Posts Tagged ‘Ibnu Shayyad’

OlehYusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil MA

Ketika tersiar di kalangan orang banyak perihal Ibnu Shayyad sebagai Dajjal, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin mengetahuinya secara jelas, lalu beliau pergi menemui Ibnu Shayyad dengan menyamar (tidak menampakkan identitasnya) sehingga Ibnu Shayyad tidak mengetahuinya, dengan harapan beliau dapat mendengar sesuatu darinya, kemudian beliau menghadapkan beberapa pertanyaan kepadanya untuk mengungkap hakikatnya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Umar pernah pergi bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu rombongan untuk menemui Ibnu Shayyad, hingga mereka berhasil menemuinya ketika ia sedang bermain-main dengan anak-anak kecil di sebelah bangunan yang tinggi seperti benteng yang ada di antara lembah kaum Anshar. Ketika itu Ibnu Shayyad sudah hampir dewasa, dan dia tidak merasa akan kedatangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga beliau memukulnya dengan tangan beliau seraya bertanya. “Apakah engkau bersaksi bahwa saya adalah Rasul Allah?” Lalu Ibnu Shayyad melihat kepada beliau lantas berkata, “Saya bersaksi bahwa engkau adalah Rasul bagi orang-orang ummi (buta hurut).”

Selanjutnya Ibnu Shayyad berkata, “Apakah engkau bersaksi bahwa saya utusan Allah?”
Nabi menjawab, “Aku beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Bagaimana pandanganmu?”
Ibnu Shayyad berkata, “Telah datang kepadaku seorang yang jujur dan seorang pendusta.”
Nabi bersabda, “Pikiranmu kacau-balau. Apakah saya menyembunyikan sesuatu terhadapmu?”
Ibnu Shayyad menjawab, “Asap.”
Nabi bersabda, “Duduklah, sesungguhnya engkau tidak akan dapat melampaui kedudukanmu.”
Umar berkata, “Biarkanlah saya pukul kuduknya, wahai Rasulullah.”
Nabi bersabda, “Jika ia menyindir, maka engkau tidak dapat menguasainya. Tapi jika ia tidak menyindir, maka tidak ada kebaikan untukmu dalam membunuhnya.” [Shahih Bukhari. Kitabul Janaiz, Bab Idza As lama Ash-Shabiyyu fa maata Hal Yusholla ‘alaihi wa Hal Yu’rodhu ‘Ala Ash-Shabiyyi Al-Islamu 3: 217)]

Dan dalam satu riwayat disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Ibnu Shayyad, “Apakah yang engkau lihat?” Dia menjawab, “Saya melihat singgasana di atas air.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau melihat singgasana iblis di laut, dan apa lagi yang engkau lihat?” Dia menjawab, “Saya melihat dua orang yang jujur dan seorang pendusta, atau dua orang pendusta dan seorang yang jujur.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pikirannya sedang kacau-balau, biarkanlah dia!” [Shahih Muslim, Kitabul Fitan wa Asyrothis Sa’ah, Bab Dzikir Ibni Shayyad 18: 49-50]

Ibnu Umar menceritakan dalam versi lain, “Setelah itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Ubay bin Ka’ab pergi ke kebun kurma yang di sana terdapat Ibnu Shayyad. Beliau berjalan pelan-pelan karena ingin mendengar sesuatu dari Ibnu Shayyad sebelum Ibnu Shayyad mengetahui beliau, lalu Nabi saw melihatnya sedang berbaring di atas sehelai kain miliknya yang ada tandanya. Lalu ibu Ibnu Shayyad melihat Rasulullah saw yang sedang berlindung di balik batang pohon kurma, lantas ia berkata kepada Ibnu Shayyad, “Wahai Shafi -nama ibu Ibnu Shayyad yang sebenarnya- ini adalah Muhammad saw!” Lalu Ibnu Shayyad lari. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya ibunya membiarkannya, niscaya akan nampak jelas masalahnya.”[Shahih Bukhari 3: 218]

Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus saya untuk menemui ibunya. Beliau bersabda, “Tanyakanlah kepadanya berapa lama ia mengandungnya.” Lalu saya datang kepadanya dan menanyakannya, kemudian ia menjawab, “Aku mengandungnya selama dua belas bulan.” Abu Dzar berkata, “Kemudian beliau menyuruh saya untuk menanyakan bagaimana ia berteriak (menangis) sewaktu dilahirkan. Lalu saya kembali lagi kepadanya dan menanyakannya. Kemudian ia menjawab, “Dia menangis seperti menangisnya bayi yang sudah berusia satu bulan.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Sesungguhnya saya menyembunyikan sesuatu kepadamu.” Dia berkata, “Engkau menyembunyikan bagian depan hidung dan mulut (cingur) kambing serta asap kepadaku.” Kata Abu Dzar, “Ia hendak mengucapkan ad-dukhon tetapi tidak dapat, lalu ia mengungkapkan ad-dukh, ad-dukh.” [Musnad Ahmnad Ahmad 5: 148. Ibnu Hajar berkata, “Shahih.”]

