Archive for the ‘Kristologi’ Category

Nama ALLAH SWT pada sepotong dagingMisi Yesus menurut Injil

-Yesus hanya diutus untuk umat Israel
Matius 10:5-6 Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: ?Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.

Matius 15:24 Jawab Yesus: ?Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.?

-Dihari kiamat Yesus hanya akan menghakimi 12 suku Israel
Matius 19:28 Kata Yesus kepada mereka: ?Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Misi Nabi Isa as menurut Al-Qur’an

– Nabi Isa hanya diutus untuk Bani Israil
Qs. Ali Imran : 45. (Ingatlah), ketika Malaikat berkata: ?Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).
Qs. Ali Imran : 49. Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israel

Qs Ash-Shaff :6. Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: ?Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu,

– Dihari kiamat Nabi Isa as hanya akan menjadi saksi terhadap bani Israel
Qs. An-Nisaa? :159. Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka ( Bani Israel ).

Kesimpulan
Misi Nabi Isa as/Yesus menurut Injil dan Al-Qur’an
1. Isa as/Yesus diutus hanya untuk bangsa Israel
2. Dihari kiamat Isa as / Yesus hanya akan menghakimi suku Bani Israel
3. Yang berhak menjadi pengikut Yesus hanya orang-orang Israel
4. Orang-orang diluar bangsa Israel tidak dikenal Yesus

Bagaimana pandangan Kristen tentang perintah Yesus ?
Kristen mengikuti ajaran Paulus dan menyimpang dari perintah Yesus. Yesus melarang murid-muridnya pergi ke Asia dan kebangsa-bangsa lain untuk menyebarkan ajarannya, tetapi Paulus malah berbuat sebaliknya.

Dalam Matius 10:5-6 dengan jelas Yesus mengatakan ?Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain …?. Tapi apa yang kita saksikan di lapangan saat ini kenyataannya sungguh berbeda. Kasus kristenisasi yang terjadi di negeri kita sangat gencar. Metode yang mereka gunakan pun sangat beragam, mulai dari pengamen di bus-bus hingga metode D3 (Dipacari, Dihamili, Dikristenkan).

Umat Kristen tidak mengikuti Yesus tapi mengikuti ajaran Paulus. Paulus tak lebih dari seorang penipu yang mengaku sebagai murid Yesus. Bahkan mengaku pula mendapat wahyu dari Tuhan. Dia menyatakan dirinya sebagai Rasul.

Kisah Para Rasul 18:6 …Mulai dari sekarang aku akan pergi kepada bangsa-bangsa lain.?

Kisah Para Rasul 22:21 Tetapi kata Tuhan kepadaku: Pergilah, sebab Aku akan mengutus engkau jauh dari sini kepada bangsa-bangsa lain.?

Roma 11:13 Aku berkata kepada kamu, hai bangsa-bangsa bukan Yahudi. Justru karena aku adalah rasul untuk bangsa-bangsa bukan Yahudi, aku menganggap hal itu kemuliaan pelayananku,

Roma 1:5 Dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya.

Roma 15:18 Sebab aku tidak akan berani berkata-kata tentang sesuatu yang lain, kecuali tentang apa yang telah dikerjakan Kristus olehku, yaitu untuk memimpin bangsa-bangsa lain kepada ketaatan, oleh perkataan dan perbuatan,

I Tesalonika 2:16 karena mereka mau menghalang-halangi kami memberitakan firman kepada bangsa-bangsa lain untuk keselamatan mereka.

Bagaimana tentang Amanat Agung ?
Matius 28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,.

Umat Kristen berpegang pada Amanat Agung dalam mendakwahkan agama Kristen. Ayat diatas dikatakan oleh Yesus setelah mati disalib. Kalau teks ayat diatas dianggap benar maka bertentangan dengan kata Yesus waktu sebelum disalib dalam Matius 10:5 dan Matius 15:24 (telah disebutkan diatas) dimana Yesus melarang murid-muridnya pergi ke bangsa lain tetapi hanya boleh pergi ke umat Israel yang hilang.

Ini adalah contoh ayat-ayat yang telah diubah oleh Gereja dengan tujuan agar sesuai dengan kepentingan mereka. Untuk menghindari pencemaran Yesus yang dianggap tidak konsekwen maka dirombakklah kata-kata pada Matius 28:19. Yang seharusnya adalah ” Maka pergilah kebangsa muridku baptiskanlah……”. Berubah menjadi ?Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah…..?. Jadi sesungguhnya Yesus memerintah murid-muridnya untuk pergi ke bangsa murid-murid Yesus yaitu 12 suku bangsa Israel bukan keseluruh bangsa.

Perombakan kata-kata pada Matius 28:19 ada kemungkinan untuk melegalisir perkataan Paulus bahwa Paulus akan mengajarkan ajarannya bahwa Yesus adalah Kristus kepada bangsa-bangsa lain diluar bangsa Israel seperti yang dikatakan Paulus pada :

Kisah rasul 18:5-6 Ketika Silas dan Timotius datang dari Makedonia, Paulus dengan sepenuhnya dapat memberitakan firman, di mana ia memberi kesaksian kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesus adalah Mesias. Tetapi ketika orang-orang itu memusuhi dia dan menghujat, ia mengebaskan debu dari pakaiannya dan berkata kepada mereka: ?Biarlah darahmu tertumpah ke atas kepalamu sendiri; aku bersih, tidak bersalah. Mulai dari sekarang aku akan pergi kepada bangsa-bangsa lain.?

Jadi, menurut Al-Quran ajaran Yesus adalah hanya untuk Bani Israel. Menurut Injil pun demikian, bahwa risalah yang diemban Yesus hanya untuk bani Israel saja. Tapi surat-surat yang ditulis oleh Paulus (yang dijadikan bagian dalam teks Kitab Suci/Bibel) sangat bertentangan dengan ucapan Yesus.

Ironisnya, ajaran yang diikuti oleh umat Kristen saat ini adalah apa yang diucapkan Paulus, bukan Yesus. Lalu pengikut siapakah mereka sesungguhnya ? Sudah jelas, umat Kristen bukan pengikut Yesus.

Sumber : irenahandono.or.id

https://tausyah.wordpress.com

Name of Allah Almighty on stoneBibel artinya kumpulan kitab-kitab. Kata Bibel berasal dari bahasa Yunani ?Biblia? (jamak, buku-buku). Istilah Bible di Indonesia diganti dengan Alkitab yang diartikan ?tulisan-tulisan?. Bibel yang diakui namanya ?kanonik?, sedang yang tidak diakui atau tidak boleh dibaca oleh orang Kristen disebut ?apokripa?. Ada Bibel yang tidak diakui oleh Protestan tetapi diakui oleh Katolik namanya ?deuterokanonika?.

Kata orang Kristen, Bibel adalah wahyu Allah kepada manusia yang terdiri dari 66 buku yang disatukan dan membentuk satu buku. 22 buku dari Bibel itu adalah sebagaian besar berisi sejarah, 21 buku sebagian besar nubuatan, 21 dalam bentuk surat, dan 2 kebanyakan mengenai syair.

Bibel paling sedikit ditulis 30 orang pengarang yakni para raja, petani, ahli hukum, jendral, nelayan, pendeta, para imam, pemingut cukai, dokter, beberapa orang kaya dan beberapa orang miskin, dalam kurun waktu lebih dari 1600 tahun. ( Penuntun Dasar Untuk Pemahaman Alkitab, oleh Harold E. Metcalf, Evangelis, Pendeta, Pengarang. Atlanta, Georgia, hal 7) Istilah Bibel untuk dinegara-negara yang penduduknya Islam sering diganti dengan kata ?Alkitab?. Mereka mengadopsi istilah ini mengambil dari Qs 2:159, 174.

Apa perjanjian Lama ? Perjanjian Lama adalah bagian dari Bibel yang terdiri dari buku-buku Taurat, sejarah bangsa Israel pertama, sejarah bangsa Israel kedua, sastra, kisah nabi-nabi Israel. Perjanjian Lama yang pertama berbahasa Ibrani. Apa perjanjian Baru ? Perjanjian Baru adalah bagian dari Bibel yang sebagian besar ditulis dalam bahasa Yunani, kecuali Injil Matius dalam bahasa Ibrani, yang terdiri dari Injil, Kisah rasul, surat-surat Paulus, surat-surat murid Yesus dan wahyu.

Perjanjian Baru ( New Testament ) sering disebut Injil. Tetapi kata Injil ini sebetulnya tidak terdapat dalam Bibel awal, kata Injil mengambil dari kata Injil dalam Al-Qur?an.

Dalam bahasa aslinya Yunani, EVAYYEYLOV, dalam bahasa Inggris, GOOD NEWS, GOSPELS. Penulisan Perjanjian Baru yang ada sekarang ini dilakukan tiga ratus tahun kemudian sepeninggal Yesus, yaitu pada waktu orang-orang Kristen dibawah kekuasaan Kaisar Romawi Konstantin. Konstantin mengambil keuntungan dari pengaruh dan arti penting Kristus yang besar.

Dan dalam melakukan itu, dia telah membentuk wajah Kristus seperti yang kita kenal sekarang. Karena Konstantin meningkatkan status Yesus hampir empat abad setelah kematian Yesus, ribuan dokumen yang mencacat kehidupannya sebagai manusia biasa sudah terlanjur ada. Untuk menulis ulang buku-buku sejarah, Konstantin tahu bahwa ia perlu mengambil sebuah langkah berani. Dari sinilah timbul sebuah momen paling menentukan dalam sejarah Kristen.

Konstantin menitahkan dan membiayai penyusunan sebuah Bibel baru, yang meniadakan semua kitab Injil yang berbicara tentang segala perilaku “manusiawi Yesus”, serta memasukkan kitab-kitab Injil yang membuatnya seakan ” Tuhan “. Kitab-kitab Injil terdahulu dianggap ” melanggar hukum “, lalu dikumpulkan dan ” dibakar “.

Siapapun yang memilih kitab-kitab Injil yang terlarang ( apokripa ) dan bukannya versi Konstantin akan dianggap sebagai kaum ” bidah ” , heretic. Dalam buku Introduksi Perjanjian Baru, oleh Pdt. Ola Tulluan Ph.D. YPPII Malang, hal 21 mengatakan : Dari semua penulis kitab Injil tidak ada yang mencatat namanya sendiri dalam judul kitab-kitabnya. Judul itu ditambahkan kemudian.

Bagaimana bagian-bagian dari Bibel ?
PERJANJIAN LAMA I. TAURAT Kejadian (Genesis), Keluaran (Exodus), Imamat (Leviticus), Bilangan (Numbers), Ulangan (Deuteronomy) II. KITAB-KITAB SEJARAH Sejarah pertama Yosua (Joshua), Hakim-hakim (Judges), Rut (Ruth), 1Samuel (1Samuel), 2Samuel (2Samuel), 1Raja-raja (1Kings), 2Raja-raja (2Kings) Sejarah kedua 1Tawarikh (1Chronicles), 2Tawarikh (2Chronicles), Ezra (Ezra), Nehemia (Nehemiah), Ester (Esther) III. SASTRA Ayub (Job), Mazmur (Pasalms), Amzal (Provebs), Pengkhotbah (Ecclesiastes), Kidung Agung (Song of Song) IV. KITAB-KITAB NUBUAT Nubuat nabi-nabi besar Yesaya (Isaiah), Yeremia (Jeremiah), Ratapan (Lementations), Yehezkiel (Ezekiel), Daniel (Daniel) Nubuat nabi-nabi kecil Hosea (Hosea), Yoel (Joel), Amos (Amos), Obaja (Obadiah), Yunus (Jonah), Mikha(Micah), Nahum (Nahum), Habakuk (Habakuk), Zefanya (Zephaniah), Hagai (Haggai), Zakharia (Zechariah), Maleakhi (Malachi) DEUTEROKANONIKA (Khusus Bibel Katolik Tobit, Yud, Yudit, Tambahan kitab Ester, Kebijaksanaan Salomo, Yesus bin Sirakh, Barukh, Tambahan Kitab Daniel, 1Makabe, 2Makabe PERJANJIAN BARU INJIL Matius (Mattew), Markus (Mark), Lukas (Luke), Yohanes (John) KISAH RASUL Kisah rasul (Acts) SURAT-SURAT PAULUS Surat-surat Paulus kepada jemaat dikota-kota Roma (Romas), 1Korintus (1Chorinthians), 2Korintus (2Chorinthians), Galatia (Gaalatians), Efesus (Ephisians), Filipi (Philippians), Kolose (Colossians), 1Tesalonika (1Thessalonians), 2Tesalonika (2Thessalonians) Surat-surat Paulus kepada pribadi 1Timotius (1Timothy), 2Timotius (2Timothy), Titus (Titus), Filemon (Philemon), Ibrani (Hebrews) SURAT MURID-MURID YESUS Yakobus (James), 1Petrus (1Peter), 2Petrus (2Peter), 1Yohanes (1John), 2Yohanes (2John), 3Yohanes (3John), Yudas (Jude) WAHYU Wahyu (Revelation)

Mengapa Bibel diganti nama Alkitab ?

