Posts Tagged ‘Terakhir’

Kiamat II

Pada bagian yang lalu kita sudah membicarakan perihal kejadian kiamat yang data-datanya kita ambil dari dalam Qur’an suci dan kita hubungkan pula dengan fenomena alamiah serta kajian Science Modern yang mana pada pembahasan tersebut kita asumsikan bahwa komet adalah sebagai penyebab dari Sa’ah tersebut.

Sekarang kita akan mencoba mengupas apa dan bagaimana kelanjutan setelah Sa’ah itu terjadi serta apa yang dimaksud dengan tiupan sangkakala kedua yang menjadi pertanda untuk kebangkitan manusia seperti yang digambarkan oleh Kitabullah.

Demi yang terbang dalam keadaan bebas,
Yang membawa beban berat
Yang bergerak dengan mudahnya
Dan membagi-bagi urusan;
Bahwasanya yang dijanjikan itu adalah benar.
(QS. 51:1-5)

Diwaktu kedatangan komet membentur tatasurya ini, semua Ionosfir yang melingkupi planet-planet dan bumi akan bergabung dengan komet tersebut dan tinggallah lagi Atmosfir bagaikan telanjang hingga pandangan mata manusia yang hidup kembali nantinya akan dapat melihat semua benda angkasa lainnya tanpa penghalang seperti keadaannya kini yang terhalang dan dihiasi oleh lapisan itu.

Setelah kedelapan komet besar itu selesai membentur dan menyeret semua bintang berupa ekornya [sesuai dengan ayat 51:4 diatas], berlaku dengan ketentuan Allah, maka kosonglah semesta raya ini dari bintang-bintang yang begemerlapan dan komet-komet itu terus melayang dengan kecepatan yang lebih tinggi tanpa penghalang.

Dalam hal ini kita perlu kita kemukakan bahwa komet itu terdiri dari Neutron yang memiliki sifat untuk bergabung. Sifat ini bagaikan daya penarik bagi setiap komet untuk saling bertemu satu sama lainnya.

Selama ini usaha bergabung itu tidak mungkin terlaksana karena senantiasa dihalangi oleh bintang-bintang yang membelokkan arah gerak komet itu beberapa derajat. Namun nanti setelah tiada bintang lagi diangkasa raya yang menghalangi gerak layangnya langsunglah kedelapan komet besar yang terbang dengan cepat ini membuat belokan melengkung yang amat besar untuk bergabung menjadi satu.

Masing-masing komet akhirnya menuju kearah satu titik pertemuan masing-masingnya diikuti oleh jutaan tatasurya. Pada titik tersebut berantukanlah semua komet itu secara tepat, inilah ledakan terbesar dalam sejarah semesta raya yang amat luas.

Jika sebelumnya benturan komet terhadap tatasurya kita yang umum disebut dengan dentuman atau terompet pertama sudah segitu dahsyatnya dengan kronologi bertabrakannya komet besar dengan ke-10 planet yang mengorbit sistem matahari kita lengkap dengan bulan-bulannya masing-masing dan Asteroids/Meteorites yang ada serta matahari yang menyebabkan kematian seluruh makhluk hidup, maka alangkah dahsyatnya pada hari benturan kedelapan komet besar yang diikuti oleh jutaan tatasurya [termasuk tatasurya kita] yang dikenal dengan sebutan terompet kedua yang sekaligus juga sebagai satu tanda kebangkitan manusia dari matinya untuk mendapatkan perhitungan dari Allah atas segala perbuatannya selama mereka hidup.

Yaitu hari yang mereka mendengar ledakan besar secara logis, itulah hari kebangkitan.
Bahwa Kamilah yang menghidupkan dan Kamilah yang mematikan dan kepada Kamilah tempat kembali. (QS. 50:42-43)

Dan ditiupkan sangkakala lalu mati apa-apa yang ada dilangit dan apa-apa yang ada dibumi kecuali apa saja yang dikehendaki oleh Allah, kemudian akan ditiupkan padanya [sekali lagi] maka tiba-tiba mereka bangkit [dari mati dan] menunggu [pengadilan Tuhan atas mereka]. (QS. 39:68)

Demikian AlQur’an memberikan keterangan mengenai tugas sangkakala yang mengeluarkan teriakan kuat [dan kita analogikan sebagai benturan dahsyat 8 komet dengan jutaan tatasurya sebagai masing-masing ekornya] secara kronologi ditinjau sudut ilmiah bahwa nantinya akan berlaku kejadiannya pada tatasurya kita dengan akibat mematikan untuk selanjutnya ke-8 komet besar itu saling berbenturan satu sama lain pada titik pertemuan yang ditentukan Allah.

Setelah 8 rombongan komet yang membawa seluruh bintang diangkasa, berbenturan sesamanya yang dikenal dengan terompet kedua, maka ke-8 komet tadi langsung bergabung menyatukan diri kemudian membentuk dirinya bagaikan bola yang maha besar melingkupi daerah semesta raya ini, sementara itu semua bintang yang terseret jadi terkepung dalam lingkungan besar sebagai besarnya daerah semesta raya sekarang ini.

Masing-masing bintang walaupun berantukan sesamanya tersebab arah layang yang bertentangan dengan gerak begitu cepat namun Rawasia Regular yang dimilikinya masih sangat berpengaruh untuk saling bertolakan.

Ingat, bahwa Rawasia bintang bersistemkan Regular dan Rawasia yang sama dengannya akan saling menolak satu sama lain.

Mulai dari waktu benturan, semua bintang mengambil posisi masing-masing dipaksa oleh Rawasia yang dimilikinya dan kesempatan itulah yang dipakai oleh 8 komet yang menjadi satu tadi untuk menghindarkan diri sebagai kulit bola besar dan menempatkan semua bintang itu dalam lingkungannya.

Lantas akan timbul pertanyaan: Bagaimana pula dengan planet-planet yang mulanya mengorbit keliling bintang namun kemudian dempet melekat pada bintang itu sewaktu terjadi Sa’ah ?

Diwaktu benturan hebat yang kedua kali ini, semua planet yang terseret dan tetap utuh kebetulan melekat dempet pada bintang itu jadi tergoncang hebat dan dahsyat sehingga melepaskan setiap planet yang melekat dempet tadi kemudian langsung mengadakan orbit keliling bintang itu dalam garis edarnya yang baru, termasuk planet bumi ini yang otomatis permukaannya sudah berubah sesuai dengan firman Allah dibawah ini.

Hari dimana bumi diganti dengan bumi yang lain [dalam rupanya] begitu pula planet-planet, dan mereka semuanya tunduk kepada Allah yang Esa dan Perkasa. (QS. 14:48)

Dan sebagai akhir dari kejadian Sa’ah tersebut …. maka kehidupan tatasurya bermula kembali.
Itulah dia akhirnya alam Akhirat yang dijanjikan !

Alam kehidupan baru bagi makhluk-makhluk Tuhan yang sudah mati akan dibangkitkan hidup kembali untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka selama hidupnya dahulu.

Rasulullah Muhammad Saw menggambarkan keadaan pada hari kebangkitan tersebut dalam dua hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang tercantum dalam kitab “Terjemah Hadist Shahih Muslim” karangan Fachruddin HS. Jilid I terbitan Bulan Bintang Jakarta 1981 hal 260 dan 285.

Dari Sahal bin Sa’ad ra. katanya:
Rasulullah Saw bersabda: “Dikumpulkan manusia pada hari kiamat di Bumi yang putih kemerah-merahan bagai dataran yang bersih, tidak ada tanda-tanda penunjuk untuk siapapun”.

Dari Mikdad bin Aswad ra. katanya:
Rasulullah Saw bersabda: “Didekatkan matahari kepada manusia dihari kiamat sehingga jarak matahari dari mereka sekira satu mil. Manusia digenangi keringat menurut ukuran amal mereka…”

Begitulah satu keterangan yang cukup jelas bagi kita untuk menggambarkan keadaan bumi dan sistem matahari yang telah mengalami Sa’ah dengan orbit dan keadaan lain yang juga berubah total [sebagaimana pada Hadist yang pertama dikatakan bahwa bumi berwarna putih kemerah-merahan akibat penyatuannya semula dengan matahari pada waktu Sa’ah dan menguapkan/menghanguskan semua benda hingga tidak ditemukan tanda-tanda apapun sebagai penunjuk sementara jarak orbit matahari kala itu teramat dekat dengan bumi dan sebagai perwujudan dari apa yang selama ini dikenal orang dengan nama Padang Mahsyar].

