Posts Tagged ‘Nabi’

New Delhi, India

Seorang professor bahasa dari ALAHABAD UNIVERSITY INDIA dalam salah satu
buku terakhirnya berjudul “KALKY AUTAR” (Petunjuk Yang Maha Agung) yang
baru diterbitkan memuat sebuah pernyataan yang sangat mengagetkan
kalangan intelektual Hindu.

Sang professor secara terbuka dan dengan alasan-alasan ilmiah, mengajak
para penganut Hindu untuk segera memeluk agama Islam dan sekaligus
mengimani risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw, karena menurutnnya,
sebenarnya Muhammad Rasulullah saw adalah sosok yang dinanti-nantikan
sebagai sosok pembaharu spiritual.

Prof. WAID BARKASH (penulis buku) yang masih berstatus pendeta besar
kaum Brahmana mengatakan bahwa ia telah menyerahkan hasil kajiannya
kepada delapan pendeta besar kaum Hindu dan mereka semuanya menyetujui
kesimpulan dan ajakan yang telah dinyatakan di dalam buku. semua
kriteria yang disebutkan dalam buku suci kaum Hindu (Wedha) tentang
ciri-ciri “KALKY AUTAR” sama persis dengan ciri-ciri yang dimiliki oleh
Rasulullah Saw.
(lebih…)

Biografi & Masa Kecil NABI MUHAMMAD S.A.W.

MAULUDIL RASUL

Firman ALLAH terhadap Muhammad s.a.w.:  “Bukankah  Allah  dapati   engkau yatim,  lalu  Ia  pelihara? Bukankah  Ia dapati  engkau  bingung,  lalu Ia  tunjuki? Dan  bukankah Ia dapati  engkau miskin, lalu Ia beri kecukupan?”

Bapanya,  Abdullah  bin   Abdul   Muttalib, sudah meninggal  dunia dua bulan sebelum   ia  dilahirkan.  Tetapi   apa  yang telah dikurniakan  Allah kepadanya di dalam keadaan yatim itu, adalah lebih dari ketiadaan yang disebabkan kepergian bapanya itu.

yaitu pemeliharaan  ibunya,  lalu  neneknya dan akhirnya  pamannya.  Dengan pertumbuhan   tubuh dan jiwa  sangat wajar,  ia menjadi seorang anak yang sangat  indah.

Mula-mula menjadi pengembala kambing, meningkat menjadi pedagang, menjadi terkenal di tengah orang  banyak  kerana tingkah lakunya yang indah menarik setiap insan yang                         mengenalinya, akhirnya  kahwin   mendapatkan  seorang jodoh  yang  amat ideal, lalu berpengaruh dan berwibawa, menjadi penyantun anak yatim dan orang-orang miskin.

Keyatimannya  telah  diganti  Allah  dengan ilmu,  pengalaman  dan  budipekerti.  Allah telah   mendidiknya  dengan  pendidikan yang amat  baik,  mempersiapkan  dirinya menjadi             pembawa tugas  kenabian, kerasulan dan pengembang  syariat, sebagai   penutup   dan  semua Nabi  dan Rasul.  Bahkan ia  dijadikan  Allah  menjadi makhluk  terbaik di tengah-tengah makhluk Allah yang  banyak.

Kemelaratan  yang dideritanya  semenjak kecil  telah diganti  Allah  dengan kecukupan, Allah memberkatinya  dalam perdagangannya,  dalam  kehidupannya  di tengah  ummat   manusia  dengan  nama yang  baik,   kepercayaan   manusia   atas dirinya dan  akhirnya  dengan kesempurnaan  agama yang diajarkannya.

Setelah  ia  mencapai  usia  enam  tahun, dia dibawa ibunya dalam  perjalanan  jauh dari Makkah  ke  Madinah  untuk mengunjungi keluarganya Bani  Najjar, yaitu  Ibu  saudara  dari ayahnya, dengan  maksud  mengunjungi rumah tempat bapanya  meninggal  dunia sebelum  ia  lahir,  juga menziarahi  kubur bapanya   itu.   Muhammad  dan ibunya menetap beberapa hari lamanya di tengah tengah keluarga bapanya itu dengan mendapat penghargaan yang sangat baik dari segenap tetangga.

