Posts Tagged ‘Pemberontakan’

Holy QuranMenuju Nehrawan

Untuk berusaha menginsyafkan kaum Khawarij yang sudah mulai berangkat ke Nehrawan guna mempersiapkan pemberontak­an bersenjata, Imam Ali r.a. cepat-cepat menulis surat kepada mereka, dibawa oleh seorang kurir. Dalam surat tersebut Imam Ali r.a. menjelaskan seperti yang sudah pernah dikemukakan da­lam khutbah-khutbahnya. Sebelum menutup suratnya dengan kata-kata “Wassalaam”, Imam Ali r.a. menegaskan ajakannya: “Seterimanya surat ini, hendaknya kalian segera kembali ke­pada kami. Kami sudah siap untuk berangkat menghadapi musuh kami dan musuh kalian, dan kami tetap memegang pimpinan seperti semula!”

Surat Imam Ali r.a. itu cepat dijawab oleh kaum Khawa­rij dengan penuh ejekan dan tuduhan tak semena-mena: “Eng­kau marah bukan karena Allah. Engkau marah hanya karena diri­mu sendiri! Allah tidak akan menyelamatkan tipu-daya orang-­orang yang berkhianat!”

Setelah membaca surat jawaban Khawarij yang seperti itu, Imam Ali r.a. putus harapan mengajak mereka bersatu kembali. Tadinya ia berniat hendak berangkat menghadapi pasukan Muawi­yah di Shiffin, tetapi sekarang…, apa boleh buat! Daripada tertusuk dari belakang, lebih baik kaum Khawarij “dibe­nahi” lebih dahulu. Usaha memberi pengertian sudah ditempuh. Mengajak bersatu kembali telah dicoba. Ajakan untuk berjuang lagi melawan pasukan Syam sudah ditolak. Bahkan mereka seka­rang siap mengacungkan pedang. Bahaya harus ditanggulangi satu demi satu. Yang lebih ringan perlu disingkirkan lebih dulu.

Sekarang Imam Ali r.a. merobah niat semula. Menangguhkan perlawanan terhadap pasukan Syam dan menumpas kaum Khawa­rij lebih dulu. Pasukan disiapkan untuk berangkat mengejar kaum Khawarij. Lalu Imam Ali r.a. mengucapkan amanat yang berisi petunjuk dan komando:

Barang siapa meninggalkan perjuangan dan menjauhi perin­tah Allah, ia berada di tepi jurang bahaya, sampai Allah sendiri menyelamatkan dengan rahmat-Nya. Oleh karena itu, hai para ham­ba Allah, bertaqwalah kalian semua kepada-Nya. Perangilah orang­-orang yang bertindak memerangi kaum pengemban Amanat Allah. Perangilah mereka yang mengubah agama Allah, orang-­orang yang tidak mau mengerti Kitab Allah, dan tidak mau me­ngerti isyarat-isyarat Al-Qur’an, yaitu mereka yang tidak mau me­lihat persoalan dari sudut agama. Mereka itu sesungguhnya orang-­orang yang belum begitu lama memeluk agama Islam.”

“Demi Allah,” kata Imam Ali r.a. seterusnya, “seandainya mereka itu sampai dapat menguasai kalian, mereka pasti akan ber­buat seperti Kisra dan Kaisar (raja-raja Persia dan Romawi). Be­rangkatlah sekarang dan siap bertempur. Aku sudah mengirim utusan ke Bashrah agar saudara-saudara yang ada di sana berga­bung dengan kalian. Insya Allah, mereka akan segera datang!”

Waktu Imam Ali r.a. bersama sejumlah pasukan pengejar berangkat, kaum Khawarij sudah sampai di sebuah pedusunan yang bernama Harura. Walaupun segalanya telah siap untuk me­numpas pemberontakan bersenjata, tetapi Imam Ali r.a. masih tetap ingin supaya orang-orang Khawarij itu dapat diajak bersatu kembali dan berjuang bersama-sama melawan pasukan Syam.

Orang-orang yang tergabung dalam kelompok Khawarij itu banyak berasal dari prajurit-prajurit berpengalaman. Mereka mempunyai keyakinan yang sangat teguh dan keras sekali terhadap lawan. Lebih-lebih karena mereka semua adalah bekas pengikut

Imam Ali r.a. sendiri. Dengan ketangguhan luar biasa mereka telah menyumbangkan andil besar dalam perjuangan mematahkan pem­berontakan Thalhah dan Zubair. Dalam menghadapi pemberontak­an Muawiyah mereka pun telah memberikan jasanya, walau be­lum sepenuhnya.

