Pengujian Bahasa Kitab, Penyebutan Kata Eloah Atau Elohim Dan Juga Yahweh

Posted: 5 September 2010 in Kristologi
Tag:, , , , , ,

Asma ALLAH Subhana wa Ta'ala pada buahMenguji Keaslian Bahasa

Menurut Alkitab (Bibel), dalam usia lanjut Ibrahim memiliki seorang anak, Ismail, yang kemudian menurunkan bangsa Arab yang jumlah komunitasnya sangat besar, sebagaimana yang pernah dijanjikan oleh Allah kepada Hagar (Hajar):

“Lagi pula kata malaikat Tuhan itu kepadanya: “Aku akan membuat sangat banyak keturunanmu, sehingga tidak dapat dihitung karena banyaknya” (Kejadian 16: 10)

“Tentang Ismail, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar” (Kejadian 17: 20)

Setelah Ismail berusia 14 Tahun, Ibrahim memiliki anak lagi bernama Ishak dari istri pertamanya, Sarah. Ishak mempunyai dua putra bernama, Esau dan Yakub. Dan Yakub memiliki dua belas anak di antaranya adalah Yusuf dan lain-lain yang di kemudian hari menurunkan 12 suku bangsa Israel.

Karena disingkirkan oleh saudara-saudara­nya, Yusuf tinggal di Mesir. Di negeri asing ini Yusuf bisa meraih jabatan penting, di saat tanah kelahirannya mengalami paceklik yang ber­kepanjangan. Yakub dan anak-anaknya emigrasi ke Mesir hingga keturunan mereka, bangsa ­Israel, menetap di Mesir selama ratusan tahun.

Selama ratusan tahun ini, keturunan Ishak dan Yakub mengalami asimilasi budaya dan bahasa. Sehingga perbendaraan kata bahasanya cenderung menjauh dari bahasa yang dipakai oleh nabi Ibrahim, Ismail, Ishak, dan Yakub.

Sedangkan ketu­runan Ismail (yang akhir­nya kemu­dian disebut bangsa Arab), karena tidak pindah kemana-mana, bahasanya masih asli atau setidak-tidaknya paling mendekati dengan bahasa yang dipakai oleh nabi Ibrahim, Ismail, Ishak dan Yakub.

Nabi Musa dibesarkan di Istana Firaun yang membenci dan menindas bangsa Israel yang hidup di negerinya. Hal ini membuat Musa tidak leluasa bergaul dengan bangsanya sendiri. Setelah membunuh orang Mesir, Musa lari Madyan (Midian) dan tinggal di rumah nabi Sueb atau Jetro (keturunan Ismail) selama minimal 7 tahun, lalu menikahi putri nabi itu. Dengan demikian Musa lebih lancar memakai bahasa keturunan Ismail daripada menggunakan bahasa bangsanya, Israel. Oleh karena itu ada dua kemungkinan mengapa Musa meminta kepada Allah agar nabi Harun mendampinginya untuk meng­komunikasikan maksudnya kepada bangsa Israel:

a. Lidahnya cedal karena sewaktu kecil Musa pernah menjilat api.
b. Kurang terbiasa dengan bahasa Ibrani yang dipakai oleh bangsanya sendiri.

Setelah nabi Sulaiman wafat, bangsa Israel terbelah dua: kerajaan Israel utara beribukota di Samaria, dan Israel selatan (Yehuda) beribukota di Yerusalem. Setiap tahun bangsa Israel harus berkumpul untuk melakukan ibadah nasional di Yerusalem. Karena masalah politik, raja Israel utara melarang rakyatnya berziarah ke Israel selatan, dan mendirikan pusat peribadatan baru di Betel serta Dan. Patung-patung emas anak lembu ditaruh di tempat ibadah itu. Mulanya patung-patung itu tidak dimaksudkan sebagai lambang Tuhan, melainkan hanya sebagai pengalas tahta-Nya. Tetapi rakyat Israel utara kemudian menghubungkan dengan kultus kesuburan yang secara luas terdapat di Palestina pada masa itu. Banyak penduduk Israel utara yang berasal dari keturunan Kanaan masih kuat menganut dan mempraktikkan ibadah (kultus) kesuburan tersebut, dan pada akhirnya rakyat Israel utara jatuh dalam penyembahan kepada berhala. Penulis kitab Raja-raja selalu menyebut-nyebut kesalahan Yerobeam, raja Israel Utara, membuat patung-patung anak lembu emas ini sehingga rakyat Israel terlibat dalam peribadatan palsu itu.