Ketika  dalam perjalanan kembali ke Makkah, ibunya sakit, lalu meninggal dunia  dan di kuburkan  di  suatu tempat yang  bernama Abwa. Setelah  ibunya dikuburkan,  semua orang sudah kembali ke  rumah  masing-masing,  tinggallah Muhammad  bersama  pengasuhnya di dekat   kubur   itu,   terdiam tidak keluar kata, di  bawah terik  panas  matahari padang  pasir.   Sedang di   saat  itu   ia masih  anak kecil  berumur enam tahun. Airmatanya   mengalir  membasahi   kubur ibunya,  meratapi  yang  juga  sudah bertindak   sebagai  ganti bapanya. Dengan wafatnya ibunya  ini,  tinggallah dia tanpa bapa dan ibu, yatim piatu.

Setelah lama berdiam, dia menoleh keliling,  kiranya  tidak  seorang juga lagi manusia yang   berada di tempat  itu, selain Ummu  Aiman pembantunya.

Ummu Aiman lalu menyapu airmata yang mengalir di pipi  Muhammad, sambil berkata              menghiburkan dan menenangkan kalbunya, membangkitkan keberanian  hatinya menghadapi kesedihan   dan   kehidupan.  Muhammad berkata  kepada Ummu Aiman:  “Hai, Ummu  Aiman,  saya  sudah   kehilangan ibu  dan  bapa,  kehilangan  dua naungan yang menaungi  kepalaku,   sedangkan saya masih dalam perjalanan antara  dua negeri,   maka  ke  manakah   seharusnya saya  menuju   sekarang   ini,  hai   Ummu Aiman?   Apakah   meneruskan  perjalanan ke Makkah atau kembali ke Madinah?”

Mendengar  pertanyaan  ini,  meletuslah tangis Ummu  Aiman   yang  selama itu ditahannya.  Airmatanya  menghujan jatuh  membasahi tanah yang tandus itu. Peluh dinginnya mengalir di sekujur badannya,  suaranya menjadi  serak (parau)  ketika   dia mencoba  menjawab pertanyaan  Muhammad dengan pertanyaan pula:

“Ya,  ke manakah engkau ingin tuju,  hai Muhammad? Apakah kepada bapamu Abdul                Muttalib, penghulu  (ikutan) bangsa Quraisy,  agar engkau bertempat tinggal bersama  dia di bawah naungannya?”

Muhammad  segera bertanya:  “Mengapa engkau katakan bapaku  Abdul Muttalib? Bapaku?   Jangan dikatakan bapaku, tetapi katakanlah   nenekku, sebab bapaku  sudah  meninggal   dan hari   ini sudah meninggal pula  pengganti bapaku, yaitu   ibuku.   Ya,   Abdul   Muttalib   adalah nenekku, bapa dan  bapaku. Antara  saya dan nenekku  ada antara, di antara itulah ada    paman-pamanku, anak-anak dan paman-pamanku  itu, dan  saya   adalah salah  seorang dan mereka yang banyak itu.”

Dengan perkataan itu Muhammad membayangkan  akan   kedudukannya   di bawah neneknya, kerana dia  adalah  satu di  antara yang  banyak.  Jadi   tentu  lain dengan di bawah ibu atau   bapanya sendiri.

Begitulah Muhammad dengan pembantunya,  Ummu Aiman, meneruskan perjalanan ke Makkah,  lalu Muhammad  diserahkan oleh Ummu Aiman  kepada  kakeknya Abdul  Muttalib. Abdul  Muttalib sangat  sedih hatinya ketika  menerima   cucunya yang  amat dicintainya  itu.

Kecintaan Abdul Muttalib terhadap Muhammad dan  kecintaan Muhammad terhadap Abdul  Muttalib sama  setara. Demikianlah  secara pendek bayangan kehidupan kedua  insan  itu.  Tetapi dua  tahun kemudian,  datuknya yang tercinta   ini  pun  meninggal  dunia. Tidak  kurang kesedihan  Muhammad dengan  kematian   kakeknya  ini   dengan kematian ibunya,  malah   menurut Muhammad sendiri, adalah lebih sangat sedih.

