Posts Tagged ‘Selain Daripada ALLAH’

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

]ألم تر إلى الذين يزعمون أنهم آمنوا بما أنزل إليك وما أنزل من قبلك يريدون أن يتحاكموا إلى الطاغـوت وقد أمروا أن يكفروا بـه ويريد الشيطان أن يضلهم ضلالا بعيدا وإذا قيل لهم تعالوا إلى ما أنزل الله وإلى الرسول رأيت المنافقين يصدون عند صدودا فكيف إذا أصابتهم مصيبة بما قدمت أيديهم ثم جاءوك يحلفون بالله إن أردنا إلا إحسانا وتوفيقا[

“Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu, dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada Thoghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari Thoghut itu, dan syetan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik itu menghalangi (manusia) dari (mendekati) kamu dengan sekuat-kuatnya. Maka bagaimanakah halnya, apabila mereka ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu seraya bersumpah : “Demi Allah, sekali-kali kami tidak menghendaki selain penyelesain yang baik dan perdamaian yang sempurna. ” (QS. An Nisa, 60).

]وإذا قيل لهم لا تفسدوا في الأرض قالوا إنما نحن مصلحون[.

“Dan apabila dikatakan kepada mereka (orang-orang munafik) : “janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi” ([1]), mereka menjawab : “sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan” (QS. Al Baqarah, 11).

]ولا تفسدوا في الأرض بعد إصلاحها[.

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi ini sesudah Allah memperbaiki” (QS. Al A’raf, 56).

]أ فحكم الجاهلية يبغون ومن أحسن من الله حكما لقوم يوقنون[

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan tidak ada yang lebih baik hukumnya daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin” (QS. Al Maidah, 50)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiallahu’anhu sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“لا يؤمن أحدكم حتى يكون هواه تبعا لما جئت به “.

“Tidaklah beriman (dengan sempurna) seseorang diantara kamu, sebelum keinginan dirinya mengikuti apa yang telah aku bawa (dari Allah)” (Imam Nawawi menyatakan hadits ini shoheh).

As Sya’by menuturkan : “pernah terjadi pertengkaran antara orang munafik dan orang Yahudi. Orang Yahudi itu berkata : “Mari kita  berhakim kepada Muhammad”, karena ia mengetahui bahwa beliau tidak menerima suap. Sedangkan orang munafik tadi berkata : “Mari kita berhakim kepada orang Yahudi”, karena ia tahu bahwa mereka mau menerima suap. Maka bersepakatlah keduanya untuk berhakim kepada seorang dukun di Juhainah, maka turunlah ayat :

ألم تر إلى الذين يزعمون … الآية

Ada pula yang menyatakan bahwa ayat di atas turun berkenaan dengan dua orang yang bertengkar, salah seorang dari mereka berkata : “Mari kita bersama-sama mengadukan kepada Nabi Muhammad, sedangkan yang lainnya mengadukan kepada Ka’ab bin Asyraf”, kemudian keduanya mengadukan perkara mereka kepada Umar. Salah seorang di antara keduanya menjelaskan kepadanya tentang permasalahan yang terjadi, kemudian Umar bertanya kepada orang yang tidak rela dengan keputusan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “Benarkah demikian ?”,  ia menjawab : “Ya, benar”. Akhirnya dihukumlah orang itu oleh Umar dengan dipancung pakai pedang.

Kandungan bab ini :

  1. Penjelasan tentang ayat yang terdapat dalam surat An Nisa’ ([2]), yang didalamnya terdapat keterangan yang bisa membantu untuk memahami makna Thoghut.
  2. Penjelasan tentang ayat yang ada dalam surat Al Baqarah ([3]).
  3. Penjelasan tentang ayat yang terdapat dalam surat Al A’raf ([4])
  4. Penjelasan tentang ayat yang ada dalam surat Al Ma’idah ([5]).
  5. Penjelasan As Sya’by tentang sebab turunnya ayat-yang pertama (yang terdapat dalam surat An Nisa’).
  6. Penjelasan tentang iman yang benar dan iman yang palsu (Iman yang benar, yaitu : berhakim kepada kitab Allah dan sunnah Rasulullah, dan iman  yang  palsu yaitu : mengaku beriman tetapi tidak mau berhakim kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah, bahkan berhakim kepada thoghut).
  7. Kisah Umar dengan orang munafik (bahwa Umar memenggal leher orang munafik tersebut, karena dia tidak rela dengan keputusan Rasulullah].
  8. Seseorang tidak akan beriman (sempurna dan benar) sebelum keinginan dirinya mengikuti tuntunan yang dibawa oleh Rasulullah.