Pertikaian keagamaan yang serius berkisar pada penyembahan terhadap Baalim atau para Baal. Pertikaian ini mencapai puncaknya di masa raja Ahab di Israel utara, namun melibatkan Yehuda juga Israel selatan. Kata ‘Baalim’ (jamak dari kata Ibrani ‘Baal’ yang berarti ‘tuan’ atau ‘pemilik’) adalah sebutan bagi dewa-dewi kesuburan, yang dianggap berkuasa atas panen, ternak dan manusia. Para penyembah Baalim percaya, dewa ini mati menjelang musim panas dan bangkit lagi menjelang musim hujan. Ini menjelaskan mengapa tumbuhan mati kering pada puncak musim panas, dan bertunas lagi serta berdaun pada musim hujan.

Dari kerajaan utara ini, bangsa Israel yang sebelumnya terbiasa dengan kata ‘Eloha’ atau ‘Eloah” (Allah) kemudian menyebutnya menjadi ‘Elohim’ (jamak dari kata Eloah) disesuaikan dengan banyaknya sesembahan mereka, Baal – Baalim.

Bagi Israel Ibadah ini mengandung dua bahaya:

a. Ibadah ini dapat membuat mereka berpaling dari Allah, atau setidak-tidaknya membuat mereka berpendapat bahwa Allah adalah salah satu penampakan dewa Baal.
b. Ibadah ini membuat mereka tidak taat kepada Allah. Sebab penyembahan kepada dewa Baal ini mencakup praktik perzinaan yang dilakukan di kuil-kuil para dewa, dan berbagai bentuk perilaku seksual yang bertentangan dengan Taurat yang telah diberikan oleh Allah kepada bangsa Israel. Tetapi banyak dari rakyat biasa merasa terpaksa memuja dewa-dewi ini, sebab mereka yakin bahwa Baalim mem­berikan kesuburan bagi hasil tanah, ternak dan keluarga mereka.

Pada Bibel kitab Yeremia 52: 28-20 menye­butkan adanya tiga kali pembuangan bangsa Yehuda yang dilakukan oleh Babilonia. Pembuangan pertama tahun 597 SM, kedua tahun 587 SM, dan yang ketiga tahun 582 SM.

Saat pembuangan ketiga, masih ada penduduk yang dibiarkan tinggal di Yehuda, karena dari segi keahlian dan keterampilan mereka masih dianggap kurang, sehingga tidak perlu ikut ke Babilon. Sebagian besar para pemimpin dan pemuka agama ditawan di Babel, dan sebagian kecil saja yang bisa meloloskan diri.

Semangat orang-orang Yahudi di pem­bua­ngan sangat rendah, sekalipun para pemimpin mereka menganjurkan untuk melaksanakan praktik agama meskipun jauh dari Yehuda. Kota Yerusalem sebagai pusat ibadah mereka telah di­hancurkan tentara Babilonia, dan tidak ada tempat yang dapat mengganti peranannya. Kaum buangan Yehuda di Babilonia menghadapi kesukaran besar. Meskipun mereka ingin menyembah Allah, tetapi banyak tatacara ibadah mereka tidak mungkin dapat dilaksanakan di Babilon. Sedang-kan rakyat Babilonia saat itu menyembah dewa ‘Marduk’ yang dipercayai sebagai perwujudan dari dewa Matahari. Mereka menyebutnya ‘Bel’ yang berarti ‘Tuhan’ dan nama inilah yang digunakan dalam beberapa nas Alkitab seperti dalam Yesaya 46: 1, Yeremia 50: 2 dan 51: 44.

