Arsip untuk 18 Agustus 2010

Allah name on lambSebagian besar umat Islam, Hindu, Budha atau pemeluk agama yang lain tentu telah mengenal nama Imanuel walaupun tidak mengetahui apa atau siapa sebenarnya yang dimaksud Imanuel, pengetahuannya hanya sebatas bahwa nama Imanuel adalah nama dari Kristen yang mungkin diketahuinya dari mengenal ada seseorang atau sekolahan atau gereja yang bernama Imanuel.

Memang benar, nama Imanuel adalah nama yang berasal dari Kristen dan hanya digunakan oleh orang-orang Kristen saja, bagi orang-orang yang beragama Kristen nama Imanuel adalah nama yang sangat akrab dan sangat dipahami apa makna nama tersebut, di dalam kitab Bible Imanuel artinya :

– TUHAN BESERTA KITA –

Umat Kristiani mengimani bahwa berdasarkan Injil Matius yang dimaksud Imanuel adalah Yesus, nama Imanuel adalah nama dari seorang bayi yang diramalkan –nubuwat- akan lahir dari seorang perempuan muda di masa yang akan datang. ± 730 tahun kemudian lahirlah Yesus dan seorang pegawai pajak yang bernama Matius menulis kisah Yesus dari lahirnya hingga terangkat ke langit, dan di dalamnya menyatakan bahwa Yesus adalah Imanuel yang dinubuatkan -tulisan Matius kemudian hari dikenal sebagai Injil Matius-.

Namun perlu untuk dikaji ulang apakah benar Imanuel adalah nama pribadi dari Yesus atau gelar bagi Yesus atau justru sama sekali tidak ada hubungannya dengan Yesus, hal ini menarik karena dengan kajian yang sedikit lebih seksama nama itu nampak tidak berhubungan dengan Yesus.

Kajian ini sama sekali tidak untuk membantah eksistensi Yesus terlahir ke dunia ini, tetapi kajian ini untuk mendapatkan jawaban benarkah Yesus adalah Imanuel yang dinubuatkan ?, sikap Matius yang telah menghubung-hubungkan nubuat akan lahirnya seseorang yang bernama Imanuel dengan diri Yesus menjadikan Injil Matius dipertaruhkan kevaliditasannya sebagai tulisan yang diklaim berdasarkan ilham. Padahal andaikata Matius tidak melakukan hal itu, tentu tidak akan mengurangi eksistensi Yesus terlahir ke dunia ini.

NUBUAT LAHIRNYA IMANUEL

Pada tahun 735 SM, terjadi perang antara Siria yang bersekutu dengan Israel melawan Yehuda ( Yesaya 7:1 Dalam zaman Ahas bin Yotam bin Uzia, raja Yehuda, maka Rezin, raja Aram, dengan Pekah bin Remalya, raja Israel, maju ke Yerusalem untuk berperang melawan kota itu, namun mereka tidak dapat mengalahkannya.) yang dikenal dengan perang Siro-Ef-raim. Peperangan tersebut disulut oleh keinginan Siria dan Israel menggalang sebuah koalisi dengan Yehuda guna menghadang meluasnya kekuasaan negeri Asyur, namun Ahas ragu dan menolak, maka Siria dan Israel memutuskan untuk memerangi Yehuda dan berusaha mengganti raja Ahas dengan raja yang baru.

Pemerintahan Yehuda adalah pemerintahan yang dipilih oleh Allah, sehingga Ahas beserta rakyatnya yakin bahwa Allah akan menjaganya dari serangan Siria-Israel, namun demikian ketika Siria-Israel telah mengepungnya gentarlah hati Ahas ( Yesaya 7:2 …….. maka hati Ahas dan hati rakyatnya gemetar ketakutan seperti pohon-pohon hutan bergoyang ditiup angin.) Ahas-pun mempunyai inisiatif untuk meminta bantuan kepada Asyur untuk menggagalkan serangan Siria dan Israel.

Kemudian Allah memerintahkan Yesaya (Bagi umat Kristen, Yesaya adalah seorang nabi, tapi bagi umat Islam tidak mengenal nabi Yesaya, untuk itu Al-Islah tetap menulis Yesaya.) untuk menjumpai Ahas guna memberi saran agar Ahas tetap tenang dan tidak takut (Yesaya 7:4 dan katakanlah kepadanya: Teguhkanlah hatimu dan tinggallah tenang, janganlah takut…) dan tidak meminta bantuan kepada Asyur. Alasannya, pertama, meminta bantuan kepada Asyur tidak akan menjadikan pemerintahan Ahas lebih baik di kemudian hari, kedua, karena Allah akan menjaga pemerintahan Ahas dan menggagalkan pemberontakan Siria dan Israel untuk menghancurkan pemerintahan Ahas ( Yesaya 7:7 : maka beginilah firman Tuhan ALLAH: Tidak akan sampai hal itu, dan tidak akan terjadi.)

Namun sepertinya Ahas pesimis terhadap apa yang disampaikan Yesaya tentang jaminan dari Allah tersebut, maka untuk meyakinkan Ahas Yesaya menyampaikan nubuat dari Allah tentang tanda-tanda dan saat akan dihancurkannya Siria dan Israel :

Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.

Ia akan makan dadih dan madu sampai ia tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, sebab sebelum anak itu tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, maka negeri yang kedua rajanya engkau takuti akan ditinggalkan kosong.
Yesaya 7:14-16

Nubuatan dalam ayat tersebut sangat nyata dan mudah dicerna, bahwa Allah akan memberikan tanda kepada Ahas berupa :

  1. Seorang perempuan muda (belum kawin) yang mengandung dan melahirkan bayi laki-laki
  2. Perempuan itu akan memberinya nama Imanuel
  3. Sebelum anak itu mampu menolak kejahatan dan memilih yang baik (antara umur 5-20 tahun) maka negeri Siria dan Israel akan ditinggalkan kosong dan tidak ada pemerintahan lagi.