Jika sekarang ini bumi kita diliputi oleh Atmosfir yang dalam AlQur’an, Atmosfir disebut sebagai Barkah [sesuatu yang melindungi sekaligus sebagai rahmat Allah] dengan lautan yang menggenangi hampir separuh daratan bumi, maka setelah Sa’ah tersebut, bumi menjadi telanjang dari Ionosfir sehingga pandangan mata dapat memandang lepas keseluruh penjuru langit dan air laut menjadi menguap menimbulkan bentuk-bentuk daratan baru dipermukaannya yang keadaannya tidak dapat diramalkan orang bagaimana bentuknya saat itu.

Coba anda perhatikan ayat-ayat Tuhan berikut ini :

Maka ketika bintang-bintang dilenyapkan [dari pandangan mata karena diseret komet]
Dan apabila atmosfir telah dibuka dan gunung-gunung telah dihancurkan menjadi debu
[yaitu meleleh karena jatuh dempet pada matahari]. (QS. 77:8-10)

Pada prinsipnya, tempat hidup di Akhirat nanti adalah tempat hidup didunia ini juga yang sudah mengalami perombakan sedemikian rupa pada saat Sa’ah, sebab dimana lagi tempat lain yang mungkin didiami dalam semesta raya Tuhan kalau tidak dipermukaan salah satu planet ? Bukankah Tuhan pula menyatakan bahwa dibumi ini juga manusia akan dibangkitkan nantinya ?

Dia berfirman: “Di sana engkau hidup dan disana pula engkau akan mati, dan dari sana pula engkau akan dibangkitkan. (QS. 7:25)

Dan tidakkah manusia pikirkan bahwa Kami jadikan ia dari setitik Nutfah tetapi tiba-tiba ia jadi pembantah yang nyata, dan dia mengadakan perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang hancur luluh ?” Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala ciptaan.” (QS. 36:77-79)

Jika kamu ragu tentang kebangkitan nanti, maka sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari tanah [Turab], kemudian dari setetes mani [Nutfah], kemudian dari segumpal darah [‘Alaqah], kemudian dari segumpal daging [Mudgah] yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepadamu.

Dan Kami tetapkan dalam rahim [ibumu] apa yang Kami kehendaki sampai waktu tertentu, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian kamu sampai pada kedewasaanmu, dan diantara kamu ada yang diwafatkan [sebelumnya] dan diantara kamu ada yang dipanjangkan umurnya sampai pikun agar dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. (QS. 22:5)

Pada hari kebangkitan itu, hari dimana setiap diri dihidupkan kembali nanti terdapatlah dua macam bentuk manusia yang memperlihatkan perbedaan yang menyolok ditentukan oleh perbedaan beriman dan kafirnya.

Pada hari yang akan ada muka yang putih berseri dan ada pula yang bermuka hitam muram.
Kepada orang-orang yang hitam muram mukanya akan ditanyakan: “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman karenanya rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu”. Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah. (QS. 3:106-107)

Dan ditiup sangkalala, maka secara cepat mereka keluar dari kuburnya bersegera kepada Tuhan mereka dan berkata :”Aduhai, celakalah kami ! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat istirahat kami ?” Inilah apa yang dijanjikan Yang Maha Pemurah dan benarlah [sabda] para Rasul. (QS. 36:51-52)

Pemandangan dan pendengaran manusia dihari itu sangat tajam, jika sekarang ini manusia hidup dalam alam tiga dimensi dimana panca indera memiliki keterbatasan tertentu dalam pencapaiannya maka diakhirat kelak manusia akan hidup dalam alam 4 dimensi dimana penglihatan dan pendengaran tak terhalang dan tak dibatasi oleh ukuran tertentu dalam lingkungannya malah mereka akan melihat serta mendengar sesuatu pada gelombang yang sudah lama menggelombang keangkasa luas yang kemudian kembali memantul kepada panca indera mereka.

Keadaan seperti itu akan menakutkan manusia yang selalu berbuat dosa selama hidup sebelumnya, pada hari itu juga dia dapat kembali melihat rekaman kehidupannya yang pada hakekatnya adalah Neutron yang senantiasa merekam segala gerak gerik yang berlaku dalam hidup satu diri kemudian dia mengapung keangkasa sebagai anti partikel waktu dimana fungsi rekamannya berhenti karena tiada lagi yang direkamnya.

Para ahli sependapat bahwa masa lalu tidak hilang begitu saja tapi ia berpindah kewujud lainnya dan mengambang diangkasa yang beberapa diantaranya dapat dilihat oleh orang-orang tertentu yang memiliki ketajaman indra ke-6 untuk melihat kejadian masa lalu yang pada intinya adalah mengadakan persesuaian frekwensi pikirannya kearah frekwensi rekaman yang ada, tinggal lagi sampai sejauh mana frekwensi manusia tersebut dapat melihat secara luas dan jauh rekaman yang dia inginkan yang tentu juga akan mengeluarkan banyak tenaga.

Sesungguhnya engkau berada dalam keadaan lalai tentang hari Akhir ini, maka Kami angkatkan darimu tutupan pancaindera [yang menutupimu sebelumnya], maka penglihatanmu pada hari ini sangat tajam. (QS. 50:22)

Diberitakan kepada manusia pada hari itu apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. Bahkan manusia itu akan melihat riwayat dirinya sendiri. (QS. 75:13-14)

Awaslah, karena sesungguhnya tulisan untuk orang-orang yang pembangkang itu ada dalam Sijjin.
Dan sudahkah engkau tahu apa Sijjin itu ?
Yaitu Kitab Rekaman (QS. 83:7-9)

Ingatlah, bahwa tulisan orang-orang baik itu ada dalam ‘Illiyyin.
Tahukah engkau apakah ‘Illyyin itu ?
Yaitu Kitab Rekaman (QS. 83:18-20)

Dalam ayat yang lain Allah juga menerangkan dengan cukup jelas perihal Kitab catatan Raqid ‘Atid itu sebagai Mar’a yang dikeluarkan dari setiap benda.

Jagalah kesucian nama Tuhanmu Yang Maha tinggi.
Yang telah menjadikan dan menyempurnakan.
Dan yang telah menentukan serta menunjuki.
Yang mengeluarkan Mar’a [berkas-berkas kehidupan]
Lalu menjadikannya dalam keadaan mengapung dan berisikan catatan [gusaan ahwa]
Kelak akan Kami beberkan padamu. (QS. 87:1-6)

Sekarang kita tinggalkan pembahasan bagaimana kiranya Allah akan mengadili setiap makhluk berdasarkan Mar’a atau catatan hidupnya sendiri dengan penuh sifat keRahmanan dan keRahiman-Nya, namun satu hal yang pasti, Allah adalah hakim sebaik-baiknya yang akan mengadili segala sesuatu dengan segala ketentuan-Nya dan akan membalasi semua kebaikan dan kejahatan.

Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya. (QS. 10:109)

Kami adakan neraca-neraca yang adil pada hari kiamat, lantaran itu, sesuatu jiwa tidak akan teraniaya sedikitpun. Karenanya, meski amalannya hanya seberat biji khardal [sawi] pasti akan kami balasi. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan. (QS. 21:47)

Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak akan mendapatkan balasan lain kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan. (QS. 36:54)

Sekarang, mari kita mulai membahas dimanakah letak syurga dan neraka itu nantinya ?

Setelah kejadian Sa’ah, manusia dibangkitkan kembali dari bumi ini yang sudah mengalami stelsel baru, dibumi ini juga manusia akan diadili oleh Allah berdasarkan catatan hidup manusia tersebut nantinya, lalu setelah selesai pengadilan tersebut, kemanakah manusia yang kafir akan pergi keneraka dan kemana pula manusia yang beriman akan menuju kesyurganya ?

