Posts Tagged ‘Kepahlawanan’

Perang Ahzab (Kandhaq)

Perang ini menjadi abadi dan masyhur dalam sejarah Islam, antara lain karena diikuti dengan turunnya firman Allah s.w.t. sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an (Surah Al-Ahzab). Untuk pertama kalinya dalam usia yang masih muda, kaum mus­limin di Madinah dikepung oleh kurang lebih 10.000 orang pa­sukan musyrikin, yang terdiri dari berbagai suku dan qabilah. Pasukan itu diperkuat lagi oleh kaum Yahudi Banu Quraidhah, yang mengkhianati perjanjian perdamaian dengan Rasul Allah s.a.w. Mereka ini bergabung dengan pasukan musyrikin Qureiys yang membeludak dari Makkah guna mengepung kota Madinah.

Peperangan tersebut dinamakan juga perang Khandaq (Parit), karena untuk menanggulangi penyerbuan kaum musyrikin Qureiys atas usul dan prakarsa Salman Al Farisi, dengan persetujuan Rasul Allah s.a.w., kaum muslimin menggali parit-parit yang cukup lebar dan dalam di sekitar pinggiran kota Madinah

Di perang Khandaq ini keampuhan dan ketangkasan Imam Ali r.a. juga teruji dalam perang tanding melawan seorang pende­kar Qureiys yang terkenal ulung, yaitu ‘Amr bin Abdu Wudd Al’Amiri. ‘Amr seorang prajurit berkuda yang gesit dan lincah bermain pedang atau tombak. Dengan congkak dan sombong ‘Amr bin Abdu Wudd berani maju ke depan menyeberangi parit pertahanan kaum muslimin, lewat bagian yang agak dangkal dan sempit. Sambil membanggakan kebolehannya mengendalikan kuda, ia berteriak menantang: “Hai . . . Apakah tak seorang pun yang berani keluar untuk bertanding?”

Tantangan dari seorang jagoan yang garang itu tidak ditang­gapi oleh pasukan muslimin. Kaum muslimin banyak yang menge­nal siapa ‘Amr bin Abdu Wudd itu dan betapa tenar namanya se­bagai pendekar yang mahir berperang tanding.

Setelah melihat kenyataan tak ada seorang pun yang me­nanggapi tantangan ‘Amr, Imam Ali r.a. tidak tahan lagi menahan perasaan geramnya. Ia segera berdiri dan berkata kepada Rasul Allah s.a.w.: “Ya Rasul Allah, biarlah saya yang menandingi dia!”

Rasul Allah s.a.w. yang mengetahui benar ‘ Amr itu seorang pendekar yang kenyang makan “garam” perang tanding, ber­anggapan, bahwa ‘Amr bukanlah tandingan bagi saudara misannya yang baru berusia kurang dari 30 tahun. Karena itu maka beliau menyahut: “Duduk sajalah engkau, dia adalah ‘Amr!”

Karena tidak ada juga jawaban dari fihak muslimin, mak ‘Amr yang beringas itu berkoar lagi: “Mana itu sorga yang akan kalian masuki bila kalian mati terbunuh, hah?!”

Ejekan itu terasa seperti sembilu yang sangat mengiris-­iris hati kaum muslimin, tetapi mereka tetap diam. Dengan darah muda yang mendidih laksana lahar yang menyembur dari kepun­dan, Imam Ali r.a. tidak dapat lagi menahan gejolak hatinya men­dengar penghinaan yang sangat menyakitkan itu. Ia mendesak lagi kepada Rasul Allah s.a.w.: “Biarlah saya yang menghadapinya; ya Rasul Allah!”

Tetapi Rasul Allah s.a.w. kembali memerintahkan supaya Imam Ali r.a. duduk dan tenang, sebab yang akan dihadapinya bukan sembarang orang. Dengan perasaan yang sudah terbakar dan dengan nada gemas, Imam Ali r.a. berusaha meyakinkan Rasul Allah s.a.w. bahwa ia sanggup melawan dedengkot kaum musy­rikin itu: “Biar ‘Amr sekalipun ya Rasul Allah!”