NUBUAT TELAH TERGENAPI

Dan pada tahun 722 SM yaitu sekitar 13 tahun setelah nubuat itu disampaikan oleh Ye-saya kepada Ahas, negeri Siria dan Israel telah hancur secara definitif (Tafsir Alkitab Perjanjian Lama dalam menafsirkan Kitab Yesaya pasal 7 ayat 1-25, Lembaga Biblika Indonesia terbitan Kanisius, halaman 520-521), maka tidak ada lagi ancaman bagi pemerintahan Ahas, keadaan ini adalah keadaan seperti yang dijanjikan Allah kepada Ahas melalui Yesaya. Fakta tersebut mengindikasikan bahwa nubuat dalam Yesaya 7:14-16 telah terpenuhi 13 tahun kemudian walaupun tidak disinggung tentang kelahiran seorang bayi bernama Imanuel dari seorang perempuan muda.

Alasan mengapa tidak dikisahkan kelahiran Imanuel padahal janji Allah telah terpenuhi adalah karena dalam nubuatan tersebut yaitu Yesaya 7:14-16 Imanuel hanyalah sebagai tanda saat akan kehancuran Siria dan Israel bukan sebagai penyebab kehancuran Siria dan Israel.

Memang masih sangat terbuka untuk didiskusikan apakah Imanuel ketika itu -722 SM- sudah lahir atau belum, tetapi yang jelas janji Allah untuk menggagalkan serangan Siria dan Israel sudah tergenapi.

ASAL USUL PENDAPAT TENTANG KELAHIRAN YESUS

Menurut tradisi Kristen, pada tahun 6 SM, seorang perempuan perawan bernama Maria (dalam Islam Siti Maryam) melahirkan seorang bayi laki-laki, konon Maria mempunyai seorang suami bernama Yusuf (dalam Islam tidak disebutkan bahwa Maria mempunyai suami), ternyata sebelum Yusuf menjadi suaminya Maria sudah terlebih dahulu hamil, hal ini menjadikan Yusuf meragukan kesucian Maria. Dalam keraguan tersebut Yusuf bermimpi bertemu Malaikat Tuhan yang memberitahukan bahwa Maria istrinya adalah seorang perawan yang suci bukan mengandung dari seorang laki-laki  yang akan melahirkan se-orang bayi laki-laki dan malaikat tersebut me-merintahkan kepada yusuf untuk memberikan nama kepada bayi yang akan dilahirkan Maria dengan nama Yesus.

Dan ketika Maria melahirkan bayi yang dikandungnya, Yusuf memberi nama bayi tersebut sesuai dalam mimpinya yaitu Yesus.

MATIUS MENULIS

Enam-puluh-lima tahun (65 thn) setelah kelahiran Yesus atau sekitar 30 tahun setelah Yesus terangkat ke langit, Matius menulis silsilah Yesus, kelahiran Yesus, dakwah Yesus hingga Yesus terangkat ke langit, tulisan Matius tersebut dikemudian hari disebut sebagai Injil karangan Matius yaitu salah satu kitab suci agama Kristen -dalam tradisi Islam tulisan semacam itu hanya sampai pada taraf karya sejarah, seperti sirah Ibnu Ishaq atau Ibnu Hisyam dan lain-lain yang tidak bisa disebut sebagai kitab suci-.

Melihat fakta kelahiran Yesus dari seorang perawan Matius segera menyimpulkan tanpa melihat konteks ayat-ayatnya bahwa ‘perawan Maria’ adalah ‘perempuan muda’ yang dinubuatkan dalam Yesaya 7:14 dan menulisnya :

Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi:

“Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” — yang berarti: Allah menyertai kita.
Matius 1:22-23

Tulisan Matius tersebut telah menjadikan umat Kristen meyakini bahwa Yesus adalah Imanuel seperti yang di nubuatkan dalam Yesaya 7:14.

BENARKAH YESUS ITU IMANUEL ?

Namun menjadi pertanyaan besar apakah benar Yesus adalah Imanuel ?, hal ini karena :

Pertama, kelahiran Imanuel yang dinubuatkan dalam Yesaya 7:14 hanyalah untuk menandai bahwa kehancuran negeri Siria dan Israel akan segera terjadi, dan pada tahun 722 SM Israel dan Siria secara definitif telah hancur. Se-hingga secara eksplisit Imanuel telah lahir sebelum tahun 722 SM, maka mengklaim Yesus sebagai Imanuel adalah keluar jauh dari konteks nubuat dalam Yesaya 7:14.

Kedua, Yusuf atas petunjuk Malaikat akan menamakan bayi yang dilahirkan Maria dengan nama Yesus ( bukan Imanuel ) :

Ia (Maria) akan melahirkan anak laki-laki dan engkau (Yusuf) akan menamakan Dia Yesus….. Matius 1:21

……… ia (Maria) melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus. Matius 1:25

Sedangkan dalam nubuat Yesaya 7:14 bayi laki-laki tersebut akan diberi nama Imanuel.

Ketiga, Yesaya 7:14 menyebutkan :
… seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki… Yesaya 7:14

Dalam ayat itu disebutkan perempuan muda, sementara Matius menulis anak dara :
“anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki…. Matius 1:23

Kutipan Matius tersebut terkesan membiaskan makna, dalam bahasa Ibrani, antara perempuan muda dan anak dara terdapat perbedaan yang sangat besar, almah adalah kata yang mewakili perempuan muda dan Na’ara atau betula mewakili anak dara.

