Posts Tagged ‘Ilmu Hadist’

DEFINISI MUSTHOLA’AH HADITS

HADITS ialah sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam baik berupa perkataan, perbuatan, pernyataan, taqrir, dan sebagainya.

ATSAR ialah sesuatu yang disandarkan kepada para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

TAQRIR ialah keadaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mendiamkan, tidak mengadakan sanggahan atau menyetujui apa yang telah dilakukan atau diperkatakan oleh para sahabat di hadapan beliau.

SAHABAT ialah orang yang bertemu Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan pertemuan yang wajar sewaktu beliau masih hidup, dalam keadaan islam lagi beriman dan mati dalam keadaan islam.

TABI’IN ialah orang yang menjumpai sahabat, baik perjumpaan itu lama atau sebentar, dan dalam keadaan beriman dan islam, dan mati dalam keadaan islam.

MATAN ialah lafadz hadits yang diucapkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, atau disebut juga isi hadits.

Unsur-Unsur Yang Harus Ada Dalam Menerima Hadits

Rawi, yaitu orang yang menyampaikan atau menuliskan hadits dalam suatu kitab apa-apa yang pernah didengar dan diterimanya dari seseorang atau gurunya. Perbuatannya menyampaikan hadits tersebut dinamakan merawi atau meriwayatkan hadits dan orangnya disebut perawi hadits.

Sistem Penyusun Hadits Dalam Menyebutkan Nama Rawi

As Sab’ah berarti diriwayatkan oleh tujuh perawi, yaitu :
1. Ahmad
2. Bukhari
3. Turmudzi
4. Nasa’i
5. Muslim
6. Abu Dawud
7. Ibnu Majah

As Sittah berarti diriwayatkan oleh enam perawi yaitu : Semua nama yang tersebut diatas (As Sab’ah) selain Ahmad

Al Khomsah berarti diriwayatkan oleh lima perawi yaitu : Semua nama yang tersebut diatas (As Sab’ah) selain Bukhari dan Muslim

Al Arba’ah berarti diriwayatkan oleh empat perawi yaitu : Semua nama yang tersebut diatas (As Sab’a) selain Ahmad, Bukhari dan Muslim.

Ats Tsalasah berarti diriwayatkan oleh tiga perawi yaitu : Semua nama yang tersebut diatas (As Sab’ah) selain Ahmad, Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah.

Asy Syaikhon berarti diriwayatkan oleh dua orang perawi yaitu : Bukhari dan Muslim

Al Jama’ah berarti diriwayatkan oleh para perawi yang banyak sekali jumlahnya (lebih dari tujuh perawi / As Sab’ah).

Matnu’l Hadits adalah pembicaraan (kalam) atau materi berita yang berakhir pada sanad yang terakhir. Baik pembicaraan itu sabda Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, sahabat ataupun tabi’in. Baik isi pembicaraan itu tentang perbuatan Nabi, maupun perbuatan sahabat yang tidak disanggah oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam .

Sanad atau Thariq adalah jalan yang dapat menghubungkan matnu’l hadits kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam .

Gambaran Sanad

Untuk memahami pengertian sanad, dapat digambarkan sebagai berikut: Sabda Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam didengar oleh sahabat (seorang atau lebih). Sahabat ini (seorang atau lebih) menyampaikan kepada tabi’in (seorang atau lebih), kemudian tabi’in menyampaikan pula kepada orang-orang dibawah generasi mereka. Demikian seterusnya hingga dicatat oleh imam-imam ahli hadits seperti Muslim, Bukhari, Abu Dawud, dll.

Contoh:
Waktu meriwayatkan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Bukhari berkata hadits ini diucapkan kepada saya oleh A, dan A berkata diucapkan kepada saya oleh B, dan B berkata diucapkan kepada saya oleh C, dan C berkata diucapkan kepada saya oleh D, dan D berkata diucapkan kepada saya oleh Nabi Muhammad.

Awal Sanad dan akhir Sanad

Menurut istilah ahli hadits, sanad itu ada permulaannya (awal) dan ada kesudahannya (akhir). Seperti contoh diatas yang disebut awal sanad adalah A dan akhir sanad adalah D.

