Posts Tagged ‘Sahabat Rasulullah Saw’

night kaligrafiPerang Unta

Sekalipun sebenarnya peperangan sudah tak dapat dihindar­kan lagi, namun Imam Ali r.a. masih tetap berusaha untuk dapat mencegah berkobarnya peperangan sesama muslimin. Ia teringat kenangan lama yang indah, ketika bersama Thalhah dan Zubair berjuang bahu membahu menegakkan Islam di bawah pimpinan Rasul Allah s.a.w.

Imam Ali r.a. berusaha bertemu muka dengan dua tokoh bekas sahabatnya, yang saat itu telah mengangkat senjata untuk menentangnya. Pada pertemuan muka dengan Thalhah, Imam Ali r.a. berkata: “Sahabatku Thalhah! Engkau menyimpan isteri­mu sendiri di rumahmu, tetapi engkau datang ke tempat ini mem­bawa isteri Rasul Allah s.a.w. Dengan mempergunakan diakah engkau berperang?”

Pertanyaan Imam Ali r.a. ini nampaknya sangat mengenai hati Thalhah. Ia tak bisa menjawabnya sama sekali dan hanya da­pat menundukkan kepala untuk kemudian pelan-pelan menarik diri dari barisan yang dipimpinnya.

Ketika Marwan bin Al-Hakam melihat Thalhah memisahkan diri dari pasukan dan meninggalkan medan pertempuran (ia ter­gabung dalam pasukan Thalhah), segera mengikuti sambil berka­ta: “Demi Allah, aku tak akan melepaskan tekadku untuk menebus darah Utsman. Aku tidak akan membiarkan dia (Thalhah) lolos. Akan kubunuh dia, karena dia juga turut membunuh Utsman!”

Beberapa saat kemudian ia membidikkan anak panahnya ke arah Thalhah. Ketika anak panah itu lepas dari busurnya, lambung Thalhah menjadi sasaran. Gugurlah salah seorang sahabat Rasul Allah s.a.w. tertembus panah yang dilepaskan oleh anggota pa­sukannya sendiri.

Sementara itu ketika Imam Ali r.a. berhasil bertemu muka dengan Zubair, ia bertanya: “Hai Abdullah, apakah yang mendo­rongmu sampai datang ke tempat ini?”

“Untuk menuntut balas atas kematian Utsman,” jawab Zu­bair dengan terus terang.

“Engkau menuntut balas atas kematian Utsman?” tanya Imam Ali r.a. menanggapi jawaban Zubair tadi. “Allah mengutuk orang yang membunuhnya! Hai Zubair, engkau kuingatkan. Ingat­kah dahulu ketika engkau berjalan bersama Rasul Allah s.a.w. ­waktu itu beliau bertopang pada tanganmu, melewati aku, ke­mudian beliau tersenyum padaku, lalu menoleh kepadamu sambil berkata: “Hai Zubair, engkau kelak akan memerangi Ali secara dzalim!”

“Oh, ya,” jawab Zubair, setelah beberapa saat mengingat-­ingat.

“Mengapa engkau sekarang memerangi aku?” tanya Imam Ali r.a. pula.

“Demi Allah,” sahut Zubair, “aku lupa. Seandainya aku ingat aku tidak akan keluar untuk memerangimu.”

Selesai mengucapkan kata-kata itu, Zubair cepat-cepat ke­luar meninggalkan pasukan dengan air mata membasahi pipi. Tetapi malang bagi Zubair. Salah seorang anggota pasukan Imam Ali yang bernama Ammar bin Jarmuz ketika melihat Zubair ter­pisah dari pasukannya, segera diikuti dan kemudian dibunuh.

Perang Unta, atau Waq’atul Jamal, antara sesama kaum mus­limin, sudah tak dapat dihindarkan lagi. Dalam tulisannya tentang Waq’atul Jamal, Al-Madainiy dan Al-Waqidiy antara lain mengata­kan, bahwa dua pasukan saling berhadapan, pasukan Thalhah dan penduduk Bashrah, terus menerus dibakar semangatnya dengan syair-syair agitasi. Mereka dikerahkan untuk mengarungi pertem­puran sengit melawan Imam Ali r.a. dan pasukannya.

Di tengah-tengah pertempuran sedang berlangsung sengit, muncul Auf bin Qhatan Adh Dhabiy. Ia berteriak: “Tidak ada fihak yang harus dituntut atas kematian Utsman selain Ali bin Abi Thalib dan anak-anaknya!” Sejalan dengan itu ia menarik tali kekang unta yang dikendarai Sitti Aisyah r.a. sambil bersyair:

Hai ibu…, hai ibu, tanah air telah lepas dariku

Aku tak ingin kuburan dan tak ingin kain kafan

Disinilah medan laga bagi Auf bin Qhatan

Jika Ali lepas dari tangan, matilah aku

Atau jika dua anaknya, Hasan dan Husein, lepas…

Baiklah aku mati merintih bagaikan pahlawan!

Dengan pedang teracung di tangan ia maju menerjang. Belum sempat pedangnya menjatuhkan korban di fihak lawan, ia sen­diri sudah tersungkur terbelah setengah badan dan menggelepar bergumul dengan pasir. Tali kekang yang lepas dari tangannya, segera diambil oleh Abdullah bin Abza. Ketika itu barang siapa yang benar-benar berani bertempur sampai mati, ia pasti maju mendekati unta Sitti Aisyah r.a. dan memegang tali kekangnya. Sambil mendendangkan syair Abdullah bin Abza tampil meng­hunus pedang dan mulai menyerang pasukan Imam Ali r.a. Dengan syair juga ia menantang Imam Ali r.a. :

Mereka kuserang, tetapi tak kulihat ayah si Hasan

Aduhai….itu merupakan kesedihan di atas kesedihan

Mendengar tantangan Abdullah bin Abza, Imam Ali r.a. segera keluar dari barisan untuk melakukan serangan dengan tom­bak. Beberapa saat perang tanding berlangsung. Setelah beberapa kali ayunan pedang Abdullah bin Abza gagal menyentuh tubuh Imam Ali r.a., tiba-tiba ujung tombak yang runcing mengkilat sudah menancap di tengah-tengah dada Abdullah bin Abza. Ia jatuh tersungkur. Beberapa detik sebelum Abdullah menarik nafas terakhir, Imam Ali r.a. menghampirinya sambil bertanya: “Sudah­kah engkau melihat ayah si Hasan? Bagaimana engkau lihat dia?” Habis mengucapkan pertanyaan itu Imam Ali r.a. kembali ke pasukan.

