Posts Tagged ‘Masa Kekhalifahan’

TITI-islamic-scienceKampanye Keji Muawiyah

Menyadari kekuatannya sendiri, Muawiyah tidak gugup menerima surat perintah Amirul Mukminin. Selesai dibaca, de­ngan sengaja surat itu dibiarkan begitu saja. Utusan Imam Ali r.a. dibiarkan menunggu sampai tidak tentu batas waktunya. Tiga bulan kemudian barulah Muawiyah membalas surat Imam Ali r.a.

Seorang dari Bani ‘Absy diperintahkan berangkat membawa surat jawaban untuk Imam Ali r.a. di Madinah. Untuk memperli­hatkan sikapnya yang tidak mengakui Imam Ali r.a. sebagai Kha­lifah dan Amirul Mukminin, pada sampul surat jawaban itu ditu­lis: “Dari Muawiyah bin Abi Sufyan kepada Ali bin Abi Thalib.”

Sebelum utusan itu berangkat ke Madinah, Muawiyah ber­pesan agar setibanya di kota tujuan, sampul surat itu diperlihat­kan dulu kepada orang banyak, sebagai pemberitahuan bahwa ia tidak mengakui Imam Ali r.a. sebagai Amirul Mukminin.

Pesan Muawiyah itu dilaksanakan sebagaimana mestinya oleh orang dari Bani ‘Absy. Secara demonstratif sampul surat Muawiyah diperlihatkan kepada orang banyak. Semua orang ingin tahu apa yang terjadi akibat pembangkangan Muawiyah. Orang beramai-ramai mengikuti perjalanan kurir itu menuju ke tempat kediaman Imam Ali r.a. Mereka juga ingin tahu apa sesung­guhnya isi surat tersebut. Kedatangan kurir Muawiyah disambut dengan tenang oleh Imam Ali r.a. Setelah dibuka, ternyata dalam sampul itu hanya terdapat secarik kertas yang bertuliskan “Bis­millaahhir Rahamanir Rahim”.

“Apa maksud ini?” tanya Amirul Mukminin kepada kurir dengan heran. “Selain ini apakah ada berita lain?”

Setelah didesak beberapa kali, akhirnya kurir mengatakan, bahwa ia ingin memperoleh jaminan atas keamanan dan keselamatannya lebih dulu, sebelum memberikan keterangan. Permintaan itu dikabulkan oleh Amirul Mukminin.

Setelah itu barulah kurir menceritakan apa yang sedang terjadi di Syam. Katanya: “Penduduk Syam telah bersepakat hen­dak menuntut balas atas kematian Utsman bin Affan… Mereka te­lah mengeluarkan jubah Khalifah Utsman yang berlumuran darah dan jari isterinya, Na’ilah, yang terpotong pada saat berusaha me­nahan ayunan pedang. Semuanya itu dipertontonkan kepada penduduk Syam. Melihat kenyataan ini penduduk di sana menangisi kematian Khalifah Utsman sambil mengelilingi jubahnya.”

Dari keterangan kurir itu dapatlah ditarik kesimpulan, bahwa atas usaha Muawiyah, penduduk Syam sekarang telah menuduh Imam Ali r.a. sebagai pelaku makar terhadap Khalifah Utsman r.a. dan mereka tidak akan membiarkan peristiwa ter­bunuhnya Khalifah Utsman r.a.

Apa yang dikatakan kurir Muawiyah benar-benar membang­kitkan kemarahan semua orang yang hadir. Hanya karena ke­bijaksanaan Imam Ali r.a. saja kurir itu terjamin keselamatan­nya. Orang-orang Madinah sangat gusar mendengar fitnah yang dilancarkan Muawiyah terhadap Amirul Mukminin. Lebih-lebih mereka yang dulu memberontak terhadap Khalifah Utsman r.a.

Semua yang dilakukan Muawiyah di Damsyik merupakan muslihat politik yang dirajut bersama seorang penasehatnya yang terkenal kaya dengan tipu-daya: Amr bin Al-Ash. Sejak Imam Ali r.a. terbai’at sebagai Khalifah, dua sejoli itu telah bertekad hendak menempuh segala cara guna menggagalkan usaha Imam Ali r.a. memantapkan kedudukannya sebagai Amirul Mukminin. Sebab Muawiyah yakin benar, bahwa Imam Ali r.a. tidak akan memberi kesempatan sedikit pun kepadanya untuk terus berkuasa di daerah. Untuk mencapai tujuan itu diperlukan satu dalih yang dapat menjatuhkan martabat Imam Ali r.a.

Guna keperluan itu Muawiyah dengan sengaja menda­tangkan jubah Khalifah Utsman r.a. dan kepingan-kepingan jari Na’ilah dari Madinah ke Damsyik. Hanya sekedar untuk diperton­tonkan kepada khalayak ramai. Jubah Khalifah yang berlumuran darah itu digantungkan dalam masjid Damsyik, sebagai bukti kematian Khalifah yang sangat mengerikan. Sedangkan kepingan-ke­pingan jari Na’ilah, isteri Khalifah Utsman r.a., diletakkan de­kat jubah sebagai saksi bisu.

Bersamaan dengan itu dikampanyekan secara besar-besaran kepada penduduk, bahwa orang yang membunuh Khalifah Utsman r.a. bukan lain hanyalah Imam Ali r.a. sendiri! Muslihat politik yang dijalankan oleh Muawiyah dan Amr bin Al-Ash itu ternyata berhasil mengelabui fikiran penduduk yang tidak memahami seluk ­beluk politik. Dengan cepat Syam dilanda suasana anti Imam Ali r.a. Ini merupakan awal persiapan pemberontakan bersenjata yang tak lama lagi akan dicetuskan Muawiyah.

Untuk menanggulangi fitnah sekeji itu, Imam Ali r.a. segera mengambil langkah-langkah seperlunya. Ia segera mengumpulkan kaum Muhajirin dan Anshar. Diantara mereka itu hadir dua orang tokoh terkemuka yang sedang beroposisi, yaitu Thalhah bin Ubai­dillah dan Zubair bin Al-‘Awwam. Setelah menjelaskan kegiatan fitnah yang dilakukan Muawiyah di Syam, Imam Ali r.a. menge­mukakan gagasan untuk mencegah meluasnya fitnah yang berba­haya itu.

Gagasan yang dikemukakan Imam Ali r.a. ternyata mendapat sambutan dingin. Bahkan Thalhah dan Zubair, yang merupakan tokoh-tokoh terdini membai’at Imam Ali r.a., dengan alasan hendak berangkat umrah ke Makkah, menyatakan tak dapat memenuhi ajakan Imam Ali r.a.

Persiapan Thalhah & Zubair

Penolakan terselubung yang dikemukakan Thalhah dan Zu­bair ternyata mempunyai ekor yang panjang dan tambah merawan­kan kedudukan Imam Ali r.a. sebagai Amirul Mukminin.

