Posts Tagged ‘Ali Bin Abu Thalib’

Iman IslamJujur dan Adil

Bukanlah suatu hal yang mengherankan bila seseorang jujur dan adil terhadap sesama kawan. Tetapi bila ada orang yang jujur dan adil terhadap lawan, ini sungguh suatu keluar-biasaan. Justru inilah yang menjadi salah satu sifat istimewa Imam Ali r.a.

Dalam kedudukkannya sebagai Khalifah, pada satu hari Imam Ali r.a. melihat baju besi yang pernah dimilikinya berada di tangan seorang penduduk beragama Nasrani. Karena merasa yakin, bahwa barang itu memang miliknya, untuk mendapatkan kembali secara baik ia mengadu kepada hakim setempat. Dalam sidang khusus untuk menyelesaikan tuntutannya itu, di depan peradilan Imam Ali r.a. mengatakan bahwa baju besi itu benar­benar miliknya. Ia menegaskan: “Belum pernah aku menjual baju besi itu. Sepanjang ingatanku, belum pernah barang itu kuhadiah­kan kepada orang lain.”

Sungguhpun demikian, orang Nasrani yang menjadi tergugat itu tetap bertahan, bahwa baju besi itu miliknya yang sah. Tanpa ragu-ragu ia menjawab: “Baju besi ini milikku sendiri. Aku yakin Amirul Mukminin tidak akan berbuat bohong.”

Mendengar keterangan yang berlawanan itu, hakim menoleh kepada Imam Ali r.a. dan bertanya sekali lagi: “Apakah anda mempunyai keterangan tambahan?”

Beberapa saat lamanya Imam Ali r.a. diam, tidak tahu apa yang harus dikatakan. Namun ia yakin bahwa barang itu me­mang miliknya. Akhirnya pertanyaan hakim itu dijawab sam­bil tersenyum: “Apa yang anda tanyakan itu memang perlu, te­tapi aku tidak mempunyai keterangan tambahan.”

Setelah mengadakan pertimbangan secukupnya, hakim memutuskan bahwa barang yang dipersengketakan itu menjadi milik sah orang Nasrani yang menjadi tergugat dalam perkara itu. Oleh hakim, orang Nasrani yang bersangkutan diperkenankan pu­lang membawa barang tersebut. Dengan wajah berseri-seri mencer­minkan keikhlasan hatinya Imam Ali r.a. melihat orang Nasrani itu beranjak dari tempatnya sambil mengangkat baju besi.

Baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba orang Nasrani itu balik kembali menghampiri Imam Ali r.a. dan hakim yang masih duduk di tempat masing-masing. Kepada Imam Ali r.a. orang Nas­rani itu berkata: “Apa yang kusaksikan mengenai diri anda, be­nar-benar sama seperi hukum yang berlaku bagi para Nabi!” Ke­mudian dengan khidmat ia berkata lebih lanjut: “Sekarang aku bersaksi, bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasul Allah. Ya Amiral Mukminin, memang benarlah baju besi ini ke­punyaan anda. Waktu anda berangkat ke Shiffin dulu, aku meng­ikuti kafilah anda. Baju besi ini jatuh kemudian diambil oleh sa­lah seorang anggota pasukan yang sedang kekurangan bekal.”

Dengan tenang Imam Ali r.a. menjawab pernyataan orang Nasrani yang sudah mengikrarkan syahadat itu: “Karena anda se­karang sudah memeluk agama Islam, barang itu sekarang sudah menjadi kepunyaan anda!”

Percakapan antara dua orang itu disaksikan oleh hakim dan hadirin lainnya. Mereka ramai membicarakan kejadian yang sangat mengesankan itu. Benarlah bahwa hanya orang muslim yang menghayati Islam sepenuhnya sajalah, yang dapat bersikap seperti Imam Ali r.a. Tetapi tak ada orang lain yang lebih terkesan dalam hatinya selain orang Nasrani yang sekarang sudah jadi muslim itu. Kenyataan ini dibuktikan pada hari-hari selanjutnya. Sejarah ke­mudian mencatat, bahwa bekas Nasrani itu ternyata seorang mus­lim yang sangat gigih membela Imam Ali r.a. dalam perjuangan menegakkan kebenaran Islam dan menumpas pemberontakan Khawarij di Nehrawan.

Peristiwa tersebut merupakan petunjuk nyata tentang betapa tingginya tingkat ketaqwaan, kejujuran dan keadilan Imam Ali r.a. Semua ibadah jasmaniah dan rohaniyahnya bukan lagi dirasa sebagai kewajiban yang harus dilaksanakan, melainkan sudah men­jadi kenikmatan dan kebahagiaan hidupnya sehari-hari. Semua yang dilakukan semata-mata berdasarkan dorongan cinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan kegairahan melaksanakan tauladan hidup yang diberikan oleh putera pamannya, Nabi Muhammad s.a.w.

Dalam hal melaksanakan keadilan, Imam Ali r.a. benar-benar tidak pandang bulu. Yang benar dinyatakan benar, yang salah di­nyatakan salah, tak peduli siapa saja yang dihadapinya. Apakah yang dihadapinya itu orang lain, keluarga sendiri, orang kaya atau miskin, orang yang berkedudukan atau pun tidak. Dalam pan­dangan Imam Ali r.a. sebagai penegak hukum Allah, semua manu­sia adalah hamba Allah yang sama derajat.

Dalam suatu kesempatan, Aqil bin Abi Thalib –kakak Imam Ali r.a.– menceritakan penyaksiannya sendiri tentang keadilan saudara kandungnya itu, sebagai berikut: “Waktu berkunjung ke rumah Imam Ali r.a., Aqil melihat Al Husein r.a. sedang keda­tangan seorang tamu. Ia meminjam uang satu dirham untuk mem­beli beberapa potong roti. Uang itu belum cukup untuk keperluan lauk. Kepada pelayan rumahnya, Qanbar, Al Husein r.a. minta supaya dibukakan kantong kulit berisi madu yang dibawa orang dari Yaman. Qanbar mengambil madu setakar.”

“Waktu Imam Ali r.a. datang dan minta supaya Qanbar meng­ambilkan kantong madu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang berhak, ia melihat madu sudah berkurang. Imam Ali r.a. bertanya: ‘Hai Qanbar, kukira sudah terjadi sesuatu dengan wa­dah madu ini!’ Sebagai jawaban Qanbar menjelaskan bahwa ia disuruh Al Husein mengambilkan madu setakar dari wadah itu. Mendengar itu bukan main marahnya Imam Ali r.a.: ‘Panggil Husein!’…”

Waktu Husein tiba di depannya, Imam Ali r.a. segera meng­ambil cambuk, tetapi Al Husein cepat-cepat berkata: “Demi hak pamanku, Ja’far!”

Biasanya bila nama Ja’far disebut-sebut, marah Imam Ali r.a. segera menjadi reda. Kepada Husein, Imam Ali r.a. bertanya: “Apa sebab engkau berani mengambil lebih dulu sebelum dibagi?” Puteranya menjawab: “Kami semua mempunyai hak atas ma­du. Kalau nanti kami menerima bagian, akan kami kembalikan.”

Dengan suara melunak Imam Ali r.a. menasehati putera­nya: “Ayahmu yang akan mengganti! Tetapi walaupun engkau mempunyai hak, engkau tidak boleh mengambil hakmu lebih dulu sebelum orang-orang muslim lain mengambil hak mereka. Seandainya aku tidak pernah melihat sendiri Rasul Allah s.a.w. mencium mulutmu, engkau sudah kusakiti dengan cambuk ini!”

Imam Ali r.a. menyerahkan uang satu dirham dan diselipkan dalam baju Qanbar sambil berkata: “Belikan dengan uang ini ma­du yang baik dan yang sama banyaknya dengan yang telah di­ambil!”

“Demi Allah…, demikian kata Aqil, “…seolah-olah seka­rang ini aku sedang melihat tangan Ali memegang mulut kantong madu itu dan Qanbar sedang menuangkan madu ke dalamnya!”

Aqil sendiri pernah mengalami suatu peristiwa pahit dengan saudaranya itu. Menurut penuturannya: “Waktu itu aku sedang mengalami kesulitan penghidupan yang amat berat. Aku minta bantuan kepadanya (Imam Ali r.a.). Semua anakku kukumpul­kan dan kuajak ke rumahnya. Anak-anakku itu benar-benar sedang menderita kekurangan makan. Waktu tiba di sana Ali ber­kata: ‘Datanglah nanti malam, engkau akan kuberi sesuatu’…”

Malam hari itu aku datang lagi bersama anak-anakku. Mereka menuntunku bergantian.[1] Setibanya di sana anak-anakku disuruh menyingkir. Kepadaku Ali berkata: “Hanya ini saja untuk­mu!”

Aku cepat-cepat mengulurkan tangan karena ingin segera menerima pemberiannya, dan kuduga itu sebuah kantong. Ter­nyata yang kupegang ialah sebatang besi panas yang baru saja di­bakar. Besi itu kulemparkan sambil berteriak meraung seperti lembu dibantai. Ali tenang-tenang saja berkata kepadaku: “Itu baru besi yang dibakar dengan api dunia. Bagaimana kalau kelak aku dan engkau dibelenggu dengan rantai neraka jahanam?!”

Setelah ia membaca ayat 71-72 S. Al Mukmin, Imam Ali r.a. berkata meneruskan: “Dariku engkau tidak akan memperoleh lebih dari hakmu yang sudah ditetapkan Allah bagimu… selain yang sudah kau rasakan sendiri itu! Pulanglah kepada keluarga­mu.”

Memang luar biasa. Muawiyah sendiri ketika mendengar ce­rita tentang peristiwa itu berkomentar: “Terlalu! Terlalu! Kaum wanita akan mandul dan tidak akan melahirkan anak seperti dia!”

Aqil bin Abi Thalib ternyata berusia lebih panjang daripada saudara-saudaranya. Di kalangan orang-orang Qureiys ia terkenal sebagai salah satu di antara empat orang ahli yang dapat dimintai keterangan tentang ilmu silsilah dan sejarah Qureiys. Empat orang itu ialah Aqil bin Abi Thalib, Makramah bin Naufal Azzuhriy, Abul Jaham bin Hudzaifah Al Adwiy, dan Huwairits bin Abdul Uzza Al Amiriy Aqil sanggup memberi keterangan terperinci mengenai soal-soal silsilah dan sejarah Qureiys. Selain itu ia pun seorang periang dan mudah tertawa keras.

Ibnul Atsir meriwayatkan pengalaman Aqil yang lain dengan Imam Ali r.a. Pada suatu hari Aqil datang kepada Imam Ali r.a. untuk meminta sesuatu. Kepada Imam Ali r.a. ia berkata: “Aku ini orang butuh, orang miskin… berilah pertolongan kepadaku.”

“Sabarlah dan tunggu sampai tiba waktunya pembagian ber­sama kaum muslimin lainnya,” jawab Imam Ali r.a.: “Engkau pasti kuberi.”

Aqil tidak puas dengan jawaban itu. Ia mendesak terus dan merajuk. Akhirnya Imam Ali r.a. memerintahkan seorang: “Ba­walah dia pergi ke toko-toko di pasar. Katakan kepadanya supaya mendobrak pintu toko-toko itu dan mengambil barang-ba­rang yang ada di dalamnya!”

Mendengar perintah Imam Ali r.a. yang seperti itu, Aqil menyahut: “Apakah engkau ingin aku menjadi pencuri?”

“Dan engkau, apakah ingin supaya aku mencuri milik kaum muslimin dan memberikannya kepadamu?” jawab Imam Ali r.a.

“Kalau begitu aku mau datang kepada Muawiyah,” kata Aqil dengan nada mengancam.

“Terserah,” jawab Imam Ali r.a. dengan kontan.

Aqil lalu pergi ke Syam untuk meminta bantuan kepada Muawiyah. Oleh Muawiyah ia diberi uang sebesar 100.000 dirham, dengan syarat Aqil harus bersedia naik ke atas mimbar dan ber­bicara dengan orang banyak tentang apa yang telah diberikan oleh Imam Ali kepadanya dan tentang apa yang telah diberikan Muawi­yah. Dari atas mimbar Aqil berkata dengan lantang: “Hai kaum muslimin, kuberitahukan kepada kalian, bahwa aku telah memin­ta kepada Ali supaya memilih: ‘aku atau agamanya’. Ternyata ia lebih suka memilih agamanya. Kepada Muawiyah aku pun minta seperti itu. Ternyata ia lebih suka memilih aku daripada agama­nya!”

Tentang kejujuran dan keadilan Imam Ali r.a. orang tidak se­gan-segan mengatakan terus terang, sekalipun di depan Muawi­yah. Beberapa waktu setelah Imam Ali r.a. wafat, Muawiyah ber­tanya kepada Khalid bin Muhammad: “Apakah sebab anda lebih menyukai Ali daripada kami?”

“Disebabkan oleh tiga hal,” jawab Khalid bin Muhammad dengan terus terang. “Ia sanggup menahan sabar bila sedang ma­rah. Jika berbicara ia selalu berkata benar. Dan jika menetapkan hukum ia selalu adil.” Demikian diriwayatkan oleh Ibnu Hajar dalam bukunya Ash Shawa’iqul Muhriqah.”

Al Haitsamiy dalam bukunya Majma, jilid IX, halaman 158 menyajikan sebuah riwayat yang berasal dari Rab’iy bin Hurasy sebagai berikut: Pada suatu hari Muawiyah dikerumuni oleh pe­muka-pemuka Qureiys, termasuk Sa’id bin Al Ash, yang waktu

itu duduk di sebelah kanannya. Tak lama kemudian datanglah ibnu Abbas. Ketika melihat Ibnu Abbas masuk, Muawiyah ber­kata kepada Sa’id: “demi Allah, aku akan mengajukan pertanyaan-­pertanyaan kepada Ibnu Abbas yang kira-kira ia tidak akan mam­pu menjawabnya.”

Menanggapi keinginan Muawiyah itu, Sa’id mengingatkan: “Hai Muawiyah, orang seperti Ibnu Abbas tak mungkin tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaanmu.”

Setelah Ibnu Abbas duduk, Muawiyah bertanya: “Apakah kiranya yang dapat kaukatakan tentang Ali bin Abi Thalib?”

Dengan serta merta Ibnu Abbas menjawab: “Abul Hasan rahimahullah adalah panji hidayat; sumber taqwa; tempat kecer­dasan berfikir; puncak ketinggian akal; cahaya keutamaan manu­siawi di tengah kegelapan; orang yang mengajak manusia ke jalan lurus; mengetahui isi Kitab-kitab suci terdahulu; sanggup menaf­sirkan dan mentakwilkan dengan berpegang teguh pada hida­yat; menjauhkan diri dari perbuatan dzalim yang menyakiti hati orang; menghindari jalan yang sesat; seorang mukmin dan ber­takwa yang terbaik; orang yang paling sempurna menunaikan iba­dah haji dan ibadah-ibadah lainnya; orang yang paling mempunyai tenggang-rasa serta memperlakukan semua orang secara adil dan sama, orang yang paling pandai berkhutbah di dunia ini…” dan seterusnya sampai kepada kata-kata: “…seorang suami dari wa­nita yang paling mulia, dan seorang ayah dari dua cucu Rasul Allah s.a.w.”

Seterusnya Ibnu Abbas mengatakan: “Mataku belum pernah melihat ada orang seperti dia dan tidak akan pernah melihatnya sampai hari kiyamat. Barang siapa mengutuk dia, orang itu akan dikutuk selama-lamanya oleh Allah dan oleh seluruh ummat ma­nusia sampai hari kiyamat.”

Mendengar keterangan itu, tentu saja Muawiyah menjadi beringas, tetapi ia dapat menguasai diri di depan seorang ilmuwan seperti Ibnu Abbas. Harun bin Antarah menceritakan penyaksian ayahnya dengan mengatakan: “Pada suatu hari aku datang ke rumah Imam Ali. Ia sedang duduk di balai-balai berselimut kain kumal. Waktu itu musim dingin. Kukatakan kepadanya: “Ya Amiral Mukminin, Allah telah memberi hak kepada anda dan kepada keluarga anda untuk menerima sebagian dari harta Baitul Mal. Mengapa anda ber­buat seperti itu terhadap diri anda sendiri?”

