Persiapan Perang Muawiyah, Kelemahan Prajurit Serta Kekecewaan Imam Ali Terhadap Para Pengikutnya

Posted: 21 Agustus 2010 in Para Imam
Tag:, , , , , , ,

Masjid-JumeirahSementara Imam Ali r.a. menanggulangi pemberontakan Khawarij di Nehrawan, Muawiyah meningkakan terus kekuatan­nya, mengkonsolidasi barisan serta mengokohkan kedudukannya. Mereka memperoleh waktu yang sangat cukup untuk memper­siapkan peperangan lebih lama lagi, berkat politik “tahkim” yang disusun oleh arsiteknya, Amr bin Al Ash.

Sebaliknya, dengan muslihat “tahkim” itu, kekuatan Imam Ali r.a. sekarang menjadi berkurang. Ia ditinggalkan, bahkan dilawan oleh pengikut-pengikutnya sendiri, yang sudah memisah­kan diri sebagai kaum Khawarij. Dalam menumpas gerakan Kha­warij, Imam Ali r.a. telah kehilangan beberapa anggota pasukan yang cukup merugikan, walaupun berhasil mencapai kemenangan.

Imbangan kekuatan yang sekarang sangat menguntungkan fihak Muawiyah difahami benar-benar oleh para pengikut Imam Ali r.a. Secara diam-diam banyak di antara mereka yang sudah kejangkitan penyakit putus asa. Belum lagi kita sebutkan besar­nya dana yang dihamburkan Muawiyah untuk membeli pengikut sebanyak-banyaknya. Bagaimana pun juga hal ini besar pengaruh­nya di kalangan para pengikut Imam Ali r.a. yang kurang teguh iman dan pendiriannya. Kepada para pengikut Imam Ali r.a. yang mau menyeberang, Muawiyah mengiming-imingkan hadiah berli­pat ganda.

Perlawanan terhenti

Selesai perang melawan kaum Khawarij dan sebelum mening­galkan Nehrawan untuk berangkat melanjutkan perang melawan Muawiyah, Imam Ali r.a. mengucapkan pidato di depan para peng­ikutnya. Antara lain ia berkata: “Cobaan Allah yang kalian hadapi telah berakhir dengan baik. Allah telah memenangkan kalian de­ngan pertolongan-Nya. Sekarang marilah kita berangkat untuk menghadapi Muawiyah dan para pendukungnya yang durhaka itu. Mereka yang meninggalkan Kitab Allah di belakang punggung dan telah menjual-belikannya dengan harga murah. Alangkah bu­ruknya apa yang telah mereka beli dengan Kitab Allah itu!”

Bagaimana sambutan pengikut Imam Ali r.a. Kali ini Imam Ali r.a. terbentur lagi pada ranjau yang dipasang oleh Al Asy’ats bin Qeis. Asy’ats ternyata sudah berhasil mempengaruhi banyak anggota pasukan Imam Ali r.a. supaya meninggalkan barisan, de­ngan jalan mencari tempat-tempat peristirahatan di daerah-daerah yang berdekatan. Alasan yang digunakan dalam kampanye itu ialah mereka sudah terlampau letih dan sangat perlu beristirahat, untuk memulihkan tenaga lebih dulu, sebelum bergabung dalam pasukan.

Jasa Asy’ats nampaknya tidak kecil bagi Muawiyah. Tidak keliru rasanya kalau ada sementara penulis yang mengatakan, bah­wa bukan hanya Abu Musa dan kaum Khawarij saja yang ber­berjasa kepada Muawiyah, tetapi juga Al Asy’ats bin Qeis.