Almah artinya seorang wanita muda yang belum menikah, almah yang mengandung bisa jadi seorang perawan yang mengandung dan ini merupakan peristiwa ajaib, tetapi juga bisa berarti seorang perempuan yang bereputasi buruk –pelacur atau hamil diluar nikah-. Nubuat dalam Yesaya 7:14 secara kontekstual tidak menekankan pada kelahiran yang ajaib namun hanya sebagai tanda akan terjadinya sesuatu.

Na’ara artinya anak dara dan belum menikah, betula artinya anak dara dan sudah menikah –dalam masa tunangan-. Maria adalah betula bukan almah, karena Maria sudah mempunyai suami yaitu Yusuf.

MENGAPA MATIUS MENULISNYA ?

Pertama, dalam ‘Tafsir Alkitab Perjanjian Lama’ Lembaga Biblika Indonesia terbitan Kanisius halaman 521 disebutkan :

“Dalam Injil, kelahiran dalam keadaan tak terduga tidak pernah dipandang sebagai kehadiran Allah”

Agaknya Matius ingin memberikan kesan bahwa kelahiran Yesus adalah kelahiran yang telah sejak lama direncanakan dan di-tunggu-tunggu atau dengan kata lain Matius ingin memberikan kesan bahwa kelahiran Yesus adalah sebagai tanda kehadiran Allah, sehingga ketika adanya fakta kelahiran Yesus dan adanya nubuat dalam Yesaya 7:14 yang secara sepintas belum terpenuhi, Matius begitu saja menyimpulkan :

Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi (Yesaya) Matius 1:22

Padahal ketiga pengarang Injil yang lain –Markus, Lukas dan Yohanes- sama sekali tidak menyinggung kelahiran Yesus sebagai pemenuhan nubuat dalam Yesaya 7:14 dan sama sekali tidak ada ayat-ayat dalam Injil karangan mereka baik secara implisit maupun eksplist yang menyatakan Imanuel adalah Yesus atau Yesus adalah Imenuel. Dan hal itu sama sekali tidak mengurangi makna kelahiran Yesus ke dunia ini, kelahiran Yesus yang ajaib dari seorang perawan dan mukjizat-mukjizat yang diberikan Allah kepadanya sudah sangat cukup sebagai bukti.

Kedua, secara keseluruhan, bahasa yang digunakan dalam penyusunan kitab-kitab dalam Perjanjian Lama –salah satunya adalah kitab Yesaya- adalah bahasa Ibrani yaitu bahasa dari umat tempat kitab itu diturunkan, kemudian ada seseorang yang ingin mempunyai terjemahan kitab-kitab tersebut dalam bahasa Yunani untuk disimpan di perpustakaanya, maka dibentuklah tim ahli untuk menterjemahkan kitab tersebut yang terdiri dari 70 orang -Septuaginta- yang kemudian dikenal dengan terjemahan Septuaginta atau LXX.
(angka Romawi : L=50, X = 20 , —— jadi LXX=70).

Di sinilah titik yang paling kritis dan dapat menyebabkan kesalahan yang sangat serius, karena dalam bahasa Ibrani ada beberapa/banyak kata yang hanya memiliki satu makna dan terjemahan dalam bahasa Yunaninya memiliki beberapa makna.

Matius dipastikan menggunakan kitab berbahsa Yunani sebagai sumber acuan kutipan nubuat Yesaya 7:14. Dalam nubuat tersebut terdapat kata ‘Perempuan Muda’ yang dalam bahasa Ibrani diwakili oleh kata ALMAH dan dalam bahasa Yunani diwakili oleh kata PARTHENOS.

ALMAH hanya memiliki satu makna yaitu perempuan muda, sedangkan PAR-THENOS memiliki beberapa arti yaitu perempuan muda atau perawan. Ketika Matius melihat Maria mengandung Yesus dalam keadaan perawan terburu-buru mengasumsikan bahwa PARTHENOS berarti perawan dan segera menyimpulkan nubuat Yesaya 7:14 digenapi oleh kelahiran Yesus, padahal jika Matius mau memeriksa teks aslinya yang berbahasa Ibrani Matius pasti akan memahami bahwa interpretasi atas nubuat semacam itu adalah mustahil.

Menterjemahkan ALMAH menjadi PARTHENOS adalah benar, tetapi mengasumsikan PARTHENOS sebagai perawan dalam Yesaya 7:14 adalah salah baik secara teks maupun konteks. Wallahu a’lam (al-islahonline)

==========oOo==========


Matius agaknya lebih tertarik dengan gagasan-gagasan daripada fakta-fakta; dan kadang-kadang ia bersedia menyusun fakta-fakta sejauh fakta-fakta tersebut sesuai dengan gagasan-gagasan-nya. Fenton JC 1973 – hal 41

….segolongan dari mereka mendengar fir-man Allah, lalu mereka mengubah-nya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui…. QS. 2:75

==========oOo==========

https://tausyah.wordpress.com

Masjid-e-NabviImam Ali r.a. Berada Dalam Tekanan

Melihat pasukan Syam mengacung-acungkan lembaran Al Qur’an, fikiran pasukan Imam Ali r.a. terpecah dalam berbagai pendapat. Yang tinggi kewaspadaan politiknya memperkirakan bahwa itu hanya tipu-muslihat belaka. Guna mengelabui pasukan Imam Ali r.a. sehingga situasi buruk yang mereka alami dapat diubah menjadi baik. Sedang yang dangkal pengertian politiknya menganggap, bahwa perbuatan pasukan Syam itu bukan tipu muslihat, melainkan benar-benar bermaksud jujur, mengajak kembali kepada ajaran dan perintah agama. Karena itu harus disambut dengan jujur. Ini jauh lebih baik daripada perang ber­kobar terus sesama kaum muslimin.

Selain itu ada pula kelompok yang hendak menunggangi si­tuasi itu agar peperangan cepat dihentikan. Mereka sudah jemu dengan peperangan dan sangat merindukan perdamaian.

