Posts Tagged ‘Madu’

Anehnya, meskipun kebanyakan dari Obat Islam dan Bedah, mungkin satu-satunya ayat dalam Al Qur’an, yang menyebutkan obat Islam, adalah 16:69. Dalam ayat ini Allah berfirman bahwa Dia memerintahkan lebah makan dari jenis buah-buahan, kemudian mereka menghasilkan cairan berwarna rilis dari perut mereka (madu) dan  cairan ini (madu) adalah untuk penyembuhan.  Ibnu Katsir memberikan alasan mengapa madu adalah obat yang baik.  Menurutnya madu panas, sehingga merupakan obat untuk semua penyakit dingin, karena penyakit harus diperlakukan dengan lawan jenisnya.

Dalam Sunaan ibn Majah (5,3452) kita baca bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berkata bahwa madu dan Al Qur’an adalah obat untuk penyakit semua. Kebajikan medis yang sama dari Alquran dan madu yang berulang pada Sunaan Tirmidzi (1196).

Berikut adalah beberapa rekomendasi lebih pada penggunaan Alquran sebagai obat Islami.

  • Jika Anda jatuh sakit lalu membaca  Sura Ikhlas (QS 112) Surat al-Falaq (Sura 113), dan Sura an‑Naas (Sura 114),  (Sahih Bukhari, 7.71.644, 647) Al-Falaq (QS 113), dan Sura An-Naas (QS 114), meniup telapak tangan dan kemudian lulus mereka di wajah Anda … (Sahih Bukhari, 7.71.644, 647)
  • Ketika seorang anggota keluarga jatuh sakit membaca Sura 113 dan 114 dan meniup di atasnya … (Sahih Muslim, 26,5439, 5440)
  • Ucapkan Sura al-Fateha (Sura 1) kemudian  meludahi  bagian yang sakit … (Sunaan Abu Dawud, 3. 28,3888)
  • Sura al-Fateha (Sura 1) menyembuhkan orang gila … (Sunaan Abu Dawud, 28,3892)

Rasulullah SAW, dengan sahabat-sahabatnya Abu bakar r.a., Umar r.a., Utsman r.a., dan ‘Ali r.a., bertamu ke rumah Ali r.a. Di rumah Ali r.a. istrinya Sayidatina Fathimah r.a. putri Rasulullah SAW menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan sehelai rambut terikut di dalam mangkuk itu. Baginda Rasulullah SAW kemudian meminta kesemua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (Mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut).

Abubakar r.a. berkata, “iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut”.

Umar r.a. berkata, “kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Utsman r.a. berkata, “ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan ber’amal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

‘Ali r.a. berkata, “tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumanya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Fatimah r.ha.berkata, “seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang ber-purdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Rasulullah SAW berkata, “seorang yang mendapat taufiq untuk ber’amal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, ber’amal dengan ‘amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat ‘amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Malaikat Jibril AS berkata, “menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, menyerahkan diri; harta; dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Allah SWT berfirman, ” Sorga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat sorga-Ku itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju sorga-Ku adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

https://tausyah.wordpress.com