“Demi Allah,” sahut Imam Ali r.a., “Aku tidak mau mengu­rangi hak kalian walau sedikit. Ini adalah selimut yang kubawa sewaktu keluar meninggalkan Madinah.”

‘Ashim bin Ziyad pernah bertanya kepada Imam Ali r.a.: “Ya Amiral Mukminin, pakaian anda itu terlalu kasar dan makan­an anda pun terlampau buruk! Mengapa anda berbuat seperti itu?”

“Celaka benar engkau itu,” jawab Imam Ali r.a. “Allah s.w.t. mewajibkan para pemimpin supaya menempatkan dirinya masing-masing di bawah ukuran orang lain, agar tidak sampai memperkosa penderitaan si miskin.”

Suwaid bin Ghaflah juga menyaksikan cara hidup Imam Ali r.a. Ia menceritakan penyaksiannya sendiri: “Pada suatu hari aku datang ke rumah Imam Ali. Di dalamnya tidak terdapat perkakas apapun selain selembar tikar yang sudah koyak. Ia sedang duduk di tempat itu. Aku segera bertanya setengah mengingatkan: ‘Ya Amiral Mukminin, mengapa rumah anda seperti ini? Anda adalah seorang penguasa kaum muslimin, yang memerintah mereka dan yang menguasai Baitul Mal. Banyak utusan datang menghadap anda, sedang di rumah anda ini tidak ada perkakas selain tikar’…”

“Ya Suwaid,” jawab Imam Ali r.a., “dalam rumah yang ber­sifat sementara ini tidak perlu ada perkakas, sebab di depan kita ada rumah yang kekal. Semua perkakas sudah kami pindahkan ke sana, dan tak lama lagi kami akan kembali ke sana.”

Harun bin Sa’id juga menceritakan penyaksiannya, bahwa pada suatu hari Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib datang kepada Imam Ali untuk meminta pertolongan. Abdullah berkata: “Ya Amiral Mukminin, suruhlah orang mengambilkan uang dari Baitul Mal bekal belanja untukku. Demi Allah, aku tidak mem­punyai uang sama sekali selain harus menjual ternakku.”

“Tidak,” jawab Imam Ali r.a., “demi Allah, aku tidak dapat memberi apa-apa kepadamu, kecuali jika engkau menyuruh pa­manmu mencuri agar bisa memberi apa yang kau minta.”

Imam Ali r.a. memperlakukan semua sanak keluarganya de­ngan perlakuan sama seperti terhadap orang lain. Ia tidak meng­istimewakan mereka dengan pemberian apa pun juga, dan tidak pula memberikan fasilitas khusus betapa pun kecilnya. Olehnya, semua sanak keluarga dilatih dan dipersiapkan mentalnya supaya membiasakan diri berakhlaq seperti dirinya. Bahkan kadang-ka­dang ia mengambil sikap keras dalam membiasakan mereka hidup menurut cara-cara yang diajarkan.

Muslim bin Shahib Al Hanna meriwayatkan, bahwa seusai perang “Jamal” Imam Ali r.a. pergi ke Kufah. Di sana ia ma­suk ke dalam Baitul Mal sambil berkata: “Hai dunia, rayulah orang selain aku!” Ia lalu membagi-bagikan semua yang ada di dalamnya kepada orang banyak. Waktu itu datang anak perem­puan Al Hasan atau Al Husein r.a. lalu turut mengambil sesuatu dari Baitul Mal. Melihat itu Imam Ali mengikuti cucunya dari belakang, kemudian genggaman anak perempuan itu dibuka dan diambillah barang yang sedang dipegang. Kami katakan kepada­nya: “Ya Amiral Mukminin, biarlah! Dia mempunyai hak atas barang itu!” Ternyata Imam Ali menjawab: “Jika ayahnya sendiri yang mengambil hak itu, barulah ia boleh memberikan kepada anak ini sesuka hatinya!”

Sejak sebelum memangku jabatan Khalifah, Imam Ali pada prinsipnya memang tidak suka melihat banyak kekayaan kaum muslimin tertimbun dalam Baitul Mal. Salah sebuah catatan se­jarah yang ditulis oleh Abu Ja’far At Thabariy mengatakan, bahwa dalam suatu musyawarah Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. me­minta pertimbangan tentang bagaimana sebaiknya yang perlu dilakukan terhadap harta benda yang ada di dalam Baitul Mal. Dalam musyawarah itu Imam Ali r.a. mengemukakan pendapat­nya: “Sebaiknya harta yang sudah terkumpul itu dibagikan saja tiap tahun dan tidak usah disisakan sedikitpun.”

Kejujuran dan keadilan seorang yang hidup zuhud, taqwa dan tekun beribadah seperti Imam Ali r.a. itu memang sukar se­kali dijajagi. Keistimewaan hukum yang berlaku pada masa peme­rintahannya ialah persamaan hak dan kewajiban bagi semua orang. Kebijaksanaannya tidak berat sebelah kepada fihak yang kuat dan tidak merugikan fihak yang lemah.

Tanah-tanah garapan yang pada masa pemerintahan sebelum­nya dibagi-bagikan kepada sanak famili dan orang-orang terke­muka yang dekat dengan para penguasa Bani Umayyah, dicabut dan dikembalikan kepada status semula sebagai milik umum kaum muslimin. Setelah itu barulah dibagi-bagikan lagi kepada orang-­orang yang berhak berdasarkan prinsip persamaan.[2]

Mengenai kekayaan milik umum kaum muslimin, Imam Ali r.a. sendiri dengan tegas menyatakan kebijaksanaannya: “Demi Allah, seandainya ada sebagian dari kekayaan itu yang sudah di­pergunakan orang untuk beaya pernikahan atau untuk membeli hamba sahaya perempuan, pasti aku tuntut pengembaliannya!” Dijelaskan pula olehnya: “Sesungguhnya keadilan itu sudah me­rupakan kesejahteraan. Maka barang siapa masih merasakan ke­sempitan di dalam suasana adil, ia pasti akan merasa lebih sempit lagi dalam suasana dzalim.”

Di antara beberapa pesan yang diamanatkannya kepada para penguasa daerah ialah: “Berlakulah adil terhadap semua orang. Sabarlah dalam menghadapi orang-orang yang hidup kekurangan, sebab mereka itu sesungguhnya adalah juru bicara rakyat. Jangan­lah kalian menahan-nahan kebutuhan seseorang dan jangan pula sampai menunda-nunda permintaannya. Untuk keperluan me­lunasi pajak janganlah sampai ada orang yang terpaksa menjual ternak atau hamba sahaya yang diperlukan sebagai pembantu da­lam pekerjaan. Janganlah sekali-kali kalian mencambuk seseorang hanya karena dirham!”

Salah satu dari pesan-pesan khusus yang ditujukan kepada para petugas pemungut pajak, zakat dan lain-lainnya, ialah : “Da­tangilah mereka dengan tenang dan sopan. Jika engkau sudah ber­hadapan dengan mereka, ucapkanlah salam. Hormatilah mereka itu dan katakanlah: ‘Hai para hamba Allah, penguasa Allah dan Khalifah-Nya mengutus aku datang kepada kalian untuk mengambil hak Allah yang ada pada kekayaan kalian. Apakah ada bagian yang menjadi hak Allah itu dalam harta kekayaan kalian? Jika ada, hen­daknya hak Allah itu kalian tunaikan kepada Khalifah-Nya’…”

“Jika orang yang bersangkutan menjawab ‘tidak’, jangan­lah kalian ulangi lagi. Tetapi jika orang itu menjawab ‘ya’, pergi­lah engkau bersama-sama untuk memungut hak Allah itu. Jangan­lah kalian menakut-nakuti dia, janganlah mengancam-ancam dia, dan jangan pula membentak atau bersikap kasar. Ambillah apa yang diserahkan olehnya kepada kalian, emas atau pun perak. Jika orang yang bersangkutan mempunyai ternak berupa unta atau lainnya, janganlah kalian masuk untuk memeriksa tanpa se­izin dia, walaupun orang itu benar-benar mempunyai banyak ter­nak. Jika orang itu memberi izin kepada kalian untuk memeriksa­nya, janganlah kalian masuk dengan lagak seperti orang yang ber­kuasa. Jangan berlaku kasar, jangan menakut-nakuti dan jangan sekali-kali menghardik binatang-binatang itu. Jangan kalian ber­buat sesuatu yang akan menyusahkan pemiliknya.”

“Kemudian apabila harta kekayaan diperlihatkan kepada kalian, persilakan pemiliknya memilih dan menentukan sendiri mana yang menjadi hak Allah. Jika ia sudah menentukan pilih­annya, janganlah kalian menghalang-halangi dia mengambil bagian yang menjadi haknya. Hendaknya kalian tetap bersikap seperti itu, sampai orang yang bersangkutan menetapkan mana yang menjadi hak Allah yang akan ditunaikan. Tetapi ingat, jika kalian diminta supaya meninggalkan orang itu, tinggalkanlah dia!”

Begitu jelasnya Imam Ali r.a. mengemukakan pesan dan ama­natnya secara terperinci agar jangan sampai terjadi penyalah­gunaan dan perkosaan terhadap kaum muslimin dan rakyatnya.

Sedemikian tingginya rasa keadilan yang menghiasi kehidup­an Imam Ali r.a., sampai pernah terjadi, bahwa pada waktu ia me­nerima setoran pajak dari penduduk Isfahan, ditemukan sepotong roti kering terselip dalam wadah. Roti itu oleh Imam Ali r.a. dipo­tong-potong menjadi tujuh keping, sama seperti uang setoran itu juga yang dibagi menjadi tujuh bagian. Pada tiap bagian dari uang itu ditaruh sekeping roti kering.

[1]Waktu terjadinya peristiwa yang diceritakan itu, Aqil sudah hilang penglihatannya karena usia lanjut.

[2]Kitab Ahlul-Bait hal. 221 – 223.

https://tausyah.wordpress.com

ayat Qur'anZahid

Sebagai seorang Zahid yang berpegang teguh pada perintah Allah s.w.t. dan tauladan serta ajaran ajaran Rasul-Nya, Imam Ali r.a. dengan konsekuen berani menghadapi gangguan besar yang dialami dalam kariernya sebagai pemimpin masyarakat dari kepala pemerintahan. Berkali-kali ia ditinggalkan oleh para pendukung dan pengikutnya, tetapi tidak pernah patah hati.

Seperti dikatakan oleh Ali bin Muhammad bin Abi Saif Al Madainiy bahwa tidak sedikit orang Arab yang meninggalkan Imam Ali karena sikap mereka yang terlalu mengharapkan keun­tungan-keuntungan material. Demikian juga tokoh-tokoh yang berpamrih ingin mendapat kedudukan, jangan harap mereka itu bisa bersahabat baik dan lama dengan Imam Ali. Seorang pe­mimpin besar seperti Imam Ali yang taqwanya kepada Allah sede­mikian tinggi, dan sedemikian patuhnya bertauladan serta melak­sanakan ajaran Rasul Allah s.a.w., tidak mencari teman dengan mengobral harta dan kedudukan. Ia sendiri memandang manusia bukan dari kekayaan dan kedudukan sosialnya, bukan pula dari asal-usul keturunannya, melainkan dari keimanannya kepada Allah s.w.t. dan kesetiaannya kepada ajaran Rasul-Nya.

Imam Ali tidak pernah memberikan perlakuan istimewa ke­pada seorang karena keturunan, kedudukan atau kekayaannya. Ia selalu memberikan perlakuan yang sama kepada semua orang, kaya atau miskin, orang yang berpangkat ataupun rakyat jelata. Itulah antara lain yang menjadi sebab mengapa setelah ia menjadi Kha­lifah, dijauhi oleh kepala-kepala qabilah dan tokoh-tokoh masya­rakat yang berambisi dan hendak mendahulukan kepentingan pri­badi atau golongan.

Tentang mengapa Imam Ali r.a. sampai ditinggal oleh para pengikut dan pendukungnya, Al-Madainiy dalam riwayat yang di­tulisnya, antara lain mengemukakan, bahwa Al-Asytar pernah berkata kepada Innam Ali r.a.: “…Anda bertindak adil, baik ter­hadap mereka yang mempunyai kedudukan terhormat maupun mereka yang tidak mempunyai kedudukan. Di hadapan anda orang-orang yang terhormat itu tidak memperoleh perlakuan istimewa atau lebih dari perlakuan yang anda berikan kepada orang biasa. Akhirnya ada kelompok pengikut yang ribut dan he­boh kalau keadilan dan kebenaran diterapkan atas diri mereka. Mereka sakit hati kalau pemerataan keadilan diterapkan atas diri mereka. Mereka lalu membanding-bandingkan betapa enaknya per­lakuan Muawiyah terhadap orang-orang kaya dan terkemuka… Mereka lebih senang membeli kebatilan dengan kebenaran dan tergiur oleh kesenangan duniawi.”

Setelah mendengar baik-baik ucapan Al Asytar, dengan tenang rmam Ali r.a. berkata: “Apa yang kau katakan mengenai perilaku dan keadilanku, bukankah Allah Azza wa Jalla telah berfirman (yang artinya): “Barang siapa berbuat baik, maka pahala bagi dirinya sendiri, dan barang siapa yang berbuat buruk, maka dosanya pun akan menimpa dirinya sendiri. Dan Tuhanmu tidak berlaku dzalim terhadap para hamba-Nya” (S. Fushshilat: 46).

Kemudian Imam Ali r.a. berkata pula: “Sebenarnya Allah mengetahui, bahwa mereka itu menjauhi kami bukan karena kami berlaku dzalim. Mereka menjauhi kami bukan karena hendak mencari perlindungan keadilan. Yang mereka kejar hanyalah dunia, yang akhirnya akan lenyap juga dari mereka. Pada hari kiyamat mereka itu akan ditanya: ‘apakah mereka hanya menginginkan dunia? Apakah yang telah mereka perbuat untuk Allah?’…”

Tentang pengobralan harta milik ummat untuk mendapatkan pengikut seperti yang dilakukan Muawiyah di Syam, Imam Ali r.a. berkata: “Kami tidak dapat memberikan pembagian harta ghanimah kepada seseorang melampaui ketentuan yang sudah menjadi haknya…”

Tentang banyak atau sedikitnya pengikut, Imam Ali r.a. mengemukakan contoh kehidupan Rasul Allah s.a.w.: “Allah mengutus Muhammad s.a.w. seorang diri. Kemudian Allah membuat pengikut beliau menjadi banyak, padahal mulanya sangat sedikit. Ummatnya yang pada mulanya hina kemudian diangkat menjadi ummat yang mulia. Jadi jika Allah hendak melimpahkan hal seperti itu kepadaku, semua kesulitan pasti akan dipermudah oleh-Nya, sedang segala yang berat akan di­ringankannya.”

Menurut Hasan Al Bashriy: “Imam Ali r.a. adalah orang rahbaniy (orang suci) dari ummat ini.” Orang suci dari ummat ini menghayati kehidupan yang amat sederhana. Ia bersembah sujud kepada Allah seperti para wali atau orang suci lainnya. Ia memikul tanggung jawab atas negara dan ummatnya dengan tekad seperti Nabi.

Di Kufah, Imam Ali r.a. melarang keras orang memaki-maki Muawiyah. Kepada sahabat-sahabatnya ia berkata: “Ucapkanlah: Ya Allah, hindarkanlah kami dari pertumpahan darah dengan mereka, dan perbaikilah hubungan persaudaraan kami dengan mereka!”

Padahal di Syam, Muawiyah mendorong-dorong penduduk supaya mencerca dan mencaci-maki Imam Ali r.a.

