Archive for the ‘Fiqih & Fatwa’ Category

https://tausyah.wordpress.com/Islam-barbie

Arabian Barbie

Adalah ini menjadi suatu perkara yang nyata kemudharatannya ditengah – tengah umat muslim, ketika telah datang kehadapan mereka sosok yang termashyur karena ia seorang publik figur yang elok wajah dan penampilannya hingga kemudian iapun bertingkah laku selayak sosok yang menjadi tauladan baginya.

Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya sekalian artis itu adalah orang – orang yang jahil lagi senantiasa bergelimang dosa, sedang mereka bersuka ria daripadanya. Apabila ia adalah seorang aktor maupun bintang film, maka sesungguhnya..kamu dan sekalian manusia dimuka bumi adalah sekalian aktor jua yang memerankan perannya masing-masing, dan kelak tiap-tiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas apa-apa yang kamu kerkjakan. Sedang orang-orang yang berada dibalik layar itu hanyalah kebohongan belaka, mereka memerankan tentang sesuatu yang bukan diri mereka, amat buruklah atas apa-apa yang mereka ada-adakan yang menjual diri mereka dengan setumpuk uang yang nilainya telah melebihi norma lagi aqidah mereka. Sedang yang sedemikian ini menjadikan kamu lebih banyak mengingat mereka selain daripada ALLAH,  Tidakkah kamu memikirkan?

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda : (lebih…)

https://tausyah.wordpress.com/Adzan-IqamahSUNNAH-SUNNAH DALAM ADZAN

Oleh
Syaikh Khalid al Husainan

Sunnah-sunnah yang berkaitan dengan adzan ada lima: seperti yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad.

[1]. Sunnah Bagi Orang Yang Mendengar Adzan Untuk Menirukan Apa Yang Diucapkan Muadzin Kecuali Dalam  lafadz.

“Hayya ‘alash-shollaah, Hayya ‘alash-shollaah”

Maka ketika mendengar lafadz itu maka dijawab dengan lafad.

“Laa hawla walaa quwwata illa billahi”

“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan  pertolongan Allah “[HR. Al-Bukhari dan Muslim no. 385.]

Faedah Dari Sunnah Tersebut
‘Sesungguhnya (sunnah tersebut (yaitu  menjawab adzan) akan  menjadi sebab engkau masuk surga, seperti dalil yang tercantum dalam Shahih Muslim (no. 385. Pent) (lebih…)

https://tausyah.wordpress.com/adab-kepada-ALLAH-dan-Rasul-Nya

Adab Kepada ALLAH dan Rasul-Nya

Banyak saudara kita yang menulis ucapan salam, ucapan sholawat dan asma Allah dengan singkatan, baik itu di commet-commet, di sms, dll. Kita tahu bahwa menulis tidaklah beda dengan kita berbicara kepada orang lain, yang mana disitu ada malaikat yang senantiasa mencatat perbuatan tersebut.

Sekecil apapun perbuatan itu pasti ada nilainya disisi Allah, dan sesungguhnya amal ibadah seseorang itu tergantung dari keikhlasan masing-masing individu, kalaulah kita hendak bersholawat, hendaknya menuliskannya dengan lengkap (tidak dengan menyingkatnya), sebagai bukti keikhlasan kita dalam mengamalkannya.

insya Allah dengan membiasakan ini amalan kita akan menjadi sempurna, Inilah adab kepada Allah dan Rasul-Nya yang harus kita perhatikan. Berikut adalah fatwa-fatwa ulama seputar masalah penyingkatan kata:

Fatwa Syaikh Wasiyullah Abbas (Ulama Masjidil Haram, pengajar di Ummul Qura)

Soal:
Banyak orang yang menulis salam dengan menyingkatnya, seperti dalam Bahasa Arab mereka menyingkatnya dengan wrwb islam Fatwa Larangan Penyingkatan Salam dan Shalawat Dalam bahasa Inggris mereka menyingkatnya dengan “ws wr wb” (dan dalam bahasa Indonesia sering dengan “ass wr wb” – pent). Apa hukum masalah ini? (lebih…)

https://tausyah.wordpress.com/hukum-cincin-tunangan-dalam-islam

Cincin Tunangan

Hukum Memakai Cincin Tunangan

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin ditanya : Apa hukum memakai cincin tunangan .?