Mengingat tekad Imam Ali r.a. yang begitu bulat, dan mengi­ngat pula perlu membangkitkan keberanian kaum muslimin, akhirnya Rasul Allah s.a.w. memberi izin dan restu kepada Imam Ali r.a. untuk tampil ke depan. Imam Ali r.a. dengan hangat menyambut persetujuan dan idzin Rasul Allah s.a.w. Ia segera me­loncat ke depan menyongsong tantangan seorang lawan yang bu­kan sembarangan. Dengan mengenakan baju besi dan menghunus pedangnya yang tersohor dengan nama “Dzul Fiqar”, Imam Ali r.a. maju dengan ayunan langkah yang tegap dan diiringi doa Ra­sul Allah s.a.w.: “Ya Allah, dia adalah saudaraku dan putera pamanku. Janganlah Kaubiarkan aku seorang diri tanpa dia. Se­sungguhnya Engkau tempat aku berserah diri yang sebaik-baiknya.”

Setelah berhadap-hadapan dengan ‘Amr, tanpa perasaan gen­tar sedikit pun Imam Ali r.a. bertanya kepada ‘Amr: “Hai ‘Amr, bukankah engkau pernah berjanji, bahwa engkau akan menerima ajakan seorang dari Qureiys untuk menempuh salah satu di an­tara dua jalan hidup?”

“Ya!” jawab ‘Amr dengan singkat dan angkuh.

“Engkau kuajak. ke jalan Allah dan Rasul-Nya, ke jalan Is­lam”, kata Imam Ali r.a. melanjutkan. Kata-kata Imam Ali r.a. ini diucapkan dengan suara lantang yang memecahkan kesunyian garis pertempuran. Hampir semua mata dua pasukan yang siap tempur tertuju kepada dua sosok tubuh yang sedang berhadap-­hadapan.

‘Amr bin Abdu Wudd yang sudah cukup usia, garang dan ba­nyak pengalaman menghadapi perang tanding kini bertatap muka dengan seorang anak muda yang berdiri tegak di hadapannya. Pe­muda pemberani, jantan dan perkasa, berbaju besi dengan pedang terhunus di tangan. Sungguh anggun kelihatannya. Konfrontasi an­tara dua orang itu melambangkan konfrontasi dari dua kekuatan yang berlawanan. Kekuatan lama yang sudah lapuk dan kekuatan baru yang sedang tumbuh, yaitu kekuatan jahiliyah dan kekuatan lslam.

Mendengar pertanyaan yang bernada desakan itu, dengan ce­pat ‘Amr menyahut: “Aku tidak membutuhkan itu!”

“Kalau begitu, mari kita mulai bertanding!” tantang Imam Ali r.a. sambil siaga menghadapi gerakan ‘Amr. Akan tetapi tan­tangan Imam Ali r.a. yang serius itu diremehkan saja oleh ‘Amr: “Aku tak suka menumpahkan darahmu. Ayahmu kan teman ka­ribku!”

Tanpa memperdulikan ucapan ‘Amr, Imam Ali r.a. dengan perasaan tak sabar lagi berucap: “Tetapi, demi Allah, aku justru ingin membunuhmu!”

Ucapan seorang muda yang dianggap ketus oleh ‘Amr itu, ternyata membangkitkan amarah dan meluapkan emosinya. Cepat saja darah perang yang mengalir dalam tubuh ‘Amr mendi­dih. Naluri keprajuritannya secara cepat menyentakkan gerak refleksi dan langsung seketika itu juga Imam Ali r.a. diserang. Demikian gesit dan tangkasnya ‘Amr mengayunkan pedang de­ngan dorongan tenaga yang luar biasa. Tetapi Imam Ali r.a. tidak kalah tinggi nalurinya dan gerak refleksinya.

‘Amr yang sejak semula meremehkan lawan, ternyata sia-­sia belaka dalam mengerahkan segala kekuatan ototnya untuk menebas leher Imam Ali r.a. Kesempatan yang meleset itu di­pergunakan sebaik-baiknya oleh Imam Ali r.a. Ia mengelak, me­nangkis dan menyerang dalam gerak beruntun secara kilat. Pada saat ‘Amr kehilangan keseimbangan badan, Pedang Dzul Fiqar yang diayun kuat-kuat oleh Imam Ali r.a. menyambar bahu kanan ‘Amr sampai terbelah dua. Pendekar kebanggaan Qureiys itu jatuh dari atas kuda menggelepar di tanah mandi darah dan debu.

