Posts Tagged ‘Ummul Mukminin’

muslim_praying_madina_al_munawaraUmmul Mukminin Kembali Ke Tempat Kediamannya

Perang Unta atau Perang Jamal telah selesai. Tibalah saat yang tepat untuk segera mengembalikan Ummul Mukminin Sitti Aisyah r.a. ke Madinah. Untuk keperluan itu Imam Ali r.a. mempersiap­kan segala sesuatu yang dipandang perlu guna menjamin keama­nan dan keselamatan Ummul Mukminin selama dalam perjalanan pulang.

Persiapan dilakukan dengan sebaik-baiknya karena ia menge­tahui, bahwa di kalangan pasukannya terdapat anasir-anaisr eks­trim, yang jika tidak diadakan tindakan-tindakan pencegahan dapat berbuat onar dan mengganggu perjalanan Sitti Aisyah r.a. Bagaimana pun juga Ummul Mukminin harus dihormati dan di­lindungi.

Tak mungkin Ummul Mukminin dilepas seorang diri me­nempuh perjalanan jarak jauh di tengah padang pasir belantara. Ia harus dikawal. Tetapi siapakah yang harus mengawalnya? Apakah seregu pasukan dapat diserahi tugas pengawalan Ummul Muk­minin? Tentu saja dapat. Tetapi kemungkinan resikonya pun ada. Lebih-lebih mengingat Ummul MuKminin itu baru saja dianggap sebagai salah seorang pemimpin. Setelah ia gagal dan keluar dari peperangan sebagai fihak yang kalah, kemudian dipulangkan ke Madinah dengan pengawalan pasukan yang baru saja berhenti memusuhinya, kemungkinan apakah yang bisa terjadi di tengah perjalanan?

Sebagai seorang pemimpin yang sudah biasa berkecimpung dalam peperangan menghadapi tipu muslihat musuh, Imam Ali r.a. tidak kehilangan akal. Sejumlah wanita dari Bani Qies diajak bermusyawarah dan diberi petunjuk tentang apa yang harus dilakukan dalam melaksanakan tugas. Mereka diminta kesediaan­nya untuk bertindak sebagai regu pengawal Ummul Mukminin.

Imam Ali r.a. juga mengerti, bahwa karena mereka itu se­muanya wanita mungkin tidak akan disegani atau ditakuti oleh orang-orang yang hendak berbuat jahat di perjalanan. Agar tidak sampai dipandang “remeh” oleh orang lain, mereka harus ber­pakaian sebagai pria. Lengkap dengan jubah dan serban serta pe­dang tersandang di pinggang. Para pengawal khusus ini harus dapat bertindak seperti pria selama dalam perjalanan..

Selain wanita-wanita yang bertugas itu sendiri, seorang pun tidak boleh mengetahui rencana itu. Perahasiaannya dilakukan dengan ketat.

Setelah semua persiapan selesai, di bawah lindungan Ilahi Ummul Mukminin diberangkatkan pulang ke Madinah. Selama dalam perjalanan, Sitti Aisyah r.a. yang berada di dalam haudaj, sama sekali tidak mengetahui, bahwa para pengawalnya terdiri dari kaum wanita. Segala yang diperlukan selama perjalanan sudah di­sediakan dalam haudaj, sehingga Sitti Aisyah r.a. tidak perlu turun untuk suatu keperluan. Begitu juga “para prajurit”, tak seorang pun dari mereka yang berhadapan muka dengan Sitti Aisyah r:a. dan tak seorang pun yang bercakap-cakap dengan suara yang bisa di dengar dari haudaj. Semuanya diatur sedemikian rapi dan sem­purna.

Sepanjang perjalanan Ummul Mukminin bersungut-sungut, karena dikiranya Imam Ali r.a. mempercayakan pengawalan atas dirinya kepada orang-orang pria. Bukankah itu tidak sesuai de­ngan tatakrama yang semestinya? Ia bersungut-sungut dan terus bersungut-sungut karena tidak menduga sama sekali, bahwa rom­bongan pengawal yang tampak gagah itu semuanya terdiri dari kaum wanita!

