Archive for the ‘Tauhid’ Category

Diriwayatkan dalam shoheh Bukhori dan Muslim, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
لا يقل أحدكم : اللهم اغفر لي إن شئت، اللهم ارحمني إن شئت، ليعزم المسألة فإن الله لا مكره له”.
“Janganlah ada seseorang di antara kalian yang berdo’a dengan ucapan : “Ya Allah, Ampunilah aku jika Engkau menghendaki”, atau berdo’a : “Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau menghendaki”, tetapi hendaklah meminta dengan mantap, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala tidak ada sesuatupun yang memaksaNya untuk berbuat sesuatu”.

Dan dalam riwayat Muslim, disebutkan :

“وليعظم الرغبة فإن الله لا يتعاظمه شيء أعطاه “.
“Dan hendaklah ia memiliki keinginan yang besar, karena sesungguhnya Allah tidak terasa berat bagiNya sesuatu yang Ia berikan”.

Kandungan bab ini :

Larangan mengucapkan kata : “jika engkau menghendaki” dalam berdoa.
Karena [ucapan ini menunjukkan seakan-akan Allah merasa keberatan dalam mengabulkan permintaan hambaNya, atau merasa terpaksa untuk memenuhi permohonan hambaNya].
Diperintahkan  untuk berkeinginan kuat dalam berdoa.
Diperintahkan untuk membesarkan harapan dalam berdoa.
Karena [Allah maha kaya, maha luas karuniaNya, dan maha kuasa untuk berbuat apa saja yang dikehendakiNya].

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

يقولون لو كان لنا من الأمر شيء ما قتلنا ههنا قل لو كنتم في بيوتكم لبرز الذين كتب عليهم القتل إلى مضاجعهم وليبتلي الله ما في صدوركم وليمحص ما في قلوبكم والله عليم بذات الصدور

“Mereka (orang-orang munafik) mengatakan : seandainya kita memiliki sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya (kita tak akan terkalahkan) dan tidak ada yang terbunuh diantara kita di sini (perang uhud). Katakanlah : ‘Kalaupun kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji (keimanan) yang ada dalam dadamu, dan membuktikan (niat) yang ada dalam hatimu. Dan Allah Maha Mengetahui isi segala hati.” (QS. Ali Imran, 154).

الذين قالوا لإخوانهم وقعدوا لو أطاعونا ما قتلوا قل فادرءوا عن أنفسكم الموت إن كنتم صادقين

“Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka takut pergi berperang : seandainya mereka mengikuti kita tentulah mereka sudah terbunuh. Katakanlah : Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Ali Imran, 168).

Diriwayatkan dalam shoheh Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

احرص على ما ينفعك واستعن بالله ولا تعجزن، وإن أصابك شيء فلا تقل : لو أني فعلت لكان كذا وكذا، ولكن قل : قدر الله وما شاء فعل، فإن ” لو ” تفتح عمل الشيطان

“Bersungguh-sungguhlah dalam mencari apa yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu), dan janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah, dan jika kamu tertimpa suatu kegagalan, maka janganlah kamu mengatakan : “seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu’”, tetapi katakanlah : “ini telah ditentukan oleh Allah, dan Allah akan melakukan apa yang Ia kehendaki”, karena kata “seandainya” itu akan membuka pintu perbuatan syetan.”

Kandungan bab ini :

  1. Penjelasan tentang ayat dalam surat Ali Imran ([1]).
  2. Larangan mengucapkan kata “andaikata” atau “seandainya” apabila mendapat suatu musibah atau kegagalan.
  3. Alasannya, karena kata tersebut (seandainya/andaikata) akan membuka pintu perbuatan syetan.
  4. Petunjuk Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam [ketika menjumpai suatu kegagalan atau mendapat suatu musibah] supaya mengucapkan ucapan ucapan yang baik [dan bersabar serta mengimani bahwa apa yang terjadi adalah takdir Allah].
  5. Perintah untuk bersungguh-sungguh dalam mencari segala  yang bermanfaat [untuk di dunia dan di akhirat] dengan senantiasa memohon pertolongan Allah.
  6. Larangan bersikap sebaliknya, yaitu bersikap lemah.