Maka pengujian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya dengan “ad-dukhon” adalah untuk mengetahui hakikat urusannya.

Dan yang dimaksud dengan “ad-dukhon” di sini ialah firman Allah:

“Artinya : Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata” [Ad-Dukhon: 10]

Dan di dalam riwayat Ibnu Umar seperti yang diriwayatkan Imam Ahmad: “Aku menyembunyikan sesuatu terhadapmu.” Dan beliau menyembunyikan apa yang terkandung dalam ayat:

“Artinya : … hari ketika langit membawa kabut yung terang” [Musnad Ahmad 9: 139. hadits nomor 6360 dengan tahqiq Ahmad Syakir. Beliau berkata, “Isnadnya shahih.”]

Ibnu Katsir berkata. “Ibnu Shayyad dapat mengungkapkannya lewat jalan para dukun dengan lisan jin, dan mereka memotong ungkapan itu. Karena itu ia berkata. Ad-dukh, yakni ad-dukhon. Ketika itu tahulah Rasulullah saw materinya bahwa itu dari syetan. Lalu beliau bersabda, “Duduklah, engkau tidak akan dapat melampaui kedudukanmu.” [Tafsir Ibnu Katsir 7: 234]

KEMATIAN IBNU SHAYYAD
Dari Jabir Radiyallahu anhu ia berkata, “Kami kehilangan Ibnu Shayyad pada musim panas.” [‘Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abi Daud 11: 476]

Ibnu Hajar mengesahkan riwayat di atas dan melemahkan pendapat orang yang mengatakan bahwa Ibnu Shayyad meninggal dunia di Madinah dan mereka membuka wajahnya serta menyalati jenazahnya. [Fathul-Bari 13: 328]

[Disalin dari kitab Asyratus Sa’ah edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat, Penulis Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabl MA, Penerjemah Drs As’ad Yasin, Penerbit CV Pustaka Mantiq].
Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=mo re&article_id=1303&bagian=0

Oleh
Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil MA
Bagian Pertama dari Dua Tulisan 1/2

Dalam pembicaraan di muka mengenai hal ikhwal Ibnu Shayyad dan pengujian Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya, beliau bersikap tawaqquf (berdiam diri) mengenai masalah Ibnu Shayyad, karena beliau tidak mendapatkan wahyu yang menerangkan apakah Ibnu Shayyad itu Dajjal atau bukan.

Umar Radiyallahu anhu pernah bersumpah di sisi Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, dan beliau tidak mengingkarinya.
Sebagian sahabat juga berpendapat seperti pendapat Umar sebagaimana diriwayatkan dari Jabir, Ibnu Umar, dan Abu Dzar.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Muhammad bin Al-Munkadir [1] dia berkata, “Saya melihat Jabir bin Abdullah bersumpah dengan nama Allah bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal. Saya bertanya (kepadanya), Anda bersumpah dengan nama Allah?” Dia menjawab, “Saya mendengar Umar bersumpah begitu di sisi Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam. tetapi beliau tidak mengingkarinya.” [Shahih Bukhari, Kitab Al-l’tisham bil-Kitab Was sunnah, Bab Ban Ra-aa Tarkan Nakir Min an- Nabiyyi saw Hujjatan Laa min Ghairi Rasul 13: 223; dan. Shahih Muslim, Kitabul Fitan wa Asyrothis Sa’ah. Bab Dzikri Ibni Shayyad 18: 52-53]

Dari Zaid bin Wahab [2] ia berkata, “Abu Dzar berkata, “Sungguh, jika saya bersumpah sepuluh kali bahwa Ibnu Shaid adalah Dajjal lebih saya sukai daripada bersumpah satu kali bahwa dia bukan Dajjal.” [Hadits Riwayat Imam Ahmad]

