Archive for the ‘Akidah & Akhlak’ Category

https://tausyah.wordpress.com/Arabian_Muslimah

Arabian Muslimah

Itulah “SEXY”, suatu ungkapan yang amat termahsyur dilidah manusia, yang dengan kata itu telah berakibat bukan hanya perkataan semata, melainkan juga perbuatan manusia. bukanlah aku ahli bahasa, bukan pula seorang ahli yang berkenaan dengan bidangnya, melainkan hendaklah perlu untuk diketahui bahwa kata itu tiadalah beroleh kebaikan pada yang haqnya, dan sekali – kali tiada pula ungkapan itu agar seorang manusia itu beroleh kebaikan dengan dia, melainkan itulah suatu kerugian yang nyata dalam perkataan dan perbuatannya.

Cukup bergeming gerangan perkataan itu ditelinga, merobah tabiat yang benar kejalan yang lebih buruk daripadanya. Ketahuilah olehmu..bahwa ungkapan SEXY itu adalah ungkapan seorang yang kafir kepada kafir yang lain agar kiranya mereka lebih bersuka cita dengan kehidupan mereka .

SEXY, maka hilangkan satu huruf dibelakangnya..!! SEXY – Y = SEX, itulah makna yang terkandung daripadanya. Artinya bahwa SEXY = Segala sesuatu baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan manusia yang mengundang syahwat khusus bagi sesiapapun yang melihat akan dia. Dengan lebih terperinci dapat diartikan bahwa SEXY = segala sesuatu perkataan dan perbuatan yang dapat mengundang SEX. (lebih…)

https://tausyah.wordpress.com/Animasi-Cinta

Animasi Cinta ALLAH

Umar bin Khothob pernah berkata kepada Rasulullah : ”Wahai Rasulullah sesungguhnya Engkau lebih aku cintai daripada seluruh manusia kecuali diriku sendiri.”

Rasulullah menjawab : ”Tidak wahai Umar. Hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Rasulullah memberi petunjuk agar Umar mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan puncak cintanya. Dan inilah cinta yang sempurna.

Setelah memahami makna cinta, untuk itu marilah menelusuri tingkatan-tingkatan cinta.

Al-Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah berkata sesungguhnya cinta memiliki 7 tingkatan, di antaranya adalah :

’Alaqoh

Makna ’alaqoh adalah ikatan atau bisa juga diartikan dengan kecenderungan hati.

Disebut ’alaqoh karena orang tersebut memiliki hubungan atau ikatan dengan yang dicintainya.

Pada sebuah syair disebutkan :

Engkau telah membuatku terpikat, tertambat dan terikat, sejak pertama aku melihat. (lebih…)

https://tausyah.wordpress.com/Islam

Islam Pray

Ahlus Sunnah meyakini kewajiban amar ma’ruf dan nahi mungkar atas setiap muslim sesuai dengan kemampuannya. Ma’ruf adalah semua yang diperintahkan oleh syariat, Ahlus Sunnah memerintahkannya. Munkar adalah semua yang dilarang oleh syariat, Ahlus Sunnah melarangnya. Hal itu sebagaimana perintah Allah Ta’ala, artinya, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ ruf dan mencegah dari yang munkar.” (Ali Imran : 104).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kamu harus beramar ma’ruf, bernahi mungkar, mencegah orang berbuat zhalim dan membela kebenaran dengan sungguh2.”(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Beramar ma’ruf dan bernahi mungkar hendaknya berdasarkan tuntutan dan konsekuensi syariat, yaitu :

Pertama : Hendaknya dia mengetahui hukum syari’at terkait dengan hal yang diperintahkan dan dilarangnya. Dia tidak memerintahkan dan melarang kecuali yang dia ketahui bahwa hal itu ada dasarnya dari syari’at. (lebih…)

Child In PrayBERKASIH SAYANG DAN LEMAH LEMBUT

Allah menjelaskan bahwa Nabi-Nya, Muhammad, sebagai orang yang memiliki akhlak yang agung. Allah Ta’ala berfirman.

