Posts Tagged ‘Sebutan’

Asma ALLAH Subhana wa Ta'ala pada buahMenguji Keaslian Bahasa

Menurut Alkitab (Bibel), dalam usia lanjut Ibrahim memiliki seorang anak, Ismail, yang kemudian menurunkan bangsa Arab yang jumlah komunitasnya sangat besar, sebagaimana yang pernah dijanjikan oleh Allah kepada Hagar (Hajar):

“Lagi pula kata malaikat Tuhan itu kepadanya: “Aku akan membuat sangat banyak keturunanmu, sehingga tidak dapat dihitung karena banyaknya” (Kejadian 16: 10)

“Tentang Ismail, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar” (Kejadian 17: 20)

Setelah Ismail berusia 14 Tahun, Ibrahim memiliki anak lagi bernama Ishak dari istri pertamanya, Sarah. Ishak mempunyai dua putra bernama, Esau dan Yakub. Dan Yakub memiliki dua belas anak di antaranya adalah Yusuf dan lain-lain yang di kemudian hari menurunkan 12 suku bangsa Israel.

Karena disingkirkan oleh saudara-saudara­nya, Yusuf tinggal di Mesir. Di negeri asing ini Yusuf bisa meraih jabatan penting, di saat tanah kelahirannya mengalami paceklik yang ber­kepanjangan. Yakub dan anak-anaknya emigrasi ke Mesir hingga keturunan mereka, bangsa ­Israel, menetap di Mesir selama ratusan tahun.

Selama ratusan tahun ini, keturunan Ishak dan Yakub mengalami asimilasi budaya dan bahasa. Sehingga perbendaraan kata bahasanya cenderung menjauh dari bahasa yang dipakai oleh nabi Ibrahim, Ismail, Ishak, dan Yakub.

Sedangkan ketu­runan Ismail (yang akhir­nya kemu­dian disebut bangsa Arab), karena tidak pindah kemana-mana, bahasanya masih asli atau setidak-tidaknya paling mendekati dengan bahasa yang dipakai oleh nabi Ibrahim, Ismail, Ishak dan Yakub.

Nabi Musa dibesarkan di Istana Firaun yang membenci dan menindas bangsa Israel yang hidup di negerinya. Hal ini membuat Musa tidak leluasa bergaul dengan bangsanya sendiri. Setelah membunuh orang Mesir, Musa lari Madyan (Midian) dan tinggal di rumah nabi Sueb atau Jetro (keturunan Ismail) selama minimal 7 tahun, lalu menikahi putri nabi itu. Dengan demikian Musa lebih lancar memakai bahasa keturunan Ismail daripada menggunakan bahasa bangsanya, Israel. Oleh karena itu ada dua kemungkinan mengapa Musa meminta kepada Allah agar nabi Harun mendampinginya untuk meng­komunikasikan maksudnya kepada bangsa Israel:

a. Lidahnya cedal karena sewaktu kecil Musa pernah menjilat api.
b. Kurang terbiasa dengan bahasa Ibrani yang dipakai oleh bangsanya sendiri.

Setelah nabi Sulaiman wafat, bangsa Israel terbelah dua: kerajaan Israel utara beribukota di Samaria, dan Israel selatan (Yehuda) beribukota di Yerusalem. Setiap tahun bangsa Israel harus berkumpul untuk melakukan ibadah nasional di Yerusalem. Karena masalah politik, raja Israel utara melarang rakyatnya berziarah ke Israel selatan, dan mendirikan pusat peribadatan baru di Betel serta Dan. Patung-patung emas anak lembu ditaruh di tempat ibadah itu. Mulanya patung-patung itu tidak dimaksudkan sebagai lambang Tuhan, melainkan hanya sebagai pengalas tahta-Nya. Tetapi rakyat Israel utara kemudian menghubungkan dengan kultus kesuburan yang secara luas terdapat di Palestina pada masa itu. Banyak penduduk Israel utara yang berasal dari keturunan Kanaan masih kuat menganut dan mempraktikkan ibadah (kultus) kesuburan tersebut, dan pada akhirnya rakyat Israel utara jatuh dalam penyembahan kepada berhala. Penulis kitab Raja-raja selalu menyebut-nyebut kesalahan Yerobeam, raja Israel Utara, membuat patung-patung anak lembu emas ini sehingga rakyat Israel terlibat dalam peribadatan palsu itu.

Pertikaian keagamaan yang serius berkisar pada penyembahan terhadap Baalim atau para Baal. Pertikaian ini mencapai puncaknya di masa raja Ahab di Israel utara, namun melibatkan Yehuda juga Israel selatan. Kata ‘Baalim’ (jamak dari kata Ibrani ‘Baal’ yang berarti ‘tuan’ atau ‘pemilik’) adalah sebutan bagi dewa-dewi kesuburan, yang dianggap berkuasa atas panen, ternak dan manusia. Para penyembah Baalim percaya, dewa ini mati menjelang musim panas dan bangkit lagi menjelang musim hujan. Ini menjelaskan mengapa tumbuhan mati kering pada puncak musim panas, dan bertunas lagi serta berdaun pada musim hujan.