Sejak terbai’atnya Imam Ali r.a. kini kota Makkah menjadi tempat berkumpulnya tokoh-tokoh yang terkena tindakan pe­nertiban Amirul Mukminin, terutama mereka yang berasal dari kalangan Bani Umayyah. Di antara mereka termasuk Marwan bin Al-Hakam yang cepat-cepat meninggalkan Madinah. Kini Thalhah dan Zubair berangkat pula ke Makkah.

Ketika itu, Sitti Aisyah r.a. juga berada di Makkah setelah menunaikan ibadah haji. Beberapa waktu sesudah terbunuhnya Khalifah Utsman ia mendengar desas-desus, bahwa Thalhah bin Ubaidillah terbai’at sebagai Khalifah pengganti Utsman r.a. Mendengar selentingan itu ia segera mengambil putusan untuk ce­pat-cepat kembali ke Madinah.Tetapi di tengah perjalanan, ia me­nerima kabar pasti, bahwa yang terbai’at sebagai Khalifah bukan­nya Thalhah, melainkan Ali bin Abi Thalib r.a. Begitu mendengar kepastian demikian; ia membatalkan rencana pulang ke Madinah. Ia kembali ke Makkah. Hatinya sangat masgul mendengar berita itu.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa sejak terjadinya peris­tiwa yang dalam sejarah dikenal dengan nama Haditsul ifk,[1] Sitti Aisyah sukar berbaik-baik kembali dengan Imam Ali r.a. Pe­ristiwa itu terjadi ketika Rasul Allah s.a.w. melancarkan ekspedisi terhadap kaum kafir dari Banu Musthaliq. Dalam ekspedisi itu beliau mengajak isterinya, Sitti Aisyah. Dalam perjalanan pulang ke Madinah, Sitti Aisyah ketinggalan dari rombongan, gara-gara mencari barang perhiasannya yang hilang di perjalanan.

Untunglah ketika itu ia dijumpai oleh Shafwan bin Mu’at­thal, yang berangkat pulang lebih belakangan. Bukan main terke­jutnya Shafwan melihat Ummul Mukminin seorang diri di tengah-tengah padang pasir. Isteri Rasul Allah s.a.w. itu dipersilakan naik ke atas unta, sedangkan Shafwan sendiri berjalan kaki sambil menuntun. Siang hari mereka berdua baru memasuki kota Madi­nah dengan disaksikan oleh orang banyak. Semuanya heran menga­pa Ummul Mukminin mengendarai unta seorang pemuda yang tampan itu.

Mengenai kejadian itu Rasul Allah s.a.w. pada mulanya tidak pernah berfikir lebih jauh. Akan tetapi secara diam-diam peristi­wa itu menjadi pembicaraan orang ramai dan menjadi buah bibir yang dibisik-bisikkan orang dalam tiap kesempatan. Sumber utama yang menyiarkan desas-desus tuduhan Sitti Aisyah berbuat serong ialah seorang munafik bernama Abdullah bin Ubaiy. Desas-desus itu akhirnya sampai ke telinga Rasul Allah s.a.w. Berita santer ten­tang hal itu sangat menggelisahkan hati beliau. Kemudian beliau minta pendapat para sahabat mengenai hal itu.

Konon Usamah bin Zaid sama sekali tidak dapat memperca­yai benarnya desas-desus itu. Sedang Imam Ali r.a. waktu itu me­ngatakan: Ya Rasul Allah, masih banyak wanita lain! Imam Ali r.a. mengucapkan kata-kata itu hanya sekedar untuk berusaha menenangkan perasaan Rasul Allah s.a.w. yang tampak gelisah.

Ucapan itulah yang kemudian menjadi sebab retaknya hu­bungan baik antara Sitti Aisyah dengan Imam Ali r.a. Ucapan tersebut oleh Sitti Aisyah r.a. dirasakan sangat menusuk hati, sedang Imam Ali r.a. sendiri selama itu tidak pernah berubah sikap terhadap Sitti Aisyah r.a. Ia senantiasa hormat kepada Ummul Mukminin. Lebih-lebih setelah peristiwa Ifk itu terselesaikan dengan tuntas berdasarkan turunnya firman Allah s.w.t. yang me­negaskan, bahwa Sitti Aisyah bersih dari perbuatan nista seperti yang dituduhkan orang.[2]

Gara-gara Haditsul Ifk itulah, Sitti Aisyah r.a. sangat kecewa mendengar Ali bin Abi Thalib r.a. dibai’at sebagai Khali­fah oleh penduduk Madinah. Setibanya di Makkah ia berniat hen­dak menentang pembai’atan Ali bin Abi Thalib r.a. Ia berkata: “Utsman mati terbunuh secara madzlum. Oleh karena itu adalah kewajiban kaum muslimin untuk menuntut balas atas kematian­nya.”

Menurut Ummul Mukminin itu, Khalifah pengganti Utsman r.a. harus dilakukan pembai’atannya dalam suasana tertib dan damai. Ini sama artinya dengan mengatakan, bahwa Imam Ali r.a. dipilih hanya oleh kaum pemberontak yang telah membunuh Khalifah.

Pendirian Sitti Aisyah ini lebih diperkuat lagi oleh keda­tangan Thalhah dan Zubair. Dua orang itu di Makkah mengadakan kampanye menentang pembai’atan Imam Ali r.a. Pada mulanya banyak orang bertanya-tanya tentang pendirian aneh kedua orang itu. Bukankah mereka telah menyatakan bai’atnya kepada Imam Ali r.a.? Tanda-tanya di hati orang-orang itu mereka jawab dengan mengatakan, bahwa bai’atnya dilakukan karena terpaksa. Dipaksa oleh kekuatan bersenjata kaum pemberontak.

Bagaimana pun juga kini di Makkah telah tersusun kekuatan penentang Imam Ali r.a. Kekuatan ini makin hari makin bertam­bah. Mereka bertekad hendak memaksa Imam Ali r.a. melepas­kan kekhalifahannya. Dengan bantuan bekas-bekas pejabat yang terkena penggeseran dan penertiban; dengan dukungan orang-­orang Qureiys yang masih menyimpan rasa sakit hati; di perkuat la­gi oleh kehadiran Ummul Mukminin, sekarang Thalhah dan Zubair berhasil mengorganisasi pasukan bersenjata kurang lebih berke­kuatan 3.000 orang.

Kekuatan anti Imam Ali r.a. ini mempunyai tujuan ganda: menuntut balas atas kematian Khalifah Utsman r.a. dan menggu­lingkan Imam Ali r.a. dari kedudukannya sebagai Amirul Muk­minin. Mereka berpendirian, setelah dua tujuan itu tercapai baru­lah diadakan pemilihan Khalifah baru dalam suasana bebas dari tekanan dan paksaan.

