Posts Tagged ‘Hakikat Dakwah’

Islam-tauhid

Islam-tauhid

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, bahwa Islam merupakan agama tauhid yang mengajak manusia untuk memurnikan ibadah mereka hanya kepada Allah dan mengingkari segala sesembahan yang lain selain Allah. Tauhid ini juga merupakan pembeda antara agama Islam dengan agama-agama lain yang ada di dunia ini. Tidaklah diturunkan kitab-kitab, diutus para Nabi dan Rasul kecuali untuk mengajak manusia kepada tauhid. Tidaklah ada seorangpun Nabi dan Rasul  yang diutus kecuali ia akan mengajak umatnya untuk bertauhid. Bahkan tauhid juga merupakan tujuan dari penciptaan jin dan manusia.

Allah berfirman : “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (AlBaqarah : 21-22)   (lebih…)

Dakwah apapun jika tidak tegak di atas landasan kaidah-kaidah dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hanyalah akan menjadi fitnah (adzab) yang menyerupai awan (yang membawa adzab) kaum ‘Ad. “Maka tatkala mereka melihat adzab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka. Mereka berkata, ‘Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.’ Bukan! Bahkan itulah adzab yang kamu minta supaya datang dengan segera, yaitu angin yang mengandung adzab yang pedih.” [Al-Ahqaf: 24]

Yaitu dakwah yang tidak menjadikan ilmu hadits sebagai asas dan tidak bersandar kepada pemahaman para sahabat, generasi awal yang utama, dan alim ulama, pada awalnya tampak benar, namun lambat laun akan tampak cacat dan celanya kemudian akan berbalik menjadi fitnah (musibah) bagi umat dan akan menjadi penghalang dari agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya akan mendapat banyak petunjuk ataukah orang yang berjalan tegar di atas jalan yang lurus?” [Al-Mulk : 22]

Berikut ini beberapa hakikat dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah :

Dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah dakwah yang tegak di atas Al-Qur’an dan Hadits menurut manhaj para salafus shalih dari kalangan shahabat, tabi’in, dan alim ulama, serta orang-orang yang mengikuti mereka. Ahlus Sunnah wal Jama’ah menetapkan sifat-sifat dan nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala sesuai dengan apa yang ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wa Aalihi Wasallam tanpa tahrif, tamtsil, takyif, atau ta’thil. (Tahrif adalah mengubah lafadz sifat yang disebutkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, atau menyimpangkannya dari makna sebenarnya. Tamtsil adalah menyamakan/menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya. Takyif adalah mempertanyakan bagaimana sifat Allah itu atau menggambarkannya. Ta’thil adalah meniadakan seluruh atau sebagain dari sifat-sifat Allah yang telah Dia tetapkan di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah)

Adapun selain Ahlus Sunnah, mereka menghukumi Al-Qur’an dan as-Sunnah dengan dengan mendahulukan akal, adat, kasyaf, perasaan, mimpi, ataupun (kepentingan) golongan. Jika Al-Qur’an dan As-Sunnah menyelisihinya, maka mereka akan menyelewengkannya dan memalingkannya. Dan jika mereka tidak mampu melakukannya, mereka akan menolaknya dengan dalih bertentangan dengan azas yang menjadi dasar mereka, atau berdalih dengan menyatakan bahwa hadits itu ahad (bukan mutawatir) atau dengan dalih bertolak belakang dengan maslahat dakwah. Menurut mereka dakwah harus menurut pemahaman mereka, bukan menurut pemahaman salafus shalih.

Ahlus Sunnah menegakkan wala’ (loyalitas) dan permusuhan berdasarkan manhaj tadi secara adil dan inshaf (tengah-tengah). Sedang-kan selain Ahlus Sunnah, menegakkan wala’ dan permusuhan berdasarkan hawa nafsu dan golongannya; siapa yang sependapat dengan mereka, akan dianggap sebagai orang/teman dekat yang diagungkan walaupun seorang penjahat. Dan siapa yang menyelisihi mereka akan diteror/diintimidasi dan dicampakkan, walaupun seorang alim yang bertakwa.