Di Kufah Imam Ali r.a. memakai baju seharga tiga dirham, menelan makanan serba kasar dan kering. Kekayaan kaum musli­min dibagi di antara mereka semua berdasarkan keadilan tanpa pilih kasih. Ia hidup taqwa dan zuhud tidak mengenal kesenangan hidup sama sekali!

Padahal di Syam Muawiyah tinggal di istana megah dan menikmati hidup serba mewah. Kekayaan datang dari mana-mana dalam jumlah yang sukar dihitung. Tetapi kekayaan itu dihambur­kan untuk tujuan mencapai kepentingan ambisinya.

Di Kufah kepada para utusan muslimin yang datang, baik yang mencari kebenaran untuk dijadikan pegangan hidup, maupun yang mencari kekayaan atau kesempatan memperoleh kedudukan, oleh Imam Ali r.a. diingatkan kepada ayat Al-Qur’an (S. Yunus: 108), yang artinya: “Barang siapa memperoleh hidayat, maka hi­dayat itu sesungguhnya untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan ba­rang siapa yang sesat, maka kesesatan itu pun akan mencelakakan dirinya sendiri.”

Selain kalimat tersebut tidak ada harapan atau janji-janji muluk, tidak ada suap, dan tidak ada penghamburan uang milik ummat, betapa pun besarnya akibat yang akan dihadapi oleh Imam Ali r.a.

Sedang di Syam, Muawiyah memberi harapan dan janji-janji muluk serta mengobral harta dan hadiah-hadiah.

Di Kufah Imam Ali r.a. diminta oleh kaum muslimin supaya tinggal di sebuah istana besar dan megah. Waktu melihat istana itu Imam Ali ra. membuang muka sambil berkata: “Itu istana celaka! Sampai kapan pun aku tak sudi tinggal di sana!”

Penduduk Kufah tetap menghimbau dan mendesak supaya Imam Ali r.a. bersedia menempati istana itu, sebab dianggap patut dan sesuai, tetapi Imam Ali r.a. tetap menolak keras: “Aku tidak membutuhkan itu! Umar Ibnul Khattab sendiri dulu tidak menyukainya!”

Di Kufah, Imam Ali r.a. sering berjalan kaki ke pasar-pasar, padahal ia seorang Amirul Mukminin. Di sana ia menunjukan orang yang sesat jalan dan membantu orang yang lemah. Ia berjumpa dengan seorang yang sudah sangat lanjut usia. Segera ia membantu membawakan barang jinjingannya.

Melihat perbuatan Imam Ali r.a. seperti itu ada sahabatnya yang tidak rela, lalu mendekati, kemudian berkata kepadanya: “Ya Amirul Mukminin ….!”

Imam Ali r.a. tidak membiarkan sahabat itu berkata sampai selesai. Segera ia menukas dengan mengucapkan firman Allah, yang artinya: “Kampung akhirat itu kami sediakan bagi orang-­orang yang tidak menyombongkan diri di bumi dan tidak ber­buat kerusakan. Kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertaqwa.” (S. Al-Qishash:83).

Ia membeli kebutuhan-kebutuhan keluarganya dan membawanya sendiri. Jika ada salah seorang dari pengantarnya yang hendak membawakan jinjingannya, ia menjawab sambil tersenyum: “Kepala keluarga lebih berhak membawanya sendiri!”

Walaupun ia seorang Khalifah, ia menunggang keledai dengan dua kaki tergelantung seolah-olah tak ada bedanya lagi dengan seorang badui miskin. Para sahabatnya berusaha mengganti hewan kendaraan itu dengan seekor kuda yang pantas bagi seorang Amir­ul Mukminin. Tetapi Imam Ali r.a. malah menjawab: “Biarkan aku meremehkan dunia ini!”

Imam Ali r.a. sanggup menaklukkan rayuan kesenangan duniawi dan menundukkan megahnya kekuasaan. Di dunia ini ia hidup untuk menunggu akhirat, dan bukannya takluk kepada dunia.

Nyata benar bedanya antara Imam Ali r.a. di Kufah dengan Muawiyah di Syam. Imam Ali r.a. hidup zuhud dan suci, sedang Muawiyah hidup serba mewah meniru raja-raja Persia dan Roma­wi. Salah seorang dinasti Bani Umayyah sendiri yang terkenal jujur, Umar bin Abdul Azis, mengakui terus terang: “Ali bin Abi Thalib r.a. adalah orang yang paling zuhud di dunia.”

Imam Ali r.a. seperti diketahui pernah berselisih pendapat dengan Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. tentang kekhalifahan. Tetapi sebagai seorang zahid tidak mau mengingkari keutamaan Abu Bakar r.a. Sewaktu menyatakan belasungkawa atas wafatnya Abu Bakar r.a sambil menyeka air mata, Imam Ali r.a. berkata:

“Hai Abu Bakar, Allah telah melimpahkan rahmat kepada­mu. Demi Allah, engkau adalah orang Islam pertama dari ummat ini. Orang yang paling ikhlas imannya dan orang yang paling lurus keyakinannya. Engkau adalah orang yang membenarkan dan mempercayai Rasul Allah s.a.w. di saat orang-orang lain mendustakannya. Engkaulah yang membantunya di saat orang-orang lain menggenggamkan tangan (kikir). Engkaulah yang tegak berdiri di sampingnya di saat orang-orang lain duduk ber­pangku tangan.”

“Demi Allah, engkaulah yang menjadi pelindung Islam di saat orang-orang kafir hendak menghancurkannya. Hujahmu (dalam membela Islam) tak pernah lemah, pandanganmu senantiasa tajam, dan engkau tidak pernah berjiwa penakut.”

“Demi Allah, engkau adalah seperti yang dikatakan Rasul Al­lah s.a.w.: badanmu lemah, tetapi agamamu kuat dan selalu ber­sikap rendah hati. Semoga Allah melimpahkan ganjaran kepada­mu, dan semoga pula Allah tidak akan membiarkan aku tersesat sepeninggalmu.”

Banyak sekali riwayat yang mengisahkan kezuhudan Imam Ali r.a. Sikapnya yang selalu menolak kekayaan dan harta benda sangat menonjol. Salah seorang tokoh pada zamannya, Asy Syi’biy misalnya, sangat terkesan oleh suatu peristiwa yang disaksikannya sendiri di masa kanak-kanak. Katanya: “Bersama anak-anak lain aku pernah masuk ke sebuah tempat yang sangat luas di Kufah. Di sana aku melihat Imam Ali sedang berdiri di depan dua onggok emas dan perak. Ia memegang sebilah pedang untuk membubarkan orang banyak yang berkerumun di tempat itu. Se­telah itu ia kembali menghampiri onggokan emas dan perak untuk menghitungnya. Kemudian memanggil orang-orang supaya mende­kat dan kulihat semua emas dan perak habis dibagi-bagikan sampai tak ada lagi sisanya.”

“Waktu aku pulang,” kata Asy Syi’biy seterusnya, “bertanya kepada ayah: ‘Yang kusaksikan hari ini orang yang paling baik ataukah orang yang paling bodoh?’ Sambil keheran-heranan ayah balik bertanya: ‘Siapa dia, anakku?’ Kujawab: ‘Amirul Muk­minin Ali bin Abi Thalib.’ Kemudian kuceritakan kepada ayah apa yang kusaksikan tadi. Mendengar ceritaku itu ayah terharu dan sambil melinangkan air mata menjawab: ‘Yang kaulihat tadi itu orang yang paling baik, anakku’…”

Riwayat yang membuktikan tentang tidak senangnya Imam Ali r.a. kepada harta kekayaan diceritakan juga oleh Muhammad bin Fudhail, Harun bin Antarah dan Zadan. Ketika itu Muham­mad bin Fudhail bepergian bersama pelayan Imam Ali r.a. yang bernama Qanbar. Di tengah jalan mereka bertemu dengan Imam Ali r.a. Kepada tuannya Qanbar memberitahu bahwa ia mempu­nyai barang simpanan yang khusus disembunyikan untuknya. Pem­beritahuan Qanbar itu menimbulkan tanda-tanya di hatinya. Ke­mudian ia minta penjelasan. Tanpa memberi jawaban apapun Qanbar terus mengajak Imam Ali r.a. pergi ke tempat tinggalnya. Setibanya di rumah, Qanbar menghampiri sebuah tempat dan mengambil sebuah kantong. Waktu kantong dibuka dan dikeluar­kan ternyata berisi beberapa piala penuh dengan kepingan-ke­pingan emas dan perak.

Dengan wajah berseri-seri Qanbar berkata: “Kulihat tuan tak pernah membiarkan barang apa pun yang tidak tuan bagikan kepa­da orang-orang lain sampai habis. Oleh karena itu semuanya ini kusembunyikan dari Baitul Mal, khusus untuk tuan.”

Dengan mata membelalak, Imam Ali membentak: “Celaka engkau, hai Qanbar! Apakah engkau ingin memasukkan kobaran api ke dalam rumahku?” Tanpa banyak bicara lagi Imam Ali segera menghunus pedang lalu dihantamkan kuat-kuat ke kantong yang berisi piala-piala penuh emas dan perak. Piala-piala itu hancur berkeping-keping dan emas serta perak tertebar berhamburan.

Habis itu Imam Ali r.a. mengumpulkan orang banyak. Ke­pada mereka ia berkata: “Bagilah semuanya itu dengan adil!”

Belum puas dengan sikap yang memukaukan orang banyak itu, Imam Ali r.a. cepat-cepat menuju Baitul Mal. Semua yang tersimpan dalam balai harta kaum muslimin itu dibagi-bagikan be­gitu saja kepada orang-orang. Setelah terbagi rata, ia masih melihat ada beberapa kerat jarum dan benda-benda kecil lain yang kurang berharga. Kepada orang-orang yang masih tinggal ia menganjur­kan supaya benda-benda kecil itu.dibagi juga. Apa jawab mereka: “… Kami tidak membutuhkan itu…!”

Imam Ali r.a. tersenyum meninggalkan Baitul Mal seraya bergumam: “Yang jelek sebenarnya harus diambil juga bersama-­sama yang baik!” Ia pergi tanpa sekeping pun melekat di tangan­nya.

[1]Abbas Al Aqad: “Abqariyyatu Ali bin Abi Thalib”.

https://tausyah.wordpress.com

Masjid-e-NabviImam Ali r.a. Berada Dalam Tekanan

Melihat pasukan Syam mengacung-acungkan lembaran Al Qur’an, fikiran pasukan Imam Ali r.a. terpecah dalam berbagai pendapat. Yang tinggi kewaspadaan politiknya memperkirakan bahwa itu hanya tipu-muslihat belaka. Guna mengelabui pasukan Imam Ali r.a. sehingga situasi buruk yang mereka alami dapat diubah menjadi baik. Sedang yang dangkal pengertian politiknya menganggap, bahwa perbuatan pasukan Syam itu bukan tipu muslihat, melainkan benar-benar bermaksud jujur, mengajak kembali kepada ajaran dan perintah agama. Karena itu harus disambut dengan jujur. Ini jauh lebih baik daripada perang ber­kobar terus sesama kaum muslimin.

Selain itu ada pula kelompok yang hendak menunggangi si­tuasi itu agar peperangan cepat dihentikan. Mereka sudah jemu dengan peperangan dan sangat merindukan perdamaian.

Tidak selang berapa lama datanglah berduyun-duyun sejum­lah orang kepada Imam Ali r.a. Mereka menuntut supaya pepera­ngan segera dihentikan. Tuntutan mereka itu ditolak oleh Imam Ali r.a., karena ia yakin, bahwa apa yang diperbuat oleh orang-orang Syam itu hanya tipu-muslihat. Karena itu kepada mereka yang menuntut dihentikannya peperangan, Imam Ali r.a. menegaskan:

“Itu hanya tipu-daya dan pengelabuan! Aku ini lebih me­ngenal mereka daripada kalian! Mereka itu bukan pembela-pembe­la Al-Qur’an dan agama Islam. Aku sudah lama mengenal mereka dan me­ngetahui soal-soal mereka, mulai dari yang kecil-kecil sampai yang besar-besar. Aku tahu mereka itu meremehkan agama dan sedang meluncur ke arah kepentingan duniawi. Oleh sebab itu janganlah kalian terpengaruh oleh perbuatan mereka yang mengi­barkan lembaran-lembaran Al-Qur’an. Bulatkanlah tekad kalian untuk berperang terus sampai tuntas. Kalian sudah berhasil mema­tahkan kekuatan mereka. Mereka sekarang sudah loyo dan tidak lama lagi akan hancur!”

Mereka tetap tidak mau mengerti, bahwa itu hanya tipu-mus­lihat. Mereka mendesak terus agar perang dihentikan dan meng­ancam tidak mau mendukung Imam Ali r.a. lagi bila perang di­teruskan. Mereka bukan hanya sekedar menggertak dan meng­intimidasi, bahkan mereka sampai berani “memerintahkan” Imam Ali r.a. supaya mengeluarkan instruksi penghentian perang dan menarik semua sahabatnya yang masih berkecimpung di medan tempur.

Benar-benar terlalu! Imam Ali r.a. sampai “diperintah” su­paya cepat-cepat menarik .Al-Asytar yang sedang memimpin per­tempuran! Lebih dari itu. Mereka juga mengancam akan menang­kap dan menyerahkan Imam Ali r.a. kepada Muawiyah, jika ia tidak mau memenuhi tuntutan mereka! Tidak sedikit jumlah pa­sukan Imam Ali r.a. yang berbuat sejauh itu. Mereka bersumpah tidak akan meninggalkan Imam Ali r.a. dan akan terus mengepung­nya, sebelum Imam Ali r.a. melaksanakan “perintah” mereka.

Kedudukan Imam Ali r.a. benar-benar sulit, bahkan rawan dan gawat. Melanjutkan peperangan berarti membuka lubang per­pecahan. Menghentikan peperangan juga berarti membangkitkan perlawanan kelompok yang lain, yang tidak percaya kepada tipu ­muslihat musuh. Ini juga berarti perpecahan. Imam Ali r.a. benar-­benar “tergiring” ke posisi sulit akibat muslihat politik “tahkim” yang dilancarkan Muawiyah dan Amr.

Setelah kaum pembelot tak dapat diyakinkan lagi, Imam Ali r.a. terpaksa memanggil Al Asytar dan memerintahkan su­paya menghentikan peperangan. Pada mulanya Al Asytar menolak, karena ia tidak mengerti sebabnya Imam Ali r.a. sampai bertindak sejauh itu. Kepada suruhan Imam Ali r.a., Al Asytar berkata: “Bagaimana aku harus kembali dan bagaimana peperangan harus kuhentikan, sedangkan tanda-tanda kemenangan sudah tampak jelas! Katakan saja kepada Imam Ali, supaya ia memberi waktu kepadaku barang satu atau dua jam saja!”

Al Asytar membantah, sebab suruhan Imam Ali r.a. tidak menerangkan sama sekali sebab-sebabnya Imam Ali r.a. mengelu­arkan perintah seperti itu dan tidak dijelaskan juga bagaimana keadaan yang sedang dihadapi Imam Ali r.a. di markas-besarnya.

Waktu suruhan Imam Ali r.a. kembali dan melaporkan ja­waban Al Asytar, orang-orang yang sedang mengepungnya marah, gaduh, ribut dan berniat buruk terhadap Imam Ali r.a. Mereka ber­prasangka jelek. Kemudian mereka bertanya kepada Imam Ali r.a.: “Apakah engkau memberi perintah rahasia kepada Al Asytar supaya tetap meneruskan peperangan dan melarang dia berhenti? Jika engkau tidak segera dapat mengembalikan Al Asytar, engkau akan kami bunuh seperti dulu kami membunuh Utsman!”

Suruhan itu diperintahkan kembali untuk menemui Al Asytar. Agar ia cepat kembali, suruhan itu melebih-lebihkan keterangan kepada Al Asytar: “Apakah engkau mau menang dalam keduduk­anmu ini, sedang Ali sekarang lagi dikepung 50.000 pedang?”

“Apa sebab sampai terjadi seperti itu?” tanya Al Asytar yang ingin mendapat keterangan lebih jauh.