Ketika  orang  ramai  sudah  pulang  ke rumahnya  masing  masing  setelah  selesai menguburkan datuknya,  Muhammad tetap berada  di  dekat  kubur   itu menangis   dan meratap  dengan airmata yang   tak putus-putusnya menitis    ke bumi yang  kering.  Berkata  ia: “Engkaulah bapaku  sesudah bapaku, engkaulah  yang  telah  dapat meringankan  penderitaan  hidupku,  yang selalu   mengusapkan   tangan  membelai kepalaku untuk  mengurangkan kesedihan    hati     dan penderitaanku sepeninggalan ibuku. Apakah sepeninggalanmu,   hai datuk,  aku   akan kembali menderita?”

Muhammad   lalu  memalingkan  mukanya kepada Ummu Aiman yang   berada  di belakangnya, lalu  berkata: “Sekarang ke mana aku harus  pergi, ya  Ummu Aiman?”

Mendengar   kata-kata  sedih   berkabung dan  pertanyaan   Muhammad itu,   Ummu Aiman   tidak    dapat   menahan  airmata sedihnya.  Ia  menangis  sambil meletakkan tangannya di  bahu Muhammad, lalu  berkata:   “Engkau bertanya  ke  mana, bukankah masih ada bapamu,  yaitu Abu  Talib,   ya Muhammad.”   Muhammad  terdiam sejenak,   Ialu berkata: “Bapaku Abu Talib,    hai Ummu Aiman?  Bukankah bapaku  sudah   meninggal,   begitu   juga bapa  dan bapaku? Bukankah Abu  Talib itu bapa saudaraku, saudara bapaku? Katakanlah   ia adalah bapa  saudaraku, hai  Ummu Aiman.  Beliau  adalah  seorang mulia,  terkemuka,  mempunyai kehebatan  dan  kemuliaan,   terpandang dalam  masyarakatnya.  Tetapi  bukankah beliau   seorang melarat, yang  banyak anak,   hai Ummu Aiman? Kalau aku engkau serahkan  kepada beliau,   tentu saja  beban beliau akan bertambah berat. Aku tak suka menambah beratnya beban seseorang.”

Abu Talib ini adalah seorang yang  sangat cinta  terhadap Muhammad,  tidak  kurang dari  kecintaan datuknya dan ibunya. Ummu  Aiman  menyerahkan Muhammad kepada bapa saudaranya, Abu Talib.

Karena  keadaan  kehidupan Abu  Talib yang melarat  itu,  maka Muhammad terpaksa      berusaha  bagaimana dapat meringankan beban   pamannya  itu.  Sekalipun  masih  kanak-kanak,  ia berusaha mendapatkan  penghasilan sekalipun   bagaimana   juga  kecilnya.  Ia menerima  upah  menggembalakan kambing orang dan kemudian  berdagang- dagang  kecil.

https://tausyah.wordpress.com

Abu Laits as-Samarqandi adalah seorang ahli fiqh yang masyur. Suatu ketika dia pernah berkata, ayahku menceritakan bahawa antara Nabi-nabi yang bukan Rasul ada menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara.

Maka salah seorang Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi diperintahkan yang berbunyi, “Esok engkau dikehendaki keluar dari rumah pada waktu pagi menghalau ke barat. Engkau dikehendaki berbuat, pertama; apa yang negkau lihat (hadapi) maka makanlah, kedua; engkau sembunyikan, ketiga; engkau terimalah, keempat; jangan engkau putuskan harapan, yang kelima; larilah engkau daripadanya.”

Pada keesokan harinya, Nabi itu pun keluar dari rumahnya menuju ke barat dan kebetulan yang pertama dihadapinya ialah sebuah bukit besar berwarna hitam. Nabi itu kebingungan sambil berkata, “Aku diperintahkan memakan pertama aku hadapi, tapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan.”
Maka Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika dia menghampirinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar buku roti. Maka Nabi itu pun mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Bila ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Dia pun mengucapkan syukur ‘Alhamdulillah’.