Jawaban.
Peningset, seperti cincin biasa, hanya saja diiringi kepercayaan sebagaimana diyakini oleh sebagian orang, dengan menuliskan namanya di cincin yang akan diberikan kepada tunangan wanitanya, sedangkan yang wanita menuliskan namanya di cincin yang akan diberikan kepada lelaki yang meminangnya, dengan keyakinan bahwa hal tersebut bisa mempererat tali ikatan antara keduanya.

Dalam keadaan seperti ini, hukumnya memakai cincin tunangan adalah haram, karena berhubungan dengan keyakinan yang tidak ada dasarnya. Juga tidak diperbolehkan bagi lelaki untuk memakai cincin tersebut untuk tunangannya karena belum menjadi istrinya, dan dinyatakan sah menjadi istrinya setelah akad nikah. (lebih…)

Islamic ArtAmr bin Abdul Mun’im


Yang dimaksud membuat tato adalah menusuk-nusukkan jarum atau sebangsanya di punggung telapak tangan, lengan atau bibir atau tempat-tempat lainnya pada tubuh wanita yang tidak mengeluarkan darah, kemudian memberikan celak atau kapur pada bekas tusukan tersebut sehingga kulitnya berubah menjadi warna hijau.

Wanita yang menjadi tukang membuat tato itu disebut sebagai Wasyimah, sedangkan wanita yang dibuatkan tato disebut Mausyumah, dan yang meminta dibuatkan tato disebut Mustausyimah. (Syarhu Shahihi Muslim, Nawawi IV/836)

Yang dimaksud dengan perenggangan gigi di sini adalah merenggangkan atau menggeser gigi taring dan empat gigi seri. (Gaharibu Al-Hadits, Khutabi 1/598). Hal ini sering dilakukan oleh wanita-wanita yang sudah tua dengan tujuan agar terlihat lebih muda. Sebenarnya kerenggangan antara gigi seri ini terjadi pada anak-anak kecil. Setiap kali bertambah usia seorang wanita khawatir sehingga dia merapikan giginya dengan alat perapi gigi supaya terlihat lembut dan baik serta tampak lebih muda. (Syarhu Shahihi Muslim, Nawawi IV/837) (lebih…)

AdzanAlloh berfirman:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلا یَزَالُونَ

مُخْتَلِفِينَ إِلاَّ مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ

“Jikalau Robbmu menghendaki, tentu Dia menjadikan umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu. Dan untuk itulah Alloh menciptakan mereka”. (QS. Hud:118-119)

Artinya, Alloh SWT menciptakan mereka memang untuk berbeda, baik dari segi agamanya, keyakinan dan pendapatnya. Inilah tafsiran yang masyhur dan shohih dari ayat di atas sebagaimana dikatakan Ibnu Katsir (II/465)

 

Alloh SWT berfirman

إِنَّ الَّذِینَ حَقَّتْ عَلَيْهِمْ آَلِمَةُ رَبِّكَ لا یُؤْمِنُونَ وَلَوْ جَاءَتْهُمْ آُلُّ آیَةٍ حَتَّى یَرَوْا الْعَذَابَ الأَلِيمَ فَلَوْلا

آَانَتْ قَرْیَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِیمَانُهَا إِلا قَوْمَ یُونُسَ لَمَّا آمَنُوا آَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ

الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَى حِينٍ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لآمَنَ مَنْ فِي الأَرْضِ آُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ

حَتَّى یَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Robbmu,

tidaklah akan beriman. Meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga

mereka menyaksikan azab yang pedih. Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang

beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus tatkala mereka (kaum

Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan

dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai pada waktu yang tertentu. Dan

jikalau Robbmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi

seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orangorang yang beriman semuanya” .17

 

Alloh SWT memang menghendaki makhluk-Nya terbagi kepada mukmin dan kafir, sebuah kehendak kauniyah qodariyyah yang pasti terjadi. Alloh SWT berfirman:

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ یَقُولَ لَهُ آُنْ فَيَكُونُ

Artinya: “Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata

kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.” 18

Dan Alloh berfirman:

وَآَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا

Artinya: “Dan adalah ketetapan Alloh itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.” 19

Maka makhlukpun terbagi kepada kelompok yang mukmin dan yang kafir.

