Posts Tagged ‘Penyimpangan’

Masjid-e-NabviImam Ali r.a. Berada Dalam Tekanan

Melihat pasukan Syam mengacung-acungkan lembaran Al Qur’an, fikiran pasukan Imam Ali r.a. terpecah dalam berbagai pendapat. Yang tinggi kewaspadaan politiknya memperkirakan bahwa itu hanya tipu-muslihat belaka. Guna mengelabui pasukan Imam Ali r.a. sehingga situasi buruk yang mereka alami dapat diubah menjadi baik. Sedang yang dangkal pengertian politiknya menganggap, bahwa perbuatan pasukan Syam itu bukan tipu muslihat, melainkan benar-benar bermaksud jujur, mengajak kembali kepada ajaran dan perintah agama. Karena itu harus disambut dengan jujur. Ini jauh lebih baik daripada perang ber­kobar terus sesama kaum muslimin.

Selain itu ada pula kelompok yang hendak menunggangi si­tuasi itu agar peperangan cepat dihentikan. Mereka sudah jemu dengan peperangan dan sangat merindukan perdamaian.

Tidak selang berapa lama datanglah berduyun-duyun sejum­lah orang kepada Imam Ali r.a. Mereka menuntut supaya pepera­ngan segera dihentikan. Tuntutan mereka itu ditolak oleh Imam Ali r.a., karena ia yakin, bahwa apa yang diperbuat oleh orang-orang Syam itu hanya tipu-muslihat. Karena itu kepada mereka yang menuntut dihentikannya peperangan, Imam Ali r.a. menegaskan:

“Itu hanya tipu-daya dan pengelabuan! Aku ini lebih me­ngenal mereka daripada kalian! Mereka itu bukan pembela-pembe­la Al-Qur’an dan agama Islam. Aku sudah lama mengenal mereka dan me­ngetahui soal-soal mereka, mulai dari yang kecil-kecil sampai yang besar-besar. Aku tahu mereka itu meremehkan agama dan sedang meluncur ke arah kepentingan duniawi. Oleh sebab itu janganlah kalian terpengaruh oleh perbuatan mereka yang mengi­barkan lembaran-lembaran Al-Qur’an. Bulatkanlah tekad kalian untuk berperang terus sampai tuntas. Kalian sudah berhasil mema­tahkan kekuatan mereka. Mereka sekarang sudah loyo dan tidak lama lagi akan hancur!”

Mereka tetap tidak mau mengerti, bahwa itu hanya tipu-mus­lihat. Mereka mendesak terus agar perang dihentikan dan meng­ancam tidak mau mendukung Imam Ali r.a. lagi bila perang di­teruskan. Mereka bukan hanya sekedar menggertak dan meng­intimidasi, bahkan mereka sampai berani “memerintahkan” Imam Ali r.a. supaya mengeluarkan instruksi penghentian perang dan menarik semua sahabatnya yang masih berkecimpung di medan tempur.

Benar-benar terlalu! Imam Ali r.a. sampai “diperintah” su­paya cepat-cepat menarik .Al-Asytar yang sedang memimpin per­tempuran! Lebih dari itu. Mereka juga mengancam akan menang­kap dan menyerahkan Imam Ali r.a. kepada Muawiyah, jika ia tidak mau memenuhi tuntutan mereka! Tidak sedikit jumlah pa­sukan Imam Ali r.a. yang berbuat sejauh itu. Mereka bersumpah tidak akan meninggalkan Imam Ali r.a. dan akan terus mengepung­nya, sebelum Imam Ali r.a. melaksanakan “perintah” mereka.

Kedudukan Imam Ali r.a. benar-benar sulit, bahkan rawan dan gawat. Melanjutkan peperangan berarti membuka lubang per­pecahan. Menghentikan peperangan juga berarti membangkitkan perlawanan kelompok yang lain, yang tidak percaya kepada tipu ­muslihat musuh. Ini juga berarti perpecahan. Imam Ali r.a. benar-­benar “tergiring” ke posisi sulit akibat muslihat politik “tahkim” yang dilancarkan Muawiyah dan Amr.

Setelah kaum pembelot tak dapat diyakinkan lagi, Imam Ali r.a. terpaksa memanggil Al Asytar dan memerintahkan su­paya menghentikan peperangan. Pada mulanya Al Asytar menolak, karena ia tidak mengerti sebabnya Imam Ali r.a. sampai bertindak sejauh itu. Kepada suruhan Imam Ali r.a., Al Asytar berkata: “Bagaimana aku harus kembali dan bagaimana peperangan harus kuhentikan, sedangkan tanda-tanda kemenangan sudah tampak jelas! Katakan saja kepada Imam Ali, supaya ia memberi waktu kepadaku barang satu atau dua jam saja!”

Al Asytar membantah, sebab suruhan Imam Ali r.a. tidak menerangkan sama sekali sebab-sebabnya Imam Ali r.a. mengelu­arkan perintah seperti itu dan tidak dijelaskan juga bagaimana keadaan yang sedang dihadapi Imam Ali r.a. di markas-besarnya.

Waktu suruhan Imam Ali r.a. kembali dan melaporkan ja­waban Al Asytar, orang-orang yang sedang mengepungnya marah, gaduh, ribut dan berniat buruk terhadap Imam Ali r.a. Mereka ber­prasangka jelek. Kemudian mereka bertanya kepada Imam Ali r.a.: “Apakah engkau memberi perintah rahasia kepada Al Asytar supaya tetap meneruskan peperangan dan melarang dia berhenti? Jika engkau tidak segera dapat mengembalikan Al Asytar, engkau akan kami bunuh seperti dulu kami membunuh Utsman!”

Suruhan itu diperintahkan kembali untuk menemui Al Asytar. Agar ia cepat kembali, suruhan itu melebih-lebihkan keterangan kepada Al Asytar: “Apakah engkau mau menang dalam keduduk­anmu ini, sedang Ali sekarang lagi dikepung 50.000 pedang?”

“Apa sebab sampai terjadi seperti itu?” tanya Al Asytar yang ingin mendapat keterangan lebih jauh.

“Karena mereka melihat lembaran-lembaran Al Qur’an di­kibarkan oleh pasukan Syam,” jawab suruhan.

Sambil bersiap-siap untuk kembali menghadap Imam Ali r.a., Al Asytar berkata: “Demi Allah, aku sudah menduga akan terjadi perpecahan dan malapetaka pada waktu aku melihat lembaran-­lembaran Al Qur’an dikibarkan orang!”

Al Asytar segera pulang. Setiba di markas-besar ia melihat Imam Ali r.a. dalam keadaan bahaya. Anggota-anggota pasukan yang mengepung sedang mempertimbangkan apakah Imam Ali r.a. dibunuh saja atau diserahkan kepada Muawiyah. Saat itu ti­dak ada orang lain yang memberi perlindungan kepada Imam Ali r.a. kecuali dua orang puteranya sendiri Al Hasan r.a. dan Al Husein r.a. serta Abdullah Ibnu Abbas dan beberapa orang lain, yang jumlah kesemuanya tak lebih dari 10 orang.

Ketika melihat situasi yang sangat kritis itu, Al Asytar segera menerobos kepungan sambil memaki-maki mereka yang se­dang mengancam-ancam: “Celaka kalian! Apakah setelah mencapai kemenangan dan keberhasilan lantas kalian mau menghentikan du­kungan dan menciptakan perpecahan. Sungguh impian yang sangat kerdil. Kalian itu memang perempuan! Sungguh busuk kalian itu!”

