNya:

“Hai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya arak, judi, berhala, dan undian adalah kotor dari perbuatan syaitan. Oleh kerana itu jauhilah dia supaya kamu bahagia. Syaitan hanya bermaksud untuk mendatangkan permusuhan dan kebencian di antara kamu disebabkan khamar dan judi, serta menghalangi kamu ingat kepada Allah dan sembahyang. Apakah kamu tidak mahu berhenti?” (al-Maidah: 90-91)

Dalam kedua ayat tersebut Allah mempertegas diharamkannya arak dan judi yang diiringi pula dengan menyebut berhala dan undian dengan dinilainya sebagai perbuatan najis (kotor). Kata-kata His (kotor, najis) ini tidak pernah dipakai dalam al-Quran, kecuali terhadap hal yang memang sangat kotor dan jelek.

Khamar dan judi adalah berasal dari perbuatan syaitan, sedang syaitan hanya gemar berbuat yang tidak baik dan mungkar. Justru itulah al-Quran menyerukan kepada umat Islam untuk menjauhi kedua perbuatan itu sebagai jalan untuk menuju kepada kebagiaan.

Selanjutnya al-Quran menjelaskan juga tentang bahaya arak dan judi dalam masyarakat, yang di antaranya dapat mematahkan orang untuk mengerjakan sembahyang dan menimbulkan permusuhan dan kebencian. Sedang bahayanya dalam jiwa, iaitu dapat menghalang untuk menunaikan kewajiban-kewajiban agama, diantaranya ialah zikrullah dan sembahyang.

Terakhir al-Quran menyerukan supaya kita berhenti dari minum arak dan bermain judi. Seruannya diungkapkan dengan kata-kata yang tajam sekali, iaitu dengan kata-kata: fahal antum muntahun? (apakah kamu tidak mahu berhenti?).

Jawab seorang mu’min terhadap seruan ini: “Ya, kami telah berhenti, ya Allah!”

Orang-orang mu’min membuat suatu keanehan sesudah turunnya ayat tersebut, iaitu ada seorang laki-laki yang sedang membawa sloki penuh arak, sebahagiannya telah diminum, tinggal sebahagian lagi yang sisa. Setelah ayat tersebut sampai kepadanya, gelas tersebut dilepaskan dan araknya dituang ke tanah.

Banyak sekali negara-negara yang mengakui bahaya arak ini, baik terhadap pribadi, rumah tangga ataupun tanah air. Sementara ada yang berusaha untuk memberantasnya dengan menggunakan kekuatan undang-undang dan kekuasaan, seperti Amerika, tetapi akhirnya mereka gagal. Tidak dapat seperti yang pernah dicapai oleh Islam di dalam memberantas dan menghilangkan arak ini.

Dari kalangan kepala-kepala gereja bertentangan dalam menilai bagaimana pandangan Kristian terhadap masalah arak, justru kerana di Injil ditegaskan: “Bahawa arak yang sedikit itu baik buat perut.”

Kalau omongan itu betul, niscaya yang sedikit itu perlu dihentikan, sebab minum arak sedikit, dapat membawa kepada banyak. Gelas pertama akan disambut dengan gelas kedua dan begitulah seterusnya sehingga akhirnya menjadi terbiasa.

Syarat yang berlaku untuk pemburu binatang darat, sama halnya dengan syarat yang berlaku bagi orang yang akan menyembelih, iaitu harus orang Islam, ahli kitab atau orang yang dapat dikategorikan sebagai ahli kitab seperti Majusi dan Shabiin.

Termasuk panduan yang diajarkan Islam kepada orang-orang yang berburu, iaitu: mereka itu tidak bermain-main, sehingga melayanglah jiwa binatang tersebut tetapi tidak ada maksud untuk dimakan atau dimanfaatkan.

Di dalam salah satu hadisnya, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa membunuh seekor burung pipit dengan maksud bermain-main, maka nanti di hari kiamat burung tersebut akan mengadu kepada Allah; ia berkata: ‘Ya Tuhanku! Si Anu telah membunuh aku dengan bermain-main, tetapi tidak membunuh aku untuk diambil manfaat.'” (Riwayat Nasa’i dan Ibnu Hibban)

Dan di hadisnya yang lain pula, beliau bersabda: “Tidak seorang pun yang membunuh burung pipit dan yang lebih kecil dari itu, tidak menurut haknya, melainkan akan ditanyakan Allah kelak di hari kiamat. Rasulullah s.a.w. kemudian ditanya: ‘Apa hak burung itu, ya Rasulullah!’ Nabi menjawab: ‘iaitu dia disembelih kemudian dimakan, tidak diputus kepalanya kemudian dibuang begitu saja.'” (Riwayat Nasa’i dan Hakim)

Selain daripada itu, bahawa diharuskan pula bagi seorang yang berburu itu, bukan sedang berihram. Sebab seorang muslim yang sedang berihram berarti dia berada dalam fase kedamaian dan keamanan yang menyeluruh yang berpengaruh sangat luas sekali terhadap alam sekelilingnya, termasuk binatang di permukaan bumi dan burung yang sedang terbang di angkasa, sehingga binatang-binatang itu sekalipun berada di hadapannya dan mungkin untuk ditangkap dengan tangan. Tetapi hal ini adalah justru merupakan ujian dan pendidikan guna membentuk seorang muslim yang berpribadi kuat dan tabah. Dalam hal ini Allah telah berfirman yang artinya sebagai berikut:

“Hai orang-orang yang beriman! Sungguh Allah menguji kamu dengan sesuatu daripada binatang buruan yang dapat ditangkap oleh tangan-tangan kamu dan tombak-tombak kamu, supaya Allah dapat membuktikan siapakah orang yang takut kepadaNya dengan ikhlas. Maka barangsiapa melanggar sesudah itu, baginya adalah siksaan yang pedih.” (al-Maidah: 94)

“Diharamkan atas kamu berburu (binatang) darat selama kamu dalam keadaan berihram.” (al-Maidah: 96)

“… padahal kamu tidak dihalalkan berburu, sedang kamu dalam keadaan berihram.” (al-Maidah: 1)