Dua tantangan besar yang sedang dihadapi Imam Ali r.a. mewarnai kehidupan kaum muslimin pada tahun empat-puluhan Hijriyah. Damsyik dan Makkah menuduh Imam Ali r.a. sebagai orang yang setidak-tidaknya ikut bertanggungjawab atas terbu­nuhnya Khalifah Utsman r.a. Dalam periode itu praktis ummat Islam terpecah dalam tiga kelompok besar:

1. Kelompok Madinah di bawah pimpinan Imam Ali r.a.

2. Kelompok Damsyik di bawah pimpinan Muawiyah bin Abi Sufyan.

3. Kelompok Makkah di bawah pimpinan trio Thalhah, Zubair dan Sitti Aisyah r.a.

Masing-masing kelompok ditunjang oleh kekuatan bersen­jata yang cukup tangguh dan berpengalaman.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam, terjadi satu krisis politik sangat gawat yang mengarah kepada peperangan besar antara sesama kaum muslimin. Inilah gejala nyata dari apa yang pernah dikemukakan Rasul Allah s.a.w. semasa hidupnya, bahwa pada satu ketika akan terjadi fitnah besar di kalangan um­matnya, laksana datangnya malam gelap-gulita yang berlangsung dari awal sampai akhir.

Dalam menghadapi kelompok Madinah, tampaknya seakan-­akan kelompok Damsyik berdiri di belakang kelompok Makkah. Mengenai hal ini kitab Ali wa’Ashruhu, halaman 970-971, mengemukakan sebuah fakta sejarah. Fakta itu berupa sepucuk surat Muawiyah yang dikirimkan kepada Zubair melalui seorang dari Bani ‘Amir. Dalam surat itu Muawiyah antara lain menulis:

“Bismillaahir Rahmanir Rahim. Kepada hamba Allah Zubair Amirul Mukminin, dari Muawiyah bin Abi Sufyan. Salamun’ alaika, ammaa ba’ du: penduduk Syam telah kuajak bersama-sama membait’at anda. Mereka menyambut baik dan semuanya taat. Begitu taatnya seperti ternak. Sekarang hanya tinggal Kufah dan Bashrah saja yang belum anda dapatkan. Hendaknya anda jangan sampai kedahuluan Ali bin Abi Thalib. Sesudah kedua kota itu berada di tangan anda, Ali tidak akan mempunyai apa-apa lagi. Aku juga sudah membai’at Thalhah bin Ubaidillah sebagai peng­ganti anda di kemudian hari. Oleh karena itu hendaknya kalian supaya terang-terangan menuntut balas atas kematian Khalifah Utsman, dan kerahkanlah semua orang ke arah itu. Kalian supaya sungguh-sungguh giat dan cepat bergerak. Allah akan memenang­kan kalian dan tidak akan membantu musuh-musuh kalian.”

Surat tersebut oleh Zubair diperlihatkan kepada Thalhah, bahkan dengan dibacakan sekaligus. Tanpa disadari dua orang itu sudah masuk perangkap Muawiyah. Dengan siasat itu Muawiyah hendak melemahkan posisi Imam Ali r.a. dan menghabiskan ke­kuatan orang-orang lain yang mengincar kursi kekhalifahan.

bersambung..

Disadur dari buku :

Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a.
Oleh H.M.H. Al Hamid Al Husaini
Penerbit: Lembaga Penyelidikan Islam

https://tausyah.wordpress.com

Di samping ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya, Umar Ibnul Khattab r.a. terkenal sebagai orang yang bertabiat keras, tegas, terus terang dan jujur. Sama halnya seperti Abu Bakar Ash Shiddiq r.a., sejak memeluk Islam ia menyerahkan seluruh hidupnya untuk kepentingan Islam dan muslimin. Baginya tak ada kepentingan yang lebih tinggi dan harus dilaksanakan selain perintah Allah dan Rasul-Nya.

Kekuatan fisik dan mentalnya, ketegasan sikap dan keadilan­nya, ditambah lagi dengan keberaniannya bertindak, membuat­nya menjadi seorang tokoh dan pemimpin yang sangat dihormati dan disegani, baik oleh lawan maupun kawan. Sesuai dengan tau­ladan yang diberikan Rasul Allah s.a.w., ia hidup sederhana dan sangat besar perhatiannya kepada kaum sengsara, terutama mereka yang diperlakukan secara tidak adil oleh orang lain.

Bila Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. menjadi Khalifah melalui pemilihan kaum muslimin, maka Umar Ibnul Khattab r.a. dibai’at sebagai Khalifah berdasarkan pencalonan yang diajukan oleh Abu Bakar r.a. beberapa saat sebelum wafat. Masa kekhalifahan Umar Ibnul Khattab r.a. berlangsung selama kurang lebih 10 ta­hun.

Sukses dan Tantangan

Di bawah pemerintahannya wilayah kaum muslimin bertam­bah luas dengan kecepatan luar biasa. Seluruh Persia jatuh ke tangan kaum muslimin. Sedangkan daerah-daerah kekuasaan By­zantium, seluruh daerah Syam dan Mesir, satu persatu bernaung di bawah bendera tauhid. Penduduk di daerah-daerah luar Semenan­jung Arabia berbondong-bondong memeluk agama Islam. Dengan demikian lslam bukan lagi hanya dipeluk bangsa Arab saja, tetapi sudah rnenjadi agama berbagai bangsa.

Sukses gilang-gemilang yang tercapai tak dapat dipisahkan dari peranan Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. sebagai pemimpin. Ia banyak mengambil prakarsa dalam mengatur administrasi pemerintahan sesuai dengan tuntutan keadaan yang sudah ber­kembang. Demikian pula di bidang hukum. Dengan berpegang te­guh kepada prinsip-prinsip ajaran Islam, dan dengan memanfaat­kan ilmu-ilmu yang dimiliki para sahabat Nabi Muhammad s.a.w., khususnya Imam Ali r.a., sebagai Khalifah ia berhasil men­fatwakan bermacam-macam jenis hukum pidana dan perdata, disamping hukum-hukum yang bersangkutan dengan pelaksanaan peribadatan.

Tetapi bersamaan dengan datangnya berbagai sukses, seka­rang kaum rnuslimin sendiri mulai dihadapkan kepada kehidupan baru yang penuh dengan tantangan-tantangan. Dengan adanya wilayah Islam yang bertambah luas, dengan banyaknya daerah­-daerah subur yang kini menjadi daerah kaum muslimin, serta dengan kekayaan yang ditinggalkan oleh bekas-bekas penguasa lama (Byzantium dan Persia), kaum muslimin Arab mulai berke­nalan dengan kenikmatan hidup keduniawian.

Hanya mata orang yang teguh iman sajalah yang tidak silau melihat istana-istana indah, kota-kota gemerlapan, ladang-ladang subur menghijau dan emas perak intan-berlian berkilauan. Kaum muslimin Arab sudah biasa menghadapi tantangan fisik dari musuh-musuh Islam yang hendak mencoba menghancurkan mereka, tetapi kali ini tantangan yang harus dihadapi jauh lebih berat, yaitu tantangan nafsu syaitan, yang tiap saat menggelitik dari kiri-kanan, muka-belakang.