Sudah menjadi kepribadian Imam Ali r.a., bahwa ia tidak melihat orang hanya dari segi kekurangan dan kesalahannya saja, tetapi juga tidak melupakan kebaikan dan kebenarannya. Selain itu, walau kelompok Khawarij sekarang berbalik menentang Imam Ali r.a., namun mereka itu tidak menyeberang atau berfi­hak kepada Muawiyah. Harus disayangkan, dalam keadaan sedang genting-gentingnya menghadapi lawan yang kuat, Syam, kelompok yang sangat ekstrim itu hendak menusuk dari belakang atau meng­gunting dalam lipatan.

Dengan berbagai perasaan yang serba resah seperti itu, Imam Ali r.a. masih ingin mencoba sekali lagi mengembalikan mereka tanpa kekerasan. Mereka hendak diajak bertukar-fikiran menge­nai masalah gawat yang sedang mencekam perhatian mereka, yaitu “tahkim”. Lewat seorang kurir Imam Ali r.a. minta supaya kaum Khawarij mengirimkan seorang wakil untuk diajak bertukar-fikir­an, dengan jaminan bahwa wakil itu akan dilindungi keamanan dan keselamatannya.

Dalam permintaannya itu Imam Ali r.a. menyatakan janji, jika hujjah (argumentasi) yang dikemukakan oleh wakil mereka itu kuat dan benar, Imam Ali r.a. bersedia mohon pengampun­an kepada Allah dan bertaubat atas kesalahannya menerima “tahkim”. Sebaliknya, jika ternyata hujjah Imam Ali r.a. yang kuat dan benar, mereka pun harus bersedia mohon pengampunan dan bertaubat kepada Allah s.w.t.

Permintaan Imam Ali r.a. dapat disetujui kaum Khawarij. Mereka mengirim Ibnul Kawwa sebagai wakil. Berlangsunglah dis­kusi panjang lebar. Masing-masing mengemukakan alasan dan hujjah untuk memperkuat dan membenarkan pendiriannya sen­diri-sendiri. Tetapi akhirnya dengan mengadu hujjah berdasar Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, Ibnul Kawwa tergiring ke su­dut sampai tidak dapat lagi menemukan alasan untuk menyanggah hujjah-hujjah yang dikemukakan Imam Ali r.a. secara terperinci.

Selesai diskussi, Ibnul Kawwa kembali kepada kaumnya. De­ngan jujur Ibnul Kawwa mengatakan, bahwa berdasar hujjah-huj­jah yang dikemukakan, Imam Ali r.a. berada di fihak yang benar menurut hukum Allah dan sunnah Rasul-Nya. Semua hujjah Imam Ali r.a. wajib diterima oleh mereka. Demikian kata Ibnul Kawwa kepada kaumnya.

Kaum Khawarij tak dapat menerima hasil diskusi yang telah berlangsung antara Imam Ali r.a. dengan Ibnul Kawwa. Ibnul Kaw­wa dikatakan bukan imbangannya untuk berdiskusi dengan Imam Ali r.a. Ibnul Kawwa tidak boleh diberi kesempatan lagi untuk menghadapi diskusi dengan Imam Ali r.a., karena ia tidak akan mampu menghadapi hujjah, logika dan kesanggupan ber­fikir Imam Ali r.a. Mereka menuntut pertukaran-fikiran seperti itu dihentikan saja.

Kaum Khawarij bersikeras untuk tetap melancarkan pembe­rontakan bersenjata dan tidak mau menerima apa yang datang dari Imam Ali r.a. Mereka tetap memandang Imam Ali r.a. sebagai orang yang sudah murtad dan menjadi kafir karena menerima “tahkim”. Oleh karena itu mereka memandang Imam Ali sebagai orang yang telah keluar dari rel agama dan harus diperlakukan sebagai musuh Allah! Begitulah pendirian kaum Khawarij yang sudah tidak dapat berubah lagi.

Betapa pilu hati Imam Ali r.a. menghadapi pendirian orang-­orang yang kemarin masih menjadi pendukung dan pembelanya, tetapi hari ini sudah berbalik menjadi lawan yang sangat keras kepala. Ia sangat menyesal karena mereka sekarang sudah dikuasai oleh fikiran kacau, sampai mereka buta melihat kebenaran.