Baru setelah tiba di Madinah, yaitu setelah Ummul Mukmi­nin turun dari haudaj, ia melihat sendiri semua prajurit pengawal­nya menanggalkan jubah, sorban dan sabuk gantungan pedang. Ia terpukau keheran-heranan, mengapa semuanya itu tidak diketahui, padahal perjalanan sedemikian jauh? Sambil menanggalkan pa­kaian pria “prajurit-prajurit” itu terkekeh-kekeh dan berkata ke­pada Ummul Mukminin: “Lihatlah, kami ini semuanya wanita!”

Ummul Mukminin Sitti Aisyah r.a kini telah kembali ke tem­pat kediaman semula dengan penuh kenangan pahit. Sejak itu sampai akhir hayatnya, ia tidak lagi melibatkan diri dalam kegiatan politik apa pun. Seluruh sisa hidupnya yang masih panjang itu di­pergunakan sebaik-baiknya untuk menekuni kehidupan taqwa kepada Allah s.w.t. dan patuh kepada pesan-pesan suaminya, Nabi Muhammad s.a.w.

Sebuah Penilaian

Seusai Perang Unta, Imam Ali r.a. bersama pasukannya me­nuju ke sebuah dusun di Bashrah, Dzi-qar. Di dusun itu dulu per­nah terjadi pertempuran seru antara pasukan muslimin melawan pasukan Persia.

Abu Minhaf menyajikan keterangan Zaid bin Shuhan, sa­habat Imam Ali r.a. yang menyaksikan dan mendengarkan sen­diri apa yang dikatakan olehnya dalam khutbah yang diucapkan di dusun Dzi-qar sehabis perang Unta.

Dengan serban berwarna hitam terlilit di sekitar kepala, kata Zaid bin Shuhan, Imam Ali r.a. mengucapkan sebuah Khut­bah yang berisi penilaian tentang Perang Unta.

“Alhamdulillah dalam segala hal dan segala keadaan, sepan­jang hari dan sepanjang malam. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah serta ham­ba-Nya. Beliau diutus sebagai rahmat kepada segenap manusia hamba Allah. Pada saat bumi ini penuh dengan fitnah, goyah ika­tan peraturan penghuninya, di mana setan-setan disembah dan di­puja, iblis musuh Allah menyelinap ke dalam aqidah semua pen­duduk.”

“Pada saat seperti itulah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib s.a.w. memadamkan kobaran apinya dan memudarkan percikan baranya. Dengan Rasul-Nya itu Allah s.w.t. mencabut tongak-tonggak penghalang dan menegakkan semua yang miring serba bengkok. Beliau s.a.w. adalah pembimbing ke jalan hidayat, seorang Nabi pilihan Allah s.w.t. Beliau telah menunaikan apa yang telah diperintahkan Allah kepadanya dan telah pula menyam­paikan risalah Tuhannya kepada ummat manusia. Dengan Rasul-­Nya itu Allah s.a.w memperbaiki semua yang rusak, mengamankan semua jalan menuju ke arah kebenaran, memulihkan kerukunan dan mempersatukan semua orang yang dahulu dadanya dibakar oleh perasaan dendam dan dengki.”

“Setelah semuanya itu terwujud menjadi kenyataan yang be­nar, Allah s.a.w. memanggil beliau s.a.w. kembali ke sisi-Nya, da­lam keadaan beliau selalu bersyukur. Sepeninggal beliau s.a.w. kaum muslimin membai’at Abu Bakar Ash Shiddiq sebagai Kha­lifah. Abu Bakar telah bekerja tanpa menghemat tenaga. Setelah wafat ia diganti oleh Umar. Umar pun telah bekerja dengan se­penuh tenaga. Setelah wafat, kaum muslimin menggantinya de­ngan membai’at Utsman sebagai Khalifah. Ia telah mendapatkan sesuatu dari kalian dan kalian pun telah memperoleh sesuatu dari dia, sampai akhirnya terjadi apa yang telah terjadi.”

“Kemudian sesudah itu kalian datang kepadaku untuk. me­nyatakan bai’at, padahal aku sama sekali tidak pernah membutuh­kan hal itu. Waktu itu kalian kutinggal masuk ke dalam rumah, tetapi kalian mendesak supaya aku keluar. Aku menahan tangan, tetapi kalian menarik-narik dan berdesak-desakan memperebut­kan tanganku, sampai kukira kalian akan membunuhku atau hen­dak saling bunuh di antara kalian sendiri. Namun ternyata kalian membai’at diriku, sedang aku sendiri tidak merasa senang atau gembira.”

