Do’a Untuk Menemukan Tuhan

Posted: 7 Juni 2010 in Renungan
Tag:,

Ayesha lahir di sebuah kampung nelayan kecil, di Sussex, Inggris. Ayesha terkenal aktif di sekolahnya. Nilai-nilai pelajarannya cemerlang, namun ada hal yang membedakan dengan anakanak lain. Bila rekan-rekan sebayanya sibuk dengan boneka, dia lebih sering mencorat-coret membuat puisi, merenung, mencari keberadaan Sang Pencipta. “Kalau anda seorang gadis kecil berumur tujuh tahun tapi sudah mempelajari Hinduisme,dan agama-agama lain, lantas berdebat dengan orang-orang dewasa, tentu itu aneh sekali”, ujarnya. Meskipun kedua orang tuanya atheis dia selalu yakin akan kebenaran agama. Dia percaya akan adanya Tuhan. “Tapi…, Nak cari susah”, kata nya dalam dialek melayu. Boleh dibilang bookaholic (kegemaran akan buku) mengalir dari kedua orang tuanya, Alan Scoot dan Carol Ann, serta paman dan bibinya yang rata-rata berpendidikan tinggi. Sejak kecil Ayesha
dan dua adik prianya telah terbiasa dengan tumpukan buku di rumah mereka. Ketika mendengar tentang Islam, Ayesha berniat mempelajarinya. Tapi sulit sekali menemukan informasi tentang Islam. Bahkan di perpustakaan tak ada buku-buku tentang Islam, apalagi Al-Quran. Gurunya, yang diharapkan dapat memberikan informasi tentang Islam, ternyata hanya memberi jawaban ngawur.

Satu-satunya yang dikatakan gurunya tentang Islam adalah orang-orang Islam telah membunuh tentara-tentara Kristen dalam perang Salib. Islam memiliki Nabi yang sangat lucu, yaitu Muhammad dan pedoman hidup mereka adalah Al-Quran. Ayesha tak tahu harus kemana dia bertanya. Apalagi Sussex jarang ditemui pendatang Muslim Timur Tengah atau Asia. Ditengah rasa putus asa yang melandanya itu, suatu malam di usianya yang ke 13, dia berdoa, “Oh Tuhan, siapapun atau apapun Engkau, tunjukkanlah bagaimana menemukan-Mu”. Esoknya secara kebetulan Ayesha bertemu dengan tiga mahasiswi Muslim asal Malaysia yang sedang belajar di Sussex. “Mereka tidak pernah membujuk saya untuk masuk Islam. Kami hanya berteman. Saya
perhatikan mereka masuk kamar dan melakukan shalat, Saya tanya, “Mengapa mereka shalat ?”. Jawab mereka, “itu salah satu ajaran agama kami”, kenang Ayesha. Kemudian salah seorang dari mereka memberikan Ayesha sebuah buku Al-Quran terjemahan dan beberapa buku tentang Islam. Khawatir ketahuan orang tuanya, Ayesha menyembunyi kan Al-Quran dan buku-buku itu di bawah kasur. “Waktu itu saya tidak tahu bahwa Al-Quran seharusnya tidak boleh disimpan dibawah kasur,” ujarnya terkekeh.

Pada tahun 1975, diusianya yang ke-15, dia mengambil langkah berani dalam hidupnya. Suatu malam, saat kedua orang tuanya tidur, Ayesha membasuh dirinya dalam kamar mandi. Saya berkata dalam hati; “Tuhan , saya tahu bahwa saya mandi, menyucikan diri dan berharap Engkau dapat
memaklumi kebodohan saya.”

Setelah itu, dia kembali ke kamar tidur. Dengan harapan disaksikan Allah, Malaikat dan Nabi Muhammad SAW, dia mengucapkan kalimat Syahadat.
Sepintar-pintar Ayesha menyimpan rahasia, toh akhirnya terbongkar juga. Orang tua Ayesha marah besar hingga menjadi pertengkaran yang hebat. Puncaknya, dia harus keluar rumah. Ini terjadi pada musim dingin 6 Desember 1976. Di tengah salju tebal, “Saya keluar rumah menjinjing kopor
ditangan dan uang lima pound di saku”, kenangnya. Bila ingin mendapat cinta Allah, maka kita akan mendapatkannya melalui cobaan. Tiap kali lulus ujian, Dia akan menganugerahkan ilmu, pengertian dan kedamaian hati.