Jalan Kekerasan

Akhirnya Imam Ali r.a. yakin tak ada jalan lain lagi yang bisa ditempuh, selain terpaksa harus menghadapi kekerasan de­ngan kekerasan. Lebih-lebih setelah ada kenyataan bahwa mereka ketika meninggalkan Kufah telah banyak merenggut nyawa kaum muslimin yang tidak berdosa. Tiap orang yang tidak sependapat dengan mereka dicap “kafir”. Setiap orang yang sudah terkena cap itu, oleh mereka dihalalkan darahnya, harta bendanya dan keluarganya.

Abdullah bin Khabbab bersama isterinya yang sedang hamil tua mereka bantai di tepi sungai bersama seekor babi, hanya karena waktu ditanya tentang sebuah hadits menjawab: “Ayah­ku menyampaikan sebuah hadits berasal dari Rasul Allah s.a.w.: ‘Sepeninggalku akan terjadi suatu fitnah (bencana). Dalam fitnah itu hati orang akan menjadi mati, sama seperti tubuhnya yang juga mati. Sore hari ia menjadi orang yang beriman dan di pagi hari ia menjadi orang kafir’…”

Sebelum membantai dua orang suami isteri itu mereka sudah membantai lebih dulu 3 orang wanita, hanya karena tidak sepen­dapat dengan mereka. Salah seorang di antara tiga wanita itu ialah: Ummu Saman, yang pada masa hidupnya Rasul Allah s.a.w. per­nah menjadi sahabat setia.

Sekalipun sudah sejauh itu tindakan kaum Khawarij, Imam Ali r.a. tidak meninggalkan kebiasaannya, yaitu lebih suka bersi­kap baik sebelum diserang. Kepada para sahabat dan pasukannya ia berpesan: “Janganlah kalian menyerang lebih dulu sebelum kalian diserang!”

Kini Imam Ali r.a. dan pasukannya telah tiba di Nehrawan. Sebelum pasukan Imam Ali r.a. datang, kaum Khawarij sudah tiba lebih dahulu dan terus siaga untuk mengangkat senjata. Jumlah anggota pasukan Khawarij lebih kurang 1.500 orang, termasuk anggota-anggota pasukan penunggang kuda. Orang-orang yang sekarang menjadi komandan mereka sejak dulu terkenal cekatan, pemberani, gigih dan pantang mundur dalam pertempuran.

Imam Ali r.a. telah mengatur pasukannya. Pimpinan sayap kanan diserahkan kepada Hujur bin Addiy, sedang pimpinan sayap kiri diserahkan kepada Syabatah bin Rab’iy. Pimpinan pasukan berkuda diserahkan kepada Ayyub Al Anshariy, sedang pasukan infantri (pejalan kaki) pimpinannya diserahkan kepada Abu Qa­tadah. Pengikut lainnya pimpinannya diserahkan kepada Qeis bin Sa’ad bin Ubadah. Imam Ali r.a. sendiri berada di bagian te­ngah memimpin pasukan Bani Mudhar.

Bendera tanda-aman kemudian ditancapkan tiangnya oleh Ayyub Al Anshariy sambil berseru kepada pasukan Khawarij yang sudah berada di hadapan pasukan Imam Ali r.a.: “Barang siapa dari kalian yang mendekati bendera ini, dijamin keselamat­annya. Barang siapa pergi masuk kota atau berangkat ke Iraq (Kufah) dan keluar dari gerombolan, akan dijamin keselamatan­nya! Kami dilarang menumpahkan darah kalian, selama kalian tidak menumpahkan darah kami!”

Pasukan berkuda Imam Ali r.a. kemudian maju menjadi baris­an terdepan. Sedang pasukan pejalan kaki memecah diri menjadi dua barisan, berjalan di belakang pasukan berkuda. Pasukan pa­nah mengatur barisannya sendiri secara berlapis. Imam Ali r.a. masih tetap mengingatkan perintahnya: “Jangan menyerang sebelum kalian diserang!”

Pasukan Khawarij mulai bergerak maju. Setelah agak dekat dengan pasukan Imam Ali r.a., pasukan Khawarij berteriak-teri­ak: “Tidak ada hukum selain Allah.” Sahut menyahut, silih berganti sampai sedemikian hiruk pikuk dan gaduh.

Mendengar teriakan-teriakan itu Imam Ali r.a. berkata ke­pada beberapa orang sahabat: “Kata-kata benar diartikan secara bathil. Yang mereka maksud sebenarnya tidak perlu ada imarah. Imarah (pemerintahan) tidak bisa tidak harus ada. Soalnya apakah imarah itu baik atau tidak!”

