Posts Tagged ‘biografi’

Oleh
Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halabi

Sesungguhnya keistimewaan terbesar yang dimiliki dakwah Salafiyah yang penuh berkah ini adalah tegaknya dakwah tersebut di atas sunnah yang shahih. Dakwah ini tidak bersandar kepada hadits-hadits lemah dan palsu. Pada keadaan seperti itu, para penuntut ilmu syar’i juga telah mengetahui secara jelas tentang pengertian hadits shahih dan syaratnya. Termasuk syarat terbesar adalah bersambungnya sanad dengan para perawi yang terpercaya. Ada juga sayarat-syarat lain, yang sekarang kami tidak membicarakannya dan menyebutkannya. Termasuk syarat hadits shahih adalah bersambungnya sanad dengan para perawi yang terpercaya.

Maka syarat orang yang menisbatkan dirinya ke dalam dakwah Salafiyah, dakwah yang berdiri tegak di atas hadits yang shahih, harus memiliki silsilah dakwah itu sendiri. Artinya dia harus mengambil manhajnya dari para masyayaikh dan ulamanya yang terpercaya. Para masayaikhnya adalah para ulama yang mengambil manhajnya dari para masyayaikhnya, dan seterusnya. Orang yang datang kemudian, mengambil dari orang yang sebelumnya. Seorang murid mengambil dari syaikhnya. Anak mengambil dari ayah, cucu mengambil dari kakek, dengan sanad yang bersambung kepada orang-orang yang terpercaya dari kalangan ulama besar dan tinggi. Meskipun bukan termasuk syarat majlis kita ini, membahas secara panjang lebar masalah ini hingga keluar dari topik pembicaraan majlis.

Hanya saja, di sini saya akan menyebutkan suatu hal yang penting, berkaitan dengan sekelompok orang yang masuk dari sana-sini, mengaku-ngaku bermanhaj Salaf dan mengaku-ngaku menjalankah sunnah. Tetapi bila kamu periksa, perhatikan dan teliti, kamu tidak mendapatkan silsilah yang shahih dari ahlul ilmi, yang dari mereka diambil masalah-masalah manhaj dan perkara-perkara aqidahnyanya. Disamping sanad mereka munqathi’ (terputus), bahkan mu’dhal (terputus dua orang atau lebih secara berturut-turut), bahkan kadang-kadang mu’allaq mukhalkhal (terputus dari awal sanad seorang atau lebih)..

Mengetahui masalah ini saja, sudah cukup untuk merobohkan pengakuan-pengakuan mereka. Sudah cukup untuk menolak perbuatan mereka, serta menghancurkan persangkaan-persangkaan dan pemikiran-pemikiran mereka. Kita tidak perlu lagi banyak berdebat dan bicara. Saya berharap kepada saudara-saudaraku supaya memperhatikan masalah ini, merenungkan dengan seksama, dan memahami dengan sebaik-baiknya.

Memang dakwah kita berdiri diatas silsilah (mata rantai) para ulama terpercaya. Ulama yang datang kemudian mengambil dari ulama yang sebelumnya, dan ulama muta’akhir (belakang) mengambil dari ulama mutaqaddim (dahulu). Ini adalah bukti kebenaran sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang dishahihkan oleh Imam besar Ahmad bin Hanbal dan lain-lainnya, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Ilmu ini akan dibawa oleh orang-orang yang adil dari setiap generasi, mereka itu meniadakan perubahan orang-orang yang melampui batas, kedustaan orang-orang yang berbuat kebatilan, dan penta’wilan orang-orang bodoh”.

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘yahmilu hadza al-ilma’ = adalah fi’il mudhari (kata kerja yang menunjukkan waktu sedang dan akan datang), memberikan faidah terus menerus dan berkesinambungan. Dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘min kulli kholafinin’ = dari setiap generasi. Sifat keseluruhan ini sesuai dengan maknanya secara sempurna. Maka, baik di zaman ini atau sebelumnya, pada setiap generasi (sejak dahulu dan sesudahnya), tidak pernah kosong dari orang yang menegakkan hujjah untuk Allah. Orang yang menolong Allah Azza wa Jalla dengan bayyinah (keterangan), meninggikan tauhid dengan burhan (bukti). Maka tegaklah prinsip ini di atas pondasinya, tegak di atas hujjahnya, dan dikuatkan oleh sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Senantiasa ada segolongan dari umatku yang menegakkan kebenaran tidak membahayakan mereka orang-orang yang menyelisihinya dan tidak pula orang-orang yang menghinakannya sampai terjadi Kiamat dan mereka tetap dalam keadaannya demikian”.

