Posts Tagged ‘Syahid’

https://tausyah.wordpress.com/My Palestine

My Palestine

Dibeberapa waktu yang lalu, saya sudah pernah menerbitkan artikel tentang seorang warga negara Indonesia yang pernah bekerja di Palestina yang melihat langsung keajaiban – keajaiban yang terjadi di Jalur Gaza. Ya..dia adalah Imanda Amalia yang dikabarkan tewas di Mesir di beberapa tahun yang lalu, namun berita tentang imanda amaliapun menjadi kontroversi banyak yang percaya dan banyak juga yang tidak percaya. Artikel yang dipost pada blog Tausiyah In Tilawatun Islamiyah ini, tidak luput dari pantauan ribuan  pengunjung per harinya. Bagi yang  belum membacanya, silahkan baca pada link berikut :

Keajaiban ALLAH, Kesaksian Imanda Amalia, WNI Yang Dikabarkan Tewas Di Mesir, Saat Mengunujungi Jalur Gaza Palestina, Para Pejuang Palestina Diselimuti Hijab Putih Besar Seperti Kabut Saat Ditembaki Tentara Israel

Namun, postingan kali ini bukan lagi berita tentang Imanda Amalia. Melainkan tentang peristiwa – peristiwa menakjubkan yang terjadi diseputar perang Gaza yang dirangkum oleh seorang wartawan luar bernama thariq melalui kesaksian para mujahidin, khatib shalat jum’at maupun dari kesaksian tentara zionis israel sendiri juga dari situs resmi Al-Qassam maupun dari situs zionis israel dan dari berbagai sumber lain. Berita ini sudah marak meluas didunia maya, karenanya akhi ukhti akan menjumpai banyak artikel yang sama di search engine. Namun demikian, berita ini masih akan tetap eksis melihat perjuangan saudara-saudari kita di jalur Gaza yang tampak belum berakhir walau sudah ada peningkatan status Palestina di PBB.

Kejadian – Kejadian Ajaib Dan Menakjubkan Seputar Perang Gaza

Gaza, itulah nama hamparan tanah yang luasnya tidak lebih dari 360 km persegi. Berada di Palestina Selatan, “potongan” itu “terjepit” di antara tanah yang dikuasai penjajah Zionis Israel, Mesir, dan laut Mediterania, serta dikepung dengan tembok di sepanjang daratannya. (lebih…)

 

https://tausyah.wordpress.com/Perang-Badar

Perang Badar

Ketika Rasulullah S.A.W memanggil kaum Muslimin yang mampu berperang untuk terjun ke gelanggang perang Badar, terjadi dialog menarik antara Saad bin Khaitsamah dengan ayahnya yakni Khaitsamah. Dalam masa-masa itu panggilan seperti itu tidak terlalu mengherankan.

 

Kaum Muslimin sudah tidak merasa asing bila dipanggil untuk membela agama Allah dan jihad fisabilillah. Sebab itu Khaitsamah berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, aku akan keluar untuk berperang dan kau tinggal di rumah menjaga wanita dan anak-anak.”

“Wahai ayahku, demi Allah janganlah berbuat seperti itu, kerana keinginanku untuk memerangi mereka lebih besar daripada keinginanmu. Engkau telah berkepentingan untuk tinggal di rumah, maka izinkanlah aku keluar dan tinggallah engkau di sini, wahai ayahku.”

Khaitsamah marah dan berkata kepada anaknya, “Kau membangkang dan tidak mentaati perintahku.” (lebih…)

Omar Al Mokhtar, Lion On The DesertLelaki renta itu melangkah menuju tiang gantungan. Kedua tangannya terbelenggu namun matanya masih tetap berbinar. Raut mukanya tak menampakkan rasa takut sedikit pun. Ia begitu gagah walaupun maut tengah merambat mendekatinya.

Suasana sendu justru menyergap orang-orang di sekelilingnya. Mereka menatap lelaki berusia 80 tahun itu, dengan wajah muram. Air mata tak dapat mereka bendung. Bahkan beberapa saat kemudian, jerit tangis bersahutan.

Tatkala mereka melihat lingkaran tali tiang gantungan, menjerat leher pahlawan mereka, Omar Al-Mokhtar. Singa Padang Pasir itu, berpulang ke Rahmatullah, pada 16 September 1931 di Kota Solouq. Usai sudah perjuangannya melawan penjajahan Italia.