Pasukan Khawarij berganti teriakan. Sekarang yang satu ber­teriak kepada yang lain: “Mari berangkat ke sorga! Mari berangkat ke sorga!”

Di tengah-tengah gemuruhnya teriakan itu mereka serentak bergerak menyerang pasukan Imam Ali r.a. Mereka juga menem­patkan pasukan berkuda di barisan depan dan di belakangnya pa­sukan pejalan kaki. Serangan serempak mereka itu disambut de­ngan hujan anak panah yang dilepaskan pasukan pemanah Imam Ali r.a. yang diatur secara berlapis. Pasukan Khawarij terpaksa mundur meninggalkan banyak korban.

Menurut Ats Tsa’labiy, ketika ia menceritakan pengalaman­nya sendiri mengatakan: “Waktu kulihat Khawarij dihujani anak panah, mereka kelihatan seperti iring-iringan kambing yang ber­usaha menghalangi hujan dengan tanduk. Pasukan berkuda Imam Ali kemudian menikung dari arah kanan ke kiri. Imam Ali sendiri bersama sejumlah pasukan yang dipimpinnya melancarkan serang­an menerobos ke jantung pasukan Khawarij dengan pedang dan tombak. Demi Allah, kulihat belum sempat kaum Khawarij me­nyelesaikan serangan serentaknya, banyak sekali dari mereka yang sudah jatuh bergelimpangan.”

Masing-masing fihak bertempur mati-matian. Ketangguhan mental kaum Khawarij ternyata memang tinggi. Sungguhpun de­mikian tidak sanggup menangkis serangan pasukan Imam Ali r.a. Peperangan ini berakhir dengan kemenangan di fihak pasukan Imam Ali r.a. Kurang lebih pasukan Khawarij yang masih hidup se­banyak 400 orang. Semuanya dalam keadaan luka parah. Mereka itu orang-orang yang sangat keras dan berpendirian teguh. Sem­boyan “Menang atau Mati” sudah menjadi perhiasan mereka sehari-hari.

Imam Ali r.a. tidak sampai hati membiarkan mereka dalam keadaan luka parah dan tidak berdaya. Ia memerintahkan anggo­ta-anggota pasukannya, supaya semua mereka itu diserahkan ke­pada sanak famili atau handai tolannya, agar cepat memperoleh pengobatan dan perawatan. Semua yang ditinggalkan oleh kaum Khawarij diambil oleh pasukan Imam Ali r.a. Senjata-senjata dan hewan tunggangan dibagi-bagi, sedang barang-barang lain yang jelas dirampas oleh kaum Khawarij pada waktu lari dari Kufah, dikembalikan kepada para pemiliknya semula.

https://tausyah.wordpress.com

Sementara Imam Ali r.a. menanggulangi pemberontakan Khawarij di Nehrawan, Muawiyah meningkakan terus kekuatan­nya, mengkonsolidasi barisan serta mengokohkan kedudukannya. Mereka memperoleh waktu yang sangat cukup untuk memper­siapkan peperangan lebih lama lagi, berkat politik “tahkim” yang disusun oleh arsiteknya, Amr bin Al Ash.Sebaliknya, dengan muslihat “tahkim” itu, kekuatan Imam Ali r.a. sekarang menjadi berkurang. Ia ditinggalkan, bahkan dilawan oleh pengikut-pengikutnya sendiri, yang sudah memisah­kan diri sebagai kaum Khawarij. Dalam menumpas gerakan Kha­warij, Imam Ali r.a. telah kehilangan beberapa anggota pasukan yang cukup merugikan, walaupun berhasil mencapai kemenangan.

ArabianKrisis politik dan pemberontakan

Krisis politik yang menggoncangkan pemerintahan Khalifah Utsman r.a. di Madinah prosesnya di mulai dari Mesir. Dalam bukunya ‘Aisyah was Siyasah, halaman 48, Said Al-Afghani, sejarawan Islam terkemuka, menuturkan proses terjadinya pem­berontakan terhadap Khalifah Utsman r.a. sebagai berikut:

Abdullah bin Abi Sarah, yang dalam periode kekhalifahan Utsman r.a. menjadi Gubernur atau Kepala Daerah Mesir dengan kekuasaan penuh, banyak rnelakukan tindakan yang menimbulkan rasa tidak puas dan jengkel di kalangan penduduk. Keluhan pen­duduk Mesir itu mendapat tanggapan baik dari Khalifah Utsman r.a. Tetapi Khalifah sendiri tidak dapat bertindak tegas. Bahkan orang-orang Mesir yang mengadu kepada Khalifah, sekembalinya dari Madinah dibunuh oleh Abdullah bin Abi Sarah.