KLASIFIKASI HADITS

Klasifikasi hadits menurut dapat (diterima) atau ditolaknya hadits sebagai hujjah (dasar hukum) adalah:

Hadits Shohih, adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang adil, sempurna ingatan, sanadnya bersambung, tidak ber illat dan tidak janggal. Illat hadits yang dimaksud adalah suatu penyakit yang samar-samar yang dapat menodai keshohihan suatu hadits.

Hadits Makbul adalah hadits-hadits yang mempunyai sifat-sifat yang dapat diterima sebagai Hujjah. Yang termasuk hadits makbul adalah Hadits Shohih dan Hadits Hasan.

Hadits Hasan adalah hadits yang diriwayatkan oleh Rawi yang adil, tapi tidak begitu kuat ingatannya (hafalan), bersambung sanadnya, dan tidak terdapat illat serta kejanggalan pada matannya. Hadits Hasan termasuk hadits yang Makbul, biasanya dibuat hujjah buat sesuatu hal yang tidak terlalu berat atau terlalu penting.

Hadits Dhoif adalah hadits yang kehilangan satu syarat atau lebih dari syarat-syarat hadits shohih atau hadits hasan. Hadits Dhoif banyak macam ragamnya dan mempunyai perbedaan derajat satu sama lain, disebabkan banyak atau sedikitnya syarat-syarat hadits shohih atau hasan yang tidak dipenuhinya.

SYARAT-SYARAT HADITS SHOHIH

Suatu hadits dapat dinilai shohih apabila telah memenuhi 5 Syarat :

Rawinya bersifat Adil

Sempurna ingatan

Sanadnya tidak terputus

Hadits itu tidak berillat dan

Hadits itu tidak janggal

Arti Adil dalam periwayatan, seorang rawi harus memenuhi 4 syarat untuk dinilai adil, yaitu :

Selalu memelihara perbuatan taat dan menjahui perbuatan maksiat.

Menjauhi dosa-dosa kecil yang dapat menodai agama dan sopan santun.

Tidak melakukan perkara-perkara Mubah yang dapat menggugurkan iman kepada kadar dan mengakibatkan penyesalan.

Tidak mengikuti pendapat salah satu madzhab yang bertentangan dengan dasar Syara’.

KLASIFIKASI HADITS DHOIF BERDASARKAN KECACATAN PERAWINYA

Hadits Maudhu’: adalah hadits yang diciptakan oleh seorang pendusta yang ciptaan itu mereka katakan bahwa itu adalah sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, baik hal itu disengaja maupun tidak.

Hadits Matruk: adalah hadits yang menyendiri dalam periwayatan, yang diriwayatkan oleh orang yang dituduh dusta dalam perhaditsan.

Hadits Munkar: adalah hadits yang menyendiri dalam periwayatan, yang diriwayatkan oleh orang yang banyak kesalahannya, banyak kelengahannya atau jelas kefasiqkannya yang bukan karena dusta. Di dalam satu jurusan jika ada hadits yang diriwayatkan oleh dua hadits lemah yang berlawanan, misal yang satu lemah sanadnya, sedang yang satunya lagi lebih lemah sanadnya, maka yang lemah sanadnya dinamakan hadits Ma’ruf dan yang lebih lemah dinamakan hadits Munkar.

Hadits Mu’allal (Ma’lul, Mu’all): adalah hadits yang tampaknya baik, namun setelah diadakan suatu penelitian dan penyelidikan ternyata ada cacatnya. Hal ini terjadi karena salah sangka dari rawinya dengan menganggap bahwa sanadnya bersambung, padahal tidak. Hal ini hanya bisa diketahui oleh orang-orang yang ahli hadits.

Hadits Mudraj (saduran): adalah hadits yang disadur dengan sesuatu yang bukan hadits atas perkiraan bahwa saduran itu termasuk hadits.

Hadits Maqlub: adalah hadits yang terjadi mukhalafah (menyalahi hadits lain), disebabkan mendahului atau mengakhirkan.