Di negara-negara Barat (Kristen ) istilah Alkitab tidak dikenal, mereka hanya mengenal istilah Bible. Bibel sebagai alkitab hanya terdapat dinegara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Perubahan istilah ini ada tujuannya yaitu untuk menyamakan kedudukan Bibel dengan Al-Qur’an yang juga sering disebut Alkitab.

Orang-orang Kristen yang telah belajar Islamologi dalam mendangkalkan aqidah umat Islam dengan rujukan ayat Al-qur?an yang berkaitan dengan istilah Alkitab untuk menakut-nakuti. Contohnya seperti dibawah ini.

Qs 2/159.Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati.

Qs 2/174.Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan menyucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.

Apa kata al-Qur?an tentang Bibel ?

Bibel sudah dikarang manusia Qs 2/79. Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: ?Ini dari Allah?, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan. (Qs 4:46 ; 6:91) Bibel sudah dirubah-rubah firmannya Qs 2/75.Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubah-nya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? (Qs 5:13, 14, 41; 5:41; 9:9; Yer 8:8; Yer 35 12-19; Kej 22:2; Ul 28:15-68 ; Kel 20:11 >< Ul 5:5)

Peringatan Al-Quran cukuplah jelas bahwa Injil maupun Taurat yang terdapat dalam Bibel sekarang bukanlah Kitab Suci yang murni firman dari Allah SWT, tapi sudah banyak perubahan, tambahan dan penghilangan ayat-ayat didalamnya. Insha Allah pada edisi berikutnya kita akan membahas tentang : – Apa buktinya bahwa Bibel sudah dikarang manusia ? – Apa buktinya kalau firman Allah diubah ? – Adakah dalam Bibel ayat-ayat dengan kata-kata buruk (porno)? – Adakah dalam Bibel ayat-ayat yang bertentangan ? – Adakah ayat dalam Bibel bertentangan dengan ilmu pengetahuan ?


https://tausyah.wordpress.com/

Nama ALLAH dan Muhammad Saw Pada daunAda empat Injil yang diterima dan digunakan oleh umat Kristen saat ini yaitu :

1. Injil Matius
2. Injil Markus
3. Injil Lukas
4. Injil Yohanes

Sebelumnya, pada masa-masa awal perkembangan Kristen, Injil tidak hanya berjumlah empat tersebut di atas, melainkan puluhan bahkan ratusan, karena pada saat itu sudah terdapat banyak sekte-sekte Kristen dan setiap sekte memiliki Injil yang berbeda dengan Injil sekte-sekte Kristen lainnya.

Setiap sekte mengklaim Injilnyalah yang sesuai dengan ajaran sejati Yesus, namun tidak ada satu injilpun yang betul-betul mencatat ajaran Yesus secara akurat dan pasti, tidak ada satu Injilpun yang berisi secara pasti apa saja yang disabdakan oleh Yesus, semua telah bercampur dengan penafsiran dan dugaan.

Hal di atas bukan pendapat seorang Muslim semata yang ingin menyampaikan bahwa Injil-Injil yang ada sekarang ini hanyalah berupa tafsiran atas ajaran Yesus dan kisah Yesus, namun hal tersebut di atas telah diakui oleh pihak intelektual Kristen sendiri seperti :

Washington Gladden, dalam bukunya Who Wrote the Bible, page 248 :

?Tidak seorangpun di bumi yang tahu, atau akan tahu, apa kata-kata sebenarnya yang diucap-kan oleh Yesus dalam khutbahnya di atas bukit, dalam pembicaraannya di pinggir mata air, dalam pesan-pesan terakhirnya kepada para muridnya?..dst?dst.?

Atau seperti pengakuan blak-blakan seorang Professor bernama J. Volkert dari St. mary?s Theolohical College :

?Harus diakui bahwa kadang-kadang para penulis Injil menambahkan penafsiran theologis mereka sendiri kepada ucapan Yesus. Jelas bahwa kita tidak bisa berharap ucapan Yesus dihasilkan kata demi kata?kita tidak bisa berharap reproduksi ajaib kata-kata yang pasti dari nabi kita yang suci. Selain itu, kita tidak memiliki kata-kata-nya sebagaimana yang diucapkan-nya dalam bahasa Ibunya.?

Oleh karena banyak Injil yang terdapat dalam masyarakat Kristen pada masa-masa awal perkembangannya, dan oleh karena masing-masing sekte mengklaim Injilnya paling sesuai dengan ajaran Yesus, maka hal ini dipandang akan megakibatkan perpecahan dalam tubuh Kristen itu sendiri yang pada akhirnya dapat menghambat perkembangan agama Kristen, maka diputuskan untuk memberlakukan Injil-Injil terntentu saja namun yang dapat mengakomodasi semua sekte.

Singkat cerita, diputuskanlah empat injil yang diterima ?kanon- oleh gereja yang diharapkan dapat mengakomodasi semua sekte yang ada, walaupun hal tersebut masih jauh dari harapan sekte-sekte yang Injil-nya ditolak -apokrif-, namun gereja yang berkuasa akhirnya berhasil menjadikan semua umat Kristen menggunakan empat Injil yang telah ditentukan untuk digunakan secara bersama-sama.

Matius, markus, Lukas dan Yohanes

Ke-4 Injil kanonik tersebut adalah Injil yang ?dikarang? oleh Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, dikatakan ?dikarang? karena mereka tidak menulis Injil berdasarkan kata-kata Yesus kata-demi-kata atau sebagai saksi langsung, melainkan terinspirasi oleh kisah-kisah Yesus yang beredar di masyarakat pada saat itu baik berupa tulisan maupun lisan.

Seperti yang ditulis oleh seorang pengarang Injil yang bernama Lukas dalam Injil karangannya :
Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman. Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu. Injil Lukas 1:1-3.

Menurut Lukas sendiri, bahwa Injil karangannya adalah berdasarkan berita-berita yang beredar di masyarakat yang sampai kepada dirinya dan diselidikinya dengan seksama lalu diklaimnya sebagai suatu kebenaran.

Dari pernyataan Lukas sendiri dalam Injilnya 1:1-3 yang menyatakan ?seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman? , menunjukkan bahwa dia bukanlah murid Yesus dan bukan saksi langsung atas ajaran Yesus, dia hanya menerima berita dari orang-orang yang menerima berita dari saksi mata dan murid-murid Yesus.

Namun, orang-orang Kristen awam mengklaim, bahwa ke-4 pengarang Injil adalah saksi mata kisah-kisah Yesus sekaligus sebagai murid-murid Yesus. Orang Kristen awam menyatakan bahwa penulisan Injil adalah atas dasar bimbingan Roh Kudus sehingga akan terjamin kebenarannya, padahal para pengarang Injil sendiri tidak pernah menyatakan bahwa Injilnya dikarang atas bimbingan Roh Kudus.

Murid dan Bimbingan Roh Kudus

Mengapa perlu menyatakan bahwa ke-4 Injil kanonik yang sekarang ini ada ditulis oleh empat orang murid Yesus dan atas bimbingan Roh Kudus ?

Jawabannya adalah untuk memberikan pemahaman kepada umat Kristen bahwa Injil-Injil yang dulu berjumlah banyak selain yang empat adalah Injil-Injil yang tidak dikarang oleh murid-murid Yesus atau saksi saksi langsung dan bukan atas bimbingan Roh Kudus sehingga Injil-Injil tersebut selain yang empat tidak dapat dipertanggung-jawabkan kebenarannya.

Jawaban yang lain adalah agar ke-4 Injil yang ditentukan oleh gereja untuk dikanon ? diterima – diyakini sebagai Injil-Injil yang merepresentasikan ajaran Yesus secara akurat.

Kita sebagai muslim yang awam terhadap sejarah Injil-Injil kanonik ?diterima- dan Injil-Injil apokrif ?ditolak- sebetulnya dapat menguji dengan cara yang awam pula yaitu dengan mengkritisi bukti-bukti yang ada dalam ke-4 Injil yang selalu mereka dakwahkan kepada umat Islam dengan pertanyaan awal ?apa benar Injil-Injil yang didakwahkan kepada kita oleh para misionaris adalah Injil-Injil yang ditulis oleh para murid Yesus dan atas bimbingan Roh Kudus ??.

4 VS 1

Di dalam Injil karangan Yohanes, terdapat ayat yang sangat penting, sangat menentukan keselamatan seorang Kristen yang mengaku sebagai pengikut Yesus dan sekaligus sebagai jaminan nyata dari Yesus untuk mencapai kese-lamatan, ayat tersebut adalah :

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Injil Yohanes 14:6

Ayat tersebut mengisahkan, bahwa Yesus di hadapan murid-muridnya -secara konteks Yudas tidak ada- menyampaikan bahwa dirinya adalah jalan dan kebenaran, dan tidak ada seorangpun yang dapat selamat sampai kepada Bapa/sorga kecuali melaui dirinya.

Tentu saja ayat ini pantas jikalau dikatakan sebagai ayat yang MAHA penting dan sebagai ayat emas bagi umat Kristiani, karena tidak ada yang MAHA penting bagi manusia kecuali keselamatan hingga dapat mencapai sorga.

Tetapi sesuatu yang MAHA penting tersebut, ternyata tidak ditulis oleh ke-3 pengarang Injil yang lain yaitu Matius, Markus dan Lukas. Bukankah telah diklaim bahwa semua penulis Injil adalah murid-murid Yesus dan bukankah semua murid Yesus ada dalam wejangan Yesus tersebut ?

Tentu saja hal ini mengundang pertanyaan yang sangat logis, benarkah para penulis Injil tersebut murid-murid Yesus dan atas bimbingan Roh Kudus dalam mengarang Injilnya ?.

Apakah ke-3 penulis Injil yang lain lupa bahwa Yesus penah menyampaikan hal yang maha penting tersebut ? bukankah telah diklaim mereka mendapat bimbingan Roh Kudus dalam mengarang Injilnya ? apakah mungkin Roh Kudus yang alpha dalam membimbing sehingga lupa tentang wejangan Yesus yang maha penting tersebut ?.

Atau jangan-jangan klaim yang mengatakan mereka sebagai murid-murid Yesus dan atas bimbingan Roh Kudus adalah klaim kosong agar mereka meyakini saja akan kebenaran dan keabsahan ke-4 Injil tersebut di atas ?.

Atau jangan-jangan Yohanes hanya mengarang ayat yang diatasnamakan sebagai sabda Yesus agar manusia mengikuti ajaran Yesus dan tidak mengikuti ajaran yang lain ?

Dan masih banyak pertanyaan yang sangat logis dan kitabiah tentang ayat tersebut, dan apabila dijawab hanya akan melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru yang pada akhirnya tidak akan bisa dijawab kecuali dengan doktrin.

Pertanyaan pertayaan tersebut adalah sangat wajar dan bahkan harus dipertanyakan untuk menguji kebenaran sebuah ajaran, apakah ajaran tersebut benar-benar dari ajaran Yesus atau hanya berupa tafsiran atas berita yang berkembang di masyarakat atau hanya sekedar ajaran Yohanes belaka. Apalagi Injil Yohanes dikarang setelah Yohanes berumur 90 tahun.

Mari kita simpulkan sementara informasi-informasi seputar ayat tersebut :

– Ditulis oleh Yohanes saja
– Ayat tersebut MAHA penting
– Ke-3 pengarang yang lain alpha
– Ke-4 pengarang diklaim murid Yesus
– Ke-4 Injil dikarang atas bimbingan Roh Kudus
– Ayat tersebut MAHA penting
– Ayat tersebut disampaikan kepada semua murid

Kesimpulan sementara, adalah mustahil ke-4 penulis Injil adalah murid-murid Yesus dan saksi langsung serta mendapat bimbingan Roh Kudus dalam mengarang Injilnya.