Waktu Imam Ali r.a. mengajak anggota-anggota pasukannya berangkat memerangi Muawiyah, mereka menjawab sesuai dengan garis yang sudah diletakkan Al Asy’ats: “Ya Amiral Mukminin, anak panah kami sudah habis, tangan kami sudah terlalu payah, pedang kami banyak yang patah dan tombak kami sudah tumpul! Biarkanlah kami pulang dulu agar kami dapat mempersiapkan perbekalan dan perlengkapan yang lebih baik. Mungkin Amirul Mukminin akan memberi tambahan senjata kepada kami, agar kami lebih kuat dalam menghadapi musuh!”

Sulit mencari orang yang bertabiat keras seperti Imam Ali r.a. tetapi juga sangat sulit mencari orang yang sabar seperti dia. Sukar mencari orang yang waspada seperti Imam Ali r.a., tetapi juga sangat sukar mencari orang yang mempercayai sahabat se­penuh hati seperti dia. Bagaimana harus dibantah, bukankah mere­ka itu benar-benar baru saja menyelesaikan peperangan? Jadi alas­an mereka itu memang masuk akal! Imam Ali r.a. setuju mereka beristirahat, tetapi tidak pulang ke rumah masing-masing. Mereka harus diistirahatkan bersama di suatu tempat, agar setiap saat dapat dikerahkan bila dipandang perlu.

Mereka kemudian diajak oleh Imam Ali r.a. ke sebuah tempat bernama Nakhilah. Selain menjadi tempat istirahat, Nakhilah juga dijadikan tempat pemusatan pasukan. Kepada semua pa­sukan diperintahkan supaya jangan sampai ada yang mening­galkan tempat. Semua pasukan harus selalu dalam keadaan siaga untuk melanjutkan peperangan melawan pasukan Syam. Jika anak isteri tidak seberapa jauh dari Nakhilah, boleh saja menjenguk mereka, tetapi jangan terlalu sering. Masing-masing anggota pa­sukan diminta supaya selalu siap menantikan saat keberangkatan ke Shiffin.

Apa yang terjadi?

Ternyata hanya beberapa hari saja mereka tinggal bersama Imam Ali r.a. di Nakhilah. Banyak sekali yang tanpa izin menye­linap pergi ke Kufah untuk bersenang-senang dengan anak isteri mereka. Tidak sedikit yang bertebaran ke daerah-daerah sekitar Nakhilah untuk mencari hiburan dan kesenangan. Imam Ali r.a. ditinggal bersama beberapa orang sahabat terdekat dan sejumlah pengikut. Akhirnya Imam Ali r.a. dan para sahabat terdekat itu terpaksa meninggalkan Nakhilah dalam keadaan kosong.

Sejak saat itu perlawanan terhadap Muawiyah praktis terhenti. Kesetiaan pendukungnya sudah tak dapat diandalkan la­gi. Banyak di antara mereka yang mulai terpikat hatinya oleh ke­pentingan duniawi yang dinikmati oleh kaum muslimin di Syam. Selain itu banyak juga yang patah semangat dan kejangkitan penyakit putus asa.

Terhentinya perlawanan menumpas pemberontakan Muawi­yah bukan disebabkan ketidak mampuan Imam Ali r.a., melain­kan karena sikap massa yang dipimpinnya sudah goyah dan tidak mantap, terutama mereka yang berasal dari Kufah. Tanda-tanda akan terjadinya hal yang harus disayangkan itu, sudah nampak sejak Imam Ali r.a. memasuki kota tersebut. Bahkan beberapa bu­lan sebelum itu pun di Madinah Imam Ali r.a. sudah menghada­pi bermacam-macam kesulitan, yaitu sejak pembai’atannya sebagai Khalifah.

Ajakan ke medan juang

Setelah ditinggal oleh banyak pengikutnya dan hanya tingal para sahabat yang setia saja, melalui Hujur bin Addiy, Amr bin Al Humuq dan sejumlah sahabat lainnya, Imam Ali r.a. mengeluar­kan sebuah pernyataan tertulis untuk disampaikan kepada kaum muslimin Kufah, terutama bekas pendukungnya. Dalam pernyata­an tertulis itu Imam Ali r.a. membeberkan semua persoalan dan mengungkapkan latar belakang sejarahnya.

