Arsip untuk 17 Agustus 2010

Lafal-Allah-di-awanTHE CREED OF NICAEA – Piagam Nicaea

“We believe in one God the Father, Almighty, maker of all things visible and invisible; and in one Lord Jesus Christ, the Son of God, begotten of the Father, only begotten that is, from the substance of the Father; God from God, light from light, Very God from Very God”..” #7 (The History of Christianity, a Lion handbook, p. 177).

Council tersebut juga membuat keputusan untuk membakar semua gospel/versi Injil yang mengandung pertentangan dengan piagam diatas. Dengan keputusan yang demikian memiliki kitab yang memuat ajaran yang berbeda dengan yang telah disetujui oleh council merupakan tindakan yang melanggar hukum. Hasilnya adalah sebuah kesadisan maximum yang pernah terjadi pada umat manusia, pada tahun tahun itu jutaan umat Kristen dibantai dengan biadab, keji dan tanpa rasa perikemanusiaan oleh orang-orang pendukung Piagam Nicaea.

Untuk mengetahui implikasi lebih jauh dari Piagam tersebut, orang pasti akan bertanya dengan pertanyaan sbb:

Jika Yesus diciptakan dengan Zat yang sama dengan Zat Tuhan, seperti yang disebut dalam piagam, maka Yesus pasti juga Tuhan; dan jika Ia adalah Tuhan, apakah Ia merupakan Tuhan yang berbeda? Jika ya, maka berati ada dua Tuhan, tetapi Piagam tsb juga menyebutkan , Kita hanya percaya satu Tuhan. “We believe in one God” . Jika Yesus adalah tuhan yang sama dengan Tuhan, maka Dia pasti Tuhan itu sendiri. Kalau hal ini benar, bagaimana mungkin dia diturunkan (begotten), bukankah Tuhan itu abadi?

Dua kemungkinan diatas, yang mana kedua-duanya tidak masuk akal (Irasional), sangat bertentangan dengan Bible/ Injil.

Kemungkinan pertama, dimana Yesus adalah tuhan yang berbeda dengan Tuhan bertentangan dengan :

“The first of all the commandments is Hear, O Israel, the Lord our God is One.” #8 (Mark 12:29)

Kemungkinan kedua adalah bahwa Tuhan itu hanya satu dan datang ke dunia dalam bentuk manusia. Jika ini benar, dan karena Tuhan itu satu maka kita bisa menyimpulkan bahwa Tuhan dan Yesus itu Satu kesatuan bukan dua yang terpisah sendiri-sendiri, Namun hal ini tidak sesuai dengan banyak ayat Injil yang secara jelas menyebutkan bahwa Tuhan dan Yesus itu merupakan dua hal hidup yang berbeda.

Jika Tuhan turun ke Bumi sebagai manusia, orang tentu akan mengharapkan bahwa setelah mati dari kehidupanya di Bumi, dan ketika Dia pulang ke surga, Dia tentu akan menjadi satu bukan dua. Hal ini bertentangan dengan ayat di Injil:

“So then after the Lord had spoken unto them, he was received up into heaven, and sat on the right hand of God” #9 (Mark 16:19)

Ayat ini yang menyebutkan kejadian setelah Yesus diangkat ke surga, dengan jelas mengindikasikan bahwa Tuhan dan Yesus bukan satu yang sama, karena bagaimana mungkin Tuhan duduk di atas tangannya sendiri.

2- “””””and he often withdrew into the wilderness and prayed” #10 (Luke 5:16)

“And when he had sent the multitudes away, he went up on a mountain by himself to pray” #11 (Mathew 14:23)

Dua ayat diatas merupakan ayat yang sangat penting. Bagaimana mungkin Yesus itu Tuhan jika dia menyembah Tuhan seperti orang biasa. Kepada siapa dia berdoa?

Gereja bisa saja mengatakan bahwa Yesus hanya berdoa secara symbolis untuk mengajarkan bagaimana orang seharusnya berdoa. Namun argumen ini tidak bisa diterima karena kata “Wilderness” (tempat yang terpencil sunyi) dan kata “himself” (sendiri) menunjukkan waktu yang spesifik, bahwa Yesus melakukan berdoa sendirian. Dia tidak sedang melakukan pengajaran thd orang lain.