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “ laa yazaalu “(senantiasa} juga memberi faedah terus menerus. Dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “ilaa an taqumu as-saa’ah” (sampai terjadi kiamat), menguatkan kepada faidah tersebut.

Di sini ada catatan, bahwa kata tha’ifah kadang-kadang diucapkan dengan makna jama’ah (sekelompok orang). Kadang-kadang diucapkan dengan makna satu orang. Maka jumlah paling sedikit untuk tegaknya kebenaran yang agung, yaitu kebenaran yang didakwahkan oleh ulama-ulama kita dan ditegakkan oleh pembesar-pembesar kita dalam dakwahnya, adalah tidak kosongnya zaman dari satu orang ulama yang meninggikan kalimah Allah dan menegakkan kebenaran.

Wahai saudara-saudara fillah …

Sebagaimana dikatakan, ini adalah mukadimah yang harus ada, agar persoalannya dapat tercakup. Yang demikian itu seperti jalan yang sudah diratakan untuk kita masuki dengan suatu hal sedikit demi sedikit, berupa sebutan baik dan agung untuk ulama-ulama besar kita pada zaman dahulu hingga sekarang.

Andaikata kita mau menyebutkan secara tuntas, kita pasti memerlukan majlis yang panjang. Bahkan beberapa majlis, bahkan berhari-hari, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun. Tetapi, mukaddimah di atas adalah petikan yang kami harapkan bisa memberikan penerangan. Walaupun saya tidak bisa mengatakan sudah cukup dan tidak pula mengatakan sudah terpenuhi. Hal itu agar dapat menerangi pikiran, sehingga kita terpacu membahas dan memperhatikan riwayat hidup para ulama yang akan kita pilih sebagiannya untuk dibicarakan. Sebab kalau tidak demikian (bila kita menghendaki untuk menyebutkan secara keseluruhan), pasti hal itu akan menjadi luas tidak terbatas dan menjadi banyak tidak terhitung. Kita akan membicarakan dalam waktu yang pendek ini beberapa petikan singkat yang berkaitan dengan ulama-ulama dakwah Salafiyah semenjak dahulu hingga sekarang. Beberapa ulamanya yang memiliki posisi dan pengaruh di dalam dakwah yang penuh berkah ini.

Kita tidak ingin memulai dari kalangan sahabat, karena mereka pondasi pertama dalam dakwah tersebut. Tetapi kami ingin memulai dengan ulama yang mengalami pertentangan pada masanya, dan kebenaran tidak diketahui kecuali dengan lawannya sebagaimana yang dikatakan oleh penyair.

Sesuatu itu dinampakkan kebaikannya oleh lawannya
Dengan lawan sesuatu akan menjadi jelas.

IMAM BESAR AHMAD BIN HAMBAL RAHIMAHULLAH

Dia hidup pada masa bergelombangnya aqidah yang rusak dan bergeraknya pendapat yang tidak bermanfaat. Dia menghadapi keadaan tersebut dengan kokoh, kuat dan teguh, sehingga jatuh dalam kesusahan ujian dan fitnah. Tetapi tetap sabar dan teguh, walaupun disiksa dalam fitnah khalqil Qur’an (fitnah aqidah yang menyatakan Al-Qur’an adalah makhluk). Beliau dituntut agar diam dari lawannya, bukan meninggalkan kebenaran. Dia tidak peduli, maka disiksa, dipenjara, diikat, dan diusir. Dia hadapi semua itu dengan tabah, karena di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ringan karena di dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika datang sebagian sahabatnya berkata kepadanya : “Wahai Abu Abdillah, andaikata engkau diam saja (maka engkau tidak disiksa)!”. Dia berkata : “Apabila saya diam dan kamu diam, maka siapakah yang akan mengajari orang yang bodoh dan kapan akan mengajari orang yang bodoh ?”.

Ini adalah salah satu alamat dan pintu dakwah. Kesabaran dan keteguhan ini menjadi contoh dan teladan bagi kita dari imam kita. Mereka berhak mendapatkannya. Semoga Allah memberi rahmat kepada mereka setelah meninggal dunia. Menjaga mereka untuk kita, ketika mereka masih hidup. Allah meninggikan nama mereka, karena kesabaran, keimanan, dan amanahnya, serta mereka menegakkan kebenaran dengan laranganNya dan perintahNya.