Alloh SWT berfirman:

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ فَمِنْكُمْ آَافِرٌ وَمِنْكُمْ مُؤْمِنٌ

Artinya: “Dia-lah yang menciptakan kamu maka diantara kamu ada yang kafir dan

diantaramu ada yang beriman.” 20

 

Semua ini terjadi setelah tadinya mereka semua beriman, berawal ketika Alloh SWT ciptakan Adam AS sebelum akhirnya timbul kesyirikan pada diri anak Adam, sebagaimana firman Alloh SWT:

وَمَا آَانَ النَّاسُ إِلا أُمَّةً وَاحِدَةً فَاخْتَلَفُوا

Artinya: Dan Manusia itu dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih.” 21

Ibnu Katsir berkata: Ibnu ‘Abbas berkata: “Rentang waktu antara Adam dan Nuh adalah sepuluh abad, semua orang berada di atas Islam, setelah itu terjadilah perselisihan antara mereka; di antara mereka ada yang mulai menyembah patung, membuat tandingan selain Alloh SWT dan beribadah kepada berhala-berhala; ketika ini terjadi maka Alloh mengutus para rosul dengan membawa ayat, keterangan serta hujjah-hujjah-Nya yang sangat jelas dan bukti-bukti-Nya yang tak terbantahkan,

لِيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَیَحْيَا مَنْ حَيَّ عَنْ بَيِّنَةٍ

… agar yang binasa itu binasa atas keterangan yang nyata, dan yang hidup itu hidup atas keterangan yang nyata…” Sampai di sini perkataan Ibnu Katsir.

di katakan: “Tatkala muncul kekufuran pada diri anak Adam, Alloh SWT mengutus para rosul, sebagaimana firman Alloh SWT:

آَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِینَ وَمُنذِرِینَ وَأَنزَلَ مَعَهُمْ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ

بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ

Artinya: “Manusia itu adalah ummat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Alloh

mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Alloh

menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara

manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.”22

Meskipun Alloh SWT telah mengutus para rosul-Nya dengan membawa keterangan dan hujjah yang jelas, perselisihan yang bersifat qodari ini terus terjadi; manusia terbagi kepada kelompok mukmin dan kafir, peperangan antar dua kelompokpun tak terelakkan, sebagaimana firman Alloh SWT.

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ آَلَّمَ اللَّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ وَآتَيْنَا عِيسَى

ابْنَ مَرْیَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَیَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِینَ مِنْ بَعْدِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا

جَاءَتْهُمْ الْبَيِّنَاتُ وَلَكِنْ اخْتَلَفُوا فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ وَمِنْهُمْ مَنْ آَفَرَ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلُوا وَلَكِنَّ اللَّهَ

یَفْعَلُ مَا یُرِیدُ

Artinya: “Rosul-Rosul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain; Di

antara mereka ada yang Alloh berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Alloh

meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada ‘Isa putera Maryam beberapa

mu’jizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus. Dan kalau Alloh menghendaki,

niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah Rosul-Rosul itu,

sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih,

maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir.

Seandainya Alloh menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Alloh

berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” 23

 

Tidak ada seorang Rosulpun yang diutus melainkan pasti ada golongan dari kaumnya yang kufur, bahkan Rosululloh SAW bersabda tentang sebagian nabi yang

datang pada hari kiamat:

وَیَأْتِي النَّبِيُّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ

“…dan datang seorang nabi sementara tidak ada seorangpun yang mengikutinya.” 24

Alloh SWT kisahkan kepada kita contoh dari hal ini, Alloh SWT berfirman:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا أَنْ اعْبُدُوا اللَّهَ فَإِذَا هُمْ فَرِیقَانِ یَخْتَصِمُونَ

Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada (kaum) Tsamud saudara mereka

Shaleh (yang berseru): “Sembahlah Alloh.” Tetapi tiba-tiba mereka (jadi) dua golongan yang

bermusuhan.” 25

Tatkala rosul mengajak mereka untuk beribadah kepada Alloh SWT saja, maka mereka terpecah kepada dua kelompok dan terjadilah permusuhan antara mereka. Demikianlah hingga Alloh SWT tutup para rosul dengan diutusnya Muhammad SAW, manusia masih terbagi kepada mukmin dan kafir, sebagaimana

disebutkan dalam sebuah hadits:

وَمُحَمَّدٌ فَرْقٌ بَيْنَ النَّاسِ

Artinya: “…dan Muhammad telah ‘memecah belah’ umat manusia.” 26

Ini akan terus berlangsung hingga hari kiamat.