“Karena mereka melihat lembaran-lembaran Al Qur’an di­kibarkan oleh pasukan Syam,” jawab suruhan.

Sambil bersiap-siap untuk kembali menghadap Imam Ali r.a., Al Asytar berkata: “Demi Allah, aku sudah menduga akan terjadi perpecahan dan malapetaka pada waktu aku melihat lembaran-­lembaran Al Qur’an dikibarkan orang!”

Al Asytar segera pulang. Setiba di markas-besar ia melihat Imam Ali r.a. dalam keadaan bahaya. Anggota-anggota pasukan yang mengepung sedang mempertimbangkan apakah Imam Ali r.a. dibunuh saja atau diserahkan kepada Muawiyah. Saat itu ti­dak ada orang lain yang memberi perlindungan kepada Imam Ali r.a. kecuali dua orang puteranya sendiri Al Hasan r.a. dan Al Husein r.a. serta Abdullah Ibnu Abbas dan beberapa orang lain, yang jumlah kesemuanya tak lebih dari 10 orang.

Ketika melihat situasi yang sangat kritis itu, Al Asytar segera menerobos kepungan sambil memaki-maki mereka yang se­dang mengancam-ancam: “Celaka kalian! Apakah setelah mencapai kemenangan dan keberhasilan lantas kalian mau menghentikan du­kungan dan menciptakan perpecahan. Sungguh impian yang sangat kerdil. Kalian itu memang perempuan! Sungguh busuk kalian itu!”

Datanglah Al Asy’ats bin Qeis kepada Imam Ali r.a. lantas berkata : “Ya Amirul Mukminin, aku melihat orang-orang sudah menerima dan menyambut baik ajakan mereka (pasukan Syam) untuk mengadakan penyelesaian damai berdasarkan hukum Al Qur’an. Kalau engkau setuju, aku akan datang kepada Muawiyah untuk menanyakan apa sesungguhnya yang dimaksud dan apa yang diminta olehnya.”

“Pergilah, kalau engkau mau…!” jawab Imam Ali r.a.

Dalam pertemuannya dengan Muawiyah, Al Asy’ats berta­nya: “Untuk apa engkau mengangkat lembaran-lembaran Al Qur’ an pada ujung-ujung senjata pasukanmu?”

Muawiyah menerangkan: “Supaya kami dan kalian semua­nya kembali kepada apa yang diperintahkan Allah dalam Al-Qur’ an. Oleh karena itu utuslah seorang yang kalian percayai, dan dari fihak kami pun akan mengutus seorang juga. Kepada kedua orang itu kita tugaskan supaya bekerja atas dasar Kitab Allah dan jangan sampai melanggarnya. Kemudian, apa yang disepakati oleh dua orang itu kita taati bersama…”

Al Asy’ats menanggapi keterangan Muawiyah itu dengan ucapan: “Itu adalah kebenaran!”

Setelah itu Al Asy’ats dan beberapa orang ulama Al-Qur’an berkata kepada Imam Ali r.a.: “Kita telah menerima baik tahkim berdasar Kitab Allah…, dan kami sepakat untuk memilih Abu Musa Al Asy’ariy sebagai utusan!”

Imam Ali r.a. menolak: “Aku tidak setuju Abu Musa dite­tapkan sebagai utusan. Aku tidak mau mengangkat dia!”

Al Asy’ats menyanggah: “Kami tidak bisa menerima orang selain dia. Dialah yang telah mengingatkan kita mengenai kejadian yang sedang kita hadapi sekarang ini, yakni peperangan…”

Imam Ali r.a. masih tetap menolak: “Ya, tetapi aku tidak da­pat menyetujui dia. Ia dulu meninggalkan aku dan berusaha men­cegah orang supaya tidak membantuku. Kemudian ia lari, tetapi sebulan setelah itu ia kembali dan kujamin keselamatannya. Ini­lah Ibnu Abbas, orang yang akan kuangkat sebagai utusan!”

Al Asy’ats menolak sambil berdalih: “Demi Allah, kami tidak peduli. Kami menginginkan seorang yang netral, tidak condong kepadamu dan tidak condong kepada Muawiyah!”

Imam Ali r.a. mengajukan usul lain: “Kalau begitu, aku akan mengangkat Al Asytar!”

Dengan sinis Al Asy’ats bertanya: “Apakah bumi ini akan terbakar jika bukan Al Asytar yang kau angkat? Apakah kami hendak kau tempatkan di bawah kekuasaan Al Asytar?”

Imam Ali r.a. ingin mendapat penjelasan, lalu bertanya: “Kekuasaan yang bagaimana?”

Al Asy’ats menyahut: “Kekuasaan dia ialah hendak men­dorong kaum muslimin terus menerus mengadu pedang sampai ter­laksana apa yang diinginkan olehmu dan olehnya!”

Imam Ali r.a. masih berusaha menyakinkan: “Muawiyah ti­dak menyerahkan tugas itu kepada siapa pun selain orang yang di­percaya benar-benar olehnya, yaitu Amr bin Al Ash. Bagi orang Qureisy itu (Muawiyah) memang tidak ada yang paling baik bagi­nya kecuali orang seperti Amr…! Kalian akan diwakili oleh Ab­dullah bin Abbas. Biarlah dia yang menghadapi Amr. Abdullah mampu mengatasi kesulitan yang akan dihadapkan oleh Amr kepa­danya, sedangkan Amr tidak akan sanggup mengatasi kesulitan yang akan dihadapkan oleh Abdullah kepadanya. Abdullah mampu menangkis hujjah-hujjah yang diajukan oleh Amr, sedang­kan Amr tidak akan mampu menangkis hujjah-hujjah yang diaju­kan oleh Abdullah!”

Al Asy’ats tetap berkeras kepala. Ia berganti dalih: “Demi Allah, tidak…! Sampai kiyamat pun masalah tahkim itu tidak boleh dirundingkan oleh dua orang sama-sama berasal dari Bani Mudhar. Angkatlah orang yang dari Yaman (Abu Musa), sebab mereka sudah mengangkat orang dari Mesir (Amr)…!”

Imam Ali mengingatkan: “Aku khawatir kalu-kalau kalian akan terkelabui. Sebab kalau Amr sudah menuruti hawa nafsu­nya dalam urusan tahkim itu, ia sama sekali tidak takut kepada Allah!”

Dengan bersitegang leher Al Asy’ats berkata: “Demi Allah, kalau salah seorang dari dua perunding itu berasal dari Yaman, lalu mengambil beberapa keputusan yang tidak menyenangkan kita, itu lebih baik bagi kita daripada kalau dua orang perunding itu sama-sama berasal dari Bani Mudhar, walau mereka ini mengambil beberapa keputusan yang menyenangkan kita!”

Imam Ali r.a. minta ketegasan terakhir: “Jadi…, kalian tidak menghendaki selain Abu Musa?”

“Ya!” jawab Al Asy’ats.

“Kalau begitu, kerjakanlah apa yang kalian inginkan!” kata Imam Ali r.a. dengan hati masgul.

Beberapa orang pengikut Imam Ali r.a. kemudian berangkat untuk menemui Muawiyah guna mengadakan persetujuan tertulis mengenai prinsip disetujuinya tahkim oleh kedua belah fihak. Wakil fihak Kufah (Imam Ali r.a.) menuliskan dalam teks perja­njian sebuah kalimat: “Inilah yang telah disetujui oleh Amirul Mukminin…”

Baru sampai di situ Muawiyah cepat-cepat memotong: “Be­tapa jeleknya aku ini, kalau aku mengakui dia sebagai Amirul Mukminin tetapi aku memerangi dia!”

Amr bin Al Ash menyambung: “Tuliskan saja namanya dan nama ayahnya. Dia itu Amir (penguasa) kalian dan bukan Amir kami!”

Wakil-wakil fihak Kufah kembali menghadap Imam Ali r.a. untuk minta pendapat mengenai penghapusan sebutan “Amirul Mukminin”. Ternyata Imam Ali r.a. memerintahkan supaya sebut­an itu dihapus saja dari teks perjanjian. Tetapi Al Ahnaf cepat-ce­pat mengingatkan: “Sebutan Amirul Mukminin jangan sampai dihapus. Kalau sampai dihapus, aku khawatir pemerintahan (ima­rah) tak akan kembali lagi kepadamu untuk selama-lamanya. Ja­ngan…, jangan dihapus, walau peperangan akan berkecamuk te­rus!”

Setelah mendengar naselat Al Ahnaf itu untuk beberapa saat lamanya Imam Ali r.a. berfikir hendak mempertahankan sebutan “Amirul Mukminin” dalam teks perjanjian, tetapi keburu Al Asy’ats datang lagi dan mendesak supaya sebutan itu dihapuskan saja.

Dengan perasaan amat kecewa Imam Ali r.a. berucap: “Laa llaaha Illahllaah . . . Allaahu Akbar! Sunnah yang dulu sekarang disusul lagi dengan sunnah baru. Demi Allah, bukankah persoalan seperti itu dahulu pernah juga kualami? Yaitu waktu diadakan per­janjian Hudaibiyyah?!

“Waktu itu atas perintah Rasul Allah s.a.w. aku menulis da­lam teks perjanjian “Inilah perjanjian yang dibuat oleh Muhammad Rasul Allah dan Suhail bin Amr.” Ketika itu Suhail berkata: “Aku tidak mau menerima teks yang berisi tulisan ‘Rasul Allah’. Sebab kalau aku percaya bahwa engkau itu Rasul Allah, tentu aku tidak akan memerangimu! Adalah perbuatan dzalim kalau aku melarang­mu bertawaf di Baitullah, padahal engkau itu adalah Rasul Allah! Tidak, tuliskan saja ‘Muhammad bin Abdullah’, baru aku mau menerimanya…!”

“Waktu itu Rasul Allah memberi perintah kepadaku: ‘Hai Ali, aku ini adalah Rasul Allah dan aku pun Muhammad bin Ab­dullah. Teks perjanjian dengan mereka yang hanya menyebutkan Muhammad bin Abdullah tidak akan menghapuskan kerasulan­ku. Oleh karena itu tulis saja Muhammad bin Abdullah !’ Waktu itu beberapa saat lamanya aku dibuat bingung oleh kaum musyri­kin. Tetapi sekarang, di saat aku sendiri membuat perjanjian de­ngan anak-anak mereka, pun mengalami hal-hal yang sama seperti yang dahulu dialami oleh Rasul Allah s.a.w.…”

Teks perjanjian itu akhirnya ditulis juga tanpa menyebut kedudukan Imam Ali r.a. sebagai Amirul Mukminin. Al Asytar kemudian dipanggil untuk menjadi saksi. Sebagai reaksi Al Asytar berkata pada Imam Ali: “Anda akan kehilangan segala-galanya bila perjanjian ditulis seperti itu. Bukankah anda ini berdiri di atas ke­benaran Allah? Bukankah anda ini benar-benar yakin bahwa mu­suhmu itu orang yang memang sesat? Kemudian ia berkata kepa­da mereka: “Apakah kalian tidak melihat kemenangan sudah di­ambang pintu seandainya kalian tidak berteriak minta belas ka­sihan kepada musuh?!”

Al Asy’ats menyahut: “Demi Allah, aku tidak melihat ke­menangan dan tidak pula meminta belas kasihan kepada musuh. Ayohlah berjanji, bahwa engkau akan taat! Akuilah apa yang ter­tulis dalam teks perjanjian ini!”

Al Asytar menjawab: “Demi Allah, dengan pedangku ini Allah telah menumpahkan darah orang-orang yang menurut peni­laianku lebih baik daripada engkau, dan aku tidak menyesali darah mereka! Aku hanya mau mengikuti apa yang dilakukan oleh Ami­rul Mukminin. Apa yang diperintahkan, akan kulaksanakan, dan apa yang dilarang akan kuhindari, sebab perintahnya selalu benar dan tepat!

Pada saat itu datanglah Sulaiman bin Shirid menghadap Amirul Mukminin, sambil membawa seorang yang luka parah aki­bat pukulan pedang. Waktu Imam Ali r.a. menoleh kepada orang yang luka parah itu, Sulaiman berkata mengancam: “Ada orang yang sudah menjalani nasibnya dan ada pula yang sedang menung­gu nasib! Dan… engkau termasuk orang-orang yang sedang me­nunggu nasib seperti orang ini!”

Ada lagi yang datang menghadap, lalu berkata: “Ya Amirul Mukminin, seandainya engkau masih mempunyai orang-orang yang mendukungmu, tentu engkau tidak akan menulis teks perja­njian seperti itu. Demi Allah, aku sudah berkeliling ke sana dan ke mari untuk mengerahkan orang-orang supaya mau melanjutkan peperangan. Tetapi ternyata hanya tinggal beberapa gelintir saja yang masih sanggup melanjutkan peperangan!”

Ada orang lain lagi datang menghadap, lalu berkata: “Ya A­mirul Mukminin, apakah tidak ada jalan untuk membatalkan per­janjian itu? Demi Allah, aku sangat khawatir kalau-kalau perjanjian itu akan membuat kita hina dan nista!”

Imam Ali r.a. menjawab: “Apakah kita akan membatalkan perjanjian yang sudah ditulis itu? Itu tidak boleh terjadi!”

Imam Ali r.a. terpaksa menyetujui adanya perjanjian de­ngan Muawiyah mengenai prinsip penyelesaian damai berdasar­kan hukum Al Qur’an. Banyak di antara pengikutnya yang me­rasa kecewa dan menyesal, tetapi sikap tersebut sudah terlambat.

Karena sangat kecewa dan menyesal, mereka lalu berteriak kepada semua orang di mana saja: “Tiada hukum selain hukum Allah! Hukum di tangan Allah dan bukan di tanganmu, hai Ali! Kami tidak rela ada orang-orang yang akan menetapkan hukum terhadap agama Allah! Hukum Allah bagi Muawiyah dan pengikut-pengikutnya sudah jelas, yaitu mereka harus kita perangi atau harus kita tundukkan kepada pemerintahan kita! Kita telah terperosok dan tergelincir pada saat kita menyetujui tahkim! Sekarang kita telah bertaubat dan tidak mau lagi mengakui perja­njian itu! Dan engkau, hai Ali, tinggalkanlah perjanjian itu dan ber­taubatlah kepada Allah seperti yang sudah kita lakukan. Kalau tidak, kita tidak turut bertanggung jawab!”

Imam Ali r.a. bukanlah orang yang biasa menciderai perjanji­an, walau perjanjian itu akan mengakibatkan dirinya harus menanggung resiko kedzaliman orang lain. Kepada orang-orang yang menuntut supaya ia menciderai perjanjian dan segera bertau­bat, ia menjawab:

“Celakalah kalian! Apakah setelah kita sendiri mau menyetu­jui perjanjian itu lantas sekarang harus berbuat cidera? Bukankah Allah telah memerintahkan supaya kita menjaga baik-baik dan me­menuhi perjanjian? Bukankah Allah telah berfirman (yang arti­nya):

“Tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpahmu sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu per­buat” (S. An Nahl: 91).

Beberapa hari setelah peperangan berhenti, dalam salah satu khutbahnya Imam Ali r.a. berkata: “Perintahku masih kalian ikuti terus seperti yang kuinginkan sampai saat kalian dilanda perpecah­an fikiran. Demi Allah, kalian tahu bahwa peperangan itu sama sekali tidak menghilangkan kekhalifahanku. Itu masih tetap ada. Bahkan peperangan itu sebenarnya lebih memporak-porandakan musuh kalian. Di tengah-tengah kalian, kemarin aku masih meme­rintah, tetapi hari ini aku sudah menjadi orang yang diperintah. Kemarin aku masih menjadi orang yang bisa melarang, tetapi hari ini aku menjadi orang yang dilarang. Kalian ternyata sudah menja­di orang-orang yang lebih menyukai hidup, dan aku tidak dapat lagi mengajak kalian kepada apa yang tidak kalian sukai…”

Penyimpangan Abu Musa

Beberapa bulan kemudian, bertemulah dua orang perunding di sebuah tempat yang letaknya tidak jauh dari Shiffin. Amr bin Al Ash mewakili Muawiyah, dan Abu Musa Al Asy’ariy mewakili Imam Ali r.a. Dalam perundingan itu Amr dengan gigih bertahan membela Muawiyah, sedangkan Abu Musa berpendirian “asal da­mai” dan “asal selamat”. Dengan berbagai siasat dan muslihat, akhirnya Amr berhasil menyeret Abu Musa kepada suatu konsep­si yang meniadakan kekhalifahan Imam Ali r.a.