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

يظنون بالله غير الحق ظن الجاهليـة يقولون هل لنا من الأمـر من شيء قل إن الأمر كله لله

“…Mereka berprasangka yang tidak benar terhadap Allah, seperti sangkaan jahiliyah, mereka berkata : apakah ada bagi kita sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, katakanlah : sungguh urusan itu seluruhnya di Tangan Allah.…” (QS. Ali Imran, 154).

ويعذب المنافقـين والمنافقـات والمشركـين والمشركـات الظانين بالله ظن السوء عليهم دائرة السوء وغضب الله عليهم ولعنهم وأعد لهم جهنم وساءت مصيرا

“Dan supaya Dia mengadzab orang-orang munafik laki-laki dan orang-orang munafik perempuan, dan orang-orang Musyrik laki laki dan orang-orang musyrik perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah, mereka akan mendapat giliran (keburukan) yang amat buruk, dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka jahannam. Dan (neraka jahannam) itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al Fath, 6).

Ibnu Qoyyim dalam menafsirkan ayat yang pertama mengatakan :

“Prasangka di sini maksudnya adalah bahwa Allah Subhanahu wata’ala tidak akan memberikan pertolongannya (kemenangan) kepada Rasulnya, dan bahwa agama yang beliau bawa akan lenyap.”

Dan ditafsirkan pula : “bahwa apa yang menimpa beliau bukanlah dengan takdir (ketentuan) dan hikmah (kebijaksanaan) Allah.”          Jadi prasangka di sini ditafsirkan dengan  tiga penafsiran : Pertama : mengingkari adanya hikmah dari Allah. Kedua : mengingkari takdirNya. Ketiga : mengingkari bahwa agama yang dibawa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam akan disempurnakan dan dimenangkan Allah atas semua  agama.

Inilah prasangka buruk yang dilakukan oleh orang-orang munafik dan orang-orang musyrik yang terdapat dalam surat Al Fath. Perbuatan ini disebut dengan prasangka buruk, karena prasangka yang demikian tidak layak untuk Allah, tidak patut terhadap  kagungan dan kebesaran Allah, tidak sesuai dengan kebijaksanaanNya, PujiNya, dan janjiNya yang pasti benar.

Oleh karena itu, barangsiapa yang berprasangka bahwa Allah Subhanahu wata’ala akan memenangkan kebatilan atas kebenaran, disertai dengan lenyapnya kebenaran, atau berprasangka bahwa apa yang terjadi ini bukan karena Qadla dan takdir Allah, atau mengingkari adanya suatu hikmah yang besar sekali dalam takdirNya, yang dengan hikmahNya Allah berhak untuk dipuji, bahkan mengira bahwa yang terjadi hanya sekedar kehendakNya saja tanpa ada hikmahnya, maka inilah prasangka orang-orang kafir, yang mana bagi mereka inilah neraka “wail”.

Dan kebanyakan manusia melakukan prasangka buruk kepada Allah, baik dalam hal yang berkenaan dengan diri mereka sendiri, ataupun dalam hal yang berkenaan dengan orang lain, bahkan tidak ada orang yang selamat dari prasangka buruk ini, kecuali orang yang benar-benar mengenal Allah, Asma dan sifatNya, dan mengenal kepastian adanya hikmah dan keharusan adanya puji bagiNya sebagai konsekwensinya.

Maka orang yang berakal dan yang cinta pada dirinya sendiri, hendaklah memperhatikan masalah ini, dan bertaubatlah kepada Allah, serta memohon maghfirahNya atas prasangka buruk yang dilakukannya terhadap  Allah.

Apabila anda selidiki, siapapun orangnya pasti akan anda dapati pada dirinya sikap menyangkal dan mencemoohkan takdir Allah, dengan mengatakan hal tersebut semestinya begini dan begitu, ada yang sedikit sangkalannya dan ada juga yang banyak. Dan silahkan periksalah diri anda sendiri, apakah anda bebas dari sikap tersebut ?

فإن تنج منها تنج من ذي عظيمة وإلا فإني لا إخالك ناجيا

“Jika anda selamat (selamat) dari sikap tersebut, maka anda selamat dari malapetaka yang besar, jika tidak, sungguh aku kira anda tidak akan selamat.”