 

Tapi meskipun Alloh SWT menghendaki makhluk-Nya terbagi kepada mukmin dan kafir dan ini pasti terjadi, namun kita (sebagai umat Islam) tetap percaya bahwa semua makhluk akan dihisab sesuai amalan yang telah mereka kerjakan sendiri, Alloh SWT berfirman:

وَمَا تُجْزَوْنَ إِلا مَا آُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya: “Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu

kerjakan”27

Kita juga beriman bahwa Alloh SWT tidaklah sedikitpun menzalimi

seseorang. Alloh SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لا یَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا وَلَكِنَّ النَّاسَ أَنْفُسَهُمْ یَظْلِمُونَ

Artinya: “Sesungguhnya Alloh tidak berbuat zhalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi

manusia itulah yang berbuat zhalim kepada diri mereka sendiri.” 28

Di dalam sebuah hadits qudsi disebutkan:

یَا عِبَادِيْ إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِيْ وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوْا

Artinya: “Hai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah haramkan kedzaliman pada diri-

Ku, maka janganlah kalian saling menzhalimi.” 29


17 QS. Yunus:96-99

18 QS. Yaasin:82

19 QS. Al-Ahzab:38

20 QS. At-Taghobun:2

21 QS. Yunus: 19

22 QS. Al-Baqoroh:213

23 QS. Al-Baqoroh:253

24 Muttafaq ‘Alaih, dari Ibnu ‘Abbas

25 QS. An-Naml:45

26 HR. Bukhori dari Jabir

27 QS. Ash-Shoffat:39

28 QS. Yunus:44

29 HR. Muslim dari Abu Dzar ra.

 

https://tausyah.wordpress.com

Ibadah Kepada ALLAH

Ibadah adalah melaksanakan syariat Alloh SWT yang disampaikan melalui
lisan para Rosul-Nya — ‘Alaihimus Salam —; tidak ada satu umatpun dari makhluk
Alloh melainkan telah diutus seorang Rosul kepada mereka.

Alloh SWT berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي آُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنْ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rosul pada tiap-tiap umat (untuk
menyerukan): “Sembahlah Alloh (saja), dan jauhilah Thoghut itu”. 13

Juga berfirman:
وَإِنْ مِنْ أُمَّةٍ إِلا خلا فِيهَا نَذِیرٌ
Artinya: “Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi
peringatan.” 14

Agar hujjah Alloh SWT tegak terhadap makhluk-Nya sejak penciptaan Adam
AS hingga datangnya hari kiamat, Alloh SWT berfirman:
رُسُلا مُبَشِّرِینَ وَمُنذِرِینَ لئَلاَّ یَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ

Artinya: “(Mereka Kami utus) selaku Rosul-Rosul pembawa berita gembira dan pemberi
peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Alloh sesudah diutusnya
Rosul-Rosul itu.” 15

Seorang Rosul diutus pada umat dimana ia hidup bersama mereka,
sepeninggalnya nanti para pengikutnyalah yang menyampaikan risalah. Alloh SWT
berfirman:
وَمَا آَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى حَتَّى یَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولًا یَتْلُوا عَلَيْهِمْ آیَاتِنَا

Artinya: “Dan tidak adalah Robbmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di
kota itu seorang Rosul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka.” 16

13 QS. An-Nahl:36
14 QS. Fathir:24
15 QS. An-Nisa’:165
16 QS. Al-Qoshosh:59

Alloh berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka menyembah-Ku..”
(QS. Adz-Dzaariyaat:56)

Syaikh ‘Abdul Qodir ‘Abdul ‘Aziz Panduan Fikih Jihad Fii Sabiilillah 1 0
Setelah seorang rosul meninggal, para pengikutnya mengemban amanah
untuk menyampaikan risalah
sehingga hujjah Alloh SWT tetap tegak terhadap
semua makhluk-Nya sebagaimana sabda rosul kita Muhammad SAW.

Beliau
bersabda:
لِيُبَلِّغَ الشَّاهِدُ مِنْكُمُ الْغَائِبَ
Artinya: “Hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.”