Datanglah Al Asy’ats bin Qeis kepada Imam Ali r.a. lantas berkata : “Ya Amirul Mukminin, aku melihat orang-orang sudah menerima dan menyambut baik ajakan mereka (pasukan Syam) untuk mengadakan penyelesaian damai berdasarkan hukum Al Qur’an. Kalau engkau setuju, aku akan datang kepada Muawiyah untuk menanyakan apa sesungguhnya yang dimaksud dan apa yang diminta olehnya.”

“Pergilah, kalau engkau mau…!” jawab Imam Ali r.a.

Dalam pertemuannya dengan Muawiyah, Al Asy’ats berta­nya: “Untuk apa engkau mengangkat lembaran-lembaran Al Qur’ an pada ujung-ujung senjata pasukanmu?”

Muawiyah menerangkan: “Supaya kami dan kalian semua­nya kembali kepada apa yang diperintahkan Allah dalam Al-Qur’ an. Oleh karena itu utuslah seorang yang kalian percayai, dan dari fihak kami pun akan mengutus seorang juga. Kepada kedua orang itu kita tugaskan supaya bekerja atas dasar Kitab Allah dan jangan sampai melanggarnya. Kemudian, apa yang disepakati oleh dua orang itu kita taati bersama…”

Al Asy’ats menanggapi keterangan Muawiyah itu dengan ucapan: “Itu adalah kebenaran!”

Setelah itu Al Asy’ats dan beberapa orang ulama Al-Qur’an berkata kepada Imam Ali r.a.: “Kita telah menerima baik tahkim berdasar Kitab Allah…, dan kami sepakat untuk memilih Abu Musa Al Asy’ariy sebagai utusan!”

Imam Ali r.a. menolak: “Aku tidak setuju Abu Musa dite­tapkan sebagai utusan. Aku tidak mau mengangkat dia!”

Al Asy’ats menyanggah: “Kami tidak bisa menerima orang selain dia. Dialah yang telah mengingatkan kita mengenai kejadian yang sedang kita hadapi sekarang ini, yakni peperangan…”

Imam Ali r.a. masih tetap menolak: “Ya, tetapi aku tidak da­pat menyetujui dia. Ia dulu meninggalkan aku dan berusaha men­cegah orang supaya tidak membantuku. Kemudian ia lari, tetapi sebulan setelah itu ia kembali dan kujamin keselamatannya. Ini­lah Ibnu Abbas, orang yang akan kuangkat sebagai utusan!”

Al Asy’ats menolak sambil berdalih: “Demi Allah, kami tidak peduli. Kami menginginkan seorang yang netral, tidak condong kepadamu dan tidak condong kepada Muawiyah!”

Imam Ali r.a. mengajukan usul lain: “Kalau begitu, aku akan mengangkat Al Asytar!”

Dengan sinis Al Asy’ats bertanya: “Apakah bumi ini akan terbakar jika bukan Al Asytar yang kau angkat? Apakah kami hendak kau tempatkan di bawah kekuasaan Al Asytar?”

Imam Ali r.a. ingin mendapat penjelasan, lalu bertanya: “Kekuasaan yang bagaimana?”

Al Asy’ats menyahut: “Kekuasaan dia ialah hendak men­dorong kaum muslimin terus menerus mengadu pedang sampai ter­laksana apa yang diinginkan olehmu dan olehnya!”

Imam Ali r.a. masih berusaha menyakinkan: “Muawiyah ti­dak menyerahkan tugas itu kepada siapa pun selain orang yang di­percaya benar-benar olehnya, yaitu Amr bin Al Ash. Bagi orang Qureisy itu (Muawiyah) memang tidak ada yang paling baik bagi­nya kecuali orang seperti Amr…! Kalian akan diwakili oleh Ab­dullah bin Abbas. Biarlah dia yang menghadapi Amr. Abdullah mampu mengatasi kesulitan yang akan dihadapkan oleh Amr kepa­danya, sedangkan Amr tidak akan sanggup mengatasi kesulitan yang akan dihadapkan oleh Abdullah kepadanya. Abdullah mampu menangkis hujjah-hujjah yang diajukan oleh Amr, sedang­kan Amr tidak akan mampu menangkis hujjah-hujjah yang diaju­kan oleh Abdullah!”

Al Asy’ats tetap berkeras kepala. Ia berganti dalih: “Demi Allah, tidak…! Sampai kiyamat pun masalah tahkim itu tidak boleh dirundingkan oleh dua orang sama-sama berasal dari Bani Mudhar. Angkatlah orang yang dari Yaman (Abu Musa), sebab mereka sudah mengangkat orang dari Mesir (Amr)…!”

Imam Ali mengingatkan: “Aku khawatir kalu-kalau kalian akan terkelabui. Sebab kalau Amr sudah menuruti hawa nafsu­nya dalam urusan tahkim itu, ia sama sekali tidak takut kepada Allah!”

Dengan bersitegang leher Al Asy’ats berkata: “Demi Allah, kalau salah seorang dari dua perunding itu berasal dari Yaman, lalu mengambil beberapa keputusan yang tidak menyenangkan kita, itu lebih baik bagi kita daripada kalau dua orang perunding itu sama-sama berasal dari Bani Mudhar, walau mereka ini mengambil beberapa keputusan yang menyenangkan kita!”

Imam Ali r.a. minta ketegasan terakhir: “Jadi…, kalian tidak menghendaki selain Abu Musa?”

“Ya!” jawab Al Asy’ats.

“Kalau begitu, kerjakanlah apa yang kalian inginkan!” kata Imam Ali r.a. dengan hati masgul.

Beberapa orang pengikut Imam Ali r.a. kemudian berangkat untuk menemui Muawiyah guna mengadakan persetujuan tertulis mengenai prinsip disetujuinya tahkim oleh kedua belah fihak. Wakil fihak Kufah (Imam Ali r.a.) menuliskan dalam teks perja­njian sebuah kalimat: “Inilah yang telah disetujui oleh Amirul Mukminin…”

Baru sampai di situ Muawiyah cepat-cepat memotong: “Be­tapa jeleknya aku ini, kalau aku mengakui dia sebagai Amirul Mukminin tetapi aku memerangi dia!”

Amr bin Al Ash menyambung: “Tuliskan saja namanya dan nama ayahnya. Dia itu Amir (penguasa) kalian dan bukan Amir kami!”

Wakil-wakil fihak Kufah kembali menghadap Imam Ali r.a. untuk minta pendapat mengenai penghapusan sebutan “Amirul Mukminin”. Ternyata Imam Ali r.a. memerintahkan supaya sebut­an itu dihapus saja dari teks perjanjian. Tetapi Al Ahnaf cepat-ce­pat mengingatkan: “Sebutan Amirul Mukminin jangan sampai dihapus. Kalau sampai dihapus, aku khawatir pemerintahan (ima­rah) tak akan kembali lagi kepadamu untuk selama-lamanya. Ja­ngan…, jangan dihapus, walau peperangan akan berkecamuk te­rus!”

Setelah mendengar naselat Al Ahnaf itu untuk beberapa saat lamanya Imam Ali r.a. berfikir hendak mempertahankan sebutan “Amirul Mukminin” dalam teks perjanjian, tetapi keburu Al Asy’ats datang lagi dan mendesak supaya sebutan itu dihapuskan saja.

Dengan perasaan amat kecewa Imam Ali r.a. berucap: “Laa llaaha Illahllaah . . . Allaahu Akbar! Sunnah yang dulu sekarang disusul lagi dengan sunnah baru. Demi Allah, bukankah persoalan seperti itu dahulu pernah juga kualami? Yaitu waktu diadakan per­janjian Hudaibiyyah?!