Pribadi Imam Ahmad juga mempengaruhi Imam Abul Hasan Al-Asy’ari. Pada zaman ini banyak orang menisbatkan kepadanya, bahkan sejak dahulu. Dia mengatakan di dalam kitabnya, “Maqalat Islamiyyin wa Ikhtilaf Mushallin”, setelah menyebut aqidah Ahlus Sunnah Ashabul Hadits : “Ini semuanya adalah aqidah Imam Ahmad bin Hambal. Saya berjalan di atas jalannya, dan mengikuti serta menyeru aqidahnya”. Atau seperti apa yang dia katakan.

Disini kami menngingatkan suatu hal, yaitu banyak orang-orang khusus maupun orang-orang umum menisbatkan dirinya kepada Abu Hasan Al-Asy’ari, tetapi penisbatannya tidak benar. Meskipun mereka menisbatkan kepada namanya, tetapi kenyataannya tidak menisbatkan kepadanya, baik dalam aqidah maupun manhajnya.

Imam Abul Hasan, dahulu penganut paham Mu’tazilah. Kemudian sebagaimana dalam kisah yang masyhur, dia berdiri di atas mimbar di hadapan banyak manusia lalu melepas bajunya dan berkata : “Aku bersaksi kepada Allah, kemudian bersaksi kepada kalian bahwasanya saya melepas paham Mu’tazilah dari diriku, sebagaimana saya melepas bajuku ini”. Ini juga merupakan tanda kejujuran kepada Allah, kejujuran kepada manusia, dan kejujuran kepada diri sendiri dalam mentaati Allah.

Tetapi suatu hal yang sudah jelas wahai saudara-saudara fillah, kembali dari sesuatu tidak cukup dalam sehari semalam. Keberhasilan sesudah kotor, tidak seperti selembar kertas yang disobek dari buku atau perkataan yang ditinggalkan. Pasti masih terdapat pengaruh-pengaruh kotorannya. Dalam meninggalkan paham Mu’tazilah atau setelah meninggalkan paham Mu’tazilah, Imam Abul Hasan Al-Asy’ari belum terlepas dari sisa-sisa yang masih melekat pada dirinya.

Setelah itu, dalam kitabnya “Al-Ibanah fi Ushulid Diyanah”, dan dalam kitabnya “Maqalat” yang sudah saya isyaratkan tadi, juga dalam kitabnya “Risalah ila Ahli Tsaghar”, nampak keadaannya secara jelas dan terang. Bahkan dia menjelaskan secara terang, tanpa ada kesamaran, bahwa dia diatas aqidah Salafiyah.

Memang banyak orang dari kalangan Asy’ariyah yang menisbatkan kepada Abul Hasan. Mereka itu tidak berada pada jalan Mu’tazilahnya yang pertama, tetapi juga tidak pada jalan Salafiyahnya yang terakhir. Mereka berada pada tingkatan kedua, bukan dari Mu’tazilah dan bukan dari Sunnah. Tetapi jalan yang bercampur di dalamnya antara amal shalih dan amal buruk. Padahal tidak boleh menisbatkan kepada Abul hasan dalam hal yang sudah ditinggalkannya. Mereka itu menyelisihi Abu Hasan dan menyelisihi aqidah Salaf, yang dia telah menyatakan untuk mengikuti dan tetap di atas aqidah tersebut.

Inilah, wahai saudaraku, Imam Ahmad dalam petikan yang sangat sedikit tentang sikap dan keteguhannya. Dia adalah ulama besar sepanjang sejarah dakwah ini pada abad-abad pertama.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun VI/1423H/2002M, Diambil dari materi ceramah Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halabi Tanggal 3-6 Muharram 1423H di Ma’had Ali Al-Irsayd Surabaya dengan judul A’lam Dakwah Salafiyah Diterjemahkan oleh Azhar Rabbani dan Muslim Atsari]

https://tausyah.wordpress.com

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1762&bagian=0

Biografi & Masa Kecil NABI MUHAMMAD S.A.W.

MAULUDIL RASUL

Firman ALLAH terhadap Muhammad s.a.w.:  “Bukankah  Allah  dapati   engkau yatim,  lalu  Ia  pelihara? Bukankah  Ia dapati  engkau  bingung,  lalu Ia  tunjuki? Dan  bukankah Ia dapati  engkau miskin, lalu Ia beri kecukupan?”

Bapanya,  Abdullah  bin   Abdul   Muttalib, sudah meninggal  dunia dua bulan sebelum   ia  dilahirkan.  Tetapi   apa  yang telah dikurniakan  Allah kepadanya di dalam keadaan yatim itu, adalah lebih dari ketiadaan yang disebabkan kepergian bapanya itu.

yaitu pemeliharaan  ibunya,  lalu  neneknya dan akhirnya  pamannya.  Dengan pertumbuhan   tubuh dan jiwa  sangat wajar,  ia menjadi seorang anak yang sangat  indah.