Beliau juga bersabda:
بَلِّغُوْا عَنِّي وَلَوْ آیَةً
Artinya: “Sampaikanlah dariku meski hanya satu ayat.”

Beliau juga bersabda:
اَلْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ
Artinya: “Ulama adalah pewaris para nabi.”

Beliau juga bersabda:
لاَ تَزَالُ طَائِْفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ قَائِمَةً بِأَمْرِ اللهِ
Artinya: “Akan selalu ada satu kelompok dari umatku yang melaksanakan perintah Alloh.”

Semua hadits ini adalah shohih.

Perintah kepada hamba adalah bersifat syar’i, artinya Alloh SWT
mensyariatkannya melalui lisan para rosul-Nya, tetapi tidak selalunya semua
makhluk menyambut perintah ini. Alloh SWT ciptakan makhluk untuk beribadah
kepada-Nya serta memerintahkan hal itu melalui lisan para Rosul-Nya, kemudian
para makhluk itu ada yang mau beribadah kepada Alloh SWT dan ada juga yang tidak.

 

https://tausyah.wordpress.com

ALLAHUBERSEMAYAMNYA ALLAH DI ATAS ‘ARSY

Ahlul Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berada di atas tujuh lapis langit, di atas ‘Arsy-Nya, sebagaimana dalam surat Yunus:

إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الأَمْرَ مَا مِن شَفِيعٍ إِلاَّ مِن بَعْدِ إِذْنِهِ ….

“Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada keizinan-Nya” (Yunus:3)

اللّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لأَجَلٍ مُّسَمًّى يُدَبِّرُ الأَمْرَ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لَعَلَّكُم بِلِقَاء رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ

“Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Rabbmu”. (Ar-Ra’d: 2)

ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ الرَّحْمَنُ فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيراً

“kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang Maha Mengetahui” (Al-Furqan:59)

ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“kemudian Dia-pun bersamayam di atas ‘Arsy”.(As-Sajdah:4)

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ

dan kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik..”.(Fathir:10)

يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya..”. (As-Sajadah:5)

أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاء أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

“Apakah kamu merasa terhadap Allah yang di langit bahwa Dia menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga tiba-tiba bumi itu bergoncang”. (Al-Mulk:16)

Allah subhanahu wa ta’ala memberitakan tentang Fir’aun yang terlaknat, bahwasanya ia pernah berkata kepada Haman (pembantunya):

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحاً لَّعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبَابَ – أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ كَاذِباً

“Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Ilah Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta…” (Al-Mu’min:36-37)

Fir’aun berkata demikian karena ia mendengar Musa mengabarkan bahwa Rabbnya berada di atas langit.

Para ulama dan tokoh imam-imam dari kalangan salaf tidak pernah berbeda pendapat, bahwa Allah ‘azza wa jalla’ berada diatas ‘arsy-Nya. Dan ‘arsy-Nya berada di atas tujuh lapis langit. Mereka menetapkan segala yang ditetapkan Allah, mengimaninya serta membenarkannya.

Mereka menyatakan seperti yang Allah katakan bahwa Allah bersamayam di atas ‘Arsy-Nya. Mereka membiarkan makna ayat itu berdasarkan dzhahirnya, dan menyerahkan hakikatnya sesungguhnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka mengatakan:

آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ الألْبَابِ

“Kami mengimani, semuanya itu dari sisi Rabb kami. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal”(Ali-‘Imran:7).

Sebagaimana Allah terangkan tentang orang-orang yang dalam ilmunya mengatakan demikian, dan Allah ridha serta memujinya.

Imam Malik pernah ditanya dalam majelisnya tentang ayat Allah:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Ar-Rahman bersemayam di atas ‘Arsynya”.(Thaha:5),

bagaimana caranya Allah bersemayam?. Maka Imam Malik menjawab:” Bersemayam itu maklum (diketahui maknanya), bagaimananya (caranya) tidak diketahui, menanyakan bagaimananya adalah bid’ah, dan saya memandang kamu (penanya) sebagai orang yang sesat, kemudian memerintahkan untuk mengeluarkan penanya tersebut dari majelis.

