Posts Tagged ‘Yahudi’

https://tausyah.wordpress.com/pohon-ghorqod

Pohon Ghorqod

Washington Post edisi April 1984 memuat satu artikel tentang pertemuan Presiden AS Ronald Reagan dengan seorang pelobi senior Yahudi dari American Israel Public Affairs Committee (AIPAC) bernama Tom Dine. Pertemuan itu berlangsung secara pribadi.

Kepada Tom Dine, mantan Gubernur Negara Bagian California ini dengan serius berkata, “Anda tahu, saya berpaling kepada nabi-nabi kuno Perjanjian Lama dan kepada tanda-tanda yang meramalkan Perang Armageddon. Saya sendiri jadi bertanya-tanya, apakah kita ini akan melihat semuanya itu terpenuhi. Saya tidak tahu. Apakah Anda belakangan ini juga telah memperhatikan nubuat-nubuat para nabi itu… akan tetapi, percayalah kepada saya, bahwa nubuat-nubuat itu menggambarkan masa-masa yang sekarang ini sedang kita jalani. ” Tom Dine tersenyum dan mengangguk pelan.

Presiden Reagan merupakan presiden Amerika Serikat pertama yang memulai suatu tradisi baru dalam protokoler Gedung Putih, di mana kebaktian, seminar keagamaan, dan pertemuan-pertemuan dengan sejumlah tokoh gereja evangelikal Amerika sering diadakan. Di masa Reagan-lah paham Zionis-Kristen masuk dalam lingkaran elit pemerintahan Amerika. Seluruh kebijakan, terutama kebijakan Amerika di luar negeri khususnya untuk wilayah Timur Tengah, sangat kental bernuansa Zionis. (lebih…)

Apa Segi Kesamaan Antara Yahudi dengan Rafidhah?

Syaikh Islam Ibnu Taimiyah berkata : ”Bukti dari, sesungguhnya bencana Rafidhah adalah bencana Yahudi, hal  itu terlihat pada :

v     Sesungguhnya orang  Yahudi mengatakan : Tidak boleh yang menjadi raja kecuali dari keluarga nabi Daud, Rafidhah berkata : Tidak boleh menjadi imam kecuali dari anak Ali.

v     Yahudi mengatakan : Tidak ada jihad di jalan Allah sampai keluar Masehid Dajjal dan diturunkan pedang. Orang Rafidhah mengatakan : Tidak ada jihad di jalan Allah sampai keluar Al Mahdi, dan datangnya penyeru yang menyeru dari langit.

v     Orang Yahudi mengakhirkan (mengundurkan) shalat sampai bintang bertebaran, begitu juga orang Rafidhah mereka mengundurkan shalat maghrib sampai bintang-bintang bertebaran, padahal hadits mengatakan : “Senantiasa umatku di atas  fitrah, selama mereka tidak mengakhirkan shalat maghrib sampai bintang bertebaran[1].

v     Orang Yahudi telah merubah taurat, begitu juga orang Rafidhah, mereka telah merubah Al Quran.

v     Orang Yahudi tidak memandang bolehnya mengusap khuf (sepatu kulit yang menutupi mata kaki), begitu juga orang Rafidhah.

v     Orang Yahudi membenci malaikat Jibril, mereka mengatakan : Malaikat Jibril adalah musuh kita dari kalangan malaikat. Begitu juga orang Rafidhah, mereka mengatakan : Malaikat Jibril telah salah menyampaikan wahyu kepada Muhammad[2].

v     Begitu juga orang Rafidhah meyerupai orang kristen pada satu ajaran nasrani yaitu, wanita-wanita mereka tidak memiliki hak  mendapatkan mahar, akan tetapi hanya bersenang-senang dengan mereka dengan kesenangan, begitu juga orang Rafidhah, mereka menikah dengan cara mut’ah, dan mereka menghalalkan itu.

v     Orang yahudi dan kristen lebih utama dari orang Rafidhah dengan satu sifat  (yaitu) :

v     Orang yahudi jika ditanya : siapakah orang yang terbaik di kalangan pemeluk agamamu? Mereka menjawab : adalah sahabat-sahabat Musa.

v     Orang Kristen jika ditanya : siapakah orang yang terbaik di kalangan pemeluk agamamu? Mereka menjawab : adalah Hawari (sahabat-sahabat) Isa.

v     Orang rafidhah jika ditanya : siapakah orang yang terburuk di kalangan pemeluk agamamu? Mereka menjawab : adalah sahabat-sahabat Muhammad.”[3]


[1] Hadits diriwayatkan oleh : Imam Ahmad : 4/147. 5/417, 422, Abu Daud, no : 418, dan Abnu Majah, no : 689, di dalam jawaid dikatakan : sanadnya hasan (baik).