Dari Nafi, ia berkata, “Ibnu Umar pernah berkata, “Demi Allah, saya tidak ragu-ragu bahwa Al-Masih Ad-Dajjal adalah Ibnu Shayyad.” [Sunan Abi Daud, Ibnu Hajar berkata, “Sanadnya shahih.” Fathul-Bari 13: 325]

Dan diriwayatkan dari Nafi pula, ia berkata, “Ibnu Umar pernah bertemu Ibnu Shaaid di suatu jalan kota Madinah, lalu ia mengucapkan kata-kata yang menjadikannya marah dan.naik pitam hingga membuat ribut di jalan. Lantas Ibnu Umar datang kepada Kafshah sedang berita itu telah sampai pula kepadanya, kemudian Hafshah berkata kepadanya, “Mudah-mudahan Allah memberi rahmat kepadamu. Apakah yang engkau harapkan dari Ibnu Shaaid? Tidakkah engkau tahu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Sesungguhnya dia keluar dari kemarahan yang dibencinya.” [Shahih Muslim 18:57]

Dan dalam satu riwayat lagi dari Nafi’, ia berkata, “Ibnu Umar berkata, “Saya pernah bertemu Ibnu Shaaid (Ibnu Shayyad) dua kali. Setelah saya bertemu yang pertama kali, saya bertanya kepada beberapa orang, “Apakah Anda mengatakan bahwa dia itu Dajjal?” Jawabnya, “Tidak, demi Allah.” Semua berkata, “Anda berdusta. Demi Allah, sebagian Anda telah memberitahukan kepadaku bahwa dia tidak akan mati sehingga menjadi orang yang paling banyak harta dan anaknya. Dan demikianlah anggapan mereka hingga hari ini. Lantas kami berbincang-bincang, kemudian kami berpisah. Kemudian bertemu lagi sedangkan sebelah matanya telah buta, lalu saya bertanya, “Sejak kapan mata Anda demikian?” Dia menjawab, “Tidak tahu.” Saya bertanya, “Apakah Anda tidak tahu padahal mata itu ada di kapala Anda sendiri?” Dia berkata, “Jika Allah menghendaki, Dia menciptakan yang demikian ini pada tongkatmu.” Lalu dia mendengus seperti dengus himar. Kemudian sebagian sahabat saya menganggap bahwa saya telah memukulnya dengan tongkat saya sehingga matanya cidera, padahal demi Allah saya tidak merasa (berbuat) sama sekali.”

Setelah itu Ibnu Umar datang kepada Ummul Mukminin dan bercakap-cakap dengannya, lalu Ummul Mukminin berkata, ” Apa yang engkau inginkan darinya? Tidakkah engkau tahu bahwa ia pernah berkata, “Sesungguhnya pertama kali yang mengutusnya (membangkitkannya) kepada manusia ialah kemarahan.” [Al-Kahfi. 57-58]

Ibnu Shayyad mendengar apa yang diperbincangkan orang mengenai dirinya dan dia sangat terganggu karenanya, oleh sebab itu dia membela diri bahwa dia bukan Dajjal dengan argumentasi bahwa identitas Dajjal seperti yang dikemukakan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam itu tidak cocok diterapkan pada dirinya.

Dalam sebuah riwayat dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, ia bercerita, katanya. “Kami pernah melakukan haji atau umrah bersama Ibnu Shayyad (Ibnu Shaaid), lalu kami berhenti di suatu tempat dan orang-orang pun berpencar hingga tinggal saya dan Ibnu Shaaid. Saya merasa sangat ketakutan kepadanya, mengingat apa yang dikatakan orang tentang dia. Dia membawa perbekalannya dan meletakkannya bersama perbekalanku. Lalu saya berkata. “Sesungguhnya hari sangat panas. sebaiknya engkau letakkan di bawah pohon itu.” Lalu ia melaksanakannya. Lantas kami dibawakan kambing. lalu ia mengambil mangkok besar seraya berkata, “Minumlah, wahai Abu Sa’id'” Saya jawab, “Sesungguhnya hari amat panas, dan susu itu juga panas.” Saya berkata demikian itu hanya karena saya tidak suka minum sesuatu dari tangannya atau mengambil sesuatu dari tangannya. Ia berkata, “Wahai Abu Sa’id, ingin rasanya aku mengambil tali lantas kugantungkan pada pohon, lalu kucekik leherku karena kekesalan hatiku terhadap apa yang dikatakan orang banyak mengenai diriku. Wahai Abu Sa’id, kalau orang-orang kesamaran terhadap hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam maka tidaklah ada kesamaran atas kalian kaum Anshar. Bukankah engkau termasuk orang yang paling tahu tentang hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam ? Bukankah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda bahwa Dajjal itu mandul, tidak punya anak, sedangkan saya punya anak yang saya tinggalkan di Madinah? Bukankah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda bahwa Dajjal itu tidak bisa memasuki kota Madinah dan Makkah, sedang saya datang dari Madinah dan hendak menuju ke Makkah?”

