Posts Tagged ‘Cinta Kepada ALLAH’

https://tausyah.wordpress.com/Kerajaan

Kerajaan

Adalah ini bukan seberkas kisah yang hilang, melainkan adalah perihal suatu perkara  yang ada pada diri manusia. Apabila kehidupan akhirat telah lenyap daripada manusia dan alam diripun tersungkur jatuh kedalam lembah kebinasaan, sedang kehidupan mereka dimuka bumi semakin di agung-agungkan dan kampung akhirat adalah teramat jauh daripada mereka sehingga merugilah mereka dengan sebenar – benar kerugian.

Maka..wahai diri-diri yang bangkit apabila sebelumnya telah terkubur, bersyukurlah kamu..bahwa sebenar-benar diri daripadamu itu adalah hidup. Sekali-kali janganlah kamu jenuh lagi lengah akan perkara kehidupan akhirat, sedang sesungguhnya kampung akhirat itu adalah lebih baik bagi orang-orang yang taqwa jika kamu mengetahui.

Kerajaan Pertama :

Bermula ia adalah seorang raja yang teramat mulia lagi agung gerangannya, seorang Raja yang Alim dan teramat cinta kepada ALLAH dan Rasul-Nya dan senantiasalah orang-orang yang tunduk pada kebenaran dan kemuliaan menyebut-nyebut akan gerangan diri sang Raja itu sebagai “Iman”. Sedang sang Raja tiadalah hidup bersendirian, melainkan disisinya senantiasa terdapat sang Ratu yang cantik jelita, (lebih…)

Cinta Kepada ALLAH

Posted: 15 Juni 2010 in Tauhid
Tag:

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

]ومن الناس من يتخذ من دون الله أندادا يحبونهم كحب الله والذين آمنوا أشد حبا لله[

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang mengangkat tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintaiNya sebagaimana mencintai Allah, adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al Baqarah, 165).

]قل إن كان آباؤكم وأبناؤكم وإخوانكم وأزواجكم وعشيرتكم وأموال اقترفتموها وتجارة تخشون كسادها ومساكن ترضونها أحب إليكم من الله ورسوله وجهاد في سبيله فتربصوا حتى يأتي الله بأمره[

“Katakanlah jika babak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tinggal yang kamu sukai, itu lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya, dan daripada berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya” (QS. At taubah, 24).

Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Anas Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من ولده ووالده والناس أجمعين”.

“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada anaknya, orang tuanya, dan manusia seluruhnya”.

Juga diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dari Anas Radhiallahu’anhu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان : أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد أن أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف في النار”. وفي رواية : ” لا يجد أحد حلاوة الإيمان حتى … إلى آخره.

“Ada tiga perkara, barang siapa terdapat di dalam dirinya ketiga perkara itu, maka ia pasti mendapatkan manisnya iman, yaitu : Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari pada yang lain, mencintai seseorang tiada lain hanya karena Allah, benci (tidak mau kembali) kepada kekafiran setelah ia diselamatkan oleh Allah darinya, sebagaimana ia benci kalau dicampakkan kedalam api”.

Dan disebutkan dalam riwayat lain : “Seseorang tidak akan merasakan manisnya iman, sebelum …”dst.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ia berkata :

“من أحب في الله، وأبغض في الله، ووالى في الله، وعادى في الله، فإنما تنال ولاية الله بذلك، ولن يجد عبد طعم الإيمان وإن كثرت صلاته وصومه حتى يكون كذلك، وقد صار عامة مؤاخاة الناس على أمر الدنيا، وذلك لا يجدي على أهله شيئا” رواه ابن جرير.

“Barangsiapa yang mencintai seseorang karena Allah, membenci karena Allah, membela Karena Allah, memusuhi karena Allah, maka sesungguhnya kecintaan dan pertolongan Allah itu diperolehnya dengan hal-hal tersebut, dan seorang hamba tidak akan bisa menemukan lezatnya iman, meskipun banyak melakukan sholat dan puasa, sehingga ia bersikap demikian. Pada umumnya persahabatan yang dijalin di antara manusia dibangun atas dasar kepentingan dunia, dan itu tidak berguna sedikitpun baginya”.

Ibnu Abbas menafsirkan firman Allah Subhanahu wata’ala :

]وتقطعت بهم الأسباب[ قال : المودة.

“ … dan putuslah hubungan di antara mereka” (QS. Al baqarah, 166). Ia mengatakan : yaitu kasih sayang.