[2] Ada juga suatu kelompok yang mengatakan yang aneh-aneh, mereka mengatakan : sesungguhnya Jibril telah berkhianat, dimana ia menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad, sedangkan yang lebih utama dan lebih berhak terhadap risalah adalah Ali bin Abi Thalib, oleh karena inilah mereka mengatakan : telah berkhianat Amiin (malaikan jibril) dan ia telah menghalang risalah sampai ke Haidari (Ali).

Wahai saudaraku muslim, bagaimana mungkin mereka menuduh Jibril Alaihi salam telah berkhianat, sedangkan Allah telah menyifatinya dengan amanah (terpercaya), sebagaimana Allah telah berfirman : Telah dibawa oleh Ruhul Amiin (malaikat Jibril), dan firman-Nya : selalu taat kemudian terpercaya”. Apakah yang akan anda katakan wahai muslim terhadap keyakinan yang diimani oleh orang-orang rafidhah ini?

[3] Minhaajus Sunnah, oleh syeikhul Islam Ibnu Taimiyah : 1/24

Di negeri tempat saya kerja, Brunei, sekarang sedang santer berita tentang Aceh pasca tsunami. Yaitu tentang adanya tanda-tanda missionaris yang masuk ke wilayah propinsi tersebut. Berita itu agak sedikit dibesar-besarkan memang. Dalam arti supaya dapat diketahui banyak orang. Terutama rakyat Brunei Darussalam. Supaya mereka yang berduit mau jadi bapak angkat, atau minimal jadi penyumbang tetap tiap bulan bagi anak-anak umur sekolah yang ditinggal pergi selama-lamanya oleh orang tua mereka.

Mendengar berita tersebut, apalagi berhubungan dengan hal kristenisasi, saya jadi ingat semasa masih jadi penghuni tempat penampungan calon TKI yang akan diberangkatkan ke luar negri, di Jakarta. Disana, memang banyak sekali cerita-cerita yang sebelumnya tidak pernah saya dengar, apalagi saya alami. Dan anehnya, di tempat komunitas orang-orang kampung yang akan mengais rezeki di luar negeri itu, rupanya ada juga semacam misi untuk pindah agama. Mengapa tidak?

Suatu hari seorang teman perempuan menyodorkan pasport kepada saya. Saya kaget luar biasa. Bukan karena namanya yang panjang dan berliku-liku, tapi karena di boks agama tertulis bukan Islam, tapi Kristen. Kaget karena dalam kesehariannya di tempat itu, ia shalat, ia baca buku agama kecil dari kampung dan ketika ia mau berangkat ke Brunei, ia juga pakai kerudung, layaknya muslimah taat. Ketika saya tanya ia menjawab: Ini semua perbuatan si pencari tenaga kerja di kampung. Alasannya, kalau mau cepat berangkat, ganti dulu biodata aslinya. Sebab, calon yang sedang membutuhkan pembantu adalan non muslim.

Saya hanya bisa garuk kepala saja mendengar ulah para pencari TKI ke luar negri dikampung-kampung. Rupanya begitu mudah mereka mempermainkan orang-orang yang sedang lemah dalam ekonomi. Sampai akidah pun tak perlu dipikirkan secara serius. Inikah agen Nasrani itu?

Tak hanya itu, sebelum saya berangkat merantau, ada seorang ibu penjual makanan, datang ke rumah saya. Ia bertanya pada saya. Bagaimana hukumnya di doakan oleh seorang pendeta, sedang kita adalah muslim. Saya tak langsung menjawab. Bagi saya ini pertanyaan berat. Saya tak punya kapasitas untuk menjawabnya. Ini masalah fiqih serius. Saya belum mampu menjawab hal yang berhubungan dengan hukum Islam ini.

Saya justru lebih tertarik pada persoalan, mengapa ia bertanya seperti itu. Selidik punya selidik, ternyata di desanya sudah beberapa minggu ini ada pengobatan gratis dari sebuah organisasi tertentu. Yang aktifitasnya adalah memberi pongobatan percuma kepada desa yang agak tetinggal itu. Dan setelah mereka mendapatkan pengobatan, lantas mereka didoakan agar cepat sembuh oleh seorang pendeta.

Saya sedikit banyak tahu tentang desa tempat tinggal perempuan itu. Desa yang terletak di lereng sebuah gunung terbesar di pulau Jawa itu, di tahun 60-an, memang jadi basis partai terlarang di Indonesia. Sebuah partai yang berhaluan komunis, yang sudah barang tentu atheis, alias anti Tuhan. Dan tahun 80-an ada kristenisasi disana, walau ahirnya tak berhasil. Karena tak lama kemudian banyak yang sudah masuk Kristen, ahirnya bersyahadat kembali.