Omar Al-Mokhtar memang dipandang sebagai simbol perlawanan terhadap penjajahan Italia bagi rakyat Libya. Sejak Italia mulai menancapkan cengkeramannya di negeri tersebut pada Oktober 1911. Ia telah menjadi pionir untuk menyalakan bara perjuangan rakyat Libya

Syahid di Tiang Gantungan

Gelora perjuangannya juga merambat kepada rakyat Libya lainnya, dan melahirkan para mujahid seperti Ramadan As-Swaihli, Mohammad Farhat Az-Zawi, Al-Fadeel Bo-Omar, Solaiman Al-Barouni dan Silima An-Nailiah.

Usaha Italia menguasai Libya, dilakukan dengan menyerang dan menguasai kota-kota pantai seperti Tripoli, Benghazi, Misrata dan Derna secara beruntun. Meski demikian, Omar kerap menjadi batu sandungan mereka. Ia mampu membangkitkan semangat perjuangan rakyat Libya.

Perlawanan mereka telah menciptakan sejumlah pertempuran hebat. Misalnya pertempuran yang terjadi di Al-Hani dekat Tripoli pada 23 Oktober 1911, Ar-Rmaila dekat Misrata, Al-Fwaihat dekat Benghazi pada Maret 1912 dan Wadi Ash-Shwaer dekat Derna.

Bahkan tak jarang perjuangan rakyat Libya menuai hasil gemilang. Kala itu, mereka terlibat dalam pertempuran besar di Al-Gherthabiya, dekat Sirt pada April 1915. Italia kehilangan ribuan serdadu. Pertempuran semacam ini sering terjadi, membuat Italia harus melalui tahun demi tahun untuk menguasai negeri ini.

Meski pada akhirnya, wilayah-wilayah yang dipertahankan oleh para mujahidin jatuh pula ke tangan penjajah. Jatuhnya wilayah demi wilayah membuat para pejuang meninggalkan rumahnya dan menuju ke pegunungan. Mereka tak berdiam diri, namun merencanakan beragam serangan lanjutan.

Pada 1922 Omar mengorganisir para mujahidin dan mengobarkan kembali perlawanan terhadap pendudukan Italia atas negerinya. Ia mengumpulkan kembali mujahidin di The Green Mountain (Aj-Jabal Al-Akdar), bagian Tenggara Libya. Hal itu terjadi setelah Perang Dunia I ketika Italia berpikir telah mampu meredam sepenuhnya perlawanan rakyat Libya.

Perlawanan yang kembali mencuat membuat otoritas Italia merasakan bahaya yang mengancam. Mereka tak mau membiarkan perlawanan semakin merajalela. Lalu pemerintah pusat Italia Badolio yang terkenal haus darah untuk meredam bara perlawanan tersebut.

Ia tak hanya mendapatkan tugas memimpin pertempuran untuk menumpas Omar Al-Mokhtar dan pasukannya. Bahkan ia pun diizinkan untuk membunuh rakyat jelata yang hidup tenang baik di desa maupun pegunungan hanya karena di anggap membantu para mujahidin.

Beberapa saat kemudian, sang diktator, Musolini, juga mengirimkan komandan yang berperilaku seperti Badolio. Ia mengemban tugas yang sama untuk mengenyahkan nyawa-nyawa orang yang tak berdosa dan tak lupa menumpas gerakan mujahidin.

Dan Musolini berpikir bahwa untuk menyelesaikan masalah Libya secara tuntas adalah Rodolfo Grasiani. Bahkan kepada kabinetnya Musolini menyatakan kedatangan Grasiani kelak membuat suasana di Libya dapat terkontrol sepenuhnya.

Kala itu, Grasiani setuju pergi ke Libya dengan catatan tak ada aturan yang dapat membelenggunya dalam melakukan berbagai tindakan di Libya. Bahkan peraturan internasional sekalipun. Sebelum ditugaskan ke Libya, ia pergi ke Morj, Switzerland untuk merencanakan serangan terhadap Libya.

Rancangan Grasiani tentu saja disetujui sepenunya oleh Musolini. Pasalnya, ia berpegang pada prinsip ”jika tak bersamaku maka kalian adalah lawanku”. Dengan demikian untuk menguasai Libya segala cara harus dihalalkan tak peduli akan mengorbankan banyak jiwa yang tak berdosa.