Sementara pasukan kedua belah fihak sedang bergulat meng­adu senjata, banyak kepala dan tangan berjatuhan terpisah dari batang tubuhnya, Sitti Aisyah r.a. turun dari unta. Ia mengambil segenggam kerikil, lalu dicampakkan kepada pengikut-pengikut Imam Ali r.a. seraya berteriak: “Hancurlah muka kalian!” Hal semacam itu dilakukan Sitti Aisyah r.a., meniru perbuatan Rasul Allah s.a.w. dalam perang Hunain.[1]

Melihat peperangan semakin dahsyat, bersama regu pasukan yang mengenakan serban hijau, terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar, Imam Ali r.a. maju memimpin serangan. Ia diapit oleh tiga orang puteranya: Al Hasan, Al Husein dan Muhammad Al Ha­nafiyah. Sebelum tampil sendiri memimpin serangan, Imam Ali r.a. bermaksud hendak menguji ketangguhan puteranya yang ber­nama Muhammad Al Hanafiyah. Sambil menyerahkan panji pasu­kan, Imam Ali r.a. berkata kepada puteranya itu: “Majulah dengan panji ini dan pancangkanlah di depan mata unta itu! Jangan ber­henti di tempat lain!”

Baru saja Muhammad mengayunkan kaki beberapa langkah, ia sudah dihujani anak-panah yang beterbangan dari arah lawan. Melihat itu, ia memerintahkan regunya supaya berhenti sejenak: “Tunggu dulu, sampai mereka kehabisan anak-panah!”

Mengetahui hal itu, Imam Ali r.a. segera menyuruh orang lain guna mendekati puteranya. Kepada orang yang disuruhnya itu, dipesan agar mendorong Muhammad Al Hanafiyah maju terus melancarkan serangan terbuka dan besar-besaran. Karena gerak Muhammad lamban, Imam Ali menghampirinya sendiri dari be­lakang. Sambil menepukkan tangan kiri ke bahu puteranya, Ia membentak: “Hayo maju!”

Meskipun sudah dibentak ayahnya agar maju terus, namun Muhammad Al Hanafiyah masih juga lamban bergerak. Sebagai seorang ayah, Imam Ali r.a. merasa kasihan. Kemudian panji yang di tangan puteranya diambil kembali dengan tangan kiri, sedang pedang yang terkenal dengan nama “Dzul Fiqar” terhunus di tangan kanannya. Tanpa membuang-buang waktu Imam Ali r.a. memimpin serbuan ke tengah pasukan “Jamal”. Setelah melaku­kan serangan beberapa saat lamanya, menangkis dan memukul musuh, Imam Ali r.a. kembali ke induk pasukan. Sahabat-sahabat dan putera-puteranya berkerumun.

“Ya Amirul Mukminin,” desak Al Asytar, “cukuplah kami saja yang melaksanakan tugas itu!”

Desakan Al Asytar itu tak ditanggapi oleh Imam Ali r.a. Me­noleh saja pun tidak, darahnya masih mendidih. Sedemikian me­luapnya sampai semua orang yang ada di sekitarnya ketakutan. Pandangan matanya yang berapi-api tetap mengarah ke pasukan musuh. Tak lama kemudian ia menyerahkan kembali panji pa­sukan kepada puteranya, Muhammad A1 Hanafiyah.

Segera ia maju lagi menyerang musuh untuk kedua kalinya. Dengan gagah berani Imam Ali r.a. menerjang pasukan lawan sam­bil memainkan pedang dengan gesit dan cekatan. Anggota-ang­gota pasukan Thalhah yang menjadi sasaran serangannya lari ter­birit-birit menyelamatkan diri. Banyak yang mati terbunuh di ujung pedangnya. Tanah menjadi merah dibasahi darah. Selesai melancarkan serangan kedua, Imam Ali r.a. kembali lagi ke induk pasukan.

“Kalau anda sampai gugur,” puji sahabatnya, setelah Imam Ali r.a. berada di tengah barisannya, “barangkali akan lenyap agama Islam. Berhentilah, cukup kami saja yang menyerang dan bertempur!”

“Demi Allah,” jawab Imam Ali r.a. atas pujian sahabat-­sahabatnya itu. “Aku sangat tidak setuju dengan fikiran kalian.

Yang kuinginkan bukan lain hanyalah keridhoan Allah dan kam­pung akhirat!

Selanjutnya kepada Muhammad Al Hanafiyah ia berkata: “Seperti akulah seharusnya engkau berbuat!”

Muhammad Al Hanfiyah tidak menjawab sepatah kata pun ucapan ayahnya itu. Dari orang-orang yang berkerumun di sekitar Imam Ali r.a. terdengar sura bergumam: “Siapa orangnya yang sanggup berbuat seperti Amirul Mukminin!”

Ketika sedang sengit-sengitnya pertempuran, unta yang di kendarai Sitti Aisyah r.a. terputar-putar sedemikian rupa seperti penggilingan gandum. Pasukan kedua belah fihak berjubel dan saling mendesak beradu senjata di sekitarnya. Unta sampai me­ringkik-ringkik keras sekali karena tali kekangnya ditarik ke sana ke mari.

Pasukan Imam Ali r.a. makin maju menerjang untuk lebih mendekat kepada unta. Gerakan pasukan Imam Ali r.a. terham­bat tumpukan manusia yang berada di sekelilingnya. Setiap ang­gota pasukan yang mati, penggantinya datang berlipat ganda.

Melihat situasi itu Imam Ali r.a. berteriak memberi perintah: “Celakalah kalian! Tembak saja unta itu dengan panah! Bantailah unta celaka itu!”

Unta yang dikendarai Sitti Aisyah r.a. itu segera dihujani anak-panah. Tetapi tak sebuah pun anak-panah yang menembus, karena di sekujur badannya dipasang tijfaf. Semua anak panah menancap pada tijfaf sampai unta itu kelihatan seperti seekor lan­dak raksasa.

Terdengar lagi suara orang berteriak: “Hai penuntut balas darah Utsman!” Yang berteriak ialah Al Azd dan Dhabbah. Kalimat itu diulang-ulang dan akhirnya menjadi semboyan yang diteriakkan pasukan Thalhah.

Semboyan pasukan Thalhah itu dijawab Imam Ali r.a. dengan semboyan: “Hai Muhammad!” Nama putera Imam Ali r.a. yang memegang panji pasukan. Pasukan Imam Ali r.a. segera meng­ikuti semboyan yang diserukan Imam Ali r.a.

Pasukan kedua belah fihak sekarang makin tambah bergumul mengadu senjata.

Peristiwa tersebut terjadi pada hari kedua perang Unta. Semboyan yang diserukan Imam Ali r.a. ternyata besar sekali pengaruhnya di kalangan pasukannya, sehingga mereka berhasil menggoyahkan sendi-sendi kekuatan lawan.

Pasukan Thalhah makin payah menghadapi tekanan-tekanan berat yang terus-menerus dilancarkan pasukan Imam Ali r.a. Namun demikian mereka samasekali tidak berusaha melarikan diri atau meletakkan senjata. Pasukan yang makin lama makin mengecil itu kemudian bergerak memusat di sekitar unta yang ditunggangi Sitti Aisyah r.a. Mereka telah bertekad, pasukan Imam Ali r.a. baru akan berhasil merebut Sitti Aisyah r.a. sesudah me­lewati mayat-mayat mereka.

Perlawanan yang diberikan oleh pasukan Makkah dan Bash­rah itu sungguh dahsyat sekali. Nyawa, sudah tidak mereka peduli­kan. Dengan semangat berkobar-kobar penuh fanatisme mereka rela menghadapi maut. Demikian banyaknya korban sehingga di sekitar unta yang besar itu bergelimpangan tumpuk-menumpuk manusia yang luka dan mati. Padang pasir yang kering menjadi basah oleh darah dan bau anyir menyengat hidung.