Berdasarkan prinsip “asal damai” dan “asal selamat”, Abu Musa mengusulkan supaya fihak Amr bersedia menerima Abdullah bin Umar Ibnul Khattab sebagai calon Khalifah yang akan meng­gantikan Imam Ali. Usul Abu Musa itu dijawab oleh Amr: “menga­pa anda tidak mengusulkan anak lelakiku yang bernama Abdul­lah? Anda kan tahu sendiri anakku itu seorang yang shaleh!”

Pembicaraan berlangsung terus. Setelah lama berunding akhir­nya dua orang itu sepakat untuk memberhentikan Imam Ali r.a. sebagai Khalifah dan memberhentikan Muawiyah sebagai pemim­pin di Syam dan menyerahkan kepada ummat Islam untuk me­milih Khalifah lain yang disukainya.

Begitu licinnya Amr mengelabui Abu Musa, sampai Abu Musa sendiri merasa adil dalam melaksanakan tugas sebagai wakil Imam Ali r.a. Selain itu Abu Musa sedikit pun tidak mempunyai ke­curigaan bahwa Amr akan menyimpang dari kesepakatan.

Selesai berunding, Amr dan Abu Musa sepakat akan meng­umumkan hasil perundingan itu di depan khalayak ramai. Untuk merealisasinya, oleh Amr diminta kepada Abu Musa supaya lebih dulu mengumumkan pemberhentian Imam Ali, kemudian barulah Amr akan mengumumkan pemberhentian Muawiyah. Seperti orang terkena sihir Abu Musa mengiakan saja apa yang diminta oleh Amr, kendatipun ia telah diperingatkan oleh Ibnu Abbas agar jangan bicara lebih dulu.

Di depan orang banyak Abu Musa mengumumkan, bahwa dua orang perunding telah bersepakat untuk memberhentikan imam Ali dan Muawiyah, demi kerukunan dan perdamaian di an­tara kaum muslimin. Setelah memberi penjelasan sedikit, dengan lantang Abu Musa berkata: “Sekarang aku menyatakan pember­hentian Ali sebagai Khalifah!”

Selesai Abu Musa, tampillah Amr bin Al Ash. Ia tidak berbi­cara seperti Abu Musa. Ia tidak mengumumkan bahwa dua orang perunding telah sepakat memberhentikan Imam Ali dan Muawi­yah. Amr hanya mengatakan: “Abu Musa tadi telah menyatakan dengan resmi pemberhentian Ali bin Abi Thalib dari kedudukan­nya sebagai Khalifah. Mulai saat ini ia tidak lagi menjadi Khali­fah! Sekarang aku mengumumkan bahwa aku mengukuhkan ke­dudukan Muawiyah sebagai Khalifah, pemimpin kaum muslimin!”

Mendengar kata-kata Amr, Abu Musa sangat marah. Ia tak mungkin lagi menjilat ludah yang suda jatuh. Abu Musa pergi meninggalkan tempat perundingan. Sejak itu namanya tidak per­nah disebut-sebut lagi dalam sejarah.

Beberapa waktu sebelum Abu Musa menghilang, ia masih menerima sepucuk surat dari Abdullah bin Umar Ibnul Khattab, sebagai reaksi terhadap usul pencalonannya, yang diucapkan Abu Musa dalam perundingan. Surat Abdullah tersebut sebagai berikut:

“Hai Abu Musa, engkau membawa-bawa diriku ke dalam per­soalan yang engkau sendiri tidak mengetahui bagaimana fikiran­ku mengenai hal itu. Apakah engkau mengira bahwa aku akan ber­sedia mencampuri urusan yang engkau mengira aku ini lebih ter­kemuka dibanding Ali bin Abi Thalib? Bukankah sudah sangat jelas bahwa ia jauh lebih baik daripada diriku? Engkau sungguh sia-sia, dengan begitu engkau sendirilah yang menderita rugi. Aku sama sekali bukan orang yang mengambil sikap permusuhan. Eng­kau benar-benar telah membuat marah Ali bin Abi Thalib dan Mu­awiyah karena ucapanmu mengenai diriku.

“Lebih-lebih Ali bin Abi Thalib, karena melihat engkau telah tertipu oleh Amr. Padahal engkau itu seorang pengajar Al Qur’an, seorang yang pernah menjadi utusan penduduk Yaman untuk menghadap Rasul Allah s.a.w., seorang yang pernah diberi keperca­yaan membagi-bagikan ghanimah pada masa Khalifah Abu Bakar dan Umar. Ternyata sekarang telah tertipu oleh ucapan-ucapan Amr bin Al Ash, sampai engkau lancang dan memecat Ali sebelum memecat Muawiyah!”

Menanggapi surat Abdullah bin Umar Ibnul Khattab terse­but, Abu Musa menulis: “Aku bukannya hendak mendekatimu dengan jalan mendudukkan dirimu atau membai’atmu sebagai Kha­lifah. Yang kuinginkan hanyalah keridhoan Allah s.w.t. Kesedia­anku memikul tugas ummat ini bukan suatu hal yang buruk atau tercela. Sebab ummat ini seolah-olah sedang berada di ujung pedang. Selama hidup sampai mati aku akan tetap mengatakan, bahwa yang kuinginkan ialah agar ummat ini selalu damai. Sebab jika tidak, ummat ini tidak akan dapat kembali kepada kebesaran semula.”

Seterusnya Abu Musa mengatakan: “Adapun mengenai ucap­anku tentang dirimu yang dapat membuat marah Ali dan Mua­wiyah, sebenarnya dua orang itu sudah lebih dulu marah kepadaku. Tentang tipu muslihat Amr terhadap diriku, demi Al­lah, tipu muslihatnya itu tidak merugikan Ali bin Abi Thalib dan juga tidak menguntungkan Muawiyah. Sebab syarat yang sudah kami tetapkan bersama ialah, bahwa kami hanya terikat oleh apa yang sudah disepakati bersama, dan bukan terikat oleh apa yang kami perselisihkan. Adapun mengenai apa yang engkau dilarang melakukannya oleh ayahmu, demi Allah, seandainya persoalan ini dapat diselesaikan, engkau akan terpaksa menerimanya!”

Dari surat jawaban Abu Musa kepada Abdullah itu jelaslah, bahwa Abu Musa benar-benar fikirannya dicekam rasa rindu per­damaian. Dan demi perdamaian ia tidak segan-segan menyimpang jauh dari tugas yang dipikulnya dan rela menjebloskan pemimpin­nya sendiri.

[1]Menurut Abu Umar bin Abdul Birr, dalam bukunya Al Isti’ab ha­laman 434, nama asli Nabighah ialah Salma. Nabighah adalah nama julukan dan ditambah dengan “binti Harmalah”. Ia berasal dari Bani Jilan bin Anazah bin Asad bin Rabi’ah bin Nazar. Sedangkan Al Mu­barrad dalam bukunya Al Kamil, mengatakan bahwa ibu Amr nama aslinya Laila.

https://tausyah.wordpress.com

tausiyah in tilawatun islamiyah - alsunnaDelapan Hari Tanpa Khalifah

Dengan terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan r.a. tidak­lah terselesaikan persoalan-persoalan gawat yang dihadapi oleh kaum muslimin. Malahan muncul krisis politik yang sifatnya lebih gawat, yang menuntut penanggulangan secara tepat dan bijaksana. Beberapa waktu lamanya kehidupan kaum muslimin tanpa pim­pinan tertinggi dan situasi pemerintahan menjadi kosong.

Duniawi kontra Zuhud

Dalam situasi mengandung berbagai kemungkinan buruk itu, tokoh-tokoh Bani Umayyah yang selama ini memperoleh keper­cayaan penuh dari Khalifah Utsman r.a., justru tidak mengambil tindakan apa pun juga. Marwan bin Al-Hakam dan kawan-kawan­nya lari meninggalkan Madinah. Amr bin Al-Ash, pada saat-saat Khalifah Utsman r.a. dikepung kaum muslimin yang memberon­tak, cepat-cepat pergi ke Palestina. Sedangkan Muawiyah bin Abi Sufyan sendiri, tidak juga mengambil inisiatif apa pun. Begitu pula Abdullah bin Abi Sarah yang sedang menjadi penguasa dae­rah Mesir. Semuanya diam, seolah-olah tak pernah terjadi suatu peristiwa politik yang besar dan gawat.

Orang bertanya-tanya: Mengapa para penguasa Bani Umay­yah yang berkuasa di Mesir dan di Syam tidak segera memberi pertolongan kepada Khalifah Utsman r.a.? Kemudian setelah Khalifah Utsman r.a. terbunuh, mengapa mereka tak segera me­ngirimkan pasukan untuk bertindak tegas terhadap kaum pem­berontak dan menangkap oknum-oknum yang merencanakan dan melaksanakan pembunuhan atas diri Khalifah itu? Kenapa me­reka berpangku tangan, padahal mereka mempunyai kekuatan cukup untuk melakukan tindakan hukum, sebelum Khalifah yang baru di angkat?

Pertanyaan-pertanyaan serupa itu adalah wajar. Sebab, para penguasa Bani Umayyah dan tokoh-tokohnya bukan orang-orang yang baru dilahirkan kemarin. Mereka cukup makan garam politik, terutama pada waktu mereka dulu mengorganisasi dan memimpin orang-orang kafir Qureiys melancarkan perlawanan bersenjata terhadap Rasul Allah s.a.w. dan kaum muslimin. Nampaknya mereka bukan tidak bertindak, tetapi ada perhitungan lain.

Pada masa itu tokoh Bani Umayyah yang paling terkemuka ialah Muawiyah bin Abi Sufyan. Akan tetapi sejarah keislamannya tidak memungkinkan dirinya dapat dipilih sebagai Khalifah pengganti Khalifah Utsman bin Affan r.a. Ia memeluk Islam setelah tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan diri dengan ja­tuhnya kota Makkah ke tangan kaum muslimin. Ia masuk Islam kurang lebih dua tahun sebelum wafatnya Rasul Allah s.a.w. Sebelum itu ia sangat gencar memerangi kaum muslimin dalam usaha memukul Islam.

Dengan kata lain, selama masih ada sahabat-sahabat Rasul Allah s.a.w. yang sejak dulu sampai sekarang masih gigih membela kebenaran agama Allah, seperti Imam Ali r.a. dan lain-lain, ha­rapan bagi Muawiyah untuk dapat dibai’at sebagai Khalifah penerus Utsman r.a. tidak mungkin dapat terlaksana.

Usaha merebut atau mewarisi kekhalifahan Utsman r.a. lebih dipersulit lagi oleh dua kenyataan:

1. Khalifah Utsman r.a. wafat akibat terjadinya konflik politik yang gawat dengan rakyatnya sendiri.

2. Ia wafat meninggalkan warisan situasi pemerintahan yang sudah tidak disukai oleh kaum muslimin.

Konflik politik dan warisan situasi yang tidak menguntung ­kan orang-orang, Bani Umayyah itu perlu “dibenahi” lebih dulu untuk dapat meraih kedudukan sebagai pengganti Khalifah Uts­man r.a.

Muawiyah harus dapat menciptakan situasi baru, di mana konflik politik yang sedang panas itu bisa dialihkan kepada sasaran baru. Untuk ini harus pula dicari “kambing hitam” yang “tepat”. Dalam hal ini ialah orang yang mempunyai kemungkinan paling besar akan dibai’at oleh kaum muslimin sebagai Khalifah. Imam Ali r.a. merupakan seorang tokoh yang paling banyak mempunyai syarat untuk dibai’at. Ia bukan hanya anggota Ahlu-Bait Rasul Allah s.a.w., melainkan juga ia seorang genial, ilmuwan dan pah­lawan perang.

Sudah sejak dulu, tokoh-tokoh Bani Umayyah selain Utsman r.a. memandang Imam Ali r.a. dengan perasaan benci dan murka. Mereka tidak bisa melupakan betapa banyaknya korban kafir Qureiys, termasuk sanak famili mereka, yang mati di ujung pedang Imam Ali r.a. dalam pertempuran-pertempuran antara kaum musyrikin dan kaum muslimin di masa lalu.

Mereka juga tahu, bahwa di masa Khalifah Utsman r.a. masih hidup, Imam Ali r.a. satu-satunya orang yang selalu mengingatkan Khalifah tentang besarnva bahaya yang akan timbul akibat per­mainan para pembantunya yang terdiri dari orang-orang Bani Umayyah. Imam Ali r.a. jugalah yang selalu menasehati Khali­fah Utsman r.a. supaya mencegah berlarut-larutnya pacuan mem­perebutkan harta kekayaan secara tidak sah, yang sedang ter­jadi di kalangan sementara lapisan ummat lslam. Bahkan Imam Ali r.a. jugalah yang bila perlu melancarkan kritik-kritik secara ter­buka dan jujur terhadap kebijaksanaan Khalifah Utsman r.a.

Tokoh-tokoh Bani Umayyah tahu benar, bahwa Imam Ali r.a. adalah juru bicara yang paling mustahak mewakili jeritan sebagian besar kaum muslimin, yang ingin dipulihkan kembali suasana ke­hidupan seperti yang pernah terjadi pada zaman hidupnya Rasul Allah s.a.w.

Golongan Bani Umayyah memandang Imam Ali r.a. sebagai penghambat dan selalu menjadi perintang bagi mereka dalam usaha meraih kedudukan dan keuntungan-keuntungan materil. Seandainya Khalifah Utsman r.a. sebelum wafatnya berwasyiat supaya Imam Ali r.a. dibai’at sebagai Khalifah penggantinya, go­longan Bani Umayyah sudah pasti tidak akan melaksanakannya.

Pertentangan antara Muawiyah dan pendukung-pendukung­nya dengan Imam Ali r.a. dan pendukung-pendukungnya, pada hakekatnya bukanlah pertentangan antar-golongan, melainkan pertentangan antara kehidupan yang terangsang oleh kenikmatan-­kenikmatan duniawi dengan kehidupan zuhud. Hal ini akan ter­bukti kebenarannya pada babak-babak terakhir dari proses per­tentangan antara keduabelah fihak.

Mencari Calon Pengganti

Dalam situasi tidak menentu, kaum pemberontak dan pen­duduk Madinah berpendapat, bahwa hanya salah seorang di antara 5 orang sahabat dekat Rasul Allah s.a.w. yang patut dibai’at se­bagai Khalifah pengganti. Mereka itu ialah yang dulu bersama-sama Utsman bin Affan r.a. pernah dicalonkan oleh Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. sebelum wafatnya. Namun dari yang 5 orang itu, hanya 4 orang saja yang masih hidup. Abdurrahman bin A’uf sudah tiada.

Tragedi pembunuhan Khalifah Utsman r.a. sangat menggon­cangkan dan memilukan Sa’ad bin Abi Waqqash. Karena sebelum itu, Khalifah Umar r.a. juga mati terbunuh, sungguhpun pembu­nuhnya bukan seorang muslim (tetapi majusi) dan terjadinya bu­kan akibat konflik politik di antara sesama kaum muslimin. Oleh karena itu Sa’ad bin Abi Waqqash mengambil keputusan untuk menjauhkan diri sama sekali dari kegiatan politik kenegaraan dan kemasyarakatan. Ia tidak mau melibatkan diri atau dilibatkan da­lam proses pembai’atan seorang Khalifah baru. Dengan demi­kian dari 4 orang sahabat Nabi Muhammad s.a.w. yang masih hidup, kini hanya tinggal 3 orang saja yang dapat dicalonkan.