Peristiwa semacam itu mengugah kemarahan rakyat yang semakin memuncak. Hampir 700 orang bersenjata meninggalkan Mesir. Mereka menuju Madinah untuk menghadap Khalifah. Khali­fah didesak supaya bertindak terhadap Abdullah bin Abi Sarah dan memecatnya dari kedudukan sebagai Kepala Daerah.

Semua sahabat Rasul Allah s.a.w., termasuk Imam Ali r.a. dan Sitti ‘Aisyah r.a. turut mendesak Khalifah Utsman r.a. agar memenuhi tuntutan rakyat Mesir. Bagaimana pun juga alasan­nya tindakan Abdullah bin Abi Sarah itu bertentangan dengan hukum Islam dan tidak dapat dipertanggung jawabkan oleh Khalifah. Khalifah Utsman. r.a. menyatakan persetujuannya dan akan bertindak memecat Abdullah bin Abi Sarah.

Sejalan dengan pengangkatan Kepala Daerah baru (yang berangkat langsung dari Madinah ke Mesir), berangkat juga kurir khusus membawa surat rahasia untuk diserahkan kepada Abdullah bin Abi Sarah. Dalam surat rahasia itu terdapat tanda-tangan Khalifah Utsman r.a. Isinya memerintahkan Abdullah bin Abi Sarah supaya segera membunuh Kepala Daerah baru setibanya di Mesir. Kepala Daerah baru itu ialah Muhammad bin Abu Bakar Ash shiddiq.

Celakanya, kurir yang membawa surat rahasia itu dipergoki di tengah jalan oleh iring-iringan Kepala Daerah yang baru diangkat dan yang akan melakukan timbang terima jabatan dari Kepala Daerah yang lama. Terbongkarlah permainan politik yang sangat curang dan kotor itu. Kemarahan rakyat Mesir tambah meningkat dan mendidih.

Penduduk Mesir menuding bahwa Marwan Al-Hakam-lah biang keladi permainan politik yang sangat berbahaya itu. Mereka menuntut agar Khalifah Utsman r.a. menyerahkan Marwan kepada mereka atau menyingkirkan Marwan dari kekuasaan. Tetapi Kha­lifah bertahan. Banyak yang memberi nasehat kepada Khalifah supaya Marwan dikeluarkan saja dari pemerintahan. Nasehat para sahabat ini tidak dapat mengubah pendirian Khalifah yang tetap mempertahankan Marwan. Ia mengakui, bahwa Marwan memang membikin kesalahan, tetapi tidak usah diambil tindakan sejauh itu. Inilah yang mendorong timbulnya krisis politik yang dengan hebat akan melanda kota Madinah.

Sikap Khalifah Utsman r.a. itu seolah-olah katup-lemah dari suasana tertekan yang siap meledak. Dan benarlah, rasa tidak puas rakyat terhadap kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan r.a. akhirnya menggelegar dalam bentuk pemberontakan.

Peristiwa penggantian Kepala Daerah Mesir sebenarnya hanya merupakan sinyal saja bagai pecahnya pemberontakan terhadap Khalifah Utsman r.a. Api dalam sekam sudah lama membara, menunggu hembusan angin yang bertiup dari kantong seorang kurir yang membawa surat rahasia ke Mesir.

700 orang dari Mesir, berhasil memperoleh dukungan dari sebagian besar penduduk Madinah. Dengan senjata di tangan ma­sing-masing, mereka berbondong-bondong menuju tempat kediam­an Khalifah dan dengan ketat mengepungnya. Tindakan penge­pungan ini pada mulanya dimaksud untuk menekan Khalifah su­paya cepat-cepat mengambil langkah yang tegas terhadap orang-­orang kepercayaannya, yang selalu menjadi biang keladi timbulnya keresahan dalam masyarakat.

Pengepungan total dan ketat itu ternyata menimbulkan akibat yang dari hari ke hari makin buruk bagi kehidupan keluarga Khalifah. Yang paling cepat terasa ialah kekurangan air minum. Pada suatu hari dalam suasana kepungan rakyat itu masih ber­langsung dan tambah keras, Khalifah Utsman r.a. dari anjungan berteriak kepada kerumunan orang yang sedang gaduh dan hiruk­pikuk: “Adakah Ali di antara kalian?”

“Tidak!” dijawab dengan singkat dan dengan nada kesal oleh kerumunan orang yang berada di bawah anjungan.