Satu hal, bahwa manusia dijadikan dengan tubuh yang konkrit baik itu sekarang maupun pada saat hari kebangkitan dan tubuh yang konkret inilah yang kelak akan merasakan manisnya Iman atau pedihnya azab neraka. Tak mungkin manusia yang konkrit akan ditempatkan dalam neraka yang abstrak.

Neraka itu bahasa Indonesia terambil dari bahasa Qur’an artinya Api menyala yang sangat besar.
Api besar mana disemesta raya ini yang mungkin ditempati oleh jutaan milyar manusia kafir lengkap dengan segala Iblis dan para pengikutnya?

Mari perhatikan firman Allah dibawah ini :

Adapun orang-orang yang celaka itu berada dalam neraka, untuk mereka dalamnya suara gemuruh dan ketakutan. Mereka kekal di dalamnya selama ada planet-planet dan bumi, kecuali jika Tuhanmu berkehendak untuk apa yang Dia ingini. (QS. 11:106-107)

Pada ayat diatas ada disebutkan bahwa neraka itu akan tetap ada selama adanya planet-planet yang mengorbit dan juga bumi. Apakah maksudnya ?

Ada pendapat bahwa neraka itu sebenarnya adalah sistem matahari kita ini yang wujudnya tentu saja sudah diperbaharui pada saat Sa’ah sebelumnya dan malah ukurannya mungkin lebih besar dari yang ada sekarang karena dia sudah akan mendapatkan banyak “tamu” yang terdiri dari planet-planet dan bulan yang luluh kedalam gravitasinya pada waktu dempet kematahari pada hari Sa’ah.

Mari pula kita melihat apa yang dikabarkan oleh Nabi Musa kepada kaumnya tentang Neraka itu:

“Hai kaumku, bagaimana kamu ini, aku menyeru kamu kepada keselamatan tetapi kamu menyeru aku ke neraka ? Kamu mengajakku untuk kufur kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan apa yang tidak kuketahui sedangkan aku mengajak kamu kepada Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Sebenarnya apa yang kamu serukan padaku tidak mempunyai hak apapun baik di dunia maupun di akhirat. Dan tempat kita kembali hanyalah kepada Allah sementara orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka.

Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepadamu. Dan aku serahkan urusanku kepada Allah karena sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”. Maka Allah menyelamatkan dia dari kejahatan yang mereka atur dan telah pastilah azab yang jahat kepada golongan Fir’aun.

Kepada mereka dinampakkan Neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Sa’ah itu akan dikatakan kepada malaikat : “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya kedalam azab yang sangat keras”. (QS. 40:41-46)

Mari tinjau apa maksud ayat terakhir diatas (46) bahwa pada pagi dan petang akan diperlihatkan Neraka kepada mereka sedangkan waktu itu belumlah terjadi Sa’ah, yaitu pada hari mereka semuanya masih hidup [perhatikan hubungannya dengan ayat sebelumnya], tentulah sudah jelas bahwa matahari inilah yang dimaksudkan Neraka oleh Allah yang mereka lihat terbitnya setiap pagi dan petang.

Walaupun setiap hari Fir’aun melihat matahari tetapi dia tidak mengetahui bencana yang mungkin ditimbulkan oleh Api besar itu. Namun pada akhirnya sebagai penyebab kematiannya, Fir’aun dikaramkan oleh pembesaran radiasi matahari yang menimbulkan gelombang pasang di Lautan Hindia hingga Laut Merah bagian utara mengalir keselatan kemudian mengalir lagi keutara sembari menenggelamkan tentara Fir’aun yang mengikuti kaum Musa dari belakang sebagai salah satu mukjizat dan pertolongan Allah bagi Nabi Musa as.

Pada ayat suci yang lain ada juga dijelaskan betapa fungsi matahari sebagai salah satu bintang sekaligus salah satu Neraka yang diancamkan terhadap syaithan sesuatu siksaan yang perih dan membakar.

Ingat, dalam semesta raya yang dikenal dengan nama ‘Arsy Allah ini terdapat jutaan bintang-bintang yang terdiri dari jutaan tatasurya dengan sistem mataharinya sendiri dan dengan planet-planet yang mengorbit padanya yang masih menurut Qur’an pun terdapat planet yang berkeadaan sama seperti bumi yang juga terdapat makhluk hidup. Dalam Qur’an ada disinggung pula bahwa syaithan itu terdiri dari 2 jenis, yaitu jenis manusia dan jenis Jin, Neraka pun dikenal ada beberapa tingkatan yang kesemuanya itu mengacu pada banyaknya sistem matahari yang ada.

Dan sungguh Kami hiasi angkasa dunia ini dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu ancaman bagi syaithan dan Kami sediakan bagi mereka siksaan yang perih. (QS.67:5)

Dan sesuai dengan Qur’an, maka siapapun yang kafir terhadap Allah dan sudah masuk dalam matahari alias Neraka itu tiada akan dapat keluar lagi karena ia berlaku sebagai satu siksaan yang kekal dan berkaitan dengan ayat 11:106 dan 107 yang sudah kita bahas diatas. Barang siapa yang mencoba keluar dari sana maka sudah ada penjaga-penjaga yang terdiri dari para malaikat Allah merujuk pada ayat 66:6.

Lalu jika Neraka adalah matahari, mana pula yang disebut dengan Syurga itu ?

Sebelumnya kita harus ingat lagi bahwa hidup di Akhirat nanti adalah hidup konkrit sebagaimana keadaan hidup sekarang ini hanya saja nantinya lebih sempurna, abadi dan tiada mengenal dosa dan semacamnya sebagaimana sekarang ini, sesuai pula dengan beberapa ayat Qur’an dan Hadist Rasulullah Muhammad Saw berikut :

Adapun orang-orang yang dibahagiakan itu berada dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama masih ada planet-planet dan bumi, kecuali apa yang dikehendaki Allah. (QS. 11:108)

Dari Abu Hurairah katanya :
Rasulullah Saw bersabda: ‘Sesungguhnya kamu tetap sehat dan tidak akan sakit untuk selama-lamanya. Sesungguhnya kamu tetap hidup dan tidak akan mati untuk selamanya. Sungguh kamu tetap muda dan tidak akan tua untuk selamanya. Sungguh kamu tetap senang dan tidak akan susah untuk selamanya. Itulah yang dimaksudkan dengan firman Allah : “Dan mereka diseru bahwa itulah surga yang dipusakakan kepada kamu disebabkan apa yang pernah kamu kerjakan”. (QS. 7:43)
(Hadist Riwayat Muslim)

Sebagaimana Neraka, maka syurga itupun tentulah konkret dan ada dalam kawasan semesta Tuhan sebagaimana yang diterangkan pada ayat 11:108 diatas. Kesimpulannya ialah syurga yang dijanjikan itu adalah permukaan planet-planet yang telah dibaguskan sedemikian rupa oleh Allah pada hari Sa’ah. Itulah sebabnya kenapa Qur’an memakai istilah “Jannah” yang selain berartikan kebun, juga berartikan Syurga dengan bentuk pluralnya “Jannaat” yaitu sorga-sorga yang berartikan planet-planet.

Seperti yang sudah kita bahas dalam artikel Mengungkap Kiamat bahwa bulan akan menjadi tiada karena sudah hancur bergabung dengan matahari pada kejadian Sa’ah sehingga terciptalah siang-siang dalam setiap tatasurya yang masing-masing memiliki matahari/Neraka yang diorbit oleh planet-planet dalam jarak orbitnya yang baru.