Abdullah bin Al-Mubarak berkata: “Kami mengetahui Rabb kami berada di atas 7 lapis langit, bersemayam di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dengan makhluk-Nya. Dan kami tidak menyatakan seperti ucapan Jahmiyyah bahwa Allah ada di sini, beliau menunjuk ke tanah (bumi)”. 4

Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah berkata: “Siapa yang tidak menetapkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berada di atas ‘Arsy-Nya maka dia kufur kepada Rabbnya, halal darahnya, diminta taubat, kalau menolak maka dipenggal lehernya, lalu bangkainya dicampakkan ke pembuangan sampah agar kaum muslimin dan orang-orang mu’ahad tidak terganggu oleh bau busuk bangkainya, hartanya dianggap sebagai fa’i (rampasan perang) -tidak halal diwarisi oleh seorang pun dari muslimin, karena seorang muslim tidak mewarisi harta orang kafir, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Seorang Muslim tidak mewarisi orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi orang muslim” (HR. Bukhari)

Dalam hadits Mu’awiyah bin Hakam, bahwa ia berniat membebaskan budak sebagai kifarat. Lalu ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menguji budak wanita. Beliau bertanya:“dimanakah Allah?”, maka ia menjawab di atas langit, beliau bertanya lagi:”Siapa aku?”, maka ia menjawab: “Anda utusan Allah”.5

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghukumi sebagai muslimah karena ia menyatakan bahwa Allah di atas langit.

Imam Az-Zuhri -imamnya para imam berkata: “Allahlah yang berhak memberi keterangan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berhak menyampaikan dan kita wajib pasrah menerimanya

Wahhab bin Munabbih berkata kepada Ja’ad bin Dirham: “Sungguh celaka engkau wahai Ja’ad karena masalah itu (karena Ja’ad mengingkari sifat-sifat Allah)!, seandainya Allah tidak mengkabarkan dalam Kitab-Nya bahwa Ia memiliki tangan, mata dan wajah, niscaya aku tidak berani mengatakannya, takutlah kepada Allah!”

Khalid bin Abdullah Al-Qisri suatu ketika berkhutbah pada hari raya I’dul Adha di Basrah, pada akhir khutbahnya ia berkata: “Pulanglah kalian kerumah masing-masing dan sembelihlah kurban-kurban kalian-semoga Allah memberkahi kurban kalian. Sesungguhnya pada hari ini aku akan meyembelih Ja’ad bin Dirham, karena ia berkata: Allah tidak pernah mengangkat Ibrahim ‘alaihissalam sebagai kekasih-Nya, dan tidak pernah mengajak Musa berbicara. Sungguh Maha Suci Allah dari apa yang dikatakan Ja’ad karena kesombongan, maka Khalid turun dari mimbar dan menyembelih Ja’ad dengan tangannya sendiri, kemudian memerintahkan untuk disalib

4 Sanadnya Hasan

5 HR.Muslim dan lainnya

 

https://tausyah.wordpress.com

Kitab Qur'anHUKUM BERBURUK SANGKA DAN MENCARI-CARI KESALAHAN

Allah Ta’ala berfirman.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” [Al-Hujurat : 12]

Dalam ayat ini terkandung perintah untuk menjauhi kebanyakan berprasangka, karena sebagian tindakan berprasangka ada yang merupakan perbuatan dosa. Dalam ayat ini juga terdapat larangan berbuat tajassus ialah mencari-cari kesalahan-kesalahan atau kejelekan-kejelekan orang lain, yang biasanya merupakan efek dari prasangka yang buruk.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari hadits no. 6064 dan Muslim hadits no. 2563]

Amirul Mukminin Umar bin Khathab berkata, “Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik”

Ibnu Katsir menyebutkan perkataan Umar di atas ketika menafsirkan sebuah ayat dalam surat Al-Hujurat.

Bakar bin Abdullah Al-Muzani yang biografinya bisa kita dapatkan dalam kitab Tahdzib At-Tahdzib berkata : “Hati-hatilah kalian terhadap perkataan yang sekalipun benar kalian tidak diberi pahala, namun apabila kalian salah kalian berdosa. Perkataan tersebut adalah berprasangka buruk terhadap saudaramu”.

Disebutkan dalam kitab Al-Hilyah karya Abu Nu’aim (II/ 285) bahwa Abu Qilabah Abdullah bin Yazid Al-Jurmi berkata: “Apabila ada berita tentang tindakan saudaramu yang tidak kamu sukai, maka berusaha keraslah mancarikan alasan untuknya. Apabila kamu tidak mendapatkan alasan untuknya, maka katakanlah kepada dirimu sendiri, “Saya kira saudaraku itu mempunyai alasan yang tepat sehingga melakukan perbuatan tersebut”.