“Waktu itu atas perintah Rasul Allah s.a.w. aku menulis da­lam teks perjanjian “Inilah perjanjian yang dibuat oleh Muhammad Rasul Allah dan Suhail bin Amr.” Ketika itu Suhail berkata: “Aku tidak mau menerima teks yang berisi tulisan ‘Rasul Allah’. Sebab kalau aku percaya bahwa engkau itu Rasul Allah, tentu aku tidak akan memerangimu! Adalah perbuatan dzalim kalau aku melarang­mu bertawaf di Baitullah, padahal engkau itu adalah Rasul Allah! Tidak, tuliskan saja ‘Muhammad bin Abdullah’, baru aku mau menerimanya…!”

“Waktu itu Rasul Allah memberi perintah kepadaku: ‘Hai Ali, aku ini adalah Rasul Allah dan aku pun Muhammad bin Ab­dullah. Teks perjanjian dengan mereka yang hanya menyebutkan Muhammad bin Abdullah tidak akan menghapuskan kerasulan­ku. Oleh karena itu tulis saja Muhammad bin Abdullah !’ Waktu itu beberapa saat lamanya aku dibuat bingung oleh kaum musyri­kin. Tetapi sekarang, di saat aku sendiri membuat perjanjian de­ngan anak-anak mereka, pun mengalami hal-hal yang sama seperti yang dahulu dialami oleh Rasul Allah s.a.w.…”

Teks perjanjian itu akhirnya ditulis juga tanpa menyebut kedudukan Imam Ali r.a. sebagai Amirul Mukminin. Al Asytar kemudian dipanggil untuk menjadi saksi. Sebagai reaksi Al Asytar berkata pada Imam Ali: “Anda akan kehilangan segala-galanya bila perjanjian ditulis seperti itu. Bukankah anda ini berdiri di atas ke­benaran Allah? Bukankah anda ini benar-benar yakin bahwa mu­suhmu itu orang yang memang sesat? Kemudian ia berkata kepa­da mereka: “Apakah kalian tidak melihat kemenangan sudah di­ambang pintu seandainya kalian tidak berteriak minta belas ka­sihan kepada musuh?!”

Al Asy’ats menyahut: “Demi Allah, aku tidak melihat ke­menangan dan tidak pula meminta belas kasihan kepada musuh. Ayohlah berjanji, bahwa engkau akan taat! Akuilah apa yang ter­tulis dalam teks perjanjian ini!”

Al Asytar menjawab: “Demi Allah, dengan pedangku ini Allah telah menumpahkan darah orang-orang yang menurut peni­laianku lebih baik daripada engkau, dan aku tidak menyesali darah mereka! Aku hanya mau mengikuti apa yang dilakukan oleh Ami­rul Mukminin. Apa yang diperintahkan, akan kulaksanakan, dan apa yang dilarang akan kuhindari, sebab perintahnya selalu benar dan tepat!

Pada saat itu datanglah Sulaiman bin Shirid menghadap Amirul Mukminin, sambil membawa seorang yang luka parah aki­bat pukulan pedang. Waktu Imam Ali r.a. menoleh kepada orang yang luka parah itu, Sulaiman berkata mengancam: “Ada orang yang sudah menjalani nasibnya dan ada pula yang sedang menung­gu nasib! Dan… engkau termasuk orang-orang yang sedang me­nunggu nasib seperti orang ini!”

Ada lagi yang datang menghadap, lalu berkata: “Ya Amirul Mukminin, seandainya engkau masih mempunyai orang-orang yang mendukungmu, tentu engkau tidak akan menulis teks perja­njian seperti itu. Demi Allah, aku sudah berkeliling ke sana dan ke mari untuk mengerahkan orang-orang supaya mau melanjutkan peperangan. Tetapi ternyata hanya tinggal beberapa gelintir saja yang masih sanggup melanjutkan peperangan!”

Ada orang lain lagi datang menghadap, lalu berkata: “Ya A­mirul Mukminin, apakah tidak ada jalan untuk membatalkan per­janjian itu? Demi Allah, aku sangat khawatir kalau-kalau perjanjian itu akan membuat kita hina dan nista!”

Imam Ali r.a. menjawab: “Apakah kita akan membatalkan perjanjian yang sudah ditulis itu? Itu tidak boleh terjadi!”

Imam Ali r.a. terpaksa menyetujui adanya perjanjian de­ngan Muawiyah mengenai prinsip penyelesaian damai berdasar­kan hukum Al Qur’an. Banyak di antara pengikutnya yang me­rasa kecewa dan menyesal, tetapi sikap tersebut sudah terlambat.

Karena sangat kecewa dan menyesal, mereka lalu berteriak kepada semua orang di mana saja: “Tiada hukum selain hukum Allah! Hukum di tangan Allah dan bukan di tanganmu, hai Ali! Kami tidak rela ada orang-orang yang akan menetapkan hukum terhadap agama Allah! Hukum Allah bagi Muawiyah dan pengikut-pengikutnya sudah jelas, yaitu mereka harus kita perangi atau harus kita tundukkan kepada pemerintahan kita! Kita telah terperosok dan tergelincir pada saat kita menyetujui tahkim! Sekarang kita telah bertaubat dan tidak mau lagi mengakui perja­njian itu! Dan engkau, hai Ali, tinggalkanlah perjanjian itu dan ber­taubatlah kepada Allah seperti yang sudah kita lakukan. Kalau tidak, kita tidak turut bertanggung jawab!”

Imam Ali r.a. bukanlah orang yang biasa menciderai perjanji­an, walau perjanjian itu akan mengakibatkan dirinya harus menanggung resiko kedzaliman orang lain. Kepada orang-orang yang menuntut supaya ia menciderai perjanjian dan segera bertau­bat, ia menjawab:

“Celakalah kalian! Apakah setelah kita sendiri mau menyetu­jui perjanjian itu lantas sekarang harus berbuat cidera? Bukankah Allah telah memerintahkan supaya kita menjaga baik-baik dan me­menuhi perjanjian? Bukankah Allah telah berfirman (yang arti­nya):

“Tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpahmu sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu per­buat” (S. An Nahl: 91).

Beberapa hari setelah peperangan berhenti, dalam salah satu khutbahnya Imam Ali r.a. berkata: “Perintahku masih kalian ikuti terus seperti yang kuinginkan sampai saat kalian dilanda perpecah­an fikiran. Demi Allah, kalian tahu bahwa peperangan itu sama sekali tidak menghilangkan kekhalifahanku. Itu masih tetap ada. Bahkan peperangan itu sebenarnya lebih memporak-porandakan musuh kalian. Di tengah-tengah kalian, kemarin aku masih meme­rintah, tetapi hari ini aku sudah menjadi orang yang diperintah. Kemarin aku masih menjadi orang yang bisa melarang, tetapi hari ini aku menjadi orang yang dilarang. Kalian ternyata sudah menja­di orang-orang yang lebih menyukai hidup, dan aku tidak dapat lagi mengajak kalian kepada apa yang tidak kalian sukai…”

Penyimpangan Abu Musa

Beberapa bulan kemudian, bertemulah dua orang perunding di sebuah tempat yang letaknya tidak jauh dari Shiffin. Amr bin Al Ash mewakili Muawiyah, dan Abu Musa Al Asy’ariy mewakili Imam Ali r.a. Dalam perundingan itu Amr dengan gigih bertahan membela Muawiyah, sedangkan Abu Musa berpendirian “asal da­mai” dan “asal selamat”. Dengan berbagai siasat dan muslihat, akhirnya Amr berhasil menyeret Abu Musa kepada suatu konsep­si yang meniadakan kekhalifahan Imam Ali r.a.

Berdasarkan prinsip “asal damai” dan “asal selamat”, Abu Musa mengusulkan supaya fihak Amr bersedia menerima Abdullah bin Umar Ibnul Khattab sebagai calon Khalifah yang akan meng­gantikan Imam Ali. Usul Abu Musa itu dijawab oleh Amr: “menga­pa anda tidak mengusulkan anak lelakiku yang bernama Abdul­lah? Anda kan tahu sendiri anakku itu seorang yang shaleh!”