Tantangan berat itulah yang mau tidak mau harus ditanggu­langi oleh Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. Berkat ketegasan sikap, kejujuran dan keadilannya, dan dengan dukungan para sahabat Rasul Allah s.a.w. yang tetap patuh pada tauladan beliau, Khalifah Umar r.a. berhasil menekan dan membatasi sekecil-­kecilnya penyelewengan yang dilakukan oleh sementara tokoh kaum muslimin. Pintu-pintu korupsi ditutup sedemikian rapat dan kuatnya. Tindakan tegas dan keras, cepat pula diambil terh       a­dap oknum-oknum yang bertindak tidak jujur terhadap kekayaan negara. Sudah tentu ia memperoleh dukungan yang kuat dari se­mua kaum muslimin yang jujur, sedangkan oknum-oknum yang berusaha keras memperkaya diri sendiri, keluarga dan golongannya, pasti melawan dan memusuhinya.

Selama berada di bawah pemerintahan Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a., musuh-musuh kaum muslimin memang tidak dapat berkutik. Namun bahaya latent yang berupa rayuan kesenangan hidup duniawi, tetap tumbuh dari sela-sela ketatnya pengawasan Khalifah.

Dalam menghadapi tantangan yang sangat berat itu, Khalifah Umar r.a. tidak sedikit menerima bantuan dari Imam Ali r.a. Dalam masa yang penuh dengan tantangan mental dan spiritual itu, Imam Ali r.a. menunjukkan perhatiannya yang dalam.

Dengan segenap kemampuan dan kekuatannya, Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. bersama para sahabat-sahabat Rasul Allah s.a.w., berusaha keras mengendalikan situasi yang hampir melun­cur ke arah negatif.

Umar r.a. sering berkeliling tanpa diketahui orang untuk me­ngetahui kehidupan rakyat, terutama mereka yang hidup sengsara. Dengan pundaknya sendiri, ia memikul gandum yang hendak di­berikan sebagai bantuan kepada seorang janda yang sedang dita­ngisi oleh anak-anaknya yang kelaparan.

Jika Umar r.a. mengeluarkan peraturan baru, anggota-anggota keluarganya justru yang dikumpulkannya lebih dulu. Ia minta su­paya semua anggota keluarganya menjadi contoh dalam melaksa­nakan peraturan baru itu. Apabila di antara mereka ada yang mela­kukan pelanggaran, maka hukuman yang dijatuhkan kepada mere­ka pasti lebih berat daripada kalau pelanggaran itu dilakukan oleh orang lain.

Dengan kekhalifahannya. itu, Umar Ibnul Khattab r.a. telah menanamkan kesan yang sangat mendalam di kalangan kaum mus­limin. Ia dikenang sebagai seorang pemimpin yang patut dicontoh dalam mengembangkan keadilan. Ia sanggup dan rela menempuh cara hidup yang tak ada bedanya dengan cara hidup rakyat jelata. Waktu terjadi paceklik berat, sehingga rakyat hanya makan roti kering, ia menolak diberi samin oleh seorang yang tidak tega me­lihatnya makan roti tanpa disertai apa-apa. Ketika itu ia menga­takan: “Kalau rakyat hanya bisa makan roti kering saja, aku yang bertanggung jawab atas nasib mereka pun harus berbuat seperti itu juga.”

Memanggil calon pengganti

Kepemimpinan Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. atas ummat Islam benar-benar memberikan ciri khusus kepada pertumbuhan Islam. Sumbangan yang diberikan bagi kemantapan hidup ke­negaraan dan kemasyarakatan ummat, sungguh tidak kecil.

Umar Ibnul Khattab r.a. wafat, setelah menderita sakit parah akibat luka-luka tikaman senjata tajam yang dilakukan secara gelap oleh seorang majusi bernama Abu Lu’lu-ah. Dalam keadaan kritis di atas pembaringan pemimpin ummat Islam ini masih sem­pat meletakkan dasar prosedur bagi pemilihan Khalifah pengganti­nya. Rasa tanggung jawabnya yang besar atas kesinambungan ke­pemimpinan ummat Islam masih tetap merisaukan hatinya, walaupun maut sudah berada di ambang kehidupannya.

Dalam saat yang gawat itulah ia meminta pendapat para pe­nasehatnya yang dalam catatan sejarah terkenal dengan sebutan “Ahlu Syuro”, tentang siapa yang layak menduduki atau meme­gang pimpinan tertinggi ummat Islam.

Umar Ibnul Khattab r.a. memang terkenal sebagai tokoh besar yang memiliki jiwa kerakyatan. Sehingga ketika di antara penase­hatnya ada yang mengusulkan supaya Abdullah bin Umar, pu­tera sulungnya, ditetapkan sebagai Khalifah pengganti, dengan cepat Umar r.a menolak. Ia mengatakan: “Tak seorang pun dari dua orang anak lelakiku yang bakal meneruskan tugas itu. Cukuplah sudah apa yang sudah dibebankan kepadaku. Cukup Umar saja yang menanggung resiko. Tidak. Aku tidak sanggup lagi memikul tugas itu, baik hidup ataupun mati!” Demikian kata Umar r.a. dengan suara berpacu mengejar tarikan nafas yang berat.

Sehabis mengucapkan kata-kata seperti di atas, Umar r.a. lalu mengungkapkan, bahwa sebelum wafat, Rasul Allah s.a.w. telah merestui 6 orang sahabat dari kalangan Qureiys. Yaitu Ali bin Abi Thalib, ‘Utsman bin Affan, Thalhah bin ‘Ubaidillah, Zubair bin Al ‘Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash dan Abdurrahman bin ‘Auf. Aku berpendapat”, kata Umar r.a. lebih jauh, “sebaiknya kuse­rahkan kepada mereka sendiri supaya berunding, siapa di antara mereka yang akan dipilih.”

Kemudian seperti berkata kepada diri sendiri, ia berucap: “Jika aku menunjuk siapa orangnya yang akan menggantikan aku, hal seperti itu pernah dilakukan oleh orang yang lebih baik dari aku, yakni Abu Bakar Ash Shiddiq. Kalau aku tidak menunjuk siapa pun, hal itu pun pernah dilakukan oleh orang yang lebih afdhal daripada diriku, yakni Nabi Muhammad s.a.w.”

Tanpa menunggu tanggapan orang yang ada disekitarnya, Kha­lifah Umar r.a. kemudian memerintahkan supaya ke-enam orang (Ahlu Syuro) tersebut di atas segera dipanggil.

Kondisi fisik Khalifah Umar r.a. yang terbaring tak berdaya itu, tampak bertambah gawat pada saat keenam orang yang di­panggil itu tiba. Ketika ia melihat ke-enam orang itu sudah penuh harap menantikan apa yang bakal diamanatkan, dengan sisa-sisa tenaganya Khalifah Umar r.a. berusaha memperlihatkan kete­nangan. Tiba-tiba ia melontarkan suatu pertanyaan yang sukar dijawab oleh enam orang sahabatnya. “Apakah kalian ingin meng­gantikan aku setelah aku meninggal?”