Kandungan  bab ini :

  1. Penjelasan tentang ayat dalam surat Ali Imran ([1]).
  2. Penjelasan tentang ayat dalam surat Al Fath ([2]).
  3. Disebutkan  bahwa prasangka buruk itu banyak sekali macamnya.
  4. Penjelasan bahwa tidak ada yang bisa selamat dari prasangka buruk ini kecuali orang yang mengenal Asma’ dan sifat Allah, serta mengenal dirinya sendiri.

([1])  Ayat pertama menunjukkan bahwa barangsiapa yang berprasangka bahwa Allah akan memberikan kemenangan yang terus menerus kepada kebatilan, disertai dengan lenyapnya kebenaran, maka dia telah berprasangka yang tidak benar kepada Allah dan prasangka ini adalah prasangka orang-orang jahiliyah, menunjukkan pula bahwa segala sesuatu itu ada di Tangan Allah, terjadi dengan qadha dan qadarNya serta pasti ada hikmahnya, dan menunjukkan bahwa berbaik sangka kepada Allah adalah termasuk kewajiban tauhid.

([2])  Ayat kedua menunjukkan kewajiban berbaik sangka kepada Allah dan larangan berprasangka buruk kepadaNya, dan menunjukkan bahwa prasangka buruk kepada Allah adalah perbuatan orang-orang munafik dan musyrik yang mendapat ancaman siksa yang sangat keras.

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

واحفظوا أيمانكم

“Dan jagalah sumpahmu …” (QS. Al Maidah, 89).

Abu Hurairah Radhiallahu’anhu berkata : “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

الحلف منفقة للسلعة ممحقة للكسب

“Sumpah itu dapat melariskan barang dagangan namun dapat menghapus keberkahan usaha.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Diriwayatkan dari Salman Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

ثلاثة لا يكلمهم الله ولا يزكيهم ولهم عذاب أليم ؛ أشيمط زان، وعائل مستكبر، ورجل جعل الله بضاعته لا يشتري إلا بيمينه ولا يبيع إلى بيمينه ” رواه الطبراني بسند صحيح.

“Tiga orang yang mereka itu tidak diajak bicara dan tidak disucikan oleh Allah (pada hari kiamat), dan mereka menerima adzab yang pedih, yaitu :  orang yang sudah beruban (tua) yang berzina, orang miskin yang sombong, dan orang yang menjadikan Allah sebagai barang dagangannya, ia tidak membeli atau menjual kecuali dengan bersumpah ” (HR. Thabrani dengan sanad yang shaheh).

Diriwayatkan dalam shoheh Bukhari dan Muslim dari Imran bin Husain Radhiallahu’anhu ia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“خير أمتي قرني ، ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم “، – قال عمران : فلا أدري أذكر بعد قرنه مرتين أو ثلاثا ؟ – ” ثم إن بعدكم قوم يشهدون ولا يستشهدون، ويخونون ولا يؤتمنون، وينذرون ولا يوفون ويظهر فيهم السمن”

“Sebaik-baik umatku adalah mereka yang hidup pada masaku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya lagi” – Imran berkata : “Aku tidak ingat lagi apakah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menyebutkan generasi setelah masa beliau dua kali atau tiga ?” – “ Kemudian akan ada setelah masa kalian orang-orang yang memberikan kesaksian sebelum ia diminta, mereka berkhianat dan tidak dapat dipercaya, mereka bernadzar tapi tidak memenuhi nadzarnya, dan badan mereka tampak gemuk-gemuk ”.

Diriwayatkan pula dalam shoheh Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

خير الناس قرني، ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم، ثم يجيء قوم تسبق شهادة أحدهم يمينه ويمينه شهادته

“Sebaik-baik manusia adalah mereka yang hidup pada masaku, kemudian generasi yang datang berikutnya, kemudian generasi yang datang berikutnya lagi, kemudian akan datang orang-orang dimana diantara mereka kesaksiannya mendahului sumpahnya, dan sumpahnya mendahului kesaksiannya”.

Ibrahim (An Nakhoi) berkata : “Mereka memukuli kami karena kesaksian atau sumpah (yang kami lakukan) ketika kami masih kecil”.