Yesus Naik Keledai

Di dalam ke-4 Injil terdapat ayat yang secara esensial tidaklah begitu penting kecuali sekedar sebagai pengetahuan saja, ayat tersebut adalah kisah Yesus naik keledai :

Mereka membawa keledai betina itu bersama anaknya, lalu mengalasinya dengan pakaian mereka dan Yesus pun naik ke atasnya. Injil matius 21:7

Lalu mereka membawa keledai itu kepada Yesus, dan mengalasinya dengan pakaian mereka, kemudian Yesus naik ke atasnya. Markus 11:7

Mereka membawa keledai itu kepada Yesus, lalu mengalasinya dengan pakaian mereka dan menolong Yesus naik ke atasnya. Lukas 19:35

Yesus menemukan seekor keledai muda lalu Ia naik ke atasnya? Yohanes 12:14

Kalau kita sedikit kritis, kita bisa bertanya : apa perlunya semua pengarang Injil menuliskan kisah Yesus menaiki keledai sementara Kisah Yesus memberikan petunjuk bagi keselamatan manusia justru hanya Yohanes saja yang menuliskannya ?.

Walaupun kisah Yesus menaiki keledai untuk menunjukkan Yesus sebagai nabi yang dinubuatkan, namun mengisahkan Yesus naik keladai dan menghilangkan petunjuk Yesus tentang keselamatan manusia adalah tidak bisa diterima bila mereka diklaim sebagai murid Yesus dan mendapat bimbingan Roh Kudus kecuali menambahkan satu predikat kepada mereka bahwa mereka bukanlah orang-orang amanat atau dapat dipercaya karangannya.

Jika predikat bukan orang-orang amanat diberikan kepada ke-3 pengarang Injil selain Yohanes, maka mustahil ke-3 Injil karangan mereka dapat dijadikan pegangan dalam beragama.

Tetapi, kalau mereka bukan murid Yesus dan tidak mendapatkan bimbingan Roh Kudus dalam mengarang Injil-Injilnya, maka meyakini ke-3 Injil sebagai kitab yang absah dan benar sesuai ajaran sejati Yesus adalah hanya berdasarkan doktrin gereja belaka yang penuh spekulasi.

Sehingga, bisa jadi Injil-Injil yang pada masa awal-awal perkembangan Kristen yang dianggap sesat dan ditolak oleh gereja mula-mula justru sesuai dengan ajaran sejati Yesus, hanya saja tidak sesuai dengan doktrin gereja yang berkuasa saat itu.

Apalagi bila ditinjau dari bahasa murid-murid Yesus dan bahasa Yesus sendiri yang menggunakan bahasa Aram sebagai bahasa dakwah dan bahasa sehari-hari, sangat mustahil bila ke-4 pengarang Injil dikatakan sebagai murid-murid Yesus, jika ke-4 Injil justru ditulis tidak dalam bahasa mereka melainkan ditulis dengan bahasa Yunani yaitu bahasa tidak pernah mereka gunakan, bagaimana mungkin ?.

Para pakar tentang alkitab

Mari kita simak apa yang difirmankan Allah SWT di dalam al-Qur?an :

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya:”Ini dari Allah”, QS. 2:79

Itu adalah petunjuk Allah SWT tentang al-Kitab yang telah bercampur, adalah tidak adil bila disampaikan dari pihak muslim saja, karena akan dituduh semua itu adalah karena adanya tendensi kebencian Islam terhadap Kristen, untuk itu marilah kita kutip pendapat-pendapat para pakar Kristen tentang kitab mereka sendiri :

1. James Russel Lowel.
Secara perlahan Injil manusia itu ditulis bukan pada lembaran-lembaran kertas atau lempengan-lempengan batu, setiap zaman, setiap kelurga, menambahkan satu ayat kepadanya, teks-teks tentang keputusasaan atau pengharapan, kebahagiaan atau kesedihan.

2. Fauste Sarjana Kristen thn 400-an M.
Kitab-kitab yang disusun oleh para penulis Injil ditulis jauh setelah masa murid-murid Yesus oleh beberapa orang yang tidak jelas, yang karena kwatir bahwa dunia tidak akan menghargai hubungan mereka dengan persoalan-persoalan yang bisa jadi mereka tidk tahu, telah menerbitkannya di bawah nama para murid Yesus.

3. James Hastings, A Dictionary of Christ.
Ibrani atau bukan, tidak ada keraguan baik dari pertimbangan-pertimbangan apriori maupun dari bukti internal tentang Injil-Injil berbahasa Yunani bahwa telah berlangsung suatu rekaan dari pihak gereja tentang suatu Injil dalam bahasa Ibrani seperti yang kemudian secara umum diucapkan di daerah Yudea.

Dan masih banyak pendapat dari pakar-pakar Kristen tentang kitab mereka yang menyatakan bahwa Injil-Injil yang sekarang digunakan tidak mungkin ditulis oleh murid-murid Yesus seniri. (al-islahonline.com)

https://tausyah.wordpress.com

Tumbuhan Berbentuk Asma ALLAHSalah satu nama Indah Allah (Asmaul Husna) adalah yang Maha Adil (Al-‘Adl) yaitu Allah SWT selalu berlaku adil kepada hamba-Nya dalam segala hal, dalam perkataan-Nya, perbuatan-Nya, qadla dan qadar-Nya, perintah dan larangan-Nya, pemberian pahala dan penjatuhan siksa-Nya, Allah senantiasa berada di atas Shirathal Mustaqim. Seluruh berita yang datang dari-Nya pasti benar, semua keputusan-Nya pasti adil, seluruh perintah-Nya adalah demi kemaslahatan dan semua larangan-Nya adalah keburukan, pahala bagi mereka yang berhak menerimanya adalah keuta-maan-Nya –fadlilah-Nya– . Sedangkan rahmat dan siksa-Nya bagi mereka yang berhak adalah dari keadilan dan hikma-Nya.

Allah SWT pasti berlaku Adil sejak dahulu hingga pada hari penghakiman nanti, tidak ada seorang hambapun yang di dzalimi oleh Allah SWT :

Tiap-tiap umat mempunyai rasul, maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikitpun) tidak dianiaya. QS. 10:47

Namun kita akan melihat kisah dalam Alkitab yang menggambarkan Allah SWT berlaku sangat tidak adil terhadap hamba-Nya, ketidak-adilan Allah yang dikisahkan Alkitab tersebut sangat bertentangan dengan nilai keadilan manapun dan dengan sifat Allah yang Maha Adil. Tentu saja kita jadi bertanya, apakah mungkin Allah tidak berlaku Adil atau apakah mungkin kisah yang dalam Alkitab tersebut yang PALSU ???

Dikisahkan dalam Alkitab tentang seorang yang bernama Yehuda yang mempunyai seorang istri dari Kanaan, Yehuda dikaruniai tiga orang anak laki-laki, anak pertama bernama Er, anak kedua bernama Onan dan anak ketiga bernama Syela, anak pertama dan anak kedua dikisahkan sudah berumur siap kawin dan anak ketiga masih kanak-kanak / belum balig.

Yehuda kemudian mengambil seorang menantu bernama Tamar untuk dikawinkan dengan anaknya yang pertama yaitu Er, namun belum sampai Er mempunyai anak dengan Tamar Er dibunuh Tuhan karena di mata Tuhan Er termasuk orang yang jahat.

Tetapi Er, anak sulung Yehuda itu, adalah jahat di mata TUHAN, maka TUHAN membunuh dia Kejadian 38:7

Tidak disebutkan apa kejahatan Er di mata Tuhan, tetapi yang jelas Er diceritakan mempunyai kejahatan hingga dia harus dibunuh Tuhan.

Sepeninggal kematian Er, sesuai adat orang Israel saat itu untuk meneruskan keturunan, maka kedudukan Er sebagai suami Tamar harus digantikan oleh Onan adiknya, maka resmilah Onan menjadi suami Tamar.

Lalu berkatalah Yehuda kepada Onan: “Hampirilah isteri kakakmu itu, kawinlah dengan dia sebagai ganti kakakmu dan bangkitkanlah keturunan bagi kakakmu” Kejadian 38:8

Namun Onan mengetahui bahwa ia dikawinkan dengan Tamar hanyalah untuk meneruskan keturunan bagi kakaknya yang telah meninggal, sehingga apabila ia mempunyai anak dengan istri bekas kakaknya maka anak tersebut akan menjadi anak kakaknya sebagai pewaris, Onan tidak dapat menerima hal ini, sehingga ketika ia berhubungan suami Istri ia selalu membuang maninya keluar, agar ia tidak memberikan keturunan bagi kakaknya. Perbuatan Onan ini di mata Tuhan adalah jahat, maka dibunuhlah Onan oleh Tuhan.

Tetapi Onan tahu, bahwa bukan ia yang empunya keturunannya nanti, sebab itu setiap kali ia menghampiri isteri kakaknya itu, ia membiarkan maninya terbuang, supaya ia jangan memberi keturunan kepada kakaknya. Tetapi yang dilakukannya itu adalah jahat di mata TUHAN, maka TUHAN membunuh dia juga. Kejadian 38:9-10/color]

Maka Tamar menjadi janda lagi. Kemudian sesuai hukum, maka adik Onan yang bernama Syela harus dikawinkan dengan Tamar agar dapat memberikan keturunan bagi kakaknya yang pertama yaitu Er, tetapi Syela belumlah cukup umur untuk di-kawinkan dengan Tamar, keadaan ini digunakan Yehuda sebagai alasan untuk menunda perkawinan Syela dengan Tamar bahkan Yehuda ingin membatalkan perkawinan antara Syela dan Tamar karena Yehuda takut kalau anaknya yang terakhir juga akan mati seperti kedua kakak Syela yang telah dikawinkan dengan Tamar.

Beberapa tahun kemudian Syela sudah besar dan cukup umur untuk dikawinkan dengan Tamar, maka seharusnya Yehuda segera mengawinkan Syela dengan Tamar, tetapi Yehuda tidak melakukannya dan Tamarpun mengetahui sikap Yehuda ini.

Ketika Istri Yehuda meninggal dan habis berkabung pergilah Yehuda ke desa Timna ke tukang cukur domba untuk mencukurkan domba-dombanya, Tamar diberitahu bahwa Yehuda pergi ke Timna, maka Tamar yang telah mengetahui Yehuda menyalahi janji untuk menikahkan anaknya Syela dengan dirinya, Tamar menggunakan kesempatan ini untuk balas dendam dengan menyamar menjadi pelacur.

Di jalan Yehuda melihat seorang pelacur dan tertarik kepada pelacur tersebut yang sesungguhnya adalah menantunya sendiri, Yehuda tidak mengetahui kalau pelacur itu adalah menantunya karena wajahnya ditutupi kain, maka diadakanlah transaksi dengan wanita tersebut:

[color=red]Lalu berpalinglah Yehuda mendapatkan perempuan yang di pinggir jalan itu serta berkata: “Marilah, aku mau menghampiri engkau,” sebab ia tidak tahu, bahwa perempuan itu menantunya. Tanya perempuan itu: “Apakah yang akan kauberikan kepadaku, jika engkau menghampiri aku?”

Jawabnya: “Aku akan mengirimkan kepadamu seekor anak kambing dari kambing dombaku.” Kata perempuan itu: “Asal engkau memberikan tanggungannya, sampai engkau mengirimkannya kepadaku.” Kejadian 38:16-17

Maksud Tamar meminta jaminan bukanlah agar Yehuda tidak inkar janji untuk mengirim dombanya, tetapi Tamar ingin punya bukti yang dapat digunakan di kemudian hari. Dan Yehuda memberikan jaminan berupa kalung dan tongkat. Beberapa hari kemudian Yehuda mengirimkan domba kepada pelacur tersebut untuk ditukarkan dengan barang jaminan yang dipegang oleh pelacur tersebut, tetapi pelacur tersebut tidak ditemukan.