“Bahwasanya Allah s.w.t. telah mengutus Muhammad, Rasul Allah s.a.w. untuk mengingatkan ummat manusia di seluruh dunia. Beliau menerima wahyu dan mengemban amanat yang diturun­kan kepadanya, dan menjadi saksi bagi ummat ini. Hai orang-­orang Arab, kalian pada masa itu dalam keadaan tidak mempunyai agama. Satu sama lain saling memakan harta secara bathil. Kemu­dian Allah melimpahkan kurnia-Nya kepada kalian dengan mengu­tus Muhammad s.a.w. datang ke tengah-tengah kalian dan berbi­cara dengan bahasa kalian. Kalian mengenal wajah beliau dan me­ngetahui benar asal-usul keturunannya.

“Beliau telah mengajarkan hikmah, sunnah dan fara’idh ke­pada kalian. Beliau menyuruh kalian supaya selalu menjaga baik-­baik hubungan silaturrahmi, memelihara kerukunan dan saling memperbaiki keadaannya masing-masing. Kalian juga diperintah­kan supaya menunaikan amanat kepada fihak yang berhak, meme­nuhi janji, saling bercinta-kasih dan sayang menyayangi. Beliau pun memerintahkan kalian supaya berlaku jujur, dan jangan sam­pai mencatut timbangan atau takaran. Beliau datang kepada kali­an juga antara lain untuk melarang kalian jangan sampai berbuat zina dan jangan makan harta milik anak yatim secara dzalim.”

“Kebajikan akan menghindarkan kalian dari siksa neraka. Dan beliau mendorong kalian supaya senantiasa berbuat keba­jikan. Tiap perbuatan buruk dan jahat akan menjauhkan kalian dari sorga, dan beliau mencegah supaya kalian jangan sampai berbuat seperti itu. SetelahAllah s.w.t. memandang masa hidupnya sudah cukup, beliau dipanggil pulang ke sisi-Nya, dalam keadaan beliau patut menerima pujian dan memperoleh keridhoan-Nya. Beliau s.a.w. telah memperoleh pengampunan atas segala kekhilafannya dan benar-benar telah mendapat kedudukan mulia di sisi Allah s.w.t.

“Tetapi alangkah besarnya musibah yang terjadi sepeninggal beliau, terutama yang menimpa kaum kerabatnya dan kaum muk­minin pada umumnya. Setelah beliau tidak ada lagi kaum mus­limin mempertengkarkan pimpinan dan kekuasaan. Demi Allah, aku tidak pernah merasa khawatir dan tidak pernah membayang­kan bahwa orang-orang Arab akan menggeser kepemimpinan dari tanganku. Tetapi waktu itu ternyata orang-orang Arab meng­angkat Abu Bakar. Mereka datang berbondong-bondong kepa­danya. Aku diam tidak mengulurkan tangan, sebab aku yakin bahwa akulah yang sebenarnya lebih berhak meneruskan kepe­mimpinan Rasul Allah s.a.w. daripada orang lain yang akan me­mimpin aku. Beberapa waktu lamanya aku tetap bersikap seperti itu.

“Kemudian aku melihat banyak orang meninggalkan agama Islam, kembali kepada kepercayaan mereka semula, bahkan berani berseru kepada orang-orang lain supaya menghapuskan agama yang dibawakan oleh Muhammad s.a.w. dan Ibrahim as. Aku menjadi sangat khawatir, kalau aku tidak membela Islam dan kaum mus­limin, aku bakal menyaksikan kerusakan dan keruntuhan Islam. Bagiku, itu merupakan bencana yang jauh lebih besar daripada le­pasnya kepemimpinan dari tanganku. Sebab masalah kepemimpin­an hanyalah suatu hiasan hidup belaka yang tidak kekal dan tidak lama, yang akhirnya akan lenyap seperti fatamorgana.”