Kandungan bab ini :

  1. Adanya wasiat dari Allah untuk menjaga sumpah.
  2. Penjelasan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bahwa sumpah itu dapat melariskan barang dagangan, tapi ia juga dapat menghapus keberkahan usaha itu.
  3. Ancaman berat bagi orang yang selalu bersumpah, baik ketika menjual atau membeli.
  4. Peringatan bahwa dosa itu bisa menjadi besar walaupun faktor yang mendorong untuk melakukannya itu kecil ([1]).
  5. Larangan dan celaan bagi orang yang bersumpah tanpa diminta.
  6. Pujian Rasulullah untuk ketiga generasi atau keempat generasi (sebagaimana tersebut dalam suatu hadits), dan memberitakan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Ibnu Umar Radhiallahu’anhu berkata :“Demi Allah yang jiwa Ibnu Umar berada di tanganNya, seandainya salah seorang memiliki emas sebesar gunung Uhud, lalu dia infakkan di jalan Allah, niscaya Allah tidak akan menerimanya, sebelum ia beriman kepada qadar (ketentuan Allah)”, dan Ibnu Umar menyitir sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam :

الإيمان أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره ” رواه مسلم.

“Iman yaitu hendaklah engkau beriman kepada Allah, Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya, hari akhir, dan beriman kepada Qodar baik dan buruknya.” (HR. Muslim).

Diriwayatkan bahwa Ubadah Ibnu Shomit Radhiallahu’anhu berkata kepada anaknya : “Hai anakku, sungguh kamu tidak akan bisa merasakan lezatnya iman sebelum kamu meyakini bahwa apa yang telah ditakdirkan menimpa dirimu pasti tidak akan meleset, dan apa yang telah ditakdirkan tidak menimpa dirimu pasti tidak akan menimpamu, aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

إن أول ما خلق الله القلم, فقال له : اكتب، فقال : رب وماذا أكتب ؟ قال : اكتب مقادير كل شيء  حتى تقوم الساعة

“Sesungguhnya pertama kali yang diciptakan Allah adalah pena, kemudian Allah berfirman kepadanya : “tulislah”, maka pena itu menjawab : Ya Tuhanku, apa yang mesti aku tulis ?, Allah berfirman : “Tulislah ketentuan segala sesuatu sampai datang hari kiamat”.

hai anakku, aku juga telah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

من مات على غير هذا فليس مني

“Barang siapa yang meninggal dunia tidak dalam keyakinan seperti ini, maka ia tidak tergolong ummatku ”.

Dan dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan :

إن أول ما خلق الله تعالى القلم، فقال له : اكتب، فجرى في تلك الساعة بما هو كائن إلى يوم القيامة

“Sesungguhnya pertama kali yang diciptakan Allah Subhanahu wata’ala adalah pena, kemudian Allah berfirman kepadanya : “tulislah !”, maka ditulislah apa yang terjadi sampai hari kiamat”.

Diriwayatkan oleh Ibnu Wahb bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

فمن لم يؤمن بالقدر خيره وشره أحرقه الله بالنار

“Maka barangsiapa yang tidak beriman kepada qadar (ketentuan Allah) baik dan buruknya, maka Allah pasti akan membakarnya dengan api neraka”.

Diriwayatkan dalam Musnad dan Sunan([1]), dari Ibnu Dailami ia berkata : “Aku datang kepada Ubay bin Kaab, kemudian aku katakan kepadanya : “Ada sesuatu keraguan dalam hatiku tentang masalah qadar, maka ceritakanlah kepadaku tentang suatu hadits, dengan harapan semoga Allah Subhanahu wata’ala menghilangkan keraguan itu dari hatiku”, maka ia berkata :

لو أنفقت مثل جبل أحد ذهبا ما قبله الله منك حتى تؤمن بالقدر وتعلم أن ما أصابك لم يكن ليخطـئك، وما أخطأك لم يكن ليصيبك، ولو مت على غير هذا لكنت من أهل النار

“Seandainya kamu menginfakkan emas sebesar gunung uhud, Allah tidak akan menerimanya darimu, sebelum kamu beriman kepada qadar, dan kamu meyakini bahwa apa yang telah ditakdirkan mengenai dirimu pasti tidak akan meleset, dan apa yang telah ditakdirkan tidak mengenai dirimu pasti tidak akan menimpamu, dan jika kamu mati tidak dalam keyakinan seperti ini, pasti kamu menjadi penghuni  neraka.