Tidak selang berapa lama datanglah berduyun-duyun sejum­lah orang kepada Imam Ali r.a. Mereka menuntut supaya pepera­ngan segera dihentikan. Tuntutan mereka itu ditolak oleh Imam Ali r.a., karena ia yakin, bahwa apa yang diperbuat oleh orang-orang Syam itu hanya tipu-muslihat. Karena itu kepada mereka yang menuntut dihentikannya peperangan, Imam Ali r.a. menegaskan:

“Itu hanya tipu-daya dan pengelabuan! Aku ini lebih me­ngenal mereka daripada kalian! Mereka itu bukan pembela-pembe­la Al-Qur’an dan agama Islam. Aku sudah lama mengenal mereka dan me­ngetahui soal-soal mereka, mulai dari yang kecil-kecil sampai yang besar-besar. Aku tahu mereka itu meremehkan agama dan sedang meluncur ke arah kepentingan duniawi. Oleh sebab itu janganlah kalian terpengaruh oleh perbuatan mereka yang mengi­barkan lembaran-lembaran Al-Qur’an. Bulatkanlah tekad kalian untuk berperang terus sampai tuntas. Kalian sudah berhasil mema­tahkan kekuatan mereka. Mereka sekarang sudah loyo dan tidak lama lagi akan hancur!”

Mereka tetap tidak mau mengerti, bahwa itu hanya tipu-mus­lihat. Mereka mendesak terus agar perang dihentikan dan meng­ancam tidak mau mendukung Imam Ali r.a. lagi bila perang di­teruskan. Mereka bukan hanya sekedar menggertak dan meng­intimidasi, bahkan mereka sampai berani “memerintahkan” Imam Ali r.a. supaya mengeluarkan instruksi penghentian perang dan menarik semua sahabatnya yang masih berkecimpung di medan tempur.

Benar-benar terlalu! Imam Ali r.a. sampai “diperintah” su­paya cepat-cepat menarik .Al-Asytar yang sedang memimpin per­tempuran! Lebih dari itu. Mereka juga mengancam akan menang­kap dan menyerahkan Imam Ali r.a. kepada Muawiyah, jika ia tidak mau memenuhi tuntutan mereka! Tidak sedikit jumlah pa­sukan Imam Ali r.a. yang berbuat sejauh itu. Mereka bersumpah tidak akan meninggalkan Imam Ali r.a. dan akan terus mengepung­nya, sebelum Imam Ali r.a. melaksanakan “perintah” mereka.

Kedudukan Imam Ali r.a. benar-benar sulit, bahkan rawan dan gawat. Melanjutkan peperangan berarti membuka lubang per­pecahan. Menghentikan peperangan juga berarti membangkitkan perlawanan kelompok yang lain, yang tidak percaya kepada tipu ­muslihat musuh. Ini juga berarti perpecahan. Imam Ali r.a. benar-­benar “tergiring” ke posisi sulit akibat muslihat politik “tahkim” yang dilancarkan Muawiyah dan Amr.

Setelah kaum pembelot tak dapat diyakinkan lagi, Imam Ali r.a. terpaksa memanggil Al Asytar dan memerintahkan su­paya menghentikan peperangan. Pada mulanya Al Asytar menolak, karena ia tidak mengerti sebabnya Imam Ali r.a. sampai bertindak sejauh itu. Kepada suruhan Imam Ali r.a., Al Asytar berkata: “Bagaimana aku harus kembali dan bagaimana peperangan harus kuhentikan, sedangkan tanda-tanda kemenangan sudah tampak jelas! Katakan saja kepada Imam Ali, supaya ia memberi waktu kepadaku barang satu atau dua jam saja!”

Al Asytar membantah, sebab suruhan Imam Ali r.a. tidak menerangkan sama sekali sebab-sebabnya Imam Ali r.a. mengelu­arkan perintah seperti itu dan tidak dijelaskan juga bagaimana keadaan yang sedang dihadapi Imam Ali r.a. di markas-besarnya.

Waktu suruhan Imam Ali r.a. kembali dan melaporkan ja­waban Al Asytar, orang-orang yang sedang mengepungnya marah, gaduh, ribut dan berniat buruk terhadap Imam Ali r.a. Mereka ber­prasangka jelek. Kemudian mereka bertanya kepada Imam Ali r.a.: “Apakah engkau memberi perintah rahasia kepada Al Asytar supaya tetap meneruskan peperangan dan melarang dia berhenti? Jika engkau tidak segera dapat mengembalikan Al Asytar, engkau akan kami bunuh seperti dulu kami membunuh Utsman!”

Suruhan itu diperintahkan kembali untuk menemui Al Asytar. Agar ia cepat kembali, suruhan itu melebih-lebihkan keterangan kepada Al Asytar: “Apakah engkau mau menang dalam keduduk­anmu ini, sedang Ali sekarang lagi dikepung 50.000 pedang?”

“Apa sebab sampai terjadi seperti itu?” tanya Al Asytar yang ingin mendapat keterangan lebih jauh.

“Karena mereka melihat lembaran-lembaran Al Qur’an di­kibarkan oleh pasukan Syam,” jawab suruhan.

Sambil bersiap-siap untuk kembali menghadap Imam Ali r.a., Al Asytar berkata: “Demi Allah, aku sudah menduga akan terjadi perpecahan dan malapetaka pada waktu aku melihat lembaran-­lembaran Al Qur’an dikibarkan orang!”

Al Asytar segera pulang. Setiba di markas-besar ia melihat Imam Ali r.a. dalam keadaan bahaya. Anggota-anggota pasukan yang mengepung sedang mempertimbangkan apakah Imam Ali r.a. dibunuh saja atau diserahkan kepada Muawiyah. Saat itu ti­dak ada orang lain yang memberi perlindungan kepada Imam Ali r.a. kecuali dua orang puteranya sendiri Al Hasan r.a. dan Al Husein r.a. serta Abdullah Ibnu Abbas dan beberapa orang lain, yang jumlah kesemuanya tak lebih dari 10 orang.

