Do’a Berbuka Puasa, “Allahumma Laka Shumtu Wa Alla Rizqika Aftartu dst” Tidak Boleh Di Amalkan Karena Sanad Hadist Yang Meriwayatkannya Dhoif / Lemah, Dan Do’a Berbuka Puasa Yang Shahih Untuk Di Amalkan

Posted: 19 Juli 2012 in Ramadhan
Tag:, , , , , , , , , , , , , , ,
Bulan Suci Ramadhan

Bulan Suci Ramadhan

لسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Selamat Rahmad dan Berkah ALLAH, semoga tetap padamu..

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Seiring bulan suci ramadhan yang akan segera tiba dan hanya tinggal beberapa hari lagi, banyak di antara kita ummat Muslim di Indonesia yang memakai do’a berbuka puasa yang hakikatnya tidak boleh di amalkan karena hadist – hadist yang meriwayatkannya adalah dlo’if / lemah. Seperti halnya do’a berbuka puasa yang lazim bagi kita yaitu “Allahumma Laka Shumtu Wa Alla Rizqika Aftartu dst” hadist yang meriwayatkannya adalah dlo’if. Karenanya, saya ingin mengingatkan kepada Akhi / Ukhti sekalian agar lebih memahami Do’a berbuka puasa yang tidak boleh di amalkan dan yang boleh di amalkan, dan berikut pencerahannya :

1. Do’a Berbuka Puasa : “Allahumma Laka Shumna wa ala Rizqika Aftharna, Allahumma Taqabbal Minna Innaka Antas Samiul ‘Alim” penjelasan sebagai berikut :

A). “Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Adalah Nabi SAW apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : Allahumma Laka Shumna wa ala Rizqika Aftharna, Allahumma Taqabbal Minna Innaka Antas Samiul ‘Alim (artinya : Ya Allah ! untuk-Mu aku berpuasa dan atas rizkqi dari-Mu kami berbuka. Ya Allah ! Terimalah amal-amal kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Mengetahui).

(Riwayat : Daruqutni di kitab Sunannya, Ibnu Sunni di kitabnya ‘Amal Yaum wa- Lailah No. 473. Thabrani di kitabnya Mu’jamul Kabir).

Sanad hadits ini sangat Lemah/Dloif

Pertama :

Ada seorang rawi yang bernama : Abdul Malik bin Harun bin ‘Antarah. Dia ini rawi yang sangat lemah.

   1. Kata Imam Ahmad bin Hambal : Abdul Malik Dlo’if

   2. Kata Imam Yahya : Kadzdzab (pendusta)

   3. Kata Imam Ibnu Hibban : pemalsu hadits

   4. Kata Imam Dzahabi : di dituduh pemalsu hadits

   5. Kata Imam Abu Hatim : Matruk (orang yang ditinggalkan riwayatnya)

   6. Kata Imam Sa’dy : Dajjal, pendusta.

B). Di sanad hadits ini juga ada bapaknya Abdul Malik yaitu : Harun bin ‘Antarah. Dia ini rawi yang diperselisihkan oleh para ulama ahli hadits. Imam Daruquthni telah melemahkannya. Sedangkan Imam Ibnu Hibban telah berkata : munkarul hadits (orang yang diingkari haditsnya), sama sekali tidak boleh berhujjah dengannya.

Hadits ini telah dilemahkan oleh Imam Ibnul Qoyyim, Ibnu Hajar, Al-Haitsami dan Al- Albani, dll.

Periksalah kitab-kitab berikut :

   1. Mizanul I’tidal 2/666

   2. Majmau Zawaid 3/156 oleh Imam Haitsami

   3. Zaadul Ma’ad di kitab Shiam/Puasa oleh Imam Ibnul Qoyyim

   4. Irwaul Gholil 4/36-39 oleh Muhaddist Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

2. Do’a Berbuka Puasa : “Allahumma Laka Shumtu Wa Alla Rizqika Aftartu” penjelasan sebagai berikut :

 “Dari Anas, ia berkata : Adalah Nabi SAW : Apabila berbuka beliau mengucapkan : Bismillah, Allahumma Laka Shumtu Wa Alla Rizqika Aftartu (artinya : Dengan nama Allah, Ya Allah karena-Mu aku berbuka puasa dan atas rizqi dari-Mu aku berbuka).(Riwayat : Thabrani di kitabnya Mu’jam Shogir hal 189 dan Mu’jam Auwshath).

Sanad hadits ini Lemah/Dlo’if

Pertama :

Di sanad hadist ini ada Ismail bin Amr Al-Bajaly. Dia seorang rawi yang lemah.

  • Imam Dzahabi mengatakan di kitabnya Adl-Dhu’afa : Bukan hanya satu orang saja yang telah melemahkannya.
  • Kata Imam Ibnu ‘Ady : Ia menceritakan hadits-hadits yang tidak boleh diturut.
  • Kata Imam Abu Hatim dan Daruquthni : Lemah !
  • Sepengetahuan saya (Abdul Hakim bin Amir Abdat) : Dia inilah yang meriwayatkan hadits lemah bahwa imam tidak boleh adzan (lihat : Mizanul I’tidal 1/239).

Kedua :

Di sanad ini juga ada Dawud bin Az-Zibriqaan.