Kata Ibnu Dailami selanjutnya : “Lalu aku mendatangi Abdullah bin Mas’ud, Hudzaifah bin Yaman dan Zaid bin Tsabit, semuanya mengucapkan kepadaku hadits yang sama dengan sabda Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam di atas.” (HR. Al Hakim dan dinyatakan shoheh).

Kandungan bab ini :

  1. Keterangan tentang kewajiban beriman kepada qadar.
  2. Keterangan tentang cara beriman kepada qadar.
  3. Amal Ibadah seseorang sia-sia, jika tidak beriman kepada qadar.
  4. Disebutkan bahwa seseorang tidak akan merasakan iman sebelum ia beriman kepada qadar.
  5. Penjelasan bahwa makhluk pertama yang diciptakan Allah yaitu pena.
  6. Diberitahukan dalam hadits bahwa “dengan perintah dari Allah” menulis ketentuan-ketentuan sampai hari kiamat.
  7. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menyatakan bahwa dirinya lepas dari orang yang tidak beriman kepada qadar.
  8. Tradisi para ulama salaf dalam menghilangkan keraguan, yaitu dengan bertanya kepada ulama.

([1])   Musnad di sini maksudnya adalah kitab koleksi hadits yang disusun oleh Imam Ahmad. Dan sunan maksudnya ialah kitab koleksi hadits yang disusun oleh Abu dawud dan Ibnu majah.

Diriwayatkan dalam shaheh Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu ia berkata :

كنا إذا كنا مع النبي في الصلاة، قلنا : السلام على الله من عباده، السلام على فلان وفلان، فقال النبي : لا تقولوا السلام على الله، فإن الله هو السلام.

“Ketika kami melakukan sholat bersama Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam kami pernah mengucapkan :السلام على الله من عباده , dan mengucapkan :السلام على فلان وفلان yang artinya : “semoga keselamatan untuk Allah dari hamba-hambanya”, dan “semoga keselamatan untuk sifulan dari sifulan”, maka Nabi bersabda : “janganlah kamu mengucapkan :السلام على الله yang artinya “keselamatan semoga untuk Allah”, karena sesungguhnya Allah adalah السلام (Maha pemberi keselamatan).

Kandungan  bab ini :

  1. Penjelasan tentang makna Assalam ([1]).
  2. السلام merupakan ucapan selamat.
  3. Hal ini tidak sesuai untuk Allah.
  4. Alasannya, [karena As Salam adalah salah satu dari Asma’ Allah, Dialah yang memberi keselamatan, dan hanya kepadaNya kita memohon keselamatan.
  5. Telah diajarkan kepada para sahabat tentang ucapan penghormatan yang sesuai untuk Allah ([2]).

([1])   As Salam : salah satu Asma’ Allah, yang artinya : Maha Pemberi keselamatan. As Salam berarti juga keselamatan, sebagai doa kepada orang yang diberi ucapan selamat. Karena itu tidak boleh dikatakan “As Salamu Alallah”.

([2])   Ucapan penghormatan yang sesuai untuk Allah yaitu : “At Tahiyyatu lillah, Washshalawatu Wath thoyyibat”.

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

]يعرفون نعمة الله ثم ينكرونها[

“Mereka mengetahui nikmat Allah (tetapi) kemudian mereka mengingkarinya…” (QS. An Nahl, 83).

Dalam menafsiri ayat di atas Mujahid mengatakan bahwa maksudnya adalah kata-kata seseorang : “Ini adalah harta kekayaan yang aku warisi dari nenek moyangku.”

Aun bin Abdullah mengatakan : “Yakni kata mereka ‘kalau bukan karena fulan, tentu tidak akan menjadi begini’.”

Ibnu Qutaibah berkata, menafsiri ayat di atas : “mereka mengatakan : ini adalah sebab syafa’at sembahan-sembahan kami”.

Abul Abbas([1]) setelah mengupas hadits yang diriwayatkan oleh Zaid bin Kholid yang didalamnya terdapat sabda Nabi : “sesungguhnya Allah berfirman : “pagi ini sebagian hambaku ada yang beriman kepadaku dan ada yang kifir …, sebagaimana yang telah disebutkan di atas[2] ia mengatakan :

“Hal ini banyak terdapat dalam Al qur’an maupun As sunnah, Allah Subhanahu wata’ala mencela orang yang menyekutukanNya dengan menisbatkan nikmat yang telah diberikan kepada selainNya”.