Dan orang-orang yang beriman dan beramal shaleh itu, Kami tempatkan mereka dari syurga itu selaku tempat tinggi yang bergerak siang-siang dibawahnya, mereka kekal didalamnya. (QS. 29:58)

Akan tetapi orang-orang yang muttaqien padaTuhannya, untuk mereka tempat tinggi yang di atasnya ada tempat tinggi lagi selaku bangunan yang bergerak di bawahnya siang-siang sebagai janji Allah dan Allah tidak akan merubah janji tersebut. (QS. 39:20)

Mereka dan istrinya berada pada zilaal (planet yang melakukan transit) diatas singgasana bersenang-senang. (QS. 36:56)

Dalam syurga itu mereka bersenang-senang diatas [planet sebagai] singgasana [‘Arsy Tuhan], tidaklah mereka melihat matahari [dari dalamnya] dan tidak pula panas terik. (QS. 76:13)

Arti Anhaar bukanlah “sungai-sungai” sebagaimana yang ditafsirkan orang selama ini untuk menunjukkan keadaan dalam syurga, kata Anhaar selalu diiringi dengan istilah “dibawahnya” selain itu kata Anhaar sebagai jamak atau plural dari Nahaar yang berarti “siang” seperti Layaal jamak dari Lailu yang berarti “malam” sehingga kata Anhaar berarti “siang-siang”. Namun memang dalam beberapa ayat Qur’an yang lainnya, kata Anhaar dapat berarti “sungai-sungai” sebagai jamak dari Nahru, dan disinilah kita harus pandai memilah mana yang harus ditafsirkan siang dan mana yang harus ditafsirkan dengan sungai. Untuk penafsiran “sungai” itu umumnya diiringi istilah “padanya”, sebagai contoh :

Perumpamaan syurga yang dijanjikan kepada para Muttaqien adalah *Padanya ada Anhaar* dari air yang tak membusuk dan *Anhaar* dari susu yang tidak berubah rasanya…” (QS. 47:15)

Jadi letak syurga itu sendiri adalah beberapa bagian planet yang sudah diperbaharui yang tetap mengorbit matahari dengan orbit lintasan yang baru pula yang memiliki keadaan tanah yang sangat subur sesuai dengan sifat Jannah yang berarti kebun yang mana dalam hal ini syurga tersebut adalah laksana planet yang berada dalam jalur lintasan Neptunus atau malah juga Pluto pada saat ini, sebab mereka adalah planet-planet yang memiliki jarak terjauh dari matahari sehingga maksud ayat 76:13 dapat terpenuhi.

Dan memang jika syurga itu adalah berada dalam jalur lintasan Neptunus atau Pluto, maka syahlah pendapat yang mengatakan bahwa siang-siang bergerak dibawahnya, yaitu dibawah orbit mereka. Dalam ayat Qur’an yang lain pula dinyatakan bahwa adanya penduduk syurga yang melewati Neraka dan berseru kepada mereka. Selain itu, digambarkan pula bahwa penduduk syurga akan mendapatkan beberapa makanan yang kesemuanya menyerupai makanan yang bisa kita temui saat ini.

Dan penghuni surga menyeru penghuni neraka: “Sungguh, telah kami dapati kebenaran sebagai apa yang dulu dijanjikan Tuhan kepada kami. Maka apakah kamu pun telah mendapati apa yang sudah dijanjikan Tuhan kepada kalian ?”. Mereka menjawab: “Benar !”. (QS. 7:44)

Dan ketika mereka memandang kepada penduduk Neraka, mereka berkata: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama dengan orang-orang yang zalim itu”. (QS. 7:47)

Dan gembirakanlah orang-orang beriman dan beramal shaleh itu, bahwa bagi mereka ada surga-surga [planet-planet] yang bergerak siang-siang dibawahnya. Setiapkali mereka diberi buah-buahan dari syruga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kita dahulu”.
Padahal yang diberikan pada mereka itu adalah yang disamarkan, dan bagi mereka ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalam syurga tersebut.

Sungguh Allah tiada segan membuat perumpamaan apa saja, nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu didapati beberapa banyak orang yang tersesat tapi dengan perumpamaan itu pula beberapa banyak orang yang mendapatkan petunjuk. Dan tidak akan tersesat dengannya melainkan orang-orang yang fasik. (QS. 2:25-26)

Lalu bagaimana cara manusia untuk sampai ke syurga yang berupa planet yang tinggi dan bertingkat-tingkat sesuai dengan garis orbit atau edarannya pada matahari/Neraka itu ? Dan bagaimana pula cara manusia kafir itu berjalan menuju matahari ?

Dan mereka yang taqwa kepada Tuhannya dihimpun ke syurga berombongan hingga ketika mereka sampai kesana, dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah para penjaganya: Keselamatan atas kamu, kamu merasakan kebaikan, maka masukilah dia sebagai orang-orang yang kekal.” (QS. 39:73)

Dan planet-planet (zilaal = yang melakukan transit) jadi dekat atas mereka dan diharmoniskan pencapaiannya seharmonisnya. Lalu diputarkan diatas mereka sesuatu yang naik cepat dari perak (warna putih) dan piala-piala yang mengkilap, yaitu benda mengkilap dari perak yang Dia tentukan dengan ketentuan. (QS. 76:14-16)

Sampai disini kita sudah berbicara masalah sesuatu yang terbang cepat diatas manusia yang berwarna putih mengkilap dibuat dari perak laksana berbentuk piala [panjang mungkin seperti cerutu] yang akan mencapai planet-planet syurga secara berombongan yang letaknya dekat [karena cepatnya lesatan benda tsb maka dianggap tempat tujuan adalah dekat] sehingga dikatakan pula seharmonis mungkin.

Nah … disini untuk yang keranjingan UFO tampaknya sudah memiliki pandangan tersendiri kira-kira bagaimana bentuk dan kecepatan pengangkut Jemaah Syurga ini berlandaskan ayat 76:16)

Pertanyaan selanjutnya, dapatkah penduduk syurga yang satu berkunjung kesyurga yang lainnya saling berkunjung satu sama lainnya?

Untuk mencari jawaban dari pertanyaan ini, maka mari kita simak keterangan berikut ini:

Dari Abu Sa’id Al Khudri ra. katanya :
Rasulullah Saw bersabda: ‘Sesungguhnya orang-orang yang mendiami syurga melihat orang-orang yang mendiami tempat tinggi diatas mereka sebagaimana mereka melihat bintang bercahaya yang jauh diufuk timur atau barat, karena berbeda tingkat kediaman antara mereka.’ Para sahabat bertanya: ‘Ya Rasulullah! Apakah itu hanya tempat berdiamnya para Nabi dan tidak dapat didatangi oleh selain mereka ?’ Jawab Nabi: ‘Bisa, demi Tuhan yang diriku dalam kekuasaan-Nya! yaitu oleh orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan Rasul-rasul’. (HR. Muslim)

sumber                                         :            www.submission.org

diterjemahkan oleh            :            hoetomo dw

Perjalanan haji terakhir Nabi Muhammad adalah sebuah kejadian sejarah yang penting dalam kehi- dupan kaum Muslim. Meskipun ribuan kaum Muslimin menjadi saksi atas Wasiat Perpisahan (yang terakhir) yang diberikan Nabi Muhammad, kitab2 Hadith melaporkan setidaknya ada tiga versi atas wasiat yang sama itu. Ini merefleksikan betapa membingungkannya, menyesatkan, terdistorsi dan tidak tepatnya Kitab2 Hadith tersebut. Untuk suatu kejadian yang disaksikan oleh lebih dari 10.000 orang pemaparan yang tepat seharusnya bisa diperoleh, tetapi tidaklah demikian halnya.

Sebagaimana Tuhan menjanjikan di dalam Quran, hadith-Nya (Quran) akanlah selalu, HADITH YANG TERBAIK  (39:23), HADITH YANG PALING TEPAT (4:87), dan “HADITH YANG TAK DIBU- AT-BUAT” (12:111).

Salinan Wasiat (Perpisahan) terakhir Nabi Muhammad ini didistribusikan oleh Hamdard National Foundation (Pakistan). Di dalam wasiat ini, dapat kita saksikan kebenaran tentang korup yang terkan- dung di dalam kitab2 hadith.

Orang2 yang percaya bahwa Tuhan di dalam penekanannya yang berulang2 di Quran bahwa Quran adalah sudah lengkap, sempurna dan sangat rinci tidaklah lagi membutuhkan Hadith ini atau Hadith apapun lagi selain Quran. Namun demikian, Tuhan, menekankan untuk mencari kebenaran sedemi- kian bagi yang tersesat dan mencari sumber2 lain untuk Islam selain daripada Quran.