Kandungan bab ini :

  1. Penjelasan tentang ayat dalam surat Al Baqarah([1]).
  2. Penjelasan tentang ayat dalam surat At Taubah([2]).
  3. Wajib mencintai Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam lebih dari kecintaan terhadap diri sendiri, keluarga dan harta benda.
  4. Pernyataan “tidak beriman” bukan berarti keluar dari Islam.
  5. Iman itu memiliki rasa manis, kadang dapat diperoleh seseorang, dan kadangkala tidak.
  6. Disebutkan empat sikap yang merupakan syarat mutlak untuk memperoleh kecintaan Allah. Dan seseorang tidak akan menemukan kelezatan iman kecuali dengan keempat sikap itu.
  7. Pemahaman Ibnu Abbas terhadap realita, bahwa hubungan persahabatan antar sesama manusia pada umumnya dijalin atas dasar kepentingan duniawi.
  8. Penjelasan tentang firman Allah : “ … dan terputuslah segala hubungan antara mereka sama sekali.([3])
  9. Disebutkan bahwa di antara orang-orang musyrik ada yang mencintai Allah dengan kecintaan yang sangat besar.
  10. Ancaman terhadap seseorang yang mencintai kedelapan perkara  diatas (orang tua, anak-anak, paman, keluarga, istri, harta kekayaan, tempat tinggal dan perniagaan) lebih dari cintanya terhadap agamanya.
  11. Mempertuhankan selain Allah dengan mencintainya sebagaimana mencintai Allah adalah syirik akbar.

([1])   Ayat ini menunjukkan bahwa barang siapa yang mempertuhankan selain Allah dengan mencintainya seperti mencintai Allah, maka dia adalah musyrik.

([2])   Ayat ini menunjukkan bahwa cinta kepada Allah dan cinta kepada yang dicintai Allah wajib didahulukan diatas segala-galanya.

([3])  Ayat ini menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang yang telah dibina orang-orang musyrik di dunia akan terputus sama sekali ketika di akhirat, dan masing-masing dari mereka akan melepaskan diri darinya.

Oleh  : Haidar Bagir (Diambil dari  Buku “Buku Saku Tasawuf”)

Rudolf Otto, seorang pemikir yang dianggap sebagai seorang ahli fenomenologi agama menyebutkan adanya dua situasi  pertemuan manusia dengan Tuhannya. Dalam situasi  pertama, Tuhan  tampil di hadapan manusia sebagai sesuatu ”misteri yang menggetarkan” (mysterium tremendum). Pada situasi  lainnya,  Dia hadir sebagai “misteri yang memesonakan” (mysterium fascinum). Biasanya, para  ahli–seperti Van der Leeuw–melihat Islam (dan juga agama Yahudi) sebagai mewakili situasi  yang pertama. Secara hampir refleks,  para  ahli seperti ini pun me-reserve situasi  yang kedua–yang didominasi cinta–untuk  Kekristenan. Namun,  para  ahli mengenai aspek esoterisme Islam (spiritualitas  Islam atau  tasawuf) yang lebih belakangan, seperti diwakili dengan baik oleh Annemarie Schimmel, melihat Islam sebagai tak

kurang-kurang mempromosikan orientasi cinta dalam  hubungan antara manusia dengan

Tuhan-nya sebagai berorientasi cinta. Bahkan, seperti akan  diuraikan  di bawah ini, dalam  hal ini

Islam justru lebih memujikan orientasi cinta ketimbang orientasi yang di dominasi rasa takut.

Untuk memulai  pembahasan mengenai soal ini, perlu disampaikan bahwa khazanah pemikiran  Islam klasik sesungguhnya juga telah mengenal kedua situasi  pertemuan manusia dan Tuhannya ini. Yakni, aspek kedahsyatan yang menggetarkan (disebut jalâl) dan  aspek keindahan yang memesonakan (jamâl). Namun,  adalah benar juga bahwa selama abad-abad khususnya selama abad-abad  modernistik belakangan ini kaum  Muslim seperti lupa pada sisi esoteris agama mereka yang melihat hubungan manusia-Tuhan sebagai kecintaan makhluk kepada keindahaan yang memesonakan Sang Khalik. Jadilah, Islam, seperti diungkapkan oleh para  ahli fenomenologi agama itu, sebagai suatu agama yang secara eksoteris melulu berorientasi nomos (syarî’ah  dalam arti sempit,  hukum)  dan  kering dari orientasi eros  (cinta, hubb).

Kuntu kanzan makhfiyyan, fa ahbabtu an u’rafa’.Fa khalaqtu al-khalqa li kay u’raf [Aku adalah perbendaharaan yang terpendam. Aku cinta (ahbabtu) untuk diketahui.  Maka Aku ciptakanlah alam semesta].  Demikianlah Allah ‘Azza wa Jalla  berfirman  dalam  suatu hadis  qudsi.  Basis  dari penciptaan sejak  awal-mulanya, menurut hadis  yang merupakan kutipan standar dalam  hampir setiap uraian  tasawuf ini, adalah kerinduan atau  kecintaan Tuhan  akan (mar’ifah) manusia.