Kata Abu Sa’id, “Begitulah, hingga aku hampir menerima alasannya.” Kemudian Ibnu Shaaid, “Ingatlah, demi Allah, Sesungguhnya saya mengenalnya dan mengetahui tempat kelahirannya serta mengetahui di mana ia sekarang berada.” Abu Sa’id berkata: Saya berkata kepadanya, “Celakalah engkau pada hari-harimu.” [Shahih Muslim 18:51-52]

Dan dalam suatu riwayat Ibnu Shayyad berkata, “Ingatlah, demi Allah, sesungguhnya saya mengetahui di mana sekarang dia (Dajjal) berada, dan saya juga mengetahui tempat kelahirannya serta mengetahui di mana ia sekarang berada.” Abu kau senang jika laki-laki itu adalah engkau?” Dia menjawab, “Kalau disindirkan kepadaku, maka aku tidak benci.” [Shahih Muslim 18: 51]

Dan masih ada beberapa riwayat lagi tentang Ibnu Shayyad yang sengaja tidak saya sebutkan karena takut terkesan terlalu panjang, dan lagi karena beberapa orang muhaqqiq seperti Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dan lain-lainnya menolaknya karena kelemahan sanadnya. [Periksa: An-Nihayah (Al-Fitan wal Malahim) karya Ibnu Katsir dengan tahqiq DR. Thaha Zaini; dan Fathul-Bari karya Ibnu Hajar 13; 326]

Timbul kemusykilan di kalangan para ulama mengenai masalah Ibnu Shayyad ini, sebagian mereka mengatakan bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal dan mereka beralasan dengan sumpah beberapa orang sahabat bahwa dia adalah Dajjal beserta kondisinya sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Abu Sa’id ketika sedang bersamanya. Dan sebagian lagi berpendapat bahwa dia bukan Dajjal dengan mengemukakan alasan hadits Tamim Ad-Dari.

Dan sebelum saya kemukakan perkataan kedua belah pihak secara lengkap, baiklah saya bawakan hadits Tamim seutuhnya:

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Amir bin Syurahil Asy-Sya’bi suku Hamdan, bahwa ia pernah bertanya kepada Fatimah binti Qais, saudara wanita Adh-Dhahhak bin Qais, salah seorang muhajirah (peserta hijrah wanita) angkatan pertama. Amir berkata kepada Fatimah, “Sampaikanlah kepadaku sebuah hadits yang engkau dengar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam secara langsung tanpa melalui orang lain.” Fatimah menjawab, “Jika engkau menginginkan akan saya lakukan.” Amir berkata, “Benar, ceritakanlah kepadaku.” Fatimah berkata, “Dahulu saya kawin dengan Ibnul Mughiroh, salah seorang pemuda Quraisy yang baik pada waktu itu, lalu ia gugur dalam jihad pertama bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika saya menjanda, saya dilamar oleh Abdur Rahman bin Auf, salah seorang kelompok sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam meminangku untuk mantan budaknya yang benama Usamah bin Zaid, sedang saya pernah mendapat berita bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Barangsiapa yang mencintai aku hendaklah ia mencintai Usamah.”

[Disalin dari kitab Asyratus Sa’ah edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat, Penulis Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabl MA, Penerjemah Drs As’ad Yasin, Penerbit CV Pustaka Mantiq]
_________
Foote Note
[1]. Dia adalah Abu Abdillah Muhammad bin Al-Munkadir bin Abdullah bin Hudair bin Abdul Uzza At-Taimin, seorang tabi’i dan salah seorang Imam yang alim, meriwayatkan hadits dari para sahabat, wafat pada thun 131H [Tahdzibut Tahdzib 9 : 473-475]
[2]. Daia adalah Abu Sulaiman Zaid bin Wahab Al-Juhami Al-Kufi, meriwayatkan hadits dari banyak sahabat seperti Umar, Utsman, Ali, Abu Dzar dan lain-lainnya. Dia seorang terpercaya yang banyak meriwayatkan hadits, wafat tahun 96H [Tahdzibut Tahdzib 3 : 427]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1482&bagian=0