Olehkarena itu bagi Muslim yang tulus yang mencari kebenaran, dan yang mau membaca laporan tentang Wasiat ini, kebenaran akan diungkapkan baginya.

Kami tambahkan Subtitles dan komentar di antara tanda { …} untuk mendapatkan perhatian anda ter- hadap beberapa isu penting. Wasiat yang aktual dituliskan dalam warna hijau.

Wasiat Perpisahan (yang Terakhir)

{(1) Pernyataan Pembuka pada Wasiat itu : merupakan SHAHADAT YANG BENAR, yaiu Laa Ilaha Illa Allah.}

Segala puji bagi Allah, maka kita beribadah kepada-Nya, mohon ampunan-Nya dan kita kembali ke- pada-Nya. Kita mencari perlindungan kepada Allah dari kejahatan diri kita dan dari konsekuensi keja- hatan atas perbuatan kita. Sesiapa yang diberi petunjuk oleh Allah tentang kebenaran tak akan mem- bawanya pada kekecewaan.

AKU BERSAKSI BAHWA TIADA TUHAN SELAIN ALLAH (Laa ilaha illa Allah), Satu2nya, tiada yang sepadan dengan-Nya. Dia adalah sang Penguasa dan kepada-Nya segala sembah. Dia memberi ke- hidupan dan kematian dan berkuasa atas segalanya. TIADA TUHAN SELAIN ALLAH ( Laa Ilaha Illa Allah), Yang Tunggal; Dia selalu memenuhi janji-Nya dan memberikan kemenangan kepada pengi- kut-Nya, dan hanya DIA SENDIRI yang membalikkan persekongkolan (musuh2 Islam).

{Bandingkan Shahadat dengan Shahadat terhadap Tuhan, malaikat dan mereka yang mempunyai pengetahuan sebagaimana dinyatakan di dalam Quran 3:18). JUGA INGATLAH BAHWA SHAHA- DAT kaum Munafik yang disebutkan dalam 63:1, di mana kaum Munafik menekankan untuk mengu- bah Perintah Tuhan Yang Pertama (Shahadat) dan menambahkan nama Muhammad ke Laa Ilaha I- lla Allah. Muhammad akan protes kepada Tuhan di Hari Pengadilan atas penyisipan terhadap Quran di mana Shahadat yang benar telah disebutkan dalam 3:18}

Wahai Umat, perhatikanlah bulan ini, hari ini, kota ini sebagai tempat mulia, maka perhatikan kehi- dupan dan milik setiap Muslim sebagai amanah yang mulia. Kembalikan segala yang dipercayakan padamu ke pemiliknya yang ber-hak. Jangan menyakiti sesiapapun hingga tak sesiapapun akan me- nyakitimu. Ingatlah bahwa kamu pasti akan menjumpai Tuhanmu, dan Dia akan meminta pertang- gungjawabanmu. Allah telah melarangmu untuk mengambil manfaat, olehkarena itu semua pengam- bil manfaat akan diminta pertanggungjawabannya. Modalmu adalah kewajiban bagimu untuk menyim

-pannya, kau tak akan dirugikan atau diperlakukan dengan tak adil.

{(2) HANYA QURAN SAJA : }

Sesungguhnya telah ku tinggalkan padamu yang akan membawamu pada kebaikan, KITAB ALLAH, yang bilamana kau memegangnya erat2 maka kau akan selamat. Dan berhati2lah terhadap ketidak- patuhan atas batas2 yang telah ditetapkan agama, karena ketidakpatuhan terhadap agama ini telah membawa kerusakan pada (banyak kaum) sebelum kamu.

{Lihatlah seruan atas HANYA QURAN SAJA ini. Bagian dari wasiat inilah yang dikorup oleh tiap2 ke- lompok atau sekte untuk menyembunyikan kebenaran. Mereka lupa bahwa kebenaran dalam Quran tak lah dapat dikorup.

Shi’ah mengubah versi wasiat ini hingga dibaca sebagai, “kitab Allah dan keluargaku”, sementara Sunni mengubahnya hingga terbaca menjadi, “kitab Allah dan Sunnahku”. Hanya versi yang berbunyi HANYA QURAN SAJA satu2nya yang tak kontradiksi dengan QURAN dan tak mempunyai motiv poli- tik dibelakangnya. Inilah versi yang diabaikan baik oleh Sunni ataupun Shi’ah karena tak mendukung agenda politik mereka.}

{Berikut ini adalah acuan untuk tiga versi Wasiat Nabi

1) Ku tinggalkan untukmu Quran dan Sunnah, Muwatta, 46/3

2) Ku tinggalkan untukmu Quran dan Ahl al-bayt , Muslim 44/4, Nu2408; ibn hanbal 4/366; darimi

23/1, nu 3319.

3) Ku tinggalkan untukmu hanya Quran saja agar kau berpegang teguh padanya. Muslim 15/19, nu 1218; ibn Majah 25/84, Abu dawud 11/56.

Lihat Sahih Muslim, Kitab Haji, Buku 7, Nomer 2803:

http://www.iiu.edu.my/deed/hadith/muslim/007smt.html}

Wahai Umat, sesungguhnyalah engkau mempunyai beberapa hak atas perempuan2mu tetapi mere- ka juga mempunyai hak atasmu. Ingatlah bahwa engkau telah memperolehnya sebagai istrimu hanya

-lah karena kepercayaan Allah dan ijin-Nya. Bila ia berbakti atas hak2mu, maka padanya ada hak un-

tuk kau memberikan sandang dan pangan dengan cara2 yang sebaik2nya. Perlakukanlah perempu-

an2mu itu dengan baik dan bersikaplah baik padanya karena mereka adalah pasanganmu dan peno- longmu yang penuh komitmen. Dan adalah hak bagimu bahwa mereka tak bergaul dengan sahabat2 yang tak kau setujui, sebagaimana pula dengan yang kau setujui.

{(3) SALAT LIMA WAKTU & PUASA SATU BULAN : Di bagian lain dari warisan:}

Perhatikanlah, Sembahlah Tuhanmu; lakukan salat LIMA KALI sehari; perhatikan PUASA DI BULAN RAMADAN; bayar SEGERA Zakat atas hartamu; dan lakukan haji ke Rumah Tuhan bilamana kau mampu, dan patuhilah pimpinanmu dan kau akan diganjar Syurga oleh Tuhanmu.

{Perhatikan di sini panggilan untuk mengikuti ritual Islam sebagaimana diberikan kepada Ibrahim dan diulang dalam wasiat HANYA QURAN SAJA. Tak sebagaimana disebutkan dalam kitab Hadith-nya Bukhary, Muslim dan kitab2 lainnya yang menambahkan banyak salat dan banyak puasa lebih dari yang sudah diperintahkan Tuhan.}

{ Rumah Tuhan hanyalah di Mekkah (Kaaba) dan bukan yang di Medinah, di mana kaum Muslim me- nambahkan ritual haji ekstra, ziarah ke makam Rasul. Sang Nabi sendiri tak pernah memerintahkan hal ini. }

Semua manusia berasal dari Adam dan Hawa, seorang Arab tak memiliki kelebihan terhadap orang non-Arab atau non-Arab pun tak memiliki kelebihan terhadap orang Arab; demikian juga orang kulit putih tak memiliki kelebihan terhadap yang kulit hitam ataupun yang kulit hitam terhadap yang kulit putih – kecuali dengan kasih dan amal baik. Belajarlah bahwa setiap Muslim adalah bersaudara bagi Muslim lainnya dan bahwa Muslimin membentuk satu persaudaraan. Tak sesuatupun akan halal bagi seorang Muslim atas Muslim yang lainnya kecuali hal itu diberikan dengan bebas dan kemauan sen- diri yang ikhlas. Oleh karena itu jangan bersikap dzalim terhadap diri sendiri. Ingatlah bahwa suatu saat nanti kamu akan bertemu Allah dan mempertanggung jawabkan semua amal perbuatan. Jadi, waspadalah: jangan melenceng dari jalur kebenaran setelah kepergianku.