Rencana pertama Grasiani adalah mengisolir Libya serta mencegah adanya kontak baik langsung maupun tak langsung dengan mujahidin dan negara tetangganya yang memasok senjata dan informasi kepada para pejuang Libya. Ia membangun kawat berduri sepanjang 300 km, tinggi 2 meter dan lebar 3 meter dari pelabuhan Bardiyat Slaiman Libya Utara sampai Al-Jagboub Libya Tenggara.

Rencana lainnya adalah membangun kamp konsentrasi di mana ribuan warga Libya harus hidup dalam pengawasan angkatan perang Italia. Ia membangun kamp konsentrasi di Al-Aghaila, Al-Maghroun, Solouq, dan Al-Abiyar.

Pada akhir November 1929 semua warga Libya yang hidup di tenda di Al-Jabal Al-Akdar, Mortaf-Aat Al-Thahir dari Beneena Utara sampai Ash-Shlaithemiya Selatan, dari Tawkera ke bagian selatan padang pasir Balt Abdel-Hafeeth, digiring untuk hidup di kamp-kamp konsentrasi.

Kehidupan rakyat Libya di kamp sangat mengerikan. Bahkan ribuan warga Libya mati kelaparan. Tak jarang pula mereka mati karena ditembak atau digantung sebab diyakini membantu perjuangan para mujahidin.

Pada 1933, Ketua Departemen Kesehatan Angkatan Darat Italia, Dr Todesky menuliskan dalam bukunya bertajuk Cerinaica Today. Dalam bukunya itu ia menyebutkan bahwa dari Mei sampai September 1930, lebih dari 80 ribu warga Libya dipaksa meninggalkan tanah kelahirannya dan hidup di kamp konsentrasi.

Iring-iringan warga Libya yang berjumlah 300 orang sekali jalan, mendapat kawalah ketat dari militer Italia. Todesky melanjutkan bahwa pada akhir 1930 semua warga Libya yang hidup di tenda-tenda dipaksa untuk hidup di kamp konsentrasi. Sebanyak 55 persen dari 80 ribu warga Libya meninggal di kamp konsentrasi tersebut.

Seorang sejarawan Libya, Mahmoud Ali At-Taeb menyatakan bahwa pada November 1930 paling tidak terdapat 17 pemakaman dalam sehari terjadi di kamp konsetrasi akibat kelaparan, penyakit, dan depresi.

Di luar kamp konsentrasi, mujahidin yang bertahan di daerah pegunungan terus berjuang melawan penjajahan Italia. Namun pada 1931 mujahidin kehabisan bahan pangan dan amunisi. Pimpinan mujahidin, Omar Al-Mokhtar, sakit-sakitan dan banyak mujadihin memintanya untuk berhenti dan meninggalkan negeri tersebut. Namun ia menolak tawaran tersebut dan tetap mengobarkan perjuangan.

Atas kegigihannya melawan penjajahan Italia tak heran jika ia dijuluki sebagai ‘Singa Padang Pasir’. Meski akhirnya, usia senja tak mampu membuatnya bertahan untuk memanggul senjata. Ia ditangkap dan dijatuhi hukuman gantung. Eksekusi tetap dilakukan tanpa mempertimbangkan kerentaan Omar Al-Mokhtar dan hukum internasional.

Semakin redupnya bara perlawanan, membuat Italia akhirnya dapat menguasai Libya setelah melakukan pertempuran selama 20 tahun. Meski Italia hanya mampu berkuasa di sana hingga 1943 akibat kekalahannya di Perang Dunia II. Libya kemudian berada di bawah kekuasaan pasukan sekutu hingga 24 Desember 1951. ferry kisihandi/berbagai sumber (RioL)

Omar Al Mokhtar, The Lion On The Deser

Omar Al-Mokhtar

On 16 September 1931 the Italians hanged the Libyan fighter [Mojahid] Omar Al-Mokhtar. Omar al-Mokhtar is considered the great symbol for the Libyan resistance (Jihad) against the Italian occupation. In 1922 he reorganized the Mojahideen and re-ignited the resistance against Italy after World War I when the Italians thought that they succeeded in silencing the Libyan resistance. Omar Al-Mokhtar, was ill couple of times and many of his comrades asked him to retire and leave the country, he was 80 years old. But he refused and kept fighting and he deserved a name given to him as “The Lion of the Desert.” On 16 September, 1931 the Italians hanged Omar Al-Mokhtar in the city of Solouq and they forced the Libyans to watch their hero been hanged. No consideration to Omar Al-Mokhtar’s old age, no consideration to international law and no consideration to world war treaties