Sebagian ulama salaf mengatakan : “yaitu seperti ucapan mereka : anginnya bagus, nahkodanya cerdik pandai, dan sebagainya, yang bisa muncul dari ucapan banyak orang.

Kandungan  bab ini :

  1. Penjelasan tentang firman Allah yang terdapat dalam surat An Nahl, yang menyatakan adanya banyak orang yang mengetahui nikmat Allah tapi mereka mengingkarinya.
  2. Hal itu sering terjadi dalam ucapan banyak orang. (karena itu harus dihindari).
  3. Ucapan seperti ini dianggap sebagai pengingkaran terhadap nikmat Allah.
  4. Adanya dua hal yang kontradiksi (mengetahui nikmat Allah dan mengingkarinya), bisa terjadi dalam diri manusia.

([1])  Abu Al Abbas Ibnu Taimiyah

([2])  Telah disebutkan pada bab 30

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

]ألم تر إلى الذين يزعمون أنهم آمنوا بما أنزل إليك وما أنزل من قبلك يريدون أن يتحاكموا إلى الطاغـوت وقد أمروا أن يكفروا بـه ويريد الشيطان أن يضلهم ضلالا بعيدا وإذا قيل لهم تعالوا إلى ما أنزل الله وإلى الرسول رأيت المنافقين يصدون عند صدودا فكيف إذا أصابتهم مصيبة بما قدمت أيديهم ثم جاءوك يحلفون بالله إن أردنا إلا إحسانا وتوفيقا[

“Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu, dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada Thoghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari Thoghut itu, dan syetan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik itu menghalangi (manusia) dari (mendekati) kamu dengan sekuat-kuatnya. Maka bagaimanakah halnya, apabila mereka ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu seraya bersumpah : “Demi Allah, sekali-kali kami tidak menghendaki selain penyelesain yang baik dan perdamaian yang sempurna. ” (QS. An Nisa, 60).

]وإذا قيل لهم لا تفسدوا في الأرض قالوا إنما نحن مصلحون[.

“Dan apabila dikatakan kepada mereka (orang-orang munafik) : “janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi” ([1]), mereka menjawab : “sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan” (QS. Al Baqarah, 11).

]ولا تفسدوا في الأرض بعد إصلاحها[.

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi ini sesudah Allah memperbaiki” (QS. Al A’raf, 56).

]أ فحكم الجاهلية يبغون ومن أحسن من الله حكما لقوم يوقنون[

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan tidak ada yang lebih baik hukumnya daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin” (QS. Al Maidah, 50)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiallahu’anhu sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“لا يؤمن أحدكم حتى يكون هواه تبعا لما جئت به “.

“Tidaklah beriman (dengan sempurna) seseorang diantara kamu, sebelum keinginan dirinya mengikuti apa yang telah aku bawa (dari Allah)” (Imam Nawawi menyatakan hadits ini shoheh).

As Sya’by menuturkan : “pernah terjadi pertengkaran antara orang munafik dan orang Yahudi. Orang Yahudi itu berkata : “Mari kita  berhakim kepada Muhammad”, karena ia mengetahui bahwa beliau tidak menerima suap. Sedangkan orang munafik tadi berkata : “Mari kita berhakim kepada orang Yahudi”, karena ia tahu bahwa mereka mau menerima suap. Maka bersepakatlah keduanya untuk berhakim kepada seorang dukun di Juhainah, maka turunlah ayat :

ألم تر إلى الذين يزعمون … الآية

Ada pula yang menyatakan bahwa ayat di atas turun berkenaan dengan dua orang yang bertengkar, salah seorang dari mereka berkata : “Mari kita bersama-sama mengadukan kepada Nabi Muhammad, sedangkan yang lainnya mengadukan kepada Ka’ab bin Asyraf”, kemudian keduanya mengadukan perkara mereka kepada Umar. Salah seorang di antara keduanya menjelaskan kepadanya tentang permasalahan yang terjadi, kemudian Umar bertanya kepada orang yang tidak rela dengan keputusan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “Benarkah demikian ?”,  ia menjawab : “Ya, benar”. Akhirnya dihukumlah orang itu oleh Umar dengan dipancung pakai pedang.