Hadits Mudltharrib: adalah hadits yang menyalahi dengan hadits lain terjadi dengan pergantian pada satu segi yang saling dapat bertahan, dengan tidak ada yang dapat ditarjihkan (dikumpulkan).

Hadits Muharraf: adalah hadits yang menyalahi hadits lain terjadi disebabkan karena perubahan Syakal kata, dengan masih tetapnya bentuk tulisannya.

KLASIFIKASI HADITS AHAD

Hadits Masyhur: adalah hadits yang diriwayatkan oleh 3 orang rawi atau lebih, serta belum mencapai derajat mutawatir.

Hadits Aziz: adalah hadits yang diriwayatkan oleh 2 orang rawi, walaupun 2 orang rawi tersebut pada satu thabaqah (lapisan) saja, kemudian setelah itu orang-orang meriwayatkannya.

Hadits Gharib: adalah hadits yang dalam sanadnya terdapat seorang yang menyendiri dalam meriwayatkan, dimana saja penyendirian dalam sanad itu terjadi.

HADITS QUDSI ATAU HADITS RABBANI ATAU HADITS ILAHI

Adalah sesuatu yang dikabarkan oleh Allah kepada nabiNya dengan melalui ilham atau impian, yang kemudian nabi menyampaikan makna dari ilham atau impian tersebut dengan ungkapan kata beliau sendiri.

Perbedaan Hadits Qudsi dengan hadits Nabawi

Pada hadits qudsi biasanya diberi ciri ciri dengan dibubuhi kalimat-kalimat :

Qala ( yaqalu ) Allahu

Fima yarwihi ‘anillahi Tabaraka wa Ta’ala

Lafadz lafadz lain yang semakna dengan apa yang tersebut diatas.

Perbedaan Hadits Qudsi dengan Al-Qur’an:

Semua lafadz-lafadz Al-Qur’an adalah mukjizat dan mutawatir, sedang hadits qudsi tidak demikian.

Ketentuan hukum yang berlaku bagi Al-Qur’an, tidak berlaku pada hadits qudsi. Seperti larangan menyentuh, membaca pada orang yang berhadats, dll.

Setiap huruf yang dibaca dari Al-Qur’an memberikan hak pahala kepada pembacanya.

Meriwayatkan Al-Qur’an tidak boleh dengan maknanya saja atau mengganti lafadz sinonimnya, sedang hadits qudsi tidak demikian.

BID’AH

Yang dimaksud dengan bid’ah ialah sesuatu bentuk ibadah yang dikategorikan dalam menyembah Allah yang Allah sendiri tidak memerintahkannya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak menyontohkannya, serta para sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak menyontohkannya.

Kewajiban sebagai seorang muslim adalah mengingatkan amar ma’ruf nahi munkar kepada saudara-saudara seiman yang masih sering mengamalkan amalan-amalan ataupun cara-cara bid’ah.

Alloh berfirman, dalam QS Al-Maidah ayat 3, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” Jadi tidak ada satu halpun yang luput dari penyampaian risalah oleh Nabi. Sehingga jika terdapat hal-hal baru yang berhubungan dengan ibadah, maka itu adalah bid’ah.

“Kulu bid’ah dholalah…” semua bid’ah adalah sesat (dalam masalah ibadah). “Wa dholalatin fin Naar…” dan setiap kesesatan itu adanya dalam neraka.

Beberapa hal seperti speaker, naik pesawat, naik mobil, pakai pasta gigi, tidak dapat dikategorikan sebagai bid’ah. Semua hal ini tidak dapat dikategorikan sebagai bentuk ibadah yang menyembah Allah. Ada tata cara dalam beribadah yang wajib dipenuhi, misalnya dalam hal sembahyang ada ruku, sujud, pembacaan al-Fatihah, tahiyat, dst. Ini semua adalah wajib dan siapa pun yang menciptakan cara baru dalam sembahyang, maka itu adalah bid’ah. Ada tata cara dalam ibadah yang dapat kita ambil hikmahnya. Seperti pada zaman Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menggunakan siwak, maka sekarang menggunakan sikat gigi dan pasta gigi, terkecuali beberapa muslim di Arab, India, dst.