Dari kerajaan utara ini, bangsa Israel yang sebelumnya terbiasa dengan kata ‘Eloha’ atau ‘Eloah” (Allah) kemudian menyebutnya menjadi ‘Elohim’ (jamak dari kata Eloah) disesuaikan dengan banyaknya sesembahan mereka, Baal – Baalim.

Bagi Israel Ibadah ini mengandung dua bahaya:

a. Ibadah ini dapat membuat mereka berpaling dari Allah, atau setidak-tidaknya membuat mereka berpendapat bahwa Allah adalah salah satu penampakan dewa Baal.
b. Ibadah ini membuat mereka tidak taat kepada Allah. Sebab penyembahan kepada dewa Baal ini mencakup praktik perzinaan yang dilakukan di kuil-kuil para dewa, dan berbagai bentuk perilaku seksual yang bertentangan dengan Taurat yang telah diberikan oleh Allah kepada bangsa Israel. Tetapi banyak dari rakyat biasa merasa terpaksa memuja dewa-dewi ini, sebab mereka yakin bahwa Baalim mem­berikan kesuburan bagi hasil tanah, ternak dan keluarga mereka.

Pada Bibel kitab Yeremia 52: 28-20 menye­butkan adanya tiga kali pembuangan bangsa Yehuda yang dilakukan oleh Babilonia. Pembuangan pertama tahun 597 SM, kedua tahun 587 SM, dan yang ketiga tahun 582 SM.

Saat pembuangan ketiga, masih ada penduduk yang dibiarkan tinggal di Yehuda, karena dari segi keahlian dan keterampilan mereka masih dianggap kurang, sehingga tidak perlu ikut ke Babilon. Sebagian besar para pemimpin dan pemuka agama ditawan di Babel, dan sebagian kecil saja yang bisa meloloskan diri.

Semangat orang-orang Yahudi di pem­bua­ngan sangat rendah, sekalipun para pemimpin mereka menganjurkan untuk melaksanakan praktik agama meskipun jauh dari Yehuda. Kota Yerusalem sebagai pusat ibadah mereka telah di­hancurkan tentara Babilonia, dan tidak ada tempat yang dapat mengganti peranannya. Kaum buangan Yehuda di Babilonia menghadapi kesukaran besar. Meskipun mereka ingin menyembah Allah, tetapi banyak tatacara ibadah mereka tidak mungkin dapat dilaksanakan di Babilon. Sedang-kan rakyat Babilonia saat itu menyembah dewa ‘Marduk’ yang dipercayai sebagai perwujudan dari dewa Matahari. Mereka menyebutnya ‘Bel’ yang berarti ‘Tuhan’ dan nama inilah yang digunakan dalam beberapa nas Alkitab seperti dalam Yesaya 46: 1, Yeremia 50: 2 dan 51: 44.

Saat itu Israel betul-betul mengalami krisis agama, karena tidak ada lagi tempat khusus di mana pemikiran dan tatacara keagamaan dapat dilaksanakan secara tepat dan bermakna. Karena itu timbul desakan yang kuat untuk mengusahakan cara ibadah baru serta keimanan yang baru pula, dan nama Tuhan Eloha (Allah) diganti YHWH (Yahweh). Perkembangan yang baru ini mungkin tepat dikatakan sebagai awal ‘Yudaisme’, dan sejak itu kita menyebut orang-orang Israel yang berada di pembuangan dengan nama ‘orang-orang Yahudi.’

Sekitar tahun 539 SM, Raja Persia, Koresy, melancarkan serangan ke Babilonia dan berhasil menguasai kota Babilonia tanpa perlawanan dari penduduknya. Bahkan sebaliknya, dia disambut sebagai pahlawan besar dan seorang hamba dewa Marduk. Orang-orang Yahudi diperbolehkan oleh penguasa Persia ini untuk kembali ke Yehuda.

Meskipun sebagian berhasil memper­tahankan adat dan agama Yahudi, banyak pula melakukan asimilasi keturunan, bahasa, budaya dan agama. Sehingga di masa Ezra (nabi Uzair) dan Nehemia membawa mereka kembali ke Yehuda, sebagian besar dari mereka tidak bisa berbahasa ibunya sendiri (Ibrani), dan tradisi mereka tersapu oleh kebiasaan Babilonia. Tragedi ini mendorong Ezra untuk menerjemahkan Taurat Musa kedalam bahasa Aram.