Melihat keadaan yang mengerikan itu, Imam Ali r.a. meng­ambil suatu keputusan cepat untuk merobohkan unta tersebut. Pelaksanaan keputusan dipercayakan kepada Al Asytar dan Am­mar. Kepada kedua orang sahabatnya itu, Imam Ali r.a. memerin­tahkan: “Cepat bantai unta itu! Peperangan belum selesai, api­nya masih berkobar. Unta itulah yang dijadikan semacam kiblat oleh mereka!”

Dua orang yang diperintah itu segera maju bersama bebe­rapa orang lainnya dari Bani Murad. Seorang di antaranya ber­nama Umar bin Abdullah. Bersama Umar binAbdullah Al Muradiy mereka mendekati unta, lalu ponok dekat lehernya dipukul de­ngan pedang oleh Al Muradiy. Unta itu meronta-ronta, mering­kik keras-keras, dan akhirnya rebah.

Pendukung-pendukung Sitti Aisyah r.a. melihat gelagat itu cepat lari menjauhkan diri. Imam Ali r.a. berteriak memberi perin­tah: “Potong tali pengikat Haudaj!”

Setelah itu Imam Ali r.a. menyuruh Muhammad bin Abu Bakar Ash Shiddiq (saudara Sitti Aisyah r.a.): “Ambillah sau­dara perempuanmu!” Sitti Aisyah kemudian dibawa oleh Muham­mad bin Abu Bakar dan dimasukkan ke dalam sebuah rumah milik Abdullah bin Khalaf Al Khuza’iy.

Selanjutnya Imam Ali r.a. memerintahkan Abdullah bin Ab­bas supaya menemui Sitti Aisyah dan memintanya agar bersedia pulang ke Madinah. Mengenai hal ini Abdullah bin Abbas menceritakan pengalamannya sebagai berikut:

Aku datang menemui Sitti Aisyah. Aku tidak diberi sesuatu untuk duduk. Kuambil saja sebuah bantal yang dibawa olehnya selama perjalanan, lalu duduk di atasnya. Kepadaku ia berkata: “Hai Ibnu Abbas, engkau sudah menyalahi peraturan. Engkau berani duduk di atas bantalku dan dalam rumahku tanpa seizin aku?!”

“Ini bukan rumah bunda,” jawabku, “bukan rumah yang oleh Allah bunda diperintahkan supaya tetap tinggal di dalamnya. Jika ini rumah bunda, aku tidak berani duduk di atas bantal bunda tanpa seizin bunda!”

“Melalui aku,” kataku meneruskan, “Amirul Mukminin minta supaya bunda berangkat pulang ke Madinah.”

Tiba-tiba ia menyahut: “Mana ada Amirul Mukminin?”

“Dulu memang Abu Bakar,” jawabku dengan sabar dan hormat, “kemudian Umar lalu Utsman dan sekarang Ali!”

“Tidak, aku tidak mau!” sahut Sitti Aisyah.

“Bunda sekarang bukan lagi orang yang dapat memerintah atau melarang,” kataku terpaksa menegaskan, “Tidak bisa meng­ambil dan tidak bisa memberi.”

Sitti Aisyah kemudian menangis, sampai suaranya kedengar­an dari luar rumah. Lalu ia berkata: “Aku akan segera pulang ke tempat kediamanku, insyaa Allah Ta’aalaa. Demi Allah, tidak ada suatu negeri yang kubenci seperti negeri di mana kalian berada sekarang ini.”

“Mengapa begitu?” tanyaku. “Demi Allah, kami tetap me­mandang bunda sebagai Ummul Mukminin. Kami tetap meman­dang ayahnya bunda, Abu Bakar, sebagai seorang shiddiq.”

Sehabis pertemuan dengan Ummul mukminin aku segera menghadap Amirul Mukminin. Kepadanya kulaporkan semua yang kukatakan kepada Sitti Aisyah dan apa yang dikatakannya kepadaku. Mendengar laporanku itu, Amirul Mukminin merasa le­ga. Menanggapi laporanku ia berucap: “Waktu aku menyuruhmu sudah kuduga ia akan memberi jawaban jawaban seperti itu.”

Sudah lazim terjadi, tiap kelompok masyarakat atau pasukan, ssusai menghadapi peperangan muncul anasir-anasir ekstrim. Demikian juga pasukan Imam Ali r.a. Ada yang menuntut agar semua orang yang terlibat dalam pasukan lawan yang sudah kalah itu dijadikan tawanan, diperlakukan sebagai budak dan dibagi-­bagikan.

Menjawab tuntutan ekstrim itu dengan tegas Imam Ali r.a. mengatakan: “Tidak!”

“Mengapa anda melarang kami?” tanya fihak ekstrim itu, “untuk menjadikan mereka sebagai hamba-hamba sahaya, pada­hal anda dalam peperangan menghalalkan darah mereka?!”

“Bagaimana kalian boleh berbuat seperti itu,” ujar Imam Ali r.a. menjelaskan. “Mereka itu dalam keadaan tidak berdaya, lagi pula mereka itu berada di dalam daerah hijrah dan daerah Islam. Bukankah mereka itu juga kaum muslimin seperti kalian? Adapun tentang apa saja yang dipergunakan pasukan musuh untuk melawan kalian, boleh kalian rampas sebagai barang ghanimah. Tetapi semua yang berada di dalam rumah penduduk Bahsrah, apalagi yang pintunya tertutup rapat, semua itu adalah milik mereka sendiri. Kalian tidak mempunyai hak apa pun atas kesemuanya itu!”

Anasir-anasir ekstrim tidak puas dengan penjelasan itu. Me­reka tetap bersitegang leher dalam mendesakkan tuntutannya.

Malahan berani mengucapkan kata-kata yang bernada menggertak. Tetapi Imam Ali r.a. tidak mau tunduk kepada hukum yang batil. Dengan muka merah padam dan mata membelalak, Imam Ali r.a. menjawab dengan tantangan: “Coba, siapa dari kalian yang berani merampas Sitti Aisyah…? Coba, siapa yang berani merampas dia dan berani menjadikannya hamba sahaya?! Ayoh, jawab… Dia akan kuserahkan!”

Mendengar tantangan Imam Ali r.a. yang sekeras itu mereka mundur sambil minta maaf dan beristighfar kepada Allah s.w.t.

Di saat Abdullah Ibnu Abbas sedang melaksanakan perintah menghubungi Sitti Aisyah r.a., Imam Ali r.a. menerima laporan dari salah seorang anggota pasukan yang baru saja melihat jenazah Thalhah bin Ubaidillah tergeletak di tempat terjadinya pertempu­ran. Bersama beberapa orang sahabat Imam Ali r.a. keluar untuk membuktikannya sendiri dengan hati tersayat-sayat sedih.

Benar, bahwa pada akhir masa hidupnya Thalhah mengambil sikap permusuhan, tetapi bagaimana pun juga ia adalah sahabat Rasul Allah s.a.w. dan termasuk pejuang yang gigih menegakkan Islam bersama para sahabat Nabi yang lain. Tidak jarang di masa lalu Imam Ali r.a. berjuang bahu-membahu dalam berbagai pe­perangan melawan kaum musyrikin.