Ketika melihat situasi yang sangat kritis itu, Al Asytar segera menerobos kepungan sambil memaki-maki mereka yang se­dang mengancam-ancam: “Celaka kalian! Apakah setelah mencapai kemenangan dan keberhasilan lantas kalian mau menghentikan du­kungan dan menciptakan perpecahan. Sungguh impian yang sangat kerdil. Kalian itu memang perempuan! Sungguh busuk kalian itu!”

Datanglah Al Asy’ats bin Qeis kepada Imam Ali r.a. lantas berkata : “Ya Amirul Mukminin, aku melihat orang-orang sudah menerima dan menyambut baik ajakan mereka (pasukan Syam) untuk mengadakan penyelesaian damai berdasarkan hukum Al Qur’an. Kalau engkau setuju, aku akan datang kepada Muawiyah untuk menanyakan apa sesungguhnya yang dimaksud dan apa yang diminta olehnya.”

“Pergilah, kalau engkau mau…!” jawab Imam Ali r.a.

Dalam pertemuannya dengan Muawiyah, Al Asy’ats berta­nya: “Untuk apa engkau mengangkat lembaran-lembaran Al Qur’ an pada ujung-ujung senjata pasukanmu?”

Muawiyah menerangkan: “Supaya kami dan kalian semua­nya kembali kepada apa yang diperintahkan Allah dalam Al-Qur’ an. Oleh karena itu utuslah seorang yang kalian percayai, dan dari fihak kami pun akan mengutus seorang juga. Kepada kedua orang itu kita tugaskan supaya bekerja atas dasar Kitab Allah dan jangan sampai melanggarnya. Kemudian, apa yang disepakati oleh dua orang itu kita taati bersama…”

Al Asy’ats menanggapi keterangan Muawiyah itu dengan ucapan: “Itu adalah kebenaran!”

Setelah itu Al Asy’ats dan beberapa orang ulama Al-Qur’an berkata kepada Imam Ali r.a.: “Kita telah menerima baik tahkim berdasar Kitab Allah…, dan kami sepakat untuk memilih Abu Musa Al Asy’ariy sebagai utusan!”

Imam Ali r.a. menolak: “Aku tidak setuju Abu Musa dite­tapkan sebagai utusan. Aku tidak mau mengangkat dia!”

Al Asy’ats menyanggah: “Kami tidak bisa menerima orang selain dia. Dialah yang telah mengingatkan kita mengenai kejadian yang sedang kita hadapi sekarang ini, yakni peperangan…”

Imam Ali r.a. masih tetap menolak: “Ya, tetapi aku tidak da­pat menyetujui dia. Ia dulu meninggalkan aku dan berusaha men­cegah orang supaya tidak membantuku. Kemudian ia lari, tetapi sebulan setelah itu ia kembali dan kujamin keselamatannya. Ini­lah Ibnu Abbas, orang yang akan kuangkat sebagai utusan!”

Al Asy’ats menolak sambil berdalih: “Demi Allah, kami tidak peduli. Kami menginginkan seorang yang netral, tidak condong kepadamu dan tidak condong kepada Muawiyah!”

Imam Ali r.a. mengajukan usul lain: “Kalau begitu, aku akan mengangkat Al Asytar!”

Dengan sinis Al Asy’ats bertanya: “Apakah bumi ini akan terbakar jika bukan Al Asytar yang kau angkat? Apakah kami hendak kau tempatkan di bawah kekuasaan Al Asytar?”

Imam Ali r.a. ingin mendapat penjelasan, lalu bertanya: “Kekuasaan yang bagaimana?”

Al Asy’ats menyahut: “Kekuasaan dia ialah hendak men­dorong kaum muslimin terus menerus mengadu pedang sampai ter­laksana apa yang diinginkan olehmu dan olehnya!”

Imam Ali r.a. masih berusaha menyakinkan: “Muawiyah ti­dak menyerahkan tugas itu kepada siapa pun selain orang yang di­percaya benar-benar olehnya, yaitu Amr bin Al Ash. Bagi orang Qureisy itu (Muawiyah) memang tidak ada yang paling baik bagi­nya kecuali orang seperti Amr…! Kalian akan diwakili oleh Ab­dullah bin Abbas. Biarlah dia yang menghadapi Amr. Abdullah mampu mengatasi kesulitan yang akan dihadapkan oleh Amr kepa­danya, sedangkan Amr tidak akan sanggup mengatasi kesulitan yang akan dihadapkan oleh Abdullah kepadanya. Abdullah mampu menangkis hujjah-hujjah yang diajukan oleh Amr, sedang­kan Amr tidak akan mampu menangkis hujjah-hujjah yang diaju­kan oleh Abdullah!”

Al Asy’ats tetap berkeras kepala. Ia berganti dalih: “Demi Allah, tidak…! Sampai kiyamat pun masalah tahkim itu tidak boleh dirundingkan oleh dua orang sama-sama berasal dari Bani Mudhar. Angkatlah orang yang dari Yaman (Abu Musa), sebab mereka sudah mengangkat orang dari Mesir (Amr)…!”

Imam Ali mengingatkan: “Aku khawatir kalu-kalau kalian akan terkelabui. Sebab kalau Amr sudah menuruti hawa nafsu­nya dalam urusan tahkim itu, ia sama sekali tidak takut kepada Allah!”

Dengan bersitegang leher Al Asy’ats berkata: “Demi Allah, kalau salah seorang dari dua perunding itu berasal dari Yaman, lalu mengambil beberapa keputusan yang tidak menyenangkan kita, itu lebih baik bagi kita daripada kalau dua orang perunding itu sama-sama berasal dari Bani Mudhar, walau mereka ini mengambil beberapa keputusan yang menyenangkan kita!”