Saat itu Israel betul-betul mengalami krisis agama, karena tidak ada lagi tempat khusus di mana pemikiran dan tatacara keagamaan dapat dilaksanakan secara tepat dan bermakna. Karena itu timbul desakan yang kuat untuk mengusahakan cara ibadah baru serta keimanan yang baru pula, dan nama Tuhan Eloha (Allah) diganti YHWH (Yahweh). Perkembangan yang baru ini mungkin tepat dikatakan sebagai awal ‘Yudaisme’, dan sejak itu kita menyebut orang-orang Israel yang berada di pembuangan dengan nama ‘orang-orang Yahudi.’

Sekitar tahun 539 SM, Raja Persia, Koresy, melancarkan serangan ke Babilonia dan berhasil menguasai kota Babilonia tanpa perlawanan dari penduduknya. Bahkan sebaliknya, dia disambut sebagai pahlawan besar dan seorang hamba dewa Marduk. Orang-orang Yahudi diperbolehkan oleh penguasa Persia ini untuk kembali ke Yehuda.

Meskipun sebagian berhasil memper­tahankan adat dan agama Yahudi, banyak pula melakukan asimilasi keturunan, bahasa, budaya dan agama. Sehingga di masa Ezra (nabi Uzair) dan Nehemia membawa mereka kembali ke Yehuda, sebagian besar dari mereka tidak bisa berbahasa ibunya sendiri (Ibrani), dan tradisi mereka tersapu oleh kebiasaan Babilonia. Tragedi ini mendorong Ezra untuk menerjemahkan Taurat Musa kedalam bahasa Aram.

Kitab Nehemia 8: 1-3 menceritakan pembaca­an hukum Taurat untuk pertama kalinya di depan umum. Hukum Taurat pada saat itu harus diterjemahkan dari bahasa Ibrani ke Bahasa Aram yang menjadi bahasa pergaulan di masa itu baik di Yehuda maupun di seluruh kerajaan Persia (Nehemia 8: 8).

Kita tidak mengetahui secara tepat bagian manakah kitab hukum Taurat yang telah dibaca oleh Ezra. Tetapi kemudian orang-orang Yahudi menyebut kelima kitab pertama dalam Perjanjian Lama dengan sebutan ‘Taurat’. Kitab-kitab itu sendiri baru diakui secara resmi sebagai kitab suci kurang lebih lima puluh tahun kemudian. Pada waktu itu mereka yang tidak pernah ikut mengalami pembuangan tidak diakui sebagai orang Yahudi yang benar. Mereka memisahkan diri dari persekutuan keagamaan umat Israel yang resmi, lalu membentuk perkumpulan agama yang baru disebut ‘orang-orang Samaria.’

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Allah atau Eloah adalah nama Tuhan yang disembah oleh nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad dan umat Islam sekarang ini.

Para nabi ini samasekali tidak akan mengenal istilah “Elohim dan Yahweh. Bahkan nabi Isa (Yesus) sendiri tidak mengenal Yesus Kristus, atau dia akan bengong tak mengerti kalau dia dipanggil Yesus.

Oleh karena itu Allah menaruh firman-Nya di bawah ini pada Al-Qur‘an surat Yusuf:

“Sesungguhnya Allah menurunkan Al-Qur`an kepada Muhammad dengan bahasa Arab, agar kamu berpikir” (Qs. Yusuf 2).

Setelah ayat ini Allah menceritakan nabi Yusuf di Mesir dan emigrasi keluarga nabi Yakub ke negeri tersebut. Di saat di negeri Firaun itulah bahasa Semit sebagai bahasa sehari-hari nabi Ibrahim, Ismail, Ishak dan Ya’kub mengalami asimilasi dengan bahasa Mesir selama ratusan tahun.