3- “and Jesus “””.for forty days in the wilderness was tempted by the devil” #12 (Luke 4:1)

Di dalam Injil juga bisa dibaca:
“God cannot be tempted by the devil” #13 (James 1:13)

Jika Tuhan tidak bisa kemasukan setan, dan Yesus kemasukan setan maka Yesus pasti bukan Tuhan.

4- Yesus sendiri menolak untuk disebut sebagai anak Tuhan pada beberapa kesempatan, Jesus himself refused to be called son of God on a number of occasions. Pada ayat yang tertulis dalam Injil dibawah ini, Yesus melarang orang yang memanggil dia sbg anak Tuhan, tetapi memilih dipanggil msbg seorang pembawa peringatan (Messiah).

“And devils came out of many, crying out and saying, “You are the son of God!” And he, rebuking them, did not allow them to speak, for they knew that he was the Messiah” #14 (Luke 4:41).

Penolakan Yesus untuk disebut sebagai anak Tuhan dan memilih dipanggil sbg anak manusia biasa juga terjadi pada saat persidangan di Sanhedrian. Ketika dia ditanya bahwa dia mengklaim sebagai anak Tuhan, dia menjawab:

“So you say. But I tell you this: from now you shall see the son of man seated at the right hand of God” #15 (Mathew 26:64) (in some Bibles the words “the words are yours” instead of “so you say”)

Pada banyak sekali kesempatan, Yesus memperkenalkan diri sebagai seorang Nabi:

“A prophet is not without honour except in his home town and his own house” #16 (Mathew 13:57) (Mark 6:4) and (Luke 4:24) Seorang Nabi akan selalu dihormati, kecuali di Kota dan di Rumahnya sendiri.

Kita juga membaca:
“I must journey today, tomorrow and the day following for it cannot be that a prophet should perish outside of Jerusalem” #17 (Luke 13:33)

“This is the prophet Jesus” #18 (Mathew 21:11) ( Ini adalah seorang Nabi, Yesus)

Yesus juga mengatakan bahwa dia adalah utusan Tuhan:

“Whoever welcomes me welcomes the one who sent me. Whoever welcomes God”s messenger because he is God”s messenger will share in his reward.” #19 (Mathew 10:40)

“No messenger is greater than the one who sent him” #20 (John 13:16)

Pada ayat ini Yesus dengan jelas membedakan antara dirinya dan Yang mengutusnya. Perbedaan ini lagi dijelaskan pd ayat berikut

“And this is eternal life, that they may know you, the only true God, and Jesus Christ whom you have sent.” #21 (John 17:3)

Ayat ini dengan jelas menyebutkan tentang dua hal yang berbeda., dengan demikian mengatakan Yesus dan Tuhan itu satu sama dengan mengatakan bahwa ayat di Injil ini cuma bualan yang tidak ada artinya sama-sekali.

7- Di bagian-bagian lain di Injil, Yesus di katakan sebagai hamba Tuhan:

“Here is my servant whom I have chosen” #22 (Mathew 12:18)

“To you first, God having raised up His servant Jesus, sent him to bless you” #23 (The Acts 3:26).

Dua ayat diatas yang merupakan pelengkap Isaiah 42:1-4, menyatakan bahwa YESUS ADALAH HAMBA TUHAN dan BUKAN Tuhan itu sendiri.

Gereja biasanya mengatakan bahwa perkataan Nabi & Hamba hanya merupakan kata simbolis yang tidak bisa di telan atau diartikan seperti apa adanya. Argumen ini tentunya tidak apa-apa dan bisa diterima, asalkan diberlakukan untuk hal-hal penting yang lain.namun demikian kita bertanya, kenapa jika pada saat Injil menyebut “anak Tuhan” Gereja selalu memaksakan bahwa kalimat tsb harus diterima apa adanya!

Ayat-ayat yang menyatakan bahwa Yesus adalah seorang Nabi, seorang utusan Tuhan dan bahkan hambanya Tuhan, merupakan bukti kuat bahwa Yesus adalah manusia biasa, kecuali kalau Injilnya sendiri salah.