“Allah s.w.t. mengetahui bahwa aku tidak suka memim­pin pemerintahan atau memegang kekuasaan di kalangan ummat Muhammad s.a.w. Sebab aku mendengar sendiri, beliau s.a.w. per­nah menyatakan: “Tidak ada seorang penguasa pun yang memerin­tah ummatku, yang kelak tidak akan dihadapkan kepada rakyat­nya, untuk diperlihatkan catatan-catatan tentang perbuatannya. Jika ia seorang yang berlaku adil, akan selamatlah. Tetapi jika ia seorang yang berlaku dzalim, akan tergelincirlah ke dalam neraka.”

“Kalian bersama orang banyak membai’atku. Begitu juga Thalhah dan Zubair. Dua orang itu pun menyatakan bai’atnya ma­sing-masing kepadaku. Waktu itu kulihat ada tanda-tanda lain yang memperlihatkan niat cidera dalam pandangan mata mereka. Tak lama kemudian dua orang itu minta izin kepadaku untuk mela­kukan umrah. Mereka berdua kuberitahukan terus terang, bahwa sebenarnya mereka itu tidak berniat melakukan umrah. Tetapi mereka berangkat juga. Lalu secara diam-diam menghubungi Sit­ti Aisyah. Bersama orang lain yang mau mengikuti kedua orang itu, Sitti Aisyah dikelabui. Pengikut-pengikut mereka itu terdiri dari orang-orang Makkah yang baru memeluk Islam setelah kota Makkah dibebaskan oleh Rasul Allah s.a.w. dari kekuasaan kaum musyrikin.”

“Kemudian mereka semua berangkat menuju Bashrah. Di­sanalah mereka melakukan perbuatan tercela dan merugikan kaum muslimin. Alangkah anehnya dua orang itu. Dulu mereka bersi­kap loyal (setia) kepada Abu Bakar dan Umar, tetapi kepadaku mereka bersikap membangkang dan memberontak. Padahal mere­ka tahu benar, bahwa aku ini tidak kurang dibanding dengan Abu Bakar dan Umar. Jika aku mau, tentu hal itu sudah kukatakan sejak dulu.”

“Yang pasti ialah bahwa Muawiyah bin Abi Sufyan telah me­nulis surat kepada dua orang tersebut dari Syam untuk berusaha membujuk. Dua orang itu merahasiakan surat Muawiyah terhadap­ku, lalu keluarlah mereka mengelabui orang banyak dengan alas­an seolah-olah dua orang itu hendak menuntut balas atas terbu­nuhnya Khalifah Utsman. Demi Allah, dua orang itu tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa aku ini memang tidak melakukan perbuatan yang sangat tercela seperti itu. Tetapi dua orang itu ti­dak mau bersikap adil terhadap diriku dan terhadap diri para pem­bunuh Utsman.”

“Sebenarnya dua orang itulah yang langsung terlibat dalam penumpahan darah Utsman, dan dua orang itulah yang seharusnya dimintai pertanggunganjawab. Alangkah kosongnya tuduhan mereka itu! Demi Allah, dua orang itu benar-benar sesat dan tidak dapat mendengar, tidak mau mengerti dan tidak dapat melihat. Hanya setan-setan sajalah yang telah menggiring pasukan berkuda dan pejalan kaki di belakang dua orang itu untuk mengembalikan kedzaliman kepada tempatnya dan mengembalikan kebatilan kepada asal mulanya.”

[1]Ibnu Abil-Hadid: Syarh Nahjil-Balaghah VI/224-229, dan Lubabun-nuqul Fi Asbabin-nuzul: Imam Jalaluddin Assayuthi.