Imam Ali r.a. bukan seorang pembalas dendam dan bukan pula orang yang tidak mengenal peri-kemanusiaan. Ia mempunyai rasa keadilan yang sangat tinggi. Oleh karena itu tidak sukar bagi­nya menilai seseorang dengan ukuran yang obyektif. Thalhah me­mang dipandang telah berbuat salah, tetapi kesalahannya tidak menghilangkan kebajikan-kebajikan dan jasa-jasanya bagi Islam dan kaum muslimin. Fikiran-fikiran seperti itu layak dimiliki oleh seorang pemimpin ummat yang hidup penuh taqwa dan zuhud. Sekelumit pun Imam Ali r.a. tidak mempunyai kepentingan pribadi dalam menghadapi perlawanan Thalhah. Hanya kebenaran dan keridhoan Allah sajalah yang didambakan sepanjang hidupnya.

Setibanya di depan jenazah Thalhah bin Ubaidillah, ia menun­dukkan kepala. Kemudian jongkok untuk membersihkan jenazah dari lumuran debu bercampur darah. Imam Ali r.a. tidak sanggup membendung derasnya linangan airmata dan menangislah ia ter­sedu-sedu. Ia berdiri menengadah ke langit sambil mengangkat ke­dua belah tangan, memohonkan pengampunan kepada Allah s.w.t. bagi Thalhah, bagi dirinya sendiri dan bagi segenap kaum muslimin. Selesai berdoa, Imam Ali r.a. memerintahkan beberapa orang sahabat supaya membenahi jenazah Thalhah dengan se­baik-baiknya

Disadur dari buku :

Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a.
Oleh H.M.H. Al Hamid Al Husaini
Penerbit: Lembaga Penyelidikan Islam

https://tausyah.wordpress.com

Abu Dzar Al-Ghifari adalah salah seorang sahabat Rasul Allah s.a.w. yang paling tidak disukai oleh oknum-oknum Bani Umayyah yang mendominasi pemerintahan Khalifah Utsman r.a., seperti Marwan bin Al-Hakam, Muawiyyah bin Abu Sufyan dan lain-lain.

Ia berasal dari qabilah Bani Ghifar. Suatu qabilah yang pada masa pra-Islam terkenal amat liar, kasar dan pemberani. Tidak sedikit kafilah Arab yang lewat daerah pemukiman mereka men­jadi sasaran penghadangan, pencegatan dan perampasan. Abu Dzar sendiri seorang pemimpin terkemuka di kalangan mereka.

Ia mempunyai sifat-sifat pemberani, terus terang dan jujur. Ia tidak menyembunyikan sesuatu yang menjadi pemikiran dan pendiriannya.

Ia mendapat hidayat Allah s.w.t. dan memeluk Islam di kala Rasul Allah s.a.w. menyebarkan da’wah risalahnya secara rahasia dan diam-diam. Ketika itu Islam baru dipeluk kurang lebih oleh 10 orang. Akan tetapi Abu Dzar tanpa menghitung-hitung resiko mengumumkan secara terang-terangan keislamannya di hadapan orang-orang kafir Qureiys. Sekembalinya ke daerah pemukimannya dari Makkah, Abu Dzar berhasil mengajak semua anggota qabilahnya memeluk agama Islam. Bahkan qabilah lain yang berdekatan, yaitu qabilah Aslam, berhasil pula di Islamkan.

Demikian gigih, berani dan cepatnya Abu Dzar bergerak menyebarkan Islam, sehingga Rasul Allah s.a.w. sendiri merasa kagum dan menyatakan pujiannya. Terhadap Bani Ghifar dan Bani Aslam, Nabi Muhammad s.a.w. dengan bangga mengucapkan: “Ghifar…, Allah telah mengampuni dosa mereka! Aslam…, Allah menyelamatkan kehidupan mereka!”

Sejak menjadi orang muslim, Abu Dzar benar-benar telah menghias sejarah hidupnya dengan bintang kehormatan tertinggi. Dengan berani ia selalu siap berkorban untuk menegakkan ke­benaran Allah dan Rasul-Nya.Tanpa tedeng aling-aling ia bangkit memberontak terhadap penyembahan berhala dan kebatilan dalam segala bentuk dan manifestasinya. Kejujuran dan kesetiaan Abu Dzar dinilai oleh Rasul Allah s.a.w. sebagai “cahaya terang ben­derang.”

Pada pribadi Abu Dzar tidak terdapat perbedaan antara lahir dan batin. Ia satu dalam ucapan dan perbuatan. Satu dalam fikiran dan pendirian. Ia tidak pernah menyesali diri sendiri atau orang lain, namun ia pun tidak mau disesali orang lain.

Kesetiaan pada kebenaran Allah dan Rasul-Nya terpadu erat degan keberaniannya dan ketinggian daya-juangnya. Dalam berjuang melaksanakan perintah Allah s.w.t. dan Rasul-Nya, Abu Dzar benar-benar serius, keras dan tulus. Namun demikian ia tidak meninggalkan prinsip sabar dan hati-hati.

Pada suatu hari ia pernah ditanya oleh Rasul Allah s.a.w. tentang tindakan apa kira-kira yang akan diambil olehnya jika di kemudian hari ia melihat ada para penguasa yang mengang­kangi harta ghanimah milik kaum muslimin. Dengan tandas Abu Dzar menjawab: “Demi Allah, yang mengutusmu mem­bawa kebenaran, mereka akan kuhantam dengan pedangku!”

Menanggapi sikap yang tandas dari Abu Dzar ini, Nabi Muhammad s.a.w. sebagai pemimpin yang bijaksana memberi pengarahan yang tepat. Beliau berkata: “Kutunjukkan cara yang lebih baik dari itu. Sabarlah sampai engkau berjumpa dengan aku di hari kiyamat kelak!” Rasul Allah s.a.w. mencegah Abu Dzar menghunus pedang. Ia dinasehati berjuang dengan senjata lisan.

Sampai pada masa sepeninggal Rasul Allah s.a.w., Abu Dzar tetap berpegang teguh pada nasehat beliau. Di masa Khalifah Abu Bakar r.a. gejala-gejala sosial ekonomi yang dicanangkan oleh Rasul Allah s.a.w. belum muncul. Pada masa Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a., berkat ketegasan dan keketatannya dalam ber­tindak mengawasi para pejabat pemerintahan dan kaum muslimin, penyakit berlomba mengejar kekayaan tidak sempat berkembang di kalangan masyarakat. Tetapi pada masa-masa terakhir pemerin­tahan Khalifah Utsman bin Affan r.a., penyakit yang membahaya­kan kesentosaan ummat itu bermunculan laksana cendawan di musim hujan. Khalifah Utsman bin Affan r.a. sendiri tidak ber­daya menanggulanginya. Nampaknya karena usia Khalifah Utsman r.a. sudah lanjut, serta pemerintahannya didominasi sepenuhnya oleh para pembantunya sendiri yang terdiri dari golongan Bani Umayyah.