“Aku lalu pergi menjumpai Abu Bakar. Ia kubai’at, kemudian bersama dia aku bergerak menanggulangi kejadian tersebut di atas tadi, sampai kebathilan itu musnah dan kalimat Allah tetap unggul dan mulia walau orang-orang kafir tidak menyukai. Abu Bakar tetap memegang pimpinan pemerintahan. Ia berlaku adil, baik, benar, rendah hati dan hidup sederhana. Aku mendampingi dia sebagai penasehat. Ia kutaati sungguh-sungguh selama ia taat kepada Allah s.w.t.

“Beberapa saat menjelang wafatnya, Abu Bakar menunjuk Umar Ibnul Khattab untuk meneruskan kepemimpinannya. Itu pun kutaati. Umar kubai’at dan kepadanya kuberikan nasehat-­nasehat. Selama memegang pimpinan pemerintahan, Umar bersi­kap baik dan semasa hidupnya ia berperilaku terpuji. Menjelang wa­fatnya, aku berkata dalam hatiku: ‘Ia tentu tidak akan menyerah­kan pimpinan pemerintahan kepada orang lain. Tetapi ternyata ia minta supaya masalah kekhalifahan itu dimusyawarahkan, dan aku menjadi salah seorang calon sekaligus peserta musyawarah. Namun orang lainnya tidak suka kalau kepemimpinan jatuh ke tanganku, sebab mereka mendengar bahwa aku pernah menentang Abu Bakar’…”

“Dulu aku memang pernah mengatakan: ‘Hai orang-orang Qureisy, aku ini lebih berhak daripada kalian untuk memegang pimpinan, sebab tidak ada seorang pun di antara kalian yang ter­dini mengenal Al Qur’an dan mengerti sunnah Rasul!’ Karena aku berkata seperti itu, mereka merasa khawatir kalau sampai aku ter­bai’at menjadi pemimpin ummat, tidak akan ada kesempatan lagi bagi mereka. Akhirnya mereka membai’at Utsman bin Affan, menyingkirkan diriku dari kepemimpinan dan menyerahkannya kepada Utsman. Aku dijauhkan dari kepemimpinan karena mereka mengharap akan memperoleh giliran.”

“Aku terpaksa menyatakan bai’at. Aku menyabarkan diri sambil bertawakkal kepada Allah. Kemudian ada salah seorang berkata kepadaku: ‘Hai Ibnu Abu Thalib, mengapa engkau ngotot ingin memegang pimpinan?’ Aku menjawab: ‘Kalian lebih ngo­tot. Yang kuminta adalah hak waris putera pamanku! Waktu kali­an mencampuri urusanku dengan Utsman, kalian berbuat me­nampar mukaku dan tidak menampar mukanya!’ Aku berdoa memohon perlindungan kepada Allah s.w.t. dalam menghadapi orang-orang Qureiys itu. Mereka memutuskan silaturrahmiku de­ngan Rasul Allah s.a.w. Mereka meremehkan kedudukan dan ke­utamaanku. Mereka bersepakat merebut hak yang sebenarnya aku ini lebih berwenang dibanding mereka. Mereka telah memperkosa hakku.”

“Mereka lalu berkata lagi: ‘Sabarlah engkau menahan kepe­dihan itu! Dan sabarlah hidup dalam kekecewaan itu!’ Aku meli­hat-lihat dan ternyata tidak ada teman atau orang lain yang ber­sedia membantu selain keluargaku sendiri. Tetapi aku tidak mau menjerumus-kan keluargaku ke dalam bahaya. Kupejamkan mataku untuk menahan sakitnya kelilip, dan kutelan ludahku dengan pe­rasaan sedih. Aku sabar menahan kejengkelan, sehingga terasa olehku kepahitan yang melebihi jadam dan kesakitan yang mele­bihi tusukan pisau.”