Disadur dari buku :

Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a.
Oleh H.M.H. Al Hamid Al Husaini
Penerbit: Lembaga Penyelidikan Islam

https://tausyah.wordpress.com

Crying-kidKe Bashrah

Untuk melaksanakan rencana kelompok Makkah, yaitu me­nuntut balas atas kematian Khalifah Utsman r.a. dan mengguling­kan Imam Ali r.a. dari kedudukannya sebagai Khalifah, Thal­hah, Zubair dan Sitti Aisyah r.a. berangkat ke Bashrah. Pada saat Sitti Aisyah r.a. hendak berangkat, orang-orang mencarikan seekor unta yang kuat guna mengangkut haudaj-nya[3] Ya’laa bin Ummayyah menyerahkan unta kepunyaannya yang sa­ngat besar, bernama “Askar”. Sitti Aisyah r.a. kagum sekali melihat unta itu. Akan tetapi ketika serati memanggil-manggil untanya dengan berulang-ulang menyebut “Askar”, ia mundur dan berkata kepada serati unta itu: “Kembalikan dia. Aku tidak membutuhkan unta itu!” Sewaktu ditanya apakah sebabnya Ummul Mukminin me­nyuruh unta “Askar” dikembalikan, Sitti Aisyah r.a. menja­wab, bahwa Rasul Allah s.a.w. pernah menyebut-nyebut na­ma unta itu dan ia dilarang mengendarainya.

Ummul Mukmi­nin minta dicarikan unta lain. Orang tak berhasil mencarikan unta seperti “Askar”. Agar jangan diketahui oleh Ummul Muk­minin, bahwa unta yang akan dikendarainya adalah tetap unta “Askar”, maka jilal-nya[4] “Askar” diganti dengan jilal lain, tanpa sepengetahuan Sitti Aisyah r.a.

Ummul Mukminin merasa puas dengan unta yang dikatakan bukan “Askar” itu. Sementara itu Al-Asytar dari Madinah mengirim sepucuk surat kepada Sitti A.isyah r.a. Tulis Al-Asytar: “Ibu adalah isteri Rasul A.llah s.a.w. Beliau telah memerintahkan Ibu supaya tetap tinggal di rumah. Jika Ibu menuruti perintah beliau, bagi Ibu itu lebih baik. Tetapi jika Ibu tetap tidak mau selain hendak meme­gang pentung, menanggalkan baju kerudung dan menampakkan ke­sucian diri di depan mata orang banyak, Ibu akan kami perangi, sampai kami dapat memulangkan Ibu kembali ke rumah, tempat yang sudah diridhoi Allah bagi Ibu.”

Sebagai jawaban atas surat Al-Asytar itu, Sitti Aisyah r.a. menulis: “Engkau adalah orang Arab pertama yang melancar­kan fitnah, menganjurkan perpecahan dan membelakangi para Imam, yakni para Khalifah. Engkau mengerti bahwa dirimu tidak akan dapat melemahkan Allah. Engkau akan menerima pem­balasan dari Allah atas perbuatanmu yang dzalim terhadap seorang Khalifah, yakni Utsman bin Affan. Suratmu sudah kuterima dan aku sudah memahami apa yang ada di dalamnya. Allah sajalah yang akan melindungi diriku dari perbuatanmu. Akan lumpuhlah semua orang yang sesat dan durhaka seperti engkau itu, insyaa Allah!”

Waktu perjalanan Sitti Aisyah r.a. sampai di Hau’ab, yaitu tempat sumber air kepunyaan Bani Amir Sha’sha’ah, ia digonggong banyak anjing, sampai unta yang dikendarainya lari kencang sukar dikendalikan. Waktu itu terdengarlah suara orang berteriak: “Hai, tahukah kalian, betapa banyaknya anjing di Hau’ab ini dan alang­kah keras gonggongannya!” Mendengar teriakan itu, Sitti Aisyah r.a. menarik tali kekang sekeras-kerasnya sambil berteriak kuat: “Itu anjing-anjing Hau’ab! Kembalikan aku! Aku mendengar sendiri Rasul Allah pernah me­ngatakan…,” ia menyebut apa yang pernah dikatakan oleh Ra­sul Allah s.a.w. kepadanya.

Saat itu Sitti Aisyah mendengar suara orang lain mengatakan: “Pelan-pelan! Kita sudah melewati Hau’ab!” “Apakah ada saksi yang membenarkan perkataanmu?” tanya Sitti Aisyah r.a. mengejar suara tadi. Kemudian beberapa orang Badui yang menjadi pengawal me­neriakkan sumpah, bahwa benar-benar tempat itu sudah bukan Hau’ab lagi. Oleh karena itu Sitti Aisyah r.a. lalu melanjutkan perjalanan. Ketika Sitti Aisyah r.a. tiba di Harf Abi Musa, dekat Bash­rah, penguasa daerah Bashrah yang diangkat oleh Khalifah Imam Ali r.a., bernama Utsman bin Hanif, mengirim Abul Aswad Ad Du­aliy guna menemui rombongan.