Pada waktu itu tidak sedikit sahabat Rasul Allah s.a.w. yang hidup serba kekurangan, hanya karena mereka jujur dan setia kepada ajaran Allah dan tauladan Rasul-Nya. Sampai ada salah seorang di antara mereka yang menggadai, hanya sekedar untuk dapat membeli beberapa potong roti. Padahal para pengua­sa dan orang-orang yang dekat dengan pemerintahan makin ber­tambah kaya dan hidup bermewah-mewah. Harta ghanimah dan Baitul Mal milik kaum muslimin banyak disalah-gunakan untuk kepentingan pribadi, keluarga dan golongan. Di tengah-tengah keadaan seperti itu, para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. dan kaum muslimin pada umumnya dapat diibaratkan seperti ayam mati kelaparan di dalam lumbung padi.

Melihat gejala sosial dan ekonomi yang bertentangan dengan ajaran Islam, Abu Dzar Al-Ghifari sangat resah. Ia tidak dapat berpangku tangan membiarkan kebatilan merajalela. Ia tidak betah lagi diam di rumah, walaupun usia sudah menua. Dengan pedang terhunus ia berangkat menuju Damsyik. Di tengah jalan ia teringat kepada nasihat Rasul Allah s.a.w.: jangan menghunus pedang. Ber­juang sajalah dengan lisan! Bisikan suara seperti itu terngiang-ngi­ang terus di telinganya. Cepat-cepat pedang dikembalikan kesa­rungnya.

Mulai saat itu Abu Dzar dengan senjata lidah berjuang mem­peringatkan para penguasa dan orang-orang yang sudah tenggelam dalam perebutan harta kekayaan. Ia berseru supaya mereka kem­bali kepada kebenaran Allah dan tauladan Rasul-Nya. Pada waktu Abu Dzar bermukim di Syam, ia selalu memperingatkan orang: “Barang siapa yang menimbun emas dan perak dan tidak meng­infaqkannya di jalan Allah maka beritahukanlah kepada mereka bahwa mereka akan mendapat siksa yang Pedih. Pada hari kiamat

Di Syam Abu Dzar memperoleh banyak pendukung. Umum­nya terdiri dari fakir miskin dan orang-orang yang hidup sengsara. Makin hari pengaruh kampanyenya makin meluas. Kampanye Abu Dzar ini merupakan suatu gerakan sosial yang menuntut ditegak­kannya kembali prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan, sesuai de­ngan perintah Allah dan ajaran Rasul-Nya.

Muawiyah bin Abi Sufyan, yang menjabat kedudukan sebagai penguasa daerah Syam, memandang kegiatan Abu Dzar sebagai bahaya yang dapat mengancam kedudukannya. Untuk memben­dung kegiatan Abu Dzar, Muawiyyah menempuh berbagai cara guna mengurangi pengaruh kampanyenya. Tindakan Muawiyyah itu tidak mengendorkan atau mengecilkan hati Abu Dzar. Ia tetap berkeliling kemana-mana, sambil berseru kepada setiap orang: “Aku sungguh heran melihat orang yang di rumahnya tidak mem­punyai makanan, tetapi ia tidak mau keluar menghunus pedang!”

Seruan Abu Dzar yang mengancam itu menyebabkan makin banyak lagi jumlah kaum muslimin yang menjadi pendukungnya. Bersama dengan itu para penguasa dan kaum hartawan yang telah memperkaya diri dengan cara yang tidak jujur, sangat cemas.

Keberanian Abu Dzar dalam berjuang tidak hanya dapat dibuktikan dengan pedang, tetapi lidahnya pun dipergunakan untuk membela kebenaran. Di mana-mana ia menyerukan ajar­an-ajaran kemasyarakatan yang pernah didengarnya sendiri dari Rasul Allah s.a.w.: “Semua manusia adalah sama hak dan sama derajat laksana gigi sisir…,” “Tak ada manusia yang lebih afdhal selain yang lebih besar taqwanya…”, “Penguasa adalah abdi masyarakat,” “Tiap orang dari kalian adalah penggembala, dan tiap penggembala bertanggung jawab atas kegembalaannya….” dan lain sebagainya.

Para penguasa Bani Umayyah dan orang-orang yang ber­gelimang dalam kehidupan mewah sangat kecut menyaksikan kegiatan Abu Dzar. Hati nuraninya mengakui kebenaran Abu Dzar, tetapi lidah dan tangan mereka bergerak di luar bisikan hati nura­ni. Abu Dzar dimusuhi dan kepadanya dilancarkan berbagai tuduh­an. Tuduhan-tuduhan mereka itu tidak dihiraukan oleh Abu Dzar. Ia makin bertambah berani.

Pada suatu hari dengan sengaja ia menghadap Muawiyah, penguasa daerah Syam. Dengan tandas ia menanyakan tentang kekayaan dan rumah milik Muawiyyah yang ditinggalkan di Mak­kah sejak ia menjadi penguasa Syam. Kemudian dengan tanpa ra­sa takut sedikit pun ditanyakan pula asal-usul kekayaan Muawiy­yah yang sekarang! Sambil menuding Abu Dzar berkata: “Bu­kankah kalian itu yang oleh Al-Qur’an disebut sebagai penumpuk emas dan perak, dan yang akan dibakar tubuh dan mukanya pada hari kiyamat dengan api neraka?!”

Betapa pengapnya Muawiyah mendengar kata-kata Abu Dzar yang terus terang itu! Muaw iyah bin Abu Sufyan memang bukan orang biasa. Ia penguasa. Dengan kekuasaan di tangan ia dapat berbuat apa saja. Abu Dzar dianggap sangat berbahaya. Ia harus disingkirkan. Segera ditulis sepucuk surat kepada Khalifah Utsman r.a. di Madinah. Dalam surat itu Muawiyah melaporkan tentang Abu Dzar menghasut orang banyak di Syam. Disarankan supaya Khalifah mengambil salah satu tindakan. Berikan ke­kayaan atau kedudukan kepada Abu Dzar. Jika Abu Dzar menolak dan tetap hendak meneruskan kampanyenya, kucilkan saja di pem­buangan.

Khalifah Utsman r.a. melaksanakan surat Muawiyah itu. Abu Dzar dipanggil menghadap. Kepada Abu Dzar diajukan dua pili­han: kekayaan atau kedudukan. Menanggapi tawaran Khalifah itu, Abu Dzar dengan singkat dan jelas berkata: “Aku tidak membu­tuhkan duniamu!”

Khalifah Utsman r.a. masih terus menghimbau Abu Dzar. Di­kemukakannya: “Tinggal sajalah di sampingku!”

Sekali lagi Abu Dzar mengulangi kata-katanya: “Aku tidak membutuhkan duniamu!”

Sebagai orang yang hidup zuhud dan taqwa, Abu Dzar ber­juang semata-mata untuk menegakkan kebenaran dan keadilan yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Abu Dzar hanya meng­hendaki supaya kebenaran dan keadilan Allah ditegakkan, seperti yang dulu telah dilaksanakan oleh Rasul Allah s.a.w., Khalifah Abu Bakar r.a. dan Khalifah Umar r.a. Memang justru itulah yang sangat sukar dilaksanakan oleh Khalifah Utsman r.a., sebab ia ha­rus memotong urat nadi para pembantu dan para penguasa bawah­annya.