Kandungan  :

  1. Penjelasan tentang ayat yang terdapat dalam surat An Nisa’ ([2]), yang didalamnya terdapat keterangan yang bisa membantu untuk memahami makna Thoghut.
  2. Penjelasan tentang ayat yang ada dalam surat Al Baqarah ([3]).
  3. Penjelasan tentang ayat yang terdapat dalam surat Al A’raf ([4])
  4. Penjelasan tentang ayat yang ada dalam surat Al Ma’idah ([5]).
  5. Penjelasan As Sya’by tentang sebab turunnya ayat-yang pertama (yang terdapat dalam surat An Nisa’).
  6. Penjelasan tentang iman yang benar dan iman yang palsu (Iman yang benar, yaitu : berhakim kepada kitab Allah dan sunnah Rasulullah, dan iman  yang  palsu yaitu : mengaku beriman tetapi tidak mau berhakim kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah, bahkan berhakim kepada thoghut).
  7. Kisah Umar dengan orang munafik (bahwa Umar memenggal leher orang munafik tersebut, karena dia tidak rela dengan keputusan Rasulullah].
  8. Seseorang tidak akan beriman (sempurna dan benar) sebelum keinginan dirinya mengikuti tuntunan yang dibawa oleh Rasulullah.

([1])   Maksudnya : janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi dengan kekafiran dan perbuatan maksiat lainnya.

([2])   Ayat ini menunjukkan kewajiban berhakim kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, dan menerima hukum keduanya dengan ridho dan tunduk. Barang siapa yang berhakim kepada selainnya, berarti berhakim kepada thogut, apapun sebutannya. Dan menunjukkan kewajiban mengingkari thoghut, serta menjauhkan diri dan waspada terhadap tipu daya syetan. Dan menunjukkan pula bahwa barangsiapa yang diajak berhakim dengan hukum Allah dan RasulNya haruslah menerima, apabila menolak maka dia adalah munafik, dan apapun dalih yang dikemukakan seperti menghendaki penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna bukanlah merupakan alasan baginya untuk menerima selain hukum Allah dan RasulNya.

([3])  Ayat ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang mengajak berhukum kepada selain hukum yang diturunkan Allah, maka ia telah berbuat kerusakan yang sangat berat di muka bumi, dan dalih mengadakan perbaikan bukan alasan sama sekali untuk meninggalkan hukumNya, menunjukkan pula bahwa orang yang sakit hatinya akan memutar balikkan nilai-nilai, di mana yang hak dijadikan batil dan yang batil dijadikan hak.

([4])  Ayat ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang mengajak berhukum kepada selain hukum Allah, maka ia telah berbuat kerusakan yang sangat berat di muka bumi, dan menunjukkan bahwa perbaikan di muka bumi adalah dengan menerapkan hukum yang diturunkan Allah.

([5])  Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang menghendaki selain hukum Allah, berarti ia menghendaki hukum jahiliyah.

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

]وهم يكفرون بالرحمن قل هو ربي لا إله إلا هو عليه توكلت وإليه متاب[

“Dan mereka kafir (ingkar) kepada Ar Rahman (Dzat Yang Maha Pengasih). Katakanlah : “Dia adalah Tuhanku, tiada sesembahan yang hak selain dia, hanya kepada Nya aku bertawakkal dan hanya kepadaNya aku bertaubat.” (QS. Ar Ra’d, 30).

Diriwayatkan dalam shoheh Bukhari, bahwa Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’anhu berkata :

“حدثوا الناس بما يعرفون، أتريدون أن يكذب الله ورسوله ؟ “.

“Berbicaralah kepada orang-orang dengan apa yang difahami oleh mereka, apakah kalian menginginkan Allah dan RasulNya didustakan ?”.

Abdur Razak meriwayatkan dari Ma’mar dari Ibnu Thowus dari bapaknya dari Ibnu Abbas, bahwa ia melihat seseorang terkejut ketika mendengar hadits Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam yang berkenaan dengan sifat-sifat Allah, karena merasa keberatan dengan hal tersebut, maka Ibnu Abbas berkata :

“ما فرق هؤلاء ؟ يجدون رقة عند محكمه ويهلكوه عند متشابه”.