Abul Aswad bertemu dengan Sitti Aisyah r.a. dan menanyakan maksud perjalanannya. Kepada Abul Aswad, Sitti Aisyah r.a. menjelaskan, bahwa ia datang untuk menuntut balas atas kematian Khalifah Utsman bin Affan. Menanggapi keterangan Sitti Aisyah r.a. itu, Abul Aswad mengatakan, bahwa di Bashrah tidak ada seorang pun yang ikut ambil bagian dalam peristiwa pembunuhan Utsman bin Affan.

Engkau benar, kata Sitti Aisyah r.a. menukas. Tetapi ada orang-orang yang bersama-sama Ali bin Abi Thalib di Madinah. Aku datang untuk mengerahkan penduduk Bashrah supaya bang­kit memerangi dia. Kalau kami bisa marah karena kalian dicambuk oleh Utsman, mengapa kami tak bisa marah terhadap mereka yang mengangkat pedang terhadap Utsman? Menjawab pernyataan Sitti Aisyah r.a. tadi, Abul Aswad berkata: Ibu adalah wanita pingitan Rasul Allah s.a.w. Beliau memerintahkan Ibu supaya tetap tinggal di rumah dan mem­baca Kitab Allah. Tidak ada kewajiban perang bagi wanita. Wanita juga tidak layak menuntut balas atas terbunuhnya seseorang. Bagi Utsman, Ali sebenarnya lebih baik dari pada Ibu. Ia lebih dekat hubungan silaturahminya, karena dua-duanya sama-sama putera keturunan Abdi Manaf. Sitti Aisyah r.a. tak memperdulikan kata-kata Abul Aswad itu.

Ia tetap menyatakan kebulatan tekadnya: Aku tidak akan pergi sebelum melaksanakan maksudku. Hai Abul Aswad, tanya Sitti Aisyah r.a., apakah engkau mengira akan ada orang di Bash­rah ini yang hendak memerangi aku? Demi Allah, kata Abul Aswad, perang yang hendak Ibu ce­tuskan itu akan sangat hebat. Waktu Abul Aswad beranjak hendak meninggalkan tempat, datanglah Zubair bin Al-‘Awwam. Kepadanya Abul Aswad berkata: “Hai Abu Abdullah –nama panggilan Zubair– banyak orang yang menyaksikan, waktu Abu Bakar dahulu dibai’at sebagai Khalifah engkau mengangkat pedangmu sambil berkata: “Tidak ada orang yang lebih afdhal untuk memegang kepempimpinan ummat selain Ali bin Abi Thalib. Bagaimana keadaanmu sekarang dengan pernyataanmu itu?” “Datanglah engkau menemui Thalhah dan dengarkan sendiri apa yang dikatakan olehnya!” kata Zubair, menanggapi perta­nyaan Abul Aswad tadi. Abul Aswad terus pergi menemui Thalhah.

Dari dialog yang berlangsung antara dia dengan Thalhah, Abul Aswad mengetahui, bahwa Thalhah sudah bertekad bulat melancarkan pemberontakan bersenjata. Waktu Sitti Aisyah r.a. mendengar, bahwa pasukan Imam Ali r.a. sudah tiba dekat Bashrah, dari jurusan lain, ia segera menulis surat kepada Zaid bin Shuhan Al-Abdiy: “Dari Aisyah binti Abu Bakar Ash Shiddiq, isteri Nabi s.a.w., kepada ananda yang setia Zaid bin Shuhan. Hendaknya engkau tetap tinggal di rumah. Ce­gahlah orang-orang jangan sampai membantu Ali. Kuharap dapat segera menerima kabar tentang yang kuinginkan darimu. Bagiku, engkau adalah seorang kerabat yang paling dapat dipercaya. Wassalam.”