Perang tanding berlangsung demikian cepat dan selesai jauh lebih cepat dari yang diperkirakan orang. Pada mulanya ba­nyak yang menduga bahwa Imam Ali r.a. yang “masih hijau” itu akan “dibelah dua” oleh pedang ‘Amr. Oleh karena itu ketika jagoan Qureiys itu tersungkur tidak bangkit kembali, banyak orang dari kedua pasukan terkesima. Hampir saja mereka, tidak mempercayai apa yang sudah terjadi. Baru setelah Imam Ali r.a. menyerukan takbir, kaum muslimin menyambutnya dengan me­ngumandangkan kebesaran Allah: Allaahu Akbar …Allaahu Akbar…. !

Tanpa perasaan sombong dan tinggi hati Imam Ali r.a. ke­mudian menuju ke tempat Rasul Allah s.a.w. Dengan perasaan haru dan syukur ke hadirat Allah s.w.t., Rasul Allah s.a.w. menge­luarkan pernyataan singkat: “Perang tanding yang dilaksanakan oleh Ali bin Abi Thalib melawan ‘Amr bin Abdu Wudd itu meru­pakan perbuatan paling mulia yang dilakukan umatku sampai hari kiyamat.”

Akan tetapi terbunuhnya jagoan Qureiys belum menyelesai­kan jalannya perang Khandaq. Namun terbunuhnya tokoh Qureiys itu menimbulkan kegoncangan yang hebat di kalangan pasukan penyerbu. Semangat pasukan penyerbu makin merosot, setelah harapan mereka untuk dapat menerobos parit makin tipis.

Dalam keadaan seperti itu terjadilah angin ribut dan hujan de­ras diiringi suara petir sambar-menyambar. Kemah-kemah dan per­kakas-perkakas masak kaum musyrikin beterbangan dilanda a­ngin kencang. Kubu pertahanan mereka menjadi porak poranda dan banyak sekali diantara mereka yang tak tahan menghadapi tekanan udara dingin.

Di tengah-tengah hembusan angin puyuh seribut itu, Abu Sufyan yang dalam perang Khandaq ini bertindak selaku pimpinan pasukan penyerbu, berkata kepada anak buahnya: “Saudara-­saudara, kita tak perlu lama lagi tinggal di tempat ini. Banyak kuda dan unta kita yang sudah binasa. Bani Quraidah sudah tak mene­pati janjinya lagi dengan kita. Bahkan kita mendengar hal-hal dari mereka yang tidak menyenangkan hati. Tambah lagi kita meng­hadapi angin kencang begini ributnya. Maka itu lebih baik kita pulang saja. Aku sendiri akan berangkat pulang!”

Di tengah-tengah angin puyuh yang begitu kencangnya, Abu Sufyan dan rombongan secara bergelombang meninggal­kan tempat dan kembali ke Makkah. Keesokan harinya sudah tak ada lagi seorang Qureiys atau Yahudi yang masih tinggal. Semuanya sudah jauh meninggalkan parit. Rasul Allah bersama kaum muslimin lainnya dengan tenang kembali ke tempat kedi­aman masing-masing. Semuanya memanjatkan syukur sedalam-da­lamnya kepada Allah s.w.t. yang telah menghindarkan mereka dari marabahaya.

https://tausyah.wordpress.com

BAB IV PERANAN KEPAHLAWANAN

Masih ada sementara penulis sejarah yang dengan berbagai da­lih dan alasan mengatakan, bahwa Imam Ali r.a. bukan orang yang pertama-tama beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Se­bagai alasan dikatakan, bahwa hukum belum berlaku baginya, karena ketika ia memeluk Islam usianya masih sangat muda, malahan dikatakan “masih kanak-kanak”.