Ketika berusia 25 tahun, dia menikah dengan seorang mahasiswa muslim asal Malaysia, Muhammad Zaid bin Haji Sani, Beruntung, pengetahuan suaminya cukup luas sehingga dia banyak belajar darinya. Di Malaysia, Ayesha sering sibuk memenuhi undangan berceramah dikampungkampung
dan kantor pemerintah. Namun baginya, suami dan anak-anak prioritas utama. “Anak-anak adalah titipan Tuhan yang tak bernilai harganya”, ujarnya.

Bila doa seorang anak yang shaleh dan shalehah dapat menyelamatkan kedua orang tuanya dari api neraka, siapa yang tidak ingin punya anak?”, Lanjutnya. Bicara soal keluarga, Ayesha lebih lanjut memaparkan, “Tugas kita membimbing dan menjelaskan mana yang baik dan mana yang buruk
dalam pandangan Islam dan akhirnya memberi pilihan untuk memutuskan.” “Perempuan harus menjaga keluarganya, bukan dirinya sendiri. Bila suatu unit keluarga utuh, keluarga itu akan selamat. Bila tidak, maka akan hancur. Hancurnya keluarga adalah awal penyebab kehancuran masyarakat, “tandasnya. Dan anak-anak adalah yang terpenting. Bila sejak dini orangb tua tidak dapat mendampingi anak-anak untuk memberikan pemahaman tentang Islam, mereka akan jauh dari Islam dan sulit nantinya membentuk mereka menjadi muslim yang baik. Memberi pemahaman keislaman sejak usia muda itu yang penting,”tandas Ayesha menutup pembicaraan.

(Artikel Lainnya di http://www.fosmil.org/bankdata/majalah.html)

Online sejak 2 Mei 2002/19 Safar 1423 H
http://www.fosmil.org/adzan/15.muallaf/mu06.html

https://tausyah.wordpress.com

Komentar
  1. […] pada jenjang tempat Rasul Allah s.a.w. dulu selalu berdiri, Abdurrahman bin Auf mengucapkan do’a dengan suara […]

  2. […] mereka ada yang sudah menganut ajaran Islam yang dibawa oleh Muhammad (yaitu kaum Anshar), ada yang masih memiliki budaya pagan atau penyembah […]

  3. […] dalam waktu yang bersamaan, Imam Ali r.a. selaku Amirul Mukminin, juga mengucapkan pidato, sambil memberi instruksi-instruksi: “…Janganlah kalian memerangi mereka sebelum mereka menyerang lebih dulu. Alhamdulillah, […]

  4. […] atau sebagian dari Tuhan, maka kenapa beliau berdoa? Sebenarnya, berdoa itu selalu merupakan suatu permohonan dari seseorang yang menyerahkan diri, karena memerlukan dan bergantungan kepada belas-kasihan dari Tuhan Yang Maha […]

  5. […] berkata, “Orang yang membukukan ilmu-ilmu yang bermanfaat akan mendapatkan pahala dari perbuatannya sendiri dan pahala dari orang yang membaca, menulis dan […]

  6. […] meliputi segala hal yang terdengar, dan Dia Melihat dan menyaksikan segala sesuatu, sekalipun sesuatu tersebut tersembunyi secara lahir maupun batin. […]

  7. […] Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : sebaik-baik barisan kaum laki-laki adalah yang pertama, dan seburuk-buruknya adalah yang paling akhir, dan […]

  8. […] kali antum-anty sekalian sudah tau dengan perkabaran seorang ipar dari mantan perdana menteri Inggris Tony Blair yaitu Lauren Booth yang sudah menjadi muslimah, namun bagaimana proses muallafnya […]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s