Penuntut ilmu dari kalangan Ahlus Sunnah amat peduli dengan ilmu-ilmu syar’i. Hal itu tampak pada keridhaannya terhadap ahli ilmu (ulama), (tampak pada kesukaannya) untuk mengambil faidah dari ilmu dan akhlak dari ahli ilmu, (tampak pada komitmennya untuk) bersandar pada dalil-dalil syar’i yang shahih serta beramal sesuai dengan tuntunan ilmu syar’i.

Sebaliknya Ahlul bid’ah menjauhi ilmu-ilmu sunnah dan tokoh-tokohnya serta membenci ilmu sanad dan hadits. Dan mendorong para penuntut ilmu untuk membolak-balik tabloid, majalah, koran-koran harian, mingguan, dan lain-lain. Adapun Ahlus Sunnah tidaklah melarang untuk menela’ah hal-hal tersebut, akan tetapi kepedulian mereka yang utama adalah menela’ah ilmu syar’i. Sedangkan selain mereka hanya peduli dengan ilmu syar’i sekedar untuk membantu hizb (golongan) dan dakwah hizbiyah, atau membuat keonaran dan menghasut Ahlus Sunnah yang masih pemula atau menghujat tokoh ulama ahlus sunnah. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman, “Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa kecuali orang yang merencanakannya sendiri.” [Fathir : 43]

Sejarah dakwah salafiyah telah ada sejak dahulu, mereka mengembalikan prinsip dakwah mereka kepada apa yang ditempuh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, para shahabat dan orang-orang yang mengikuti petunjuk mereka. Adapun golongan selain Ahlus Sunnah, memulai dakwah mereka dengan prinsip pendirinya atau tokoh-tokohnya. Dan terkadang sebagian mereka berkata, baik dengan bahasa lisan, atau bahasa kenyataan, bahwa petunjuk Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Aalihi Wasallam tidak layak dipakai pada jaman sekarang ini. Padahal generasi akhir umat ini tidak akan menjadi baik melainkan dengan apa yang telah menjadikan baik generasi awal.

Menurut Ahlus Sunnah, Ahlul Hadits adalah golongan yang ditolong (Ath-Thaifatul Manshurah) dan Golongan yang selamat (Al-Firqatun Najiyah). Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menolong agamanya sejak dahulu sampai sekarang mela-lui mereka. Mereka adalah orang-orang yang berada di atas aqidah dan manhaj (pedoman) Ahlul Hadits. Alim ulama rabbani adalah tokoh mereka, sedangkan masyarakat umum yang beraneka ragam adalah pengikut mereka.

Ahlus Sunnah tidak menerima hadits apapun yang disandarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kecuali setelah mengetahui bahwa hadits tersebut adalah benar-benar terpercaya berasal dari beliau. Ahlus Sunnah berpendapat bahwa hadits yang munkar dan palsu sangat besar peranannya dalam menyuburkan kebid’ahan. Ahlus Sunnah tidak menjelaskan sebuah hadits atau menafsirkan suatu ayat, kecuali setelah mengetahui pendapat-pendapat alim ulama secara terperinci dalam hal itu.

Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, bid’ah lebih berbahaya bagi agama seseorang dari pada maksiat. Hal itu karena pelakunya mendekatkan diri kepada Allah dengan bid’ah tersebut dan ia mengira berada di atas hidayah, berbeda dengan pelaku maksiat. Kadangkala pelaku maksiat mengakui kesalahannya dan berdo’a meminta ampun kepada Allah atas perbuatannya. Sedangkan pada umumnya, pelaku bid’ah berasal dari golongan khusus yang dikenal dengan ilmu, ibadah, zuhudnya serta menjadi panutan orang lain. Oleh karena itu, bahayanya lebih besar dari pada pelaku maksiat yang pada umumnya berasal dari pengikut syahwat yang idak menjadi panutan.

Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Islam melarang perpecahan kaum Muslimin menjadi jama’ah-jama’ah, kelompok-kelompok, atau golongan-golongan, bahkan Islam mengharuskan seluruh kaum Muslimin untuk bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersatu di atas jalan hidup salafus shalih, bukan di atas pemahaman si fulan A dan si fulan B. Dan jangan katakan (untuk berbangga diri) bahwa jamaah ini lebih dahulu berdiri daripada jamaah lainnya. Itu semua adalah perkataan yang tidak berfaidah.

Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, kelompok-kelompok dakwah hizbiyah (kelompok-kelompok sempalan) memiliki metode yang beraneka ragam, ruwet lagi kacau. Oleh karena itu wajib bagi para pencari kebenaran untuk sadar akan hal ini. Dan kesadaran tersebut hanya bisa diperoleh dengan ilmu dan kedewasaan berpikir, dan menjauhkan diri dari kebodohan, kekeliruan, sikap berlebih-lebihan, dan sikap membabi buta terhadap orang-orang yang berbeda pendapat dengannya.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengajak kepada persatuan dan kepada Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Keduanya sangat urgen di dalam dakwah ini. Ahlus Sunnah tidak akan menyerukan persatuan di atas kesesatan dan persatuan di atas buih-buih kerusakan. Ahlus Sunnah tidak mengajak kepada sesuatu yang bisa mencerai-beraikan kaum Muslimin dan melemahkan kekuatan mereka sehingga membuat gembira musuh-musuh mereka. Tetapi Ahlus Sunnah mengajak kepada persatuan, kesatuan dan kerukunan di atas sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan di atas kebenaran yang nyata. Apabila bertabrakan dua hal ini, yaitu antara urgensi persatuan dan sunnah, terkadang Ahlus Sunnah mendahulukan urgensi persatuan dan terkadang mendahulukan urgensi berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Hal itu disesuaikan dengan situasi dan kondisi, serta memperhitungkan maslahat dan mafsadat berdasarkan kaidah-kaidah yang telah disebutkan oleh alim ulama baik yang dahulu maupun yang sekarang, dan masing-masing kondisi punya sandaran di dalam sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Ahlus Sunnah, manhajnya adalah manhaj salaf dan sikap perjuangannya pun adalah sikap perjuangan salaf. Adapun selain ahlus sunnah, manhajnya bisa salafi tapi sikap perjuangannya adalah sikap perjuangan modern, yaitu menyibukkan diri dengan mengomentari penguasa dan tindakan-tindakan mereka, serta tidak menyibukkan diri dengan perkara-perkara Asma’ wa sifat kecuali hanya untuk dihafal dengan model hafalan usang yang tanpa makna. Adapun ahlus sunnah memberikan segala sesuatu sesuai dengan ukurannya sebagaimana yang dilakukan para salaf dan sesuai dengan kaidah-kaidah salaf dalam upaya meraih maslahat yang maksimal serta dalam upaya menghapus dan menekan mafsadah (kerusakan) seminimal mungkin.

Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah mencela, menghujat dan melaknat para penguasa di atas mimbar bukan merupakan manhaj (pedoman) salafus shalih (dalam menghilangkan kemungkaran –pent).

Ahlus Sunnah wal Jama’ah menekankan untuk selalu bersabar terhadap kejelekan penguasa walaupun mereka bertindak sewenang-wenang. Ahlus Sunnah juga tidak mengharapkan materi dunia dari penguasa. Dan Ahlus Sunnah memandang wajib menasehati para penguasa tanpa harus menyiarkan aib, tanpa hujatan, dan tanpa merusak di atas muka bumi.

Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, umat Islam itu bagaikan burung dengan kedua sayapnya. Sayap yang satu adalah alim ulama (bukan ulama su’ –yang buruk- yaitu ulama yang dengan ilmunya ingin mendapatkan kenikmatan di dunia dan mendapatkan kedudukan terpandang di kelompoknya) dan sayap yang lain adalah para penguasa. Burung tersebut tidak akan sampai ke tujuannya dengan selamat, kecuali dengan kedua sayap tersebut. Tugas alim ulama adalah menjelaskan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tugas para penguasa adalah memerintahkan umat untuk melaksanakannya. Jika terdapat kekurangan pada mereka (ulama dan pemerintah), segeralah dimusyawarahkan untuk mencari solusi terbaik bagi kaum Muslimin. Bukan dengan cara demonstrasi atau unjuk rasa, dan bukan pula dengan berburuk sangka kepada alim ulama (ulama Akhirat –pen.)

Menurut Ahlus Sunnah, kelompok-kelompok yang berseberangan dengan mereka juga memiliki kebaikan-kebaikan dan pendapat-pendapat yang benar. Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak akan menafikan hal itu hanya karena perselisihan yang terjadi dengan mereka. Namun hal itu bukan halangan untuk menasehati kelompok-kelompok tersebut dan memperingatkan umat dari kesalahannya dengan syarat:

[1]. Akibat buruk dari perbuatan mereka akan menyebar kepada umat, tidak terbatas kepada mereka saja, dan

[2]. Peringatan tersebut tidak mengakibatkan kemungkaran yang lebih besar.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandang bahwa kebodohan dan perpecahan adalah penyebab lemahnya umat ini. Oleh karena itu Ahlus Sunnah wal Jama’ah bertekad untuk menyebarkan ilmu yang bermanfaat di tengah-tengah umat dan Ahlus Sunnah mencegah sifat bergolong-golongan dan fanatik yang tercela.

Ahlus Sunnah tidak mengharamkan ilmu pengetahuan umum yang bermanfaat bahkan memandangnya sebagai amalan yang dibolehkan atau sunnah, atau bahkan wajib bagi sebagian orang pada waktu-waktu tertentu. Karena urusan dunia telah dibuka seluas-seluasnya bagi kita dengan syarat tidak bertentangan dengan syari’at. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Kamu lebih mengetahui urusan duniamu.”

Ahlus Sunnah tidak setuju dengan metode dakwah melalui pentas-pentas sandiwara sebab hal tersebut minimal mengandung kedustaan. Dan tidak pula melalui nasyid-nasyid sebab mudharatnya lebih banyak daripada manfaatnya. Juga karena hal itu adalah bentuk tasyabbuh (meniru orang kafir) dan dapat mengabaikan perkara yang lebih penting.

Ahlus Sunnah tidak membenarkan taqlid buta kepada seorang pun, karena semua orang dapat diambil atau ditolak ucapannya, kecuali Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan apa-apa yang benar-benar telah disepakati oleh umat. Karena sesungguhnya umat ini tidak akan bersepakat di atas kesesatan. Ahlus Sunnah mencintai seluruh imam Ahlus Sunnah dan mengikuti mereka jika dalil yang kuat ada pada mereka, tidak mengkhususkan salah satu di antara mereka untuk diikuti, dan Ahlus Sunnah selalu berusaha untuk memberantas fanatik madzhab atau fanatik golongan.

Inilah sebagian dari kaidah-kaidah dakwah Ahlus Sunnah dan perbedaannya dengan manhaj dakwah lainnya. Kepada sebagian kaum Muslimin yang sementara teracuni dengan berbagai pemikiran dan syubhat, kami ajak untuk kembali menggunakan akal sehat dan nurani yang jernih. Sudah lewat masanya kita menganggap hidup sebagai sebuah eksperimen dimana kita merasa bebas untuk mencoba-coba apa saja, termasuk agama kita. Wallahu Ta’alaa A’lam