“Akhirnya kalian dendam terhadap Utsman. Ia kalian data­ngi, lalu kalian bunuh. Setelah itu kalian datang kepadaku untuk menyatakan bai’at. Aku menolak, tetapi kalian tetap bersikeras menghendaki aku. Kalian mendesak dan mendorong-dorong da­tang kepadaku untuk mendesak terus, sampai kukira kalian akan saling bunuh-membunuh atau hendak membunuhku. Kepadaku kalian mengatakan: ‘Kami tidak menemukan orang selain engkau dan kami tidak menyukai orang lain. Kami seia-sekata dan dengan tekad bulat membai’atmu’…”

“Pembai’atan kalian kemudian kuterima. Lalu kalian meng­ajak orang-orang lain untuk membai’atku. Orang-orang yang me­nyatakan bai’at karena taat, kuterima. Sedangkan yang tidak mau menyatakan bai’at, kubiarkan. Orang yang pertama-tama menya­takan bai’at kepadaku ialah Thalhah dan Zubair. Seandainya dua orang itu tidak mau membai’atku, mereka tidak akan kupaksa, sama halnya seperti orang lain yang tidak mau membai’atku. Tidak lama kemudian aku mendengar dua orang itu berangkat ke Bashrah membawa sejumlah orang bersenjata. Tidak seorang pun dari mereka itu yang belum pernah menyatakan bai’at kepadaku. Di Bashrah mereka mengobrak-abrik pegawaiku, menggedor tem­pat-tempat penyimpanan harta kaum muslimin dan memperko­sa penduduk yang taat kepadaku. Mereka memecah belah dan me­rusak kerukunan, mencerai-beraikan persatuan dan menyerang tiap orang yang mengikuti serta mencintaiku. Beberapa kelompok dari pencintaku dibunuh secara gelap dan dianiaya. Di antara me­reka itu ada yang sanggup membela diri, ada yang hanya bersabar, dan ada pula yang dengan gigih terpaksa mengacungkan pedang. Para pencintaku itu bangkit melawan tindakan jahat mereka sam­pai banyak yang mati terbunuh dalam keadaan bertawakkal kepada Allah s.w.t.

“Demi Allah, seandainya hanya seorang saja dari para pencin­taku yang sengaja mereka bunuh, sudah halal bagiku untuk bertin­dak menumpas habis gerombolan bersenjata itu! Apalagi karena ternyata mereka itu telah membunuh banyak kaum muslimin. Tetapi, Allah s.w.t. sudah membalas perbuatan mereka, dan sekarang binasalah sudah kaum yang dzalim itu.”

“Kemudian aku melihat kepada orang-orang Syam. Mereka itu adalah orang-orang Arab yang berperangai kasar, terdiri dari macam-macam golongan yang serakah dan liar, datang dari ber­bagai pelosok. Mereka itu adalah orang-orang yang masih perlu diajar, dipimpin dan dibimbing. Mereka bukan kaum Muhajirin atau Anshar, dan bukan pula orang-orang yang memasuki agama dengan itikad baik. Mereka kudatangi, kuajak supaya mau bersatu dan bersedia taat, tetapi mereka menolak. Mereka menginginkan perpecahan, permusuhan dan kemunafikan. Mereka bergerak me­lawan kaum Muhajirin, kaum Ansor dan orang-orang yang masuk agama Islam dengan niat ikhlas dan jujur. Mereka melepaskan anak-panah dan melempar tombak. Di saat itulah aku bangkit dan bergerak melawan mereka. Mereka kuperangi.