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Artinya : Sungguh, kamu mempunyai akhlak yang agung” [Al-Qalam : 4]

Allah juga menjelaskan bahwa beliau adalah orang yang ramah dan lemah lembut. Allah Ta’ala berfirman.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ

“Artinya : Dengan sebab rahmat Allah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentu mereka menjauh dari sekelilingmu” [Ali Imran : 159]

Allah juga menjelaskan bahwa beliau adalah orang yang penyayang dan memiliki rasa belas-kasih terhadap orang-orang yang beriman. Allah Ta’ala berfirman.

لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

“Artinya : Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, yang berat memikirkan penderitaanmu, sangat menginginkan kamu (beriman dan selamat), amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min” [At-Taubah : 128]

Rasulullah memerintahkan dan menganjurkan kita agar senantiasa berlaku lemah lembut. Beliau bersabda.

“Artinya : Mudahkanlah dan jangan kalian persulit, berilah kabar gembira dan janganlah kalian membuat orang lari”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 69 dan Muslim no. 1734 dari Anas bin Malik. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim no. 1732 dari Abu Musa dengan lafaz.

“Artinya : Berilah kabar gembira dan jangan kalian membuat orang lari. Mudahkanlah dan janganlah kalian persulit”.

Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya no.220 meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah pernah berkata kepada para sahabatnya pada kisah tentang seorang Arab Badui yang kencing di masjid.

“Artinya : Biarkanlah dia! Tuangkanlah saja setimba/ seember air. Sesungguhnya kalian diutus untuk mempermudah, bukan untuk mempersulit”

Al-Bukhari meriwayatkan dari Aisyah hadits no.6927 bahwa Rasulullah bersabda.

“Artinya : Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha lembut dan mencintai kelembutan di dalam semua urusan”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim no. 2593 dengan lafaz.

“Artinya : Wahai Aisyah, sesunguhnya Allah itu Maha lembut dan mencintai kelembutan. Allah memberi kepada kelembutan hal-hal yang tidak diberikan kepada kekerasan dan sifat-sifat lainnya

Muslim meriwayatkan hadits dalam kitab Shahihnya no.2594 dari Aisyah, Nabi bersabda.

“Artinya : Sungguh, segala sesuatu yang dihiasi kelembutan akan nampak indah. Sebaliknya, tanpa kelembutan segala sesuatu akan nampak jelek”

Muslim juga meriwayatkan hadits no. 2592 dari Jabir bin Abdullah bahwa Nabi bersabda.

“Artinya : Siapa yang tidak memiliki sifat lembut, maka tidak akan mendapatkan kebaikan”.

Allah pernah memerintahkan dua orang nabiNya yang mulia yaitu Musa dan Harun untuk mendakwahi Fir’aun dengan lembut. Allah Ta’ala berfirman.

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى.  ٤٤. فَقُولَا لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

“Artinya : Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, karena dia telah berbuat melampui batas. Berbicaralah kepadanya dengan kata-kata yang lembut, mudah-mudahan ia mau ingat atau takut” [Thaha : 43-44]

Allah juga menjelaskan bahwa para sahabat yang mulia senantiasa saling bekasih sayang. Allah Ta’ala berfirman.

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ

“Artinya : Muhammad itu adalah utusan Allah. Orang-orang yang selalu bersamanya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka” [Al-Fath : 29]

https://tausyah.wordpress.com

Mahasuci Allah, Zat yang memiliki segalanya. Mahacermat dan Mahasempurna Allah sehingga sama sekali Ia tidak membutuhkan apapun dari hamba-hamba-Nya. Tidak ada kepentingan dan mamfaat yang bisa kita berikan, karena Allah secara total dan Mahasempurna telah mencukupi dirinya sendiri. Ribuan malaikat yang gemuruh bertasbih, bertahmid, dan bertakbir tiap detik, tiap waktu, tiap kesempatan memuji Allah, itupun hanya menunjukkan keagungan dan kebesaran-Nya.