Imam Ali r.a. minta ketegasan terakhir: “Jadi…, kalian tidak menghendaki selain Abu Musa?”

“Ya!” jawab Al Asy’ats.

“Kalau begitu, kerjakanlah apa yang kalian inginkan!” kata Imam Ali r.a. dengan hati masgul.

Beberapa orang pengikut Imam Ali r.a. kemudian berangkat untuk menemui Muawiyah guna mengadakan persetujuan tertulis mengenai prinsip disetujuinya tahkim oleh kedua belah fihak. Wakil fihak Kufah (Imam Ali r.a.) menuliskan dalam teks perja­njian sebuah kalimat: “Inilah yang telah disetujui oleh Amirul Mukminin…”

Baru sampai di situ Muawiyah cepat-cepat memotong: “Be­tapa jeleknya aku ini, kalau aku mengakui dia sebagai Amirul Mukminin tetapi aku memerangi dia!”

Amr bin Al Ash menyambung: “Tuliskan saja namanya dan nama ayahnya. Dia itu Amir (penguasa) kalian dan bukan Amir kami!”

Wakil-wakil fihak Kufah kembali menghadap Imam Ali r.a. untuk minta pendapat mengenai penghapusan sebutan “Amirul Mukminin”. Ternyata Imam Ali r.a. memerintahkan supaya sebut­an itu dihapus saja dari teks perjanjian. Tetapi Al Ahnaf cepat-ce­pat mengingatkan: “Sebutan Amirul Mukminin jangan sampai dihapus. Kalau sampai dihapus, aku khawatir pemerintahan (ima­rah) tak akan kembali lagi kepadamu untuk selama-lamanya. Ja­ngan…, jangan dihapus, walau peperangan akan berkecamuk te­rus!”

Setelah mendengar naselat Al Ahnaf itu untuk beberapa saat lamanya Imam Ali r.a. berfikir hendak mempertahankan sebutan “Amirul Mukminin” dalam teks perjanjian, tetapi keburu Al Asy’ats datang lagi dan mendesak supaya sebutan itu dihapuskan saja.

Dengan perasaan amat kecewa Imam Ali r.a. berucap: “Laa llaaha Illahllaah . . . Allaahu Akbar! Sunnah yang dulu sekarang disusul lagi dengan sunnah baru. Demi Allah, bukankah persoalan seperti itu dahulu pernah juga kualami? Yaitu waktu diadakan per­janjian Hudaibiyyah?!

“Waktu itu atas perintah Rasul Allah s.a.w. aku menulis da­lam teks perjanjian “Inilah perjanjian yang dibuat oleh Muhammad Rasul Allah dan Suhail bin Amr.” Ketika itu Suhail berkata: “Aku tidak mau menerima teks yang berisi tulisan ‘Rasul Allah’. Sebab kalau aku percaya bahwa engkau itu Rasul Allah, tentu aku tidak akan memerangimu! Adalah perbuatan dzalim kalau aku melarang­mu bertawaf di Baitullah, padahal engkau itu adalah Rasul Allah! Tidak, tuliskan saja ‘Muhammad bin Abdullah’, baru aku mau menerimanya…!”

“Waktu itu Rasul Allah memberi perintah kepadaku: ‘Hai Ali, aku ini adalah Rasul Allah dan aku pun Muhammad bin Ab­dullah. Teks perjanjian dengan mereka yang hanya menyebutkan Muhammad bin Abdullah tidak akan menghapuskan kerasulan­ku. Oleh karena itu tulis saja Muhammad bin Abdullah !’ Waktu itu beberapa saat lamanya aku dibuat bingung oleh kaum musyri­kin. Tetapi sekarang, di saat aku sendiri membuat perjanjian de­ngan anak-anak mereka, pun mengalami hal-hal yang sama seperti yang dahulu dialami oleh Rasul Allah s.a.w.…”

Teks perjanjian itu akhirnya ditulis juga tanpa menyebut kedudukan Imam Ali r.a. sebagai Amirul Mukminin. Al Asytar kemudian dipanggil untuk menjadi saksi. Sebagai reaksi Al Asytar berkata pada Imam Ali: “Anda akan kehilangan segala-galanya bila perjanjian ditulis seperti itu. Bukankah anda ini berdiri di atas ke­benaran Allah? Bukankah anda ini benar-benar yakin bahwa mu­suhmu itu orang yang memang sesat? Kemudian ia berkata kepa­da mereka: “Apakah kalian tidak melihat kemenangan sudah di­ambang pintu seandainya kalian tidak berteriak minta belas ka­sihan kepada musuh?!”

Al Asy’ats menyahut: “Demi Allah, aku tidak melihat ke­menangan dan tidak pula meminta belas kasihan kepada musuh. Ayohlah berjanji, bahwa engkau akan taat! Akuilah apa yang ter­tulis dalam teks perjanjian ini!”

Al Asytar menjawab: “Demi Allah, dengan pedangku ini Allah telah menumpahkan darah orang-orang yang menurut peni­laianku lebih baik daripada engkau, dan aku tidak menyesali darah mereka! Aku hanya mau mengikuti apa yang dilakukan oleh Ami­rul Mukminin. Apa yang diperintahkan, akan kulaksanakan, dan apa yang dilarang akan kuhindari, sebab perintahnya selalu benar dan tepat!

Pada saat itu datanglah Sulaiman bin Shirid menghadap Amirul Mukminin, sambil membawa seorang yang luka parah aki­bat pukulan pedang. Waktu Imam Ali r.a. menoleh kepada orang yang luka parah itu, Sulaiman berkata mengancam: “Ada orang yang sudah menjalani nasibnya dan ada pula yang sedang menung­gu nasib! Dan… engkau termasuk orang-orang yang sedang me­nunggu nasib seperti orang ini!”