Abu Dzar tidak bergeser sedikit pun dari pendiriannya. A­khirnya, atas desakan dan tekanan para pembantu dan para pe­nguasa Bani Umayyah,Khalifah Utsman r.a. mengambil keputu­san: Abu Dzar harus dikucilkan dalam pembuangan di Rabadzah. Tak boleh ada seorang pun mengajaknya berbicara dan tak boleh ada seorang pun yang mengucapkan selamat jalan atau mengantar­kannya dalam perjalanan.

Bagi Abu Dzar pembuangan bukan apa-apa. Sekuku-hitam pun ia tidak syak, bahwa Allah s.w.t. selalu bersama dia. Kapan saja dan di mana saja. Menanggapi keputusan Khalifah Utsman r.a. ia berkata: “Demi Allah, seandainya Utsman hendak menyalib­ku di kayu salib yang tinggi atau di atas bukit, aku akan taat, sabar dan berserah diri kepada Allah. Aku pandang hal itu lebih baik bagiku. Seandainya Utsman memerintahkan aku harus ber­jalan dari kutub ke kutub lain, aku akan taat, sabar dan berserah diri kepada Allah. Kupandang, hal itu lebih baik bagiku. Dan se­andainya besok ia akan mengembalikan diriku ke rumah pun akan kutaati, aku akan sabar dan berserah diri kepada Allah. Kupan­dang hal itu lebih baik bagiku.”

Itulah Abu Dzar Ghifari, pejuang muslim tanpa pamrih duniawi, yang semata-mata berjuang untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, demi keridhoan Al Khalik. Ia seorang pahlawan yang dengan gigih dan setia mengikuti tauladan Nabi Muhammad s.a.w. Ia seorang zahid yang penuh taqwa kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak berpangku tangan membiarkan kebatilan melanda ummat.

Peristiwa dibuangnya Abu Dzar Al Ghifari ke Rabadzah sa­ngat mengejutkan kaum muslimin, khususnya para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. Imam Ali r.a. sangat tertusuk perasaannya. Bersama segenap anggota keluarga ia menyatakan rasa sedih dan simpatinya yang mendalam kepada Abu Dzar.

Abu Bakar Ahmad bin Abdul Aziz Al Jauhariy dalam buku­nya As Saqifah, berdasarkan riwayat yang bersumber pada Ibnu Abbas, menuturkan antara lain tentang pelaksanaan keputusan Khalifah Utsman r.a. di atas:

Khalifah Utsman r.a. memerintahkan Marwan bin Al Hakam membawa Abu Dzar berangkat dan mengantarnya sampai di tengah perjalanan. Tak ada seorang pun dari penduduk yang berani mendekati Abu Dzar, kecuali Imam Ali r.a., Aqil bin Abi Thalib dan dua orang putera Imam Ali r.a., yaitu Al-Hasan r.a. dan Al Husein r.a. Beserta mereka ikut pula Ammar bin Yasir.

Menjelang saat keberangkatannya, Al Hasan mengajak Abu Dzar bercakap-cakap. Mendengar itu Marwan bin Al-Hakam dengan bengis menegor: “Hai Hasan, apakah engkau tidak me­ngerti bahwa Amirul Mukminin melarang bercakap-cakap dengan orang ini? Kalau belum mengerti, ketahuilah sekarang!”

Melihat sikap Marwan yang kasar itu, Imam Ali r.a. tak dapat menahan letupan emosinya. Sambil membentak ia mencam­buk kepala unta yang dikendarai oleh Marwan: “Pergilah engkau dari sini! Allah akan menggiringmu ke neraka.”

Sudah tentu unta yang dicambuk kepalanya itu meronta-­ronta kesakitan. Marwan sangat marah, tetapi ia tidak punya keberanian melawan Imam Ali r.a. Cepat-cepat Marwan kembali menghadap Khalifah untuk mengadukan perbuatan Imam Ali r.a. Khalifah Utsman meluap karena merasa perintahnya tidak dihiraukan oleh Imam Ali r.a. dan anggota-anggota keluarganya.

Tindakan Imam Ali r.a. terhadap Marwan itu ternyata men­dorong orang lain berani mendekati Abu Dzar guna mengucap­kan selamat jalan. Di antara mereka itu terdapat seorang bernama Dzakwan maula Ummi Hani binti Abu Thalib.

Dzakwan di kemudian hari Menceritakan pengalamannya sebagai berikut: Aku ingat benar apa yang dikatakan oleh mereka. Kepada Abu Dzar, Ali bin Abi Thalib mengatakan: “Hai Abu Dzar engkau marah demi karena Allah! Orang-orang itu, yakni para penguasa Bani Umayyah, takut kepadamu, sebab mereka takut kehilangan dunianya. Oleh karena itu mereka mengusir dan mem­buangmu. Demi Allah, seandainya langit dan bumi tertutup ra­pat bagi hamba Allah, tetapi hamba itu kemudian penuh taqwa kepada Allah, pasti ia akan dibukakan jalan keluar. Hai Abu Dzar, tidak ada yang menggembirakan hatimu selain kebenaran, dan tidak ada yang menjengkelkan hatimu selain kebatilan!”

Atas dorongan Imam Ali r.a., Aqil berkata kepada Abu Dzar: “Hai Abu Dzar, apa lagi yang hendak kukatakan kepadamu! Engkau tahu bahwa kami ini semua mencintaimu, dan kami pun tahu bahwa engkau sangat mencintai kami juga. Bertaqwa sa­jalah sepenuhnya kepada Allah, sebab taqwa berarti selamat. Dan bersabarlah, karena sabar sama dengan berbesar hati. Ke­tahuilah, tidak sabar sama artinya dengan takut, dan mengharap­kan maaf dari orang lain sama artinya dengan putus asa. Oleh ka­rena itu buanglah rasa takut dan putus asa.”

Kemudian Al-Hasan berkata kepada Abu Dzar: “Jika seorang yang hendak mengucapkan selamat jalan diharuskan diam, dan orang yang mengantarkan saudara yang berpergian harus segera pulang, tentu percakapan akan menjadi sangat sedikit, sedangkan sesal dan iba akan terus berkepanjangan. Engkau menyaksikan sendiri, banyak orang sudah datang menjumpaimu. Buang saja­lah ingatan tentang kepahitan dunia, dan ingat saja kenangan manisnya. Buanglah perasaan sedih mengingat kesukaran di masa silam, dan gantikan saja dengan harapan masa mendatang. Sabarkan hati sampai kelak berjumpa dengan Nabi-mu, dan beliau itu benar-benar ridho kepadamu.”

Setelah Al Hasan, kini berkatalah Al Husein: “Hai paman, sesungguhnya Allah s.w.t. berkuasa mengubah semua yang paman alami. Tidak ada sesuatu yang lepas dari pengawasan dan kekua­saan-Nya. Mereka berusaha agar paman tidak mengganggu dunia mereka. Betapa butuhnya mereka itu kepada sesuatu yang hendak paman cegah! Berlindunglah kepada Allah s.w.t. dari keserakahan dan kecemasan. Sabar merupakan bagian dari ajaran agama dan sama artinya dengan sifat pemurah. Keserakahan tidak akan mem­percepat datangnya rizki dan kebatilan tidak akan menunda da­tangnya ajal!”