Jika Allah menciptakan makhluk jin dan manusia kemudian diperintahkan untuk taat, bukan karena Allah membutuhkan ketaatan makhluk-Nya. Sungguh, semua perintah dari Allah adalah karunia agar kita menjadi terhormat, mulia, dan bisa kembali ke tempat asal mula kita yaitu surga. Jadi kalau kita masuk neraka, naudzubillaah, sama sekali bukan karena kurangnya karunia Allah, tapi karena saking gigihnya kita ingin jadi ahli neraka, yaitu dengan banyaknya maksiat yang kita lakukan.

Allah SWT Mahatahu bahwa kita memiliki kecenderungan lebih ringan kepada hawa nafsu dan lebih berat kepada taat. Oleh karena itu, jika kita mendapat perintah dari Allah, dalam bentuk apapun, si nafsu ada kecenderungan berat melakukannya, bahkan tak segan-segan untuk menolaknya. Misalnya ibadah shalat cenderung inginnya dilambatkan. Urusan shaf saja, tidak banyak orang berebutan menempati shaf pertama. Amati saja justru shaf belakang cenderung lebih banyak diminati. Perintah shalat memang banyak yang melakukan, tetapi belum tentu semua melakukannya tepat waktu. Begitu juga dengan tepat waktu, belum tentu juga bersungguh-sungguh khusyu. Bahkan ada – mungkin salah satunya kita – yang justru menikmati shalat dengan pikiran yang melantur, melayang-layang tak karuan, sehingga tak jarang banyak program atau urusan duniawi lainnya yang kita selesaikan dalam shalat. Dan yang lebih parah lagi, kita tidak merasa bersalah karenanya.

Saat menafkahkan rizki untuk sedekah, maka si nafsu akan membuat seakan-akan sedekah itu akan mengurangi rizki kita, bahkan pada lintasan berikutnya sedekah ini akan dianggap membuat kita tifdak punya apa-apa. Padahal, sungguh sedekah tidak akan mengurangi rizki, bahkan akan menambah rizki kita. Namun, karena nafsu tidak suka kepada sedekah, maka jajan justru lebih disukai.

Sungguh, kita telah diperdaya dengan rasa malas ini. Bahkan saat malas beribadah, otak kita pun dengan kreatif akan segera berputar untuk mencari dalih ataupun alasan yang dipandang logis dan rasional. Sehingga apa-apa yang kita lakukan karena malas, seolah-olah mendapat legitimasi karena alasan kita yang logis dan rasional itu, bukan semata-mata karena malas. Ah, betapa hawa nafsu begitu pintar mengelabui kita. Lalu, bagaimana cara kita mengatasi semua kecenderungan negatif diri kita ini?

Cara yang paling baik yang harus kita lakukan adalah kegigihan kita melawan kemalasan diri. Kecenderungan malas itu kalau mau diikuti terus menerus akan tidak ada ujungnya, bahkan akan terus membelit kita menjadi seorang pemalas kelas berat, naudzubillaah. Berangkat ke mesjid, maunya dilambat-lambat, maka harusnya lawan! Berangkat saja. Ketika terlintas, nanti saja wudhunya di mesjid, lawan! Di mesjid banyak orang, segera lakukan wudhu di rumah saja! Itu sunnah. Sungguh, orang yang wudhu di rumah lalu bergegas melangkahkan kakikya ke mesjid untuk shalat, maka setiap langkahnya adalah penggugur dosa dan pengangkat derajat.

Sampai di mesjid, paling nikmat duduk di tempat yang memudahkan dia keluar dari mesjid, bahkan kadangkala tak sungkan untuk menghalangi orang lewat. Lebih-lebih lagi bila memakai sandal bagus, ia akan berusaha sedekat mungkin dengan sandalnya, dengan alasan takut dicuri orang. Begitulah nafsu. Bagi orang yang menginginkan kebaikan, dia akan berusaha agar duduknya tidak menjadi penghalang bagi orang lain. Maka akan dicarinyalah shaf yang paling depan, shaf yang paling utama.