Menjawab surat Sitti Aisyah r.a. di atas, Zaid bin Shuhan menulis: “Dari Zaid bin Shuhan kepada Aisyah binti Abu Bakar. Sesungguhnya Allah telah memberi perintah kepada Ibu dan kepa­daku. Ibu diperintahkan supaya tetap tinggal di rumah, dan aku diperintahkan supaya berjuang. Surat Ibu sudah kuterima. Ibu me­merintahkan supaya aku menjalankan sesuatu yang berlainan dari pada apa yang diperintahkan Allah kepadaku. Aku akan berbuat se­perti apa yang diperintahkan Allah kepadaku dan hendaknya Ibu pun berbuat seperti yang diperintahkan Allah kepada Ibu. Perintah Ibu tidak dapat kupatuhi, dan surat Ibu tidak akan terja­wab lagi. Wassalam.”

Menurut Abu Bikrah, ketika Asy Syi’biy menceritakan pengalamannya dalam perang “Jamal” (Unta) mengatakan, bahwa waktu Thalhah dan Zubair datang menjumpai Sitti Aisyah, ku­lihat semua perintah dan larangan berada di tangannya. Waktu itu aku segera teringat kepada sebuah hadits yang kudengar berasal dari Rasul Allah s.a.w. yang mengatakan: “Sesuatu kaum tidak akan berhasil jika urusannya dipimpin oleh seorang wanita.”[5] Teringat itu aku cepat-cepat menjauhkan diri. Dalam pepe­rangan tersebut, unta yang bernama “Askar” (yang dikendarai Siti Aisyah r.a.) merupakan lambang satu-satunya bagi pasukan Thal­hah.

Waktu pasukan Thalhah dan pasukan Imam Ali r.a. masing-­masing telah siaga untuk bertempur, Sitti Aisyah r.a. mengucapkan pidato. Pidatonya juga ditujukan kepada pengikut-pengikut Imam Ali r.a.: “…Kita telah bertekad hendak menuntut balas atas kematian Utsman melalui jalan kekerasan. Ia adalah seorang Ami­rul Mukminin, tempat bernaung dan tempat berlindung yang terbaik. Bukankah dulu kalian minta kepadanya supaya ia berse­dia memenuhi keinginan kalian? Hal itu sudah ia penuhi. Tetapi setelah kalian memandangnya sebagai orang yang suci bersih seperti baju yang baru dicuci, kemudian kalian memusuhinya. Lantas kalian berdosa dengan menumpahkan darahnya secara ha­ram. Demi Allah, ia adalah orang yang jauh lebih bersih dan lebih bertaqwa kepada Allah dibanding kalian…!”

Hampir dalam waktu yang bersamaan, Imam Ali r.a. selaku Amirul Mukminin, juga mengucapkan pidato, sambil memberi instruksi-instruksi: “…Janganlah kalian memerangi mereka sebelum mereka menyerang lebih dulu. Alhamdulillah, kalian ber­ada di atas hujjah (alasan) yang benar. Kalian harus berhenti me­merangi mereka jika mereka mengajukan hujjah lain kepada ka­lian. Tetapi jika kalian terpaksa harus berperang, janganlah kalian menganiaya orang-orang yang luka parah.

“Jika kalian berhasil mengalahkan mereka, janganlah kalian mengejar mereka dengan cara-cara yang licik. Janganlah membuka hal-hal yang memalukan mereka dan janganlah sampai mencin­cang orang yang sudah tewas.” “Jika kalian tiba di tempat pemukiman mereka, janganlah kalian melanggar kesopanan, janganlah kalian memasuki rumah, janganlah kalian mengambil hak milik mereka walau sedikit, jangan sekali-sekali menggelisahkan dan mengganggu wanita, wa­lau mereka itu mencaci-maki kalian atau mencerca pemimpin-­pemimpin dan orang-orang shaleh yang ada di tengah-tengah ka­lian. Sebab mereka itu adalah manusia-manusia yang lemah jas­mani, jiwa dan fikiran.

Kita semua telah diperintahkan Allah dan Rasul-Nya supaya membiarkan kaum wanita, sekalipun mereka itu orang-orang musyrik. Jika sampai ada lelaki yang memukul mereka dengan tongkat atau dengan pelepah kurma, lelaki itu sungguh amat tercela dan akan menerima hukuman di kemudian hari…” Sebelum salah satu fihak menyulut api peperangan, Ali bin Abi Thalib r.a. menulis sepucuk surat kepada Thalhah dan Zubair. Isinya sebagai berikut: “Kalian maklum bahwa aku tidak pernah minta dibai’at oleh mereka, tetapi mereka sendirilah yang membai’at diriku. Kalian berdua termasuk orang-orang yang memilih dan membai’a’t diriku. Orang tidak membai’at diriku untuk suatu kekuasaan is­timewa.