The Italian Occupation and the Libyan Resistance

In October 1911 the Italian fleet invaded Libya and the Libyans resisted the invaders with whatever little weapons they could get. The Italians first concentrated their attack on the coast cities, Tripoli, Benghazi, Misrata and Derna. Major battles took place in Al-Hani near Tripoli (October 23, 1911) , Ar-Rmaila near Misrata, Al-Fwaihat near Benghazi (March 1912) and Wadi Ash-Shwaer near Derna. Other battles took place on the coast and in other cities, villages, mountains and desert. One of the major battles was Al-Gherthabiya near Sirt (April 1915) where the Italians lost thousands of their soldiers. Although the Italians succeeded in controling most of Libya after years of resistance and struggle (Jihad), they could not control the whole country because the Libyan fighters (Mojahideen) left their homes and headed for the mountains where they planned their attacks against the Italian armies. Some of the major Libyan fighters (Mojahideen) against the Italians were Omar Al-Moktar [see photo on the right] , Ramadan As-Swaihli, Mohammad Farhat Az-Zawi, Al-Fadeel Bo-Omar, Solaiman Al-Barouni and Silima An-Nailiah to name a few. Omar Al-Moktar is considered the great symbol for the Libyan resistance (Jihad) against the Italian occupation. He reorganized the Mojahideen in The Green Mountain (Aj-Jabal Al-Akdar) North East Libya and he re-ignited the resistance against Italy after World War I when the Italians thought that they succeeded in silencing the Libyan resistance.

Feeling that they may lose Libya to the Mojahideen, the Italian authorities sent one of their bloodiest high ranking officers Badolio who used the most inhuman measures to end the resistance. He did not just lead the fight against Omar Al-Moktar and his comrades, but he also punished even those who were living peacefully in the cities and villages accusing them of helping the Mojahideen. Badolio was not the only one whome the Italian government thought able to end the Libyan resistance through using the most inhumane and blodiest measures. Mosoliny, the infamous Italian dictator, sent another high ranking officer to kill thousands and thousands of inocent Libyans, young and old. fighters and non-fighters. Mosolini thought that the solution to the Libyan problem was Rodolfo Grasiani and by sending him to lead the fight against the Libyans he was telling his cabinet that anything and everything must be done to control Libya.

Grasiani agreed to go to Libya if and only if Mosolini let him do the job without any consideration or respect for rules and laws in Italy or in the World and Mosolini agreed immediately. Before coming to Libya, Grasiani went to Morj, Switzerland where he enjoyed a vacation in which he planned his murderous attack on the Libyans, all Libyans according to Mosoliny’s Motto “If you are not with me, you are against me !” which means the only way to control the country is by killing almost half of its population and the Italians did cause the death of half of Libya’s men, women, elderly and childern, directly through public hangings and shootings and indirectly (hunger, illness and horror) for the sake of one thing: showing the world that they have the power to invade and capture colonies just like the other powers in the world. Grasiani’s plan was: First to isolate Libya completely and prevent any direct or indirect contact between the Mojahideen and their neighbours who supply the Libyan Mojahideen with weapons and information. Grasiani built a wired wall 300 Kilometers long, 2 meters high and 3 meters wide from Bardiyat Slaiman port North Libya to Al-Jagboub South East Libya. The second part of the plan was to built concentration camps where thousands of Libyans must live under complete control of the Italian army. Grasiany built concentration camps in: Al-Aghaila, Al-Maghroun, Solouq and Al-Abiyar to name a few. By the end of November 1929 all Libyans who live in tents in Al-Jabal Al-Akdar, Mortaf-Aat Al-Thahir from Beneena North to Ash-Shlaithemiya South, from Tawkera to the southern desert of Balt Abdel-Hafeeth and all the members of any tribe that has one or more of its sons fighting with Mojahideen, all those and more, thousands and thousands of Libyans were forced to leave their land and live in one of the concentration camps mentioned above.