Yesus tidak pernah berpikir bahwa dirinya itu sempurna, dia menyatakan sendiri hal ini, karena dia mengetahui bahwa yang sempurna itu hanya lah Tuhan

“Why do you call me good? No one is good but one, that is God.” #24 (Mark 10:18) (kenapa kamu katakan bahwa aku sempurna? Tidak ada seorangpun sempurna kecuali satu, yaitu Tuhan)

Kalimat ini jelas sekali bukan diucapkan oleh orang yang merasa dirinya sebagai Tuhan yang datang ke dunia sebagai manusia, bahkan dikalimat tersebut Yesus dengan tegas membuat perbedaan antara dirinya dan Tuhan.

9- Didalam Injil TIDAK ADA satupun ayat yang menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan yang turun ke dunia, bahwa dia sempurna atau bahwa dia harus disembah. Namun Yesus malah kebalikanya menyuruh orang untuk menyembah Tuhan yang ada di Surga.

“You shall worship the Lord your God, and him only you shall serve” #25 (Luke
4:8) (kamu semua seharusnya menyembah Yang Maha Kuasa, Tuhanmu, dan hanya kepada-Nya kamu harus mengabdi)

Apakah Yesus Tuhan yang datang ke dunia dan tidak menyadari dirinya sendiri? Yang jelas ajaran tentang ketuhanan Yesus tidak pernah diajarkan oleh Yesus itu sendiri dan tidak berasal dari Injil, tetapi diadopsi lama setelah Yesus meninggal dunia/wafat.

Sebagai tambahan terhadap bukti dari perjanjian baru yang menetang ketuhanan Yesus di atas, dapat pula dikemukakan bahwa ketuhanan Yesus merupakan hal yang sangat bertolak belakang dengan ajaran Messiah/ juru selamat yang ada di perjanjian lama.

Yesus adalah seorang yahudi yang hidup dan menyembah Tuhan sesuai dengan Hukumnya Musa. Yesus sendiri mengatakan:

“Think not that I am come to destroy the law, I am not come to destroy, but to fulfil” #26 (Mathew 5:17-18) (Jangan berfikir bahwa aku datang untuk mengganti hukum yang ada, aku datang tidak untuk menghancurkan tetapi untuk melengkapi)

Kata melengkapi ditujukan oleh Yesus terhadap Kitab sucinya orang Yahudi.kitab ini mengajarkan akan datangnya sang Messiah /Juru selamat, raja orang Yahudi. Kita tidak mendapatkan ajaran yang menyatakan akan datangnya Tuhan dalam bentuk manusia atau orang suci anak dari Tuhan. Semua ajaran menyatakan akan datangya Raja Yahudi bukan Tuhan.

The “God Incarnate” concept (Konsep Reinkarnasi Tuhan)

Konsep reinkarnasi Tuhan yang datang kedunia sebagai seorang manusia, mungkin diterima oleh sebagian besar orang Kristen karena merupakan bayangan Tuhan yang nyata, konsep ini jauh lebih mudah untuk dimengerti daripada konsep Tuhan yang abstrak yang tidak mungkin bisa di lihat. Berfikir dengan konsep Tuhan sebagai manusia paling tidak bisa membantu untuk mendapatkan sesuatu untuk bergantung.

Konsep reinkarnasi Tuhan ini bagaimana sempurnanya kelihatan di permukaan, pada kenyataanya tidak benar/konsisten secara filosofi ketuhanan karena alasan-alsan sbb:

Konsep Inkarnasi Tuhan merupakan kesalahan, karena konsep ini mengarahkan pendekatan manusia kepada Tuhannya hanya secara fisik.. Tujuan penurunan ayat adalah untuk memberi inspirasi agar manusia bisa mendekatkan diri secara bathin kepada Tuhannya, dan bukan Tuhan datang sendiri kedunia secara fisik untuk meyakinkan manusia.