Sesudah shalat, ketika mau zikir, kadang terlintas urusan pekerjaan yang harus diselesaikan. Maka bagi yang tekadnya kurang kuat ia akan segera ngeloyor pergi, padahal zikir tidak lebih dari sepuluh menit, ngobrol saja lima belas menit masih dianggap ringan. Atau ada juga yang sampai pada tahap zikir, diucapnya berulang-ulang, subhanallaah – subhanallah, tapi pikiran melayang kemana saja. Anehnya lagi kalau memikirkan dia si jantung hati konsentrasinya sungguh luar biasa. Kenapa, misalnya, mengucap subhanallaah tiga puluh tiga kali, yang sadar mengucapkannya cuma satu kali? Atau ingatlah saat kita akan berdo’a. Walaupun dilakukan, akan dengan seringkas mungkin. Padahal demi Allah, zikir-zikir yang kita ucapkan akan kembali pada diri kita juga.

Oleh karena itu, bila muncul rasa malas untuk beribadah, itu berarti hawa nafsu berupa malas sedang merasuk menguasai hati. Segeralah lawan dengan mengerahkan segenap kemampuan yang ada, dengan cara segera melakukan ibadah yang dimalaskan tersebut. Sekali lagi, bangun dan lawan! Insya Allah itu akan lebih dekat kepada ketaatan. Janganlah karena kemalasan beribadah yang kita lakukan, menjadikan kita tergolong orang-orang munafik, naudzubillaah.

Firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah, kecuali sedikit sekali.” (QS. An Nisa [4] : 142)

Ingatlah bahwa kalau kita tergoda oleh bisikan hawa nafsu berupa kemalasan dalam beribadah, maka kita ini sebenarnya sedang menyusahkan diri sendiri, karena semua perintah itu adalah karunia Allah buat kemaslahatan diri kita juga. Coba, Allah menyuruh kita berzikir, siapa yang dapat pahala? Kita. Allah menyuruh kita berdo’a, lalu do’a itu diijabah. Buat siapa? Buat kita. Allah sedikit pun tidak ada kepentingan mamfaat atau madharat terhadap apa-apa yang kita lakukan. Tepatlah ungkapan Ibnu Atho’illah dalam kitabnya, Hikam, “Allah mewajibkan kepadamu berbuat taat, padahal yang sebenarnya hanya mewajibkan kepadamu masuk ke dalam surga-Nya (dan tidak mewajibkan apa-apa kepadamu hanya semata-mata supaya masuk ke dalam surga-Nya)”. Maka Abul Hasan Ashadilly menasehatkan bahwa, “Hendaknya engkau mempunyai satu wirid, yang tidak engkau lupakan selamanya, yaitu mengalahkan hawa nafsu dengan lebih mencintai Allah SWT”.

Maka kalau kita sengsara, kita susah, kita menderita, itu bukan karena siapa-siapa, itu semua kita yang buat. Padahal sungguh, setiap desah nafas yang kita hembuskan adalah amanah dari Allah SWT, dan sebagai titipan wadah yang harus kita isi dengan amal-amal kebaikan. Sedangkan hak ketuhanan tetap berlaku pada tiap detik yang dilalui oleh seorang hamba. Abul Hasan lebih lanjut mengatakan, “Pada tiap waktu ada bagian yang mewajibkan kepadamu terhadap Allah SWT (yaitu beribadah)”.

Jadi, sungguh sangat aneh jika kita bercita-cita ingin bahagia, ingin dimudahkan urusan, ingin dimuliakan, tapi justru amal-amal yang kita lakukan ternyata menyiapkan diri kita untuk hidup susah. Seperti orang yang bercita-cita masuk surga tapi amalan-amalan yang dipilih amalan-amalan ahli maksiat. Maka, sahabat-sahabat sekalian sederhanakanlah hidup kita, paksakan diri untuk taat kepada perintah Allah kalau belum bisa ikhlas dan ringan dalam beribadah. Mudah-mudahan Allah yang melihat kegigihan diri kita memaksa diri ini, nanti dibuat jadi tidak terpaksa karena Dia-lah yang Maha Menguasai diri ini. Insya Allah.

Ketentuan-ketentuan tersebut di atas meliputi seluruh ahli kitab di mana saja mereka berada. Tetapi untuk mereka yang berada di bawah naungan pemerintahan Islam ada satu tempat khusus. Mereka ini dalam istilah yang dipakai ummat Islam dinamakan Ahludz Dzimmah. Dzimmah itu sendiri artinya: perjanjian.