Sufyan bin Husain berkata, “Aku pernah menyebutkan kejelekan seseorang di hadapan Iyas bin Mu’awiyyah. Beliaupun memandangi wajahku seraya berkata, “Apakah kamu pernah ikut memerangi bangsa Romawi?” Aku menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya lagi, “Kalau memerangi bangsa Sind, Hind (India) atau Turki?” Aku juga menjawab, “Tidak”. Beliau berkata, “Apakah layak, bangsa Romawi, Sind, Hind dan Turki selemat dari kejelekanmu sementara saudaramu yang muslim tidak selamat dari kejelekanmu?” Setelah kejadian itu, aku tidak pernah mengulangi lagi berbuat seperti itu” [Lihat Kitab Bidayah wa Nihayah karya Ibnu Katsir (XIII/ 121)]

Komentar saya : “Alangkah baiknya jawaban dari Iyas bin Mu’awiyah yang terkenal cerdas itu. Dan jawaban di atas salah satu contoh dari kecerdasan beliau”.

Abu Hatim bin Hibban Al-Busti bekata dalam kitab Raudhah Al-‘Uqala (hal.131), ”Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa letih. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya”.

Beliau juga berkata pad hal.133, “Tajassus adalah cabang dari kemunafikan, sebagaimana sebaliknya prasangka yang baik merupakan cabang dari keimanan. Orang yang berakal akan berprasangka baik kepada saudaranya, dan tidak mau membuatnya sedih dan berduka. Sedangkan orang yang bodoh akan selalu berprasangka buruk kepada saudaranya dan tidak segan-segan berbuat jahat dan membuatnya menderita”

https://tausyah.wordpress.com

islamic-scholarsRUKUN IMAN MENURUT AL-FIRQAH AN-NAJIYAH

[1]. Iman Kepada Allah Ta’ala
Iman kepada Allah adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah adalah Rabb dan Raja segala sesuatu; Dialah Yang Mencipta, Yang Memberi Rezki, Yang Menghidupkan, dan Yang Mematikan, hanya Dia yang berhak diibadahi. Kepasrahan, kerendahan diri, ketundukan, dan segala jenis ibadah tidak boleh diberikan kepada selain-Nya; Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan,dan kemuliaan; serta Dia bersih dari segala cacat dan kekurangan.[1]

[2]. Iman Kepada Para Malaikat Allah
Iman kepada malaikat adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah memiliki malaikat-malaikat, yang diciptakan dari cahaya. Mereka, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah, adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan. Apapun yang diperintahkan kepada mereka, mereka laksanakan. Mereka bertasbih siang dan malam tanpa berhenti. Mereka melaksanakan tugas masing-masing sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat mutawatir dari nash-nash Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Jadi, setiap gerakan di langit dan bumi, berasal dari para malaikat yang ditugasi di sana, sebagai pelaksanaan perintah Allah Azza wa Jalla. Maka, wajib mengimani secara tafshil, (terperinci), para malaikat yang namanya disebutkan oleh Allah, adapun yang belum disebutkan namanya, wajib mengimani mereka secara ijmal (global).[2]

[3]. Iman Kepada Kitab-kitab
Maksudnya adalah, meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa Allah memiliki kitab-kitab yang diturunkan-Nya kepada para nabi dan rasul-Nya; yang benar-benar merupakan Kalam, (firman, ucapan),-Nya. la adalah cahaya dan petunjuk. Apa yang dikandungnya adalah benar. Tidak ada yang mengetahui jumlahnya selain Allah. Wajib beriman secara ijmal, kecuali yang telah disebutkan namanya oleh Allah, maka wajib untuk mengimaninya secara tafshil, yaitu: Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur’an. Selain wajib mengimani bahwa Al-Qur’an diturunkan dari sisi Allah, wajib pula mengimani bahwa Allah telah mengucapkannya sebagaimana Dia telah mengucapkan seluruh kitab lain yang diturunkan. Wajib pula melaksanakan berbagai perintah dan kewajiban serta menjauhi berbagai larangan yang terdapat di dalamnya. Al-Qur’an merupakan tolok ukur kebenaran kitab-kitab terdahulu. Hanya Al-Qur’an saja yang dijaga oleh Allah dari pergantian dan perubahan. Al-Qur’an adalah Kalam Allah yang diturunkan, dan bukan makhluk, yang berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya.[3]