Sedangkan keturunan Ismail karena tidak beremigrasi dan tidak pergi ke mana-mana, bahasanya lebih mendekati kepada keasliannya.

(Oleh: Masyhud SM/Majalah Tabligh)

https://tausyah.wordpress.com

Komentar
  1. Maren Kitatau mengatakan:

    Mungkin pertengkaran dan pengingkaran satu sama lain bermula dari kisah inii:

    Menurut Alkitab (Bibel), dalam usia lanjut Ibrahim memiliki seorang anak, Ismail, yang kemudian menurunkan bangsa Arab yang jumlah komunitasnya sangat besar, sebagaimana yang pernah dijanjikan oleh Allah kepada Hagar (Hajar):

    Bahwa menurut Alkitab,
    Ishak-lah, dari Sarah, yg menjadi anak perjanjian,
    Sementara Ismail, dari Hagar, adalah anak yg diberkati.

    Tapi karna Allah kita beda,
    Maka ceritanya menjadi beda.
    Dan sampai ke ujung sini kita beda.

    Salam Damai!

    • tausiyah mengatakan:

      apa-apa yang kamu yakini..maka begitulah bagimu, seperti firman ALLAH yang tersebut di atas:

      “Sesungguhnya Allah menurunkan Al-Qur`an kepada Muhammad dengan bahasa Arab, agar kamu berpikir” (Qs. Yusuf 2).

      artinya bahwa kami (muslim) harus turut dalam bahasa Qur’an (arab) yaitu ALLAH, dan sekali-kali tidak dalam bahasa ibrani atau yang lain. melainkan sudah merupakan ketetapan atas kami perihal penyebutan itu seperti yang tertulis pada kajian di atas. sedang yang sedemikian itu membedakan kami dengan segolongan yang lain. maka hendaknya.. pahamilah olehmu kebenaran itu memalui dalil yang semestinya dan bukan dengan persangkaan dan pemikiran bathil saja.

      maka sesungguhnya, engkau tiada mengetahui suatu juapun perihal apa-apa yang engkau perselisihkan. melainkan hanya menurut persangkaanmu semata.

    • Ebez Zero mengatakan:

      Kalau boleh tanya dari pasal dan ayat yg mana anda menyimpulkan demikian : ” :

      Me nur ut A lk i tab ( B i be l) , dal am us ia lan ju t Ibr ahi m me m il i ki s eo r ang anak, Ism ai l , yang k e mu di an me nur un kan b angs a A r ab yang ju ml ah k om uni tas ny a san gat b es ar , se bag aim ana y ang pe r nah di jan j ik an ol e h A ll ah k e pada H agar ( H aj ar )”
      Mohon pencerahan nya……dan terimakasih atas tanggapan nya..Semoga Tuhan membalas kbaikan anda.

  2. Maren Kitatau mengatakan:

    Setuju aku dgn yg ini:

    apa-apa yang kamu yakini..maka begitulah bagimu,

    Ya!
    Kita adalah apa yg kita katakan.

    Keyakinan pun begitu.
    Segala-sesuatu hrs dimulai dgn kata.
    Jika kita tak berkata maka kita tak jadi apa-apa.

    “Sesungguhnya Allah menurunkan Al-Qur`an kepada Muhammad dengan bahasa Arab, agar kamu berpikir” (Qs. Yusuf 2). artinya bahwa kami (muslim) harus turut dalam bahasa Qur’an (arab) yaitu ALLAH, dan sekali-kali tidak dalam bahasa ibrani atau yang lain. melainkan sudah merupakan ketetapan atas kami perihal penyebutan itu seperti yang tertulis pada kajian di atas. sedang yang sedemikian itu membedakan kami dengan segolongan yang lain. maka hendaknya.. pahamilah olehmu kebenaran itu memalui dalil yang semestinya dan bukan dengan persangkaan dan pemikiran bathil saja.

    Bagai mana mungkin kita mempersalahkan Allah,
    Jika firman yg terdahulu adalah dibenarkanNya,
    Dan yang khusus Bahasa Arab juga benar?