“Setelah mereka kekurangan senjata dan merasakan sakit­nya luka, mereka kibarkan lembaran-lembaran Al-Qur’an dan ber­seru kepada kalian supaya berpegang teguh kepadanya. Waktu itu kalian sudah kuberi tahu, bahwa mereka itu bukan orang-orang yang patuh kepada ajaran agama dan Al-Qur’an. Mereka mengibarkan lembaran-lembaran Al-Qur’an hanya sekedar tipu-daya dan muslihat. Kalian sudah kuperintahkan supaya terus memerangi mereka, tetapi kalian menuduh diriku dan kalian berkata kepadaku: “Terimalah apa yang mereka usulkan. Kalau mereka benar-benar mau melaksanakan apa yang ada dalam Al-Qur’an dan sun­nah, pasti mereka akan bersatu dengan kita dalam kebenaran yang selama ini kita pertahankan. Jika mereka tidak mau, kita mem­punyai alasan kuat untuk terus berlawan terhadap mereka.”

“Keinginan kalian itu kusetujui, aku lalu mundur, tidak me­nyerang mereka lagi. Kemudian terjadilah persetujuan antara ka­lian dengan mereka untuk mengangkat dua orang perunding guna mencari penyelesaian damai berdasar Kitab Allah. Dua orang itu diharuskan patuh menjunjung tinggi perintah Al Qur’an dan men­jauhkan apa yang dilarangnya. Tetapi dua orang itu berselisih pendapat, dan hukum yang diambil ternyata berlain-lainan. Dua orang itu mengabaikan Al Qur’an dan menyalahi isinya. Dua-dua­nya tanpa hidayat Allah terjerumus mengikuti hawa nafsu sendi­ri-sendiri. Oleh Allah dua orang itu dijauhkan dari kebajikan dan diperosokkan dalam kesesatan. Dua-duanya memang pantas menjadi orang seperti itu.”

“Setelah semua itu terjadi, ada sekelompok orang meninggal­kan kami. Mereka pun kami tinggalkan. Kami bersikap sama se­perti mereka. Tetapi kemudian mereka berkeliaran di bumi mem­buat kerusakan.Orang-orang muslimin mereka bunuh tanpa dosa. Mereka kami datangi, lalu kami katakan kepada mereka: ‘Serah­kan kepada kami orang-orang yang membunuh saudara-saudara kami’. Mereka menjawab: ‘Kami semua inilah yang membunuh. Kami halal menumpahkan darah mereka dan darah kalian’…”

“Mereka lalu pergerak mengerahkan pasukan berkuda dan pe­jalan kaki untuk menyerang kami. Tetapi akhirnya mereka dihan­curkan oleh Allah, nasibnya sama seperti orang-orang dzalim lain­nya. Setelah itu kuperintahkan kalian supaya berangkat ke Shiffin untuk menghadapi musuh, tentara Syam. Sebab pendadakan seper­ti itu akan membuat hati mereka kecut dan akan menggagalkan tipu daya mereka. Waktu itu kalian ternyata menjawab: ‘Pedang kita sudah banyak yang patah, kita kehabisan anak panah, dan ujung tombak kita sudah banyak yang tumpul. Izinkanlah kita pulang dulu untuk mempersiapkan perlengkapan dan perbekalan yang lebih baik. Kiranya engkau pun akan menambah perleng­kapan kita dengan senjata-senjata yang ditinggalkan teman-teman kita yang telah tewas dan senjata-senjata bekas kepunyaan musuh. Itu akan merupakan tambahan kekuatan bagi kita dalam meng­hadapi musuh’…”

“Permintaan kalian itu kami terima. Selama beberapa waktu menunggu, kalian kuperintahkan supaya jangan meninggalkan ku­bu pertahanan, supaya lebih merapatkan barisan, siap siaga meng­hadapi peperangan, dan jangan terlalu sering menengok anak isteri, sebab itu akan melemahkan hati kalian dan dapat membelokkan fikiran kalian. Pasukan yang sedang menghadapi peperangan tidak semestinya mengeluh, meratap atau jemu bergadang di malam hari. Tidak semestinya pasukan itu mengeluh kehausan atau lapar, se­belum mencapai sasaran dan tujuan yang diinginkan.”