Merupakan suatu ketidak adilan jika Tuhan harus datang sendiri hanya kepada seklompok manusia tertentu, sedangkan untuk manusia-manusia yang lain Tuhan hanya mengutus utusanya. Kita selalu diajarkan bahwa Tuhan mencintai semua orang tanpa membeda-bedakan, tetapi kenapa Tuhan harus menurunkan seseorang sebagai anugerah bagi sekelompok orang sedangkan yang lainya tidak?

Rencana global pengiriman utusan-utusan Tuhan ke dunia sepanjang sejarah adalah untuk memberi peringatan kepada manusia. Oleh karena itu turunya Tuhan kedunia dan menjelma sebagai seorang manusia merupakan bentuk pengakomodasian kesalahan-kesalahan manusia dengan mengadakan perubahan rencana yang mendasar disisi Tuhan. Bahkan dengan mengadopsi perbuatan hanya untuk meng akomodasi keperluan manusia, merupakan tindakan yang menyebabkan Tuhan itu menjadi mempunyai sifat yang lemah.

Konsep Tuhan datang ke dunia dan mengalami penderitaan sendiri bertentangan dengan sifat Maha tinggi Tuhan itu sendiri. Alasan bahwa Tuhan sangat cinta kepada manusia sehingga Dia yang harus memikul penderitaan manusia karena kesalahanya, merupakan alasan yang sukar diterima, karena cinta Tuhan pada manusia tdk berarti bertambah dengan Menukar penderitaan manusia kpd diri Tuhan itu sendiri. Konsep ini merupakan konsep ortodock dan tdk perlu, karena Cinta Tuhan pada manusia sudah diberikan dengan sifatNya Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang dan Maha Pengampun. Konsep ini sama dengan seorang ayah yang karena cinta pada anaknya dan ingin memaafkan kesalahan anaknya mengatakan: anakku aku sangat mencintaimu, oleh karena kamu telah melakukan kesalahan terhadap diriku , maka aku akan memaafkan kamu dengan cara memukuli diriku sendiri”

Konsep Tuhan ber Inkarnasi, merupakan konsep yang bertentangan, karena orang yang diimajinasikan sebagai reinkarnasi tuhan yaitu Yesus, mempunyai dua sifat yang sangat bertolak belakang. Perbedaan ini antara dunia disini yaitu Bumi dengan Dunia sana”Surga” pertama dikemukakan oleh Plato. Ia menyatakan bahwa Dunia itu berubah, tdk sempurna dan terbatas, sedangkan Surga tidak. Konsep sama juga berlaku untuk perbandingan manusia dan Tuhan. . #27 (The Debate about Christ, Don Cuppit, p.25)

Pada konsep Yesus sebagai inkarnasi Tuhan, Yesus dianggap sebagai pemersatu dua kutub yang berbeda. Sebagai Tuhan dia adalah tidak terbatas, sempurna dan Maha kuasa, tetapi sebagai manusia dia adalah terbatas, tidak sempurna dan tidak Maha Kuasa. Karena Yesus itu satu orang, maka dia menyandang dua sifat berurutan yang bertentangan sebagai orang yang terbatas dan tak terbatas, tidak mampu mengatasi semua keinginan dan mampu mengatasi semua keinginan, tidak sempurna dan sempurna dan seterusnya. Jika ajaran itu sendiri mengandung pertentangan didalamnya, maka konsep bahwa Tuhan Berinkarnasi menjadi Yesus, bukan cuma sekedar salah, tetapi merupakan bentuk kebohongan yang besar.

Konsep Inkarnasi Tuhan menjadi Yesus sebagai juru selamat yang mengajarkan bahwa penebusan dosa hanya bisa dicapai jika mempercayai Yesus, juga merupakan konsep yang tidak adil, karena berarti orang yang hidup sebelum Yesus mirip orang-orang tidak beruntung yang tidak bisa ditebus dosanya.

7- Konsep Tuhan berinkarnasi menjadi Yeus bertentangan dengan ayat sebagai berikut:
“No man shall see me and live” #28 (Exodus 33:20) (Tdk seorangpun bisa melihatku dan hidup)

Jika Tuhan datang kedunia menjelma sebagai seorang manusia, terlihat oleh manusia, bisa diraba oleh manusia, maka ayat diatas harusnya salah serta tidak ada mempunyai arti.