Tentu saja pertanyaan yang dilontarkan secara tiba-tiba dan sukar dijawab itu sangat mengejutkan semua yang hadir. Mula-mu­la mereka diam, tertegun. Dan ketika Khalifah Umar r.a. menatap wajah mereka satu persatu, masing-masing menunduk tercekam berbagai perasaan. Di satu fihak tentunya mereka itu sangat se­dih melihat pemimpin mereka dalam kondisi fisik yang begitu me­rosot. Tetapi di fihak lain, mereka bingung tidak tahu kemana arah pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang yang arif dan bijaksana itu. Karena tak ada yang menjawab, Khalifah Umar r.a. mengu­langi lagi pertanyaannya.

Setelah itu barulah Zubair bin Al-‘Awwam menanggapi. Ia menjawab: “Anda telah menduduki jabatan itu dan telah melaksa­nakan kewajiban dengan baik. Dalam qabilah Qureiys sebenarnya kami ini menempati kedudukan yang tidak lebih rendah diban­ding dengan anda. Sedangkan dari segi keislaman dan hubungan kekerabatan dengan Rasul Allah s.a.w., kami pun tidak berada di bawah anda. Lalu, apa yang menghalangi kami untuk memikul tugas itu?”

Tampaknya kata-kata yang ketus itu dilontarkan Zubair kare­na menyadari bahwa tokoh yang berbaring di hadapannya itu su­dah dalam keadaan sangat gawat. Hal itu dapat kita ketahui dari komentar sejarah yang dikemukakan oleh seorang penulis terkenal, Syeikh Abu Utsman Al Jahidz. Ia mengatakan: “Jika Zubair tahu bahwa Khalifah Umar r.a. akan segera wafat di depan matanya, pasti ia tidak akan melontarkan kata-kata seperti itu, dan bahkan tidak akan berani mengucapkan sepatah kata pun.

Kata-kata Zubair bin Al ‘Awwam itu tidak langsung ditang­gapi oleh Khalifah Umar r.a. Seakan-akan kata-kata itu tak pernah didengarnya. Dengan tersendat-sendat Khalifah Umar r.a. melan­jutkan perkataannya: “Bisakah kuajukan kepada kalian peni­laianku tentang diri kalian?”

Kembali Zubair menukas dengan nada sinis: “Katakan saja. Toh kalau kami minta supaya kami dibiarkan, anda akan tetap tidak membiarkan kami!”
bersambung..

https://tausyah.wordpress.com

Sambungan dari kisah sebelumnya..

Abu Bakar r.a. di Bai’at

Ibnu Abil Hadid dalam bukunya mengemukakan lebih lanjut tentang peristiwa debat di Saqifah Bani Sa’idah itu sebagai berikut:

“Pada waktu Basyir bin Sa’ad Al-Khazrajiy melihat orang An­shar hendak bersepakat mengangkat Sa’ad bin ‘Ubadah sebagai Amirul Mukminin, ia segera berdiri. Basyir sendiri adalah orang da­ri qabilah Khazraj. Ia merasa tidak setuju jika Sa’ad bin Ubadah terpilih sebagai Khalifah. Berkatalah Basyir: “Hai orang-orang Anshar! Walaupun kita ini termasuk orang-orang yang dini me­meluk agama Islam, tetapi perjuangan menegakkan agama tidak bertujuan selain untuk memperoleh keridhoan Allah dan Ra­sul-Nya. Kita tidak boleh membuat orang banyak bertele-te­le, dan kita tidak ingin keridhoan Allah dan Rasul-Nya diganti dengan urusan duniawi. Muhammad Rasul Allah s.a.w. adalah orang dari Qureiys dan kaumnya tentu lebih berhak mewarisi ke­pemimpinannya. Demi Allah, Allah s.w.t. tidak memperlihatkan alasan kepadaku untuk menentang mereka memegang kepemim­pinan ummat. Bertaqwalah kalian kepada Allah. Janganlah ka­lian menentang atau membelakangkan mereka!”

Mendengar suara orang Anshar memberi dukungan kepada kaum Muhajirin, Abu Bakar r.a. berkata lagi: “Inilah Umar dan Abu Ubaidah! Bai’atlah salah seorang, mana yang kalian sukai!”

Tetapi dua orang yang ditunjuk oleh Abu Bakar r.a. menya­hut dengan tegas: “Demi Allah, kami berdua tidak bersedia me­megang kepemimpinan mendahuluimu. Engkaulah orang yang pa­ling afdhal di kalangan kaum Muhajirin. Engkaulah yang mendam­pingi Rasul Allah di dalam gua, dan engkau jugalah yang mewa­kili beliau mengimami shalat-shalat jama’ah selama beliau sakit. Shalat adalah sendi agama yang paling utama. Ulurkanlah ta­nganmu, engkau kubai’at.”

Tanpa berbicara lagi, Abu Bakar r.a. segera mengulurkan ta­ngan dan kedua orang itu — yakni Umar r.a. dan Abu Ubaidah— ­segera menyambut tangan Abu Bakar r.a. sebagai tanda membai’at. Kemudian menyusul Basyir bin Sa’ad mengikuti jejak Umar r.a. dan Aba Ubaidah.

Pada saat itu Hubab bin Al-Mundzir berkata kepada Basyir: “Hai Basyir, engkau memecah belah! Engkau berbuat seperti itu hanya didorong oleh rasa iri hati terhadap anak pamanmu,” yakni Sa’ad bin ‘Ubadah.

Begitu melihat ada seorang pemimpin qabilah Khazraj mem­bai’at Abu Bakar r.a., seorang terkemuka dari qabilah Aus, berna­ma Usaid bin Udhair, segera pula berdiri dan turut menyatakan bai’atnya kepada Abu Bakar r.a. Dengan langkah Usaid ini, maka semua orang dari qabilah Aus akhirnya menyatakan bai’atnya ma­sing-masing kepada Abu Bakar r.a. dan Sa’ad bin Ubadah ter­baring tak mereka hiraukan.

Sampai hari-hari selanjutnya, Sa’ad bin ‘Ubadah tetap ti­dak mau menyatakan bai’at kepada Abu Bakar r.a. Hal itu sangat menimbulkan kemarahan Umar Ibnul Khattab r.a. Umar r.a. ber­usaha hendak menekan Sa’ad, tetapi banyak orang mencegahnya. Mereka memperingatkan Umar r.a. bahwa usahanya akan sia-sia belaka. Bagaimana pun juga Sa’ad tidak akan mau menyatakan bai’atnya. Walau sampai mati dibunuh sekalipun. Ia seorang yang mempunyai pendirian keras dan bersikap teguh. Kata mereka kepada Umar r.a.: “Kalau sampai Sa’ad mati terbunuh, anggota-­anggota keluarganya tidak akan tinggal diam sebelum semuanya mati terbunuh atau gugur. Dan kalau sampai mereka mati terbu­nuh, maka semua orang Khazraj tidak akan berpangku tangan se­belum mereka semua mati terbunuh. Dan kalau sampai orang Khazraj diperangi, maka semua orang Aus akan bangkit ikut ber­perang bersama-sama orang Khazraj.”