[Dikutip dengan perubahan seperlunya dari Fatwa-fatwa Syaikh Abul Hasan Musthafa bin Ismail As Sulaimani Al Mishri dari terjemahan kitab Silsilah Al-Fatawa Asy-Syar’iyah dan Majalah As-Sunnah Edisi 07/Th. III/1419-1998]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=mo re&article_id=103&bagian=0

Oleh : Abu ‘Abdurrahman Indra Pratama Al Maidany, SE

Sumber : Buletin Syabaabus Sunnah

Sebagaimana yang  telah  kita  ketahui   bersama, bahwa Islam  merupakan agama tauhid yang   mengajak  manusia   untuk   memurnikan  ibadah   mereka  hanya   kepada  Allah  dan mengingkari segala sesembahan yang  lain selain Allah. Tauhid  ini juga merupakan pembeda antara  agama Islam  dengan agama-agama lain  yang  ada  di dunia  ini. Tidaklah  diturunkan kitab-kitab,  diutus  para   Nabi  dan  Rasul  kecuali  untuk   mengajak manusia   kepada tauhid. Tidaklah  ada  seorangpun  Nabi  dan  Rasul   yang  diutus  kecuali  ia akan  mengajak umatnya untuk  bertauhid. Bahkan tauhid juga merupakan tujuan dari penciptaan jin dan  manusia.

Allah  berfirman : “Hai  manusia,  sembahlah Tuhanmu  yang  telah  menciptakanmu dan orang-orang yang  sebelummu, agar  kamu  bertakwa. Dialah  yang  menjadikan bumi  sebagai hamparan bagimu  dan  langit sebagai  atap, dan  Dia menurunkan air (hujan) dari  langit,  lalu dia  menghasilkan dengan hujan  itu segala  buah-buahan sebagai  rezki  untukmu; Karena  itu janganlah  kamu  mengadakan  sekutu-sekutu bagi  Allah,  padahal kamu  mengetahui.” (Al- Baqarah : 21-22)

Dan  firman-Nya  :  “Dan  sungguhnya Kami  telah  mengutus  Rasul  pada  tiap-tiap umat

(untuk  menyerukan) : Sembahlah Allah (saja), dan  jauhilah  thaghut itu…” (An-Nahl  : 36) Yang  dimaksud  dengan   thaghut adalah  segala  sesuatu   yang  disembah  atau   diibadahi

selain Allah.

Dan firman-Nya : “Dan  kami tidak  mengutus seorang rasulpun sebelum  kamu  melainkan kami wahyukan kepadanya : Bahwasanya tidak  ada  sesembahan (yang hak)  melainkan aku, maka sembahlah olehmu  sekalian  akan  aku.”  (Al-Anbiya’ : 25)

Dan  juga  firman-Nya : “Dan  Aku tidak  menciptakan jin dan  manusia  melainkan supaya mereka hanya beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat : 56)

Yakni : melainkan supaya  mereka men-tauhid-kan/mengesakan Aku.

Oleh  karena  itu wajib  hukumnya bagi  seorang muslim untuk  mengetahui hakikat  tauhid yang sebenarnya, yang  merupakan inti dan  pembuka dakwah para  Nabi  dan  Rasul. Karena kewajiban  pertama yang  dibebankan  Allah kepada manusia  sebelum  kewajiban-kewajiban yang  lain  adalah  untuk  men-tauhid-kan-Nya. Dan  dakwah kepada tauhid ini  tidak  boleh terhenti sedikitpun dengan alasan  bahwa mayoritas manusia  hari  ini sudah  masuk  ke dalam agama  Islam.   Karena   meskipun   mayoritas  manusia   telah   memeluk   Islam,   akan   tetapi kebanyakan mereka tidak  mengerti dengan tauhid dan  lawannya, yaitu  syirik.