8- Konsep Yesus sebagai reinkarnasi Tuhan, juga mengundang pertanyaan serius tentang kemampuan Tuhan. Tuhan sebagai Yang Maha Sempurna, tidak pernah gagal dalam melakukan sesuatu. Dia hanya perlu mengatakan Jadi maka Jadilah. Dengan mengatakan Yesus adalah Tuhan yang datang ke dunia untuk membebaskan manusia dari dosa dan menjadikan semua orang-orang yang berdosa menjadi orang yang beriman, kita dengan segera akan mendapatkan delima baru:

Tak seorangpun menyangkal tentang ajaran yang dibawa Yesus untuk semua manusia, impact serta pengaruhnya dalam kehidupan manusia, ataupun kitab sucinya yang dibawanya dari Tuhan. Namun demikian kenyataanya sampai sekarang di dunia masih banyak orang yang tidak percaya pada Yesus. Esensi dari Kebebasan Tuhan adalah berbeda dengan esensi dari kebebasan manusia, seperti yang ditulis Don Cupitt. #29 (The Debate about Christ, Don Cuppit, p. 19).

Tuhan disebut bebas/Kuasa esensinya bahwa Tuhan tidak pernah melakukan kegagalan dalam menjalankan keinginanya, Kemampuan-Nya tidak pernah sekalipun tertandingi, tergantung ataupun terbatasi. Jika Tuhan Berkata: Saya akan berinkarnasi dan menyelamatkan manusia, maka tidak ada sesuatu pun yang bisa menyetopnya. Kegagalan dalam bentuk apapun ataupun betapa kecilnyapun merupakan bentuk tidak konsistent yang bertentangan dengan sifat kesempurnaan Tuhan.

Lebih jauh Gereja mempunyai tiga lagi alasan untuk mendukung konsep “Yesus Anak Tuhan” yaitu:

1- Yesus diberkahi dengan Roh- Kudus atau Roh Suci.
2- The virgin birth / Kelahiran dari Sang Prawan
3- The nature of his miracles/ Sifat alam dari Mukjiyatnya

Injil memang dengan jelas mnyatakan bahwa Yeus diberkahi dengan Roh Kudus. Namun demikian Injil juga ternyata menyebutkan bahwa bukan cuma Yesus yang diberkahi dengan Roh Kudus, ayat berikut menyatakan bahwa John (Yahya) juga diberkahi dengan Roh Kudus:

“He will also be filled with the Holy Spirit.” #30 (Luke 1:15) (Dia juga diberkahi dengan Roh Kudus)

Kita juga di ajari hal yang sama tentang Zakaria , ayah Yahya yang lurus. Dia juga diberkahi dengan Roh Kudus

“filled with the Holy Spirit” #31 (Luke 1:67)

Sekarang marilah kita lihat apa arti sebenarnya dari Roh Kudus. Pada waktu 200 tahun pertama setelah Yesus wafat, ketika Konsep trinitas belum dipakai / diadopsi oleh Gereja, Roh Kudus masih dimengerti sebagai Malaikat yang berkedudukan tinggi, bukan sebagai salah satu unsur dari Tuhan. Definisi ini didukung oleh beberapa ayat didalam Injil . Ayat-ayat tsb antara lain adalah :

“Now the birth of Jesus Christ was as follows: After his mother Mary was betrothed to Joseph, before they came together, she was found with child of the Holy Spirit” #32 (Mathew 1:18)

Sekarang perhatikan ayat ini:
“Now in the sixth month the angel Gabriel was sent by God to a city of Galilee called Nazareth, to a virgin betrothed to a man called Joseph of the house of David. The virgin’s name was Mary.” #33 (Luke 1:26-27)

Dari dua ayat tsb kita mengetahui bahwa Roh Kudus dan Jibril merupakan dua hal yang sama.