Namun, mereka tak jera. Beberapa waktu kemudian, saya mendengar para missionaris membeli tanah berhektar-hektar, setelah misi mereka tak berhasil. Dan sekarang ini ditanah tersebut telah berdiri sebuah bangunan megah dan mewah. Dan di depan gedung tersebut tertulis dengan huruf besar: Sekolah Al-Kitab/Sekolah Theologi. Dan konon dari sinilah calon-calon ‘ulama’ mereka digodog. Dan mereka datang dari seluruh Indonesia.

Terbayang di otak saya, bahwa orang-orang Nasrani memang tidak akan senang melihat kami orang muslim terus istiqamah memegang akidah kuat-kuat. Sehingga dengan cara apapun mereka ingin menempuh segala jalan, supaya ada di atara kami yang ikut dalam jamaahnya.

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu, hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: Sesungguhnya petunjuk Allah itulah yang benar. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (Al Baqarah: 120)

Dan baru saja saya membaca kabar dari sebuah majalah terbitan Kuala Lumpur Malaysia. Bahwa di negri jiran itupun agen Yahudi dan Nasrani tak kalah cerdiknya. Bahkan mereka sudah berani masuk kampus dan juga-tempat-tempat hiburan berkelas.

Majalah muslimah yang terbit bulanan tersebut juga menceritakan tentang seorang gadis muda, cantik, modis, yang sedang enjoy di sebuah tempat hiburan terkenal di ibukota Malaysia itu. Dan suatu saat, gadis itu disodori sebuah buku kecil cantik oleh seorang perempuan beretnis Cina. Sambil melempar senyum manis, perempuan itu berkata, “Yesus son of Allah. If you love him, he will help you. Please, come to our church

Membaca tulisan itu, saya jadi khawatir, jangan-jangan suatu saat, saudara-saudara saya di daerah-daerah yang terisolasi pun akan disodori hal semacam itu. Atau mungkin dalam bentuk bahasa yang lebih halus dan menyentuh lagi. Tidak mustahil. Dan tentunya kami-kami inilah yang harus lebih solid lagi untuk mau turun ke daerah-daerah tersebut untuk menjaga datangnya agen-agen Yahudi dan Nasrani tersebut. Sebab mereka tak pernah patah semangat seperti yang telah difirmankan Allah di atas (Eramuslim).

Brunei, Mei 2005,
Sus Woyo

Dalam pandangan agama Yahudi dan Nasrani (kitabi), Allah mengharamkan kepada orang-orang Yahudi beberapa binatang laut dan darat. Penjelasannya dapat dilihat dalam Taurat (Perjanjian Lama) fasal 11 ayat 1 dan seterusnya Bab: Imamat Orang Lewi.

Dan oleh al-Ouran disebutkan sebahagian binatang yang diharamkan buat orang-orang Yahudi itu serta alasan diharamkannya, iaitu seperti yang kami sebutkan di atas, bahawa diharamkannya binatang tersebut adalah sebagai hukuman berhubung kezaliman dan kesalahan yang mereka lakukan. Firman Allah:

“Dan kepada orang-orang Yahudi kami haramkan semua binatang yang berkuku, dan dari sapi dan kambing kami haramkan lemak-lemaknya, kecuali (lemak) yang terdapat di punggungnya, atau yang terdapat dalam perut, atau yang tercampur dengan tulang. Yang demikian itu kami (sengaja) hukum mereka. Dan sesungguhnya Kami adalah (di pihak) yang benar.” (al-An’am: 146)

Demikianlah keadaan orang-orang Yahudi. Sedangkan orang-orang Nasrani sesuai dengan ketentuannya harus mengikuti orang-orang Yahudi. Kerana itu Injil menegaskan, bahawa Isa a.s. datang tidak untuk mengubah hukum Taurat (Namus) tetapi untuk menggenapinya.

Tetapi suatu kenyataan, bahawa mereka telah mengubah hukum Taurat itu. Apa yang diharamkan dalam Taurat telah dihapus oleh orang-orang Nasrani –tanpa dihapus oleh Injilnya– mereka mahu mengikuti Paulus yang dipandang suci itu dalam masalah halalnya semua makanan dan minuman, kecuali yang memang disembelih untuk berhala kalau dengan tegas itu dikatakan kepada orang Kristian: “Bahawa binatang tersebut disembelih untuk berhala.”

Paulus memberikan alasan, bahawa semua yang suci halal untuk orang yang suci, dan semua yang masuk dalam mulut tidak dapat menajiskan mulut, yang dapat menajiskan mulut ialah apa yang keluar dari mulut.

Mereka juga telah menghalalkan babi, sekalipun dengan tegas babi itu diharamkan oleh Taurat sampai hari ini.