Ahludz Dzimmah (Orang Kafir yang Berada di Wilayah Pemerintahan Islam)

Posted: 9 Juni 2010 in Akidah & Akhlak
Tag:

Ketentuan-ketentuan tersebut di atas meliputi seluruh ahli kitab di mana saja mereka berada. Tetapi untuk mereka yang berada di bawah naungan pemerintahan Islam ada satu tempat khusus. Mereka ini dalam istilah yang dipakai ummat Islam dinamakan Ahludz Dzimmah. Dzimmah itu sendiri artinya: perjanjian.

Kata-kata ini memberikan suatu isyarat, bahawa mereka itu mendapat perjanjian Allah, Nabi dan jama’atul muslimin untuk hidup di bawah naungan Islam dengan aman dan tenteram.

Mereka ini dalam istilah sekarang disebut Warga Negara dalam suatu negara Islam.

Seluruh ummat Islam dari dahulu sampai sekarang sudah sepakat, bahawa apa yang bermanfaat buat mereka bermanfaat juga bagi ummat Islam dan apa yang membahayakan mereka, berbahaya juga bagi ummat Islam. Kecuali masalah keyakinan dan urusan agama, maka Islam berlepas diri dari mereka berikut cara-cara persembahannya.

Rasulullah s.a.w. memperkeras wasiatnya tentang masalah ahli kitab ini, dengan suatu ancaman siapa yang menentangnya akan mendapat murka dan siksaan Allah.

Seperti tersebut dalam salah satu hadisnya yang berbunyi sebagai berikut: “Barangsiapa mengganggu seorang kafir dzimmi, maka sungguh ia mengganggu saya, dan barangsiapa mengganggu saya, maka sungguh ia mengganggu Allah.” (Riwayat Thabarani)

“Barangsiapa mengganggu seorang kafir dzimmi, maka saya adalah musuhnya, dan barangsiapa memusuhi saya, maka akan saya musuhinya nanti di hari kiamat.” (Riwayat al-Khatib)

“Barangsiapa berlaku zalim kepada seorang kafir ‘ahdi, atau mengurangi haknya, atau memberi beban melebihi kemampuannya, atau mengambil sesuatu daripadanya dengan niat yang tidak baik, maka saya adalah pembelanya nanti di hari kiamat.” (Riwayat Abu Daud)

Para khalifah Nabi telah melaksanakan perlindungan hak dan kehormatan ini terhadap warga negara yang bukan beragama Islam. Dan diperkuat pula oleh para ahli fiqih dalam berbagai madzhab.

Seorang ahli fiqih Maliki Syihabuddin al-Qarafi mengatakan: “Perjanjian perlindungan adalah menentukan hak yang harus kita patuhinya kerana sesungguhnya mereka itu berada di samping kita, dalam perlindungan kita, dalam perjanjian kita, dalam perjanjian Allah, dalam perjanjian Rasulullah dan dalam perjanjian Islam. Oleh kerana itu barangsiapa mengganggu mereka kendati dengan sepatah kata yang tidak baik, atau dengan mengumpat yang menodai kehormatan mereka, atau macam gangguan apapun atau membantu perbuatan tersebut, maka sungguh ia telah mengenyampingkan perjanjian Allah, perjanjian Rasulullah dan perjanjian Agama Islam.”
[36]

Ibnu Hazm, salah seorang ahli fiqih Dhahiri mengatakan: “Kalau ada kafir harbi datang ke negeri kita untuk mengganggu ahludz-dzimmi, maka kita wajib keluar untuk melawannya dengan memanggul senjata dan bersedia mati demi melindungi orang yang berada dalam lindungan Allah dan RasulNya. Sebab menyerahkan mereka ini berarti mengabaikan perjanjian perlindungan.”[37]

Komentar
  1. […] dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. Ali – Imran : […]

  2. […] senyum, lapang hati, penuh kebaikan, sedekah, berdo’a, silaturrahmi, barbaik sangka, pema’af, kasih sayang, […]

  3. […] kecil   dan  musuh   dengan  jumlah   yang amat  besar,  mereka  akan   menentang musuh-musuh  yang  datang menyerang. Terjadilah   perang   pertama  iaitu   perang Badar    […]

  4. […] kecil   dan  musuh   dengan  jumlah   yang amat  besar,  mereka  akan   menentang musuh-musuh  yang  datang menyerang. Terjadilah   perang   pertama  iaitu   perang Badar    […]

  5. […] kecil   dan  musuh   dengan  jumlah   yang amat  besar,  mereka  akan   menentang musuh-musuh  yang  datang menyerang. Terjadilah   perang   pertama  iaitu   perang Badar    […]

  6. […] kecil   dan  musuh   dengan  jumlah   yang amat  besar,  mereka  akan   menentang musuh-musuh  yang  datang menyerang. Terjadilah   perang   pertama  iaitu   perang Badar    […]

  7. […] aku akan percaya kepada apa yang kamu katakan itu, mulai saat ini aku bertaubat untuk tidak lagi memusuhi Islam dan aku menyatakan diri masuk ke dalam agama Islam, wahai Khalid tolonglah ajarkan aku […]

  8. […] Allah dengan makhluk. Manakala aqidah Wahhabi adalah berpegang kepada yang zahir makna ayat-ayat mutasyabihat dan hadith-hadith mutasyabihat yang membawa kepada persamaan Allah dengan makhluk kemudian ditambah […]

  9. […] menjaga kami bila sedang tidur. Sewaktu sampai di daerah Romawi dan kami sedang mengatur siasat pertempuran, tiba-tiba dia maju ke depan medan dan berteriak:”Hai, aku ingin segera bertemu dengan […]

  10. […] Allah dengan makhluk. Manakala aqidah Wahhabi adalah berpegang kepada yang zahir makna ayat-ayat mutasyabihat dan hadith-hadith mutasyabihat yang membawa kepada persamaan Allah dengan makhluk kemudian ditambah […]

  11. […] di pusat keilmuwan yang paling bergengsi pada zamannya, yakni Bait al-Hikmah  atau House of Wisdom yang didirikan khalifah Abbasiyah  di metropolis intelektual dunia, […]

  12. […] aku akan percaya kepada apa yang kamu katakan itu, mulai saat ini aku bertaubat untuk tidak lagi memusuhi Islam dan aku menyatakan diri masuk ke dalam agama Islam, wahai Khalid tolonglah ajarkan aku […]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s