Alasan seperti itu tampak sekali dicari-cari. Sebab, seorang remaja yang berusia 13 tahun, bukan seorang kanak-kanak lagi. Ia sudah mampu berfikir membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Usia 13 tahun pada umumnya bisa dipandang sebagai tahap permulaan masa akil baligh. Dalam usia akil baligh itu orang sudah dapat menerima penjelasan-penjelasan dan keterangan-ke­terangan tentang sesuatu dengan baik. Fikiran dan perasaannya pun sudah berada dalam tingkatan aktif, dapat membedakan mana hal-hal yang menyenangkan atau menyedihkan, mana yang menga­gumkan dan mana yang memuakkan, mana yang masuk akal dan mana yang tidak.

Seperti diketahui, sejak Imam Ali r.a. berusia 6 tahun lang­sung diasuh, dibimbing dan dididik oleh Nabi Muhammad s.a.w. Menurut sistem pendidikan modern, tingkat usia 6 tahun itu justru yang paling tepat bagi seseorang anak memasuki sekolah dasar, yang akan berlangsung selama 6 tahun. Dari usia 6 tahun sampai 12 tahun dapatlah dikatakan, bahwa Imam Ali r.a. telah mendapat “pendidikan dasar” dari seorang guru yang paling bi­jaksana.

Selama periode “pendidikkan dasar” itu, Imam Ali r.a. te­lah dipersiapkan oleh gurunya untuk menyongsong datangnya ma­sa pancaroba yang akan menjadi ciri perobahan zaman. Ketika Imam Ali r.a. menginjak usia 13 tahun, terjadilah bi’tsah Mu­hammad sebagai Nabi dan Rasul, yang akan menjungkir-balikkan masa jahiliyah dan menggantinya dengan kecerahan masa hidayah. Masa “pendidikkan dasar” dan persiapan yang sangat tepat waktu­nya itulah, yang kemudian mewarnai sikap hidup dan kepribadian Imam Ali r.a. sebagai orang yang teguh imannya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ketika berlangsung blokade ekonomi dan pemboikotan sosial yang dilancarkan orang-orang kafir Qureiys terhadap semua ke­luarga Bani Hasyim, Imam Ali r.a. ikut langsung menghayati kesengsaraan dan penderitaan yang menjadi akibatnya. Dengan mengikuti bimbingan serta tauladan Rasul Allah s.a.w. beserta Sitti Khadijah r.a., dengan tangguh, tabah dan sabar, Imam Ali r.a. ikut berjuang mempertahankan dan membela da’wah Islam.

Tidak hanya itu saja. Selama hampir empat tahun terkepung dalam Syi’ib, Imam Ali r.a. memperoleh kesempatan yang luar biasa besarnya untuk menerima pendidikan tauhid dan ilmu-­ilmu Ilahiyah, langsung dari Rasul Allah s.a.w. Satu kesempatan yang tidak pernah didapat oleh orang mukmin manapun. Dalam keadaan materiil serba kurang, Imam Ali r.a. yang masih remaja itu fikirannya terbuka seterang-terangnya guna menerima hidayah llahi, dan dengan tuntunan Rasul Allah s.a.w. ia dapat mengenal hakekat kebenaran Allah ‘Azza wa Jalla.

Tentang kedinian Imam Ali r.a. beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi Muhammad s.a.w. sendiri pernah menegaskan­nya. Penegasan itu disaksikan oleh para sahabat dekat dan ter­kemuka, yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq r.a., Umar Ibnul Khattab r.a. dan Abu Ubaidah r.a. Hal itu tercantum dalam Kitab “Kanzul Ummal”, jilid VI, hlm. 393. Riwayatnya berasal dari Ibnu Abbas.

Umar Ibnul Khattab berkata: “….Aku, Abu Bakar dan Abu Ubaidah bersama beberapa orang sahabat Nabi lainnya pernah da­tang ke rumah Ummu Salmah. Setiba disana aku melihat Ali bin Abi Thalib sedang berdiri di pintu. Kami katakan kepadanya, bahwa kami hendak bertemu dengan Rasul Allah s.a.w. Ia men­jawab, sebentar lagi beliau akan keluar. Waktu beliau keluar, kami segera berdiri. Kami lihat beliau bertopang pada Ali bin Abi Thalib dan menepuk-nepuk bahunya sambil berucap: “Eng­kau unggul dan akan tetap unggul, orang pertama yang beriman, seorang mukmin yang paling banyak mengetahui hari-hari Allah (hari-hari turunnya nikmat dan cobaan), paling setia menepati janji, paling adil dalam bertugas melakukan pembagian ghanimah, paling bercinta-kasih kepada rakyat, dan paling banyak menderita.”