Pendapat Imam Ali r.a.

Ketika berlangsung proses pembai’atan Abu Bakar Ash Shid­diq r.a. sebagai Khalifah untuk meneruskan kepemimpinan Rasul Allah s.a.w. atas ummat Islam, Imam Ali r.a. tidak ikut terlibat di dalamnya. Ia masih sibuk mempersiapkan pemakaman jenazah Rasul Allah s.a.w.

Hampir tidak ada ungkapan sejarah yang mengemukakan ba­gaimana sikap Imam Ali r.a. pada waktu mendengar berita tentang terbai’atnya Abu Bakar r.a. secara mendadak sebagai Khalifah. Tetapi isteri Imam Ali r.a., puteri Rasul Allah s.a.w. yang selalu bersikap terus terang, sukar menerima kenyataan terbai’atnya Abu Bakar r.a. sebagai Khalifah. Sitti Fatimah Azzahra r.a. ber­pendirian, bahwa yang patut memikul tugas sebagai Khalifah dan penerus kepemimpinan Rasul Allah s.a.w. hanyalah suaminya.

Pendirian Sitti Fatimah r.a. didasarkan pada kenyataan bah­wa Imam Ali r.a. adalah satu-satunya kerabat terdekat beliau. Bahwa seorang anggota ahlul-bait Rasul Allah s.a.w. lebih ber­hak ketimbang orang lain untuk menduduki jabatan Khalifah. Se­lain itu Imam Ali r.a. juga sangat dekat hubungannya dengan Rasul Allah s.a.w., baik dilihat dari sudut hubungan kekeluar­gaan maupun dari sudut prestasi besar yang telah diperbuat dalam perjuangan menegakkan agama Allah. Demikian pula ilmu pengetahuannya yang sangat kaya berkat ajaran dan pendidikan yang diberikan langsung oleh Rasul Allah s.a.w. kepadanya. Itu merupakan syarat-syarat terpenting bagi seseorang untuk dapat di bai’at sebagai penerus kepemimpinan Rasul Allah s.a.w. atas um­matnya.

Dengan gigih Sitti Fatimah r.a. memperjuangkan keyakinan dan pendiriannya itu. Pada suatu malam dengan menunggang unta ia mendatangi sejumlah kaum Anshar yang telah membai’at Abu Bakar r.a. guna menuntut hak suaminya. Kaum Anshar yang didatanginya itu menanggapi tuntutan Sitti Fatimah r.a. de­ngan mengatakan: “Wahai puteri Rasul Allah s.a.w., pembai’atan Abu Bakar sudah terjadi. Kami telah memberikan suara kepada­nya. Kalau saja ia (Imam Ali r.a.) datang kepada kami sebelum terjadi pembai’atan itu, pasti kami tidak akan memilih orang lain.”

Imam Ali r.a: sendiri dalam menanggapi pembai’atan Abu Bakar r.a. hanya mengatakan: “Patutkah aku meninggalkan Rasul Allah s.a.w. sebelum jenazah beliau selesai dimakamkan…, hanya untuk mendapat kekuasaan?”

Pembicaraan dan perdebatan mengenai masalah kekhilafan banyak dilakukan orang, termasuk antara Imam Ali r.a. dan orang-orang Bani Hasyim di satu fihak, dengan Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. di lain fihak. Semuanya itu tidak mengubah keadaan yang sudah terjadi. Sebagai akibatnya hubungan antara Sitti Fatimah r.a. dan Abu Bakar r.a. tidak lagi pernah berlangsung secara baik.

Sebagai orang yang merasa dirinya mustahak memangku jaba­tan khalifah, Imam Ali r.a. tidak meyakini tepatnya pembai’atan yang diberikan oleh kaum Muhajirin dan Anshar kepada Abu Ba­kar r.a. Selama 6 bulan ia mengasingkan diri dan menekuni ilmu­-ilmu agama yang diterimanya dari Rasul Allah s.a.w.

Dalam masa 6 bulan ini muncullah berbagai macam peristiwa berbahaya yang mengancam kelestarian dan kesentosaan ummat.

Demi untuk memelihara kesentosaan Islam dan menjaga keutuhan ummat dari bahaya perpecahan, akhirnya Imam Ali r.a. secara ikhlas menyatakan kesediaan mengadakan kerja-sama de­ngan khalifah Abu Bakar r.a. Terutama mengenai hal-hal yang olehnya dipandang menjadi kepentingan Islam dan kaum mus­limin. Sikap Imam Ali r.a. yang seperti itu tercermin dengan jelas sekali dalam sepucuk suratnya yang antara lain:

“Aku tetap berpangku-tangan sampai saat aku melihat banyak orang-orang yang meninggalkan Islam dan kembali kepada agama mereka semula. Mereka berseru untuk menghapuskan agama Mu­hammad s.a.w. Aku khawatir, jika tidak membela Islam dan pe­meluknya, akan kusaksikan terjadinya perpecahan dan kehancu­ran. Bagiku hal itu merupakan bencana yang lebih besar dibanding dengan hilangnya kekuasaan. Kekuasaan yang ada di tangan kalian, tidak lain hanyalah suatu kenikmatan sementara dan hanya selama beberapa waktu saja. Apa yang sudah ada pada kalian akan lenyap seperti lenyapnya bayangan fatamorgana atau seperti lenyapnya awan. Oleh karena itu, aku bangkit menghadagi kejadian itu, sampai semua kebatilan tersingkir musnah, dan sampai agama berada dalam suasana tenteram…”

Sejak saat itu suara Imam Ali r.a. berkumandang kembali di tengah-tengah kaum muslimin, terutama pada saat-saat ia di­mintai pendapat-pendapat oleh Khalifah Abu Bakar r.a. Kesem­patan-kesempatan semacam itu dimanfaatkan sebaik-baiknya un­tuk memberi pengarahan kepada kehidupan Islam dan kaum mus­limin, agar jangan sampai menyimpang dari ketentuan-ketentuan Allah dan Rasul-Nya, baik di bidang legislatif (tasyri’iyyah), ekse­kutif (tanfidziyyah), maupun judikatif (qadha’iyyah).

Dialog Abu Bakar r.a. dengan Abbas r.a.

Dalam buku Syarh Nahjil Balaghah, jilid I, halaman 97-­100. Ibnu Abil Hadid mengetengahkan suatu keterangan tentang situasi pada saat terbai’atnya Abu Bakar r.a. sebagai Khalifah. Keterangan itu dikutipnya dari penuturan Al-Barra’ bin Azib, se­orang yang sangat besar simpatinya kepada Bani Hasyim.