Lepas dari “ocehan”  para  sufi ini, Al-Quran menegaskan hubungan cinta antara Allah Sang

Pencipta (Al-Wadûd) dan  manusia (lihat, antara lain, Al-Quran Surah Al-Mâ’idah [5]: 54; Al-Baqarah [2]: 165, 216) Inilah salah satunya:

“Adapun orang-orang yang beriman itu, sangat dalam  kecintaan mereka kepada Allah.”

Menurut salah satu  penelitian,  bukan  saja  lebih banyak porsi dalam  99 nama Allah (al-asmâ’ al-husnâ) bagi nama-nama yang termasuk dalam  aspek jamâl Allah Swt., seperti Maha Pengasih (Al-Rahmân), Maha Penyayang (Al-Rahim), Maha Pecinta (Al-Wadûd), Maha Pemaaf (Al-Ghafûr), Maha Penyabar  (Al-Shabûr), Maha Lembut (Al-Lathîf), dan  seterusnya. Bahkan di dalam  Al-Quran terdapat 5 kali lebih banyak ayat  yang mengandung nama jamâliyyah  ini ketimbang jalâliyyah. Sebagai contoh,  menurut catatan kata-kata Al-Rahman dan  Al-Rahim dipergunakan sebanyak 124 kali dalam  Al-Quran. Sementara kata-kata ghadhab (murka) dan bentuknya terdapat hanya 7 kali dalam  seluruh kitab suci yang sama. Dengan kata  lain, Allah menampilkan dirinya dan  tak ada  yang dapat menampilkan Allah kecuali diri-Nya sendiri  lebih sebagai Zat yang indah  dan

memesona serta menimbulkan cinta kasih,  ketimbang sebagai suatu misteri dahsyat yang menggetarkan.

Kenyataan ini tentu  sama sekali tak berarti bahwa, kita harus mengabaikan penampilan Allah Swt, dalam segenap kedahsyatannya. Tapi, bahwa segenap kedahsyatan Allah itu kemurkaan, keperkasaan, janji pembalas-Nya terhadap kejahatan makhluk,  dan  sebagainya merupakan bagian dari kecintaan-Nya kepada makhluk.  Dalam sebuah hadis  qudsi,  disebutkan bahwa Allah Swt, berfirman:  “sesungguhnya kasih-sayang Ku mendahului Kemurkaan-Ku.” Di dalam

Al-Quran, Dia sendiri  menyatakan sebagai “telah menetapkan atas Diri-Nya sifat pengasih (rahmat),”  serta mengajarkan bahwa rahmat-Nya “seluas langit dan  bumi” dan  “meliputi segala sesuatu.” Sejalan dengan itu Nabi-Nya pernah mengabarkan kepada kita bahwa: “Allah memiliki seratus rahmat. (Hanya)  satu  yang ditebarkan-nya ke atas alam semesta, dan  itu sudah cukup  untuk menanamkan kecintaan di hati para  ibu kepada

anak-anaknya.”Sehingga,.”seekor induk kuda mengakat kakinya  agar  tak menginjak anaknya, dan  seekor ayam  betina  mengembangkan sayapnya agar  anak-anaknya berlindung di bawahnya.”

Sayangnya, dalam  segenap kegentaran kita kepada kedahsyatan (jalâl) Allah Swt., banyak di antara kita sulit membayangkan bentuk  hubungan cinta antara Yang Maha Segala dan  makhluk ringkih bernama manusia ini. Paling banter, orang  akan  menafsirkannya sebagai sinonim dari keterikatan atau  ketaatan seorang hamba (‘abd) yang takut kepada Tuhan  (Rabb)-nya.

Untuk membuyarkan fiksasi kita tentang Allah yang menakutkan ini, izinkan saya

mengungkapkan simbolisasi ibn, ‘Arabî dalam  karya-besarnya, Fushûsh Al-Hikam. Hubungan cinta antara Allah dan  manusia, kata  sang sufi besar yang kontroversial ini, adalah seperti hubungan cinta antara manusia lelaki dan  perempuan. (Inilah, kata  Ibn’Arabî, hikmah hadis  termansyhur Nabi Saaw, mengenai kecintaan beliau kepada perempuan di samping kepada shalat dan  wangi-wangian. Bisa jadi pada awalnya sang sufi besar itu berfikir: ”Pasti ada  hikmah yang lebih ’sakral’ di balik kesukaan Sang Manusia Sempurna Saaw, kepada objek profane yang tampak ‘remeh-remeh’itu”). Artinya, kecintaan Allah kepada manusia dan sebaliknya adalah seperti kasih dua  sejoli anak  manusia yang asik âsyiq-masyuk (istilah bahasa Arab yang telah diserap ke dalam  bahasa Indonesia ini sebetulnya merupakan

bentukan dari kata  ‘isyq–berarti cinta–yang merupakan salah satu  istilah kunci dalam  tasawuf). Banyak sekali ujar-ujar para  sufi besar lainnya mengenal hal ini.