Life in the camps was miserable and thousands of Libyans died of hunger, illness and some of them were hanged or shot because they believed to be helping the Mojahideen. In 1933, the Italian Army Health Department Chairman, Dr. Todesky wrote in his book (Cerinaica today): “From May 1930 to September 1930 more than 80,000 Libyans were forced to leave their land and live in concentration camps, they were taken 300 at a time watched by soldiers to make sure that the Libyans go directly to the concentration camps. ” Dr. Todesky continued ” By the end of 1930 all Libyans who live in tents were forced to go and live in the camps. 55% of the Libyans died in the camps.” The Libyan historian Mahmoud Ali At-Taeb said in an interview with the Libyan magazine Ash-Shoura (October 1979) that in November 1930 there were at least seventeen funerals a day in the camps due to hunger, illness and depression.

When some world newspapers talked about the inhumane life in the concentration camps in Libya, the Italian army started giving the Libyans some dry parley (22 Kilo-grams per person per month !) which was too little to late. Outside the camps, in the mountains, the Mojahideen continued to fight the Italian occupation, but by the year 1931 the Mojahideen were out of food, out of information and out of ammunitions. The leader of the Mojahideen, Omar Al-Moktar, was ill couple of times and many of his comrades asked him to retire and leave the country, he was 80 years old. But he refused and kept fighting and he deserved a name given to him as “The Lion of the Desert.” In September 16, 1931 the Italians hanged Omar Al-Moktar in the city of Solouq and they forced the Libyans to watch their hero been hanged. No consideration to Omar Al-Moktar’s old age, no consideration to international law and no consideration to world war treaties. But, remember that the Italians caused the death of half of Libya’s population and killing Omar Al-Moktar to the Italians was ending the Libyan resistance which to them means finally taking control of the country after 20 years of struggle. Libya was under the Italian occupation till 1943 when Italy was defeated in World War II and Libya became under the Allies Armies occupation till December 24, 1951 when Libya achieved its independance after years and years of occupation.

https://tausyah.wordpress.com

Kekalahan umat Islam dalam perang Uhud menyebabkan bangkitnya kemarahan orang-orang badwi di sekitar Madinah untuk mencemuh dan mengungkit-ngungkit dendam lama yang sebelumnya sudah terpendam. Namun tanpa curiga sedikit pun Rasulullah memberikan sambutan baik atas kedatangan sekelompok pedagang Arab yang menyatakan keinginan sukunya hendak mendengar dan memeluk Islam. Untuk itu mereka meminta para jurudakwah dikirimkan ke kampung suku itu. Rasulullah s.a.w meluluskan. Enam orang sahabat yang alim diutus untuk melaksanakan tugas tersebut. Mereka berangkat bersama para pedagang Arab itu.

Di kampung Ar-Raji, dalam wilayah kekuasaan suku Huzail, para pedagang itu tiba-tiba melakukan pengurangan atas keenam sahabat Rasulullah s.a.w, sambil berseru meminta bantuan kaum Huzail. Keenam pendakwah itu dengan pantas menghunus senjata masing-masing dan siap mengadakan perlawanan, setelah insaf bahawa mereka tengah dijebak.

Para pedagang yang licik tadi berteriak, “Sabar saudara-saudara. Kami tidak bermaksud membunuh atau menganiayai kalian. Kami cuma mahu menangkap kalian untuk kami jual ke Makkah sebagai budak belian. Keenam sahabat Rasulullah s.a.w itu tahu nasib mereka bahkan lebih buruk daripada terbunuh dalam pertarungan tidak berimbang itu. Kerana mereka segera bertakbir seraya menyerang dengan tangkas.

Terjadilah pertempuran seru antara enam pendakwah berhati tulus dengan orang-orang yang beringas yang jumlanya jauh lebih besar. Pedang mereka ternyata cukup tajam. Beberapa orang lawan telah menjadi korban. Akhirnya tiga sahabat tertusuk musuh dan langsung gugur. Seorang lagi dibaling batu beramai-ramai hingga tewas. Bakinya tinggal dua orang; Zaid bin Addutsunah dan Khusaib bin Adi.