Dengan nada marah Ammar bin Yasir menyambung: “Allah tidak akan membuat senang orang yang telah membuatmu sedih, dan tidak akan menyelamatkan orang yang menakut-nakutimu. Seandainya engkau puas melihat perbuatan mereka, tentu mereka akan menyukaimu. Yang mencegah orang supaya tidak mengata­kan seperti yang kaukatakan, hanyalah orang-orang yang merasa puas dengan dunia. Orang-orang seperti itu takut menghadapi maut dan condong kepada kelompok yang berkuasa. Kekuasaan hanyalah ada pada orang-orang yang menang. Oleh karena itu ba­nyak orang “menghadiahkan” agamanya masing-masing kepada mereka, dan sebagai imbalan, mereka memberi kesenangan du­niawi kepada orang-orang itu. Dengan berbuat seperti itu, se­benarnya mereka menderita kerugian dunia dan akhirat. Bukan­kah itu suatu kerugian yang senyata-nyatanya?!”

Sambil berlinangan air mata Abu Dzar berkata: “Semoga Allah merahmati kalian, wahai Ahlu Baitur Rahman! Bila melihat kalian aku teringat kepada Rasul Allah s.a.w. Suka-dukaku di Madinah selalu bersama kalian. Di Hijaz aku merasa berat karena Utsman, dan di Syam aku merasa berat karena Muawiyah. Mereka tidak suka melihatku berada di tengah-tengah saudara-saudaraku di kedua tempat itu. Mereka memburuk-burukkan diriku, lalu aku diusir dan dibuang ke satu daerah, di mana aku tidak akan mem­punyai penolong dan pelindung selain Allah s.w.t. Demi Allah, aku tidak menginginkan teman selain Allah s.w.t. dan bersama-Nya aku tidak takut menghadapi kesulitan…”

Tutur Dzakwan lebih lanjut: Setelah semua orang yang me­ngantarkan pulang, Imam Ali r.a. segera datang menghadap Kha­lifah Utsman bin Affan r.a. Kepada Imam Ali r.a. Khalifah ber­tanya dengan hati gusar: “Mengapa engkau berani mengusir pulang petugasku –yakni Marwan– dan meremehkan perintahku?”

“Tentang petugasmu,” jawab Imam Ali r.a. dengan tenang “ia mencoba menghalang-halangi niatku. Oleh karena itu ia ku­balas. Adapun tentang perintahmu, aku tidak meremehhannya.”

“Apakah engkau tidak mendengar perintahku yang melarang orang bercakap-cakap dengan Abu Dzar?” ujar Khalifah dengan marah.

“Apakah setiap engkau mengeluarkan larangan yang ber­sifat kedurhakaan harus kuturut?” tanggap Imam Ali r.a. ter­hadap kata-kata Khalifah tadi dalam bentuk pertanyaan.

“Kendalikan dirimu terhadap Marwan!” ujar Khalifah mem­peringatkan Imam Ali r.a.

“Mengapa?” tanya Imam Ali r.a.

“Engkau telah memaki dia dan mencambuk unta yang di­kendarainya” jawab Khalifah.

“Mengenai untanya yang kucambuk,” Imam Ali menjelas­kan sebagai tanggapan atas keterangan Khalifah Utsman r.a., “bolehlah ia membalas mencambuk untaku. Tetapi kalau dia sampai memaki diriku, tiap satu kali dia memaki, engkau sendiri akan kumaki dengan makian yang sama. Sungguh aku tidak berkata bohong kepadamu!”

“Mengapa dia tidak boleh memakimu?” tanya Khalifah Utsman r.a. dengan mencemooh. “Apakah engkau lebih baik dari dia?!”

“Demi Allah, bahkan aku lebih baik daripada engkau!” sahut Imam Ali r.a. dengan tandas. Habis mengucapkan kata-kata itu Imam Ali r.a. cepat-cepat keluar meninggalkan tempat.

Beberapa waktu setelah terjadi insiden itu, Khalifah Utsman r.a. memanggil tokoh-tokoh kaum Muhajirin dan Anshar termasuk tokoh-tokoh Bani Umayyah. Di hadapan mereka itu ia menyata­kan keluhannya terhadap sikap Imam Ali r.a.

Menanggapi keluhan Khalifah Utsman bin Affan r.a., para pemuka yang beliau ajak berbicara menasehatkan: “Anda adalah pemimpin dia. Jika anda mengajak berdamai, itu lebih baik.”

“Aku memang menghendaki itu,” jawab Khalifah Utsman r.a. Sesudah ini beberapa orang dari pemuka muslimin itu me­ngambil prakarsa untuk menghapuskan ketegangan antara Imam Ali r.a. dan Khalifah Utsman r.a. Mereka menghubungi Imam Ali r.a. di rumahnya. Kepada Imam Ali r.a. mereka bertanya: “Bagaimana kalau anda datang kepada Khalifah dan Marwan untuk meminta maaf?”

“Tidak,” jawab Imam Ali r.a. dengan cepat. “Aku tidak akan datang kepada Marwan dan tidak akan meminta maaf kepadanya. Aku hanya mau minta maaf kepada Utsman dan aku mau datang kepadanya.”

Tak lama kemudian datanglah panggilan dari Khalifah Utsman r.a. Imam Ali r.a. datang bersama beberapa orang Bani Hasyim. Sehabis memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah s.w.t., Imam Ali r.a. berkata: “Yang kauketahui tentang percakapanku dengan Abu Dzar, waktu aku mengantar keberangkatannya, demi Allah, tidak bermaksud mempersulit atau menentang keputus­anmu. Yang kumaksud semata-mata hanyalah memenuhi hak Abu Dzar. Ketika itu Marwan menghalang-halangi dan hendak mencegah supaya aku tidak dapat memenuhi hak yang telah diberikan Allah ‘Azza wa Jalla kepada Abu Dzar. Karena itu aku terpaksa menghalang-halangi Marwan, sama seperti dia mengha­lang-halangi maksudku. Adapun tentang ucapanku kepadamu, itu dikarenakan engkau sangat menjengkelkan aku, sehingga keluar­lah marahku, yang sebenarnya aku sendiri tidak menyukainya.”

Sebagai tanggapan atas keterangan Imam Ali r.a. tersebut, Khalifah Utsman r.a. berkata dengan nada lemah lembut: “Apa yang telah kau ucapkan kepadaku, sudah kuikhlaskan. Dan apa yang telah kaulakukan terhadap Marwan, Allah sudah memaaf­kan perbuatanmu. Adapun mengenai apa yang tadi engkau sam­pai bersumpah, jelas bahwa engkau memang bersungguh-sungguh dan tidak berdusta. Oleh karena itu ulurkanlah tanganmu….!”