Hingga kira-kira tiga bulan kemudian dikabarkan kepada Yehuda bahwa Tamar menantunya telah bersundal bahkan hamil dari persundalannya, maka Yehuda memerintahkan untuk membawa menantunya kepadanya untuk dihukum mati, tetapi Tamar memberikan kalung dan tongkat dan berkata aku hamil dengan orang yang empunya kalung dan tongkat ini, maka sadarlah Yehuda bahwa Tamar hamil dengan dirinya lalu dibebaskanlah Tamar dari hukuman.

Akhirnya Tamar melahirkan dua anak kembar yang diberi nama Perez dan Zerah,

Dan Yesus diceritakan dalam Alkitab sebagai keturunan dari Perez. Yehuda dan Tamar sama sekali tidak dihukum oleh Tuhan karena perzinahan, bahkan diberkati karena Yesus adalah keturunannya.

Kesimpulan kisah

1. Er dibunuh Tuhan karena Jahat
2. Onan dibunuh Tuhan karena membuang mani agar tidak memberikan keturunan.
3. Tetapi Yehuda dan Tamar yang melakukan perzinahan antar mertua dengan menantu tidak dihukum sama sekali oleh Tuhan. Padahal semestinya dia harus mendapatkan hukuman yang jauh lebih dasyat dari pada Er dan Onan tetapi ternyata tidak.

Tentu saja hal ini tidak bisa diterima oleh hati nurani dan fitrah manusia manapun, mustahil Tuhan berbuat tidak adil seperti kisah tersebut di atas. Karena dalam ayat-ayat lain di Alkitab Tuhan berfirman :

yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya adil, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia. Ulangan 32:4

Dasar firman-Mu adalah kebenaran dan segala hukum-hukum-Mu yang adil adalah untuk selama-lamanya. Mazmur 119:160

TUHAN itu adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya. Mazmur 145:17

Masih banyak ayat-ayat lainnya yang sangat bertentangan dengan kisah di atas, dan mustahil Tuhan berbuat tidak adil yang bertentangan dengan firman-Nya sendiri.

Jadi yang paling mungkin kisah antara Yehuda dan Tamar adalah kisah palsu alias karya manusia alias bukan firman Tuhan yang berarti di dalam Alkitab telah terdapat campur tangan manusia.

Mahasuci Allah yang telah menjaga kemurnian Al-Qur’an dari tangan-tangan jahil manusia. (al-islahonline.com)

Sumber :
1. Asmaul Husna – Pustaka Al-Kautsar
2. The Choice – Pustaka Al-Kautsar
3. Tafsir Alkitab perjanjian Lama – Kanisius
4. Tafsiran Alkitab Masa Kini – YKBK
5. Ensiklopedi Alkitab Masa Kini – YKBK

https://tausyah.wordpress.com

nama ALLAH pada Buah Apel Kisah penyaliban atas diri Nabi ‘Isa al-Masih putera Maryam telah dipercayai oleh semua orang disebabkan karena terjadinya pengkhianatan diantara para sahabatnya yang setia.

Kisah pengkhianatan ini sebenarnya tidak hanya bisa kita peroleh dari dalam Bible yang diyakini oleh kaum Nasrani namun juga al-Qur’an sudah menggambarkan akan peristiwa tersebut.

Dimulai dari saat-saat akan diturunkannya Hidangan (al-Maidah) atas keinginan para sahabat Nabi ‘Isa al-Masih :

“Tatkala Hawariyin (sahabat-sahabat setia) berkata: Wahai ‘Isa putera Maryam! Apakah berkuasa Tuhanmu menurunkan kepada kami satu hidangan dari langit ?;

Maka ‘Isa menjawab : Takutlah kepada Allah jika memang kamu betul-betul orang-orang yang beriman.!” Mereka berkata : Kami ingin agar kami makan darinya dan supaya kami yakin bahwa sesungguhnya engkau sudah berkata yang benar terhadap kami dan jadilah kami ini orang-orang yang menyaksikan.” (Qs. al-Maidah 5:112-113)

Disini sebenarnya kita sudah melihat adanya bibit-bibit kekurang percayaan orang-orang yang berada disekitar ‘Isa al-Masih terhadap dirinya dan Allah, sama persis seperti yang sudah sering kita baca dan kita bahas mengenai perilaku murid-murid ‘Isa yang sering membangkang terhadapnya didalam Bible.

Sekian lama mereka menjalani kehidupan bersama, menyebarkan dakwah dibawah bimbingan Nabi ‘Isa kepada masyarakat dan membuktikan sendiri mukjizat-mukjizat kenabian ‘Isa al-Masih, namun mereka masih tetap merasa kurang yakin.

Kita lihat dalam jawabannya, ‘Isa menegur kelakuan para sahabatnya ini yang seolah tidak beriman kepada Allah dan dirinya selaku Rasul; Ini bukan teguran ‘Isa yang pertama terhadap sikap para sahabatnya semacam ini, kita lihat didalam surah ali-Imran ayat 52:

“Ketika ‘Isa merasa akan kekufuran dari mereka, ia bertanya: Siapakah penolong-penolongku kejalan Allah ?; Maka para sahabatnya menjawab : Kami adalah pelayan-pelayan Allah, kami telah beriman kepada Allah dan lihatlah, bahwa sesungguhnya kami orang-orang yang muslimin.”(Qs. ali Imran 3:52)

Atas jawaban para Hawariyin ini, Allah memberikan jawaban yang sangat jelas sekali bagi kita untuk menjadi bukti atas kebenaran ucapan mereka ini didalam ayat selanjutnya:

“Dan mereka membuat tipu daya, namun Allah (juga) membuat tipu daya; dan sesungguhnya Allah itu sepandai-pandainya menipudaya.” (Qs. ali Imran 3:54)

Disini bisa kita pahami, bahwa ayat ini merupakan tanggapan Allah atas pernyataan Hawariyin yang mengaku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya yaitu ‘Isa al-Masih yang dikatakan pada ayat sebelumnya; Dan dari sini kita bisa menangkap satu fenomena bahwa diantara para sahabat tersebut tidak semuanya mereka ini benar-benar beriman sebagaimana yang diucapkan oleh mulutnya, sebab menurut Allah, mereka telah mengatur satu rencana yang jahat, membuat satu tipu daya yang ditujukan kepada Rasul-Nya namun rencana tersebut akan dikalahkan oleh Allah dengan tipu daya pula.

Ingatkah anda akan firman Allah dibawah ini ?

“Karena kesombongan dibumi dan merencanakan tipu daya yang jahat, padahal rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain kepada orang yang merencanakannya sendiri”. (Qs. Faathir 35:43)

Dari ayat-ayat ini kita bisa mentafsirkan bahwa satu tipu daya yang jahat yang telah diatur oleh sebagian dari Hawariyin untuk ‘Isa akan dibalas oleh Allah dengan tipu daya-Nya pula dengan menjadikan orang yang merencanakan makar ini termakan oleh rencananya sendiri.

Dan dalam ayat lanjutan ali-Imran 55, Allah meneruskan firman-Nya:

“Tatkala Allah berkata: Wahai ‘Isa! Sungguh Aku akan mewafatkanmu dan akan mengangkatmu kepada-Ku, dan akan membersihkanmu dari mereka yang kafir, serta akan menjadikan orang-orang yang mengikutimu diatas mereka yang kafir hingga hari kiamat.” (Qs. ali Imran 3:55)

Ayat ini merupakan lanjutan dari ayat sebelumnya yang mengatakan bahwa Allah akan membalas tipu daya orang-orang yang jahat kepada Rasul-Nya.

Dari sini kita juga bisa mengambil satu kesimpulan bahwa rencana jahat yang dimaksudkan terhadap diri Nabi ‘Isa tidak akan bisa terjadi terhadap sang Nabi akan tetapi Allah akan mengembalikan rencana jahat tersebut menimpa kepada orang itu sendiri dan Allah akan menyelamatkan Nabi-Nya tersebut dari rencana jahat itu dengan peristiwa pengangkatan dan membersihkan nama baiknya.

Kita baca ayat berikutnya:

“Maka adapun mereka yang kufur itu, Aku akan menyiksa mereka satu siksaan yang keras didunia dan akhirat; dan mereka tidak akan mendapatkan penolong-penolong.”(Qs. ali Imran 3:56)

Ayat ini kita kembalikan dengan ayat yang juga menceritakan peringatan Allah terhadap kaum Hawariyin disaat penurunan Hidangan dari langit didalam surah al-Maaidah:

“Allah berkata : Sesungguhnya Aku akan menurunkannya untukmu, tetapi barang siapa dari antara kamu yang kufur sesudah itu, maka akan Aku azab dia dengan satu azab yang tidak pernah Aku perbuat terhadap seorangpun daripada makhluk-makhluk.” (Qs. al-Maidah 5:115)

Diayat ini kita juga menemukan isyarat langsung dari Allah, bahwa akan ada yang kufur terhadap Allah dan Rasul-Nya diantara kaum Hawariyin tersebut setelah usainya Hidangan dari langit diturunkan, yaitu sesudah terjadinya jamuan makan malam ketuhanan menurut teologi Nasrani.

Kita ketahui dari Bible, bahwa dari 12 orang murid utama ‘Isa, ada seorang yang telah berkhianat dengan jalan menjual informasi mengenai keberadaan ‘Isa terhadap para ahli Taurat dan orang-orang Romawi. Murid tersebut diyakini bernama Yahudza al- skharyuti atau Yudas Iskariot.

Dan Yudas digambarkan memiliki rencana yang jahat terhadap ‘Isa al-Masih setelah acara jamuan makan malam al-Maidah selesai dengan membocorkan rahasia keberadaan sang Nabi kepada musuh-musuhnya sehingga mereka melakukan penyerbuan terhadap persembunyian ‘Isa al-Masih.

Namun sesuai dengan janji Allah, bahwa rencana yang jahat tidak akan menimpa selain kepada orang yang sudah membuat rencana itu sendiri, begitu pula halnya dengan diri ‘Isa al-Masih, beliau telah diselamatkan Allah dari tragedi tewasnya diatas salib.

“Dan perkataan mereka: ‘Bahwa kami telah membunuh ‘Isa al-Masih putera Maryam, utusan Allah’, padahal tidaklah mereka membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi disamarkan kepada mereka. Orang-orang yang berselisihan tentangnya selalu dalam keraguan mengenainya. Tiada pengetahuan mereka kecuali mengikuti dugaan, dan tidaklah mereka membunuhnya dengan yakin. Tetapi Allah telah mengangkat (derajat) ‘Isa kepada-Nya; karena Allah itu Gagah nan Bijaksana” (Qs. An-Nisa’ 4:157-158)

Sementara Yahudza Askharyuti yang merupakan otak dari semua rencana jahat itu akhirnya mati dengan mengenaskan, gantung diri dan tubuhnya jatuh terjerumus dalam keadaan perut pecah.

Demikianlah kiranya Allah telah menentukan keputusan-Nya untuk memberikan hukuman terhadap orang yang telah merencanakan hal yang keji atas diri Nabi-Nya dengan azab yang pedih.

And he cast down the pieces of silver in the temple, and departed, and went and hanged himself. (Matthew 27:5)

Now this man purchased a field with the reward of iniquity; and falling headlong, he burst asunder in the midst, and all his bowels gushed out. (The Acts 1:18)

Mari kita lihat kembali apa kata ‘Isa al-Masih terhadap sikap Allah kepada orang-orang ingkar akan kenabiannya itu:

“…Dan adalah aku menjadi penjaga atas mereka selama aku ada pada mereka; maka tatkala Engkau mewafatkan aku, adalah Engkau menjadi pengurus mereka; dan sungguh Engkau menyaksikan segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka itu hamba-hambaMu; dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sungguh Engkaulah Maha Kuasa nan Bijaksana.” (Qs. al-Maidah 5:117-118)

Disini ‘Isa menyerahkan segala urusan itu kepada kehendak Allah, bahwa selama dirinya masih berada ditengah-tengah umatnya, ditengah-tengah sahabat-sahabatnya, maka ‘Isa sendiri yang akan menjadi pengingat mereka terhadap ajaran Allah, dia sendiri yang akan menegur apabila dia melihat keingkaran mereka namun manakala dirinya sudah wafat atau juga sudah tidak lagi bersama mereka, maka ‘Isa al-Masih lepas tangan terhadap semua tindak-tanduk umatnya.