{(4) HANYA QURAN SAJA LAGI: pada bagian lain dari wasiatnya, Nabi Muhammad dilaporkan ber- kata :}

Wahai Umat. Dengar dan patuhilah, meski seorang budak Habsi ditunjuk sebagai Amir-mu (pengu- asa), LENGKAPILAH kekuasaannya (sejalan dengan) KITAB ALLAH di antara mu.

{Lagi2 di sini adalah panggilan untuk HANYA QURAN SAJA}.

Komentar Editor:

Mereka yang berusaha mematuhi Nabi Muhammad dan mengikuti perilakunya adalah mudah karena mereka mempunyai kitab yang Tuhan berjanji akan menjaganya, HADITH YG TERBAIK (Quran). Me- matuhi Nabi Muhammad adalah dengan mengikuti pesan beliau, Quran dan hanya Quran. Saat Nabi Muhammad wafat beliau meninggalkan HANYA satu kitab yang telah lengkap tertulis dan tersimpan baik, yaitu Quran. Beliau tak pernah meninggalkan kitab Hadith lain. Kitab2 itu semua adalah penemu

-an yang ditambahkan ke dalam Islam sekitar 150-200 tahun setelah wafatnya sang Nabi.

Shahadat Orang2 Beriman

 

Proklamasi Keimanan

Laa Ilaaha Illa Allah (Tiada tuhan selain Allah)

Ini adalah shahadat yang sesungguhnya dari Tuhan, para malaikat dan me- reka yang mempunyai pengetahuan.

“Tuhan bersaksi bahwa tiada tuhan selain Dia, demikian juga para malaikat dan juga MEREKA YANG MEMILIKI PENGETAHUAN. Sesungguhnyalah dan senyatanya, Dia adalah Tuhan yang sesungguhnya; tiada tuhan selain Dia, yang maha Perkasa, lagi maha Bijaksana.” 3:18

Banyak umat Muslim memaksa menambahkan nama Muhammad terhadap shahadat itu, tak patuh kepada Tuhan dan idea untuk tetap pada agama yang mutlak HANYA KEPADA TUHAN SAJA. Tak satupun di dalam Quran kita jumpai penambahan nama Muhammad kepada Nama Allah di dalam shahadat. Pernyataan, “Muhammad Rasul Allah” adalah suatu pernyataan kenyataan dan jangan di- kacaukan dengan pernyataan dalam shahadat yang merupakan kesaksian iman.

Tiang Utama agama Islam, (Shahadat) adalah sama dengan perintah pertama yang diberikan kepada Musa, dan pasti sama dengan perintah yang diberikan kepada semua nabi dan utusan.

“Aku,yang dipertuan, adalah Tuhan mu yang membawamu keluar dari tanah Mesir, tempat perbudakan. Engkau tak boleh menyembah tuhan lain selain daku. …..” Deuteronomy 5:6

Kami tak mengirim seorangpun utusan sebelum kamu (Wahai Muhammad) melainkan dengan satu pesan : “Tiada tuhan kecuali Aku; engkau harus beribadah HANYA kepada Ku.” 21 :25

Shahadat nya Islam (yang sebanding dengan perintah pertama) disebutkan di dalam 3:18

“Tuhan bersaksi bahwa tiada tuhan selain Dia, demikian juga para malaikat dan juga MEREKA YANG MEMILIKI PENGETAHUAN. Sesungguhnyalah dan senyatanya, Dia adalah Tuhan yang sesungguhnya; tiada tuhan selain Dia, yang maha Perkasa, lagi maha Bijaksana.” 3:18

Ini adalah ekspresi yang sangat penting (LAA ILAAHA ILLA HUA= tiada tuhan lain selain Dia)

yang muncul dalam 19 surah.

Kemunculan pertama adalah dalam 2:163 dan kemunculan terakhir dalam 73:9. Jumlah total nomor surah ditambah ayat antara kemunculan pertama dan kemunculan terakhir, ditambah jumlah dari ayat adalah 316502 = 19X16658.

Juga, dengan menambahkan nomor dari 19 surah di mana LAA ILAAHA ILLA HUA muncul, di- tambah jumlah ayat di mana ekspresi krusial ini ditemukan, ditambah jumlah total kemunculan (29), JUMLAH SELURUHNYA MENJADI 2128, atau 19X112.

Orang beriman yang SESUNGGUHNYA MENGETAHUI bahwa Muhammad adalah utusan Allah dan bersaksi bahwa tidak ada tuhan Selain Allah.

[63:1] Saat orang2 Munafik datang pada mu, mereka berkata, “Kami bersaksi bahwa kamu adalah utusan ALLAH.” *Allah tahu bahwa kamu adalah utusan-Nya, dan Allah bersaksi bahwa orang2 Munafik itu pendusta.

. . dan Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya “

Para penafsir Islam selalu memelihara bahwa pengakuan keimanan, “shahadat”, yang merupakan batu tonggak pertama Islam adalah sepasang dan dibaca sebagai:

“Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adaIah abdi dan utusan-Nya.”

Para penafsir itu menyesatkan mereka2 yang meng-klaim dirinya sebagai Muslim, dan mereka yang mengaku sebagai Muslim adalah, dengan mengikuti para penafsir itu, telah membeli neraka untuk pe

-ngorbanan mereka. Neraka, mereka seharusnya ingat, adalah untuk selamanya.

Para penafsir itu menolak untuk menerima perintah jelas dari Quran dan menekankan  untuk meng- ulang selalu pengakuan keimanan yang sudah terkorup dan mengkaitkan nama Muhammad dengan yang kepunyaan / hak Tuhan.

Pada kenyataannya, berlandaskan secara eksklusif kepada Quran, pengakuan keimanan sebagai- mana yang telah dikembangkan oleh para penafsir membawa kepada kehancuran, hanya seandai- nya mereka tahu.  Iblis telah sedemikian kelihatan berpesta pora, di matanya nampak mereka sangat menghina kebenaran secara merendahkan terhadap Quran.

Pada kali yang pertama, Tuhan sendiri meletakkan pengakuan atas keimanan yang berkenan bagi- Nya.   Dalam surah 3, ‘Ali-I’mran, di ayat 18, Tuhan, dalam ampunan-Nya yang tak terhingga, mem

-beri kita pengakuan keimanan yang benar.

Tuhan bersaksi bahwa tiada tuhan selain Dia, demikian juga para malaikat dan juga MEREKA YANG MEMILIKI PENGETAHUAN. Sesungguhnyalah dan senyatanya, Dia adalah Tuhan yang sesungguhnya; tiada tuhan selain Dia, yang maha Perkasa, lagi maha Bijaksana.”

ini adalah pengakuan yang Tuhan sendiri bersaksi atas itu. Tak disebutkan di sini manusia Muham- mad termasuk di dalamnya. Oleh karenanya harus tegak sebagai pengakuan di mana Tuhan berke- nan bagi hamba-Nya dan mereka sama sekali tak berhak untuk menyimpang dari itu.

Sebagaimana untuk kalimat  “...dan Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya.” Ini adalah suatu pernyataan atas fakta yang absolut. Sesiapa yang menolak Muhammad sebagai utusan Tuhan dan pengunci dari para nabi-Nya adalah sudah jatuh keluar dari cahaya Islam.  Jawaban yang benar atas pertanyaan ‘apakah Muhammad seorang utusan Tuhan dan nabi yang terakhir?’ adalah ‘pasti demikianlah!’. Ini bukanlah bagian dari pengakuan keimanan seperti yang telah dibacakan sendiri o- leh Tuhan, tetapi adalah sebuah pernyataan atas fakta yang benar.

