Perjalanan Spritual Lauren Booth, Seorang Ipar Dari Mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair Dalam Menemukan Islam, Apresiasi Hijab Dan Kesucian Para Muslimah Membawanya Memeluk Islam

Posted: 2 September 2012 in Muallaf
Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
Adik Ipar Tony Blair

Lauren Booth

Barang kali antum-anty sekalian sudah tau dengan perkabaran seorang ipar dari mantan perdana menteri Inggris Tony Blair yaitu Lauren Booth yang sudah menjadi muslimah, namun bagaimana proses muallafnya Lauren Booth dan itulah yang akan kita beritakan disini.

Kabarnya belum sebulan ia menjadi seorang muallaf yang membuat geger bangsa Inggris serta kalangan Muslim sendiri, diberitakan bahwa Lauren Booth kembali diterpa isu bahwa ia menganut Islam Syi’ah garis keras yang dituding berdasarkan disaat Lauren Booth melakukan perjalanan ke Iran dan mengatakan saat berada disanalah ia menjadi seorang muslim.

Setelah keislamannya juga banyak orang yang beranggapan bahwa dia menjadi seorang muslim hanyalah untuk mencari popularitas alias untuk mencari perhatian publik semata.

Namun untuk menepis semua tuduhan – tuduhan itu, Laura Both malah menulis sebuah surat secara umum kepada publik tentang rasa syukurnya menjadi seorang muslimah yang kemudian suratnya tersebutpun dimuat pada sebuah harian Daily Mail tak berapa lama setelah surat tersebut ditulis. Surat tersebut terdiri dari beberapa bagian, dan berikut adalah kutipan bagian ke-2 dari isi surat tersebut :

Bagaimana tentang perjalanan spiritual? Itu tak pernah terjadi pada saya. Meskipun saya suka berdoa dan sejak kecil sudah mendengar cerita tentang yesus dan para nabi sebelumnya. Saya dibesarkan dalam keluarga yang sangat sekuler.

Mungkin apresiasi saya tentang budaya islam, terutama pada wanita muslim, yang menarik saya mengapresiasi Islam. Perempuan Islam yang saya lihat di inggris adalah yang menutup seluruh tubuhnya dari kepala hingga ujung kaki, kadang berjalan dibelakang suami mereka, dengan anak – anak berbaju panjang disekitar mereka. Ini sungguh kontras dengan kondisi wanita profesional eropa yang pada umumnya sangat memperhatikan penampilannya. Saya, misalnya sangat bangga dengan rambut pirang saya, dan ya, belaham dada saya, Ini seolah menjadi  jualan utama kami.

Saat bekerja didunia Broadcast televisi, betapa hal itu makin jelas terasa; presenter wanita menghabiskan waktu hingga satu jam utk merias wajah dan penampilan mereka, hanya untuk membahas satu topik “serius” yang memakan waktu tak lebih dari 15 menit. Apakah ini sebagai bentuk Liberation?

Saya mulai bertanya – tanya seberapa banyak penghormatan bagi gadis – gadis dan perempuan dalam masyarakat bebas kita.

Pada tahun 2007 saya pergi ke Lebanon. Saya menghabiskan waktu empat hari bersama para mahasiswi disana, sebagian dari mereka menggunakan cadar, mereka tetap menawan serta mandiri, dan bebas berpendapat. Mereka tidak semua gadis pemalu, atau mereka akan dipaksa segera untuk menikah, seperti yang kita dengar dibarat. Suatu waktu mereka menemani saya mewancarai seorang syaikh yang disebut – sebut dekat dn milisi Hizbullah. Saya sangat terkejut tentang bagaimana dia memperlakukan para gadis yang menemani saya ini. Saat Syekh Nabil — yang menggunakan surban dan jubah cokelat— berbicara tentang topik yang menantang tentang pertukaran tawanan, mereka tergelitik untuk angkat bicara. Mereka bebas bertanya dan menyatakan apapun, termasuk angkat tangan untuk menyela sang Syekh yang tengah berbicara.

Ada hal lain yang berubah kemudian. Semakin banyak waktu saya habiskan di timur tengah, semakin seriing saya minta diatar kemesjid. Hanya untuk kepentingan pesiar, begitu selalu saya meyakinkan pada diri saya, walaupun faktanya, saya mendapatkan lebih dari sekedar wisata belaka.

Bebas dari anekan patung dan bangku, saya melihat mereka duduk begitu saja dengan anak – anak bermain disekitarnya, beberapa memakan bekal mereka, dan wanita tua duduk diatas kursi roda mereka membaca Al-Qur-an. Mereka membawa kehidupan mereka ke masjid, dan membawa masjid kedalam rumah – rumah mereka.

Dan tibalah suatu malam saat saya mengunjungi kota Qom, dibawah kubah emas yang disebut Fatimah Mesumah(Fatimah sang teladan), sama seperti perempuan lainnya disana, tiba  – tiba saya bergumam nama Allah beberapa kali, ketika memegang pagar makam Fatimah. Ketika saya duduk sebuah kenikmatan spiritual menyergap saya, bukan kenikmatan yang seolah – olah mengangkat kita dari tanah, tapi kenikmatan yang memberi kedamaian penuh. Saya duduk disana untuk waktu yang lama. Seorang wanita muda disamping saya membisikkan, “sesuatu keajaiban terjadi pada  anda”.