Pembicaraan berlangsung terus. Setelah lama berunding akhir­nya dua orang itu sepakat untuk memberhentikan Imam Ali r.a. sebagai Khalifah dan memberhentikan Muawiyah sebagai pemim­pin di Syam dan menyerahkan kepada ummat Islam untuk me­milih Khalifah lain yang disukainya.

Begitu licinnya Amr mengelabui Abu Musa, sampai Abu Musa sendiri merasa adil dalam melaksanakan tugas sebagai wakil Imam Ali r.a. Selain itu Abu Musa sedikit pun tidak mempunyai ke­curigaan bahwa Amr akan menyimpang dari kesepakatan.

Selesai berunding, Amr dan Abu Musa sepakat akan meng­umumkan hasil perundingan itu di depan khalayak ramai. Untuk merealisasinya, oleh Amr diminta kepada Abu Musa supaya lebih dulu mengumumkan pemberhentian Imam Ali, kemudian barulah Amr akan mengumumkan pemberhentian Muawiyah. Seperti orang terkena sihir Abu Musa mengiakan saja apa yang diminta oleh Amr, kendatipun ia telah diperingatkan oleh Ibnu Abbas agar jangan bicara lebih dulu.

Di depan orang banyak Abu Musa mengumumkan, bahwa dua orang perunding telah bersepakat untuk memberhentikan imam Ali dan Muawiyah, demi kerukunan dan perdamaian di an­tara kaum muslimin. Setelah memberi penjelasan sedikit, dengan lantang Abu Musa berkata: “Sekarang aku menyatakan pember­hentian Ali sebagai Khalifah!”

Selesai Abu Musa, tampillah Amr bin Al Ash. Ia tidak berbi­cara seperti Abu Musa. Ia tidak mengumumkan bahwa dua orang perunding telah sepakat memberhentikan Imam Ali dan Muawi­yah. Amr hanya mengatakan: “Abu Musa tadi telah menyatakan dengan resmi pemberhentian Ali bin Abi Thalib dari kedudukan­nya sebagai Khalifah. Mulai saat ini ia tidak lagi menjadi Khali­fah! Sekarang aku mengumumkan bahwa aku mengukuhkan ke­dudukan Muawiyah sebagai Khalifah, pemimpin kaum muslimin!”

Mendengar kata-kata Amr, Abu Musa sangat marah. Ia tak mungkin lagi menjilat ludah yang suda jatuh. Abu Musa pergi meninggalkan tempat perundingan. Sejak itu namanya tidak per­nah disebut-sebut lagi dalam sejarah.

Beberapa waktu sebelum Abu Musa menghilang, ia masih menerima sepucuk surat dari Abdullah bin Umar Ibnul Khattab, sebagai reaksi terhadap usul pencalonannya, yang diucapkan Abu Musa dalam perundingan. Surat Abdullah tersebut sebagai berikut:

“Hai Abu Musa, engkau membawa-bawa diriku ke dalam per­soalan yang engkau sendiri tidak mengetahui bagaimana fikiran­ku mengenai hal itu. Apakah engkau mengira bahwa aku akan ber­sedia mencampuri urusan yang engkau mengira aku ini lebih ter­kemuka dibanding Ali bin Abi Thalib? Bukankah sudah sangat jelas bahwa ia jauh lebih baik daripada diriku? Engkau sungguh sia-sia, dengan begitu engkau sendirilah yang menderita rugi. Aku sama sekali bukan orang yang mengambil sikap permusuhan. Eng­kau benar-benar telah membuat marah Ali bin Abi Thalib dan Mu­awiyah karena ucapanmu mengenai diriku.

“Lebih-lebih Ali bin Abi Thalib, karena melihat engkau telah tertipu oleh Amr. Padahal engkau itu seorang pengajar Al Qur’an, seorang yang pernah menjadi utusan penduduk Yaman untuk menghadap Rasul Allah s.a.w., seorang yang pernah diberi keperca­yaan membagi-bagikan ghanimah pada masa Khalifah Abu Bakar dan Umar. Ternyata sekarang telah tertipu oleh ucapan-ucapan Amr bin Al Ash, sampai engkau lancang dan memecat Ali sebelum memecat Muawiyah!”

Menanggapi surat Abdullah bin Umar Ibnul Khattab terse­but, Abu Musa menulis: “Aku bukannya hendak mendekatimu dengan jalan mendudukkan dirimu atau membai’atmu sebagai Kha­lifah. Yang kuinginkan hanyalah keridhoan Allah s.w.t. Kesedia­anku memikul tugas ummat ini bukan suatu hal yang buruk atau tercela. Sebab ummat ini seolah-olah sedang berada di ujung pedang. Selama hidup sampai mati aku akan tetap mengatakan, bahwa yang kuinginkan ialah agar ummat ini selalu damai. Sebab jika tidak, ummat ini tidak akan dapat kembali kepada kebesaran semula.”

Seterusnya Abu Musa mengatakan: “Adapun mengenai ucap­anku tentang dirimu yang dapat membuat marah Ali dan Mua­wiyah, sebenarnya dua orang itu sudah lebih dulu marah kepadaku. Tentang tipu muslihat Amr terhadap diriku, demi Al­lah, tipu muslihatnya itu tidak merugikan Ali bin Abi Thalib dan juga tidak menguntungkan Muawiyah. Sebab syarat yang sudah kami tetapkan bersama ialah, bahwa kami hanya terikat oleh apa yang sudah disepakati bersama, dan bukan terikat oleh apa yang kami perselisihkan. Adapun mengenai apa yang engkau dilarang melakukannya oleh ayahmu, demi Allah, seandainya persoalan ini dapat diselesaikan, engkau akan terpaksa menerimanya!”

Dari surat jawaban Abu Musa kepada Abdullah itu jelaslah, bahwa Abu Musa benar-benar fikirannya dicekam rasa rindu per­damaian. Dan demi perdamaian ia tidak segan-segan menyimpang jauh dari tugas yang dipikulnya dan rela menjebloskan pemimpin­nya sendiri.

[1]Menurut Abu Umar bin Abdul Birr, dalam bukunya Al Isti’ab ha­laman 434, nama asli Nabighah ialah Salma. Nabighah adalah nama julukan dan ditambah dengan “binti Harmalah”. Ia berasal dari Bani Jilan bin Anazah bin Asad bin Rabi’ah bin Nazar. Sedangkan Al Mu­barrad dalam bukunya Al Kamil, mengatakan bahwa ibu Amr nama aslinya Laila.

https://tausyah.wordpress.com

Membentengi Ummat dari Sekulerisasi
dan Penyimpangan Pemikiran

Oleh : H Hartono Ahmad Jaiz

Di dalam sebuah Hadits yang panjang yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud diriwayatkan:

عن خذيفة بن اليمن رضي الله عنه قال: كان التاس يسألون رسول الله ص م عن الخير وكنت أسأله عن الشر مخافة أن يدركني فقلت، يا رسول الله، إنا كنا في جاهلية وشر، فجاءنا الله بهذا الخير فهل بعد هذا الخير من شر؟ قال: نعم، وفيه دخن . قلت: وما دخنه؟ قال: قوم يهدون بغير هديي.—وفي رواية: قوم يستنون بغير سنتي ويهدون بغير هديي.–  تعرف منهم وتنكر. قلت: فهل بعد ذالك الخير من شر؟ قال: نعم، دعاة على أبواب جهنم، من أجابهم إليها قذفوه فيها. قلت: يا رسول الله، صفهم لنا. قال: هم من جلدتنا ويتكلمون بألسنتنا. قلت: فما تأمرني إن أدركني ذلك؟  قال: تلزم جماعة المسلمين وإمامهم. قلت: فإن لم يكن لهم جماعة ولا إمام؟ قال: فاعتزل تلك الفرق كلها ولو أن تعض بأصل شجرة حتى يدركك الموت وأنت على ذلك. (رواه البخاري).

