Kisah Putri Rasululullah Zainab Binti Muhammad Dan Menantunya Abil Ash Bin Rabi’, Rumah Tangga Yang Goyah Karena Mempertahankan Iman

Posted: 19 Januari 2011 in Salafush Shalih
Tag:, , , , , ,

https://tausyah.wordpress.com/Rasulullah-Name-Kaligrafi

Rasulullah

Zainab Binti Muhammad

Zainab   telah    wafat   sejak    15   abad    yang   lalu,    tetapi   dia meninggalkan kenangan terbaik dan menjadi contoh terbaik dalam  hal  kesetiaan   sebagai isteri, keikhlasan  cinta dan ketulusan iman.

Zainab dilahirkan pada tahun 30 setelah kelahiran Nabi SAW. Ketika mencapai usia perkawinan, bibinya, Halah binti Khuwailid, saudara Ummul Mu’minin Khadijah meminang untuk puteranya, Abil Ash bin Rabi’. Semua pihak setuju dan ridha. Zainab binti Muhammad SAW diboyong ke rumah Abil Ash bin Rabi’. [Ibnu Sa’ad menyebutkan bahwa Abil Ash mengawini Zainab sebelum Nabi SAW diangkat menjadi Nabi. Imam Adz-Dzahabi berkata : Ini adalah jauh. Kemudian dia berkata : Zainab masuk Islam dan hijrah 6 tahun sebelum suaminya masuk Islam.

Khadijah pergi menemui kedua  suami  isteri  yang  saling mencintai itu dan mendoakan agar keduanya mendapatkan berkah. Kemudian dia  melepas kalungnya  dan menggantungkannya  ke  leher Zainab sebagai  hadiah bagi pengantin. Perkawinan  itu  berlangsung  sebelum turun wahyu kepada ayahnya, Nabi SAW. Ketika cahaya Tuhannya menerangi bumi, Zainab pun beriman. Akan tetapi Abil Ash tidak mudah meninggalkan agamanya. Maka kedua suami isteri itu merasa bahwa kekuatan yang lebih kuat dari cinta mereka berusaha memisahkan antara keduanya.Abil Ash tetap membangkang dan berkata :”Tidak akan tercapai tujuan di antara kita, wahai Zainab, kecuali engkau tetap dalam agamamu dan aku tetap dalam agamaku.” Adapun Zainab, maka dia  berkata  :”Sabarlah,  wahai  suamiku,  Engkau  tidak  halal bagiku selama engkau tetap memeluk agama itu. Maka serahkan aku kepada ayahku atau masuklah Islam bersamaku. Zainab tidak akan menjadi milikmu sejak hari ini, kecuali bila engkau beriman pada agama yang aku imani.”

Pasangan suami isteri itu terdiam sebentar sambil merenung. Keduanya  sadar  ketika  terdengar suara  yang  membisikkan kepada keduanya :”Jika agama memisahkan antara kedua jasad mereka, maka cinta mereka akan tetap ada hingga keduanya dipersatukan oleh sebuah agama.”

Hari-hari  berlalu  dalam  keadaan  ini  setelah  Rasulullah  SAW hijrah  ke  Madinah.  Pasukan  Quraisy  berangkat  menuju  Badr untuk memerangi Rasul SAW dan di antara mereka terdapat Abil Ash bin Rabi’, bukan untuk menyatakan ke-Islamannya, tetapi untuk memerangi Rasul SAW. Situasi menjadi kritis ketika Abil Ash jatuh menjadi tawanan di tangan kaum Muslimin di bawah pimpinan Rasulullah SAW di Madinah. Kemudian kaum Quraisy mengutus orang untuk menebus tawanan-tawanannya.

Zainab  pun  mengirimkan  harta  dan  sebuah  kalung  untuk menebus tawanannya, Abil Ash bin Rabi’. Ketika Rasulullah SAW melihat  kalung  itu,  beliau  merasa  iba  hatinya  dan  bersabda: “Jika kalian tidak    keberatan melepaskan    tawanan   ini dan mengembalikan harta miliknya,  maka   lakukanlah.” Mereka menjawab : “Baiklah,    wahai   Rasulullah.”   Kemudian mereka melepaskannya dan mengembalikan harta milik Zainab. Di sini Rasulullah SAW  mendapat       janji  dari Abil  Ash untuk membebaskan Zainab dan mengembalikannya kepada beliau di Madinah.