‘Isa al-Masih mengatakan bahwa bila karena perbuatan umatnya yang salah telah menyebabkan Allah menjadi murka dan menghukum mereka, maka itu adalah hak prerogatif Allah, sebab Dia adalah penguasa dan pencipta seluruh makhluk yang mampu bertindak dan berkehendak sebebas-bebasnya kepada siapapun sebab mereka hanyalah hamba-hamba Allah yang tidak akan bisa menghentikan kehendak Allah.

https://tausyah.wordpress.com

Sarang lebah Berbentuk Asma ALLAHOrang Islam percaya bahwa Al Kitab yang didalamnya juga terdapat Injil sudah tidak asli lagi.
Mereka buta, tidak mengetahui Al Kitab kecuali hanyalah dongengan belaka dan mereka hanya mengira-ngira. (Quran Surat Baqarah : 78)

Ternyata kita temukan dalam Injil sendiri adanya isyarat bahwa penulis Injil yang sekarang beredar di toko-toko buku itu :

– bersumber pada cerita orang / kabar burung / isu.

– tidak ada peranan roh kudus

Inilah buktinya :

Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan firman. Karena itu setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dnegan seksama dari asal mulanya, “aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, supaya engkau dapat mengetahui segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar”. (Lukas 1:1-4)

Dari Injil Lukas terbukti bahwa dia menuliskannya setelah menyelidiki jadi bukan diwahyukan Roh Kudus.

karena dia mengumpulkan cerita / kabar burung maka tentu saja cerita bisa benar bisa salah, ingat peribahasa ” titip uang bisa kurang, titip cerita bisa nambah”.

Karena keanehan ini, tidak mustahil Injil / Kumpulan Cerita versi Lukas berbeda dengan cerita versi Matius dan juga kumpulan cerita versi Markus maupun Yohanes.

Matius menulis

Yesus berkata “janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu, janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, jangan kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat..” (matius 10:10)

Markus menulis

Yesus berkata “jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka kecuali tongkat, roti pun jangan, bekal pun jangan, uang dalam ikat pinggang pun jangan, boleh memakai alas kaki tapi jangan memakai dua baju. (Markus 6:8-10)

Perbedaan yang lain meliputi jumlah malaikat yang menjaga kuburan, jumlah perempuan yahudi yang pergi kekuburan dan lain-lain. Klik disini.

Sedangkan dari Injil Yohanes secara aneh pembaca akan dibingungkan dengan kata kita atau terjemahan Bible Inggrisnya adalah we. Apakah yohanes menyuruh Yahudi lain menuliskannya? Terus siapa? mengapa Yohanes tidak memeriksanya lagi?

Ataukah memang benar sesuai pernyataan Lukas bahwa penulis Injil bersumber dari cerita / kabar burung yang beredar?

Dialah murid yang memberi kesaksian tentang semua ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu bahwa kesaksiannya benar. (Yohanes 21:24)

Ya keanehan, ya saling berbeda satu sama lain telah diakui oleh Peneliti dari kalangan Kristen sendiri.

DR. Stras 1835 dalam Life of Jesus, menulis bahwa

semua peristiwa yang berkenaan dengan biografi Yesus pada semua Injil dikutip dari khurafat (cerita) kaum penyembah berhala

Prof Dreioz dari Jerman, Courtso dari prancis, Prousber, Vitoris, Matcheoru mengatakan Yesus hanyalah nama seorang pribadi khayalan belaka.

Virar dalam life of Christ, menulis bahwa kelahiran yesus tidak dikenal dalam sejarah.

Sementara Encyclopedia Britanica mengkritik keras riwayat injil yang menetapkan malam kelahiran yesus pada akhir tahun yang dihadiri para penggembala. kritikan itu mempertanyajkan bagaimana hal itu bisa terjadi lha wong pada bulan Desember di palestina turun hujan lebat.

(sumber : Ahmad Idris, Sejarah Injil dan Gereja, Gema Insani Press, 1991).

***

Tentang dongeng penyembah berhala silahkan baca dibawah ini :

Christopher Isherwood dalam terjemahan Upanishads menulis :

Sri Krisna disebut sebagai Kristus Hindu. sebenarnya terdapat persamaan-persamaan yang menyolok antara riwayat hidup krisna dalam Bhagavatan dan dalam kitab suci lkaoinnya dengan riwayat hidup yesus dari nazaret. Dalam kedua kasus tersebut, dongeng telah bercampur baur dengan kenyataan.

Swami dalam bukunya Warum, mengenai kehidupan yesus berkata :

Ajaran inkarnasi tuhan (Yohanes 1:14) logos atau firman, adalah salah satu teoriHindu-Arya dan orang hindu percaya bahwa banyak inkarnasi telah terjadi dan masih akan terjadi. Teori logos / firman / anak tuhan datang dari India melalui yunani dan melalui penulisan filsofYunani seperrti Heraklitus, Plato dan neo-plato. Sebagaimna dalam penulisan philo dan pengikut-pengikutnnya, keempat penulis injil menulis hal tersebut dalam kitabnya, sehingga ajaran ini diambil oleh gereja sebagai ajaran dasar.

Tentang kematian Yesus yang mirip dengan kematian Budha, Th. J Plange dalam buku “Christus ein Inder?” menulis :

Budha wafat dalam usia delapan puluh tahun. pada saat wafatnya terjadilah gempa bumi, meteor jatuh, matahari kelam, langit bergemuruh.

Bandingkan dengan Matius 27:51 tentang kematian Yesus.

dan Lihatlah tabir suci terbelah, dan terjadilah gempa bumi dan bukit batu terbelah.

(Sumber : dalam KH. Abdullah Wasi’an “100 Jawaban Untuk Misionaris”, Pustaka Dai, 1999)

https://tausyah.wordpress.com

semut membuat sarang Membentuk asma ALLAHSeperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa Yesus lahir bukan pada bulan Desember, sehingga merayakan Natal pada bulan Desember untuk merayakan hari kelahiran Yesus sebenarnya adalah perayaan yang salah alamat, apalagi tanggal 25 Desember adalah hari lahirnya dewa matahari yaitu dewa yang diagungkan oleh para penyembah berhala –pagan- di kawasan Mediterania.

Natal adalah hasil adopsi (sinkretisasi) dari ritual keagamaan agama para pagan -penyembah berhala-. Perayaan Natal yang seperti sekarang ini adalah perayaan yang sama sekali tidak berasal dari ajaran Yesus, Yesus dan murid-muridnya sama sekali tidak pernah melakukannya, dalam kitab suci agama Kristen tidak satu ayatpun yang berbicara tentang perayaan Natal.

Biasanya dalam perayaan Natal ada pernak-pernik yang menghiasinya, di-antaranya : Pohon Natal (cemara), Cristmas Stockings, Mistletoe, Holly, Ivy & Greenry, The Candy Cane, Cristmas Cards dan Pointsettias, hampir semuanya dari perayaan Natal dan pernak-perniknya tidak bersumber dari ajaran Yesus, dan yang paling mencengangkan ada beberapa yang bersumber dari kebiasaan orang-orang musyrik dan yang lainnya dari mitos-mitos atau legenda-legenda belaka. (lebih…)

Search LiveMenurut umat Kristiani Yesus adalah tuhan yang berinkarnasi / menjelma menjadi manusia, agar manusia dapat berkomunikasi secara langsung dan percaya akan firman-firman Tuhan. Tetapi anehnya Yesus tidak pernah mengatakan “Akulah tuhan yang menjelma menjadi Yesus”.

Mereka meyakini bahwa kelahiran Yesus yang ajaib, yaitu tanpa campur tangan seorang bapak adalah sebagai bukti bahwa Yesus memang tuhan, dalil ini sungguh-2 teramat dangkal dan lemah, karena nabi Adam yang lahir jauh lebih ajaib, yaitu tanpa campur tangan seorang bapak sekaligus tanpa campur tangan seorang ibu mereka tidak menjadikan nabi Adam sebagai tuhan, padahal kalau memang alasan kelahiran yg ajaib sebagai bukti Yesus adalah tuhan, maka Adamlah yang lebih patut disebut tuhan daripada Yesus.

Kemudian umat Kristiani juga meyakini bahwa lemukjizatan-2 yang dilakukan oleh Yesus antara lain menghidupkan orang mati, membuat orang buta dapat melihat dan lain-lainnya adalah sebagai bukti bahwa Yesus adalah Tuhan, dalil ini juga teramat lemah dan dangkal, karena nabi Musa yang mendapatkan mukjizat-2 lebih dasyat yaitu dapat membelah laut dan membuat ular dari seutas tali ternyata mereka tidak menjadikan nabi Musa sebagai tuhan, padahal kalau memang kemukjizatan-2 yg dilakukan oleh Yesus sebagai bukti Yesus adalah tuhan, maka Musalah yang lebih patut disebut tuhan daripada Yesus.

Apapun keistimewaan-2 yang ada pada diri Yesus tidaklah membuktikan bahwa Yesus adalah tuhan, leistimewaan-2 tersebut semata-mata ada-lah atas kehendak dan izin Allah semata.

Dalam kitab Taurat, Injil dan Al-Qur’an Allah SWT telah memperkenalkan diri-Nya bahwa Dia adalah Tuhan, sehingga manusia mempunyai dalil secara pasti siapakah Tuhan yang harus diimani dan disembah.

Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: “Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku. Taurat : Yesaya 44:6

“…bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia.” Injil : Markus 12:31

“Katakanlah:”Dialah Allah, Yang Maha Esa”. QS. 112:1

Kalau Yesus tuhan, seharusnya ada dalil yg menunjukkan bahwa Yesus pernah mengaku dirinya sebagai tuhan dan juga harus ada dalil yg me-nunjukkan bahwa Yesus pernah memerintahkan untuk disembah. Ternyata, tidak ada satu ayatpun bahwa Yesus pernah menyatakan “Akulah tuhan Yesus” atau “Sembahlah Yesus”. Bila demikian, maka sudah cukup untuk mengatakan bah-wa Yesus bukan tuhan.

Bahkan banyak sekali ayat-2 yg menunjukkan sebaliknya, yaitu Yesus mengaku dirinya hanyalah seorang nabi utusan Allah,

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Yohanes 17:3

Lebih lanjut Yesus justru memerintahkan umatnya untuk menyembah dan berbakti hanya kepada Allah saja,

“Yesus berkata kepadanya: “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!“ Lukas 4:8

Dalam Al-Qur’an juga menegaskan bahwa nabi Isa as bukanlah tuhan :

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-2 yang berkata:”Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam”, padahal Al-Masih (sendiri) berkata:”Hai Bani Israil, sembahlah Allah Rabbku dan Rabb-mu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengha-ramkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” QS. 5:72

Sekian ulasan “Yesus bukan tuhan” yang cukup teramat singkat, semoga menambah keimanan kita, amin. (al-islahonline)

https://tausyah.wordpress.com

Nama ALLAH pada kelopak BungaOleh: Qosim Nursheha Dzulhadi

Dalam sebuah makalah yang berjudul ‘SALIB KRISTUS DALAM PERSPEKTIF PENULIS ARAB-MUSLIM KONTEMPORER’ Bambang Noorsena menyatakan bahwa Salib Kristus dan Thariq al-Alam (Jalan Sengsara)-Nya adalah salah satu “batu sandungan” dalam dialog teologis Kristen-Islam hingga sekarang. Salah satu alasan penolakan Islam atas historisitas penyaliban Yesus, didasarkan atas sebuah ayat dalam al-Qur’an; Wa maaqataluhu wa maa shalabuhu wa lakin syubiha lahum. (Mereka tidak membunuhnya dan tidak pula mereka menyalibkannya, melainkan yang disamarkan bagi mereka” (Q.s. An-Nisa’/4:157).

Makalah yang disampaikan dalam “Pengajian Injil” yang diselenggarakan Institute for Syriac Christian Studies (ISCS) Surabaya, di Gedung Keuskupan, Jl.W.R.Supratman No.4, Surabaya, 2 Juli 2004 itu penting untuk dikritisi. Meski sudah lewat, makalah yang dimuat di http://www.iscs.or.id/ sangat mendasar bagi “akidah”.