Kitab Nehemia 8: 1-3 menceritakan pembaca­an hukum Taurat untuk pertama kalinya di depan umum. Hukum Taurat pada saat itu harus diterjemahkan dari bahasa Ibrani ke Bahasa Aram yang menjadi bahasa pergaulan di masa itu baik di Yehuda maupun di seluruh kerajaan Persia (Nehemia 8: 8).

Kita tidak mengetahui secara tepat bagian manakah kitab hukum Taurat yang telah dibaca oleh Ezra. Tetapi kemudian orang-orang Yahudi menyebut kelima kitab pertama dalam Perjanjian Lama dengan sebutan ‘Taurat’. Kitab-kitab itu sendiri baru diakui secara resmi sebagai kitab suci kurang lebih lima puluh tahun kemudian. Pada waktu itu mereka yang tidak pernah ikut mengalami pembuangan tidak diakui sebagai orang Yahudi yang benar. Mereka memisahkan diri dari persekutuan keagamaan umat Israel yang resmi, lalu membentuk perkumpulan agama yang baru disebut ‘orang-orang Samaria.’

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Allah atau Eloah adalah nama Tuhan yang disembah oleh nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad dan umat Islam sekarang ini.

Para nabi ini samasekali tidak akan mengenal istilah “Elohim dan Yahweh. Bahkan nabi Isa (Yesus) sendiri tidak mengenal Yesus Kristus, atau dia akan bengong tak mengerti kalau dia dipanggil Yesus.

Oleh karena itu Allah menaruh firman-Nya di bawah ini pada Al-Qur‘an surat Yusuf:

“Sesungguhnya Allah menurunkan Al-Qur`an kepada Muhammad dengan bahasa Arab, agar kamu berpikir” (Qs. Yusuf 2).

Setelah ayat ini Allah menceritakan nabi Yusuf di Mesir dan emigrasi keluarga nabi Yakub ke negeri tersebut. Di saat di negeri Firaun itulah bahasa Semit sebagai bahasa sehari-hari nabi Ibrahim, Ismail, Ishak dan Ya’kub mengalami asimilasi dengan bahasa Mesir selama ratusan tahun.

Sedangkan keturunan Ismail karena tidak beremigrasi dan tidak pergi ke mana-mana, bahasanya lebih mendekati kepada keasliannya.

(Oleh: Masyhud SM/Majalah Tabligh)

https://tausyah.wordpress.com

Sebutan Bapa Oleh Isa

Posted: 10 Juli 2010 in Kristologi
Tag:, ,

Oleh : Armansyah

Kenapa Nabi ‘Isa menyebut Allah sebagai Bapa ?

Isitilah Bapa yang ditujukan bagi Tuhan secara kontekstual tidak akan dijumpai dalam kitab suci al-Qur’an maupun al-Hadis, istilah ini hanya bisa dijumpai dalam Alkitab yang menjadi kitab suci umat Kristen dewasa ini. Namun demikian, seperti yang pernah kita bicarakan sebelumnya, kita juga harus tahu bahwa al-Qur’an merupakan wahyu terakhir yang diturunkan bagi semua manusia untuk semua etnis bangsa dan bahasa, dan al-Qur’an secara umum menstandarisasikan semua bahasa yang digunakan oleh Rasul-rasul sebelumnya kedalam bahasa Arab, yaitu bahasa yang dipergunakan oleh Nabi Muhammad sebagai Nabi terakhir.

Contoh Nabi Shaleh, semua percakapannya dengan umat beliau diceritakan didalam al-Qur’an dengan menggunakan bahasa Arab, padahal kaum Tsamud yaitu kaumnya Nabi Shaleh, pada jaman itu tidak berbahasa Arab, begitu juga dengan Nabi Hud terhadap kaumnya, ‘Aad, lalu Nabi Nuh, mereka semua bukan keturunan Nabi Ibrahim yang menurunkan bangsa Arab. Untuk itu kita perlu menelusuri sejarah pertumbuhan bahasa bangsa Israel dimana Nabi ‘Isa diutus oleh Tuhan.

Menurut Bambang Budijanto (Lihat : Bambang Budijanto, Torah dalam hidup Bangsa Israel, Penerbit Yayasan Andi, Yogyakarta, hal. 85) penggunaan istilah “Anak Tuhan” sendiri terhadap bangsa Israel secara umum telah lama dikenal dan contohnya bisa dijumpai dalam Kitab Perjanjian Lama, misalnya :

Maka engkau harus berkata kepada Firaun : Beginilah firman TUHAN : Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung; sebab itu Aku berfirman kepadamu: Biarkanlah anak-Ku itu pergi, supaya ia beribadah kepada-Ku
– Perjanjian Lama : Kitab Keluaran 4 : 22-23