Apalah daya dua orang pejuang, betapa pun lincahnya perlawanan mereka, menghadapi begitu banyak musuh yang tangguh ? Selang beberapa saat sesudah jatuhnya empat sahabat tadi, kedua orang itu dapat dilumpuhkan dan belenggu. Lalu mereka diangkut menuju pasar budak di Makkah. Zaid dibeli oleh Shafwan bin Umayyah. Ayah Shafwan, Umayyah bin Khalaf, adalah majikan Bilal dan Amir bin Fuhairah. Umayyah terkenal sangat kejam kepada budak-budaknya. Bilal pernah disalib di atas pasir dan dijemur di tengah terik matahari dengan badan ditindihi batu. Untung Bilal ditebus oleh Saiyidina Abu Bakar Assidiq dan dimerdekakan. Orang Habsyi ini kemudian terkenal sebagai sahabat dekat Rasulullah s.a.w. dan diangkat sebagai Muazin, tukang azan.

Dalam perang Badar, Umayyah bin Khalaf berhadap-hadapan dengan bekas budaknya itu. Dan Bilal berhasil membunuhnya dalam pertempuran yang sengit satu lawan satu. Adapun Khubaib bin Adi diambil oleh Uqbah bin Al-Harits dengan tujuan yang sama seperti maksud Shafwan membeli Zaid bin Abdutsunah. Iaitu untuk membalas dendam kebencian mereka kepada umat Islam.

Maka oleh orang-orang Quraisy, Zaid diseret menuju Tan’im, salah satu tempat untuk miqat umrah. DI sanalah Zaid akan dijalani hukuman pancung, buatkan sesuatu yang ia tidak pernah melakukannya, iaitu terbunuhnya Umayyah bin Khalaf, ayahanda Shafwan. Menjelang algojo menetak parangnya, pemimpin kaum Musyrikin Abu Sufyan bertanya garang, “Zaid bedebah, apakah engkau senang seandainya di tempatmu ini ada Muhammad, sedangkan engkau hidup tenteram bersama keluargamu di rumah ?”

“Janganlah begitu,” bantah Zaid dengan keras. “Dalam keadaan begini pun aku tidak rela Rasulullah tertusuk duri kecil di rumahnya.”
Abu Sufyan menjadi marah. “Bereskan,” teriaknya kepada algojo. Dalam sekelip mata, sebilah parang berkilat di tengah terik matahari dan darah segar menyembur keluar. Zaid bin Abdutsunah gugur setelah kepalanya dipotong, menambah jumlah penghuni syurga dengan seorang syuhada’ lagi. Di hati Abu Sufyan dan orang-orang Quraisy lainnya timbul kehairanan akan kesetiaan para sahabat kepada Muhammad. Sampai tergamam di bibir Abu Sufyan ucapan kagum, “Aku tidak perna menemukan seorang yang begitu dicintai para sahabat seperti Muhammad.”

Sesudah selesai pemancungan Zaid, datang pula rombongan lain yang menyeret Khubaib bin Adi. Sesuai dengan hukum yang berlaku di seluruh Tanah Arab, kepada pesalah yang dijatuhi qisas mati diberikan hak untuk menyampaikan permintaan terakhir. Demikian juga Khubaib. Juru dakwah yang bestari ini meminta izin untuk solat sunnah dua rakaat. Permohonan tersebut dikabulkan. Dengan khusyuk dan tenang, seolah-olah dalam suasana aman tenteram tanpa ancaman kematian, Khubaib melaksanakan ibadahnya sampai selesai. Setelah salam dan mengangkat dua tangan, ia berkata, “Demi Allah. Andaikata bukan kerana takut disangka aku gentar menghadapi maut, maka solatku akan kulakukan lebih panjang.”

Khubaib disalib dahulu lalu dihabisi sepertimana dilaksanakan ke atas Zaid bin Abdutsunah. Jasadnya telah lebur sebagaimana jenazah lima sahabatnya yang lain. Namun semangat dakwah mereka yang dilandasi keikhlasan untuk menyebarkan ajaran kebenaran takkan pernah padam dari permukaan bumi. Semangat itu terus bergema sehingga makin banyak jumlah pendakwah yang dengan kekuatan sendiri, atas biaya peribadi, menyelusup keluar-masuk pedalaman berbatu-batu karang atau berhutan-hutan belantara buat menyampaikan firman Tuhan menuju keselamatan.

https://tausyah.wordpress.com