“Aku adalah orang yang tetap mencintai Bani Hasyim,” kata Al-Barra’ bin Azib. “Pada waktu Rasul Allah s.a.w. mangkat, aku sangat khawatir kalau-kalau orang Qureiys sudah punya rencana hendak menjauhkan orang-orang Bani Hasyim dari masalah itu, yakni masalah kekhalifahan. Aku bingung sekali, seperti bingungnya se­orang ibu yang kehilangan anak kecil. Padahal waktu itu aku ma­sih sedih disebabkan oleh wafatnya Rasul Allah s.a.w. Aku ragu-­ragu menemui orang-orang Bani Hasyim, yang ketika itu sedang berkumpul di kamar Rasul Allah s.a.w. Wajah mereka kuamat-­amati dengan penuh perhatian. Demikian juga air muka orang-­orang Qureiys.”

“Demikian itulah keadaanku ketika aku melihat Abu Bakar dan Umar tidak berada di tempat itu. Sementara itu ada orang mengatakan bahwa sejumlah orang sedang berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah. Orang lain lagi mengatakan bahwa Abu Bakar telah dibai’at sebagai Khalifah.”

“Tak lama kemudian kulihat Abu Bakar bersama-sama Umar Ibnul Khattab, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah dan sejumlah orang lain­nya. Mereka itu tampaknya habis menghadiri pertemuan yang baru saja diadakan di Saqifah Bani Sa’idah. Kulihat juga hampir semua orang yang berpapasan dengan mereka ditarik; dihadapkan dan dipegangkan tangannya kepada tangan Abu Bakar sebagai tan­da pernyataan bai’at. Saat itu hatiku benar-benar terasa berat.

“Kemudian malam harinya kulihat Al-Miqdad, Salman, Abu Dzar, Ubadah bin Shamit, Abul Haitsam bin At Taihan, Hudzaifah dan ‘Ammar bin Yasir. Mereka ini ingin supaya diada­kan musyawarah kembali di kalangan kaum Muhajirin. Berita ten­tang hal ini kemudian didengar oleh Abu Bakar dan Umar.”

“Berangkatlah Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah dan Al-Mughi­rah untuk menjumpai Abbas bin Abdul Mutthalib di rumahnya, Setelah mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah s.w.t., Abu Bakar berkata kepada Abbas:“Allah telah berkenan meng­utus Muhammad s.a.w. sebagai Nabi kepada kalian. Allah pun te­lah mengaruniakan rahmat-Nya kepada ummat dengan adanya Rasul Allah di tengah-tengah mereka, sampai Dia menetapkan sendiri apa yang menjadi kehendak-Nya.”

“Rasul Allah s.a.w. meninggalkan ummatnya supaya me­reka menyelesaikan sendiri siapa yang akan diangkat sebagai waliy (pemimpin) mereka. Kemudian kaum muslimin memilih diriku untuk melaksanakan tugas memelihara dan menjaga ke­pentingan-kepentingan mereka. Pilihan mereka itu kuterima dan aku akan bertindak sebagai waliy mereka. Dengan pertolongan Allah dan bimbingan-Nya, aku tidak akan merasa khawatir, lemah, bingung ataupun takut. Bagiku tak ada taufiq dan pertolongan se­lain dari Allah. Hanya kepada Allah sajalah aku bertawakkal, kepada-Nya jualah aku akan kembali.”

“Tetapi, belum lama berselang aku mendengar ada orang yang menentang dan mengucapkan kata-kata yang berlainan dari yang telah dinyatakan oleh kaum muslimin pada umum­nya. Orang itu hendak menjadikan kalian sebagai tempat berlindung dan benteng. Sekarang terserahlah kepada kalian, apakah kalian hendak mengambil sikap seperti yang telah diambil oleh orang banyak, ataukah hendak mengubah sikap mereka dari apa yang sudah menjadi kehendak mereka.”

“Kami datang kepada anda, karena kami ingin agar kalian ambil bagian dalam masalah itu. Kami tahu bahwa anda adalah paman Rasul Allah s.a.w. Demikian juga semua kaum muslimin mengetahui kedudukan anda dan keluarga anda di sisi Rasul Allah s.a.w. Oleh karena itu mereka pasti bersedia meluruskan per­soalan bersama-sama anda. Terserahlah kalian, orang-orang Bani Hasyim, sebab Rasul Allah dari kami dan dari kalian juga.”

Menurut Al-Barra’, sampai di situ Umar Ibnul Khattab me­nukas perkataan Abu Bakar r.a. dengan cara-caranya sendiri yang keras. Kemudian Umar r.a berkata kepada Abbas: “Kami datang bukan kerena butuh kepada kalian, tetapi kami tidak suka ada orang-orang muslimin dari kalian yang turut menentang. Sebab dengan cara demikian kalian akan lebih banyak menumpuk kayu bakar di atas pundak kaum muslimin. Lihatlah nanti apa yang akan kalian saksikan bersama-sama kaum muslimin.”

Menanggapi ucapan Abu Bakar r.a. serta Umar r.a. tadi, menurut catatan Al-Barra’, waktu itu Abbas menjawab:

“…Sebagaimana anda katakan tadi, benarlah bahwa Allah telah mengutus Muhammad s.a.w. sebagai Nabi dan sebagai pemimpin kaum msulimin. Dengan itu Allah telah melimpahkan karunia kepada ummat Muhammad sampai Allah menetapkan sendiri apa yang menjadi kehendak-Nya. Rasul Allah s.a.w. telah meninggal­kan ummatnya supaya mereka menyelesaikan sendiri urusan mereka dan memilih sendiri siapa yang akan diangkat menjadi pe­mimpin mereka.Mereka tetap berada di dalam kebenaran dan telah menjauhkan diri dari bujukan hawa nafsu.

“Jika atas nama Rasul Allah s.a.w. anda minta kepadaku su­paya aku turut ambil bagian, sebenarnya hak kami sudah anda ambil lebih dulu. Tetapi jika anda mengatas-namakan kaum mus­limin, kami ini pun sebenarnya adalah bagian dari mereka.”

“Dalam persoalan kalian itu, kami tidak mengemukakan hal yang berlebih-lebihan. Kami tidak mencari pemecahan melalui jalan tengah dan tidak pula hendak menambah ruwetnya per­soalan. Jika sekiranya persoalan itu sudah menjadi kewajiban anda terhadap kaum muslimin, kewajiban itu tidak ada artinya jika kami tidak menyukainya.”

“Alangkah jauhnya apa yang telah anda katakan tadi, bahwa di antara kaum muslimin ada yang menentang, di samping ada lain-lainnya lagi yang condong kepada anda. Apa yang anda kata­kan kepada kami, kalau hal itu memang benar sudah menjadi hak anda kemudian hak itu hendak anda berikan kepada kami, sebaiknya hal itu janganlah anda lakukan. Tetapi jika memang menjadi hak kaum muslimin, anda tidak mempunyai wewenang untuk menetapkan sendiri. Namun jika hal itu menjadi hak kami,kami tidak rela menyerahkan sebagian pun kepada anda. Apa yang kami katakan itu sama sekali bukan berarti bahwa kami ingin menyingkirkan anda dari urusan kekhalifahan yang sudah anda terima. Kami katakan hal itu semata-mata karena tiap hujjah me­merlukan penjelasan.”