Abil Ash kembali ke Mekkah dan di dalam jiwanya terdapat gambaran yang lebih cemerlang dari isteri yang berbakti dan mulia ini. Maka dia kembali bukan untuk berterima kasih atas kebaikan Zainab kepadanya,  akan  tetapi   untuk    berkata keapdanya  :”Kembalilah  kepada  ayahmu,  wahai  Zainab.”  Dia telah   memenuhi      janjinya  kepada Rasulullah   SAW  untuk membiarkan  Zainab  pergi  kepada  Nabi  SAW.  Abil  Ash  tidak kuasa menahan tangisnya dan tidak dapat mengantarkannya ke tepi dusun di luar Mekkah, di mana telah menunggu Zaid bin Haritsah dan seorang laki-laki Anshor.

Bagaimana dia mampu melepaskan orang yang dicintainya, sedang  dia  mengetahui  bahwa,  itu  merupakan  perpisahan terakhir selama kekuasaan agama ini berdiri di antara kedua hati dan masing-masing berpegang pada agamanya. Abil Ash berkata kepada saudaranya, Kinanah  bin Rabi’    :”Hai,  Saudaraku, tentulah engkau mengetahui kedudukannya dalam jiwaku. Aku tidak menginginkan seorang wanita Quraisy di sampingnya dan engkau tentu tahu bahwa aku tidak sanggup meninggalkannya. Maka temanilah dia menuju tepi dusun, di  mana  telah menungggu dua utusan Muhammad. Perlakukanlah dia dengan lemah  lembut dalam perjalanan  dan  perhatikanlah dia sebagaimana engkau memperhatikan wanita-wanita terpelihara. Lindungilah dia dengan panahmu hingga anak panah yang penghabisan.”

Di saat Zainab sedang bersiap-siap untuk menyusul ayahnya, datanglah  Hind  binti  Utbah,  menemuinya,  dan  dia  berkata: “Wahai, puteri Muhammad, aku mendengar bahwa engkau akan menyusul  ayahmu  !”  Zainab    menjawab  : “Aku  tidak    ingin melakukannya.” Hind berkata : “Wahai puteri pamanku, jangan engkau lakukan. Jika engkau mempunyai keperluan akan suatu barang yang menjadi bekal dalam perjalananmu atau harta yang hendak  engkau  sampaikan  kepada  ayahmu,  maka  aku  akan memenuhi    keperluanmu.  Maka    janganlah    engkau    segan kepadaku, karena sesuatu yang masuk di antara orang-orang lelaki tidaklah masuk di antara orang-orang wanita.” Zainab berkata : “Demi Allah, aku tidak melihatnya mengatakan hal itu, kecuali untuk melakukannya, tetapi aku takut kepadanya. Maka aku menyangkal bahwa aku akan pergi dan aku pun bersiap-siap.”

Setelah menyelesaikan persiapannya, iparnya, Kinanah bin Rabi’ menyerahkan  kepada  Zainab  seekor  unta,  lalu  dinaikinya. Kinanah mengambil busur dan anak panahnya. Kemudian dia keluar membawa Zainab diwaktu siang dan Zainab duduk di dalam  pelangkinnya,  sementara  Kinanah  menuntun  untanya. Akan tetapi, apakah Quraisy membiarkannya keluar setelah mereka mengalami kekalahan di Badr. Bagaimana dia boleh keluar sementara orang-orang melihat dan mendengarnya ?

Tidak…sekali lagi tidak ! Banyak orang laki-laki Quraisy telah membicarakan hal itu. Maka keluarlah mereka untuk mencarinya hingga mereka berhasil menyusul di Dzi Thuwa. Yang pertama kali menemukannya adalah Habbar bin Aswad bin Muththalib dan Nafi’ bin Abdul Qais. Habbar menakutinya dengan tombak. Di saat itu Zainab berada di dalam pelangkinnya dan dia sedang dalam keadaan hamil. Ketika pulang, dia mengalami keguguran kandungannya.

Iparnya  marah  dan  berkata  kepada  para  penyerang  :”Demi Allah, tidak seorang pun yang mendekat kepadaku, melainkan aku  akan memanahnya.”  Maka orang-orang   bubar meninggalkannya. Abu Sufyan bersama rombongan Quraisy datang kepadanya dan berkata :”Hai, orang laki-laki, tahanlah panahmu hingga aku berbicara kepadamu.” Maka Kinanah menahan panahnya. Abu Sufyan datang menghampirinya dan berkata  :”Tindakanmu  tidak  tepat.  Engkau  keluar  membawa wanita   secara  terang-terangan di   hadapan orang banyak. Sesungguhnya hal itu menunjukkan kehinaan yang menimpa kita akibat musibah dan bencana yang telah kita alami sebelumnya. Sesungguhnya hal itu menunjukkan kelemahan kita. Demi umurku, kami tidak perlu mencegahnya untuk pergi kepada ayahnya. Kami tidak ingin membalas dendam, tetapi kembalikan wanita itu.”