Menemukan hal baru dalam ilmu pengetahuan bukanlah bid’ah, bahkan dapat menjadi ladang amal bagi umat muslim. Banyak muncul hadits-hadits yang bermuara (matannya) kepada hal bid’ah. Dan ini sangat sulit sekali untuk diingatkan kepada para pengamal bid’ah.

Apakah yang menyebabkan timbulnya Hadits-Hadits Palsu?

Didalam Kitab Khulaashah Ilmil Hadits dijelaskan bahwa kabar yang datang pada Hadits ada tiga macam:

Yang wajib dibenarkan (diterima).

Yang wajib ditolak (didustakan, tidak boleh diterima) yaitu Hadits yang diadakan orang mengatasnamakan Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Yang wajib ditangguhkan (tidak boleh diamalkan) dulu sampai jelas penelitian tentang kebenarannya, karena ada dua kemungkinan. Boleh jadi itu adalah ucapan Nabi dan boleh jadi pula itu bukan ucapan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam (dipalsukan atas nama Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam).

Untuk mengetahui apakah Hadits itu palsu atau tidak, ada beberapa cara, diantaranya:

Atas pengakuan orang yang memalsukannya. Misalnya Imam Bukhari pernah meriwayatkan dalam Kitab Taarikhut Ausath dari ‘Umar bin Shub-bin bin ‘Imran At-Tamiimy sesungguhnya dia pernah berkata, artinya: Aku pernah palsukan khutbah Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Maisaroh bin Abdir Rabbik Al-Farisy pernah mengakui bahwa dia sendiri telah memalsukan Hadits hadits yang berhubung-an dengan Fadhilah Qur’an (Keutamaan Al-Qur’an) lebih dari 70 hadits, yang sekarang banyak diamalkan oleh ahli-ahli Bid’ah. Menurut pengakuan Abu ‘Ishmah Nuh bin Abi Maryam bahwa dia pernah memalsukan dari Ibnu Abbas beberapa Hadits yang hubungannya dengan Fadhilah Qur’an satu Surah demi Surah. (Kitab Al-Baa’itsul Hatsiits).

Dengan memperhatikan dan mempelajari tanda-tanda/qorinah yang lain yang dapat menunjukkan bahwa Hadits itu adalah Palsu. Misalnya dengan melihat dan memperhatikan keadaan dan sifat perawi yang meriwayatkan Hadits itu.

Terdapat ketidaksesuaian makna dari matan (isi cerita) hadits tersebut dengan Al-Qur’an. Hadits tidak pernah bertentangan dengan apa yang ada dalam ayat-ayat Qur’an.

Terdapat kekacauan atau terasa berat didalam susunannya, baik lafadznya ataupun ditinjau dari susunan bahasa dan Nahwunya (grammarnya).

SEBAB-SEBAB TERJADI ATAS TIMBULNYA HADITS-HADITS PALSU

Adanya kesengajaan dari pihak lain untuk merusak ajaran Islam. Misalnya dari kaum Orientalis Barat yang sengaja mempelajari Islam untuk tujuan menghancurkan Islam (seperti Snouck Hurgronje).

Untuk menguatkan pendirian atau madzhab suatu golongan tertentu. Umumnya dari golongan Syi’ah, golongan Tareqat, golongan Sufi, para Ahli Bid’ah, orang-orang Zindiq, orang yang menamakan diri mereka Zuhud, golongan Karaamiyah, para Ahli Cerita, dan lain-lain. Semua yang tersebut ini membolehkan untuk meriwayatkan atau mengadakan Hadits-hadits Palsu yang ada hubungannya dengan semua amalan-amalan yang mereka kerjakan. Yang disebut ‘Targhiib’ atau sebagai suatu ancaman yang yang terkenal dengan nama ‘At-Tarhiib’.

Untuk mendekatkan diri kepada Sultan, Raja, Penguasa, Presiden, dan lain-lainnya dengan tujuan mencari kedudukan.