    Bila semuanya harus benar, ini lah yg membuat kita berpikir. Berpikir bukan berarti kita harus kursus Bahasa Arab utk mengerti pengulangan firmanNya, karna firmanNya itu sama saja, atau Quran itu adalah firman-Nya yg terdahulu yg diulang dalam Bahasa Arab.

    maka sesungguhnya, engkau tiada mengetahui suatu juapun perihal apa-apa yang engkau perselisihkan. melainkan hanya menurut persangkaanmu semata.

    Ya! Kita tidak tau apa-apa ttg jalan pikiran-Nya. Kita tidak tau apa-apa ttg rancangan-Nya yg tak terhingga. Kurasa, Allah pun tak mungkin hanya bisa bicara sekitab itu. Alam pun kuanggap tetap bersabda kpd kita.

    Pengetahuan kita belum cukup dan masih sangat terbatas. Kini kita baru hanya bisa mereka-reka atau meraba-raba saja. Semua itu adalah persangkaan-persangkaan yg mambuat kita terus berpikir tanpa henti, ttg apa arti kemuliaan diri, dan apa arti menjadi rahmat bagi bunia.

    Jika memang semua kita kearah sana,
    Maka rak satu pun yg patut dipersalahkan,
    Karena memang pengetahuan kita masih terbatas.

    Salam Damai!

    • tausiyah mengatakan:

      tidaklah semestinya bagimu kursus bahasa arab, sedang engkau mengetahui bahwa kitab berbahasa arab memiliki terjemahannya.

      ALLAH Berfirman didalam Qur’an:

      “jika sekiranya pohon-pohon dimuka bumi menjadi pena sedang laut menjadi tintanya, kemudian ditambah dengan tujuh lautan lagi, niscaya tiada habis kalimat ALLAH jika dituliskan”. Luqman:27

      demikianlah pengetahuan ALLAH, Ia Maha Mengetahui Yang Lahir serta yang Bathin atas sekalian mahkluk-Nya. namun jika engkau telah mengetahui, lalu apa lagikah yang engkau pertanyakan??

  3. Maren Kitatau mengatakan:

    tidaklah semestinya bagimu kursus bahasa arab, sedang engkau mengetahui bahwa kitab berbahasa arab memiliki terjemahannya.

    Dulu, Quran tidak boleh diterjemahkan.
    Nanti mungkin ada dlm berbagai bahasa daerah.
    Ini suatu kemajuan pesat menurutku, Mas Tau
    Tapi solat dlm Bah,Indonesia masih terus dikecam.

    ALLAH Berfirman didalam Qur’an: “jika sekiranya pohon-pohon dimuka bumi menjadi pena sedang laut menjadi tintanya, kemudian ditambah dengan tujuh lautan lagi, niscaya tiada habis kalimat ALLAH jika dituliskan”. Luqman:27

    Ini yg kumaksud bahwa dalil tidak hanya seKitab.
    Karna itu kita terus berpikir dan berpikir terus,
    Dan kadang cakar-cakaran berebut kebenaran.
    Itu tak terhidarkan dan memang perlu hingga mengerti arti kemuliaan hidup

    demikianlah pengetahuan ALLAH, Ia Maha Mengetahui Yang Lahir serta yang Bathin atas sekalian mahkluk-Nya. namun jika engkau telah mengetahui, lalu apa lagikah yang engkau pertanyakan??

    Pengetahuan kita masih terbatas Mas Tau.
    Tak seorang pun yg merasa telah mengetahui,
    Biasanya setelah tau muncul ragu, lalu tau lagi.
    Dengan begitu kita merasa hidup karena terus berpikir.

    Salam Damai!

    • tausiyah mengatakan:

      ingatlah dengan firman ALLAH yang kita sebut sebelumnya:

      “Sesungguhnya Allah menurunkan Al-Qur`an kepada Muhammad dengan bahasa Arab, agar kamu berpikir” (Qs. Yusuf 2).

      yang artinya tiadalah semata perihal perkara Qur’an, melainkan dalam Shalat adalah mesti berbahasa arab jua sedang sebahagian daripada itu berkenan dengan bahasa yang lain. maka bagiku engkau bertanya hanya menurut persangkaanmu, sedang engkau tiada mengetahui.