Membela Kebenaran

Di samping perjuangannya di bidang aqidah, ilmu dan pemikiran, Imam Ali r.a. juga terkenal sebagai seorang muda yang memiliki kesanggupan berkorban yang luar biasa besarnya. Ia mempunyai susunan jasmani yang sempurna dan tenaga yang sangat kuat. Sudah tentu, itu saja belum menjadi jaminan bagi se­seorang untuk siap mempertaruhkan nyawanya membela kebenar­an Allah dan Rasul-Nya. Imannya yang teguh laksana gunung rak­sasa dan kesetiaannya yang penuh kepada Allah dan Rasul-Nya, itulah yang menjadi pendorong utama.

Imam Ali r.a. tidak pernah menghitung-hitung resiko dalam perjuangan suci menegakkan Islam. Dengan jasmani yang tegap dan kuat, serta iman yang kokoh dan mantap, Imam Ali r.a. benar­-benar mempunyai syarat fisik-materiil dan mental-spiritual untuk menghadapi tahap-tahap perjuangan yang serba berat.

Di saat-saat Islam dan kaum muslimin berada dalam situasi yang kritis dan gawat, Imam Ali r.a. selalu tampil memainkan pe­ranan menentukan. Selama hidup ia tak pernah mengalami hi­dup santai. Sejak muda remaja sampai akhir hayatnya, ia ke­luar masuk dari kesulitan ke kesulitan lain, dan dari pengor­banan ke pengorbanan yang lain. Namun demikian ia tak per­nah menyesali nasib, bahkan dengan semangat pengabdian yang tinggi kepada Allah dan Rasul-Nya, ia senantiasa siap menghadapi segala tantangan. Satu-satunya pamrih yang menjadi pemikirannya siang dan malam hanya ingin memperoleh keridhoan Allah dan Rasul-Nya. Kesenangan hidup duniawi baginya bukan apa-apa dibanding dengan kenikmatan ukhrawi yang telah dijanjikan Allah s.w.t. bagi hamba-hamba-Nya yang berani hidup di atas kebenaran dan keadilan.

berkali-kali imannya yang teguh diuji oleh Rasul Allah s.a.w. Tiap kali diuji, tiap kali itu juga lulus dengan meraih nilai yang amat tinggi. Ujian pertama yang maha berat ialah yang terjadi pada saat Rasul Allah s.a.w. menerima perintah Allah s.w.t. supaya berhijrah ke Madinah.

Seperti diketahui, di satu malam yang gelap-gulita, komplot­an kafir Qureiys mengepung kediaman Rasul Allah s.a.w. dengan tujuan hendak membunuh beliau, bilamana beliau meninggalkan rumah. Dalam peristiwa ini Imam Ali r.a. memainkan peranan besar: Ia diminta oleh Rasul Allah s.a.w. supaya tidur di atas pembaringan beliau menutup tubuhnya dengan selimut beliau guna mengelabui mata orang-orang Qureiys. Tanpa tawar-me­nawar Imam Ali r.a. menyanggupinya. Ia menangis bukan men­cemaskan nyawanya sendiri, melainkan karena ia khawatir atas keselamatan Rasul Allah s.a.w. yang saat itu berkemas-kemas hen­dak hijrah meninggalkan kampung halaman.

Melihat Imam Ali menangis, maka Rasul Allah bertanya: “Apa sebab engkau menangis, Apakah engkau takut mati?”.

Imam Ali r.a. dengan tegas menjawab: “Tidak, ya Rasul Allah! Demi Allah yang mengutusmu membawa kebenaran! Aku sangat khawatir terhadap diri anda. Apakah anda akan selamat, ya R,asul Allah?”

“Ya,” jawab Nabi Muhammad s.a.w. dengan tidak ragu-­ragu.

Mendengar kata-kata yang pasti dari Rasul Allah s.a.w., Imam Ali r.a. terus berkata: “Baiklah, aku patuh dan kutaati perintah anda. Aku rela menebus keselamatan anda dengan nyawa­ku, ya Rasul Allah!”