Artinya:

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman ra, ia berkata; “Adalah orang-orang bertanya kepada Rasulullah saw dari hal kebaikan, tetapi aku bertanya kepadanya dari hal kejahatan, –karena— khawatir apabila kejahatan itu akan menjangkauku, maka aku berkata: “Ya Rasulallah, sesungguhnya kami dulu dalam kejahiliyahan dan keburukan. Lalu Allah mendatangkan  kebaikan ini (iman-Islam) kepada kami, maka apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan?”

Beliau bersabda: “Ya, “

Aku bertanya: “Dan apakah setelah keburukan itu ada kebaikan (lagi)?”

Beliau menjawab: “Ya, dan di dalamnya ada kekeruhan.”

Aku bertanya: “Dan apa kekeruhannya?”

Beliau menjawab: “Suatu kaum yang mengambil petunjuk kepada selain petunjukku.”—Dan ada suatu riwayat—Suatu kaum yang mengambil sunnah/ perbuatan kepada selain sunnahku dan mengambil petunjuk kepada selain petunjukku–. Engkau kenal mereka itu dan engkau ingkari.”

Aku bertanya: “Maka apakah setelah kebaikan itu ada keburukan (lagi)?”

Beliau menjawab: “Ya. Juru-juru da’wah/ penyeru-penyeru   ada di atas pintu-pintu jahannam, barangsiapa yang menjawab seruan mereka itu, maka mereka lemparkan dia ke dalam jahannam.”

Aku berkata: “Ya Rasulallah, tunjukkanlah sifat-sifat mereka itu kepada kami.”

Beliau menjawab: “Mereka itu dari kulit kita dan mereka berbicara dengan bahasa-bahasa kita.”

Aku bertanya: “Maka apa yang engkau perintahkan kepadaku apabila aku menjumpai yang demikian itu?”

Beliau bersabda: “Kamu tetaplah berada di jama’ah muslimin dan imamnya.”

Aku bertanya: “Apabila mereka (Muslimin) tidak memiliki jama’ah dan tidak punya imam?”

Beliau bersabda: “Maka kamu singkirilah kelompok-kelompok (firqah-firqah) itu seluruhnya walau kamu (harus) menggigit akar pohon sampai kamu menemui kematian dan kamu (tetap) atas yang demikian itu.”[1]

Dari hadits yang panjang itu, Prof Ahmad Muhammad Jamal (almarhum) guru besar kebudayaan Islam pada Universitas Ummul Qura Makkah, mengutip sebagiannya, untuk dijadikan landasan dalam pendahuluan kitabnya yang berjudul Muftaroyaat ‘alal Islaam (Kebohongan-kebohongan terhadap Islam) yang diIndonesiakan menjadi Membuka Tabir Upaya Orientalis dalam Memalsukan Islam. Potongan Hadits yang ia kutip adalah: Bahwa sahabat Hudzaifah ibnu Al-Yamani pernah bertanya kepada Rasulullah saw.:

“Wahai Rasulullah, apakah sesudah kebaikan ini akan ada masa keburukan?” Jawab Rasulullah:  “Ya., yaitu munculnya kaum yang mengajak orang lain ke neraka jahannam. Barangsiapa memenuhi ajakannya berarti telah menyiapkan dirinya untuk masuk neraka.” Aku berkata: “Terangkanlah ciri-ciri mereka itu, wahai Rasulullah!” Jawab Rasul,  “Kulit mereka sama dengan kulit kita dan mereka bicara dengan bahasa kita.”

Beliau mengemukakan Hadits tersebut, karena menyesalkan sekali adanya orang-orang yang bersikap kebarat-baratan justru dari kalangan kita sendiri, warna kulitnya sejenis dengan kita, bahasanya sama dengan kita, bahkan semboyannya pun seperti semboyan kita. Namun mereka membelakangi sumber-sumber ajaran Islam berupa Al-Quran, Hadits, dan Sejarah Islam. Sebaliknya mereka hadapkan wajah dan hati mereka kepada sumber-sumber Barat. Kemudian mereka menuduh dan membohongkan Islam seperti yang diperbuat orang Barat.

Menurut Syeikh Ahmad Jamal, pengaruh itu masuk ke orang Islam lantaran salah satu dari 3 hal:

1. Karena mereka belajar di perguruan tinggi Barat, Eropa atau Amerika.

2. Karena mereka belajar di bawah asuhan orang-orang Barat di perguruan tinggi di dalam negeri mereka sendiri, atau

3. Karena mereka hanya membaca sumber-sumber dari Barat di luar tempat-tempat pendidikan formal dengan mengenyampingkan sumber-sumber Islami, karena tidak tahu atau karena ingin menyombongkan diri, yakni menganggap remeh terhadap sumber-sumber Islam.

Kalau sudah demikian, tanggung jawab siapa?

Kembali Syeikh Ahmad Jamal mengulasnya, bahwa itu adalah tenggung jawab kita –ummat Islam– juga. Kenapa? Karena, kitalah yang mengirim mereka ke sekolah-sekolah dan perguruan tinggi Barat dengan aneka alasan. Pengiriman mahasiswa itu tanpa membekali antisipasi untuk mencegah keraguan-raguan yang ditanamkan guru-guru Barat, dan kita tidak menyediakan untuk mahasiswa itu citra dan syiar Islam serta bentuk rumah tangga dan negara yang benar-benar Islami. Hingga kita tidak bisa meluruskan mereka ketika bengkok.

“Ya, kita mengirim mereka ke perguruan-perguruan Barat, namun kita tidak membangun rumah Islam buat mereka yang dapat melindungi mereka dari panah dan hembusan beracun orang-orang Barat.” tulis Ahmad Muhammad Jamal.

Dengan tandas, Ustadz itu mengemukakan bahwa di samping bahaya tersebut, masih pula kita mendatangkan tenaga-tenaga pengajar dari Barat untuk memberikan pelajaran di perguruan-perguruan dan universitas-universitas kita. Dapat dipastikan, tenaga-tenaga Barat itu menyampaikan kepentingan-kepentingan mereka sebagaimana yang dilakukan rekan-rekan mereka di negara Barat, yaitu meracuni dan menimbulkan rasa antipati terhadap Islam.

Faktor-faktor itu masih pula ditambah dengan kesalahan kita yaitu membuka pintu lebar-lebar untuk penyebaran kebudayaan Barat, sehingga orang kita begitu saja membenarkan apa-apa yang datang dari Barat dan menerimanya bula-bulat.

Akibat dari itu semua, Ustadz Ahmad Muhammad Jamal (68th) yang wafat di Kairo Mesir pada Hari Arafah 1413H itu mengemukakan peringatan yang cukup tandas:

“Dengan terjadinya hal-hal semacam itu maka juru da’wah Islam hanya dapat berteriak di lembah sunyi dan di padang yang lengang, bahkan mereka hanya dapat membacakan do’a kepada ahli kubur. Hanya sedikit pemuda Muslim yang diselamatkan oleh Allah. Yang sedikit inipun selalu dihalang-halangi kelompok jahat yang mayoritas itu dengan berbagai jalan. Setiap orang beriman ditekan, diintimidasi dan dirintangi dari menjalankan agama Alah.”

Menghancurkan Hukum Islam dan sistem Islam

Upaya Barat untuk menghancurkan Islam –setelah selama 6 abad orang Barat belajar kepada kaum Muslimin– mula-mula yang dihancurkan adalah hukum Islam. Hukum atau syari’at Islam telah berlangsung dan diterapkan sejak kepemimpinan Nabi Muhammad SAW sampai berkembangnya Islam ke berbagai negara di zaman kekhalifahan ataupun kesultanan.