  4. […] Pengujian Bahasa Kitab, Penyebutan Kata Eloah Atau Elohim Dan Juga Yahweh […]

  5. Maren Kitatau mengatakan:

    tausiyah mengatakan:
    7 September 2010 pukul 4:39 am
    ingatlah dengan firman ALLAH yang kita sebut sebelumnya:
    “Sesungguhnya Allah menurunkan Al-Qur`an kepada Muhammad dengan bahasa Arab, agar kamu berpikir” (Qs. Yusuf 2).

    Kita telah berpikir sejak sebelum Quran.
    Kata “agar berpikir” itu kurang kena pd ku.
    Mungkin bagimu telah cukup memotivasi.

    Bagiku,
    Berpikir adalah awal dari bekerja.
    Bekerja adalah awal dari menjadi.
    Menjadi adalah akhir dari semuanya.

    yang artinya tiadalah semata perihal perkara Qur’an, melainkan dalam Shalat adalah mesti berbahasa arab jua sedang sebahagian daripada itu berkenan dengan bahasa yang lain.

    Betul!
    Kita harus berpikir dalam segala hal.
    Berpikir tak mungkin berhenti di Quran.
    Berpikir tak mungkin berhenti di Shalat.

    maka bagiku engkau bertanya hanya menurut persangkaanmu, sedang engkau tiada mengetahui.

    Tak perlu berpikir jika tidak mau bertanya.
    Cukup berakal saja utk rutinitas perkara.
    Berakal adalah himpunan hasil pikiran.

    Utk tau kita mesti bertanya lah, kan.
    Yg tak mau tau tak perlu bertanya.
    Persangkaan perlu kita taruh di depan.

    Kata Yesus,
    Ketuklah maka pintu akan dibukakan,
    Carilah maka kau akan mendapatkan.

    Semoga Mas Tau mau terus berpikir.
    Berpikir utk akhirnya menjadi,
    Menjadi rahmat bagi dunia.

    Salam Damai!

    • tausiyah mengatakan:

      adalah banyak didalam Qur’an hal seumpama “agar berpikir”, layaknya seperti : “jika engkau mengetahui”, “jika engkau memikirkan”, “bagi orang yang berakal”, “bagi orang yang berpikir” dan lain sebagainya.

      tentu jika akal atau pikiran itu benar, namun siapakah yang mampu membenarkannya?? akan tetapi jika akal/pikiran sesat, maka siapakah yang dapat meluruskannya??

      Yesus (Nabi Isa Al Masih) hanyalah manusia biasa, jika dikarenakan oleh Mukzizat yang ada padanya ia (yesus) dijadikan Tuhan maka binasalah mukzizat yang ada pada Nabi Musa dengan tongkatnya, Ibrahim tiada dapat dibakar serta nabi-nabi yang lain sekaliannya.

      maka carilah olehmu kebenaran itu pada dalil yang benar, jika engkau mengira yang benar itu adalah baik maka baiklah kamu. sedang jika engkau mengira bahwa yang salah itu adalah benar niscaya sesatlah kamu dengan segala daya dan upayamu.

      berhubung hendak lebaran (idul fitri) mohon maaf jika pada waktu yang kemudian engkau tiada beroleh jawaban lagi setelahnya oleh karena aku hanya berupaya untuk menerbitkan suatu postingan semata. terima kasih udah share di blog ini..

  6. Maren Kitatau mengatakan:

    tausiyah mengatakan:
    7 September 2010 pukul 4:48 pm
    adalah banyak didalam Qur’an hal seumpama “agar berpikir”, layaknya seperti : “jika engkau mengetahui”, “jika engkau memikirkan”, “bagi orang yang berakal”, “bagi orang yang berpikir” dan lain sebagainya. tentu jika akal atau pikiran itu benar, namun siapakah yang mampu membenarkannya?? akan tetapi jika akal/pikiran sesat, maka siapakah yang dapat meluruskannya??