([1])   Maksudnya : janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi dengan kekafiran dan perbuatan maksiat lainnya.

([2])   Ayat ini menunjukkan kewajiban berhakim kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, dan menerima hukum keduanya dengan ridho dan tunduk. Barang siapa yang berhakim kepada selainnya, berarti berhakim kepada thogut, apapun sebutannya. Dan menunjukkan kewajiban mengingkari thoghut, serta menjauhkan diri dan waspada terhadap tipu daya syetan. Dan menunjukkan pula bahwa barangsiapa yang diajak berhakim dengan hukum Allah dan RasulNya haruslah menerima, apabila menolak maka dia adalah munafik, dan apapun dalih yang dikemukakan seperti menghendaki penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna bukanlah merupakan alasan baginya untuk menerima selain hukum Allah dan RasulNya.

([3])  Ayat ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang mengajak berhukum kepada selain hukum yang diturunkan Allah, maka ia telah berbuat kerusakan yang sangat berat di muka bumi, dan dalih mengadakan perbaikan bukan alasan sama sekali untuk meninggalkan hukumNya, menunjukkan pula bahwa orang yang sakit hatinya akan memutar balikkan nilai-nilai, di mana yang hak dijadikan batil dan yang batil dijadikan hak.

([4])  Ayat ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang mengajak berhukum kepada selain hukum Allah, maka ia telah berbuat kerusakan yang sangat berat di muka bumi, dan menunjukkan bahwa perbaikan di muka bumi adalah dengan menerapkan hukum yang diturunkan Allah.

([5])  Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang menghendaki selain hukum Allah, berarti ia menghendaki hukum jahiliyah.

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

]ولا تدع من دون الله ما لا ينفعك ولا يضرك، فإن فعلت فإنك إذا من الظالمين[

“Dan janganlah kamu memohon/berdo’a kepada selain Allah, yang tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula mendatangkan bahaya kepadamu, jika kamu berbuat hal itu maka sesungguhnya kamu dengan demikian termasuk orang-orang yang dzolim (musyrik)” (QS. Yunus, 106).

]وإن يمسسك الله بضر فلا كاشف له إلا هو وإن يردك بخير فلا راد لفضله يصيب به من يشاء من عباده وهو الغفور الرحيم[

“Dan jika Allah menimpakan kepadamu suatu bahaya, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba hambaNya dan Dia lah yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang”(QS. Yunus, 107).

]إن الذين تعبدون من دون الله لا يملكون لكم رزقا فابتغوا عند الله الرزق واعبدوه واشكروا له إليه ترجعون[

“Sesungguhnya mereka yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rizki kepadamu, maka  mintalah  rizki  itu  pada  Allah dan sembahlah Dia (saja) serta bersyurkurlah kepadaNya. Hanya kepada Nya lah kamu sekalian dikembalikan.”  (QS. Al  Ankabut, 17).

]ومن أضل ممن يدعو من دون الله من لا يستجيب له إلى يوم القيامة وهم عن دعائهم غافلون وإذا حشر الناس كانوا لهم أعداء وكانوا بعبادتهم كافرون[

“Dan tiada yang lebih sesat dari pada orang yang memohon kepada sesembahan-sesembahan selain Allah, yang tiada dapat mengabulkan permohonannya sampai hari kiamat dan sembahan-sembahan itu lalai dari (memperhatikan) permohonan mereka. Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan mereka.” (QS. Al Ankabut, 5-6).

]أمن يجيب المضطر إذا دعاه ويكشف السوء ويجعلهم خلفاء الأرض أإله مع الله قليلا ما تذكرون[

“Atau siapakah yang mengabulkan (do’a) orang-orang yang dalam kesulitan disaat ia berdo’a kepadaNya, dan yang menghilangkan kesusahan, dan yang menjadikan kamu sekalian menjadi kholifah di bumi ? adakah sesembahan (yang haq) selain Allah ? amat sedikitlah kamu mengingat(Nya).” (QS. An Naml, 62).

