Posts Tagged ‘Pergaulan’

https://tausyah.wordpress.com/Sholehah

Sholehah

Di bawah ini terdapat sejumlah fatwa ulama besar yang berkedudukan di Saudi Arabia tentang berbagai masalah penting yang sangat dibutuhkan oleh setiap muslim dan muslimah.

1. Alasan Diharamkannya Berjabat Tangan dengan Wanita Bukan Mahram

Tanya: Mengapa Islam mengharamkan laki-laki berjabatan tangan dengan wanita bukan mahram? Batalkah wudhu seorang laki-laki yang berjabat tangan dengan wanita tanpa syahwat?

Jawab : Islam mengharamkan hal itu karena termasuk salah satu fitnah yang paling besar. Jangan sampai seorang laki-laki menyentuh kulit wanita yang bukan mahram atau seluruh perkara yang memancing timbulnya fitnah. Karena itu, Allah memerintahkan menundukkan panda-ngan untuk mencegah mafsadat (kerusakan) ini. Ada pun orang yang menyentuh istrinya, maka wudhunya tidak batal, sekali pun hal itu dilakukan karena syahwat. Kecuali jika sampai mengeluarkan madzi atau mani. Jika ia sampai mengeluarkan mani, maka harus mandi dan jika yang dikeluarkan adalah madzi, maka ia harus berwudhu dan mencuci dzakarnya. (Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin) (lebih…)

Di antara yang harus ditundukkannya pandangan, ialah kepada aurat. kerana Rasulullah s.a.w. telah melarangnya sekalipun antara laki-laki dengan laki-laki atau antara perempuan dengan perempuan baik dengan syahwat ataupun tidak.

Sabda Rasulullah s.a.w.: “Seseorang laki-laki tidak boleh melihat aurat laki-laki lain, dan begitu juga perempuan tidak boleh melihat aurat perempuan lain, dan tidak boleh seorang laki-laki bercampur dengan laki-laki lain dalam satu pakaian, dan begitu juga perempuan dengan perempuan lain bercampur dalam satu pakaian.”[1] (Riwayat Muslim, Ahmad, Abu Daud dan Tarmizi)

Aurat laki-laki yang tidak boleh dilihat oleh laki-laki lain atau aurat perempuan yang tidak boleh dilihat oleh perempuan lain, iaitu antara pusar dan lutut, sebagaimana yang diterangkan dalam Hadis Nabi. Tetapi sementara ulama, seperti Ibnu Hazm dan sebahagian ulama Maliki berpendapat, bahawa paha itu bukan aurat.

Sedang aurat perempuan dalam hubungannya dengan laki-laki lain ialah seluruh badannya kecuali muka dan dua tapak tangan. Adapun yang dalam hubungannya dengan mahramnya seperti ayah dan saudara, maka seperti apa yang akan diterangkan dalam Hadis yang membicarakan masalah menampakkan perhiasan.

Ada yang tidak boleh dilihat, tidak juga boleh disentuh, baik dengan anggota-anggota badan yang lain.

Semua aurat yang haram dilihat seperti yang kami sebutkan di atas, baik dilihat ataupun disentuh, adalah dengan syarat dalam keadaan normal (tidak terpaksa dan tidak memerlukan). Tetapi jika dalam keadaan terpaksa seperti untuk mengubati, maka haram tersebut boleh hilang. Tetapi bolehnya melihat itu dengan syarat tidak akan menimbulkan fitnah dan tidak ada syahwat. Kalau ada fitnah atau syahwat, maka kebolehan tersebut boleh hilang juga justru untuk menutup pintu bahaya.

Batas dibolehkannya Melihat Aurat Laki-Laki atau Perempuan

Dan keterangan yang kami sebutkan di atas, jelas bahawa perempuan melihat laki-laki tidak pada auratnya, iaitu di bahagian atas pusar dan di bawah lutut, hukumnya mubah, selama tidak diikuti dengan syahwat atau tidak dikhuwatirkan akan menimbulkan fitnah. Sebab Rasulullah sendiri pernah memberikan izin kepada Aisyah untuk menyaksikan orang-orang Habasyi yang sedang mengadakan permainan di masjid Madinah sampai lama sekali sehingga dia bosan dan pergi [2].

Yang seperti ini ialah seorang laki-laki melihat perempuan tidak kepada auratnya, iaitu di bahagian muka dan dua tapak tangan, hukumnya mubah selama tidak diikuti dengan syahwat atau tidak dikhuwatirkan menimbulkan fitnah.