Penyaliban Yesus

(Al-Masih) dan ‘penderitaannya’ (the passion of Christ) dalam akidah Islam, bukan saja tidak mendapat tempat, namun juga ditolak oleh Bibel. Apa yang dikatakan oleh Bambang Noorsena bahwa salah satu alasan penolakan Islam adalah Qs. An-Nisa’ [4]: 157 sama sekali tidak tepat. Dalam tulisan ini, penulis mencoba memberikan beberapa catatan penting.

Pertama, kisah penyaliban Kristus dan penderitaannya (Âlâm al-Masîh) yang diklaim oleh umat Kristen sebagai bagian dogma yang harus diterima, meskipun irasional dan sama sekali tidak berdasar. Bangunan dogma ini laksana ‘sarang laba-laba’: tidak kokoh dan sudah runtuh.

Yang meruntuhkan dogma yang ‘membingungankan’ ini bukan hanya Al-Qur’an, tapi juga Bibel. Namun sayang, karena dogma –percaya tidak percaya, masuk akal atau tidak—wajib diterima. Benar, bahwa Qs. An-Nisa [4]: 157 menolak penyaliban Kristus. Penolakan Al-Qur’an bukan tanpa dasar dan tanpa alasan yang kuat.

Kisah penyaliban Kristus merupakan ‘sandiwara’ yang dibuat oleh Yahudi. Kemudian sandiwara ini mendapat sambutan yang sangat besar sekali dari umat Kristen. Umat Yahudi yang paling banyak mencerca ibunda Mariam (Maria) –wanita suci dan terhormat—dan menuduhnya berbuat “serong” lebih dicintai oleh umat Kristen, meskipun umat Islam membela habis-habisan.

Pada akhirnya, penyaliban ini menjadi dogma yang taken for granted, tanpa proses olah nalar yang cerdas.

Umat Yahudi adalah umat yang memiliki budaya “ingkar janji”, mengingkari ayat-ayat Allah, membunuh para nabi tanpa alasan yang benar, mengaku hatinya tertutup.

Mereka juga mencerca Mariam, ibu Kristus. Dan yang paling besar, mereka mengaku telah ‘membunuh’ –menyalib—Kristus utusan Allah (Qs. An-Nisa’ [4]: 156-157). Padahal, mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, hanya orang yang diserupakan –bukan disamarkan seperti yang diklaim Bambang Noorsena.

Dan ternyata, orang-orang Yahudi sendiri ragu terhadap yang mereka salib itu. Mereka tidak memiliki pengetahuan yang valid, akhirnya mereka hanya mengikuti perkiraan (prasangka) saja (ittibâ` az-zhann).

Dan mereka memang benar-benar tidak yakin bahwa mereka telah membunuh Kristus (Qs. An-Nisa’ [4]: 157). Al-Qur’an menyatakan bahwa Kristus tidak hanya tidak disalib, bahkan diangkat oleh Allah (Qs. An-Nisa [4]: 158).

Kalau seandainya benar Kristus disalib, demi menebus dosa bapaknya Adam. Berarti Allah tidak adil. Kalau Tuhan mengorbankan ‘Anak Tunggal-Nya’, berarti Tuhan tidak memiliki kasih sayang. Bukankah dalam agama Kristen Tuhan itu bersifat ‘adil’ dan ‘pengasih’.

Jika demikian, kisah penyaliban Kristus tertolak melalui dua sifat Tuhan yang kontradiktif ini. Adalah benar apa yang termaktub di dalam Kitab Yehezkiel 18: 2-4, “Mengapa peribahasa ini terus disebut-sebut di negeri Israel? ‘Orang tua makan buah anggur yang asam rasanya, tetapi anak-anaklah yang ngilu giginya.’ Demi Aku, Allah yang hidup, TUHAN Yang Mahatinggi, peribahasa ini tidak akan lagi diucapkan di Israel. Nyawa setiap orang adalah milik-Ku, baik nyawa orang tua maupun nyawa anaknya. Orang yang berdosa, dialah yang akan mati.”

Lebih tegas lagi dijelaskan, “Orang yang berbuat dosa, dialah yang akan mati. Anak tidak harus menanggung akibat dari kesalahan ayahnya; sebaliknya, ayah pun tidak harus menanggung akibat dari dosa-dosa anaknya. Orang yang baik akan mendapat ganjaran yang baik karena perbuatannya yang baik. Dan orang yang jahat akan menderita akibat dari kejahatannya.” (Yehezkiel 18: 20).

Dengan demikian, tidak ada alasan bahwa Kristus harus menebus dosa Adam. Rentang waktu yang begitu lama – ribuan tahun—sejak Adam dan Hawa makan buah dari pohon kehidupan dan keabadian, menjadi tanda tanya besar yang tidak terpecahkan.

Bukan hanya tidak masuk akal, juga menodai ke-Mahaagungan Allah SWT. Apakah Allah Yang Mahakuasa tidak mampu mengampuni dosa para hamba-Nya? Karena dia Mahakuasa. Lalu kenapa harus menunggu Kristus dilahirkan? Paralogisme yang menggelikan!

Kedua, benarkah Kristus disalib? Bambang Noorsena dalam makalahnya juga menyatakan, ” Secara gramatikal, Q.s. An-Nisa’ 157 memang tidak menyangkal secara gamblang historisitas penyaliban Yesus.

Ungkapan lakin syubiha lahum (melainkan yang disamarkan bagi mereka), menggunakan bentuk fi’il mabni lil-majhul yang tidak menunjuk secara jelas subyek, yaitu siapa yang menggantikan Yesus dalam penyaliban.

Nama Yudas Iskariot sebagai pengganti Yesus baru muncul belakangan, dan dalam sejumlah tafsir kuno dikemukakan nama-nama lain (Simon Petrus, Simon dari Kirene, dan sebagainya).

Artinya, nama-nama inipun tidak muncul dalam teks al-Qur’an, melainkan dalam sejumlah kitab Tafsir al-Qur’an.

Keliru besar jika Bambang Noorsena menyatakan bahwa kata kerja (fi`il) syubbiha lahum fi`il al-mabni li al-majhuul. Kemudian, dengan spontan menyimpulkan bahwa ayat tersebut tidak secara gamblang menolak historisitas penyaliban Kristus.

Ini sangat penting untuk dicermati. Pertama, dalam gramatikal Arab, tidak semua fi`il al-mabnî li al-majhuul tidak jelas pelakunya. Kesimpulan dini anti-klimaks ini merupakan akibat dari ilmu bahasa Arab yang matang dipaksakan. Yang menggantikan Kristus adalah Allah. Itu adalah logika. Kesimpulan yang ‘sembrono’ dan ‘serampangan’ itu adalah akibat dari kutipan ayat yang tidak sempurna.

Jika saudara Bambang benar-benar mengutip ayat secara sempurna, dari ayat 156-158, maka kesimpulannya akan berbeda jauh. Syeikh Mutawalli Sya`rawi dalam bukunya Maryam wa Al-Masih menyatakan, bahwa kata ‘syubbiha lahum’ merupakan ‘satu bukti’ danya “kecerobohan” dalam usaha pembunuhan itu. Maka, orang lain diserupakan dengan Kristus. Hal itu mengindikasikan bahwa masalah penyaliban (pembunuhan Kristus) tidak alami. Tidak ada kepastian dari orang-orang yang ingin membunuhnya.”

Penulis kira, tidak ada bedanya kata syubbiha lahum dengan ayat yang berbunyi zuyyina li an-nassi dalam Qs. Ali `Imran [3]: 14,”Zuyyina li an-naasi hubb asy-syahawaati min an-nisaa’i wa’l-baniin a’l-qanaathiir’l-muqantharah min adz-dzahabi wa’l-fidhdhati wa’l-khili’l-musawwati wa’l-an`aami wa’l-harts….”

Apakah ayat ini juga harus dipertanyakan, “Siapa yang memberikan rasa cinta dalam diri manusia terhadap wanita, anak-anak, dst…? Apakah ayat ini juga akan disebut ‘tidak jelas’?

Jawabannya yang tepat penulis kira; kembali kepada penguasan bahasa Arab yang lebih sempurna. Bukan penguasaan yang tendesnsius. Kedua, tidak benar bahwa nama Yudas Iskariot baru muncul belakangan.

Kemudian, Bambang menyebutkan nama-nama Simon Petrus, Simon dari Kirena, dan sebagainya. Setelah itu beliau menyimpulkan, “Nama-nama inipun tidak muncul dalam teks al-Qur’an, melainkan dalam sejumlah tafsir al-Qur’an.

Benar bahwa, nama-nama Simon Petrus dan Simon dari Kirena, dan sebagainya tidak tercantum di dalam Al-Qur’an. Karena nama-nama itu tidak penting. Yang penting adalah, wa maa qataluuhu wa maa shalabuuhu, wa laakin syubbiha lahum. Itulah inti ayat Al-Qur’an dalam masalah ini. Karena aktor dalam penyaliban itu ada tiga: Yahudi, Kristus dan Yudas Iskariot. Inilah yang harus dicantumkan dalam Al-Qur’an. Sementara Simon Petrus dan Simon dari Kirena, dalam istilah bahasa Arab, laa yanfa` wa laa yadhurr.

Sejatinya, nama Yudas sudah hilang ketika –menurut keyakinan Kristen—setelah penangkapan Kristus dan diserahkan kepada para pemuka agama dan tentara Romawi, ia menghilang. Ia tidak kedengaran lagi perannya dalam panggung peristiwa.

Ke mana dia? Ini akan dijawab pada poin ketiga di bawah ini.
Ketiga, Kristus benar-benar tidak disalib menurut kesaksian Bibel. Buktinya; “Angkatlah seorang jahat untuk mengadili dia, biarlah ia didakwa oleh lawannya. Biarlah ia diadili dan dinyatakan bersalah, dan biarlah doanya dianggap dosa. Biarlah hidupnya lekas berakhir, dan jabatannya diambil oleh orang lain. Biarlah anak-anaknya menjadi yatim, dan istrinya menjadi janda.

Biarlah anak-anaknya menjadi pengemis yang mengembara, dan diusir dari reruntuhan rumahnya. Biarlah segala miliknya disita oleh penagih hutang, dan hasil jerih payahnya dirampas orang. Jangan ada yang baik hati kepadanya, atau menyayangi anak-anak yang ditinggalkannya. Biarlah seluruh keturunannya dibinasakan, dan namanya dilupakan oleh angkatan yang kemudian. Biarlah kejahatan leluhurnya tetap diingat Tuhan, dan dosa ibunya tidak diampunkan.

Biarlah dosa mereka selalu diingat Tuhan, dan tak ada yang mengenang mereka di bumi. Sebab orang itu tak pernah ingat untuk menunjukkan kasih sayang. Ia menganiaya orang miskin dan sengsara, dan membunuh orang yang tak berdaya. Ia suka mengutuk; biarlah ia sendiri terkutuk!

Ia tidak suka memberi berkat, biarlah tak ada berkat untuk dia! Baginya mengutuk itu perbuatan
biasa, sama seperti mengenakan pakaiannya. Biarlah kutuk itu merembes seperti air ke badannya, dan seperti minyak ke tulang-tulangnya.

[clor=red]Biarlah kutuk itu menutupi dia seperti pakaian, dan selalu melingkari dia seperti ikat pinggang. Tuhan, jatuhkan hukuman itu atas penuduhku, atas orang yang bicara jahat tentang aku. Tetapi tolonglah aku sesuai dengan janji-Mu, ya Tuhan Allahku, selamatkanlah aku karena kebaikan dan kasih-Mu… (Mazmur 109: 6-21).[/color]

Apa yang muncul dari Mazmur di atas? Pertama, Yudas adalah orang yang akan dihakimi, bukan
Kristus. Kedua, ditetapkan atasnya dosa. Ketiga, ia pasti akan disalib. Anaknya akan menjadi yatim, dan istirinya menjadi janda. Keempat, dialah yang mengkhianati Kristus dan berusaha untuk menghindar darinya. Kelima, Allah benar-benar akan menyelamatkan Kristus. Khsusus poin ketiga, Kristus tidak punya anak, karena dia tidak menikah.

Berarti tepat, itu adalah Yudas. Kemudian, menurut syariat Yahudi, yang disalib adalah terlaknat (terkutuk) (Ulangan 21: 22-23).