Jalan menuju terbai’atnya Khalifah ke 4 ternyata tidak se­licin seperti yang diperkirakan orang. Dalam proses permulaan saja sudah menghadapi kesukaran berat. Karena ketiga orang calon ter­sebut sudah tidak ada yang bersedia dibai’at sebagai Khalifah. Usaha pendekatan yang dilakukan oleh kaum muslimin yang mem­berontak terhadap Khalifah Utsman r.a. sukar diterima oleh tiga orang sahabat Rasul Allah s.a.w. itu. Kemacetan berlangsung se­lama 8 hari. Sedangkan kaum muslimin, baik yang tinggal di kota Madinah maupun yang di daerah-daerah, cemas-cemas gelisah me­nantikan adanya pimpinan yang baru.

Tragedi pembunuhan kejam terhadap Khalifah Utsman r.a., dikuasainya ibukota oleh kaum pemberontak, macetnya pemilihan Khalifah baru, semuanya merupakan kerawanan yang amat ber­bahaya. Pasukan-pasukan muslimin yang sedang bertugas di luar daerah dengan gelisah menunggu adanya instruksi-instruksi baru. Jika krisis itu berlarut-larut, mereka sangat khawatir kalau-kalau musuh Islam akan memanfaatkan krisis kepemimpinan itu sebagai peluang yang baik untuk melancarkan serangan-serangan.

Di Mesir, seorang Kepala Daerah yang tidak disukai oleh pen­duduk dan dituntut pemberhentiannya (Abdullah bin Abi Sarah) masih tetap berkuasa. bersama dengan itu, seorang Kepala Daerah yang terkenal cakap dan erat hubungannya dengan Khalifah Utsman r.a., yakni Muawiyah, hanya sibuk dalam kegiatan mening­katkan kedudukannya.

Kaum pemberontak menyadari, tanpa kerjasama dan bantuan aktif kaum Muhajirin dan Anshar, mereka tidak akan berhasil me­nentukan pengganti Khalifah Utsman r.a. Setelah mengadakan pembahasan secara mendalam tentang situasi gawat yang akan timbul akibat tidak adanya pemerintahan pusat, dan dengan du­kungan kaum Muhajirin dan Anshar, para sahabat Rasul Allah s.a.w., sepakat untuk secepat mungkin mengadakan pemilihan seorang calon, yang akan dibai’at sebagai Khalifah baru. Calon itu ialah Imam Ali r.a.

Imam Ali r.a. di Bai`at

Menurut penuturan Abu Mihnaf, sebagaimana tercantum dalam Syarh Nahjil Balaghah, jilid IV, halaman 8, dikatakan, bahwa ketika itu kaum Muhajirin dan Anshar berkumpul di masjid Rasul Allah s.a.w. Dengan harap-harap cemas mereka menunggu be­rita tentang siapa yang akan menjadi Khalifah baru. Masjid yang menurut ukuran masa itu sudah cukup besar, penuh sesak diban­jiri orang. Di antara tokoh-tokoh muslimin yang menonjol tampak hadir Ammar bin Yasir, Abul Haitsam bin At Thaihan, Malik bin ‘Ijlan dan Abu Ayub bin Yazid. Mereka bulat berpendapat, bahwa hanya Ali bin Abi Thalib r.a. lah tokoh yang paling mustahak dibai’at.

Diantara mereka yang paling gigih berjuang agar Imam Ali r.a. dibai’at ialah Ammar bin Yasir. Dalam mengutarakan usulnya, pertama-tama Ammar mengemukakan rasa syukur karena kaum Muhajirin tidak terlibat dalam pembunuhan Khalifah Utsman r.a.

Kepada kaum Anshar, Ammar menyatakan, jika kaum An­shar hendak mengkesampingkan kepentingan mereka sendiri, maka yang paling baik ialah membai’at Ali bin Abi Thalib sebagai Kha­lifah. Ali bin Abi Thalib, kata Ammar, mempunyai keutamaan dan ia pun orang yang paling dini memeluk Islam.

Kepada kaum Muhajirin, Ammar mengatakan: kalian sudah mengenal betul siapa Ali bin Abi Thalib. Oleh karena itu aku tak perlu menguraikan kelebihan-kelebihannya lebih panjang le­bar lagi. Kita tidak melihat ada orang lain yang lebih tepat dan le­bih baik untuk diserahi tugas itu!

Usul Ammar secara spontan disambut hangat dan didu­kung oleh yang hadir. Malahan kaum Muhajirin mengatakan: “Bagi kami, ia memang satu-satunya orang yang paling afdhal!”

Setelah tercapai kata sepakat, semua yang hadir berdiri seren­tak, kemudian berangkat bersama-sama ke rumah Imam Ali r.a. Di depan rumahnya mereka beramai-ramai minta dan mendesak agar Imam Ali r.a. keluar. Setelah Imam Ali r.a. keluar, semua orang berteriak agar ia bersedia mengulurkan tangan sebagai tanda persetujuan dibai’at menjadi Amirul Mukminin.

Pada mulanya Imam Ali r.a. menolak dibai’at sebagai Kha­lifah. Dengan terus terang ia menyatakan : “Aku lebih baik men­jadi wazir yang membantu daripada menjadi seorang Amir yang berkuasa. Siapa pun yang kalian bai’at sebagai Khalifah, akan ku­terima dengan rela. Ingatlah, kita akan menghadapi banyak hal yang menggoncangkan hati dan fikiran.”

Jawaban Imam Ali r.a. yang seperti itu tak dapat diteri­ma sebagai alasan oleh banyak kaum muslimin yang waktu itu datang berkerumun di rumahnya. Mereka tetap mendesak atau se­tengah memaksa, supaya Imam Ali r.a. bersedia dibai’at oleh me­reka sebagai Khalifah. Dengan mantap mereka menegaskan pendi­rian: “Tidak ada orang lain yang dapat menegakkan pemerin­tahan dan hukum-hukum Islam selain anda. Kami khawatir ter­hadap ummat Islam, jika kekhalifahan jatuh ketangan orang lain…”

Beberapa saat lamanya terjadi saling-tolak dan saling tukar pendapat antara Imam Ali r.a. dengan mereka. Para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. dan para pemuka kaum Muhajirin dan Anshar mengemukakan alasannya masing-masing tentang apa sebabnya mereka mempercayakan kepemimpinan tertinggi kepada Imam Ali r.a. Betapapun kuat dan benarnya alasan yang mereka ajukan Imam Ali r.a. tetap menyadari, jika ia menerima pembai’atan me­reka pasti akan menghadapi berbagai macam tantangan dan ke­sulitan gawat.

Baru setelah Imam Ali r.a. yakin benar, bahwa kaum musli­min memang sangat menginginkan pimpinannya, dengan perasaaan berat ia menyatakan kesediaannya untuk menerima pembai’atan mereka. Satu-satunya alasan yang mendorong Imam Ali r.a. ber­sedia dibai’at, ialah demi kejayaan Islam, keutuhan persatuan dan kepentingan kaum muslimin. Rasa tanggung jawabnya yang besar atas terpeliharanya nilai-nilai peninggalan Rasul Allah s.a.w., membuatnya siap menerima tanggung jawab berat di atas pun­daknya. Sungguh pun demikian, ia tidak pernah lengah, bahwa situasi yang ditinggalkan oleh Khalifah Utsman r.a. benar-benar merupakan tantangan besar yang harus ditanggulangi.

Keputusan Imam Ali r.a. untuk bersedia dibai’at sebagai Amirul Mukminin disambut dengan perasaan lega dan gembira oleh sebagian besar kaum muslimin.

Kepada mereka Imam Ali r.a. meminta supaya pembai’atan di­lakukan di masjid agar dapat disaksikan oleh umum. Kemudian Imam Ali r.a. juga memperingatkan, jika sampai ada seorang saja yang menyatakan terus terang tidak menyukai dirinya, maka ia tidak akan bersedia dibai’at. Mereka dapat menyetujui permin­taan Imam Ali r.a., lalu ramai-ramai pergi menuju masjid.

Setibanya di Masjid, ternyata orang pertama yang menyata­kan bai’atnya ialah Thalhah bin Ubaidillah. Menyaksikan kesiga­pan Thalhah itu, seorang bernama Qubaisah bin Dzuaib Al Asadiy menanggapi: “Aku Khawatir, jangan-jangan pembai’atan Thalhah itu tidak sempurna!” Ia mengucapkan tanggapannya itu karena ta­ngan Thalhah memang lumpuh sebelah. Orang lain membiarkan komentar itu lewat begitu saja.

Zubair bin Al-‘Awwam segera mengikuti jejak Thalhah me­nyatakan bai’at kepada Imam Ali r.a. Sesudah itu barulah kaum Muhajirin dan Anshar menyatakan bai’atnya masing-masing. Yang tidak ikut menyatakan bai’at ialah Muhammad bin Maslamah, Hasan bin Tsabit, Abdullah bin Salam, Abdullah bin Umar, Usa­mah bin Zaid, Saad bin Abi Waqqash, dan Ka’ab bin Malik.

Tata cara pembai’atan dilakukan menurut prosedur sebagai­mana yang lazim berlaku atas diri Khalifah-khalifah sebelumnya. Sesuai dengan tradisi pada masa itu, sesaat setelah dibai’at Amirul Mukminin Imam Ali r.a. menyampaikan amanatnya yang pertama. Antara lain mengatakan:

“Sebenarnya aku ini adalah seorang yang sama saja seperti ka­lian. Tidak ada perbedaan dengan kalian dalam masalah hak dan kewajiban. Hendaknya kalian menyadari, bahwa ujian telah datang dari Allah s.w.t. Berbagai cobaan dan fitnah telah datang mende­kati kita seperti datangnya malam yang gelap-gulita. Tidak ada se­orang pun yang sanggup mengelak dan menahan datangnya co­baan dan fitnah itu, kecuali mereka yang sabar dan berpandangan jauh. Semoga Allah memberikan bantuan dan perlindungan.

“Hati-hatilah kalian sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah s.w.t. kepada kalian, dan berhentilah pada apa yang menjadi larangan-Nya. Dalam hal itu janganlah kalian bertindak tergesa-gesa, sebelum kalian menerima penjelasan yang akan ku­berikan.

“Ketahuilah bahwa Allah s.w.t. di atas ‘Arsy-Nya Maha Me­ngetahui, bahwa sebenarnya aku ini tidak merasa senang dengan kedudukan yang kalian berikan kepadaku. Sebab aku pernah mendengar sendiri Rasul Allah s.a.w. berkata: “Setiap waliy (penguasa atau pimpinan) sesudahku, yang diserahi pimpinan atas kaum muslimin, pada hari kiyamat kelak akan diberdirikan pada ujung jembatan dan para Malaikat akan membawa lembaran ri­wayat hidupnya. Jika waliy itu seorang yang adil, Allah akan me­nyelamatkannya karena keadilannya. Jika waliy itu seorang yang ­dzalim, jembatan itu akan goncang, lemah dan kemudian lenyap­lah kekuatannya. Akhirnya orang itu akan jatuh ke dalam api neraka…”

Demikianlah tutur Abu Mihnaf yang uraian riwayatnya tidak berbeda jauh dari versi sejarah yang ditulis oleh beberapa penulis lain. Lebih jauh Abu Mihnaf mengatakan, bahwa orang-orang yang tidak ikut serta menyatakan bai’at, diminta oleh Imam Ali r.a. supaya menemuinya secara langsung pada lain kesempatan.

Pada suatu hari ketika Abdullah bin Umar diminta pernya­taan bai’atnya, ia menolak. Ia baru bersedia membai’at Imam Ali r.a., kalau semua orang sudah menyatakan bai’atnya. Melihat sikap Abdullah yang sedemikian itu, Al Asytar, seorang sahabat setia Imam Ali r.a. dan terkenal sebagai pahlawan perang, tidak dapat menahan kemarahannya. Kepada Imam Ali r.a., Al-Asytar berkata: “Ya Amiral Mukminin, pedangku sudah lama menganggur. Biar kupenggal saja lehernya!”

“Aku tidak ingin ia menyatakan bai’at secara terpaksa,” ujar Imam Ali r.a. dengan tenang menanggapi ucapan Al-Asytar. “Biarkanlah!”

Setelah Abdullah, datanglah Sa’ad bin Abi Waqqash atas panggilan Imam Ali r.a. Ketika diminta pernyataan bai’atnya, ia menjawab supaya dirinya jangan diganggu dulu. “Kalau sudah tidak ada orang lain kecuali aku sendiri, barulah aku akan mem­bai’at anda.”

Mendengar keterangan Sa’ad itu, Imam Ali r.a. berkata ke­pada seorang sahabatnya: “Sa’ad bin Abi Waqqash memang tidak berdusta. Biarkan saja dia!” Imam Ali r.a. kemudian memper­bolehkan Sa’ad meninggalkan tempat.

Waktu tiba giliran Usamah bin Zaid, ia mengatakan: “Aku ini kan maula anda. Aku sama sekali tidak mempunyai persoalan atau niat hendak menentang anda. Pada saat semua orang sudah menjadi tenang kembali aku pasti akan menyatakan bai’at kepada anda.”

Usamah lalu diperbolehkan meninggalkan tempat. Tampak­nya Usamah bin Zaid merupakan orang terakhir yang dipanggil untuk menyatakan bai’at. Sebab, setelah itu tidak ada orang lain lagi yang dipanggil untuk diminta bai’atnya.

Delapan hari sepeninggal Khalifah Utsman bin Affan r.a., kini kaum muslimin telah mempunyai Khalifah baru. Menurut catatan sejarah, jangka waktu 8 hari itu merupakan waktu terpan­jang dalam usaha penetapan seorang Khalifah. Satu keadaan yang cukup menggambarkan betapa resahnya fikiran kaum muslimin pada saat itu. Delapan hari lamanya kaum muslimin hidup tanpa pimpinan.

Kota Madinah yang sejak masa hidupnya Rasul Allah s.a.w. menjadi pusat kepemimpinan agama dan pemerintahan, selama delapan hari itu berada dalam keadaan serba tak menentu. Tidak ada kemantapan dan tidak ada ketertiban hukum. Kaum pem­bangkang yang datang dari luar Madinah, banyak yang berusaha mengadakan kegiatan pengacauan di kota tersebut. Beberapa ke­lompok kaum Muhajirin dan Anshar mengalami berbagai hamba­tan dalam menentukan sikap.

Sedangkan pemuka-pemuka Bani Umayyah, secara diam-diam mulai “mengkambing-hitamkan” Imam Ali r.a. Mereka melancar­kan tuduhan, bahwa Imam Ali r.a. lah yang “membunuh Utsman” atau “melindungi kaum pemberontak”. Dengan tuduhan itu me­reka mengharap Imam Ali r.a. akan ditinggalkan oleh para pen­dukungnya dan dengan demikian ia bisa terguling dari kedudukan­nya sebagai Amirul Mukminin.

Disadur dari buku :

Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a.
Oleh H.M.H. Al Hamid Al Husaini
Penerbit: Lembaga Penyelidikan Islam

https://tausyah.wordpress.com

Lingkungan Keluarga Imam Ali

BAB II : LINGKUNGAN KELUARGA

Pemimpin, yang riwayatnya kita bicarakan ini berasal dari lingkungan keluarga terkemuka qabilah Qureiys, yaitu Abul Ha­san Ali bin Abi Thalib bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushaiy bin Kilab. Ayah Imam Ali r.a., yakni Abu Thalib, adalah saudara kandung Abdullah bin Abdul Mutthalib, ayah Nabi Muhammad s.a.w. Jadi, Nabi Muhammad s.a.w. dan Imam Ali r.a. sama-sama berasal dari satu tulang sulbi seorang datuk: Abdul Mutthalib bin Hasyim. Jelasnya, baik Rasul Allah s.a.w. maupun Imam Ali r.a., dua-duanya termasuk keluarga Bani Abdul Mutthalib. Atau jika ditarik lebih ke atas lagi, dua-duanya termasuk keluarga Bani Hasyim. Dalam sejarah sebutan “keluarga Bani Hasyim” lebih populer dibanding dengan sebutan “Bani Ab­dul Mutthalib”.