Untuk mencari penghidupan dunia (menjadi mata pencaharian dengan menjual hadits-hadits Palsu).

Untuk menarik perhatian orang sebagaimana yang telah dilakukan oleh para ahli dongeng dan tukang cerita, juru khutbah, dan lain-lainnya.

HUKUM MERIWAYATKAN HADITS-HADITS PALSU

Secara Muthlaq, meriwayatkan hadits-hadits palsu itu hukumnya haram bagi mereka yang sudah jelas mengetahui bahwa hadits itu palsu.

Bagi mereka yang meriwayatkan dengan tujuan memberi tahu kepada orang bahwa hadits ini adalah palsu (menerangkan kepada mereka sesudah meriwayatkan atau mebacakannya) maka tidak ada dosa atasnya.

Mereka yang tidak tahu sama sekali kemudian meriwayatkannya atau mereka mengamalkan makna hadits tersebut karena tidak tahu, maka tidak ada dosa atasnya. Akan tetapi sesudah mendapatkan penjelasan bahwa riwayat atau hadits yang dia ceritakan atau amalkan itu adalah hadits palsu, maka hendaklah segera dia tinggalkannya, kalau tetap dia amalkan sedang dari jalan atau sanad lain tidak ada sama sekali, maka hukumnya tidak boleh (berdosa – dari Kitab Minhatul Mughiits).

(Sumber Rujukan: Kitab Hadits Dhaif dan Maudhlu – Muhammad Nashruddin Al-Albany; Kitab Hadits Maudhlu – Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah; Kitab Mengenal Hadits Maudhlu – Muhammad bin Ali Asy-Syaukaaniy; Kitab Kalimat-kalimat Thoyiib – Ibnu Taimiyah (tahqiq oleh Muhammad Nashruddin Al-Albany); Kitab Mushtholahul Hadits – A. Hassan)

Sumber: http://mediaislam.fisikateknik.org

Di kutip dari kitab Bulugh Al Maram karya Ibnu Hajar Al Asqalani. Beberapa istilah hadits yang perlu diketahui itu adalah :

1. Hadits, Atsar, dan Matan

Hadits ialah perkataan atau ucapan Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam.
Jika disebut Hadits Bukhori, maka maksudnya adala hadits Nabi yang
diriwayatkan oleh Bukhori dalam kitabnya.

Atsar adalah perkataan para sahabat Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam.
Terkadang disebut Riwayat.

Matan adalah isi hadits Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam.

2. Gambaran Sanad

Seorang sahabat atau lebih yang mendengar sabda Rosululloh Shallallahu’alaihi wa sallam, lalu ia menyampaikan sabda beliau kepada Tabi’in, lalu Tabi’in kepada Tabi’t-Tabi’in, lalu Tabi’it-Tabi’in kepada orang-orang setelah mereka. Begitu seterusnya, hingga hadits- hadits ini dicatat oleh imam-imam ahli hadits, seperti Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Bukhori, dan Imam Muslim.

Imam Bukhori misalnya, mengatakan bahwa hadits ini diucapkan kepada saya oleh seseorang bernama A, dan A berkata, diucapkan kepada saya oleh B, dan B berkata; diucapkan kepada saya dari C, dan C berkata, diucapkan kepada saya dari D, dan D berkata; diucapkan kepada saya dari E, dan E berkata; diucapkan kepada saya dari F, dan F berkata; diucapkan kepada saya dari Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam.

Menurut contoh tersebut, orang yang menjadi perantara antara Nabi dan
Bukhori ada 6 orang perawi.

3. Perawi, Sanad, dan Pentakhrij

Tiap-tiap orang dari A sampai F yang disebutkan tadi adalah Perawi. Jumlah perawi pada suatu hadits dinamakan Sanad atau Isnad.
Sedangkan yang dimaksud pentakhrij hadits adalah orang alim yang mencatat hadits Rosululloh Shallallahu’alaihi wa sallam atau Imam ahli hadits, seperti Imam Malik, Bukhori, Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi.