Kata-kata ini memberikan suatu isyarat, bahawa mereka itu mendapat perjanjian Allah, Nabi dan jama’atul muslimin untuk hidup di bawah naungan Islam dengan aman dan tenteram.

Mereka ini dalam istilah sekarang disebut Warga Negara dalam suatu negara Islam.

Seluruh ummat Islam dari dahulu sampai sekarang sudah sepakat, bahawa apa yang bermanfaat buat mereka bermanfaat juga bagi ummat Islam dan apa yang membahayakan mereka, berbahaya juga bagi ummat Islam. Kecuali masalah keyakinan dan urusan agama, maka Islam berlepas diri dari mereka berikut cara-cara persembahannya.

Rasulullah s.a.w. memperkeras wasiatnya tentang masalah ahli kitab ini, dengan suatu ancaman siapa yang menentangnya akan mendapat murka dan siksaan Allah.

Seperti tersebut dalam salah satu hadisnya yang berbunyi sebagai berikut: “Barangsiapa mengganggu seorang kafir dzimmi, maka sungguh ia mengganggu saya, dan barangsiapa mengganggu saya, maka sungguh ia mengganggu Allah.” (Riwayat Thabarani)

“Barangsiapa mengganggu seorang kafir dzimmi, maka saya adalah musuhnya, dan barangsiapa memusuhi saya, maka akan saya musuhinya nanti di hari kiamat.” (Riwayat al-Khatib)

“Barangsiapa berlaku zalim kepada seorang kafir ‘ahdi, atau mengurangi haknya, atau memberi beban melebihi kemampuannya, atau mengambil sesuatu daripadanya dengan niat yang tidak baik, maka saya adalah pembelanya nanti di hari kiamat.” (Riwayat Abu Daud)

Para khalifah Nabi telah melaksanakan perlindungan hak dan kehormatan ini terhadap warga negara yang bukan beragama Islam. Dan diperkuat pula oleh para ahli fiqih dalam berbagai madzhab.

Seorang ahli fiqih Maliki Syihabuddin al-Qarafi mengatakan: “Perjanjian perlindungan adalah menentukan hak yang harus kita patuhinya kerana sesungguhnya mereka itu berada di samping kita, dalam perlindungan kita, dalam perjanjian kita, dalam perjanjian Allah, dalam perjanjian Rasulullah dan dalam perjanjian Islam. Oleh kerana itu barangsiapa mengganggu mereka kendati dengan sepatah kata yang tidak baik, atau dengan mengumpat yang menodai kehormatan mereka, atau macam gangguan apapun atau membantu perbuatan tersebut, maka sungguh ia telah mengenyampingkan perjanjian Allah, perjanjian Rasulullah dan perjanjian Agama Islam.”
[36]

Ibnu Hazm, salah seorang ahli fiqih Dhahiri mengatakan: “Kalau ada kafir harbi datang ke negeri kita untuk mengganggu ahludz-dzimmi, maka kita wajib keluar untuk melawannya dengan memanggul senjata dan bersedia mati demi melindungi orang yang berada dalam lindungan Allah dan RasulNya. Sebab menyerahkan mereka ini berarti mengabaikan perjanjian perlindungan.”[37]

Hadith :
Dari ‘Aisyah r.a katanya, Rasulullah s.a.w bersabda,:”Manusia diciptakan Allah mempunyai tiga ratus enam puluh ruas. Maka siapa yang membaca takbir, tahmid, tahlil, tasbih dan istighfar, menyingkirkan batu, duri atau tulang dari jalanan serta mengajak orang kepada kebajikan dan mencegah kepada yang mungkar sebanyak tiga ratus enam puluh kali itu, nescaya dia terhindar daripada api neraka pada hari itu.”

(Muslim)

99 Asma Allah

Posted: 5 Juni 2010 in Akidah & Akhlak
Tag:

Hadith :

Dari Abu Hurairah r.a bahawa nabi s.a.w bersabda:”Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama iaitu seratus kurang satu. Siapa menghafalnya masuk syurga.”