“Apakah ada di antara kalian yang mau menyampaikan kepada Ali supaya kami bisa mendapat air minum?” teriak Khalifah Utsman r.a. pula.

Teriakan Khalifah Utsman r.a. itu bermaksud hendak mem­beritahu kepada rakyat yang memberontak, bahwa persediaan air minum bagi keluarganya. sudah habis. Teriakan terakhir dari Khalifah ini tidak disahuti sama sekali.

Setelah Imam Ali r.a. diberi tahu oleh seseorang, bahwa Khalifah dan keluarganya sangat membutuhkan air, tanpa ragu-­ragu ia memerintahkan supaya kepada keluarga Khalifah yang se­dang terkepung itu dikirim air 3 qirbah (kantong wadah air terbuat dari kulit kambing atau unta). Guna melaksanakan perintah itu, putera-putera Imam Ali r.a. sendiri, yaitu Al-Hasan dan Al-Husein membawa air ke rumah Khalifah. Berkat kewibawaan Imam Ali r.a., tidak ada orang yang berani menghalang-halangi pengiriman air itu.

Suasana yang tegang itu memang sangat menyulitkan kedudu­kan Imam Ali r.a. Di satu fihak ia menghormati Khalifah Utsman r.a. sebagai pemimpin ummat yang telah dibai’at secara sah. Khalifah Utsman r.a. adalah sahabat karibnya dan kawan seper­juangan dalam menegakkan Islam, dalam waktu yang panjang mereka terikat oleh tali persaudaraan, karena masing-masing pernah menjadi menantu Rasul Allah s.a.w. Tetapi di fihak lain, Khalifah yang telah lanjut usia itu tidak berdaya mengendalikan pembantu-­pembantunya. Bahkan kepada pembantu-pembantunya ia mem­berikan kepercayaan penuh.

Berfihak kepada Khalifah berarti membela Marwan dan kawan-kawannya yang terang dibenci oleh kaum muslimin. Ber­fihak kepada kaum muslimin yang memberontak, berarti me­lawan Khalifah yang sah. Usahanya untuk menyadarkan Kha­lifah tentang gawatnya akibat perbuatan pembantu-pembantunya, tidak pernah berhasil. Khalifah Utsman r.a. memang terkenal se­jak dulu sebagai orang yang keras dalam berpegang pada pendirian­nya.

Pertentangan batin benar-benar bergolak dalam hati Imam Ali r.a. Ia merasa wajib menyelamatkan keadaan dari bencana fitnah, tetapi apa daya jika fihak yang bersangkutan sendiri ti­dak menghiraukan nasehat-nasehat. Bahkan dalam keadaan yang sangat kritis itu Khalifah Utsman r.a. lebih dekat kepada pem­bantu-pembantunya. Sementara itu kaum pemberontak makin hari makin hilang kesabarannya. Blokade terhadap rumah ke­diaman Khalifah tidak berhasil mengubah pendirian pemimpin yang sudah lanjut usia itu.

Para sahabat Rasul Allah s.a.w. yang lain, seperti Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Al-‘Awwam dan Sa’ad bin Abi Waqqash, po­sisi mereka hampir sama dengan posisi Imam Ali r.a. Nasehat-nasehat mereka sudah tidak mempan bagi Khalifah. Padahal tuntutan kaum muslimin yang berontak benar-benar adil dan masuk akal.

Setelah pengepungan makin hari makin berlarut dan Khalifah juga tidak bersedia memenuhi tuntutan kaum pemberontak, akhir­nya kaum pemberontak mengambil jalan pintas. Mereka meren­canakan pembunuhan diam-diam terhadap Khalifah Utsman r.a.

Rencana kaum pemberontak ini cepat tercium oleh Imam Ali r.a. Ia segera memerintahkan dua orang puteranya, guna melin­dungi keselamatan Khalifah: “Berangkatlah kalian ke rumah Utsman. Bawa pedang dan berjaga-jagalah di ambang pintu rumah­nya. Jaga, jangan sampai terjadi suatu bencana menimpa Utsman!

Tindakan pencegahan yang dilakukan oleh Imam Ali r.a. di­ikuti oleh para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. yang lain. Thalhah dan Zubair juga memerintahkan puteranya masing-masing untuk bersama-sama Al-Hasan r.a. dan Al-Husein r.a. melindungi Khali­fah Utsman r.a.