    Kebenaran kita itu bertumbuh.
    Tidak ada kebenaran yg final di dunia ini.
    Teruslah berpikir dan berpikir. tanggapin yg ini:
    http://tertiga.wordpress.com/2009/03/15/kebenaran-ada-pada-tiga/

    Yesus (Nabi Isa Al Masih) hanyalah manusia biasa,

    Dia suci dan bukan dari dunia ini.
    Nabi boleh banyak, rasul boleh banyak,
    Jurusalamat hanya satu, Dia, Yresus!

    jika dikarenakan oleh Mukzizat yang ada padanya ia (yesus) dijadikan Tuhan maka binasalah mukzizat yang ada pada Nabi Musa dengan tongkatnya, Ibrahim tiada dapat dibakar serta nabi-nabi yang lain sekaliannya.

    Mukzizat Musa dan Ibrahim pun tak hrs saling membinasakan.

    maka carilah olehmu kebenaran itu pada dalil yang benar, jika engkau mengira yang benar itu adalah baik maka baiklah kamu. sedang jika engkau mengira bahwa yang salah itu adalah benar niscaya sesatlah kamu dengan segala daya dan upayamu.

    Jika kita mau terus berpikir,
    Kebenaran itu adalah hidup,
    Dan dalil itu bukan hanya seKitab.

    Jika kita membatasi kebenaran,
    Itu berarti tak usah berpikir lagi,
    Artinya sama dengan mati.

    berhubung hendak lebaran (idul fitri) mohon maaf jika pada waktu yang kemudian engkau tiada beroleh jawaban lagi setelahnya oleh karena aku hanya berupaya untuk menerbitkan suatu postingan semata. terima kasih udah share di blog ini..

    Wah, ya betul!

    Selamat Hari Raya Idul Fitri,
    Mohon maaf lahir dan batin.
    Sampai jumpa di blog ku.

    Terima kasih juga Mas Tau atas segalanya.
    Lain kali kita lanjutkan, agar kita tetap berpikir.
    CU!

    Salam Damai!

  7. tausiyah mengatakan:

    terima kasih atas ucapannya..

    hanya bagiku setelah tanggapanku atas blogmu adalah tiada bagiku untuk posting artikel blog ini untuk sementara waktu sampai usainya hari raya idul fitri. insya ALLAH Ta’ala

    Mohon maaf lahir dan bathin..

    dan semoga jawabanku pada koment di artiekl sebelah memuaskan segala hajatmu..

  8. […] “he is altogether lovely” jika dibaca dalam bahasa Yahudi (Hebrew) sebagai “he is […]

  9. […] engkau mengira bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai  seorang mukmin yang paling sempurna keimanannya sedang beliau dapat terlindung dari perihnya sakratul maut?? Sekali – […]

  10. […] engkau mengira bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai  seorang mukmin yang paling sempurna keimanannya sedang beliau dapat terlindung dari perihnya sakratul maut?? Sekali – […]

  11. […] berputar-putar dan tampak berksesan damai namun tetap dengan misi sejuta aksi untuk menyesatkan dan mendangkalkan aqidah ummat muslim. Saya pernah lihat di forum islam, si missionaries tersebut hanya seorang diri […]

  12. […] auratnya yang haram tampaknya bagi manusia. Sebagaimana seorang pegawai swasta yang berpakaian minim sebagai tuntutan perusahaan tempat ia bekerja, semakin ia mengumbar syahwat lawan jenisnya..niscaya […]

  13. […] auratnya yang haram tampaknya bagi manusia. Sebagaimana seorang pegawai swasta yang berpakaian minim sebagai tuntutan perusahaan tempat ia bekerja, semakin ia mengumbar syahwat lawan jenisnya..niscaya […]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s