Dan   juga  merupakan  kewajiban  para   da’i  untuk   memulai   dakwah  dan   pengajaran mereka   kepada  umat    dengan   mengajarkan  hakikat    tauhid   dan    syirik.   Bukan   justru memulainya  dengan pembicaraan-pembicaraan mengenai politik,  perbaikan ekonomi, dan hal-hal   lain   yang   bukan  merupakan  prioritas   dakwah  para   Nabi   dan   Rasul.   Hal   ini merupakan satu  hal  yang  sangat   penting,  karena wajib  hukumnya  bagi  para   da’i  untuk  mengikuti manhaj dakwah para Nabi dan  Rasul.

Secara bahasa, tauhid merupakan isim mashdar yang  berasal  dari  fi’il (kata  kerja)

, mashdar-nya                . Yang bermakna menjadikan sesuatu  esa (tunggal). Adapun secara istilah syariat, para  ulama  Ahlus Sunnah membagi tauhid ke dalam 3 jenis.

Pembagian  ini merupakan hasil dari proses  istiqra’ (penelitian mendalam) terhadap nash- nash syariat,  baik dari Al-Quran  maupun As-Sunnah.

Pertama, tauhid  rububiyyah, definisinya  adalah i’tiqad  (keyakinan)  bahwa Allah Ta’ala adalah  Rab  langit  dan  bumi,  pencipta  segala  sesuatu  yang  ada  di  dalam keduanya, yang menguasai   segala   urusan   di   alam   semesta,    dan   tidak   ada   sekutu   baginya  di   dalam kekuasaan-Nya  tersebut.  Dan  hanya  Dia-lah  Rab segala  sesuatu,  yang  memberikan rezeki kepada  semua   yang  hidup,  yang   mengatur  semua   urusan,  dan   hanya   Dia  jualah   yang merendahkan dan  menaikkan derajat hamba-Nya, yang memberi  dan menahan pemberian, yang  memberi   mudharat dan  manfaat,  yang  memuliakan  dan  menghinakan.  Dan  segala sesuatu   yang   selain-Nya   tidak   memiliki   kuasa   apapun  untuk    memberi    manfaat  dan mudharat atas  diri  meraka sendiri,   terlebih lagi  bagi  selain  mereka kecuali  atas  izin  dan kehendak Allah.

Jenis  tauhid  yang  pertama  ini  tidak   ada   yang   mengingkarinya  kecuali   orang-orang materialis  yang  menyimpang dari  kebenaran yang mengingkari adanya Allah Ta’ala  seperti orang-orang komunis  dan  orang-orang yang  seperti  mereka. Adapun kondisi  kebanyakan kaum musyrikin  seperti  bangsa  arab  pada masa  jahiliah,  maka  mereka mengakui jenis tauhid ini dan  mereka tidak  mengingkarinya. Sebagaimana yang diceritakan di dalam Al-Quran  :

“Katakanlah  (Hai  Muhammad) :  Siapakah  yang  memberi   rezeki  kepadamu dari  langit dan  bumi,  atau   siapakah  yang  Kuasa  (menciptakan) pendengaran  dan   penglihatan,  dan siapakah yang mengeluarkan yang  hidup  dari  yang  mati  dan  mengeluarkan yang  mati  dari yang  hidup   dan  siapakah  yang  mengatur  segala   urusan   ?.  Maka   mereka  (orang-orang musyrik  arab)  akan  menjawab : Allah.  Maka  katakanlah : Mengapa kamu  tidak  bertakwa kepada-Nya ?” (Yunus : 31).