Yang kedua, dalam surah 2, Al-Baqarah, pada ayat 285 Tuhan menentukan orang yang beriman sebagai :

“Utusan itu telah percaya atas apa yang diwahyukan padanya dari Tuhannya dan demikian pu- la orang2 yang beriman;masing2 telah beriman kepada Tuhan, para malaikat-Nya, kitab2-Nya dan para utusan-Nya.  ‘Kami tak membeda2kan di antara utusan-Nya’ dan mereka berkata ‘ka- mi dengar dan kami patuhi; kami mencari ampunan-Nya, Tuhan kami, dan padamulah kami berserah diri’.”

Jadi orang yang beriman memiliki lima atribut: (1) mereka beriman kepada Tuhan,

(2) mereka beriman kepada para malaikat-Nya,

(3) mereka beriman kepada kitab2-Nya,

(4) mereka beriman kepada para utusan-Nya dan, akhirnya,

(5) mereka tak membeda2kan di antara para utusan yang mereka nyatakan percayai itu.

Sesiapa yang membeda2kan para utusan adalah, secara nyata, bukanlah orang beriman.

Itu adalah sungguh2 kalimat dari Tuhan, yang muncul melalui bibir utusan-Nya Muhammad, dan lebih lagi, itu adalah perintah langsung dari sang Pencipta kepada kita.

Mereka2 yang tetap memaksakan bahwa pengakuan atas keimanan mengandung kata2 ‘dan Mu- hammad adalah utusan-Nya’ harus kembali ke Quran dan membaca dengan hati2 ayat 2:285, dan lebih penting lagi mereka harus melatih jiwanya dan mencari petunjuk Tuhan dan ampunan-Nya.

Tak diragukan, bahwa para penafsir ini dimotivasikan oleh cinta kasihnya kepada Muhammad dan mereka tulus, namun ketulusannya itu salah arah. Mereka harus merefleksikan dengan hati2 sekali cintanya kepada Muhammad itu; orang2 Kristen mencintai Jesus setidaknya sebagaimana kaum Muslim mencintai Muhammad, tetapi membawa ke mana rasa cinta itu? Jesus, seperti juga Muham- mad, akan, pada Hari Pengadilan, menolak mereka2 yang seakan mencintanya itu, mereka yang cin- tanya menyebabkannya menempatkan beliau2 itu di samping Tuhan dan, celakanya menyembahnya.

Cintanya kepada Muhammad, bila itu berada di bawah cinta kepada Tuhan, tak akan menyebabkan mereka kehilangan pandangan terhadap Tuhannya Muhammad dan firman2-Nya. Cintanya akan le- bih dahulu terhadap pesan yang disampaikan baru kemudian kepada si pembawa pesan. Maka mere

-ka akan memiliki sesuatu dalam perspektip yang tepat dan dalam petunjuk yang benar.

Mereka berargumentasi bahwa ‘..dan Muhammad adalah hamba-Nya dan untusan-Nya’ tak menetap- kan perbedaan. Tetapi sesungguhnya begitulah!   Bilamanakah siapapun di antara mereka pernah menetapkan pengakuan keimanan bahwa ‘.. Saleh adalah hamba-Nya dan utusan’? tak pernah. Pa- da kenyataannya, setiap sesiapapun yang akan berdiri di depan umum – di manapun di tempat yang disebut Dunia Islam – dan menyatakan sumpah ‘Laa Ilaha Illallah, Musa rasulullah’ (tiada tuhan sela- in Allah dan Musa adalah utusan-Nya!) akan dipersalahkan dan dianggap tak waras, dan akan meng- habiskan malam2nya di rumah sakit atau kalau tidak di kuburannya. Setiap hari Muhammad diacu se

-bagai ‘Sayidul mursaleen’ (tuan yang dikirim Tuhan untuk menuntun manusia), berapa banyak se-

sungguhnya yang disebut obyek orang beriman ini? Ini adalah pembedaan yang memalukan dan si- apapun menyangkal bahwa harus bersikap jujur dengan dirinya sendiri, dari sudut pandang titik berat konsekuensi. Neraka adalah untuk selamanya.

Beberapa penafsir bahkan maju terlalu jauh dengan berargumentasi bahwa karena Muhammad ada- lah nabi kita maka kita berhak untuk mensejajarkan namanya ke dalam pengakuan keimanan, ini je- las mengidentifikasikan kita sebagai pengikutnya terpisah dari para pengikut nabi yang lainnya, lebih jauh lagi, Tuhan sendiri lebih memilih Muhammad di atas semua ciptaan-Nya.

Argumentasi ini tak benar. Perintah untuk tak membeda2kan adalah langsung diberikan kepada o- rang2 beriman dan disampaikan sendiri melalui mulut Muhammad tak kurang tak lebih, demikian pula tentang pengakuan keimanan dinyatakan sendiri oleh Tuhan pada surah 3, Ali-I’mran, ayat 84, yang secara langsung memerintahkan kita :

“Katakanlah ‘kami percaya pada Tuhan dan apa2 yang dikirimkannya kepada kami dan apa yang diwahyukan kepada Ibrahim dan Ismail dan Ishaq dan Ya’qub dan para pemuka dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa dan apa yang diberikan kepada para nabi oleh Tuhannya, kami tak membeda2kan seorangpun dari mereka dan kami patuh kepada-Nya'”.

Dan bahwa Tuhan lebih memilih Muhammad ketimbang yang lainnya, adalah sama sekali tak berda- sar di Quran. Adalah tak penting untuk menganggap bahwa nabi terakhir adalah lebih signifikan dari- pada nabi pertama ataupun ‘ayah para nabi’. Tentulah bahwa mungkin Tuhan memilih nabi tertentu lebih dari yang lain tetapi Dia tak menyatakannya di manapun bahwa Muhammad lebih disukai dari- pada yang lainnya. Kenyataannya, di dalam ayat2 yang mengacu pada pilihan Tuhan, Dia berkata tentang Musa dan Isa secara simbolik dan menyebut Daud hanya dengan namanya. Dari sini seseo- rang mungkin saja menganggap bahwa Tuhan lebih menyukai Daud daripada yang lainnya, tapi lagi2 tak ada jawaban Tuhan tentang ini. Kita diperintahkan untuk tak membeda2kan dan diharuskan men- taatinya tanpa mempertanyakannya lagi.

Bahkan meskipun Tuhan lebih memilih Muhammad dari antara para utusan lainnya pun, perintah- Nya kepada kita adalah jelas dan tak dapat kita tentang dengan memperbedakan para utusan. Kei- nginan untuk tak mematuhi perintah Tuhan menghadapi konsekuensi yang mengerikan yang tak da- pat diampuni. Bacalah Quran, itu akan membuat kebingungan mengenai hal ini kembali jadi jelas.

Para penafsir mempunyai beberapa stok argument lagi, semuanya berdasar pada dua premis yang sama, pertama bahwa Muhammad membawa Quran, yang merupakan kitab suci kita, oleh karena itu beliau mempunyai tempat khusus bagi kita, dan kedua Tuhan lebih menyukai Muhammad daripada semua ciptaan lain-Nya.

Tak satupun dari premis ini mensahkan diskriminasi yang menguntungkan Muhammad yang secara khusus sangat dilarang, dan tentu tak mendukung kebohongan besar yang merusak oleh semua u- mat Muslim yang telah merubah pengakuan keimanan, sebagaimana telah difirmankan Tuhan, de- ngan memasukkan Muhammad.

Kata2 Tuhan bukanlah tak lengkap atau tak tepat, ataupun sembarangan. Mungkinkan Dia, dengan kebijakan-Nya yang tak terhingga, menginginkan pengakuan atas keimanan untuk menyertakan Mu- hammad, Musa, Isa atau siapapun yang diumumkannya sejelas sebagaimana dinyatakan dalam su- rah 3, Ali-I’mran, ayat 18.

Kehadiran nama lain selain Tuhan di dalam pengakuan keimanan termunculkan dan tak bisa diperde- batkan. Tuhan tidaklah mungkin lupa untuk memasukkan nama Muhammad atau siapapun juga da- lam hal ini, tidak juga, Dia keliru atau melakukan kesalahan. Pengakuan keimanan itu sudah sem- purna dan sesuai dengan kehendak Tuhan sendiri sejak diwahyukannya di dalam Quran.