Hingga akhir hayatnya, Abdul Mutthalib merupakan pim­pinan tertinggi qabilah Qureiys di Makkah. Sepeninggal Abdul Mutthalib, Abu Thalib menggantikan kedudukan ayahnya se­bagai pemimpin Qureiys dan kepala kota Makkah. Abu Thalib juga merangkap sebagai pemimpin terkemuka Bani Hasyim.

Abdul Mutthalib mempunyai 10 orang putera. Tiga di antara­nya ialah Abbas, Abu Thalib dan Abdullah. Nabi Muhammad s.a.w., manusia termulia di dunia, adalah putera Abdullah bin Abdul Mutthalib. Ia menjadi mundzir (juru ingat) bagi segenap

ummat manusia. Sedang Imam Ali r.a., seorang pemimpin kaum muslimin yang tiada taranya, adalah putera Abu Thalib bin Abdul Mutthalib. Ia jadi penuntun kaum muslimin sedunia.

Imam Ali r.a. mempunyai 3 orang saudara lelaki, yaitu Ja’­far, ‘Aqil dan Thalib. Di suatu medan pertempuran di Tabuk, Ja’far gugur sebagai pahlawan dalam perjuangan membela Nabi Muhammad s.a.w. dan Islam. ‘Aqil dikurniai usia panjang hingga sempat mengalami zaman kekuasaan Muawiyah bin Abi Sufyan. Sedang Thalib, anak sulung Abu Thalib, wafat mendahului sauda­ra-saudaranya.

Ibunda

Nama lengkap ibunda Imam Ali r.a. ialah Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushaiy bin Kilab. Fa­timah binti Asad adalah seorang puteri dari Bani Hasyim yang pertama bersuamikan seorang berasal dari Bani Hasyim juga. Ia termasuk yang paling dini memeluk agama Islam, serta memberi­kan dukungan kepada da’wah yang dilakukan oleh Nabi Muham­mad s.a.w. Beliau sangat menghargai dan menghormati Fatimah binti Asad, bahkan memanggilnya dengan sebutan “Bunda” dan dipandang sebagai ibu kandung beliau sendiri.

Pada waktu Fatimah binti Asad wafat, Nabi Muhammad s.a.w. bersembahyang untuk jenazahnya. Di saat pemakamannya, Nabi Muhammad s.a.w. turun sendiri ke liang lahad dan setelah je­nazahnya diselimuti dengan baju beliau, beliau berbaring sejenak di samping jenazahnya.

Mengetahui hal itu, beberapa orang sahabat sambil keheran-­heranan bertanya: “Ya Rasul Allah, kami tidak pernah melihat anda berbuat seperti itu terhadap orang lain!”

“Tak seorangpun sesudah Abu Thalib yang kupatuhi selain dia”, jawab Nabi Muhammad s.a.w. dengan segera. “Kuselimutkan bajuku, agar kepadanya diberi pakaian indah di dalam sorga, Aku berbaring di sampingnya, agar ia terhindar dari jepitan dan te­kanan kubur.”

Ayahanda

Ayahanda Imam Ali r.a. adalah seorang pemimpin Qureisy. Ia sangat terpandang, dicintai, dihormati dan disegani oleh penduduk Makkah. Beliau dihormati bukan semata-mata karena kedudukan­nya, tetapi lebih-lebih karena budi pekertinya yang luhur, jiwanya yang besar, kepribadiannya yang tinggi dan tindakannya yang se­nantiasa adil. Satu pribadi yang mengungguli semua orang pada zamannya. Baik dalam soal kesanggupannya, kemantapannya maupun dalam kegigihannya membela sesuatu yang diyakininya benar.

Tentang kesanggupan, kemantapan dan kegigihan Abu ThalIib dapat disaksikan dari penampilan-penampilan beliau mengha­dapi orang-orang kafir Qureiys. Dengan kekuatan sendiri ia me­mikul beban membela Nabi Muhammad s.a.w. dari tantangan­tantangan dan perlawanan orang-orang Qureiys. Satu beban yang tak pernah dipikul oleh paman-paman serta keluarga atau ke­rabat Nabi Muhammad s.a.w. yang lain. Penilaian yang semacam itu terhadap Abu Thalib, diterima bulat oleh para sejarawan dari segala mazhab.

Abu Thalib adalah orang yang teguh berdiri membentengi Nabi Muhammad s.a.w. dari segala bentuk rongrongan komplotan kafir Qureiys. Abu Thalib berbuat demikian didorong oleh pan­dangannya yang luas, penglihatan hati dan fikirannya yang tajam, tekad serta semangatnya yang tak terpatahkan.

Hal ini tercermin pula ketika untuk pertama kalinya Abu Thalib melihat puteranya, Imam Ali r.a., secara diam-diam ber­sembahyang di belakang Rasul Allah s.a.w. Diamatinya putera yang masih muda belia itu telah menjadi pengikut Nabi Muham­mad s.a.w. Diperhatikan pula puteranya itu tidak gelisah bersem­bahyang meskipun dilihat ayahnya.

Malahan Imam Ali r.a. setelah mengetahui ayahnya melihat ia bersembahyang di belakang Rasul Allah, segera menghadap ke­padanya, kemudian berkata: “Ayah, aku telah beriman ke­pada Allah dan Rasul-Nya. Aku mempercayai dan membenarkan agama yang dibawa olehnya dan aku bertekad hendak meng­ikuti jejaknya!”

Mendengar pernyataan puteranya yang terus terang tanpa di­bikin-bikin, Abu Thalib berkata: “Sudah pasti ia mengajakmu ke arah kebajikan, oleh karena itu tetaplah engkau bersama dia!”

Lain kali Abu Thalib melihat puteranya sedang berdiri di sebelah kanan Nabi Muhammad s.a.w. yang siap menunaikan sembahyang. Dari kejauhan Abu Thalib melihat puteranya yang seorang lagi yaitu Ja’far. Ja’far segera dipanggil, kemudian diperin­tahkan: “Bergabunglah engkau menjadi sayap putera pamanmu di sebelah kiri, dan bersembahyanglah bersama dia!”

Abu Thalib seorang pemimpin yang mempunyai kebijaksa­naan tinggi. Ia tidak bersitegang leher mempertahankan kebekuan zaman dan tidak menghalang-halangi hadirnya masa mendatang yang lebih cemerlang. Kebijaksanaan yang tinggi itu tercermin benar dari wasiyat yang diucapkannya pada detik-detik menjelang ajalnya, ditujukan kepada orang-orang Qureiys:

“…Wahai orang-orang Qureiys. Kuwasiatkan agar kalian senantiasa mengagungkan rumah itu (Ka’bah). Sebab di sanalah tempat keridhoan Tuhan dan sekaligus juga merupakan tiang penghidupan… Eratkanlah hubungan silaturrahmi, janganlah sekali-kali kalian putuskan. Jauhilah perbuatan dzalim… Betapa banyaknya sudah generasi-generasi terdahulu hancur binasa ka­rena dzalim…!

“Wahai orang-orang Qureiys. Sambutlah dengan baik orang yang mengajak ke jalan yang benar, dan berikanlah pertolongan ke­pada setiap orang yang membutuhkan… Sebab dua perbuatan terpuji itu merupakan kemuliaan bagi seseorang, selagi ia masih hidup dan sesudah mati… Hendaknya kalian selalu berkata benar dan setia menunaikan amanat…!

“Kuwasiatkan kepada kalian supaya berlaku baik terhadap Mu­hammad. Sebab ia orang yang paling terpercaya di kalangan Qureiys dan tidak pernah berdusta…!

“Apa yang kuwasiatkan kepada kalian, semuanya telah terhim­pun padanya. Kepada kita ia datang membawa missi yang sebe­narnya dapat diterima oleh hati-sanubari, tetapi diingkari dengan ujung lidah, hanya karena takut akan tidak disukai orang lain. Demi Allah, aku seakan-akan dapat melihat bahwa orang-orang Arab lapisan bawah, orang-orang yang hidup terlunta-lunta, dan orang-orang yang lemah tidak berdaya, sudah siap menyambut baik seruannya, membenarkan tutur-katanya, dan menjunjung tinggi missi yang di bawanya. Bersama mereka itulah Muhammad mengarungi ancaman gelombang maut!

“Namun aku juga seolah-olah sudah melihat, bahwa orang-­orang Arab akan dengan tulus hati mengikhlaskan kecintaan mereka dan mempercayakan kepemimpinan kepadanya.”

“Demi Allah, barang siapa yang mengikuti jejak langkah­nya, ia pasti akan menemukan jalan yang benar. Dan barang siapa yang mengikuti petunjuk serta bimbingannya, ia pasti selamat!”

“Seandainya aku masih mempunyai sisa umur, semua rong-rongan yang mengganggu dia, pasti akan kuhentikan dan kucegah, dan ia pasti akan kuhindarkan dari tiap marabahaya yang akan menirnpanya…”

Wasiat yang gamblang itu tidak memerlukan ulasan lagi. Dari wasiyat yang diucapkan sesaat sebelum ajalnya datang, orang dapat mengambil kesimpulan sendiri, siapa sebenarnya Abu Tha­lib itu, bagaimana sikapnya terhadap Nabi Muhammad s.a.w. dan sejauh mana pandangan dan fikirannya terhadap Islam.

Sikap, pandangan dan fikiran yang sangat positif itulah yang memberi kesanggupan kepadanya untuk mencurahkan se­luruh hidupnya melindungi pembawa da’wah yang mengajak manusia ke jalan yang benar.

Abu Thalib bukan hanya mengenal kebenaran Nabi Muham­mad s.a.w., tetapi juga mengenal pribadi beliau dengan baik. Ia paman beliau, pengasuh dan pemelihara beliau sejak kanak-­kanak sampai dewasa. Dalam waktu yang amat panjang, Abu Thalib menyaksikan sendiri bagaimana praktek kehidupan Nabi Muhammad s.a.w. sehari-hari. Abu Thalib rindu sekali ingin melihat hakekat kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad s.a.w. Hatinya pedih dan kesal menyaksikan kaumnya menyia-nyiakan akal fikiran dan hidup mereka di depan tumpukan batu, yang dianggapnya sebagai sesembahan dan tuhan-tuhan.

Dengan tangguh Abu Thalib menghadapi tantangan-tantangan kafir Qureiys serta menggagalkan rencana-rencana jahat yang me­reka tujukan terhadap Rasul Allah s.a.w. Ketika orang-orang kafir Qureiys sudah merasa putus asa dan tidak sanggup lagi memben­dung da’wah risalah Nabi Muhammad s.a.w., dan tidak berdaya la­gi menggertak Abu Thalib supaya menghentikan perlindungan dan pembelaannya kepada Rasul Allah s.a.w., maka tokoh-tokoh mereka mengambil keputusan: melancarkan blokade dan pemboi­kotan total terhadap semua orang Bani Hasyim dan Bani Abdul Mutthalib.

Blokade dan pemboikotan total yang demikian itu adalah cara-cara yang di cela oleh tradisi dan moral bangsa Arab sendiri. Tetapi bagi kaum kafir Qureiys, itu bukan soal. Yang penting, tujuan harus tercapai. Segala cara atau jalan mereka halalkan demi tujuan.

Blokade kafir Qureiys itu ternyata lebih mendorong orang-­orang Bani Hasyim dan Bani Abdul Mutthalib untuk bertambah cenderung dan berfihak kepada Abu Thalib. Orang-orang Bani Hasyim dan Bani Abdul Mutthalib berhimpun dalam sebuah Syi’ib (lembah di antara dua bukit).

Dengan semangat baja mereka hadapi kepungan ketat serta pemboikotan total di bidang ekonomi dan sosial. Selama lebih kurang 3 tahun mereka menahan penderitaan dan kelaparan. Mereka sampai terpaksa menelan dedaunan sekedar untuk meng­ganjel perut yang lapar. Selama masa yang penuh derita dan seng­sara itu, Abu Thalib tetap tegak berdiri laksana gunung raksasa yang kokoh-kuat, tak tergoyahkan oleh gelombang badai dan tiupan angin ribut.

Dengan tegas Abu Thalib menolak setiap kompromi dan ta­war-menawar yang diajukan oleh orang-orang kafir Qureiys. Penolakkannya itu diucapkan dengan bait-bait syair. Inilah di antara syair-syair tersebut :

“Sadarlah kalian, sadarlah,

sebelum banyak liang digali orang,

dan orang-orang tak bersalah diperlakukan sewenang-wenang.

Janganlah kalian ikuti perintah orang jahat tiada berakhlaq

untuk memutuskan tali persahabatan

dan persaudaraan dengan kita.

Demi Tuhan Penguasa Ka’bah,

Kami tak akan menyerahkan Muhammad ke dalam maraba­haya

yang dirajut orang-orana penentang zaman,

sebelum terbedakan mana leher kami dan mana leher kalian,

dan sebelum tangan berjatuhan ditebas pedang mengkilat tajam!”

Ya… benarlah. Jika Abu Thalib sudah mempercayai suatu kebenaran, kepercayaannya itu benar-benar keras dan mantap. Sekeras dan semantap kepercayaan yang diwariskan kepada pute­ra bungsunya, Imam Ali r.a., bahkan sampai kepada anak cucu ke­turunan Imam Ali r.a.!

Abu Thalib bergerak membela Nabi Muhammad s.a.w. bukan disebabkan karena beliau putera saudaranya sendiri. Abu Thalib menyingsingkan lengan baju, karena Nabi Muhammad s.a.w. seorang yang menyerukan kebenaran dan mengajak manusia ke arah kebajikan! Ia membela kebenaran dan bukan membela keke­rabatan. Ia menentang dan melawan saudaranya sendiri, Abu Lahab, karena ia tahu, Abu Lahab berada di atas kebatilan.

Tentang betapa adil dan jujurnya Abu Thalib dapat pula disaksikan dari peristiwa berikut. Pada suatu hari Rasul Allah s.a.w. memberitahukan kepada Abu Thalib, bahwa naskah pem­boikotan yang ditempelkan oleh orang-orang kafir Qureiys pada dinding Ka’bah sudah hancur di makan rayap, sehingga tak ada lagi bagian yang tinggal selain yang bertuliskan: “Dengan Nama Allah.”

Setelah mendengar keterangan Rasul Allah s.a.w., Abu Tha­lib segera mendatangi sejumlah tokoh Qureiys. Kepada tokoh-­tokoh kafir Qureiys itu, Abu Thalib berkata dengan lantang: “Hai orang-orang Qureiys, putera saudaraku telah memberitahu kepadaku, bahwa naskah pemboikotan yang kalian tulis dan kalian gantungkan pada Ka’bah, sekarang sudah hancur. Tengoklah naskah kalian itu! Kalau benar terjadi seperti apa yang dikatakan oleh Muhammad, hentikanlah pemboikotan kalian terhadap kami. Tetapi jika Muhammad ternyata berdusta, ia akan kuserahkan ke­pada kalian!”

Abu Thalib mengatakan semuanya itu hanya berdasarkan ke­percayaan yang penuh kepada Nabi Muhammad s.a.w. Ia sendiri belum pernah melihat bagaimana keadaan naskah yang tergan­tung pada dinding Ka’bah.

Tokoh-tokoh Qureiys merasa puas dengan kesediaan Abu Thalib menyerahkan Nabi Muhammad s.a.w., bila terbukti beliau berdusta. Mereka segera pergi menuju Ka’bah untuk menengok naskah pemboikotan dan ternyata benar apa yang dikatakan Nabi Muhammad s.a.w. Tokoh-tokoh kafir Qureiys lemas, tak berdaya dan terpaksa mengumumkan penghentian pemboikotan pada hari itu juga. Aksi komplotan mereka berakhir dengan kegagalan.