(Muslim)

Huraian

Perumpamaan orang yang ingat akan Allah dengan orang yang tidak ingat akan Allah laksana orang

yang hidup dengan orang yang mati. Beberapa sifat orang yang beriman yang disebutkan Allah dalam al- Quran adalah sebagai berikut: “Sesungguhnya orang-orang beriman yang apabila disebut nama Allah

gementar hatinya,dan apabila dibacakan ayat-ayat Allah kepadanya maka bertambahlah imannya,sedang

mereka itu bertawakkal kepada tuhannya.” (al-Anfal.:2) “Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah dan sebutlah nama Allah dengan ingatan dan sebutan yang sebanyak-banyaknya.”(al-Ahzaab:41). “…Lelaki yang menyebut nama Allah banyak-banyak  dan perempuan yang menyebut nama Allah banyak-banyak, maka Allah menyediakan untuk mereka pengampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahzaab:35). Sebenarnya untuk melayakkan diri tergolong dalam golongan orang-orang beriman seperti disebutkan bukanlah setakat memerlukan kita mengingati 99 nama-nama Allah bahkan kita mestilah menghayati erti dan maksudnya sekali sehingga dengan itu hati kita sentiasa merasa gerun dan takut untuk berbuat

dosa kepada Allah sekalipun dosa kecil.

Hadith :

Dari Abu Dzar r.a katanya:”Rasulullah s.a.w bertanya kepadaku, sambil menepuk pahaku: Apa yang engkau lakukan jika engkau berada dalam lingkungan kaum yang suka melalikan solat dari waktunya? Jawabku:”Apa perintah tuan untuk saya?“ Sabda baginda, solatlah pada waktunya (sekalipun sendirian). Sesudah itu selesaikanlah segala urusanmu. Jika kebetulan orang solat berjamaah dan engkau masih berada dalam masjid, maka solatlah pula (bersama mereka).”

(Muslim)

Huraian

Solat bukan perkara yang remeh di dalam agama. Bahkan ia menduduki tempat teratas dalam penilaian ketaatan manusia sehinggakan di padang Mahsyar kelak setiap amalan manusia didahului kiraannya daripada solat itu sendiri. Jika baik dan sempurna ia dikerjakan maka semua amalan berikutnya akan baik. Hal ini kerana fungsi solat itu adalah untuk mencegah manusia daripada melakukan kajahatan dan kemungkaran. Begitulah sebaliknya. Oleh itu janganlah kita merasa berat untuk melakukan solat kerana perasaan itu membuka peluang kepada syaitan untuk melalaikan kita dengan mendedahkan kita kepada perkara-perkara yang menarik nafsu seperti duduk-duduk berkumpul dan berbual-bual sehingga terleka atau terlalu asyik membeli belah sehingga terlupa akan solat. Adalah lebih baik sekiranya kita dapat mengerjakan solat itu pada awal waktu meskipun secara sendirian daripada terlewat mengerjakannya kerana sebab-sebab yang sebenarnya boleh dielakkan. Bahkan dalam hadith di atas Rasulullah s.a.w menggalakkan kita merebut pahala solat berjamaah sekalipun kita telah selesai mengerjakan solat (sendirian) demi menekankan akan kepentingan menyegerakan solat dan keutamaan berjamaah

Hadith :

Diriwayatkan daripada Ibnu Umar r.a beliau mengatakan bahawa Rasulullah s.a.w pernah bersabda:”Orang yang luput solat Asarnya samalah ertinya dia telah kehilangan keluarga dan harta kekayaannya.”

(al-Bukhari)

Huraian

Solat adalah perkara yang diwajibkan dalam Islam malah ia termasuk dalam salah satu daripada rukun

Islam yang lima. Dari sudut pelaksanaan solat, seseorang itu tidak boleh sewenang-wenangnya

meninggalkan solat kecuali mereka yang menghadapi suasana darurat yang membolehkan ia berbuat

demikian sebagaimana yang dilakukan Nabi s.a.w dan umat Islam Madinah ketika berlaku peperangan Khandak yang sungguh sengit di mana pihak musuh telah mengepung Kota Madinah. Demi menjaga keselamatan mereka terpaksa menunda solat Asar hingga ke waktu Maghrib.