Posts Tagged ‘Syarat’

https://tausyah.wordpress.com/Do'a Islami

Do'a Islami

KEEMPAT: KONSKUENSI SYAHADATAIN

[A]. Konsekuensi “Laa ilaha illallah”
Yaitu meninggalkan ibadah kepada selain Allah dari segala ma-cam yang dipertuhankan sebagai keharusan dari peniadaan laa ilaaha illallah . Dan beribadah kepada Allah semata tanpa syirik sedikit pun, sebagai keharusan dari penetapan illallah.

Banyak orang yang mengikrarkan tetapi melanggar konsekuensinya. Sehingga mereka menetapkan ketuhanan yang sudah dinafikan, baik berupa para makhluk, kuburan, pepohonan, bebatuan serta para thaghut lainnya.
Mereka berkeyakinan bahwa tauhid adalah bid’ah. Mereka menolak para da’i yang mengajak kepada tauhid dan mencela orang yang beribadah hanya kepada Allah semata.

[B]. Konsekuensi Syahadat “Muhammad Rasulullah”
Yaitu mentaatinya, membenarkannya, meninggalkan apa yang dilarangnya, mencukupkan diri dengan mengamalkan sunnahnya, dan meninggalkan yang lain dari hal-hal bid’ah dan muhdatsat (baru), serta mendahulukan sabdanya di atas segala pendapat orang. (lebih…)

Syarat yang ditentukan Islam untuk poligami ialah terpercayanya seorang muslim terhadap dirinya, bahawa dia sanggup berlaku adil terhadap semua isterinya baik tentang soal makannya, minumnya, pakaiannya, rumahnya, tempat tidurnya mahupun nafkahnya. Siapa yang tidak mampu melaksanakan keadilan ini, maka dia tidak boleh kahwin lebih dari seorang. Firman Allah:

“Jika kamu tidak dapat berlaku adil, maka kahwinlah seorang saja.” (an-Nisa’: 3)

Dan bersabda Rasulullah s.a.w.: “Barangsiapa mempunyai isteri dua, tetapi dia lebih cenderung kepada yang satu, maka nanti di hari kiamat dia akan datang menyeret salah satu lambungnya dalam keadaan jatuh atau miring.” (Riwayat Ahlulsunan, Ibnu Hibban dan al-Hakim)

Yang dimaksud cenderung atau condong yang diancam oleh hadis tersebut, ialah meremehkan hak-hak isteri, bukan semata-mata kecenderungan hati. Sebab kecenderungan hati termasuk suatu keadilan yang tidak mungkin dapat dilaksanakan. Oleh kerana itu Allah memberikan maaf dalam hal tersebut. Seperti tersebut dalam firmanNya:

“Dan kamu tidak akan dapat berlaku adil antara isteri-isterimu sekalipun kamu sangat berkeinginan, oleh kerana itu janganlah kamu terlalu condong.” (an-Nisa’: 129)

Oleh kerana itu pula setelah Rasulullah membagi atau menggilir dan melaksanakan keadilannya, kemudian beliau berdoa: “Ya Allah! Inilah giliranku yang mampu aku lakukan. Maka janganlah Engkau siksa aku berhubung sesuatu yang Engkau mampu laksanakan tetapi aku tidak mampu melaksanakan.” (Riwayat Ashabussunan)

Yakni sesuatu yang tidak mampu dikuasai oleh hati manusia dan sesuatu kecenderungan kepada salah satu isterinya.

Nabi sendiri kalau hendak bepergian, ia mengadakan undian. Siapa mendapat bahagiannya, dialah yang nanti akan diajak pergi oleh Nabi [13].

Beliau bersikap demikian demi menjaga perasaan dan tercapainya persetujuan oleh semuanya.

Dan ketahuilah olehmu, bahwasanya tidaklah layak bagimu memperbuat yang sedemikian itu jika engkau adalah seorang yang jahil (kurang pengetahuan ilmu syar’i). Lagi engkau ketahuilah..bahwasanya sifat adil, ikhlas, Sabar, Jujur, bijaksana dan yang selain daripada itu adalah kajian yang teramat tinggi derajatnya disisi ALLAH Azza wa Jalla. Maka barang siapa di antara kamu yang memiliki salah satu di antaranya, niscaya ketentraman bagimu di dunia perihal urusanmu. namun tiadalah kesempurnaan daripadamu, melainkan pada diri yang ditunjuki oleh ALLAH daripadamu sedang orang – orang yang sedemikian itu adalah sedikit sekali dan yang termaktub pada kepribadian para Nabi dan Rasul ALLAH.

Maka, janganlah sekali – kali kamu memperbuat yang tiada engkau sanggupi. Melainkan hanya kemudharatan yang engkau lahirkan antara sebahagian kamu dengan sebahagian kamu yang lain. Layaknya seperti firman ALLAH yang tersebut di atas QS. An – Nisa : 3 :

“ambillah olehmu, berdua, bertiga atau berempat orang  istri jika kamu merasa adil, sedang jika kamu tidak dapat berlaku adil..maka kawinilah olehmu seorang sahaja atau engkau pakailah hamba sahaya. Yang sedemikian itu adalah lebih baik bagimu daripada aniaya.”

Jika engkau memperbuat jua atas apa – apa yang tiada pengetahuannya daripadamu, niscaya tiada lain bahwa yang engkau perbuat adalah aniaya terhadap istri – istrimu. Sedang aniaya itu adalah sesuatu dosa yang teramat besar bagimu, sesungguhnya..kelak engkau akan mengetahui akibat dari perbuatanmu..Wallahu A’lam Bish Showab

Demikian kukabarkan atas kamu, agar engkau memikirkan..

Semoga Bermanfaat ^_^