Pada masa pemekaran Islam ke berbagai negara pada abad ketujuh, delapan, dan kesembilan Masehi, Hukum Positif Romawi mulai jatuh dan dilupakan orang, sejak munculnya Justinius pada abad keenam Masehi. Hukum positif itu tidak bisa diberlakukan lagi berabad-abad, kecuali pada abad ke sebelas oleh seorang murid yang sempat belajar hukum Islam di Andalus, yaitu Paus Jerbart seorang Prancis yang dikenal dengan nama Silvestre II (1024M). Ia menjadi murid orang-orang Islam Andalusia abad 11, kemudian kembali ke Prancis dan mengkaji hukum positif Romawi dengan memasukkan unsur-unsur syari’at Islam yang telah ia terima. Tetapi Paus Silvestre dan lainnya tidak berani mempublikasikan ajaran yang membawa pengaruh syari’at Islam itu di depan Gereja. Kemudian hukum positif Romawi yang dibawa oleh Paus dapat diterima oleh Gereja sebagai perkembangan hukum yang terselubung. [2]

Pada periode berikutnya, hukum Islam yang telah diberlakukan di berbagai negeri itu kemudian dipreteli (dilepas) diganti dengan hukum positif. Di saat hampir saja Inggris menduduki India (plus Pakistan dan Bangladesh) tahun 1791, Inggris sudah mengadakan gerakan untuk membatalkan syari’at Islam, kemudian orang Islam di sana mulai didesak untuk meninggalkan ajarannya dan menjalankan hukum mereka. Terjepitlah syari’at Islam pada saat itu, dan perstiwa inilah sebagai awal kemerosotan dunia Islam secara umum.

Di belahan lain di Mesir, berlangsung pula revolusi Prancis yang dipimpin oleh Napoleon Bonaparte hingga tahun 1798. Tiga tahun setelahnya (1801M) mereka keluar dari Mesir setelah di belakang mereka telah disiapkan adanya sejumlah pendukung, percetakan-percetakan dan pemuka-pemukanya termasuk para pemikirnya yang nantinya siap untuk menghembuskan pergolakan pemikiran yang “cemerlang”, seperti Muhammad Ali Basya yang menjadi agen Prancis dan mendapat dukungan dari semua warganya kecuali Raja Fuad (rahimahullah) hingga akhirnya Mesir menjadi negara bagian dari Eropa.

Gerakan mereka tidak lain hanyalah perlawanan terhadap kaum Muslimin di Jazirah Arab dan sebagai barisan oposisi gerakan pembaharuan Wahabi.

Adapun dengan Inggris dan Prancis mereka adalah agen-agennya, baik secara moral maupun intelektual. Di kalangan warga negaranya, Muhammad Ali Basya mewajibkan mereka untuk melaksanakan hukum Prancis pada th 1883, di Mesir. Dan ia mendirikan Mahkamah National sesuai dengan hukum Prancis. Tetapi setelah ia merasakan bahwa hukum itu kurang efektif dicabutlah dan diganti dengan hukum Belgia pada tahun 1887, dan setelah ia merasakan bahwa hal itu juga kurang efektif dicabutnya lagi dan diganti dengan hukum Itali pada tahun 1899, begitu seterusnya hingga dibentuk hukum positif Inggris yang berlaku untuk orang-orang Muslim India dan Sudan. Dan itulah yang menjadi hukum permanen di Mesir sebagaimana juga di empat bagian negara Eropa lainnya. Akan tetapi setelah Britania (Inggris) mulai melemah di Mesir, ditetapkan hukum Eropa di setiap lembaga pemerintahan di sana.

Kemudian pengaruh-pengaruh Barat menyeruak ke seluruh daerah-daerah besar lainnya sampai di Turki Utsmani.

Bangkitlah Kamal Ataturk pada tahun 1924M dan meruntuhkan kekhalifahan dan ia mengeluarkan momentum untuk menghapus Islam dengan segala bentuknya dan menegaskan agar seluruh manusia dapat meninggalkan aqidah dan syari’ah Islam.

Di sisi pemikiran lain, muncul dari kelompok mereka, Syeikh Ali Abdul Razik (Mesir), ia termasuk barisan partai Hizbul Ahrar Ad-Dusturiin dan pernah meninggalkan Hizbul Ummah (partai Inggris). Ia mempromosikan bukunya Al-Islam wa Ushulul Hukmi. [3]

Penyelewengan pemikiran dalam buku Ali Abdul Raziq

di antaranya:

1. Bahwa Syeikh Ali telah menjadikan syari’at Islam sebagai syari’at rohani semata-mata, tidak ada hubungannya dengan pemerintah dan pelaksanaan hukum dalam urusan duniawi.

2. Berkenaan dengan anggapannya bahwa agama tidak melarang perang jihad Nabi saw. demi mendapatkan kerajaan, bukan dalam rangka fi sabilillah, dan bukan untuk menyampaikan da’wah kepada seluruh alam.

Dia (Ali Abdul Raziq) menulis: “. dan jelaslah sejak pertama bahwa jihad itu tidak semata-mata untuk da’wah agama dan tidak untuk menganjurkan orang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”

3. Bahwa tatanan hukum di zaman Nabi saw. tidak jelas, meragukan, tidak stabil, tidak sempurna dan menimbulkan berbagai tanda tanya.

Katanya: “Sebenarnya kewalian Muhammad saw. atas segenap kaum mu’minin itu ialah wilayah risalah, tidak bercampur sedikitpun dengan hukum pemerintahan.”

Menurut sidang para ulama Al-Azhar yang menghakimi Syeikh Ali Abdul Raziq, cara yang ditempuh Syeikh Ali itu berbahaya, karena ia ingin melucuti Nabi saw. dari hukum pemerintahan. Sudah tentu anggapan Syeikh Ali itu bertentangan dengan bunyi tegas Al-Quranul Kariem yang menyatakan:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan  (membawa) kebenaran, supaya engkau menghukum antara manusia dengan apa yang diperlihatkan (diturunkan) Allah kepadamu itu.” (An-Nisaa’: 105).

4. Berkenaan dengan anggapannya bahwa tugas Nabi hanya menyampaikan syari’at lepas dari hukum pemerintahan dan pelaksanaannya.

Kalau anggapan itu benar tentunya ia merupakan penolakan terhadap semua ayat-ayat tentang pemerintahan hukum yang banyak terdapat di Al-Quran. Dan bertentangan juga dengan Sunnah Rasul saw. yang jelas dan tegas.

Masih banyak lagi penyimpangan pemikiran Ali Abdul Raziq, hingga ia diputuskan oleh forum alim ulama Al-Azhar dengan memecatnya dan mengeluarkan dari barisan ulama al-Azhar. Keputusan pemecatan itu dikeluarkan dalam persidangan terhadap Syeikh Ali Abdul Raziq yang dipimpin Abul Fadhal Al-Jizawi dengan anggota 24 ulama Al-Azhar tanggal 22 Muharram1344H/ 12 Agustus 1925M.

Ternyata harian “Leverpool Post” dari Inggris mengungkapkan keburukan dan kejahatan yang diatur oleh penjajah Inggris, dengan menggunakan Ali Abdul Raziq sebagai alat pelaksanaannya, dibantu oleh segerombolan orang dari Partai Hizbul Ahrar Ad-Dusturiin. Berita itu dimuat 13 Agustus 1925.[4]

Ummat kebingungan

Sejak terjadinya pemisahan antara penguasa dengan sumber-sumber hukum Islam di kalangan ummat Islam, di mana manusia merasa kebingungan karena diombang-ambingkan oleh hawa nafsunya; para ulama pun sudah tak mau peduli. Masing-masing sudah sibuk dengan urusannya sendiri dan mereka pandang itulah yang lebih aman dan selamat.