“Apa yang dikhawatirkan oleh mereka itu ? mereka mau mendengar dan menerima ketika dibacakan ayat-ayat yang muhkamat (jelas pengertiannya), tapi mereka keberatan untuk menerimanya ketika dibacakan ayat-ayat yang mutasyabihat (sulit difahami) [1].

Orang-orang Quraisy ketika mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menyebut “ArRahman”, mereka mengingkarinya, maka terhadap mereka itu, Allah Subhanahu wata’ala menurunkan firmanNya : [وهم يكفرون بالرحمن] “Dan mereka kafir terhadap Ar Rahman”.

Kandungan bab ini :

  1. Dinyatakan tidak beriman, karena mengingkari (menolak) sebagian dari Asma’ dan Sifat Allah.
  2. Penjelasan tentang ayat yang terdapat dalam surat Ar Ra’d([2]).
  3. Tidak dibenarkan menyampaikan kepada manusia hal-hal yang tidak difahami oleh mereka.
  4. Hal itu disebabkan karena bisa mengakibatkan Allah dan RasulNya didustakan, meskipun ia tidak bermaksud demikian.
  5. Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu menolak sikap orang yang merasa keberatan ketika dibacakan sebuah hadits yang berkenaan dengan sifat Allah dan menyatakan bahwa sikap tersebut bisa mencelakakan dirinya.

([1])  Perkataan Ibnu Abbas disebutkan penulis setelah perkataan Ali yang menyatakan bahwa seyogyanya tidak usah dituturkan kepada orang-orang apa yang tidak mereka mengerti, adalah untuk menunjukkan bahwa nash-nash Al Qur’an maupun hadits yang berkenaan dengan sifat Allah tidak termasuk hal tersebut, bahkan perlu pula disebutkan dan ditegaskan, karena keberatan sebagian orang akan hal tersebut bukanlah menjadi faktor penghalang untuk menyebutkannya, sebab para ulama semenjak zaman dahulu masih membacakan ayat-ayat dan hadits-hadits yang berkenaan dengan sifat Allah dihadapan orang-orang umum maupun khusus.

([2])  Ayat ini menunjukkan kewajiban mengimani segala Asma’ dan Sifat Allah, dan mengingkari sesuatu darinya adalah kufur.

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

ولله الأسماء الحسنى فادعوه بها وذروا الذين يلحدون في أسمائه سيجزون ما كانوا يعملون

“Hanya milik Allah lah Al Asma’ Al Husna (Nama-nama yang baik), maka berdoalah kepadaNya dengan menyebut Asma Nya itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyelewengkan Asma Nya. Mereka nanti pasti akan mendapat balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al A’raf, 180).

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari  Ibnu Abbas tentang maksud firman Allah [يلحدون في أسمائه] yang artinya : “menyelewengkan Asma Nya” ia mengatakan, bahwa maksudnya adalah : “berbuat syirik (dalam Asma Nya), yaitu orang-orang yang menjadikan Asma-asma Allah untuk berhala mereka, seperti nama Al Lata yang berasal dari kata Al Ilah, dan Al Uzza dari kata Al Aziz”.

Dan diriwayatkan dari Al A’masy ([1]) dalam menafsirkan ayat tersebut ia mengatakan: “Mereka memasukkan ke dalam Asma Nya nama-nama yang bukan dari Asma Nya”.

Kandungan bab ini :

  1. Wajib menetapkan Asma Allah [sesuai dengan keagungan dan kemuliaanNya].
  2. Semua Asma Allah  adalah husna (Maha Indah).
  3. Diperintahkan untuk berdoa dengan menyebut Asma husna Nya.
  4. Diperintahkan meninggalkan orang-orang yang menentang Asma-asma Nya dan menyelewengkannya.
  5. Penjelasan tentang bentuk penyelewengan Asma Allah.
  6. Ancaman terhadap  orang-orang yang menyelewengkan Asma Al Husna Allah dari kebenaran.

([1])   Abu Muhammad : Sulaiman bin Mahran Al Asdi, digelari Al A’masy. Salah seorang tabi’in ahli tafsir, hadits dan faraidh, dan banyak meriwayatkan hadits . dilahirkan th. 61 H (681 M), dan meninggal th. 147 H (765 M).