Langkah-langkah pencegahan yang diambil oleh Imam Ali r.a. itu ditulis. oleh Said Al-Afghaniy dalam bukunya Aisyah was Siyasah. Bahkan kata penulis ini, ketika kaum pemberontak makin gusar dan menghujani rumah Khalifah dengan anak panah, beberapa putera sahabat Rasul Allah s.a.w. yang berjaga-jaga itu ada yang terluka, antara lain Al-Hasan bin Ali dan Muhammad bin Thalhah. Terlukanya putera-putera para tokoh Islam itu me­nimbulkan kekhawatiran kaum pemberontak, yang nampaknya di pimpin oleh Muhammad bin Abu Bakar Ash shiddiq.

“Kalau orang-orang Bani Hasyim datang,” kata Muhammad bin Abu Bakar , “dan melihat darah mengalir dari tubuh Al-Hasan dan Al-Husein, mereka pasti akan bertindak terhadap kita. Ren­cana kita akhirnya akan gagal.” Berdasarkan jalan fikiran yang de­mikian, diusulkan kepada teman-temannya agar Khalifah Utsman dibunuh saja secara diam-diam.

Gugur di tangan pemberontak

Proses terjadinya pembunuhan atas diri Khalifah Utsman r.a. ternyata banyak diteliti oleh para sejarawan, terutama para pe­nulis sejarah Islam. Ada beberapa versi yang muncul mengenai siapa sebenarnya yang membunuh Khalifah Utsman r.a. Said Al-Afghaniy, yang bukunya dianggap autentik oleh para sejarawan menunjuk bahwa Muhammad bin Abu Bakar Ash Shiddiq-lah yang merencanakan pembunuhan itu, tetapi yang melaksanakan ren­cana dua orang temannya.

Menurut Said Al-Afghaniy, Muhammad bin Abu Bakar ber­sama dua orang temannya memanjat dinding belakang kamar Khalifah. Ketika itu Khalifah sedang membaca Al-Qur’an dan hanya ditemani oleh isterinya yang bernama Na’ilah. Setelah ber­hasil memasuki kamar Khalifah, Muhammad Bin Abu Bakar langsung menyerbu Khalifah. Lalu janggutnya yang sudah memutih dipegangnya keras-­keras. Khalifah dengan nada sedih berkata: “Lepaskan janggutku, hai putera saudaraku! Jika ayahmu melihat perbuatan yang kau lakukan ini… aah, alangkah kecewanya dia!”

Hati Muhammad bin Abu Bakar justru terharu, cair dan luluh. Tanpa disadari, tangan yang sedang memegang erat janggut me­mutih itu mengendor perlahan-lahan dan lepaslah. Tetapi ma­lang, dua orang teman Muhammad yang turut masuk menyerbu tidak dapat menguasai hatinya masing-masing. Tombak pendek yang mereka pegang segera dihunjamkan ke lambung Khalifah Utsman r.a. Seketika itu juga Khalifah gugur. Na’ilah yang me­nyaksikan adegan itu melolong dan menjerit-jerit histeris bersama­an dengan melesatnya tiga orang pemuda itu lari melompat jende­la. Na’ilah terus menerus menjerit: “Amirul Mukminin terbunuh! Amirul Mukminin terbunuh!”

Dalam versi yang sama, tetapi dengan pendekatan yang sedikit berbeda, buku yang berjudul Al-Iqdul Farid, jilid III, halaman 78-82, juga mengungkapkan proses pembunuhan atas diri Khalifah Utsman r.a. Segera setelah mendengar berita tentang terbunuhnya Khalifah Utsman r.a., Imam Ali r.a. termasuk orang pertama yang menuju ke kamar maut. Duka hatinya yang mendalam terpancar terang sekali pada wajahnya ketika me­nyaksikan sahabatnya gugur secara menyedihkan. Tetapi wajah sendu itu kemudian berubah merah padam waktu ia menoleh ke­pada dua orang puteranya. “Bagaimana ia bisa terbunuh? Bukan­kah kalian berdua sudah kuperintahkan supaya berjaga-jaga di depan pintu rumahnya?” tegor Imam Ali r.a. kepada dua orang puteranya dengan suara membentak.

Tampaknya kemarahan Imam Ali r.a. demikian hebatnya, sampai kedua orang puteranya itu dipukulnya sendiri. Kemudian kepada Na’ilah, janda Khalifah Utsman r.a. yang sedang dirundung malang ia bertanya tentang siapa sebenarnya yang mem­bunuh Khalifah.

“Aku tak tahu,” jawab Na’ilah. “Yang kulihat ada dua orang tak kukenal masuk bersama Muhammad bin Abu Bakar…” ujarnya sambil menangis. Lalu diceritakan oleh Na’ilah apa yang telah dilakukan oleh Muhammad bin Abu Bakar.