Aisyah meriwayatkan, bahawa saudaranya iaitu Asma’ binti Abubakar pernah masuk di rumah Nabi dengan berpakaian jarang sehingga tampak kulitnya. Kemudian beliau berpaling dan mengatakan:

“Hai Asma’! Sesungguhnya seorang perempuan apabila sudah datang waktu haidh, tidak patut diperlihatkan tubuhnya itu, melainkan ini dan ini — sambil ia menunjuk muka dan dua tapak tangannya.” (Riwayat Abu Daud)

Dalam hadis ini ada kelemahan, tetapi diperkuat dengan hadis-hadis lain yang membolehkan melihat muka dan dua tapak tangan ketika diyakinkan tidak akan membawa fitnah.

Ringkasnya, bahawa melihat biasa bukan kepada aurat baik terhadap laki-laki atau perempuan, selama tidak berulang dan menjurus yang pada umumnya untuk kemesraan dan tidak membawa fitnah, hukumnya tetap halal.

Salah satu kelapangan Islam, iaitu: Dia membolehkan melihat yang sifatnya mendadak pada bahagian yang seharusnya tidak boleh, seperti tersebut dalam riwayat di bawah ini:

“Dari Jarir bin Abdullah, ia berkata: Saya bertanya kepada Rasulullah s.a. w. tentang melihat dengan mendadak. Maka jawab Nabi: Palingkanlah pandanganmu itu!” (Riwayat Ahmad, Muslim, Abu Daud dan Tarmizi) — yakni: Jangan kamu ulangi melihat untuk kedua kalinya.

Saudara saudariku..katahuilah olehmu, bahwasanya pergaulan antara kamu dengan sebahagian kamu yang lain termatlah sangat besar pengaruhnya bagi akhlak dan terlebih agamamu. Maka hendaklah kamu berhati – hati, layaknya iblis yang sejak dahulu telah berjanji pada Allah Azza wa Jalla hendak menyesatkan ummat manusia. Demikian pula dengan manusia – manusia yang sesat lagi keluar dari jalur agama, niscaya tiadalah ia berkehendak sesat dengan sendirinya melainkan ia akan mencari dan mengumpulkan sebanyak – banyaknya teman agar kiranya juga sesat sebagaimana dirinya.

Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa salam bersabda;
“Seseorang itu tergantung agama temannya. Maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa temannya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Maka saudara – saudariku, janganlah sekali – kali kamu terperdaya dengan tipu muslihat iblis yang telah merajai segenap akhlak dan tingkah laku manusia. Bisik – bisik baying – baying kesesatan yang teramat halus gerangannya pada dirimu, demikianlah..mereka (iblis) menjadi – jadikan sesuatu yang buruk itu baik dalam perkataan maupun perbuatan adalah seolah tiada salahnya bagimu sampai kemudian engkau sesat lagi menyesatkan.

Rasulullah Shalallaahu’ alaihi wasalam bersabda;
“Jangan berteman, kecuali dengan orang mukmin, dan jangan memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa.” (HR. Ahmad dihasankan oleh al-Albani)

Jika ia seorang ahli maksiat, maka jauhilah ia..sedang jika ia adalah seorang alim lagi beramal ibadah yang baik maka hampirilah ia. Janganlah kamu takut untuk benar melainkan takutilah segala apa – apa yang kiranya hendak menyesatkanmu, sesungguhnya yang sedemikian itu adalah terlebih besar mudharatnya dari atas apa – apa yang kamu sangka – sangkakan.
Maka cintailah saudara saudarimu yang seiman dalam islam karena Allah Azza wa Jalla, niscaya engkau akan merasakan manis lagi nikmatnya iman yang Allah limpahkan atas kamu.

Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda;
“Sesungguhnya Allah pada Hari Kiamat berseru, ‘Di mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini akan Aku lindungi mereka dalam lindungan-Ku, pada hari yang tidak ada perlindungan, kecuali per-lindungan-Ku.” (HR. Muslim)

Dari Mu’adz bin Jabal Rodhiyallohu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wasalam bersabda; Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, “Wajib untuk mendapatkan kecintaan-Ku orang-orang yang saling mencintai karena Aku dan yang saling berkunjung karena Aku dan yang saling berkorban karena Aku.” (HR. Ahmad).