  • Kata Muhammad Nashiruddin Al-Albani : Dia ini lebih jelek dari Ismail bin Amr Al-Bajaly.
  • Kata Imam Abu Dawud, Abu Zur’ah dan Ibnu Hajar : Matruk.
  • Kata Imam Ibnu ‘Ady : Umumnya apa yang ia riwayatkan tidak boleh diturut (lihat Mizanul I’tidal 2/7)
  • Sepengetahuan saya (Abdul Hakim bin Amir Abdat) : Al-Ustadz Abdul Qadir Hassan membawakan riwayat Thabrani ini di Risalah Puasa tapi beliau diam tentang derajad hadits ini

 3. Do’a Berbuka Puasa : “Allahumma Laka Shumtu Wa Alla Rizqika Aftartu” penjelasan sebagai berikut :

“Dari Muadz bin Zuhrah, bahwasanya telah sampai kepadanya, sesungguhnya Nabi SAW. Apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : Allahumma Laka Sumtu wa ‘Alaa Rizqika Aftartu.”

(Riwayat : Abu Dawud No. 2358, Baihaqi 4/239, Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Suni) Lafadz dan arti bacaan di hadits ini sama dengan riwayat/hadits yang ke 2 kecuali awalnya tidak pakai Bismillah.)

Dan sanad hadits ini mempunyai dua penyakit.

Pertama :

“MURSAL, karena Mu’adz bin (Abi) Zur’ah seorang Tabi’in bukan shahabat Nabi SAW. (hadits Mursal adalah : seorang tabi’in meriwayatkan langsung dari Nabi SAW, tanpa perantara shahabat).

Kedua :

“Selain itu, Mu’adz bin Abi Zuhrah ini seorang rawi yang MAJHUL. Tidak ada yang meriwayatkan dari padanya kecuali Hushain bin Abdurrahman. Sedang Ibnu Abi Hatim di kitabnya Jarh wat Ta’dil tidak menerangkan tentang celaan dan pujian baginya”.

Dan berikut adalah Hadist Hasan tentang Do’a berbuka puasa yang boleh di amalkan :

4. Do’a Berbuka Puasa yang boleh di amalkan: “DZAHABAZH ZHAAMA-U WABTALLATIL ‘URUQU WA TSABATAL AJRU INSYA ALLAH” penjelasan sebagai berikut :

“Dari Ibnu Umar, adalah Rasulullah SAW, apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : DZAHABAZH ZHAAMA-U WABTALLATIL ‘URUQU WA TSABATAL AJRU INSYA ALLAH (artinya : Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan/urat-urat, dan telah tetap ganjaran/pahala, Inysa allah).

(Hadits HASAN, riwayat : Abu Dawud No. 2357, Nasa’i 1/66. Daruquthni dan ia mengatakan sanad hadits ini HASAN. Hakim 1/422 Baihaqy 4/239) Al-Albani menyetujui apa yang dikatakan Daruquthni.!

Saya (Abdul Hakim bin Amir Abdat) berpandangan : Rawi-rawi dalam sanad hadits ini semuanya orang-orang yang dapat dipercaya (tsiqah), kecuali Husain bin Waaqid seorang rawi yang tsiqah tapi padanya ada sedikit kelemahan (Tahdzibut-Tahdzib 2/373). Maka tepatlah kalau dikatakan hadits ini HASAN.

KESIMPULAN

 * Hadits yang ke 1,2 dan 3 karena tidak syah (sangat dloif dan dloif) maka tidak boleh lagi diamalkan.

 * Sedangkan hadits yang ke 4 karena riwayatnya telah syah maka bolehlah kita amalkan jika kita suka (karena hukumnya sunnah saja).

Jazzakumullahu Kahiraan Katsiron..

https://tausyah.wordpress.com

Komentar
  1. […] Do’a Berbuka Puasa, “Allahumma Laka Shumtu Wa Alla Rizqika Aftartu dst” Tidak Boleh Di Amalkan… Tulisan TepopulerMengungkap Misteri Ka'bah Yang menggegerkan Nasa, Kota Makkah Adalah Pusat Dari Planet Bumi, Dan Planet Bumi Menggantung Di Area Yang Sangat Gelap Di Angkasa […]

  2. […] wanita itu melalui seorang budaknya yang diletakkan di atas nampan perak dan ditutupi dengan kain sutera berwarna […]

  3. […] kepada ALLAH dengan sebenar-benar taubat dan karena taubat yang tidak diterima oleh ALLAH adalah ketika ajal sudah dikerongkongan. semoga ALLAH Tabaraka wa Ta’ala melimpahkan […]

  4. […] kepada ALLAH dengan sebenar-benar taubat dan karena taubat yang tidak diterima oleh ALLAH adalah ketika ajal sudah dikerongkongan. semoga ALLAH Tabaraka wa Ta’ala melimpahkan […]

  5. […] kepada ALLAH dengan sebenar-benar taubat dan karena taubat yang tidak diterima oleh ALLAH adalah ketika ajal sudah dikerongkongan. semoga ALLAH Tabaraka wa Ta’ala melimpahkan […]

  6. […] kepada ALLAH dengan sebenar-benar taubat dan karena taubat yang tidak diterima oleh ALLAH adalah ketika ajal sudah dikerongkongan. semoga ALLAH Tabaraka wa Ta’ala melimpahkan […]

  7. […] kepada ALLAH dengan sebenar-benar taubat dan karena taubat yang tidak diterima oleh ALLAH adalah ketika ajal sudah dikerongkongan. semoga ALLAH Tabaraka wa Ta’ala melimpahkan […]

  8. Cara Bisnis Pulsa mengatakan:

    dari pada ragu apakah dhoif atau tidak, kalo menurut saya berdoalah menurut kata kita sendiri saja

  9. www.youtube.com mengatakan:

    http://www.youtube.com

    Do’a Berbuka Puasa, “Allahumma Laka Shumtu Wa Alla Rizqika Aftartu dst” Tidak Boleh Di Amalkan Karena Sanad Hadist Yang Meriwayatkannya Dhoif / Lemah, Dan Do’a Berbuka Puasa Yang Shahih Untuk Di Amalkan | Tausiyah In Tilawatun Islamiyah

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s