Kemudian Nabi itu meneruskan perjalanannya lalu bertemu pula dengan sebuah mangkuk emas. Dia teringat akan arahan mimpinya supaya disembunyikan, lantas Nabi itu pun menggali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu, kemudian ditinggalkannya. Tiba-tiba mangkuk emas itu terkeluar semula. Nabi itu pun menanamkannya semula sehingga tiga kali berturut-turut.

Maka berkatalah Nabi itu, “Aku telah melaksanakan perintahmu.” Lalu dia pun meneruskan perjalanannya tanpa disedari oleh Nabi itu yang mangkuk emas itu terkeluar semula dari tempat ia ditanam.

Ketika dia sedang berjalan, tiba-tiba dia ternampak seekor burung helang sedang mengejar seekor burung kecil. Kemudian terdengarlah burung kecil itu berkata, “Wahai Nabi Allah, tolonglah aku.”

Mendengar rayuan burung itu, hatinya merasa simpati lalu dia pun mengambil burung itu dan dimasukkan ke dalam bajunya. Melihatkan keadaan itu, lantas burung helang itu pun datang menghampiri Nabi itu sambil berkata, “Wahai Nabi Allah, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh itu janganlah engkau patahkan harapanku dari rezekiku.”

Nabi itu teringatkan pesanan arahan dalam mimpinya yang keempat, iaitu tidak boleh putuskan harapan. Dia menjadi kebingungan untuk menyelesaikan perkara itu. Akhirnya dia membuat keputusan untuk mengambil pedangnya lalu memotong sedikit daging pehanya dan diberikan kepada helang itu. Setelah mendapat daging itu, helang pun terbang dan burung kecil tadi dilepaskan dari dalam bajunya.

Selepas kejadian itu, Nabi meneruskan perjalannya. Tidak lama kemudian dia bertemu dengan satu bangkai yang amat busuk baunya, maka dia pun bergegas lari dari situ kerana tidak tahan menghirup bau yang menyakitkan hidungnya. Setelah menemui kelima-lima peristiwa itu, maka kembalilah Nabi ke rumahnya. Pada malam itu, Nabi pun berdoa. Dalam doanya dia berkata, “Ya Allah, aku telah pun melaksanakan perintah-Mu sebagaimana yang diberitahu di dalam mimpiku, maka jelaskanlah kepadaku erti semuanya ini.”

Dalam mimpi beliau telah diberitahu oleh Allah S.W.T. bahawa, “Yang pertama engkau makan itu ialah marah. Pada mulanya nampak besar seperti bukit tetapi pada akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta menahannya, maka marah itu pun akan menjadi lebih manis daripada madu.

Kedua; semua amal kebaikan (budi), walaupun disembunyikan, maka ia tetap akan nampak jua. Ketiga; jika sudah menerima amanah seseorang, maka janganlah kamu khianat kepadanya. Keempat; jika orang meminta kepadamu, maka usahakanlah untuknya demi membantu kepadanya meskipun kau sendiri berhajat. Kelima; bau yang busuk itu ialah ghibah (menceritakan hal seseorang). Maka larilah dari orang-orang yang sedang duduk berkumpul membuat ghibah.”

Saudara-saudaraku, kelima-lima kisah ini hendaklah kita semaikan dalam diri kita, sebab kelima-lima perkara ini sentiasa sahaja berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari. Perkara yang tidak dapat kita elakkan setiap hari ialah mengata hal orang, memang menjadi tabiat seseorang itu suka mengata hal orang lain. Haruslah kita ingat bahawa kata-mengata hal seseorang itu akan menghilangkan pahala kita, sebab ada sebuah hadis mengatakan di akhirat nanti ada seorang hamba Allah akan terkejut melihat pahala yang tidak pernah dikerjakannya. Lalu dia bertanya, “Wahai Allah, sesungguhnya pahala yang Kamu berikan ini tidak pernah aku kerjakan di dunia dulu.”

Maka berkata Allah S.W.T., “Ini adalah pahala orang yang mengata-ngata tentang dirimu.” Dengan ini haruslah kita sedar bahawa walaupun apa yang kita kata itu memang benar, tetapi kata-mengata itu akan merugikan diri kita sendiri. Oleh kerana itu, hendaklah kita jangan mengata hal orang walaupun ia benar.

https://tausyah.wordpress.com