Aku akan memimpin mereka ke sungai-sungai, di jalan yang rata, di mana mereka tidak akan tersandung; sebab Aku telah menjadi bapa Israel – Perjanjian Lama : Kitab Yeremia 31 : 9

Bila kita pelajari lebih jauh dari alKitab, maka kita akan memperoleh data bahwa Bangsa Israel sama sekali tidak pernah menganggap Tuhan itu merupakan bapak mereka dalam pengertian yang sebenarnya :

Pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN, Aku akan menjadi Allah segala kaum keluarga Israel dan mereka akan menjadi umat-Ku
– Perjanjian Lama : Kitab Yeremia 31:1

Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya. Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi. – Perjanjian Lama : Kitab Amsal 3:11-12

Oleh karena itu apabila umpamanya memang benar Yesus (Nabi ‘Isa al-Masih) menyebut Tuhan dengan istilah Bapa, maka kita juga harus mengembalikan maksud ucapannya itu sebagaimana yang umum dikenal oleh masyarakat Israel pada jamannya, sebab Nabi ‘Isa sendiri merupakan orang Israel dan agar dakwahnya diterima oleh bangsanya, diapun harus mengikuti kaidah bahasa yang ada dimasyarakat setempat.

Dalam ilmu Psikolinguistik, ada yang disebut dengan istilah Prinsipel Kooperatif, yaitu suatu cara manusia untuk bisa berkomunikasi terhadap manusia lainnya dengan memahami maksud suatu kalimat yang bisa saja artinya tidak sama persis dengan kalimat yang diucapkan oleh sipembicara, dan ini yang ada pada bangsa Israel saat itu.

Meski demikian, Nabi ‘Isa tampaknya sudah mengkhawatirkan kemungkinan terjadinya perubahan makna pada bahasa yang beliau pakai, karenanya seperti yang bisa kita baca dalam Alkitab, pada kesempatan yang berbeda Nabi ‘Isa menerapkan model Psikolinguistik maksim cara (manner) yaitu mengungkapkan pemikirannya secara jelas dengan jalan memberikan penegasan maksud dari pemakaian istilah “anak ALLAH” dalam ayat-ayat berikut :

Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, katanya :… Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. – Perjanjian Baru : Kitab Injil Matius 5: ayat 2 dan 9

Tetapi semua orang yang menerimanya diberinya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namanya – Perjanjian Baru : Kitab Injil Yohanes 1:12

Dengan demikian istilah “Anak ALLAH” ditujukan bagi orang yang senantiasa membawa perdamaian ditengah masyarakat dan orang yang beriman kepada Tuhan dan Rasul-Nya, lebih jauh dia juga memaknainya bukan dalam arti hubungan darah atau jasmani biologis, akan tetapi hanya sebagai simbol kedekatan Tuhan dengan para hamba-Nya.

Perhatikan kutipan ayat Injil berikut :

Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam aku dan aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus aku Dan aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepadaku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti kita adalah satu Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam aku supaya mereka sempurna menjadi satu agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi aku. – Perjanjian Baru : Kitab Injil Yohanes 17 : 21-23

Ayat-ayat Injil diatas jelas sekali menceritakan kepada kita bahwa Nabi ‘Isa berkeinginan agar para sahabatnya memiliki hubungan yang dekat kepada sang Maha Pencipta sebagaimana kedekatan dirinya terhadap Tuhan dan pada kesempatan lain, beliau juga memberi penegasan bahwa dirinya hanyalah seorang Rasul Tuhan dan bukan Tuhan itu sendiri.

Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata : … Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. – Perjanjian Baru : Kitab Injil Yohanes 17:3

Jawab Yesus: Hukum yang terutama ialah : Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa. – Perjanjian Baru : Kitab Injil Markus 12:29

Oleh karena itu, kita semua tidak perlu terburu-buru menghakimi pola bahasa yang digunakan oleh ‘Isa al-Masih didalam kitab Perjanjian Baru mengenai pemakaian istilah Bapa untuk Tuhan. Sebab memang telah terbukti kalau ‘Isa al-Masih tidak pernah mengajar diluar konsep Monotheisme (Tauhid).

Sementara penggunaan istilah Bapa kepada Tuhan bila kita kaji dari kacamata sufi sendiri pada hakekatnya tidaklah dimaksudkan untuk menunjukkan pada status biologis sebagaimana terjadi pada bapak dan anak dalam kehidupan manusia. Zat Tuhan tidak dapat diketahui oleh siapapun, tidak terjangkau pengetahuan manusia karena zat itu bebas dari hubungan dengan nama-namaNya, satu-satunya yang mengetahui zat Tuhan adalah Tuhan sendiri. Dari segi dirinya, zat Tuhan tidak mempunyai nama, sebab nama-nama itu berfungsi untuk pemberitahuan dan pembedaan kepada makhluk-makhlukNya agar mereka kenal dan bisa memanggil-Nya.