Ada lagi yang datang menghadap, lalu berkata: “Ya Amirul Mukminin, seandainya engkau masih mempunyai orang-orang yang mendukungmu, tentu engkau tidak akan menulis teks perja­njian seperti itu. Demi Allah, aku sudah berkeliling ke sana dan ke mari untuk mengerahkan orang-orang supaya mau melanjutkan peperangan. Tetapi ternyata hanya tinggal beberapa gelintir saja yang masih sanggup melanjutkan peperangan!”

Ada orang lain lagi datang menghadap, lalu berkata: “Ya A­mirul Mukminin, apakah tidak ada jalan untuk membatalkan per­janjian itu? Demi Allah, aku sangat khawatir kalau-kalau perjanjian itu akan membuat kita hina dan nista!”

Imam Ali r.a. menjawab: “Apakah kita akan membatalkan perjanjian yang sudah ditulis itu? Itu tidak boleh terjadi!”

Imam Ali r.a. terpaksa menyetujui adanya perjanjian de­ngan Muawiyah mengenai prinsip penyelesaian damai berdasar­kan hukum Al Qur’an. Banyak di antara pengikutnya yang me­rasa kecewa dan menyesal, tetapi sikap tersebut sudah terlambat.

Karena sangat kecewa dan menyesal, mereka lalu berteriak kepada semua orang di mana saja: “Tiada hukum selain hukum Allah! Hukum di tangan Allah dan bukan di tanganmu, hai Ali! Kami tidak rela ada orang-orang yang akan menetapkan hukum terhadap agama Allah! Hukum Allah bagi Muawiyah dan pengikut-pengikutnya sudah jelas, yaitu mereka harus kita perangi atau harus kita tundukkan kepada pemerintahan kita! Kita telah terperosok dan tergelincir pada saat kita menyetujui tahkim! Sekarang kita telah bertaubat dan tidak mau lagi mengakui perja­njian itu! Dan engkau, hai Ali, tinggalkanlah perjanjian itu dan ber­taubatlah kepada Allah seperti yang sudah kita lakukan. Kalau tidak, kita tidak turut bertanggung jawab!”

Imam Ali r.a. bukanlah orang yang biasa menciderai perjanji­an, walau perjanjian itu akan mengakibatkan dirinya harus menanggung resiko kedzaliman orang lain. Kepada orang-orang yang menuntut supaya ia menciderai perjanjian dan segera bertau­bat, ia menjawab:

“Celakalah kalian! Apakah setelah kita sendiri mau menyetu­jui perjanjian itu lantas sekarang harus berbuat cidera? Bukankah Allah telah memerintahkan supaya kita menjaga baik-baik dan me­menuhi perjanjian? Bukankah Allah telah berfirman (yang arti­nya):

“Tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpahmu sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu per­buat” (S. An Nahl: 91).

Beberapa hari setelah peperangan berhenti, dalam salah satu khutbahnya Imam Ali r.a. berkata: “Perintahku masih kalian ikuti terus seperti yang kuinginkan sampai saat kalian dilanda perpecah­an fikiran. Demi Allah, kalian tahu bahwa peperangan itu sama sekali tidak menghilangkan kekhalifahanku. Itu masih tetap ada. Bahkan peperangan itu sebenarnya lebih memporak-porandakan musuh kalian. Di tengah-tengah kalian, kemarin aku masih meme­rintah, tetapi hari ini aku sudah menjadi orang yang diperintah. Kemarin aku masih menjadi orang yang bisa melarang, tetapi hari ini aku menjadi orang yang dilarang. Kalian ternyata sudah menja­di orang-orang yang lebih menyukai hidup, dan aku tidak dapat lagi mengajak kalian kepada apa yang tidak kalian sukai…”

Penyimpangan Abu Musa

Beberapa bulan kemudian, bertemulah dua orang perunding di sebuah tempat yang letaknya tidak jauh dari Shiffin. Amr bin Al Ash mewakili Muawiyah, dan Abu Musa Al Asy’ariy mewakili Imam Ali r.a. Dalam perundingan itu Amr dengan gigih bertahan membela Muawiyah, sedangkan Abu Musa berpendirian “asal da­mai” dan “asal selamat”. Dengan berbagai siasat dan muslihat, akhirnya Amr berhasil menyeret Abu Musa kepada suatu konsep­si yang meniadakan kekhalifahan Imam Ali r.a.

Berdasarkan prinsip “asal damai” dan “asal selamat”, Abu Musa mengusulkan supaya fihak Amr bersedia menerima Abdullah bin Umar Ibnul Khattab sebagai calon Khalifah yang akan meng­gantikan Imam Ali. Usul Abu Musa itu dijawab oleh Amr: “menga­pa anda tidak mengusulkan anak lelakiku yang bernama Abdul­lah? Anda kan tahu sendiri anakku itu seorang yang shaleh!”

Pembicaraan berlangsung terus. Setelah lama berunding akhir­nya dua orang itu sepakat untuk memberhentikan Imam Ali r.a. sebagai Khalifah dan memberhentikan Muawiyah sebagai pemim­pin di Syam dan menyerahkan kepada ummat Islam untuk me­milih Khalifah lain yang disukainya.

Begitu licinnya Amr mengelabui Abu Musa, sampai Abu Musa sendiri merasa adil dalam melaksanakan tugas sebagai wakil Imam Ali r.a. Selain itu Abu Musa sedikit pun tidak mempunyai ke­curigaan bahwa Amr akan menyimpang dari kesepakatan.