Tumpukan argumentasi bahwa pengakuan keimanan pada 3:18 berlaku untuk Tuhan tapi tidak kita, setidaknya bisa dikatakan, tak jujur. Tuhan menyatakan bahwa Dia sebagaimana pula para malaikat dan mereka2 yang memiliki pengetahuan, bersaksi bahwa tiada tuhan selain Dia. Mereka yang me- miliki pengetahuan adalah manusia, jadi di mana kiranya dukungan argumentasi ini akan menempat- kan kita? Lebih jauh lagi, kita akan memperhatikan pernyataan awal kontra argument bahwa kalimat2

Tuhan adalah telah sempurna dan tepat dan pula Dia tak membuat kesalahan. Di manapun Dia tak

menyatakan bahwa itu tak berlaku untuk kita ataupun tak pula Dia memberikan penyataan keimanan yang lain. Penyataan keimanan yang diterima sendiri oleh Tuhan adalah telah dibundel untuk kita

dan telah nyata sempurna. Hanya kaum tak beriman yang akan menganggap itu tak bisa diterima se- bagaimana adanya atau ingin mencari2 kemungkinan lainnya.

Argumentasi lainnya yang dikemukakan adalah bahwa diskriminasi yang dinyatakan dalam 2:285 dan

3:84 berarti gagal untuk mengakui bahwa semua adalah utusan Tuhan. Argumentasi ini Nampak keli- ru karena ayat tersebut berkata kepada orang2 beriman yang telah mengakui semua utusan yang mendapat perintah untuk tak mendiskriminasikan di antara mereka.

Akhirnya, argumentasi yang terkuat dari semuanya: “kami tak membedakan untuk menguntungkan bagi Muhammad, kami hanya mengekspresikan hubungan khusus kami dengannya, ia, betapapun, membawa Quran untuk kita yang mana tanpa itu kami tak akan mengidolakannya “.

Suatu hubungan yang khusus dengan Muhammad adalah ekivalen terhadap preferensi khusus da- lam konteks ini. Adalah tak mungkin mengekspresikan preferensi tanpa terlebih dahulu mengekspre- sikan perbedaan. Bila dua hal adalah sama, orang tak dapat mengatakan bahwa yang satu lebih baik dari yang lainnya sepanjang kedua hal itu adalah sama, sehingga tak ada perbedaan di antara kedu- anya. Bila, dipihak lain, mereka tidak sama, maka, adalah perbedaan di antara mereka, oleh karena- nya dan hanya dapatlah orang mengatakan bahwa yang satu lebih baik dari yang lain. Jadi pembe- daan harus didahului dengan preferensi. Adalah oleh karenanya menjadi sebuah omong kosong un- tuk mengatakan sebuah hubungan yang khusus dengan Muhammad dan di saat yang sama me- nyangkal pembedaan yang melebihkannya.

Kami telah mempresentasikan bukti, berdasarkan secara eksklusif pada Quran, yang tak mungkin di- ragukan, bahwa mereka yang memaksakan untuk menambahkan nama Muhammad ke dalam peng- akuan keimanan, senyatanya, mendiskriminasi untuk kepentingannya dan oleh karena itu bukanlah orang yang beriman.

Lalu, orang macam apakah mereka itu? Lagi2 Quran memberitahu kita. Surah 63, Al-Munafikun, ayat 1 menyatakan:

Saat orang2 Munafik datang kepadamu mereka mengatakan ‘kami bersaksi bahwa engkau a- dalah utusan Tuhan’. Tuhan tahu bahwa engkau adalah utusan-Nya, dan Tuhan bersaksi bah- wa orang2 Munafik itu adalah pendusta.”

Adalah hal yang sangat penting di sini bahwa Tuhan menggunakan terminology tahu bahwa Muham- mad adalah utusan-Nya. Dia tak menggunakan frase bersaksi. Ini lebih jauh memperkuat bahwa ada- lah kenyataan Muhammad adalah utusan Tuhan tetapi bukan bagian dari kesaksian keimanan. Bila menjadi bagian dari kesaksian keimanan, Tuhan akan mengatakan “Tuhan bersaksi bahwa engkau adalah utusan-Nya.”  Namun tidak demikian, adalah orang2 Munafik itu yang bersaksi bahwa Mu- hammad adalah utusan Tuhan sebagaimana pula Tuhan telah tahu bahwa Muhammad adalah utus- an-Nya dan bahkan bersaksi bahwa orang2 Munafik itu adalah pendusta.

Beberapa orang yang sesat meng-klaim bahwa kedua bagian pengakuan keimanan ada di dalam Quran dengan bagian kedua, ‘Muhammad adalah utusan-Nya’, dinyatakan pada surah 63, Al-Munafi- kun, ayat 1.

Mereka harus membacanya dengan lebih berhati2. Mereka akan dapatkan bahwa frase ‘bersaksi’ di- gunakan, dalam hubungan dengan Muhammad, hanya oleh para Munafik, bukan oleh Tuhan seba-

gaimana telah dijelaskan di atas. Tuhan bahkan bersaksi bahwa mereka adalah pendusta.

Jadi, bila mereka memaksakan menggunakan ayat ini untuk mendukung klaim-nya, pada kenyataan- nya adalah bahwa mereka menggunakan pengakuan keimanannya kaum Munafik, yang oleh Tuhan justru dinyatakan sebagai pendusta.

Hanya kaum Munafik yang memaksakan menambahkan testimony yang kedua ‘…….. dan Muham- mad adalah utusan-Nya’ terhadap testimony-nya Quran.  Tuhan menerangkan lebih lanjut di 63:3 se- bagai berikut :

Ini adalah karena mereka beriman, lalu jadi tak beriman. Jadi pikiran mereka ter-hijab sehing- ga mereka tak mengetahuinya.”

Kaum Munafik itu adalah semula kaum beriman yang lalu keimanannya ter-hijab dengan ketidak per- cayaan. Mereka kemudian menjadi rusak pikirannya untuk berkapasitas pikir dengan nalar sehat.

Pada surah 4, An-Nissa’, ayat 140 Tuhan berfirman

...Tuhan akan mengumpulkan orang2 Munafik dan yang tak beriman di Neraka” Semua ayat2 lain yang mengacu orang2 Munafik mengisyaratkan mereka ke neraka selamanya. Tuhan telah berfirman. Dia telah mengeluarkan perintah-Nya; jelas dan tegas. Jangan membeda2kan

para utusan-Nya, hubungan kalian dengan mereka adalah suatu hal yang terpisah. Bila kau lakukan

itu, tidak saja bahwa kamu itu tak patuh pada Tuhan tetapi juga per definisi, adalah tak beriman.

Tak ada di dalam Quran Tuhan memerintah kita untuk bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan- Nya tetapi justru Dia-lah, namun demikian, memerintah kita untuk menerimanya sebagai utusan dan percaya kepadanya dan berjuang serta mendukungnya dan mengikuti cahaya terang yang dikirim- Nya bersamanya.

Akhirnya, perhatikanlah kata2 pada surah 6, Al-An’am, ayat 19

“Katakanlah, Testimony apa yang merupakan import terbesar?’ Tuhan berfirman. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu dan Quran ini menginspirasiku untuk melayani sebagai pemberi i- ngat padamu dan siapapun yang menerimanya bahwa kamu bersaksi tiada ilah lain di sisi Tu- han.’Katakan ‘Aku tak bersaksi’, Katakan ‘Dia adalah satu2nya Tuhan dan aku tak memiliki me- reka yang mempersekutukanmu.'”

Ayat ini mengkonfirmasi bahwa kesaksian Tuhan adalah amat beratnya dan Tuhan bersaksi, seba- gaimana pada kesaksian keimanan, yang dengan jelas dinyatakan pada: 3:18 “Tuhan bersaksi..!” Apakah mereka tetap memaksakan untuk mengubah kesaksian keimanan yang Tuhan sendiri mem- berikan kesaksiannya? dan apakah mereka tetap memaksa mempersekutukan seseorang yang lain dengan Nya?

Hanya mereka2 yang berpikir lah yang akan memperhatikan hal ini.

https://tausyah.wordpress.com