4. Hadits Marfu’

Yaitu suatu hadits yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam, oleh seorang perawi kepada perawi-perawi lainnya hingga kepada Ulama yang meriwayatkan hadits itu (seperti Bukhori, Muslim, dan Abu Daud) atau hadits yang dinisbatkan kepada Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam. Jika ada perkataan ahli hadits bahwa hadits ini di-marfu’ –kan oleh seorang sahabat seperti Abu Hurairoh, misalnya, berarti Abu Hurairoh menyatakan bahwa hadits itu dari Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam.

5. Hadits Mauquf

Yaitu fatwa sahabat atau pendapat sahabat yang diriwayatkan oleh pada ahli hadits kepada kita. Dengan kata lain, terhenti sampai pada sahabat, tidak sampai kepada Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam.

6. Hadits Mursal

Yaitu bila seorang Tabi’in (generasi setelah sahabat) yang tentunya tidak
bertemu dengan Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam berkata, “Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,” dengan tidak ada perantara perawi dari kalangan sahabat.

7. Hadits Mudallas

Yaitu hadits yang diriwayatkan dengan tidak tegas, dari seseorang ke orang lain.

8. Hadits Maqthu’

Yaitu hadits yang sanadnya hanya sampai kepada Tabi’in saja.

9. Hadits Munqathi’

Yaitu jika gugur nama seorang perawi lantaran memiliki sifat yang tidak baik sebagai seorang perawi hadits, seperti pendusta atau orang yang buruk hafalanya.

10. Hadits Mudhthorib

Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi dengan satu rangkaian, tetapi perawi itu juga meriwayatkan hadits dengan rangkaian sanad lain yang berbeda makna dan tidak bisa diputuskan rangkaian hadits yang benar.

11. Hadits Maudhu’ dan Matruk

Hadits yang dalam sanadnya ada seorang pendusta dinamakan hadits
maudhu’. Hadits tersebut dibuat-buat oleh manusia (hadits palsu) lalu mereka katakan bahwa hadits itu adalah sabda Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam.

Sedangkan hadits yang dalam sanadnya terdapat seorang tertunduh sebagai pendusta maka hadits itu dinamakan hadits Matruk.
Orang yang dituduh sebagai pendusta kadang disebut juga Matruk, yaitu yang ditinggalkan, yang tidak diambil, atau yang dibuang haditsnya.

12. Hadits Mungkar

Yaitu hadits yang di antara sanadnya ada seorang yang banyak salahnya.

13. Hadits Dho’if

Yaitu perkataan yang dikatakan dari Rasululloh Shallallahu’alaihi wa sallam, tetapi tidak memenuhi sifa-sifat dan syarat-syarat hadits Shahih dan hadits Hasan. Jika seseorang berkata, “Ini adalah hadits Dho’if, “maka bukan berarti ia melemahkan hadits itu atau menolak sabda Rosul, akan tetapi meksudnya ia tidak yakin bahwa perkataan itu adalah sabda Rosul.

14. Hadits Shahih dan Hadist Hasan

Hadist shohih adalah suatu hadits yang perawi-perawinya seperti dikehendaki pada keterangan nomor 15.

Hadits hasan adalah hadits yang hampir sama dengan hadits shohih. tetapi di antara perawi-perawinya terdapat orang yang memiliki sedikit kakurangan, seperti yang disebutkan pada no 15.
Hadits hasan sering juga dijadikan alasan untuk suatu hal yang tidak terlalu berat atau tidak terlalu penting.

15. Sifat-sifat Perawi

Tidak dikenal sebagai pendusta, tidak dituduh sebagai pendusta, tidak banyak salah, tidak kurang ketelitiannya, tidak fasiq, tidak ragu, tidak ahli bid’ah, kuat hafalannya, tidak sering menyalahi perawi-perawi yang kuat, dan dikenal, minimal dikenal oleh dua orang ahli hadits pada Zamannya.

16. Hadits ghorib

Hadits yang sanadnya dari awal hingga akhir hanya diriwayatkan oleh satu orang hingga tercatat dengan satu sanad dan hadits ini diriwayatkan oleh satu orang imam hadits, maka dinamakan ghorib atau aneh.

https://tausyah.wordpress.com/