Mula-mula menjadi pengembala kambing, meningkat menjadi pedagang, menjadi terkenal di tengah orang  banyak  kerana tingkah lakunya yang indah menarik setiap insan yang                         mengenalinya, akhirnya  kahwin   mendapatkan  seorang jodoh  yang  amat ideal, lalu berpengaruh dan berwibawa, menjadi penyantun anak yatim dan orang-orang miskin.

Keyatimannya  telah  diganti  Allah  dengan ilmu,  pengalaman  dan  budipekerti.  Allah telah   mendidiknya  dengan  pendidikan yang amat  baik,  mempersiapkan  dirinya menjadi             pembawa tugas  kenabian, kerasulan dan pengembang  syariat, sebagai   penutup   dan  semua Nabi  dan Rasul.  Bahkan ia  dijadikan  Allah  menjadi makhluk  terbaik di tengah-tengah makhluk Allah yang  banyak.

Kemelaratan  yang dideritanya  semenjak kecil  telah diganti  Allah  dengan kecukupan, Allah memberkatinya  dalam perdagangannya,  dalam  kehidupannya  di tengah  ummat   manusia  dengan  nama yang  baik,   kepercayaan   manusia   atas dirinya dan  akhirnya  dengan kesempurnaan  agama yang diajarkannya.

Setelah  ia  mencapai  usia  enam  tahun, dia dibawa ibunya dalam  perjalanan  jauh dari Makkah  ke  Madinah  untuk mengunjungi keluarganya Bani  Najjar, yaitu  Ibu  saudara  dari ayahnya, dengan  maksud  mengunjungi rumah tempat bapanya  meninggal  dunia sebelum  ia  lahir,  juga menziarahi  kubur bapanya   itu.   Muhammad  dan ibunya menetap beberapa hari lamanya di tengah tengah keluarga bapanya itu dengan mendapat penghargaan yang sangat baik dari segenap tetangga.

Ketika  dalam perjalanan kembali ke Makkah, ibunya sakit, lalu meninggal dunia  dan di kuburkan  di  suatu tempat yang  bernama Abwa. Setelah  ibunya dikuburkan,  semua orang sudah kembali ke  rumah  masing-masing,  tinggallah Muhammad  bersama  pengasuhnya di dekat   kubur   itu,   terdiam tidak keluar kata, di  bawah terik  panas  matahari padang  pasir.   Sedang di   saat  itu   ia masih  anak kecil  berumur enam tahun. Airmatanya   mengalir  membasahi   kubur ibunya,  meratapi  yang  juga  sudah bertindak   sebagai  ganti bapanya. Dengan wafatnya ibunya  ini,  tinggallah dia tanpa bapa dan ibu, yatim piatu.

Setelah lama berdiam, dia menoleh keliling,  kiranya  tidak  seorang juga lagi manusia yang   berada di tempat  itu, selain Ummu  Aiman pembantunya.

Ummu Aiman lalu menyapu airmata yang mengalir di pipi  Muhammad, sambil berkata              menghiburkan dan menenangkan kalbunya, membangkitkan keberanian  hatinya menghadapi kesedihan   dan   kehidupan.  Muhammad berkata  kepada Ummu Aiman:  “Hai, Ummu  Aiman,  saya  sudah   kehilangan ibu  dan  bapa,  kehilangan  dua naungan yang menaungi  kepalaku,   sedangkan saya masih dalam perjalanan antara  dua negeri,   maka  ke  manakah   seharusnya saya  menuju   sekarang   ini,  hai   Ummu Aiman?   Apakah   meneruskan  perjalanan ke Makkah atau kembali ke Madinah?”

Mendengar  pertanyaan  ini,  meletuslah tangis Ummu  Aiman   yang  selama itu ditahannya.  Airmatanya  menghujan jatuh  membasahi tanah yang tandus itu. Peluh dinginnya mengalir di sekujur badannya,  suaranya menjadi  serak (parau)  ketika   dia mencoba  menjawab pertanyaan  Muhammad dengan pertanyaan pula:

“Ya,  ke manakah engkau ingin tuju,  hai Muhammad? Apakah kepada bapamu Abdul                Muttalib, penghulu  (ikutan) bangsa Quraisy,  agar engkau bertempat tinggal bersama  dia di bawah naungannya?”