Dan  juga  firman-Nya : “Katakanlah  (Hai  Muhammad) : Kepunyaan  siapakah bumi  ini, dan   semua   yang   ada   padanya,  jika   kamu   mengetahui  ?  Mereka  akan   menjawab  : Kepunyaan Allah. Katakanlah : Maka  apakah kamu  tidak  ingat  ? Katakanlah  : Siapakah yang memiliki  langit yang tujuh  dan  yang memiliki  ‘Arsy yang  agung  ? Mereka akan  menjawab : Kepunyaan Allah. Katakanlah : Maka  apakah kamu  tidak  bertakwa ? Katakanlah  : Siapakah yang  di  tangan-Nya berada  kekuasaan  atas  segala  sesuatu  sedang   dia  melindungi, tetapi tidak  ada  yang  dapat  dilindungi dari  (azab)-Nya,  jika  kamu  mengetahui ? Mereka akan menjawab :  Kepunyaan  Allah.  Katakanlah  :  (Kalau  demikian), maka  dari  jalan  manakah kamu  ditipu  ?” (Al-Mukminun : 84-89)

Ini adalah jawaban orang-orang musyrik,  yang  menunjukkan bahwa mereka mengakui ke-rububiyah-an  Allah atas  alam  semesta,  dan  pengaturan-Nya atas  segala  urusan  di  alam semesta.  Dan  konsekuensi dari  keimanan mereka dengan rububiyyah Allah tersebut  adalah mereka harus beribadah/menyembah hanya kepada-Nya semata,  serta  tidak  menyekutukan- Nya  dalam  peribadahan/penyembahan  dengan  satu  apapun juga.  Baik menyekutukan-Nya dengan malaikat,  para  Rasul, maupun orang-orang shaleh  dan  orang-orang yang  dianggap wali. Akan tetapi mereka mengingkari jenis yang lain dari tauhid, yaitu  tauhid uluhiyyah.

Kedua,   tauhid  uluhiyyah,  definisinya   adalah  mengesakan  Allah  Ta’ala  dalam  ibadah, ketundukan, serta                                   ketaatan  yang  mutlak.  Yakni  seseorang  tidak   beribadah/menyembah kecuali  hanya  kepada Allah  semata  yang  tidak  ada  sekutu  baginya di  langit  maupun di bumi.   Dan  hakikat  tauhid  tidak  akan   terealisasi   selama   tauhid  uluhiyyah tidak  menyatu dengan tauhid rububiyyah.

Beriman  dengan salah  satu  dari  keduannya saja  tidak  akan  mencukupi, karena  kaum musyrikin arab  pada masa  Rasulullah  mereka  beriman dengan rububiyyah Allah akan  tetapi hal tersebut tidak  menjadikan mereka masuk  ke dalam agama Islam.

Hal    ini   disebabkan    mereka   menyekutukan   Allah,   dan    menjadikan   sesembahan- sesembahan  yang   lain  selain  Allah.  Mereka  menyangka  bahwa  sesembahan-sesembahan tersebut  akan   mendekatkan  mereka  kepada  Allah  atau   akan   memberikan  syafaat   bagi mereka di sisi Allah.

Allah berfirman : “Dan  mereka menyembah selain  daripada Allah apa  yang  tidak  dapat mendatangkan  kemudharatan kepada mereka dan  tidak  (pula)  kemanfaatan, dan  mereka berkata : Mereka itu adalah pemberi  syafa’at  kepada kami di sisi Allah…” (Yunus : 18).

Dan  firman-Nya : “Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah  agama yang bersih  (dari  syirik). Dan   orang-orang   yang   mengambil   pelindung   selain    Allah   (berkata)   :   Kami   tidak menyembah  mereka  melainkan supaya   mereka mendekatkan  kami  kepada Allah  dengan sedekat-  dekatnya…” (Az-Zumar  : 3)

Orang-orang nashrani tidak  mengingkari bahwa Allah adalah Rab langit dan  bumi,  akan tetapi mereka menyekutukan Allah dengan Isa Ibn Maryam. Mereka menjadikan Isa sebagai sesembahan   selain   Allah.   Dan   Al-Quran    menyatakan   bahwa   keduanya  (orang-orang nashrani  dan  orang-orang musyrik  arab)  sebagai  orang-orang kafir  yang  diharamkan bagi mereka surga dan mereka kelak akan  kekal di dalam neraka.