Ketika  terjadi kebangkitan Eropa baru, kondisi ummat sama sekali sudah tidak memiliki unsur-unsur kekuatan yang hakiki. Sebut saja akidahnya lemah dan tidak jelas lagi arahnya. Keyakinannya tidak mantap, akhlaqnya merosot, komitmennya hampir tak ada sama sekali. Pemikirannya jumud (beku), ijtihadnya macet total, kefaqihannya (kefahamannnya terhadap Islam) hilang, bid’ah merajalela, sunnah sudah diabaikan, kesadarannya menipis, sampai-sampai yang  namanya ummat tidak seperti ummat lagi. Maka orang Barat mengeksploitasi kesempatan tersebut dengan menjajah dan menguasai berbagai negeri dan menghabisi sisa-sisa unsur kekuatan pribadi ummat sampai keadaannya seperti apa yang kita rasakan sekarang. Penuh kehinaan tanpa memiliki wibawa sama sekali. Segala urusan kita berada di tangan musuh, dan nasib kita ditentukan oleh mereka para penjajah itu. Akhirnya kita minta bantuan kepada mereka untuk menyelesaikan segala problem yang timbulnya dari pribadi kita sendiri. [5]

Para penjajah benar-benar  memahami karakteristik ummat yang dijajahnya (yang keadaannya telah carut marut itu). Mereka memfokuskan perhatian pada pembentukan program pengajaran dan lembaga-lembaganya, dengan harapan dapat mengubah pemikiran-pemikiran kaum Muslimin sehingga siap untuk menerima pemikiran-pemikiran alam baru dan berusaha menyelaraskannya.

Para penjajah kafir tersebut beranggapan bahwa penerimaan kaum Muslimin terhadap realitas yang baru dapat mendorong mereka untuk mencapai kemajuan.

Hal itu mereka analogikan pada negara-negara Eropa yang tidak merencanakan programnya yang benar-benar mantap untuk mencapai suatu peradaban kecuali setelah melepaskan agamanya dan bebas dari belenggu gereja. Menurut mereka, semua agama hanya merupakan lembaga serta penghalang untuk mencapai tujuan.

Allah SWT berfirman:

كبرت ……….                                               إلا كذبا

“Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka, mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecualidusta.” (Al-Kahfi: 5).

Tuduhan-tuduhan mereka itu memang benar untuk agama mereka, namun sangat jauh untuk dikatakan benar terhadap dien Al-Islam. Karena, dengan Islam itu Allah menghendaki agar manusia hidup bahagia dan terwujud segala keinginannya.[6]

Penjajah menekan sistem pengajaran Islam

Dalam rangka usaha untuk memisahkan ummat dari eksistensi dan kehidupannya yang Islami, para penjajah kafir melakukan tekanan-tekanan dan hambatan terhadap sistem pengajaran Islam. Mereka juga menghembuskan pemikiran-pemikiran yang dapat merendahkan kedudukan dan menghina pelajar-pelajaran Islam.

Sebagai kebalikannya, mereka memperhatikan dan membantu murid-murid yang memasuki sekolah-sekolah baru tempat pendidikan mereka (penjajah). Di hadapan mereka  dihadapkan pintu masa depan yang gilang-gemilang dan akhirnya posisi kepemimpinan ummat menjadi tergantung kepada mereka (yang diasuh penjajah itu, pen).

Begitulah tekanan-tekanan yang dilancarkan terhadap sistem pendidikan Islam dan bahasa Arab. Semua jalan yang menuju ke sana tertutup rapat. Murid-murid yang tetap tekun hanyalah sebagian kecil saja. Biasanya mereka banyak menghadapi tekanan tekanan yang seringkali mengakibatkan mereka berhenti dan macet di tengah jalan. Kalau tidak, maka mereka dihadapkan pada perlakuan yang berbeda, dengan para lulusan sekolah mereka (penjajah).[7]

Sistem itu masih dilanjutkan pula oleh pemerintahan baru setelah lepas dari jajahan. Walaupun para pemegang tampuk pemerintahan (baru yang sudah merdeka) mengaku dirinya Muslim, namun cara-cara penjajah tetap diterapkan bahkan lebih intensip. Baik itu mengenai sistem hukum/ peradilan dan pemerintahan, maupun sistem pendidikan dan penerimaan pegawai. Istilah lokal Jawa, Londo Ireng (Belanda Hitam alias pribumi, namun kejamnya dan liciknya dalam penerapan kekafiran lebih Belanda /lebih menjajah dibanding Belanda penjajah).

Akibatnya, di samping yang mendapatkan kesempatan memimpin itu orang-orang yang tidak tahu Islam karena pendidikannya ala kafirin, masih pula sikap mereka pun sudah menjadi orang yang sekuler tulen, dalam bentuk keturunan orang Islam. Pola pikirnya sekuler, gaya hidupnya sekuler, pergaulan hidupnya sekuler, penerapan hukum dan pembelaannya ke arah sekuler, anti Islam.

Membentengi ummat dari sekulerisasi dan penyimpangan pemikiran

Tiba gilirannya, kita harus memikirkan, bagaimana membentengi ummat dari penyimpangan pemikiran, dari sekulerisasi dan penjerumusan ke arah kekafiran yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam secara beramai-ramai, walau mereka ada yang mengaku dirinya Muslim.

Ibarat satu kampung, keadaannya sudah ditenggelamkan dalam air seperti kampung-kampung di sekitar Waduk Kedung Ombo di Sragen-Boyolali Jawa Tengah di saat ada pemaksaan dari pemerintahan Orde Baru selama 32 tahun (1966-1997) pimpinan Soeharto tempo hari. Hanya saja penenggelaman dalam pembahasan ini adalah dari segi sistem hukum, sistem pendidikan, dan kebijakan-kebijakan yang menyingkirkan Islam. Maka yang masih tersisa tinggallah yang diselamatkan oleh Allah SWT.

Setelah tenggelam dalam pola pikir yang sekuler, yang tak Islami, lalu harus dibentengi dengan cara bagaimana?

Secara teori, kita harus menyingkirkan segala pemikiran yang tak sesuai dengan Islam. Ibarat air yang telah menggenangi, maka harus ditawu, dipompa untuk dibuang, dan dikuras. Jadi pola pikir sekuler itu harus dikikis, bahkan diperangi agar terkikis habis. Setelah itu diisi dengan pola pikir yang Islami.

Caranya?

Secara teori, sistem hukum dan sistem pendidikan harus dikembalikan ke Islam.

Caranya?

Para pemegang kekuasaan bidang hukum dan pendidikan terdiri dari orang-orang yang berpola pikir Islami. Tetapi itu hanya bisa ditempuh bila pemegang kendali kekuasaan adalah orang-orang yang berpola pikir Islami.

Untuk mencapai itu, mesti diadakan pendidikan yang intensip, yang secara herargis mencapai tingkatan sampai tinggi dan tetap punya komitmen yang tinggi terhadap pola pemikiran yang Islami.

Bukankah nantinya tetap kalah dalam bersaing, karena sistemnya tidak memungkinkan untuk merebut pasar kedudukan?

Di balik upaya manusia, dalam menegakkan kebenaran ini ada dukungan Allah SWT.

يأيها الذين أمنوا إن تنصروا الله ينصركم ويثبت أقدامكم.

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad/ 47:7).

Itu jaminan Allah SWT.