Penulis kira, tidak ada satu orang Kristenpun yang menerima jika Kristus dilaknat (dikutuk); raja
penyelamat harus tetap hidup. Bagaimana mungkin Kristus mati disalib (Yohanes 12: 34); dalam Matius 16: 21 Kristus menyatakan bahwa ‘ia akan dibunuh’.

Namun ini kontradiksi dengan injil Markus dan Lukas, karena kedua injil itu menggunakan kata ganti orang ketiga, ‘Anak Manusia’, bukan Kristus (Markus 8: 31 dan Lukas 18: 31-33).

Dengan demikian, Markus dan Lukas sepakat menggunakan kata ‘Anak Manusia’. Para murid Kristus sendiri –ketika ia berbicara tentang ‘Anak Manusia’ yang akan mati disalib—tidak memahami kata-katanya (Lukas 18: 34 dan Yohanes 20: 9).

Tidak ada satu ayatpun dalam Bibel, ketika Yesus berbicara tentang penyaliban dengan menggunakan ‘Anak Allah’. Dengan demikian, umat Kristen tidak ada alasan untuk mengakui penyalibannya. Silahkan dicermati dalil yang satu ini, “Memang Anak Manusia akan mati (perhatikan dia tidak mengatakan dibunuh) seperti yang tertulis dalam Alkitab. Tetapi celakalah (artinya siksa dan sakit) orang itu yang melalui tanggannya diserahkan anak manusia. Lebih baik bagi dia kalau tidak pernah dilahirkan (Matius 26: 24). Apakah Kristus lebih baik untuk tidak dilahirkan ke dunia ini?

Inilah kata Yudas di atas kayu salib, [“Eli, Eli, lama sabakhtani?” yang berarti, “Ya Allahku, ya Allahku mengapakah Engkau meninggalkan aku? (Matius 27: 46). Karena jika yang disalib itu Kristus, maka ia harus; ridha dengan ketentuan Allah dan takdir-Nya (secara nâsût dan lâhût, secara kemanusiaan dan keilahian) . Selain itu ia seyogyanya bergembira, bukan malah gelisah, karena ia telah menebus dosa manusia, dan itu merupakan misinya.

Bagaimana mungkin misinya tersebut menyebabkan dia merasa gelisah, khususnya jika ia seorang nabi, atau tuhan atau anak tuhan sebagaimana yang diklaim oleh umat Kristen.

Perhatikanlah ayat Injil ini, ” Tinggal sesaat saja kalian tak akan melihat aku lagi, dan setelah itu sesaat lagi kalian akan melihat aku (Yohanes 16: 16).

Bagaimana mungkin para murid Kristus tidak melihatnya, padahal ia berada di atas kayu salib. Karena ternyata, para murid juga tidak mampu memahami perkataan Kristus ketika berbicara tentang itu. ” Beberapa murid mulai bertanya satu sama lain: “Apa maksud dari perkataannya: “Tinggal sesaat saja, kalian tidak akan melihat aku lagi, dan setelah itu sesaat lagi kalian tidak akan melihat aku.”

Juga apa maksudnya: “Aku pergi kepada Bapa?” Mereka terus bertanya, “Apa artinya sesaat? Kita tidak mengerti ia bicara apa.” (Yohanes 16: 17-18). Itu adalah gaya bahasa Kristus, penuh metafora dan majaz. Itulah usaha Kristus untuk mem-filter iman mereka. Juga agar mereka tidak gusar, tenang: karena Kristus tidak akan mati di tiang salib.

Kristus hanya pergi sebentar, meninggalkan para muridnya. Setelah itu, ia kembali menemui mereka. Kalian tidak akan aku tinggalkan sendirian sebagai yatim piatu.

Tinggal sebentar saja dunia tak akan melihat aku lagi. Tetapi kalian akan melihat aku. Dan karena aku hidup, kalian pun akan hidup. (Yohanes 14: 18-19).

Perhatikan, Kristus tidak menyatakan ‘akan hidup’, tapi ‘hidup’. Kenapa? Karena dia memang tidak mati. Kalau memang Kristus akan hidup (bangkit) lagi, maka tidak ada gunanya Maria Magdalena membawa ramu-ramuan (Markus 16: 1). Karena ramuan untuk orang mati, bukan untuk Kristus yang tidak (belum) mati.

Bahkan ketika bertemu Maria Magdalena, Kristus enggan untuk disentuh. Ia berkata, [coor=red”Jangan pegang aku, kata Yesus, karena aku belum naik kepada Bapa.” (Yohanes 20: 16-17). [/color]

Kalau benar Kristus disalib, ia akan berkata, “Aku telah bangkit dari kematian (dari antara orang-orang mati). Tapi ia malah mengatakan, “Aku belum naik kepada Bapa.” Apa artinya? Artinya ia belum mati, karena memang tidak disalib.

Maria sendiri menyatakan bahwa dia telah melihat Tuhan, bukan menyatakan bahwa Tuhan telah bangkit dari kematian (Yohanes 20: 18). Bukankah pada pertemuan kedua dengan murid-muridnya, ia memperlihatkan tangan dan lambungnya? Artinya, di tangannya tidak ada bekas paku salib.

Wajah Kristus sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk menyatakan bahwa dia benar-benar Kristus, tanpa harus memperlihatkan bekas paku segala. Tapi ini benar-benar bukti bahwa ia ingin meyakinan para muridnya, bahwa ia tidak disalib, dan belum mati.

Untuk mempersingkat, ini satu dalil lagi bahwa Kristus (sebagaimana diyakini kalangan Kristen) tidak sedang disalib. “Yesus berkata kepada mereka, “Aku akan pergi, dan kalian akan mencari Aku, namun kalian tidak akan mampu datang ke tempat Aku berada. Namun kalian akan mati dalam dosa-dosa kalian (Yohanes 8: 21).

Konklusi dari ayat Injil ini adalah: pertama, orang-orang Yahudi akan berusaha untuk menangkap Yesus, namun mereka tidak mampu melakukannya. Kedua, mereka akan menanggung dosa atas usaha pembunuhannya, ketika mereka membunuh Yudas yang tersirat dalam ungkapan Yesus: “Kalian akan mati dalam dosa kalian”.

Ini adalah dalil yang menyatakan bahwa Kristus benar-benar selamat dari usah penyaliban. Maka wajar jika nama Yudas langsung menghilang dari panggung sandiwara.

Dengan demikian, Kristus benar-benar tidak disalib. Karena kalau dia disalib, berarti ayat ini harus dicopot dari Injil, Padahal kami berharap bahwa dialah yang akan membebaskan Israel…(Lukas 24: 21).

Argumen Bambang Noorsena, yang beliau kutip dari Tharif Khalidi, dikisahkan bahwa seorang bernama Al-Urits telah bermimpi bertemu Yesus, dan bertanya kepada Yesus: “Apakah penyaliban benar-benar terjadi?”

“Ya, Benar! Saya memang disalibkan”, jawab Yesus. Lalu si penerima mimpi melaporkan mimpinya kepada seorang ulama. “Tidak Yesus tidak disalib!”, ulama itu marah sambil mengutip Q.s. An-Nisa’ 157-158. “Yang bermimpi disalib itulah yang akan disalibkan!”, demikian kata sang ulama.

Menurut Khalidi, sosok al-Urits itu memang sosok historis yang hidup zaman Sultan Saladin. Ini adalah kisah yang tidak populer hingga hari ini dan tidak dapat dipertanggungjawabkan validitasnya. Apalagi jika ia diklaim sebagai “sosok historis” yang hidup di zaman Sultan Saladin. Tentu saja kisah besar ini akan tersebar, tapi buktinya tidak []. Wallahua`lamu bi as-shawab!

*) Penulis adalah Mahasiswa Universitas Al-Azhar-Mesir, Fakultas Uhuluddin, jurusan Tafsir. Dimuat di http://www.hidayatullah.com/

https://tausyah.wordpress.com

dikening bayi baru lahir bertuliskan Nama ALLAHSejarah kelahiran Yesus didalam Bible tercatat dalam Matius 1:18 adalah sebagai berikut :

“Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.”
(Matius 1:18)

Lebih detil lagi, Lukas memaparkan kelahiran Yesus ini dalam Injilnya :

“Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.” (Lukas 1:26-27)

“Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.” (Lukas 1:28-29)

Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” (Lukas 1:30-33)

“Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.”
(Lukas 1:34-35)

“…Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil. Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.”
(Lukas 1:37-38)

Dalam pasalnya, Lukas telah menceritakan kepada kita, bahwa disebuah kota bernama Nazareth, Allah telah mengutus seorang malaikat bernama Gabriel (didalam Islam disebut dengan nama Jibril) untuk mengabarkan kepada seorang perawan bernama Maria (didalam Islam dikenal dengan nama Maryam) perihal kelahiran seorang putra yang akan diperanakkan oleh Maria.

Maria dalam hal ini terkejut, betapa dirinya yang seorang perawan, belum memiliki seorang suami bisa melahirkan seorang anak. Namun sang malaikat dengan bijak mengatakan bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil untuk dilakukan dengan kekuasaan-Nya.

Disini kita belum akan membahas perihal status sang anak pada kalimah terakhir yang dilontarkan oleh sang malaikat kepada perawan Maria.

Marilah sekarang kita melihat konteks kelahiran manusia agung ini di AlQur’an yang dijabarkan dalam 2 Surah, yaitu Surah Ali Imran dan Surah Maryam.

Kisah yang terdapat dalam surah Maryam (surah ke-19) dimulai pada ayat ke-16 :

“Dan ingatlah Maryam yang tersebut didalam Kitab, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, dan ia mengadakan perlindungan dari mereka, lalu Kami mengirimkan kepadanya Ruh dari Kami, lalu ia menjelma dihadapannya sebagai seorang manusia yang sempurna.”

Ia (Maryam) berkata: ‘Sesungguhnya aku berlindung diri kepada Yang Maha Pemurah darimu, jika engkau adalah seorang yang bertaqwa’

Ia (Jibril) menjawab: ‘Aku ini tidak lain adalah utusan Tuhanmu, untuk memberi kepadamu seorang anak yang suci’

Ia (Maryam) berkata:”Bagaimana aku bisa mempunyai anak, padahal belum pernah seorangpun menyentuhku dan aku bukan seorang penzinah ?”

Ia (Jibril) menjawab: “Demikianlah. Tuhanmu berfirman:”Hal itu adalah mudah bagi-Ku, karena Kami hendak menjadikannya suatu tanda untuk manusia dan sebagai suatu rahmat dari Kami, dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah ditetapkan”.

Maka ia (Maryam) mengandungnya, lalu ia pergi dengan kandungannya itu ke satu tempat yang jauh.”

Dalam Surah Ali Imran (surah ke-3) dimulai pada ayat ke-45 hingga ayat 47:

“Ketika Malaikat berkata:”Wahai Maryam, sesungguhnya Allah mengabarkan kepadamu bahwa engkau akan dapat satu kalimah daripadaNya, namanya Almasih, ‘Isa putra Maryam, yang mulia didunia dan akhirat dan seorang dari mereka yang dihampiri. Dan dia akan berbicara kepada manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang saleh” (QS. Ali Imran 3:45-46)

Ia (Maryam) menjawab: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh manusia ?”. Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril):”Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya:”Jadilah”, lalu jadilah dia.”
(QS. Ali Imran 3:47)

“Dan sebagai Rasul kepada Bani Israil …” (QS. Ali Imran 3:49)

Dari ayat-ayat AlQur’an, kita dapati satu keterangan, bahwa sebagaimana juga diceritakan oleh Lukas, seorang perawan bernama Maryam telah dikunjungi oleh seorang malaikat untuk mengabarkan kehendak Allah akan kelahiran seorang anak yang suci (kudus) yang diberi nama Almasih, ‘Isa putra Maryam yang akan dimuliakan oleh Allah sebagai seorang Nabi dan Rasul kepada Bani Israel dengan tanda-tanda kenabiannya.

Dalam perbandingan Injil Lukas yang dihadapkan dengan ayat-ayat AlQur’an, kita bisa menemukan bahwa anak yang akan dilahirkan tersebut adalah karena kekuasaan dari Allah, dan anak tersebut lahir dalam keadaan suci (kudus)

Penyebutan bahwa Yesus alias ‘Isa al-masih adalah seorang anak yang kudus tidak bisa langsung berarti bahwa dia merupakan anak Tuhan.