“Tetapi kenyataannya, ada sekelompok orang dari kalian yang meminta kelonggaran dengan bermacam-macam alasan. Ke­lompok lainnya lagi menyelinap masuk ke dalam kota lalu membe­lot. Mereka ini tidak ada yang datang kembali kepadaku. Setelah kuperiksa, ternyata pasukan yang masih tetap tinggal bersamaku hanya berjumlah 50 orang. Setelah aku melihat perbuatan kalian seperti itu, kalian kudatangi, tetapi sampai hari ini kalian masih tetap tidak sanggup keluar untuk menghadapi musuh bersama-sama kami.”

“Ya Allah, kasihan benar orang-orangtua kalian! Apalagi sebenarnya yang kalian fikirkan? Tidakkah kalian menyadari bah­wa kekuatan kalian sekarang sudah berkurang? Tidakkah kalian dapat melihat negeri kalian ini sudah diserang? Apa sebab kalian

masih berpaling muka? Bukankah musuh-musuh kalian itu sudah bersatu, bekerja keras dan bertukar-fikiran, sedang kalian sekarang bercerai-berai, bertengkar dan saling mengelabui satu sama lain? Ji­ka kalian bersatu, kalian pasti selamat.”

“Oleh karena itu bangunkanlah orang-orang yang sedang tidur nyenyak. Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kalian. Yang kalian perangi itu bukan lain adalah kaum thulaqa dan keturunan orang-orang thulaqa, yaitu orang-orang yang meme­luk Islam hanya karena terpaksa. Orang-orang yang dahulu meme­rangi Rasul Allah s.a.w., orang-orang yang memusuhi Al Qur’an dan Sunnah, orang-orang yang dahulu bergabung dan bersekutu dalam perang Ahzab melawan kaum muslimin, orang-orang ahli bid’ah yang banyak menimbulkan keonaran, orang-orang yang ditakuti karena kejahatannya, orang-orang yang menyeleweng dari agama, pemakan barang yang bathil dan budak-budak dunia!”

“Amr bin Al Ash itu sebenarnya condong kepadaku. Ia ber­fihak pada Muawiyah hanya setelah menerima janji akan diberi ke­kuasaan besar atas Mesir. Ia tidak segan-segan menjual agamanya untuk mendapatkan kepentingan dunia! Muawiyah membelinya dengan menghamburkan uang kekayaan kaum muslimin! Di an­tara orang fasik itu ada yang pernah dihukum cambuk karena meneguk minuman haram. Mereka itulah yang sekarang sedang menjadi pemimpin kaumnya. Orang-orang yang tidak kusebutkan perbuatan buruknya, banyak yang lebih jahat dan lebih berbahaya. Yaitu orang-orang yang jika sudah berpisah dari kalian, memper­lihatkan kebenciannya terhadap kalian. Mereka membangga-bang­gakan diri, menindas orang lain sewenang-wenang, congkak, deng­ki dan banyak berbuat kerusakan di bumi. Mereka mengikuti hawa nafsu dan memerintah dengan korup dan jalan suap (rasy­wah). Sedangkan kalian, walaupun tidak saling bantu dan berta­wakkal secara keliru, namun kalian masih jauh lebih benar dari­pada jalan mereka.”

“Di antara kalian terdapat orang-orang arif bijaksana (huka­ma), alim ulama, fuqaha (para ahli hukum syariat), pengajar-peng­ajar Al-Qur’an, orang-orang yang hidup zuhud di dunia, orang-­orang yang gemar mengunjungi masjid dan orang-orang ahli mem­baca Al Qur’an.”