Di balik itu pula, Nabi SAW bersabda :

لينقضن عرا الإسلام عروة عروة فكلما انتقضت عروة تشبث الناس بالتي تليها وأولهن نقضا الحكم وأخرهن الصلاة. (رواه أحمد).

“Tali-tali Islam pasti akan putus satu tali demi satu tali. Maka setiapkali putus satu tali (lalu) manusia bergantung dengan tali yang berikutnya. Dan tali Islam yang pertama kali putus adalah hukum(nya), sedang yang terakhir (putus) adalah shalat.” [8]

Tali-tali hukum Islam ternyata telah diputus-putus oleh penjajah dan dilanjutkan oleh pemerintah pengganti penjajah, dan para tokoh maupun ilmuwan sekuler, musuh Islam, anti Islam, atau yang alergi Islam. Demikian pula tali-tali sistem pendidikan. Bahkan sistem budaya pula, mereka habisi dari Islam.

Kini hal yang jelas belum diputus adalah shalat (kecuali oleh kelompok sesat yang tak mewajibkan shalat, misalnya kelompok Isa Bugis ataupun Az-Zaitun yang punya sekolahan/ pesantren megah di Indramayu Jawa Barat yang tidak mewajibkan shalat, yang berarti telah menggerogoti Islam sampai batas terakhir), maka kita kembalikan apa yang putus-putus itu dengan membangun kembali shalat kita, dengan berjama’ah ke masjid-masjid dan meningkatkan kekhusyu’an. Dari situ, akan terbina insan-insan Muslim yang tangguh, yang mampu mengendalikan dirinya dari fahsya’ (kekejian) dan munkar. Karena Allah SWT berfirman:

إن الصلاة تنهى عن الفحشاء والمنكر. (العنكبوت: 45).

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar”. (QS Al-’Ankabuut 29:45).

Terwujudnya masyarakat yang bisa terhindar dari fahsya’ dan munkar itu hanyalah kalau diselenggarakan shalat berjama’ah di setiap kampung dan pemukiman, atau di mana saja Ummat Islam berada. Sebab, tanpa diselenggarakan shalat berjama’ah, maka Nabi saw memastikan masyarakat itu pasti dikuasai oleh syetan. Nabi saw bersabda:

ما من ثلاثة في قرية ولا بدو لا تقام فيهم صلاة الجماعة إلا استحوذ عليهم الشيطان فعليكم بالجماعة، فإنما يأكل الذئب من الغنم القاصية.

Tidaklah dari tiga orang di dalam suatu desa dan tidak pula di pedusunan yang tidak didirikan di kalangan mereka itu shalat berjama’ah kecuali terhadap mereka itu syetan menguasainya. Maka wajib atas kalian berjama’ah, maka sesungguhnya serigala itu hanya memakan kambing yang terpencil (dari kawannya).” [9]

Masyarakat Muslim yang aktif melaksanakan shalat berjama’ah insya Allah tidak dikuasai syetan, dan mereka itulah yang insya Allah mampu menghindarkan diri dari perbuatan fakhsya’ dan munkar. Sebaliknya, masyarakat yang tidak menegakkan shalat berjama’ah maka sudah dijelaskan oleh Nabi saw, pasti mereka dikuasai oleh syetan. Itu kalau tingkat kampung atau pedusunan. Lha kalau tingkatnya itu nasional, satu bangsa, yang jumlahnya 200 juta jiwa lebih, dan mayoritas/ kebanyakan mengaku dirinya Muslim, lantas mereka tidak aktif berjama’ah shalat di masjid-masjid dan mushalla, maka mafhum mukhalafah (pengertian tersirat) dari Hadits tersebut adalah: masyarakat itu bisa-bisa dikuasai oleh raja syetan (bukan sekadar syetan desa). Sedang syetan itu menurut Al-Qur’an ada yang dari jenis jin dan ada yang dari jenis manusia. Masih mending kalau dari jenis jin kafir, apabila dibacakan ayat kursi dan lain-lain maka pasti takut. Tetapi kalau syetan yang dari jenis manusia, walaupun dibacakan surat kursi tetap saja mendenges (tidak mempan), tidak takut. Maka ada perintah jihad memerangi orang kafir, musyrik, murtad, orang sekuler (sebab menurut Syeikh Muhammad Al-Ghazali Mesir, orang sekuler itu hukumnya murtad), dan munafiq; soalnya mereka tidak mempan dengan bacaan-bacaan berupa ayat-ayat yang ditakuti oleh syetan. Jadi harus dilawan dengan jihad.

Masyarakat Islam yang taat berjama’ah shalat itulah yang sanggup berjihad melawan syetan-syetan berupa manusia. Dan dari situlah tercipta masyarakat Islam yang utuh, yakni secara rohani mereka sanggup mencegah diri dari fahsya’ dan munkar, sedang dari segi fisik mereka sanggup berjihad untuk meninggikan kalimah Allah SWT, melawan manusia-manusia kafir, durjana, munafik, musyrik, ataupun murtad.

Dengan tumbuhnya sosok-sosok pribadi muslimin yang mampu mengendalikan diri dari fahsya’ dan munkar dan berani berjihad itulah maka mereka akan memiliki bashirah (pandangan hati) yang tajam, yang mampu membedakan mana yang haq dan mana yang bathil. Hanya saja semua itu harus dilandasi ilmu Islam yang memadai, sehingga bashirah yang tajam itu akan dibentengi oleh hujjah yang benar. Itulah pokok jalan keluarnya.

Al-hasil, jalan yang harus ditempuh adalah merestorasi pemahaman ummat dengan menanamkan aqidah shahihah, menegakkan shalat berjama’ah, mendisiplinkan da’wah Islamiyah, dan membentuk serta melaksanakan sistem pendidikan yang sesuai dengan Islam. Bila semua itu ditempuh maka pada masanya akan datang kebenaran ke dalam dada-dada Muslimin dan hancurlah kebathilan, tersingkir dari benak-benak Muslimin. Dari individu-individu Muslim, ke tingkat keluarga, ke tingkat kelompok, dan kemudian insya Allah akan ke tingkat yang lebih luas lagi, sehingga akan meratalah pemahaman yang benar tentang Islam. Kalau toh tidak sampai merata, insya Allah pribadi-pribadi yang terselamatkan itu sendiri berarti telah selamat dari kesesatan.

Semua itu harus dimulai. Ibda’ binafsik. Mulailah dengan dirimu sendiri lebih dulu. Mari.

Mudah-mudahan Allah memberikan kekuatan bashirah yang mampu mendeteksi bahwa yang bathil ataupun menyimpang itu tampak bathil, sehingga kita mampu menghindarinya. Amien.


[1] (HR Al-Bukhari,  Muslim, dan Abu Daud, shahih).

[2] (Dr Abdul Halim Uwies, Al-Islaamu kamaa yanbaghi an nu’mina bih, diindonesiakan menjadi Koreksi terhadap Ummat Islam, Darul Ulum Press, Jakarta, cet pertama, 1989, hal 82).

[3] (ibid, hal 84).

[4] (Dari Al-Milal wan Nihal oleh Asy Syahrastani, dikutip Fathi Yakan, Islam di tengah persekongkolan musuh abad 20, GIP cet 6, 1993, hal 113, lihat H Hartono A Jaiz, Bila Hak Muslimin Dirampas, Pustaka Al-Kutsar, 1994, hal 83-84).

[5] (Dr. Thoha Jabir Fayyadh al-‘Ulwani, Adabul Ikhtilaf fil Islam/ Beda Pendapat bagaimana menurut Islam, GIP, 1991, hal 135).

[6] (ibid, hal 139).

[7] (ibid, 140).

[8] (Hadits riwayat Ahmad dari Abi Umamah).

[9] HR Ahmad, Abu Daud, An-Nasaa’i, dan Al-Hakim, dan dia itu shahih.