Jika kalian membai’atku karena terpaksa, aku mempu­nyai alasan untuk bertindak terhadap kalian, sebab kalian berpura-pura taat, tetapi sebenarnya menyembunyikan rasa per­musuhan. Namun jika kalian membai’atku benar-benar karena taat, hendaklah kalian segera kembali ke jalan Allah.” “Hai Zubair, engkau dahulu adalah seorang pasukan berkuda Rasul Allah s.a.w. dan pembela beliau. Dan engkau hai Thalhah, engkau adalah salah seorang kami-tua kaum Muhajirin. Seandai­nya dulu kalian tidak mau membai’atku, itu akan lebih mudah bagi kalian untuk keluar dari bai’at yang sudah kalian ikrarkan sendiri. “Kalian menuduh aku telah membunuh Utsman.

Padahal aku, kalian dan penduduk Madinah semua mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Kalian menuduh aku melindungi para pembunuh Utsman. Padahal anak-anak Utsman sendiri semua­nya menyatakan taat kepadaku dan mengadukan orang-orang yang membunuh ayah mereka kepadaku. Tetapi kalau ternyata Utsman memang mati terbunuh karena madzlum atau dzalim, misalnya, lantas kalian berdua mau apa?! Kalian berdua telah mengikrarkan bai’at kepadaku, tetapi sekarang kalian melakukan dua perbuatan yang amat tercela: menciderai bai’at kalian sendiri dan menghasut Ummul Mukminin hingga meninggalkan rumah.”

Sedang kepada Ummul Mukminin, Sitti Aisyah r.a., Imam Ali r.a. mengirim sepucuk surat. Isinya antara lain: “Bunda telah keluar meninggalkan rumah dengan perasaan marah demi Allah dan Rasul-Nya.

Bunda menuntut suatu perso­alan yang bukan menjadi urusan Bunda. Apa urusan kaum wanita dengan peperangan atau pertempuran? Bunda menuntut balas atas kematian Utsman, demi Allah, orang-orang yang menghadap­kan Bunda kepada marabahaya serta menghasut Bunda supaya berbuat pelanggaran, jauh lebih besar dosanya terhadap diri Bun­da dibanding dengan pembunuh-pembunuh Utsman bin Affan. Aku tidak marah jika Bunda tidak marah, dan aku tidak mem­buat kegoncangan jika Bunda tidak membuat kegoncangan. Ku­harap supaya Bunda tetap bertaqwa kepada Allah dan pulang kembali ke rumah Bunda.”

Sebagai jawaban terhadap surat Imam Ali r.a., Thalhah dan Zubair menulis: “Engkau telah menempuh jalan seperti yang kau tempuh sepeninggal Utsman sekarang ini; dan engkau tidak akan kembali lagi selama engkau merasa perlu menempuh jalan yang sedang kautempuh. Jalankanlah apa yang menjadi kemauanmu. Engkau tidak akan merasa puas selama kami belum taat, dan kami tidak akan taat kepadamu untuk selama-lamanya. Lakukanlah apa saja yang hendak kau perbuat.”

Sedangkan Ummul Mukminin, Sitti Aisyah r.a. hanya me­nulis jawaban singkat: “Persoalannya sudah jelas. Engkau tidak per­lu menyalahkan lagi. Wassalam.”

bersambung..

[1]Peristiwa fitnahan terhadap Sitti Aisyah r.a.

[2]Surah An-Nur: 11-19.

[3]Haudaj – semacam rumah-rumahan untuk berteduh yang dipasang di atas punggung unta.

[4]Jilal sama artinya dengan tijfaf. Yaitu perisai berupa pakaian unta da­lam peperangan, guna melindungi tubuhnya dari panah, tombak dsb.

[5]Menurut sumber lain, hadits itu berbunyi: “Sepeninggalku akan ada suatu kaum yang muncul dalam bentuk golongan dikepalai oleh se­orang wanita. Mereka tidak akan berhasil selama-lamanya.

https://tausyah.wordpress.com