Muhammad  segera bertanya:  “Mengapa engkau katakan bapaku  Abdul Muttalib? Bapaku?   Jangan dikatakan bapaku, tetapi katakanlah   nenekku, sebab bapaku  sudah  meninggal   dan hari   ini sudah meninggal pula  pengganti bapaku, yaitu   ibuku.   Ya,   Abdul   Muttalib   adalah nenekku, bapa dan  bapaku. Antara  saya dan nenekku  ada antara, di antara itulah ada    paman-pamanku, anak-anak dan paman-pamanku  itu, dan  saya   adalah salah  seorang dan mereka yang banyak itu.”

Dengan perkataan itu Muhammad membayangkan  akan   kedudukannya   di bawah neneknya, kerana dia  adalah  satu di  antara yang  banyak.  Jadi   tentu  lain dengan di bawah ibu atau   bapanya sendiri.

Begitulah Muhammad dengan pembantunya,  Ummu Aiman, meneruskan perjalanan ke Makkah,  lalu Muhammad  diserahkan oleh Ummu Aiman  kepada  kakeknya Abdul  Muttalib. Abdul  Muttalib sangat  sedih hatinya ketika  menerima   cucunya yang  amat dicintainya  itu.

Kecintaan Abdul Muttalib terhadap Muhammad dan  kecintaan Muhammad terhadap Abdul  Muttalib sama  setara. Demikianlah  secara pendek bayangan kehidupan kedua  insan  itu.  Tetapi dua  tahun kemudian,  datuknya yang tercinta   ini  pun  meninggal  dunia. Tidak  kurang kesedihan  Muhammad dengan  kematian   kakeknya  ini   dengan kematian ibunya,  malah   menurut Muhammad sendiri, adalah lebih sangat sedih.

Ketika  orang  ramai  sudah  pulang  ke rumahnya  masing  masing  setelah  selesai menguburkan datuknya,  Muhammad tetap berada  di  dekat  kubur   itu menangis   dan meratap  dengan airmata yang   tak putus-putusnya menitis    ke bumi yang  kering.  Berkata  ia: “Engkaulah bapaku  sesudah bapaku, engkaulah  yang  telah  dapat meringankan  penderitaan  hidupku,  yang selalu   mengusapkan   tangan  membelai kepalaku untuk  mengurangkan kesedihan    hati     dan penderitaanku sepeninggalan ibuku. Apakah sepeninggalanmu,   hai datuk,  aku   akan kembali menderita?”

Muhammad   lalu  memalingkan  mukanya kepada Ummu Aiman yang   berada  di belakangnya, lalu  berkata: “Sekarang ke mana aku harus  pergi, ya  Ummu Aiman?”

Mendengar   kata-kata  sedih   berkabung dan  pertanyaan   Muhammad itu,   Ummu Aiman   tidak    dapat   menahan  airmata sedihnya.  Ia  menangis  sambil meletakkan tangannya di  bahu Muhammad, lalu  berkata:   “Engkau bertanya  ke  mana, bukankah masih ada bapamu,  yaitu Abu  Talib,   ya Muhammad.”   Muhammad  terdiam sejenak,   Ialu berkata: “Bapaku Abu Talib,    hai Ummu Aiman?  Bukankah bapaku  sudah   meninggal,   begitu   juga bapa  dan bapaku? Bukankah Abu  Talib itu bapa saudaraku, saudara bapaku? Katakanlah   ia adalah bapa  saudaraku, hai  Ummu Aiman.  Beliau  adalah  seorang mulia,  terkemuka,  mempunyai kehebatan  dan  kemuliaan,   terpandang dalam  masyarakatnya.  Tetapi  bukankah beliau   seorang melarat, yang  banyak anak,   hai Ummu Aiman? Kalau aku engkau serahkan  kepada beliau,   tentu saja  beban beliau akan bertambah berat. Aku tak suka menambah beratnya beban seseorang.”

Abu Talib ini adalah seorang yang  sangat cinta  terhadap Muhammad,  tidak  kurang dari  kecintaan datuknya dan ibunya. Ummu  Aiman  menyerahkan Muhammad kepada bapa saudaranya, Abu Talib.

Karena  keadaan  kehidupan Abu  Talib yang melarat  itu,  maka Muhammad terpaksa      berusaha  bagaimana dapat meringankan beban   pamannya  itu.  Sekalipun  masih  kanak-kanak,  ia berusaha mendapatkan  penghasilan sekalipun   bagaimana   juga  kecilnya.  Ia menerima  upah  menggembalakan kambing orang dan kemudian  berdagang- dagang  kecil.

https://tausyah.wordpress.com