Disebut sebagai anak yang suci, adalah bahwa sang anak tersebut lahir bukan dari hasil perzinahan sebagaimana yang dituduhkan oleh umat Yahudi masa itu atas perawan Maria(m) dan juga bantahan atas dakwahan umat Yahudi yang telah mengubah isi kitab Taurat yang berisikan kecabulan para Nabi dan Rasul Allah yang diantaranya adalah leluhur Yesus, seperti Nabi Daud dan Nabi Sulaiman.

Sebagaimana yang diceritakan oleh kitab II Samuel 11:2-5 bahwa Nabi Daud sudah berzinah dengan istri Uria yang bernama Batsyeba binti Eliam sehingga hamil dan selanjutnya pada kitab yang sama pada ayat ke-14 hingga 17, Nabi Daud mengirimkan surat kepada Yoab agar menempatkan Uria kebarisan depan dalam upaya membunuhnya sehingga istri Uria yang sudah ditiduri oleh Daud dapat dipersuntingnya sebagai istri resmi.

Dalam Injil riwayat Matius dituliskan bahwa Yesus adalah keturunan dari Nabi Sulaiman, sementara pada kitab Raja-raja pertama pasal 11:1-4 diceritakan betapa sang Nabi Sulaiman ini adalah manusia yang rakus wanita dan durhaka kepada Tuhan.

Jadi cukup beralasan sekali bahwa Allah melalui malaikat-Nya, menyebut bayi yang keluar dari perawan Maria(m) adalah bayi yang suci (kudus), bahwa dia itu bersih dari segala fitnahan Bani Israel, baik yang menyangkut tentang perzinahan ibunya maupun fitnahan mengenai perzinahan para leluhurnya.

Jika Yesus tetap dipandang sebagai anak Tuhan hanya karena dilahirkan tidak berbapak, mestinya secara logika, Adam jauh lebih tepat disebut sebagai anak Tuhan atau Tuhan itu sendiri, sebab terjadinya Adam tanpa berbapak dan tanpa beribu, apalagi Adam diciptakan dengan rupa Tuhan itu sendiri.

Ge 1:26 Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita…”

Selain dari itu, perhatikan ulang jawaban malaikat pada Lukas 1:35 dan juga 1:37 bahwa kelahiran Yesus itu adalah berkat kuasa Allah yang tidak ada kata mustahil bagi-Nya, ini kembali bersesuaian dengan AlQur’an Surah Ali Imran ayat ke 47 dan Surah Maryam ayat 21 yang sudah kita tuliskan diatas.

Penyebutan anak Tuhan terhadap diri dan pribadi Yesus alias ‘Isa ini dalam sejarah Bible tidak pernah sekalipun dibenarkannya, malah Yesus berulang kali menyatakan bahwa dia hanyalah anak manusia dan sekaligus juga merangkap sebagai utusan Allah kepada Bani Israil yang memiliki Tuhan.

Untuk pernyataan bahwa Yesus juga mengakui akan bertuhankan kepada Allah yang Esa :

“And Yahshua answered him, The first of all the commandments is, Hear, O Israel; Yahweh is our Elohim, Yahweh is one”. (Mark 12:29)

Pernyataan Yesus pada ayat Bible diatas ini bisa ditemukan pula didalam kitab suci AlQur’an pada Surah Ali Imran ayat 51, dimana ‘Isa al-masih putra Maryam berkata :

“Sesungguhnya Allah itu Tuhanku dan Tuhan kamu…” (QS. 3:51)

Jelas sekali, masing-masing kitab, Bible maupun al-Qur’an menyatakan akan keabsahan Allah selaku satu-satunya Tuhan yang diakui oleh Yesus al-masih.

“Whosoever shall receive one of such children in my name, receiveth me: and whosoever shall receive me, receiveth not me, but him that sent me.” (Mark 9:37)

“Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.” (Yohanes 5:30)

Kedua ayat Bible diatas juga merupakan pernyataan Yesus akan dirinya selaku utusan Allah yang tidak mampu berbuat apapun, bahkan terhadap dirinya sendiri sekalipun kecuali di-izinkan oleh Allah.

Hal ini juga memiliki padanan yang pas sekali didalam al-Qur’an, seperti pada Surah Ali Imran ayat 49 serta Surah Ar-Ra’d ayat 38 dibawah ini :

Dan Rasul kepada Bani Israil : “Sesungguhnya aku bawa kepada kamu satu mukjizat dari Tuhanmu, aku dapat membuat untuk kamu dari tanah seperti rupa burung; lalu aku tiup padanya, maka ia menjadi seekor burung Dengan SEIZIN ALLAH; dan aku menyembuhkan orang yang buta dan yang sopak; dan menghidupkan orang-orang yang mati Dengan SEIZIN ALLAH; dan aku bisa kabarkan kepada kamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumah-rumah kamu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah satu tanda bagimu, jika kamu beriman”. (QS. 3:49)

“Tidak ada kekuasaan bagi seorang Rasul mendatangkan suatu petunjuk melainkan dengan izin Allah.” (QS. 13:38)

Bahwa Yesus merupakan seorang Nabi Allah, juga diakui oleh seorang perempuan dari Samaria yang melakukan dialog dengan beliau sebagaimana yang diriwayatkan oleh Yohanes dalam Injilnya pada pasal 4:19 :

“The woman saith unto him, Sir, I perceive that thou art a prophet.”
(John 4:19)

Bahwa Yesus harus diakui sebagai anak manusia :

“Yesus mendengar bahwa ia telah diusir ke luar oleh mereka. Kemudian Ia bertemu dengan dia dan berkata: “Percayakah engkau kepada Anak Manusia?” (Yohanes 9:37)

“Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui dia di depan malaikat-malaikat Allah.”
(Lukas 12:5)

Yesus menolak dirinya disebut sebagai anak Allah dan dia menyatakan dirinya adalah anak manusia.

Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak.” Jawab Yesus: “Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.”
(Matius 26:63-64)

Dan setelah hari siang berkumpullah sidang para tua-tua bangsa Yahudi dan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu mereka menghadapkan Dia ke Mahkamah Agama mereka, katanya: “Jikalau Engkau adalah Mesias, katakanlah kepada kami.” Jawab Yesus: “Sekalipun Aku mengatakannya kepada kamu, namun kamu tidak akan percaya; dan sekalipun Aku bertanya sesuatu kepada kamu, namun kamu tidak akan menjawab. Mulai sekarang Anak Manusia sudah duduk di sebelah kanan Allah Yang Mahakuasa.” Kata mereka semua: “Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” Jawab Yesus: “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.” Lalu kata mereka: “Untuk apa kita perlu kesaksian lagi? Kita ini telah mendengarnya dari mulut-nya sendiri.” (Lukas 22:66-71)

Betapa jelas sekali penolakan Yesus ini, dia tidak pernah membenarkan sebutan orang yang mengatakan dirinya sebagai putra Allah dan dia mempertegas bahwa dia hanyalah anak manusia. Jikapun orang menyebutnya sebagai anak Tuhan, maka dilontarkannya kalimat bahwa merekalah yang sudah mengatakan yang demikian, namun dia sendiri tidak mengatakannya melainkan sebagai anak manusia semata.

Al-Qur’an menggariskan :

Dan ketika Allah berfirman:”Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia:”Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah ?”. ‘Isa menjawab:”Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku sama sekali tiada mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib, Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku yaitu:”Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka.”. (QS. Al-Ma’idah 5:116-117)

Selain itu bantahan akan keTuhanan Yesus al-masih ini bisa juga ditemukan dalam Surah 4:171, 5:72-73-75.

Dengan demikian betapa banyak persamaan yang diungkapkan oleh al-Qur’an dan Bible mengenai status Yesus alias ‘Isa al-Masih ini.

Disatu sisi lainnya, pernyataan Bible yang menyebutkan akan keanakan Tuhan yang ada pada diri Yesus, sebaiknya kita ambil dalam makna kias dengan menarik satu benang merah diantara ayat-ayat Bible lainnya.

Ayat yang cukup sering dijadikan dasar fondasi akan ketuhanan Yesus oleh umat Nasrani beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :

“Tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.” (Yohanes 10:38)

Ayat ini bisa kita tarik benang merah dengan ayat yang terdapat didalam Yohanes 17:21 dan 23 :

“Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. ”

“Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.”

Kalimat “Bapa dalam aku”, dan muridnya pun jadi satu dengan Allah dan Yesus mempunyai pengertian bahwa Allah selalu menyertai Yesus dan para muridnya dimana dan kapan saja, sebagaimana pula sabda Nabi Muhammad Saw seperti : “Janganlah takut, sesungguhnya Allah beserta kita.” Didalam Al-Qur’an juga dikatakan :

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. 2:153 dan 8:46)

Bahkan para penyair sufi sering juga melantunkan syair “Dihatiku ada Allah”, kalimah ini bukan berarti bahwa Allah bertempat didalam diri sang sufi, analogi ini juga bisa kita nisbatkan pada kalimat Yesus tersebut, sebab Allah tidak membutuhkan ruang, waktu dan tempat.

Selain itu, untuk menambah kelengkapan penjelasan bahwa anak Tuhan yang dipakaikan terhadap Yesus hanyalah satu kiasan, kita tarik lagi benang merah antar ayat-ayat Bible.

Kalimat anak Tuhan ini juga bisa kita temukan dalam berbagai ayat Bible lainnya yang merujuk pada pribadi atau golongan selain dari Yesus.

Daud disebut sebagai anak Allah yang sulung berdasarkan Mazmur 89:27
Yakub alias Israil adalah anak Allah yang sulung berdasarkan Keluaran 4:22 dan 23
Afraim adalah anak Allah yang sulung berdasar pada Yeremia 31:9
Adam disebut sebagai anak Allah berdasar Lukas 3:38

Selanjutnya tercatat pula adanya anak-anak Allah dalam :
Kitab Kejadian 6:2 dan 6:4,
Kitab Job 1:6 dan Job 2:1 serta Job 38:7

Bahkan salah satu kriteria untuk menjadi anak-anak Allah adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Matius pasal 5 ayat 9 dan juga Yohanes pasal 1 ayat 12:

“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”

“Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya”.

Dengan demikian maka sebagai kesimpulan akhir dari semua ini adalah : Bahwa yang disebut selaku anak Allah itu merupakan manusia yang dicintai atau diridhoi Allah yang lazim juga dikenal sebagai para kekasih Allah atau mereka yang taat kepada perintah-perintah Tuhan.

Dalam hal ini, Allah menyatakan firman-Nya di Qur’an sebagai berikut :

“Dan mereka berkata: ‘Allah mempunyai anak.”, Mahasuci Dia !
Bahkan Dia-lah yang mempunyai apa-apa yang dilangit dan dibumi.”
(QS. 2:116)

Mereka berkata:”Allah mempunyai anak”. Maha Suci Allah; Dia-lah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. Kamu tidak mempunyai pengetahuan tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? (QS. 10:68)

Dan telah berkata orang-orang Yahudi dan Nasrani: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Tanyalah: “Kalau begitu, kenapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu ?” Kamu adalah manusia (biasa) yang telah diciptakan-Nya.” (QS. 5:18)

“Katakan: Dialah Allâh yang Esa. Allâh tempat bergantung. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada bagi-Nya kesetaraan dengan apapun.” (QS Al-Ikhlash 112:1-4)

Catatan Tambahan :

1. Ayat-ayat Bible terjemahan Bahasa Indonesia yang dipergunakan dalam artikel ini diambil dari Software SABDA(c)/OLB versi 7.03/Win32 yang bisa didownload pada alamat http://www.sabda.org/sabda, sementara ayat-ayat Bible terjemahan Bahasa Inggris dicuplik dari “The Restored Name King James Version of the Scriptures” yang bisa didownload dari alamat web site http://www.eliyah.com/Scripture/

2. Bagi yang belum mendapatkan artikel Isa al-Masih jilid 1 s/d 7, silahkan menghubungi via Japri atau silahkan merujuk kesitus saya dibagian Perbandingan Agama (Islam-Kristen) sub menu Seputar Isa al-Masih dan Maryam

(shortcut : http://armansyah.swaramuslim.net/isa_almasih.htm )

https://tausyah.wordpress.com