Imam Ali r.a. segera menghampiri pembaringan Rasul Allah s.a.w. Kemudian berselunjur mengenakan selimut beliau untuk menutupi tubuhnya. Saat itu orang-orang kafir Qureiys sudah mulai berdatangan di sekitar rumah Rasul Allah s.a.w. dan me­ngepungnya dari segala jurusan. Dengan perlindungan Allah s.w.t. dan sambil membaca ayat 9 Surah Yaa Sin, beliau keluar tanpa diketahui oleh orang-orang yang sedang mengepung dan mengin­tai. Orang-orang Qureiys itu menduga, bahwa orang yang sedang berbaring dan berselimut itu pasti Nabi Muhammad s.a.w. Mere­ka yang mengepung itu mewakili suku-suku qabilah Qureiys yang telah bersepakat hendak membunuh Nabi Muhammad s.a.w. de­ngan pedang secara serentak. Dengan cara demikian itu, tidak mungkin Bani Hasyim dapat menuntut balas.

Imam Ali r.a. mengerti benar kemungkinan apa yang akan diperbuat orang-orang kafir Qureiys terhadap dirinya karena ia tidur di pembaringan Rasul Allah s.a.w. Hal itu sama sekali tidak membuatnya sedih atau takut. Dengan kesabaran yang luar biasa, ia berserah diri pada Allah s.w.t. Ia yakin, bahwa Dia-lah yang menentukan segala-galanya.

Menjelang subuh, Imam Ali r.a. bangun. Gerombolan Qureiys terus menyerbu ke dalam rumah. Dengan suara membentak mereka bertanya: “Mana Muhammad? Mana Muhammad?”

“Aku tak tahu di mana Muhammad berada!” jawab Imam Ali r.a. dengan tenang.

Gerombolan Qureiys itu segera mencari-cari ke sudut-sudut rumah. Usaha mereka sia-sia belaka. Gerombolan itu kecewa benar. Di dalam hati mereka bertanya-tanya: “Kemana ia pergi?” Dalam suasana gaduh Imam Ali r.a. bertanya: “Apa maksud ka­lian?”

“Mana, Muhammad? Mana Muhammad?” mereka meng­ulang-ulang pertanyaan semula.

“Apakah kalian mengangkatku menjadi pengawasnya?” ujar Imam Ali r.a. dengan nada memperolok-olok. “Bukankah kalian sendiri berniat mengeluarkannya dari negeri ini? sekarang ia sudah keluar meninggalkan kalian!”

Ucapan Imam Ali r.a. sungguh-sungguh menggambarkan ke­tabahan dan keberanian hatinya. Cahaya pedang terhunus yang berkilauan, samasekali tidak dihiraukan, bahkan orang-orang Qureiys yang kalap itu dicemoohkan. Seandainya ada seorang saja dari gerombolan itu mengayunkan pedang ke arah Imam Ali r.a., entahlah apa yang terjadi. Tetapi Allah tidak menghendaki hal itu.

Keesokan harinya, Imam Ali r.a. berkemas-kemas memper­siapkan segala sesuatu untuk berangkat membawa beberapa o­rang wanita Bani Hasyim, terutama Sitti Fatimah r.a., menyusul perjalanan Nabi Muhammad s.a.w. dalam hijrahnya ke Madinah.

Seperti telah diterangkan di muka, rombongan Imam Ali r.a. berangkat secara terang-terangan di siang hari. Setibanya di Dhajnan ia membuka babak konfrontasi bersenjata antara kaum muslimin dan kaum musyrikin.

Imam Ali r.a. yang ketika itu berusia 26 tahun, merupakan orang pertama yang menghunus pedang untuk mematahkan ag­resi bersenjata orang-orang kafir Qureiys. Terbelahnya tubuh Jenah menjadi dua dan larinya 7 orang pasukan berkuda Qureiys yang semula mengejar rombongan, merupakan tonggak sejarah yang menandai akan datangnya masa cerah bagi kaum muslimin dan masa suram bagi kaum musyrikin.