Ya, saya tahu saya bukan lagi “turis dalam Islam”. Tapi pengembara di dalam umat, bagian dari komunitas muslim dan terkait dengan seluruh muslimin.

Untuk pertama kalinya saya merasakan ingin lari dari situasi ini, karena beberapa alasan. Apakah betul saya sudah siap berpindah agama? Apa yang akan ada dalam pikiran teman – teman dan keluarga kalau saya menjadi muslim? Apakah saya siap untuk  mengubah banyak hal dalam perilaku keseharian saya?

Dan terjadilah hal yang benar – benar aneh. Saya tidak mera khawatir tentang hal-hal itu. Karena entah bagaimana menjadi seorang muslim sangat mudah – meskipun masalah yang akan saya hadapi sangat berbeda, tentu saja. Untuk memulai, Islam menuntut banyak belajar, namun saya ibu dua anak dan bekerja penuh waktu. Anda diharapkan untuk membaca Al-qur-an dari awal hingga akhir, ditambah dengan bertemu imam dan segala macam aturan bagi orang yang tercerahkan. Kebanyakan orang akan menghabiskan berbulan – bulan bahkan bertaun – tahun sebelum menyatakan keislamannya. Dan saya bisa melewatinya..”

Hikmah :

Wahai ukhti sekalian..seorang yang bermula hanya seorang non muslim saja tertarik untuk memeluk Islam oleh karena melihat kesucian dan hijab yang dikenakan oleh para wanita muslimah, namun bagaimanakah gerangannya dengan para ukhti sekalian?? padahal hijab itu hukumnya adalah wajib, dan hanya islamlah yang meninggikan derajat wanita didunia dengan mensyucikan keindahan-keindahan mereka yang harganya tidak terbeli dengan apapun. Namun, sayangnya..sebahagian para muslimah hanya bertuliskan di KTPnya saja. Kebanyakan justru berpakaian minim yang di haramkan oleh ALLAH dan rasul-Nya yang bahkan di ancam tidak akan masuk syurga dan juga tidak akan mencium bau syurga, karena murahnya harga lekak-lekuk tubuh mereka dengan berpakaian yang mempertontonkan aurat mereka. Sedang hijab dan jilbab didalam Islam hukumnya adalah wajib, selain itu Hijab dan Jilbab adalah identitas bukan hanya untuk KTP dunia melainkan juga untuk KTP akhirat. Namun bagi para ukhti yang masih suka berpakaian yang mempertontonkan aurat anty, apakah karena anty tidak ingin atau mungkin malu disebut sebagai seorang Muslimah??

Firman ALLAH Ta’ala :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang. Al-Ahzaab : 059.

Wallahu Ta’ala A’lam

https://tausyah.wordpress.com

Komentar
  1. […] amat sederhana. Di atas dipan kayu ini aku tertegun lama.Memandangi istriku yang tengah tertunduk larut dalam dan diam. Setelah sekian lama kami saling diam, akhirnya dengan membaca basmalah dalam hati […]

  2. […] Zaid al Akbar bin Umar, dan Ruqayyah putri Ummu Kultsum binti […]

  3. […] amat sederhana. Di atas dipan kayu ini aku tertegun lama.Memandangi istriku yang tengah tertunduk larut dalam dan diam. Setelah sekian lama kami saling diam, akhirnya dengan membaca basmalah dalam hati […]

  4. […] karenanya..ya ukthi..kelak ALLAH Ta’ala akan memintai pertanggung jawaban tentang perkara itu kepada kedua orangtuanya dengan sekalian keluarganya yang lain yang sangat bertanggung jawab akan aqidah lagi keimanannya.. […]

  5. […] karenanya..ya ukthi..kelak ALLAH Ta’ala akan memintai pertanggung jawaban tentang perkara itu kepada kedua orangtuanya dengan sekalian keluarganya yang lain yang sangat bertanggung jawab akan aqidah lagi keimanannya.. […]

  6. […] karenanya..ya ukthi..kelak ALLAH Ta’ala akan memintai pertanggung jawaban tentang perkara itu kepada kedua orangtuanya dengan sekalian keluarganya yang lain yang sangat bertanggung jawab akan aqidah lagi keimanannya.. […]

  7. […] karenanya..ya ukthi..kelak ALLAH Ta’ala akan memintai pertanggung jawaban tentang perkara itu kepada kedua orangtuanya dengan sekalian keluarganya yang lain yang sangat bertanggung jawab akan aqidah lagi keimanannya.. […]

  8. […] karenanya..ya ukthi..kelak ALLAH Ta’ala akan memintai pertanggung jawaban tentang perkara itu kepada kedua orangtuanya dengan sekalian keluarganya yang lain yang sangat bertanggung jawab akan aqidah lagi keimanannya.. […]

  9. […] Zaid al Akbar bin Umar, dan Ruqayyah putri Ummu Kultsum binti Alibin Abi […]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s