Dan  sejak masa  yang  lalu, manusia  telah  menyimpang dari  tauhid uluhiyyah ini. Mereka menyembah/beribadah  kepada sesembahan yang  lain selain  Allah. Kaum Nuh  menyembah Wadd,  Suwa’,  Yaghuts,  Ya’uq,  dan   Nasr….Kaum  Ibrahim   menyembah  patung-patung…. Orang-orang  hindu   menyembah  lembu…. Kaum  Saba’  menyembah  matahari…. Orang- orang   Shabiin   menyembah   bintang-bintang….Orang-orang  Majusi   menyembah  api…. Orang-orang   arab   jahiliah    menyembah   patung-patung   dan    batu-batu….Orang-orang nashrani  menyembah Isa dan  ibunya  Maryam, serta  menyembah rahib-rahib dan  pendeta- pendeta   mereka.  Mereka  semua   adalah  orang-orang  musyrik,   karena    mereka   tidak mengesakan  Allah dalam ibadah  yang  tidak  ada  seorangpun  yang  berhak untuk  diibadahi selain-Nya.  Adapun  rincian   tentang  jenis-jenis  ibadah  silahkan   merujuk   kitab   At-Tauhid karya  Al-Imam Muhammad Ibn ‘Abdil Wahhab dan syarah-syarahnya.

Ketiga, tauhid Al-Asma’ Was Shifat, definisinya  adalah mengesakan Allah Ta’ala di dalam nama-nama-Nya  yang  paling   baik  dan   sifat-sifat-Nya   yang  paling  mulia  yang  tidak   ada sesuatupun  yang  pantas  untuk   dinamakan dan  disifati  dengan nama-nama dan  sifat-sifat tersebut selain Allah.

Maka  segala apa  yang  disifatkan  Allah bagi diri-Nya  atau  apa  yang  disifatkan  oleh  Rasul- Nya  bagi  diri-Nya  berupa nama-nama yang  baik  (Al-Asma’ Al-Husna)  dan  sifat-sifat  yang tinggi,  wajib  bagi  kita  untuk   menetapkannya  bagi  Allah  tanpa   tahrif  (menyelewengkan makna  dari  makna  yang  sebenarnya),  ta’thil  (meniadakan adanya  sifat  bagi  Allah),  takyif (mempertanyakan  kaifiat  atau  bentuk  dari   sifat-sifat  Allah),  dan  tamtsil  (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya).

Tidak  ada  sekutu  maupun tandingan bagi-Nya di dalam nama-nama dan  sifat-sifat-Nya tersebut. Allah berfirman : “Katakanlah : Dia-lah  Allah, yang  Maha  Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

Dia tiada  beranak dan  tidak  pula  diperanakkan. Dan  tidak  ada  seorangpun yang  setara dengan Dia.” (Al-Ikhlas : 1-4)

Demikianlah apa  yang dapat kami  jelaskan  di sini tentang tauhid dan  jenis-jenisnya. Dan hendaklah bagi kita semua  untuk  benar-benar memperhatikan masalah  ini. Karena  tidak  ada seorang  manusiapun  yang  dapat merasa   aman  dari  terjatuh  kedalam kemusyrikan.   Dan sekali  lagi  kami  mengajak kepada semua  gerakan-gerakan dakwah Islam  untuk  mengikuti manhaj dakwah para Nabi dan  Rasul.

Karena manhaj mereka lebih utama untuk  diikuti.  Yakni untuk  memulai  dakwah kepada manusia  dengan tauhid,  serta  melandasi  dakwah mereka dengan Al-Quran  dan  As-Sunnah menurut  pemahaman para  Salaf  Ash-Shalih  dari  kalangan Shahabat,  Tabi’in,  Tabi’  Tabi’in serta  para  Imam dan  Ulama  yang mengikuti manhaj, aqidah dan  amal  mereka sampai hari kiamat.

Allahu A’lam Bish Shawab