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam hadits Abu Hurairah Rodhiyallaahu ‘anhu , diceritakan, “Dahulu ada seorang laki-laki yang berkunjung kepada saudara (temannya) di desa lain. Lalu ditanyakan kepadanya, ‘Ke mana anda hendak pergi? Saya akan mengunjungi teman saya di desa ini’, jawabnya, ‘Adakah suatu kenikmatan yang anda harap darinya?’ ‘Tidak ada, selain bahwa saya mencintainya karena Allah Azza wa Jalla’, jawabnya. Maka orang yang bertanya ini mengaku, “Sesungguhnya saya ini adalah utusan Allah kepadamu (untuk menyampaikan) bahwasanya Allah telah mencintaimu sebagaimana engkau telah mencintai temanmu karena Dia.”

Anas bin malik Rodhiallaahu ‘anhu meriwayatkan, “Ada seorang laki-laki di sisi Nabi Shalallaahu alaihi wasalam. Tiba-tiba ada sahabat lain yang berlalu. Laki-laki tersebut lalu berkata, “Ya Rasulullah, sungguh saya mencintai orang itu (karena Allah)”. Maka Nabi Shalallaahu ‘alaihi wasalam bertanya “Apakah engkau telah memberitahukan kepadanya?” “Belum”, jawab laki-laki itu. Nabi bersabda, “Maka bangkit dan beritahukanlah padanya, niscaya akan mengokohkan kasih sayang di antara kalian.” Lalu ia bangkit dan memberitahukan, “Sungguh saya mencintai anda karena Allah.” Maka orang ini berkata, “Semoga Allah mencintaimu, yang engkau mencintaiku karena-Nya.” (HR. Ahmad, dihasankan oleh Al-Albani).

Dan hendaklah kamu jika sekiranya bertemu dengan saudara – saudarimu yang seiman dengan wajah yang cerah lagi mengkhiaskan kebaikan penuh cahaya senyum yang engkau pancarkan dari hatimu.

Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wasalam bersabda;
“Janganlah engkau rendahkan kebaikan itu walau sekecil apapun, meski hanya dengan menjumpai saudaramu dengan wajah berseri-seri.” (HR. Muslim dan Tirmidzi).

diriwayatkan oleh Aisyah Radhiallaahu ‘anha, bahwasanya “Allah mencintai kelemah-lembutan dalam segala sesuatu.” (HR. al-Bukhari).

“Allah itu Maha Lemah lagi Maha Lembut, senang kepada kelembut-an. Ia memberikan kepada kelembutan sesuatu yang tidak diberikan-Nya kepada kekerasan, juga tidak diberikan kepada selainnya.” (HR. Muslim)

Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wasalam bersabda;
“Saling berjabat tanganlah kalian, niscaya akan hilang kedengkian. Saling memberi hadiah lah kalian, niscaya kalian saling mencintai dan hilang (dari kalian) kebencian.” (HR. Imam Malik).

Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wasalam bersabda;
“Seorang mukmin itu tidak punya siasat untuk kejahatan dan selalu (berakhlak) mulia, sedang orang yang fajir (tukang maksiat) adalah orang yang bersiasat untuk kejahatan dan buruk akhlaknya.” (HR. HR. Tirmidzi, Al-Albani berkata “hasan”)

Dan hendaknya janganlah engkau bersangka – sangka yang buruk perihal saudara – saudarimu, karena sesungguhnya engkau tiada mengetahui kebenaran dari atas apa – apa yang engkau sangka – sangkakan.

Nabi Shalallaahu’ alaihi wasalam bersabda;
“Jauhilah oleh kalian berburuk sangka, karena buruk sangka adalah pembicaraan yang paling dusta” (HR.Bukhari dan Muslim).

Lagi engkau jagalah segala rahasia sekalipun aib yang engkau ketahui dari saudara – saudarimu dan berbaik – baiklah engkau dengannya sebagaimana yang di ajarkan atas kamu.

Anas Radhiallaahu anhu pernah diberi tahu tentang suatu rahasia oleh Nabi Shalallaahu ‘alaihi wasalam.Anas Radhiallaahu ‘anhu berkata, ” Nabi Shalallaahu’ alaihi wasalam merahasiakan kepadaku suatu rahasia. Saya tidak menceritakan tentang rahasia itu kepada seorang pun setelah beliau (wafat). Ummu Sulaim pernah menanyakannya, tetapi aku tidak memberitahukannya.” (HR. Al-Bukhari).

Alloh ta’ala berfirman;
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)
Sumber:
Buletin al-barkah edisi 06/thn1/1430

https://tausyah.wordpress.com/