Dari peristiwa tersebut Abu Thalib memperoleh pembuktian langsung dari Allah s.w.t. tentang benarnya kepercayaan yang se­lama ini dipertahankan dan dijaganya baik-baik. Pembuktian yang didapatnya sebagai mu’jizat Rasul Allah s.a.w. itu datang da­ri kekuasaan Allah dan bukan datang dari seorang famili yang harus diikuti.

Jauh sebelum kejadian di atas, orang-orang kafir Qureiys sudah berkali-kali menghimbau Abu Thalib baik dengan bujuk­ rayu, maupun dengan ancaman kekerasan. Orang-orang kafir Qu­reiys pernah mengancam Abu Thalib dengan kata-kata:

“Hai Abu Thalib, engkau orang yang sudah lanjut usia, terhormat dan mempunyai kedudukan terpandang… Kami telah berkali-kali meminta kepadamu supaya engkau mela­rang putera saudaramu terus menerus berda’wah, tetapi eng­kau tidak mau melarangnya… Kami tidak dapat lagi me­nahan kesabaran mendengar orangtua kami dicerca, tuhan-­tuhan kami dicela, dan orang-orang arif kami dijelek-jelek­kan… Silakan engkau pilih… Apakah engkau bersedia mencegah Muhammad supaya tidak terus menerus menyerang kami, atau, kamilah yang akan bertindak memerangi dia, termasuk engkau sekaligus, sampai salah satu fihak binasa…”

Mendengar ancaman itu, Abu Thalib bukannya menjadi mun­dur dalam membela kebenaran Nabi Muhammad s.a.w., malahan justru bertambah teguh pendiriannya, semakin tinggi semangatnya dan merasa lebih mampu memberikan tamparan keras terhadap muka orang Qureiys yang sudah semakin nekad. Melalui syairnya dengan tegas Abu Thalib menjawab:

“Aku tahu bahwa agama Muhammad, agama terbaik bagi segenap manusia. Demi Allah, hai Muhammad, mereka tak akan dapat menyen­tuhmu, sebelum aku terkapar berkalang tanah.”

Pada suatu hari Abu Thalib sedang duduk santai di rumah. Tiba-tiba datang Rasul Allah s.a.w. kelihatan sedih dan kesal. Setelah duduk, Rasul Allah s.a.w. segera menyampaikan persoal­annya. Mendengar keterangan beliau, Abu Thalib segera mengerti, bahwa orang-orang kafir Qureiys telah berhasil membujuk salah seorang yang berperangai jahat di kalangan mereka melemparkan kotoran ternak dan gumpalan darah beku ke atas kepala Rasul Allah s.a.w. Pelemparan itu dilakukan, di saat Nabi Muhammad s.a.w. sedang sujud bermunajat ke hadirat Allah s.w.t.

Dengan tidak menunggu waktu lagi Abu Thalib bangkit. Dengan tangan kanan membawa pedang terhunus dan tangan kiri menggandeng Nabi Muhammad s.a.w., ia berangkat mendatangi ge­rombolan Qureiys yang telah mengganggu Nabi Muhammad s.a.w. Setiba di depan gerombolan itu, Abu Thalib berhenti se­jenak. Diperhatikannya gerak-gerik gerombolan itu. Seorang de­mi seorang mereka mundur. Rupanya di luar perkiraan mereka, bahwa Nabi Muhammad s.a.w. akan datang kembali bersama pa­mannya.

Abu Thalib terus berteriak kepada gerombolan itu: “Demi Allah, yang Muhammad beriman kepada-Nya. Jika ada seorang dari kalian yang berani melawan, akan kupersingkat umurnya dengan pedang ini!”

Setelah itu Abu Thalib dengan tangannya sendiri membersih­kan tubuh Nabi Muhammd s.a.w. dari kotoran ternak dan darah. Semua kotoran itu dikumpulkan, digenggam, lalu dilemparkan ke wajah orang-orang Qureiys yang sedang siap hendak lari. Di hadapan Abu Thalib kelihatan sekali kekerdilan gerombolan itu.

Dalam membela dan melindungi Rasul Allah s.a.w. dari ma­rabahaya keteguhan Abu Thalib dapat diandalkan benar. Ketegu­hannya itu tercermin juga dari syair-syair yang diucapkannya sen­diri:

Janganlah kalian sulut api pengobar perang,

Yang akibat-pahitnya akan ditelan semua orang!

Demi Allah, Muhammad tak nanti ‘kan kuserahkan

Kepada tangan pencetus bencana mengerikan.

Kenalkah kalian siapa Hasyim,

Ksatria yang pernah berpesan,

Agar kami berani berperang dengan semangat jantan?

Kami bukan pejuang-pejuang yang jemu perang,

Tak’kan kami sesali yang gugur di medan juang!

Kubela Rasul, utusan Penguasa Maha Kuasa,

Pembawa amanat berkilauan laksana kilat berca­haya,

Kubela dan kulindungi utusan Tuhan Ilahi,

Karena ia manusia kesayanganku sendiri,

Kulindungi ia dari serangan musuh-musuhnya,

Laksana gadis kulindungi dari gangguan pria!

Hai Abu Ya’la,[1]

Teguh dan sabarlah dalam agama Muhammad,

Nyatakan dirimu terang-terangan sebagai muslim yang mantap,

Bulatkan tekad mendampingi pembawa kebenaran Tuhan,

Betapa riang hatiku mendengar engkau beriman,

Janganlah engkau menjadi kafir tidak bertuhan,

Jadikan dirimu pembela Rasul dan pembela Tu­han,

Tunjukkan agamamu di mata Qureiys terang-terang­an,

Katakanlah: Muhammad bukan si tukang sihir!

Datukanda

Pada waktu jemaah haji berjubel tiap tahun di sekitar sumur Zamzam, tentu mereka teringat kepada nama seorang terhormat yang dikagumi rakyatnya. Nama seorang yang dengan tangan dan keringat sendiri menggali sumur itu hingga airnya memancar, setelah sekian abad lamanya tertutup. Sumur Zamzam tak dapat dipisahkan dari nama Abdul Mutthalib.

Pada satu malam, di kala Abdul Mutthalib sedang tidur, jiwanya yang putih bersih menyongsong suara orang berseru: “Galilah Thaibah!”[2] Abdul Mutthalib terjaga. Ia tak mengerti takwil mimpinya. Pada malam berikutnya orang yang bersuara itu muncul kembali dalam mimpi. “Galilah barrah!”.[3]

Abdul Mutthalib terbangun. Ia masih tak dapat memahami apa yang harus dilakukan. Pada malam ketiga, sekali lagi ia mendengar suara itu di dalam mimpi: “Galilah Zamzam!” Abdul Mutthalib bertanya: “Apakah arti Zamzam?” orang yang ber­seru itu menjelaskan: “Ia tidak kunjung kering dan tak berkurang airnya, sanggup memberi minum kepada jemaah haji betapa pun besar jumlahnya!” Kemudian ditunjukkan tempatnya.

Pagi-pagi buta, dengan disertai puteranya, Al Harits, ia berangkat menuju letak sumur yang ditunjuk dalam mimpi. Ber­sama puteranya ia bekerja menggali. Tak lama kemudian meman­car air dari sumber yang abadi. Sebenarnya tempat itu dahulu­nya merupakan sumur. Hanya dalam kurun waktu yang pan­jang telah tertimbun oleh batu-batu besar dan pasir. Dahulu kala sumur itu merupakan kurnia Allah s.w.t. kepada Nabi Isma’il a.s. bersama bundanya.

Abdul Mutthalib atau Syaibah (nama aslinya) adalah seorang yang mempunyai type cemerlang. Sukar ditemukan bandingannya. Keharuman namanya menjadi buah bibir orang di segenap penjuru gurun sahara Semenanjung Arabia. Karena banyak pekerjaan ter­puji yang dilakukannya, sehingga ia disebut dengan nama pang­gilan “Syaibatul Hamd“. Bahkan banyak yang menyebutnya se­bagai “Pemberi makan manusia di dataran dan pengumpan marga­satwa di pegunungan!”

Abdul Mutthalib seorang yang memiliki kebijaksanaan yang luas dan iman yang dalam. Hal ini tercermin dengan jelas, tat­kala Abrahah datang ke Makkah membawa pasukan yang luar bi­asa besarnya guna menghancurkan Ka’bah. Setelah Abdul Mu­tthalib mengetahui bahwa kaumnya tidak sanggup menghadapi pasukan penyerbu, maka diperintahkan supaya masing-masing pergi mengungsi ke daerah-daerah pegunungan. Tinggalkan ko­ta Makkah sebagai kota kosong. Anak dan isteri serta hak milik­nya masing-masing supaya dibawa. Mengenai keselamatan Ka’bah diserahkan kepada Pemilik rumah suci itu.

Pada suatu hari, Abdul Mutthalib pergi menemui Abrahah. Ketika Abdul Mutthalib ditanya oleh Abrahah tentang maksud ke­datangannya, Abdul Mutthalib dengan tegas menjawab: “Aku datang kepada tuan untuk meminta kembali unta-untaku yang tuan ambil.”

Abrahah menyatakan keheranannya karena Abdul Mutthalib sebagai penguasa Makkah tidak memikirkan Ka’bah yang akan dihancurkannya itu, tetapi hanya memikirkan unta-untanya saja.

Guna menghilangkan keheranan Raja Yaman itu, Abdul Mutthalib dengan jelas mengatakan, bahwa unta-unta yang kalian ambil adalah milikku, sedang Ka’bah yang hendak dihancurkan itu mempunyai pemiliknya sendiri yang akan melindungi kesela­matannya.

Itulah pendirian seorang yang benar-benar berkeTuhanan. Seorang yang hidup di tengah-tengah gelombang penyembahan berhala. Jiwa dan hati nuraninya dikuasai sepenuhnya oleh pera­saan halus yang tersembunyi, yang mengakui dengan haqqul yakin, bahwa di sana terdapat Tuhan Yang Maha Mulia, Maha Agung dan Maha Kuasa.

Kemurnian iman Abdul Mutthalib tampak jelas sekali. Walau­pun ia tahu, bahwa di sekitar Ka’bah bercokol 300 buah lebih ber­hala, tidak kepada sebuah berhala pun ia meminta pertolongan gu­na menyelamatkan Ka’bah. Ia tidak meminta kepada si Hubal, tidak kepada Laat dan tidak pula kepada si Uzza! Meskipun tidak ada jarak pemisah antara berhala-berhala itu de­ngan Ka’bah, Abdul Mutthalib sama sekali tidak sudi meminta se­suatu kepada patung sembahan jahiliyah itu!

Tidak lain ia hanya memohon kepada Allah, tunduk dan khusuk kepada-Nya, serta hanya mau berlindung kepada Yang Maha Agung dan Maha Tinggi, sesuai dengan isyarat yang di­berikan oleh perasaan halus yang tersembunyi di dalam hati nuraninya: “Ya Tuhan, tiap orang mempertahankan rumahnya, oleh karena itu pertahankanlah Rumah-Mu!” Alangkah sederhana dan mantapnya doa seperti itu.

Doa Abdul Mutthalib ternyata bukan seperti melempar batu ke lubuk. Pukulan yang mematikan dialami oleh balatentara Abra­hah. Dengan suatu “pasukan” yang paling lemah berupa burung-­burung Ababil, Allah s.w.t. menghancurkan mereka. Burung-burung menyebarkan maut di kalangan balatentara Abrahah. Bangkai mereka bergelimpangan menjadi cerita sejarah.

Sifat pasrah diri Abdul Mutthalib kepada Allah seperti di atas seakan-akan kekanak-kanakan. Sungguh tidaklah demikian. Pasrah diri Abdul Mutthalib bukan pasrah diri orang yang sama sekali tak berdaya, melainkan karena keyakinan imannya, bahwa di sana ada Allah Maha Kuasa, Tuhan yang senantiasa berada di ­belakang setiap gerak dan perbuatan. Abdul Mutthalib yakin, se­suatu yang tak dapat dilaksanakan dengan kekuatan kebajikan yang ada pada manusia akan ditentukan persoalannya oleh Dia sendiri Yang Maha Kuasa. Sungguh, suatu kepasrahan yang sangat polos, indah dan murni.

Melalui Abdul Mutthalib Allah s.w.t. melimpahkan kemudah­an dan keberkahan kepada penduduk Makkah. Lebih dari satu kali langit dan udara Makkah sedemikian gersangnya. Tidak setetes air hujan pun yang turun membasahi bumi. Hampir saja penduduk mati kekeringan dan dilanda paceklik amat berat. Pada saat yang berat itu, penduduk mendatangi Abdul Mutthalib. Abdul Mutthalib mengajak mereka berbondong-bondong menuju sebuah pun­cak bukit. Di puncak bukit itulah dengan khusyu’ Abdul Mut­thalib berdoa: “Ya Tuhan, mereka itu adalah hamba-hamba-Mu. Engkau mengetahui apa yang sedang menimpa kami semua. Oleh karena itu jauhkanlah kegersangan dari kami, turunkanlah hujan membawa rahmat dan berkah, menumbuhkan tetanaman, memberi kehidupan dan penghidupan.”

Iman Abdul Mutthalib kelihatannya memang lain dari yang yang lain. Iman seorang yang hidup di masa penyembahan berhala masih menjadi agama peribadatan di mana-mana. Namun Abdul Mutthalib mengenal Allah melalui setiap nikmat yang terlimpah kepadanya dan dari tiap langkah yang berhasil ditempuhnya.

Ketika ia mendengar kelahiran cucunya, Nabi Muhammad s.a.w., segera diemban dan dibawa masuk ke dalam Ka’bah. Di­sana ia memanjatkan puji syukur dalam bentuk syair:

“Puji syukur bagi Allah yang mengaruniakan ke­padaku,

seorang anak yang baik susunan bentuknya ini,

selagi dalam buaian ia mengungguli anak yang lain.

Ia kulindungkan pada Tuhan Maha Perkasa

sampai kusaksikan masa dewasanya.”

Abdul Mutthalib ditunjukkan oleh penglihatan batinnya sen­diri, sehingga dapat mengetahui bahwa anak yang baru lahir itu akan memainkan peranan besar di kemudian hari. Oleh karena itu ia mencintai Nabi Muhammad s.a.w. melebihi kecintaan yang diberikannya kepada siapapun.

Tiap kali Abdul Mutthalib bertemu dengan Abu Thalib, ta­ngan puteranya itu selalu ditarik, kemudian dilekatkan pada tangan cucunya, Nabi Muhammad s.a.w., sambil berkata: “Hai Abu Thalib, di kemudian hari anak ini akan mempunyai kedudu­kan, oleh karena itu jagalah dia baik-baik. Jangan kaubiarkan ada sesuatu yang tidak baik menyentuhnya!”

Amanat ayahnya dipenuhi dengan baik oleh Abu Thalib. Ia jaga dan pelihara putera saudaranya itu sebagaimana mestinya. Ia mengasuh anak itu sesuai dengan kematangan berfikirnya, ke­tinggian martabat keturunannya dan kebesaran sifat keutamaan­nya.

Abdul Mutthalib adalah datukanda Nabi Muhammd s.a.w., juga datukanda Imam Ali r.a.

Setelah keluarga besar itu ditinggal wafat oleh Abdul Muttha­lib dan Abu Thalib, Imam Ali r.a. sebagai cucu Abdul Mutthalib dan putera Abu Thalib mewarisi budi pekerti luhur dan kebesaran jiwa yang sukar ditemukan bandingannya. Ia benar-benar mewarisi dua hal sekaligus: akhlaq utama dan darah mulia.

[1]Syairnya Abu Thalib yang ditujukan kepada saudaranya, Hamzah, guna memberikan dorongan moril supaya Hamzah tetap berpegang teguh ke­pada agama yang dibawa Nabi Muhammad s.a.w.

[2]Thaibah: sesuatu yang baik.

[3]Barrah: sesuatu yang sangat patut.

Disadur dari buku :

Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a.
Oleh H.M.H. Al Hamid Al Husaini
Penerbit: Lembaga Penyelidikan Islam
Jl. Blora 29, Jakarta
Oktober 1981

https://tausyah.wordpress.com