“Adapun ucapan anda yang mengatakan ‘Rasul Allah dari kami dan dari kalian juga’, maka beliau sesungguhnya berasal dari sebuah pohon dan kami adalah cabang-cabangnya, sedangkan kalian adalah tetangga-tetangganya.”

“Mengenai yang anda katakan, hai Umar, tampaknya anda khawatir terhadap apa yang akan diperbuat oleh orang banyak terhadap kami. Sebenarnya itulah yang sejak semula hendak ka­lian katakan kepada kami. Tetapi hanya kepada Allah sajalah kami mohon pertolongan.”

Kekhalifahan Abu Bakar r.a.

Masa kekhalifahan Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. kurang lebih hanya dua tahun. Dalam waktu yang singkat itu terjadi bebe­rapa kali krisis yang mengancam kehidupan Islam dan perkem­bangannya. Perpecahan dari dalam, maupun rongrongan dari luar cukup gawat. Di utara, pasukan Byzantium (Romawi Timur) yang menguasai wilayah Syam melancarkan berbagai macam provokasi yang serius, guna menghancurkan kaum muslimin Arab, yang baru saja kehilangan pemimpin agungnya.

Dekat menjelang wafatnya, Rasul Allah s.a.w. merencana­kan sebuah pasukan ekspedisi untuk melawan bahaya dari utara itu, dengan mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima. Tetapi belum sempat pasukan itu berangkat ke medan juang, Rasul Allah wafat.

Setelah Abu Bakar r.a. menjadi Khalifah dan pemimpin ummat, amanat Rasul Allah dilanjutkan. Pada mulanya banyak orang yang meributkan dan meragukan kemampuan Usamah, dan pengangkatannya sebagai Panglima pasukan dipandang kurang tepat. Usamah dianggap masih ingusan. Lebih-lebih karena pasu­kan Byzantium jauh lebih besar, lebih kuat persenjataannya dan lebih banyak pengalaman. Apa lagi pasukan Romawi itu baru saja mengalahkan pasukan Persia dan berhasil menduduki Yerusalem. Di kota suci ini, pasukan Romawi berhasil pula merebut kembali “salib agung” kebanggaan kaum Nasrani, yang semulanya sudah jatuh ke tangan orang-orang Persia.

Dengan dukungan sahabat-sahabat utamanya, Khalifah Abu Bakar r.a. berpegang teguh pada amanat Rasul Allah s.a.w. Dalam usaha meyakinkan orang-orang tentang benar dan tepatnya kebijaksanaan Rasul Allah s.a.w., Imam Ali r.a. memainkan peranan yang tidak kecil. Akhirnya Usamah bin Zaid tetap di­serahi pucuk pimpinan atas sebuah pasukan yang bertugas ke utara. Pengangkatan Usamah sebagai Panglima ternyata tepat. Usamah berhasil dalam ekspedisinya dan kembali ke Madinah membawa kemenangan gemilang.

Bahaya desintegrasi atau perpecahan dalam tubuh kaum muslimin mengancam pula keselamatan ummat. Muncul oknum­-oknum yang mengaku dirinya sebagai “nabi-nabi“. Muncul pula kaum munafik menelanjangi diri masing-masing. Beberapa Qabilah membelot secara terang-terangan menolak wajib zakat. Selain itu ada qabilah-qabilah yang dengan serta merta berbalik haluan me­ninggalkan Islam dan kembali ke agama jahiliyah. Pada waktu Rasul Allah masih segar bubar, mereka itu ikut menjadi “muslimin”. Setelah beliau wafat, mereka memperlihatkan belang­nya masing-masing. Seolah-olah kepergian beliau untuk selama-­lamanya itu dianggap sebagai pertanda berakhirnya Islam.

Demikian pula kaum Yahudi. Mereka mencoba hendak menggunakan situasi krisis sebagai peluang untuk membangun ke­kuatan perlawanan balas dendam terhadap kaum muslimin.

Tidak kalah berbahayanya ialah gerak-gerik bekas tokoh-tokoh Qureiys, yang kehilangan kedudukan setelah jatuhnya Makkah ke tangan kaum muslimin. Mereka itu giat berusaha merebut kembali kedudukan sosial dan ekonomi yang telah le­pas dari tangan. Tentang mereka ini Khalifah Abu Bakar r.a. sendiri pernah berkata kepada para sahabat: “Hati-hatilah ka­lian terhadap sekelompok orang dari kalangan ‘sahabat’ yang perutnya sudah mengembang, matanya mengincar-incar dan sudah tidak bisa menyukai siapa pun juga selain diri mereka sendiri. Awaslah kalian jika ada salah seorang dari mereka itu yang tergelincir. Janganlah kalian sampai seperti dia. Ketahuilah, bahwa mereka akan tetap takut kepada kalian, selama kalian tetap takut kepada Allah…”

Berkat kepemimpinan Abu Bakar r.a., serta berkat bantuan para sahabat Rasul Allah s.a.w., seperti Umar Ibnul Khattab r.a., Imam Ali r.a., Ubaidah bin Al-Jarrah dan lain-lain, krisis-krisis tersebut di atas berhasil ditanggulangi dengan baik. Watak Abu Bakar r.a. yang demokratis,dan kearifannya yang selalu meminta nasehat dan pertimbangan para tokoh terkemuka, seperti Imam Ali r.a., merupakan, modal penting dalam tugas menyelamatkan ummat yang baru saja kehilangan Pemimpin Agung, Nabi Mu­hammad s.a.w.

Dengan masa jabatan yang singkat, Khalifah Abu Bakar r.a. berhasil mengkonsolidasi persatuan ummat, menciptakan stabili­tas negara dan pemerintahan yang dipimpinnya dan menjamin keamanan dan ketertiban di seluruh jazirah Arab.

Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. memang seorang tokoh yang le­mah jasmaninya, akan tetapi ramah dan lembut perangainya, lapang dada dan sabar.Sesungguhpun demikian, jika sudah meng­hadapi masalah yang membahayakan keselamatan Islam dan kaum muslimin, ia tidak segan-segan mengambil tindakan tegas, bahkan kekerasan ditempuhnya bila dipandang perlu. Konon ia wafat akibat serangan penyakit demam tinggi yang datang secara tiba-­tiba.

Menurut buku Abqariyyatu Abu Bakar, yang di tulis Abbas Muhammad Al ‘Aqqad”, sebenarnya Abu Bakar r.a. sudah sejak lama terserang penyakit malaria. Yaitu beberapa waktu setelah hijrah ke Madinah. Penyakit yang dideritanya itu dalam waktu relatif lama tampak sembuh, tetapi tiba-tiba kambuh kem­bali dalam usianya yang sudah lanjut. Abu Bakar r.a. wafat pada usia 63 tahun.

[1]Riwayat yang dikemukakannya diambil dari Ibnu Ishak, berasal dari Ahmad bin Sayyar dan Sa’ad bin Katsir bin Afir Al-Anshariy.

https://tausyah.wordpress.com