Imam At-Thabrani dengan menyebutkan sanadnya meriwayatkan bahwa : “Pernah ada pada zaman Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam seorang munafik yang selalu menyakiti orang-orang mu’min, maka salah seorang di antara  orang mu’min berkata : “Marilah kita bersama-sama memohon perlindungan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam supaya dihindarkan dari tindakan buruk orang munafik ini”, ketika itu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menjawab

“إنه لا يستغاث بي وإنما يستعاث بالله”

“Sesungguhnya aku tidak boleh dimintai perlindungan, hanya Allah sajalah yang boleh dimintai perlindungan”.

Kandungan bab ini :

  1. Istighotsah itu pengertiannya lebih khusus dari pada berdo’a([1]).
  2. Penjelasan tentang ayat yang pertama ([2]).
  3. Meminta perlindungan kepada selain Allah adalah syirik besar.
  4. Orang yang paling sholeh sekalipun jika melakukan perbuatan ini untuk mengambil hati orang lain, maka ia termasuk golongan orang-orang yang dzolim (musyrik).
  5. Penjelasan tentang ayat yang kedua ([3]).
  6. Meminta perlindungan kepada selain Allah tidak dapat mendatangkan manfaat duniawi, disamping perbuatan itu termasuk perbuatan kafir.
  7. Penjelasan tentang ayat yang ketiga ([4]).
  8. Meminta rizki itu hanya kepada Allah, sebagaimana meminta surga.
  9. Penjelasan tentang ayat yang ke empat ([5]).
  10. Tidak ada orang yang lebih sesat dari pada orang yang memohon kepada sesembahan selain Allah.
  11. Sesembahan selain Allah tidak merasa dan tidak tahu kalau ada orang yang memohon kepadanya.
  12. Sesembahan selain Allah akan benci dan marah kepada orang yang memohon kepadanya pada hari kiamat.
  13. Permohonan ini dianggap ibadah kepada sesembahan selain Allah.
  14. Pada hari kiamat sesembahan selain Allah itu akan mengingkari ibadah yang mereka lakukan.
  15. Permohonan kepada selain Allah inilah yang menyebabkan seseorang menjadi orang yang paling sesat.
  16. Penjelasan tentang ayat yang ke lima ([6]).
  17. Satu hal yang sangat mengherankan adalah adanya pengakuan dari para penyembah berhala bahwa tidak ada yang dapat mengabulkan permohonan orang yang berada dalam kesulitan kecuali Allah, untuk itu, ketika mereka berada dalam keadaan sulit dan terjepit, mereka memohon kepadaNya dengan ikhlas dan memurnikan ketaatan untukNya.
  18. Hadits di atas menunjukan tindakan preventif yang dilakukan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam untuk melindungi ketauhidan, dan etika sopan santun beliau kepada Allah.

([1]) Istighotsah ialah : meminta pertolongan ketika dalam keadaan sulit supaya dibebaskan dari kesulitan itu.

([2]) Ayat pertama menunjukkan bahwa dilarang memohon kepada selain Allah, karena selainNya tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula dapat mendatangkan bahaya kepada seseorang.

([3]) Ayat kedua menunjukkan bahwa Allah lah yang berhak dengan segala ibadah yang dilakukan manusia, seperti doa, istighotsah dan sebagainya. Karena hanya Allah yang Maha Kuasa, jika Dia menimpakan sesuatu bahaya kepada seseorang, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia sendiri, dan jika Dia menghendaki untuk seseorang suatu kebaikan, maka tidak ada yang dapat menolak karuniaNya. Tidak ada seorangpun yang menghalangi kehendakNya.

([4]) Ayat ketiga menunjukkan bahwa hanya Allah yang berhak dengan ibadah dan rasa syukur kita, dan hanya kepadaNya seharusnya kita meminta rizki, karena selain Allah tidak mampu memberikan rizki.

([5]) Ayat keempat menunjukkan bahwa doa (permohonan) adalah ibadah. Karena itu, barang siapa yang menyelewengkannya kepada selain Allah, maka dia adalah musyrik.

([6]) Ayat kelima menunjukkan bahwa istighotsah  (mohon pertolonan) kepada selain Allah, karena tidak ada yang kuasa kecuali Dia – adalah bathil dan termasuk syirik.