Tatkala suara sudah reda, Kinanah membawa Zainab pada waktu malam, lalu menyerahkannya kepada Zaid bin Haritsah dan temannya.  Keduanya   pergi mengantarkan  Zainab  kepada Rasulullah SAW. Suami isteri jadi berpisah. Tidak ada jalan untuk bertemu. Abil Ash tinggal di Makkah menyendiri dengan pikiran kacau dan hati terluka. Zainab pun tinggal di Madinah dengan badan yang sakit dan hati yang lemah. Kalau saja bukan karena iman dan takwa yang menguatkan tekadnya, tentu dia lekas mati dan tidak dapat bertemu.

Tahun demi tahun berlalu, Abil Ash keluar bersama kafilah dagangnya  menuju  Syam.  Dalam  perjalanan pulang dia berjumpa pasukan Rasulullah SAW yang berhasil merampas hartanya,  akan  tetapi  dia  bisa  lolos.  Dia  telah  kehilangan hartanya dan harta titipan orang banyak. Abil Ash tidak dapat mengembalikan  barang-barang  titipan  itu  kepada para pemiliknya. Maka apa yang harus dilakukannya ?

Dia teringat Zainab yang memberinya imbalan berupa cinta dan kesetiaan. Maka Abil Ash memasuki Madinah pada waktu malam dan mohon kepada Zainab agar melindungi dan membantunya untuk    mengembalikan hartanya.   Maka   Zainab   pun melindunginya. Orang-orang berlari ke masjid Rasulullah SAW, bertakbir bersama kaum Muslimin. Tiba-tiba terdengar suara teriakan  di  belakang  dinding  :”Hai,  orang-orang,  aku  telah melindungi  Abil  Ash   bin   Rabi’.    Dia  dalam  lindungan   dan jaminanku.” Ternyata,  Zainablah yang berseru itu.

Rasulullah SAW menyelesaikan shalatnya, lalu beliau menemui orang banyak dan bersabda :”Wahai, orang-orang, apakah kalian mendengar apa yang aku dengar ? Sesungguhnya serendah- rendah orang Muslim adalah dapat memberi perlindungan.” Kemudian beliau masuk menemui puterinya dan berbicara kepadanya, Nabi SAW berpesan :”Wahai, puteriku, muliakanlah tempatnya  dan  jangan  sampai  dia  lolos  kepadamu,  karena engkau tidak halal baginya selama dia masih musyrik.” Nabi SAW  terkesan  melihat  kesetiaan  puterinya  kepada  suaminya yang  ditinggalkan dan dia putuskan hubungan  syahwat dengannya karena perintah Allah SWT.

Di samping itu, Zainab pun masih tetap memberinya kebaktian, kesetiaan dan pertolongan : yaitu kebaktian sebagai wanita muslim, kesetiaan sebagai teman dan pertolongan sebagai manusia.  Abil  Ash  mendapatkan  dari  Nabi  SAW  apa  yang didengar   dan   diketahuinya,         sehingga dia  menyembunyikan dalam hatinya harapan kepada Allah. Kemudian, Nabi SAW mengutus orang kepada pasukan yang merampas harta Abil Ash. Beliau berkata      :”Sesungguhnya   kalian  telah    mengetahui kedudukan orang ini terhadap kami. Kalian telah merampas hartanya.   Jika   kalian  berbuat  baik  kepadanya dan mengembalikan hartanya, maka kami menyukai hal itu. Jika kalian menolak, maka itu adalah fai’ dari Allah yang diberikan- Nya kepada kalian dan kalian lebih berhak atasnya.”

Mereka berkata :”Kami akan mengembalikannya kepada Abil Ash.” Beberapa orang di antara mereka berkata :”Hai, Abil Ash, maukah engkau masuk Islam dan mengambil harta benda ini, karena  semua  ini  milik  orang-orang  musyrik  ?”  Abil  Ash menjawab :”Sungguh buruk awal Islamku, jika aku mengkhianati amanatku.”

Maka   mereka    mengembalikan    harta   itu    kepadanya    demi kemuliaan Rasulullah SAW dan sebagai penghormatan kepada Zainab. Laki-laki itu pun kembali ke Mekkah dengan membawa hartanya dan harta orang banyak. Jiwanya dipenuhi berbagai makna dan di antara kedua matanya terlihat gambaran yang tidak meninggalkannya.

Setelah    mengembalikan    harta    kepada    pemiliknya    masing- masing, Abil Ash berdiri dan berkata :”Wahai, kaum Quraisy, apakah masih ada harta seseorang di antara kalian padaku ?” Mereka menjawab :”Tidak. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Kami telah mendapati kamu seorang yang jujur dan mulia.” Abil Ash berkata :”Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Demi Allah, tiada yang menghalangi aku masuk Islam di hadapannya, kecuali  karena  aku  khawatir  mereka  menyangka  aku  ingin makan harta kalian. Setelah Allah menyampaikannya kepada kalian dan aku selesai membagikannya, maka aku masuk Islam.”