Imam Ali r.a. segera mengulurkan tangan, kemudian ditarik oleh Khalifah Utsman r.a. dan dilekatkan pada dadanya.[4]

Bagaimanakah keadaan Abu Dzar Al Ghifari di tempat pembu­angannya? Tidak lain..Ia mati kelaparan bersama isteri dan anak-anaknya. Ia wafat dalam keadaan sangat menyedihkan, sehingga batu pun bisa turut menangis sedih!

Menurut riwayat tentang penderitaannya dan kesengsaraan­nya di tempat pembuangan, dituturkan sebagai berikut:

Setelah ditinggal mati oleh anak-anaknya, ia bersama isteri hidup sangat sengsara. Berhari-hari sebelum akhir hayatnya, ia bersama isteri tidak menemukan makanan sama sekali. Ia me­ngajak isterinya pergi ke sebuah bukit pasir untuk mencari tetum­buhan. Keberangkatan mereka berdua diiringi tiupan angin ken­cang menderu-deru. Setibanya di tempat tujuan mereka tidak me­nemukan apa pun juga. Abu Dzar sangat pilu. Ia menyeka cucuran keringat, padahal udara sangat dingin. Ketika isterinya melihat kepadanya, mata Abu Dzar kelihatan sudah membalik. Isterinya menangis, kemudian ditanya oleh Abu Dzar: “Mengapa engkau menangis?”

“Bagaimana aku tidak menangis,” jawab isterinya yang setia itu, “kalau menyaksikan engkau mati di tengah padang pasir seluas ini? Sedangkan aku tidak mempunyai baju yang cukup untuk dijadikan kain kafan bagimu dan bagiku! Bagaimana pun juga akulah yang akan mengurus pemakamanmu!”

Betapa hancurnya hati Abu Dzar melihat keadaan isterinya. Dengan perasaan amat sedih ia berkata: “Cobalah lihat ke jalan di ­gurun pasir itu, barangkali ada seorang dari kaum muslimin yang lewat!”

“Bagaimana mungkin?” jawab isterinya. “Rombongan haji sudah lewat dan jalan itu sekarang sudah lenyap!”

“Pergilah kesana, nanti engkau akan melihat,” kata Abu Dzar menirukan beberapa perkataan yang dahulu pernah diucapkan oleh Rasul Allah s.a.w. “Jika engkau melihat ada orang lewat, berarti Allah telah menenteramkan hatimu dari perasaan tersiksa. Tetapi jika engkau tidak melihat seorang pun, tutup sajalah muka­ku dengan baju dan letakkan aku di tengah jalan. Bila kaulihat ada seorang lewat, katakan kepadanya: Inilah Abu Dzar, sahabat Rasul Allah. Ia sudah hampir menemui ajal untuk menghadap Allah, Tuhannya. Bantulah aku mengurusnya!”

Dengan tergopoh-gopoh isterinya berangkat sekali lagi ke bukit pasir. Setelah melihat ke sana-ke mari dan tidak menemukan apa pun juga, ia kembali menjenguk suaminya. Di saat ia sedang mengarahkan pandangan mata ke ufuk timur nan jauh di sana, tiba-tiba melihat bayang-bayang kafilah lewat, tampak benda-­benda muatan bergerak-gerak di punggung unta. Cepat-cepat isteri Abu Dzar melambai-lambaikan baju memberi tanda. Dari ke­jauhan rombongan kafilah itu melihat, lalu menuju ke arah isteri Abu Dzar berdiri. Akhirnya mereka tiba di dekatnya, kemudian bertanya: “Hai wanita hamba Allah, mengapa engkau di sini?”

“Apakah kalian orang muslimin?” isteri Abu Dzar balik ber­tanya. “Bisakah kalian menolong kami dengan kain kafan?”

“Siapa dia?” mereka bertanya sambil menoleh kepada Abu Dzar.

“Abu Dzar Al-Ghifari!” jawab wanita tua itu.

Mereka saling bertanya di antara sesama teman. Pada mula­nya mereka tidak percaya, bahwa seorang sahabat Nabi yang mulia itu mati di gurun sahara seorang diri. “Sahabat Rasul Allah?” tanya mereka untuk memperoleh kepastian.

“Ya, benar!” sahut isteri Abu Dzar.

Dengan serentak mereka berkata: “Ya Allah…! Dengan ini Allah memberi kehormatan kepada kita!”

Mereka meletakkan cambuk untanya masing-masing, lalu segera menghampiri Abu Dzar. Orangtua yang sudah dalam ke­adaan payah itu menatapkan pendangannya yang kabur kepada orang-orang yang mengerumuninya. Dengan suara lirih ia berkata:

“Demi Allah…, aku tidak berdusta…, seandainya aku mempunyai baju bakal kain kafan untuk membungkus jenazahku dan jenazah isteriku, aku tidak akan minta dibungkus selain de­ngan bajuku sendiri atau baju isteriku…..Aku minta kepada kalian, jangan ada seorang pun dari kalian yang memberi kain kafan ke­padaku, jika ia seorang penguasa atau pegawai.”

Mendengar pesan Abu Dzar itu mereka kebingungan dan saling pandang-memandang. Di antara mereka ternyata ada seorang muslim dari kaum Anshar. Ia menjawab: “Hai paman, akulah yang akan membungkus jenazahmu dengan bajuku sendiri yang kubeli dengan uang hasil jerih-payahku. Aku mempunyai dua lembar kain yang telah ditenun oleh ibuku sendiri untuk kupergunakan sebagai pakaian ihram…”

“Engkaukah yang akan membungkus jenazahku? Kainmu itu sungguh suci dan halal….!” Sahut Abu Dzar.

Sambil mengucapkan kata-kata itu Abu Dzar kelihatan lega dan tentram. Tak lama kemudian ia memejamkan mata, lalu secara perlahan-lahan menghembuskan nafas terakhir dalam ke­adaan tenang berserah diri ke hadirat Allah s.w.t. Awan di langit berarak-arak tebal teriring tiupan angin gurun sahara yang amat kencang menghempaskan pasir dan debu ke semua penjuru. Saat itu Rabadzah seolah-olah berubah menjadi samudera luas yang sedang dilanda tofan.

Selesai di makamkan, orang dari Anshar itu berdiri di atas kuburan Abu Dzar sambil berdoa: “Ya Allah, inilah Abu Dzar sahabat Rasul Allah s.a.w., hamba-Mu yang selalu bersembah sujud kepada-Mu, berjuang demi keagungan-Mu melawan kaum musyri­kin, tidak pernah merusak atau mengubah agama-Mu. Ia melihat kemungkaran lalu berusaha memperbaiki keadaan dengan lidah dan hatinya, sampai akhirnya ia dibuang, disengsarakan dan di hinakan sekarang ia mati dalam keadaan terpencil. Ya Allah, hancurkanlah orang yang menyengsarakan dan yang membuang­nya jauh dari tempat kediamannya dan dari tempat suci Rasul Allah!”

Mereka mengangkat tangan bersama-sama sambil mengucap­kan “Aamiin” dengan khusyu’.

Orang mulia yang bernama Abu Dzar Al-Ghifari telah wafat, semasa hidupnya ia pernah berkata: “Kebenaran tidak meninggal­kan pembela bagiku…”

Bersambung..

https://tausyah.wordpress.com