Perang Badr

Perang Badr merupakan perang pertama yang terpaksa di­arungi oleh kaum muslimin menghadapi musuh yang jauh lebih besar jumlahnya. Perang ini merupakan demonstrasi pertama dari ketangguhan kaum muslimin melawan serangan kaum musyrikin Qureiys. Untuk pertama kalinya panji perang Rasul Allah s.a.w. berkibar di medan laga. Dan yang diberi kepercayaan memegang panji yang melambangkan tekad perjuangan menegakkan agama Allah s.w.t. itu, ialah Imam Ali bin Abi Thalib r.a.

Tanpa pengalaman perang sama sekali dan dengan kekuatan pasukan yang hanya sepertiga kekuatan musuh, pasukan muslimin dengan kebulatan iman yang teguh berhasil menancapkan tonggak sejarah yang sangat menentukan perkembangan Islam lebih lanjut. Perlengkapan dan persenjataan kaum muslimin waktu itu boleh dibilang nol. Pasukan berkuda dan penunggang unta, yaitu pasukan yang dipandang paling ampuh dan “modern” pada masa itu, praktis tidak dipunyai oleh kaum muslimin. Demikian langkanya kuda dan unta dibanding dengan jumlah pasukan yang ada, sam­pai-sampai seekor unta dikendarai oleh dua hingga empat orang secara bergantian. Hanya ada seekor kuda yang tersedia, yaitu yang dikendarai oleh Al Miqdad bin Al Aswad Al Kindiy. Itulah kekuatan “kavaleri” Rasul Allah s.a.w. di dalam perang Badr.

Dalam perang Badr itu pasukan muslimin tidak sedikit yang menerjang musuh hanya dengan senjata-senjata tajam yang sangat sederhana. Sedangkan musuh yang dilawan mempunyai persen­jataan lengkap dengan kuda-kuda tunggang dan unta-unta. Tetapi sebenarnya kaum muslimin mempunyai senjata yang lebih ampuh dibanding dengan lawannya, yaitu kepemimpinan Rasul Allah s.a.w. dan kepercayaan kuat bahwa Allah pasti akan memberikan pertolongan-Nya. Allahu Akbar.

Perang Badr sebenarnya terjadi di luar rencana. Pada mulanya kaum muslimin di bawah pimpinan Rasul Allah s.a.w. bermaksud hendak mencegat kafilah Abu Sufyan bin Harb yang telah me­ninggalkan Makkah berangkat menuju negeri Syam, dan akan kembali ke Makkah lewat sebuah tempat bernama ‘Usyaira. Di tempat itulah kaum muslimin siap menghadang, tetapi ternyata kafilah Abu Sufyan sudah lolos lebih dulu.

Ketika peperangan mulai berkobar, Imam Ali bersama Ham­zah bin Abdul Mutthalib dan beberapa orang lainnya, berada di barisan terdepan. Pada tangan Imam Ali r.a. berkibar panji perang Rasul Allah s.a.w. Ia terjun ke medan laga menerjang pasukan mu­suh yang jauh lebih besar dan kuat. Dalam perang ini untuk perta­ma kalinya kalimat “Allahu Akbar” berkumandang membaja­kan tekad pasukan muslimin.

Saat itu terdengar suara musuh menantang: “Hai Muhammad suruhlah orang-orang yang berwibawa dari asal Qureiys supaya tampil!”

Mendengar tantangan itu, laksana singa lapar Imam Ali r.a. meloncat maju ke depan mendekati suara yang menantang-nan­tang. Terjadilah perang tanding (duel) antara Imam Ali r.a. dengan Al Walid bin Utbah, saudara Hindun isteri Abu Sufyan. Dalam pertempuran yang seru itu, Al Walid mati di ujung pedang Imam Ali r.a.

Dalam perang Badr ini 70 orang pasukan kafir Qureiys mati terbunuh, dan hampir separonya mati di ujung pedang Imam Ali r.a. Kecuali itu lebih dari 70 orang pemuka Qureiys berhasil dita­wan dan digiring ke Madinah. Perang Badr yang berakhir dengan kemenangan kaum muslimin itu merupakan fajar pagi yang menan­dai pesatnya kemajuan agama Allah s.w.t.

Disadur dari buku :

Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a.
Oleh H.M.H. Al Hamid Al Husaini
Penerbit: Lembaga Penyelidikan Islam

https://tausyah.wordpress.com