Selesai berunding, Amr dan Abu Musa sepakat akan meng­umumkan hasil perundingan itu di depan khalayak ramai. Untuk merealisasinya, oleh Amr diminta kepada Abu Musa supaya lebih dulu mengumumkan pemberhentian Imam Ali, kemudian barulah Amr akan mengumumkan pemberhentian Muawiyah. Seperti orang terkena sihir Abu Musa mengiakan saja apa yang diminta oleh Amr, kendatipun ia telah diperingatkan oleh Ibnu Abbas agar jangan bicara lebih dulu.

Di depan orang banyak Abu Musa mengumumkan, bahwa dua orang perunding telah bersepakat untuk memberhentikan imam Ali dan Muawiyah, demi kerukunan dan perdamaian di an­tara kaum muslimin. Setelah memberi penjelasan sedikit, dengan lantang Abu Musa berkata: “Sekarang aku menyatakan pember­hentian Ali sebagai Khalifah!”

Selesai Abu Musa, tampillah Amr bin Al Ash. Ia tidak berbi­cara seperti Abu Musa. Ia tidak mengumumkan bahwa dua orang perunding telah sepakat memberhentikan Imam Ali dan Muawi­yah. Amr hanya mengatakan: “Abu Musa tadi telah menyatakan dengan resmi pemberhentian Ali bin Abi Thalib dari kedudukan­nya sebagai Khalifah. Mulai saat ini ia tidak lagi menjadi Khali­fah! Sekarang aku mengumumkan bahwa aku mengukuhkan ke­dudukan Muawiyah sebagai Khalifah, pemimpin kaum muslimin!”

Mendengar kata-kata Amr, Abu Musa sangat marah. Ia tak mungkin lagi menjilat ludah yang suda jatuh. Abu Musa pergi meninggalkan tempat perundingan. Sejak itu namanya tidak per­nah disebut-sebut lagi dalam sejarah.

Beberapa waktu sebelum Abu Musa menghilang, ia masih menerima sepucuk surat dari Abdullah bin Umar Ibnul Khattab, sebagai reaksi terhadap usul pencalonannya, yang diucapkan Abu Musa dalam perundingan. Surat Abdullah tersebut sebagai berikut:

“Hai Abu Musa, engkau membawa-bawa diriku ke dalam per­soalan yang engkau sendiri tidak mengetahui bagaimana fikiran­ku mengenai hal itu. Apakah engkau mengira bahwa aku akan ber­sedia mencampuri urusan yang engkau mengira aku ini lebih ter­kemuka dibanding Ali bin Abi Thalib? Bukankah sudah sangat jelas bahwa ia jauh lebih baik daripada diriku? Engkau sungguh sia-sia, dengan begitu engkau sendirilah yang menderita rugi. Aku sama sekali bukan orang yang mengambil sikap permusuhan. Eng­kau benar-benar telah membuat marah Ali bin Abi Thalib dan Mu­awiyah karena ucapanmu mengenai diriku.

“Lebih-lebih Ali bin Abi Thalib, karena melihat engkau telah tertipu oleh Amr. Padahal engkau itu seorang pengajar Al Qur’an, seorang yang pernah menjadi utusan penduduk Yaman untuk menghadap Rasul Allah s.a.w., seorang yang pernah diberi keperca­yaan membagi-bagikan ghanimah pada masa Khalifah Abu Bakar dan Umar. Ternyata sekarang telah tertipu oleh ucapan-ucapan Amr bin Al Ash, sampai engkau lancang dan memecat Ali sebelum memecat Muawiyah!”

Menanggapi surat Abdullah bin Umar Ibnul Khattab terse­but, Abu Musa menulis: “Aku bukannya hendak mendekatimu dengan jalan mendudukkan dirimu atau membai’atmu sebagai Kha­lifah. Yang kuinginkan hanyalah keridhoan Allah s.w.t. Kesedia­anku memikul tugas ummat ini bukan suatu hal yang buruk atau tercela. Sebab ummat ini seolah-olah sedang berada di ujung pedang. Selama hidup sampai mati aku akan tetap mengatakan, bahwa yang kuinginkan ialah agar ummat ini selalu damai. Sebab jika tidak, ummat ini tidak akan dapat kembali kepada kebesaran semula.”

Seterusnya Abu Musa mengatakan: “Adapun mengenai ucap­anku tentang dirimu yang dapat membuat marah Ali dan Mua­wiyah, sebenarnya dua orang itu sudah lebih dulu marah kepadaku. Tentang tipu muslihat Amr terhadap diriku, demi Al­lah, tipu muslihatnya itu tidak merugikan Ali bin Abi Thalib dan juga tidak menguntungkan Muawiyah. Sebab syarat yang sudah kami tetapkan bersama ialah, bahwa kami hanya terikat oleh apa yang sudah disepakati bersama, dan bukan terikat oleh apa yang kami perselisihkan. Adapun mengenai apa yang engkau dilarang melakukannya oleh ayahmu, demi Allah, seandainya persoalan ini dapat diselesaikan, engkau akan terpaksa menerimanya!”

Dari surat jawaban Abu Musa kepada Abdullah itu jelaslah, bahwa Abu Musa benar-benar fikirannya dicekam rasa rindu per­damaian. Dan demi perdamaian ia tidak segan-segan menyimpang jauh dari tugas yang dipikulnya dan rela menjebloskan pemimpin­nya sendiri.

[1]Menurut Abu Umar bin Abdul Birr, dalam bukunya Al Isti’ab ha­laman 434, nama asli Nabighah ialah Salma. Nabighah adalah nama julukan dan ditambah dengan “binti Harmalah”. Ia berasal dari Bani Jilan bin Anazah bin Asad bin Rabi’ah bin Nazar. Sedangkan Al Mu­barrad dalam bukunya Al Kamil, mengatakan bahwa ibu Amr nama aslinya Laila.

https://tausyah.wordpress.com