Asy-Sya’bi berkata :”Zainab masuk Islam dan hijrah, kemudian Abil Ash masuk Islam sesudah itu, dan Islam tidak memisahkan antara  keduanya.” [Adz-Dzahabi,   “Siyar   A’laamin Nubala’. Demikian pula kata Qatadah :    Dia   berkata    :”Kemudian diturunkan surah Baro’ah sesudah itu. Maka, jika ada seorang wanita masuk Islam sebelum suaminya, dia hanya boleh mengawininya dengan nikah baru.”]

Abil Ash keluar dari Mekkah, hijrah menuju Madinah dengan mendapat  petunjuk  iman  dan  keyakinan.  Suami  isteri  yang saling mencintai bertemu untuk kedua kalinya setelah lama berpisah.  Akan  tetapi  isteri  yang  setia  itu  telah  menunaikan kewajiban dan menyelesaikan      urusan  dunianya  ketika menyadarkan laki-laki yang dicintainya serta memenuhi hak suaminya sesuai dengan kadar cintanya kepada suami. Tidak lama setelah pertemuan itu, Zainab meninggal dunia.

Zainab meninggal dunia pada tahun 8 Hijriah dan Rasulullah SAW sangat sedih atas kepergiannya. Zainab meninggal dunia setelah  meninggalkan  kenangan  terbaik.  Dia  telah  menjadi contoh terbaik dalam hal kesetiaan isteri, keikhlasan cinta dan kebenaran iman. Tidaklah mengherankan apabila suaminya berkata dalam suatu perjalanannya ke Syam :

“Puteri Al-Amiin, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan dan  setiap  suami  akan    memuji   sesuai dengan   yang diketahuinya.”

https://tausyah.wordpress.com

Komentar
  1. […] Kisah Putri Rasululullah Zainab Binti Muhammad Dan Menantunya Abil Ash Bin Rabi’, Rumah Tangga… […]

  2. […] dinukilkan oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Al Istiqamah I/86. Semua itu menunjukkan kelurusan aqidahnya dan penghormatan beliau terhadap manhaj […]

  3. […] AS, “Ya aku tahu.” Rasulullah SAW bertanya lagi, “Wahai Jibril, beritahu kepadaku kemuliaan yang menggembirakan aku disisi Allah SWT” Berkata Jibril AS, “Sesungguhnya semua pintu […]

  4. […] “Aku tahan dan sanggup bersabar (maka baginya syurga) sekian tercatat dalam kitab sahih Bukhari dan Muslim. […]

  5. […] pelayanan yang menggembirakan. Beliau senantiasa mendampingi suaminya dan bersama-sama memikul beban ujian dan kerasnya siksaan orang-orang Quraisy. Kemudian beliau hijrah bersama suaminya ke Habasyah untuk […]

  6. […] Utsman bin Affan dan isterinya, Ruqayyah binti Muhammad SAW. Ruqayyah lahir sesudah kakaknya, Zainab. Sesudah kedua orang itu, muncullah Ummu Kultsum yang menemani dalam hidupnya setelah Zainab […]

  7. […] dari Khadijah, istri Nabi yang pertama. Fatimah ialah anak yang keempat, sedang yang lainnya: Zainab, Ruqaya, dan Ummi […]

  8. […] sebelah timur, akan tetapi pada hari itu manusia akan dikejutan oleh suatu peristiwa yang sangat besar dengan terbitnya matahari dari sebelah […]

  9. […] lebih muda dari Zainab, isteri Abil Ash bin Rabi‘ dan Ruqayyah, isteri Utsman bin Affan. Juga dia lebih muda dari Ummu Kultsum. Dia adalah anak […]

  10. […] yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat ? […]

  11. […] yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat ? […]

  12. […] yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat ? […]

  13. […] dinukilkan oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Al Istiqamah I/86. Semua itu menunjukkan kelurusan aqidahnya dan penghormatan beliau terhadap manhaj […]

  14. […] yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat ? […]

  15. […] si pemilik kebun. Dia berpikir dalam hatinya, apakah perempuan seperti itu patut dia persunting sebagai istri gara-gara setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya? Kemudian pemilik kebun itu menyatakan […]

  16. […] lebih muda dari Zainab, isteri Abil Ash bin Rabi‘ dan Ruqayyah, isteri Utsman bin Affan. Juga dia lebih muda dari Ummu Kultsum. Dia adalah […]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s