Selain  dari sufi-sufi seperti Ibn’Arabi dan  Ibn Al-Faridh, yang menonjol  di antaranya adalah dari sufi perempuan Rabi’ah  Al-‘Adawiyyah. Dia dikenal dengan syair-syair menggetarkan yang menunjukan hubungan cinta kasih antara manusia dan  Tuhan:

“Ya Allah, “ demikian  munajatnya di suatu malam,  “saat  ini gelap  telah menyelimuti  bumi. Lentera-lentera telah dimatikan,  dan  para  manusia telah berdua-dua dengan kekasih-Nya. Maka inilah aku, mengharapkan-Mu.”

Diriwayatkan,  dia pernah ditemui orang  berjalan di jalanan Kota Bagdad sambil membawa obor di salah satu tangannya, dan  seember air di tangannya yang lain. Ketika ditanya  orang  tentang tujuannya, dia menjawab: “Aku akan  membakar surga dengan obor ini, dan  memadamkan api neraka dengan seember air ini.” Memang Rabi’ah juga dikenal luas dengan syairnya:

“Ya Allah, jika akau  menyembah-Mu karena berharap surgamu, maka  jauhkan surga itu dariku. Jika aku menyembah-Mu karena takut nerakamu, maka  masukkan aku ke dalamnya. Tapi, jangan halangi  aku dari melihat wajah-Mu”

Munajat Rabi’ah  ini kiranya sejalan belaka dengan berbagai ujaran  ‘Ali ibn Abi Thalib sahabat dan  penerima wasiat  Nabi, guru para  sufi awal, dan  pangkal hampir semua silsilah tarekat khususnya bagian-bagian tertentu dalam  Doa Kumail yang oleh Nabi diajarkan kepadanya:

“…kalaupun aku sabar menanggung beban-penderitaan (di neraka) bersama musuh-musuh-Mu

dan Kau kumpulkan akau  dengan para  penerima siksa-Mu,  dan  Kau ceraikan aku dari para  kekasih dan  sahabat Mu. Kalaupun aku, Wahai Ilah-ku, Tuanku,  Sahabatku, dan  Rabb-ku, sabar menanggung siksa-Mu,  bagaimana kubisa  sabar menanggung perpisahan dengan-Mu…, kalaupun aku bisa bersabar menanggung panas neraka Mu, bagaimana kubisa  bersabar dari melihat kemuliaan-Mu…”

Dalam konteks ini menjadi  terpahamkan ketika, suatu kali, ‘Ali menyayangkan ibadah ala budak  yang ketakutan, atau  ala pedagang yang selalu  menghitung-hitung imbalan,  seraya memuji hubungan yang berlandaskan cinta.

Seolah menjelaskan maksud ujaran  Bapaknya, Husain  ibn ‘Ali menyeru: “.. merugilah perdagangan seorang hamba yang tidak menjadikan cinta kepada-Mu sebagai bagiannya.”

Akhirnya, munajat cucu Nabi dan  mazmur ‘Ali Zainal ‘Abidin berikut ini dapat menjelaskan hubungan kompleks antara manusia dan  Tuhan  dalam  ajaran Islam:

“Wahai Zat yang memberikan kelezatan persahabatan kepada para  kekasih-Nya sehingga mereka bisa berdiri tegak  dengan akrab  di hadapan-Nya, dan  wahai Zat yang memberi para  wali-Nya pakaian kebesaran sehingga mereka bisa berdiri tegak  di hadapan-Nya seraya memohon Ampunannya.”

Tasawuf mempromosikan jenis hubungan penuh cinta kasih antara Tuhan  dan  manusia, antara Khaliq dan makhluq,  antara Ma’bûd dan  ‘âbid, dan  seterusnya. Yakni ketika segenap kedirian kita, nafsu-nafsu duniawi kita, telah sirna oleh mujâhadah jiwa kita yang telah tersucikan di dalam  Allah, kembali  lebur (fanâ) dan  tinggal tetap (baqa’) di dalam-Nya. Hubungan seperti ini adalah puncak dari seluruh perjalanan spiritual (sulûk)  manusia (kembali kepada Allah). Inilah sesungguhnya ideal tasawuf.

“Segala puji bagi Allah yang mencintaiku, padahal Dia Mahakaya dan  tidak membutuhkan apa  pun dariku.”