[4]. Iman Kepada Para Rasul
Iman kepada rasul-rasul adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah telah mengutus para rasul untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya. Kebijaksanaan-Nya telah menetapkan bahwa Dia mengutus para rasul itu kepada manusia untuk memberi kabar gembira dan ancaman kepada mereka. Maka, wajib beriman kepada semua rasul secara ijmal (global) sebagaimana wajib pula beriman secara tafshil (rinci) kepada siapa di antara mereka yang disebut namanya oleh Allah, yaitu 25 di antara mereka yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Wajib pula beriman bahwa Allah telah mengutus rasul-rasul dan nabi-nabi selain mereka, yang jumlahnya tidak diketahui oleh selain Allah, dan tidak ada yang mengetahui nama-nama mereka selain Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi. Wajib pula beriman bahwa Muhammad SAW. adalah yang paling mulia dan penutup para nabi dan rasul, risalahnya meliputi bangsa jin dan manusia, serta tidak ada nabi setelahnya.[4]

[5]. Iman Kepada Kebangkitan Setelah Mati
Iman kepada kebangkitan setelah mati adalah keyakinan yang kuat tentang adanya negeri akhirat. Di negeri itu Allah akan membalas kebaikan orang-orang yang berbuat baik dan kejahatan orang-orang yang berbuat jahat. Allah mengampuni dosa apapun selain syirik, jika Dia menghendaki. Pengertian al-ba’ts, (kebangkitan) menurut syar’i adalah dipulihkannya badan dan dimasukkannya kembali nyawa ke dalamnya, sehingga manusia keluar dari kubur seperti belalang-belalang yang bertebaran dalam keadaan hidup dan bersegera mendatangi penyeru. Kita memohon ampunan dan kesejahteraan kepada Allah, baik di dunia maupun di akhirat.[5]

[6]. Iman Kepada Takdir Yang Baik Maupun Yang Buruk Dari Allah Ta’ala.
Iman kepada takdir adalah meyakini secara sungguh-sungguh bahwa segala kebaikan dan keburukan itu terjadi karena takdir Allah. Allah Subhanallahu wa ta’ala telah mengetahui kadar dan waktu terjadinya segala sesuatu sejak zaman azali, sebelum menciptakan dan mengadakannya dengan kekuasaan dan kehendak-Nya, sesuai dengan apa yang telah diketahui-Nya itu. Allah telah menulisnya pula di Lauh Mahfuzh sebelum menciptakannya.[6]

Banyak sekali dalil mengenai keenam rukun Iman ini, baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala :

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلآئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ

“Artinya : Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, Hari Kemudian, Malaikat-malaikat, dan Nabi-nabi…”[Al-Baqarah : 177]

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

“Artinya : Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut qadar (ukuran).”[Al-Qamar : 49]

Juga sabda Nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam dalam hadits Jibril :

“Artinya : Hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitabNya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir. Dan engkau beriman kepada takdir Allah, baik maupun yang buruk.”[7]


Foote Note.
[1].Ar-Raudah An-Naiyah Syarh Al-Aqidah Al-Washithiyah‌, hal. 15; Al-Ajwibah Al-Ushuliyyah‌, hal. 16; dan At-Thahawiyah, hal. 335. Iman kepada Allah Ta’ala meliputi empat perkara : (1). Iman kepada wujud-Nya Yang Maha Suci. (2). Iman kepada Rububiyyah-Nya.(3). Iman kepada Uluhiyyah-Nya.(4). Iman kepada Asma dan sifat-sifat-Nya.
[2]. Ar-Raudhah An-Nadiyah‌, hal. 16 dan Al-Aqidah At-Thahawiyyah‌, hal. 350.
[3]. Al-Ajwibah Al-Ushuliyah‌, hal. 16 dan 17.
[4]. Lihat Al-Kawasyif Al-Jaliyah An Ma’ani Al-Wasithiyah‌, hal 66.
[5]. Ibid
[6]. Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah‌, Muhammad Khalil Al-Haras, hal. 19.
[7]. Dikeluarkan oleh Muslim, I/37 no.8

https://tausyah.wordpress.com