Ketika Imam Ali r.a. mengecek keterangan Na’ilah kepada Muhammad bin Abu Bakar, putera Khalifah pertama itu hanya mengatakan: “Wanita itu tidak berdusta. Aku memang masuk ke kamar itu dengan rencana hendak membunuh Utsman. Tetapi pada saat ia mengingatkan aku tentang ayahku, aku sadar kembali dan bertaubat.”

Dengan nada sungguh-sungguh dan penuh penyesalan, putera Khalifah Abu Bakar r.a itu kemudian melanjutkan kata-katanya: “Demi Allah, aku tidak membunuhnya!”

Menanggapi keterangan Muhammad bin Abu Bakar itu, Na’ilah pada lain kesempatan berkata kepada Imam Ali r.a.: “Bah­wa apa yang dikatakan oleh Muhammad itu benar. Tetapi dialah yang membawa masuk dua orang pembunuh itu.”

Agak berbeda dengan dua riwayat tersebut di atas, versi lain lagi yang ditulis oleh sejarawan terkemuka juga, At-Thabariy, dalam bukunya Tarikh, jilid III, mengatakan pada halaman 421 sebagai berikut:

Seorang demi seorang memasuki kamar Khalifah yang sedang membaca Al-Qur’an. Tapi orang-orang itu mundur kembali karena ragu-ragu hendak membunuh Khalifah yang sudah lanjut usia. Kemudian masuklah Qutairah dan Saudan bin Hamran bersa­ma seorang lagi yang dipanggil dengan nama Al-Gafhiqiy. De­ngan sebatang besi yang dibawanya, Al-Gafhiqiy menghantam Khalifah Utsman. Qur’an yang sedang dibaca oleh Khalifah ditendang sampai jatuh di depan orangtua itu, kemudian me­merah dibasahi cucuran darah yang mengalir dari luka-luka Kha­lifah. Saudan segera maju untuk menebas leher Khalifah, te­tapi isterinya yang menyaksikan kejadian itu cepat-cepat ber­gerak maju untuk menahan pedang yang sedang diayun, sehingga putuslah jari-jarinya.

Habis melakukan pembunuhan kejam itu, tidak lupa mereka merampas benda-benda berharga yang ada dalam ruangan. Bah­kan mereka mencoba melucuti perhiasan yang sedang dipakai oleh anak-anak dan isteri Khalifah Utsman. Tetapi ketika mereka mendengar pekik dan jerit para wanita, terpaksa mereka buru-­buru lari keluar. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 18 bulan Dzulhijjah, tahun 35 Hijriyah, yaitu waktu Khalifah Utsman genap berusia 82 tahun.

Terbunuhnya Khalifah ketiga ini merupakan alamat buruk yang menandai akan terjadinya krisis baru yang lebih hebat lagi di kalangan ummat Islam masa itu. Bagi Imam Ali r.a. sendiri, peristiwa itu menempatkan dirinya pada kedudukan yang serba sulit. Sebab terbunuhnya Khalifah berarti terjadinya kekosongan pimpinan yang serius dan tak mudah diatasi. Sedang wilayah Islam sudah sedemikian luasnya membentang dari barat sampai ke timur.

Tokoh-tokoh seperti Abu Sufyan bin Harb, Muawiyah bin Abi Sufyan, Marwan bin Al-Hakam, Abdullah bin Abi Sarah dan lain-lain, itulah pada hakekatnya yang menggali liang kubur bagi Khalifah Utsman r.a. Mereka itulah sebenarnya yang harus ber­tanggung jawab atas terjadinya malapetaka yang menimpa diri Khalifah itu. Tetapi rasa tanggung jawab itu tidak ada pada mere­ka. Malahan setelah pemberontakan terjadi dan Khalifah mati terbunuh, mereka cepat-cepat membersihkan diri dan cuci tangan, serta menjadikan Imam Ali r.a. sebagai kambing hitam.

[1]Ayat yang memerintahkan isteri-isteri Rasul Allah s.a.w. tidak memperlihatkan mukanya dan mereka harus menutupi wajahnya (An Nur 31:2)

[2]Kemudian turunlah ayat yang melarang isteri Nabi kawin lagi sepeninggal beliau.

[3]Buku “As Sufyaniyyah”, tulisan Abu Utsman A1 Jahidz.

[4]Syarh Nahjul Balaghah, jilid VIII, halaman 252 – 255

bersambung..

https://tausyah.wordpress.com