“Apakah kalian rela dan tidak marah kalau orang-orang berperangai jahat, bengis dan kerdil seperti mereka itu hendak memaksakan kekuasaan kepada kalian? Dengarkanlah kata-kataku dan taati­lah perintahku bila kuperintahkan. Fahamilah nasihatku jika aku beri nasihat. Percayailah ketegasanku bila aku sudah bertindak. Ikutilah kebulatan tekadku bila aku sudah berniat! Bangunlah mengikuti kebangkitanku dan seranglah orang-orang yang kuse­rang! Jika kalian membangkang, kalian tidak akan mendapatkan petunjuk yang benar dan kalian tidak akan dapat bersatu. Terju­nilah peperangan dan siapkan semua perlengkapan. Perang sudah berkobar dan apinya masih menyala-nyala. Orang-orang yang dza­lim itu hendak membasmi kalian melalui peperangan dengan tuju­an untuk dapat leluasa memadamkan cahaya Allah.

“Demi Allah, seandainya aku seorang diri menjumpai mereka berada di tengah-tengah penghuni bumi ini, lantas aku menaruh perhatian kepada mereka, atau aku lantas lari menjauhi mereka karena takut, itu berarti aku sudah sama sesatnya seperti mere­ka! Jalan hidayat yang selama ini kupegang teguh, benar-benar ku­hayati dengan penuh kesadaran dan keyakinan serta berdasarkan petunjuk Allah Tuhanku. Aku sungguh-sungguh sudah sangat rindu ingin berjumpa dengan Allah, dan aku benar-benar menung­gu serta mengharap-harap keindahan pahala dan karunia-Nya.”

“Tetapi kerisauan dan kekecewaan meresahkan hatiku dan kekhawatiran menggelisah-kan fikiranku, karena aku takut kalau-kalau ummat ini akan dikuasai oleh manusia-manusia jahat dan durhaka. Kemudian mereka itu akan menggunakan kekayaan Allah sebagai alat kekuasaan, menjadikan hamba-hamba Allah se­bagai budak belian, menjadikan orang-orang saleh sebagai umpan peperangan, dan menjadikan orang-orang yang berlaku adil sebagai golongan terpencil.”

“Demi Allah, kalau bukan karena semuanya itu, aku tidak akan terus menerus mengajak kalian, mempersatukan kalian dan mendorong kalian supaya berjuang. Kalian pasti sudah kutinggal­kan. Demi Allah aku ini berada di atas jalan yang benar, dan aku sungguh-sungguh ingin mati syahid. Insyaa Allah, aku akan berang­kat ke medan juang bersama-sama kalian. Berangkatlah kalian, baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat. Berjuanglah di jalah Allah dengan harta dan nyawa kalian. Se­sungguhnya, Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Pernyataan tertulis Imam Ali r.a. tersebut di atas, secara ke­seluruhan menggambarkan betapa sulit dan beratnya persoalan yang dihadapinya sepeninggal Rasul Allah s.a.w., terutama setelah dibai’at oleh kaum muslimin sebagai Khalifah dan Amirul Muk­minin.

Disadur dari buku :

Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a.
Oleh H.M.H. Al Hamid Al Husaini
Penerbit: Lembaga Penyelidikan Islam


https://tausyah.wordpress.com

Komentar
  1. […] tetap meneruskan niatnya itu, hingga akhirnya ia gugur di medan perang. Pada waktu Ikrimah gugur, ternyata di tubuhnya terdapat lebih kurang tujuh puluh luka bekas […]

  2. […]  sepulang sekolahnya untuk  menjenguk  ibunya ke rumah  sakit  dan  membaca Quran  untuk ibunya sampai malam sampai  ayahnya  datang dan  […]

  3. […] daripada istri berkata kepada suaminya lagi berjanji ke atas dirinya bahwa ia akan menjadi istri yang shalehah, sedang ia bekerja dan telah membeli kehidupan dunianya dengan kehidupan akhiratnya. […]

  4. […] daripada istri berkata kepada suaminya lagi berjanji ke atas dirinya bahwa ia akan menjadi istri yang shalehah, sedang ia bekerja dan telah membeli kehidupan dunianya dengan kehidupan akhiratnya. […]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s