Dengan demikian arti bahwa seseorang itu diberkahi dengan Roh Kudus sama dengan arti bahwa Tuhan menolong/mensuport orang tsb dengan Malaikat Jibril sebagai pelindungnya.

https://tausyah.wordpress.com

ramadhanUsaha Mendamaikan

Sekarang pasukan kedua belah fihak telah sama memusatkan kubu-kubu pertahanannya masing-masing di lembah Shiffin. Jalan damai nampaknya sudah buntu. Mengkompro-mikan dua pendirian yang berlawanan sangat sulit. Dua belah fihak sama ber­keyakinan, bahwa satu-satunya jalan penyelesaian yang bisa di tempuh ialah perang. Yang satu berjuang untuk kekuasaaan dan keduniaan dan yang lainnya berjuang untuk kepentingan agama dan kehidupan akhirat.

Keadaan yang sangat tragis itu benar-benar membingungkan kaum muslimin dalam memilih fihak. Mereka sudah pasti menghendaki kebahagiaan dunia dan akhirat. Tentang kebahagiaan akhirat sudah tidak menjadi persoalan lagi, karena Islam telah memberi­kan penjelasan dengan gamblang. Yang sulit ialah bagaimana mene­tapkan definisi (pembatasan-pembatasan) tentang kebahagiaan dunia. Fihak Syam berusaha meraihnya lewat jalan kekuasaan dan kekayaan. Sedang fihak Kufah berusaha mencapainya melalui jalan taqwa kepada Allah s.w.t. dan patuh kepada tauladan Rasul­Nya.

Bagaimana menserasikan dua jalan itu tidak ditemukan peme­cahannya oleh kaum muslimin pada zaman yang sedang kita bicara­kan. Tetapi bagaimana pun juga, semua kaum muslimin adalah sau­dara. Semua ingin hidup rukun tentram, damai dan sejahtera.

Fikiran seperti itu tetap menjiwai kehidupan kaum muslim­in sepanjang zaman, tetapi realisasinya tidak semudah seperti yang didambakan. Namun usaha ke arah itu tak boleh berhenti. Pegang­an pokok sudah diletakkan oleh Islam, yaitu Kitab Allah dan sun­nah Rasul-Nya. Siapa yang teguh berpegang pada dua-duanya pasti selamat, dan siapa yang meninggalkan dua-duanya pasti sesat.

Itulah rupanya yang menjadi pemikiran Abu Hurairah dan Abu Darda untuk mencoba mendamaikan dua fihak yang berha­dapan siap perang.

Diriwayatkan, bahwa Abu Hurairah dan Abu Darda sengaja datang dari Himsh untuk bertemu dengan Muawiyah di Shiffin. Kepada Muawiyah dua orang itu mengingatkan: “Hai Muawiyah, mengapa anda memerangi Ali bin Abi Thalib, padahal engkau tahu ia lebih berhak memegang kekhalifahan daripada anda, baik di­sebabkan karena keutamaan pribadinya, maupun oleh kediniannya memeluk Islam. Ia seorang dari kaum Muhajirin yang pertama, dan terdahulu pula dalam hal iman dan ihsan. Sedang anda seorang dari kaum thulaqa, dan ayah anda pun dulu seorang pemimpin kaum musyrikin dalam perang Ahzab melawan kaum muslimin. Demi Allah, aku ingin berkata terus terang kepada anda, bahwa kami ini lebih menyukai Iraq daripada Syam. Tetapi kelestarian hidup, lebih kami sukai daripada kehancuran, dan kebaikan lebih kami sukai daripada kerusakan.”

Terhadap pernyataan yang serba blak-blakan dari dua orang sahabat Rasul Allah s.a.w. itu, Muawiyah memberikan tanggapan: “Aku tidak menganggap diriku lebih berhak daripada Ali untuk memegang kekhalifahan. Aku memerangi dia hanya supaya ia mau meyerahkan orang-orang yang membunuh Utsman bin Affan ke­padaku!”

“Seandainya Ali bin Abi Thalib mau menyerahkan mereka kepada anda,” tanya Abu Hurairah dan Abu Darda, “lantas apa­kah yang kira-kira akan anda lakukan?”

“Aku akan bersikap seperti kaum muslimin yang lain,” ja­wab Muawiyah.” Cobalah kalian datang kepada Ali bin Abi Thalib. Jika ia menyerahkan para pembunuh Utsman itu kepada kalian, masalah kekhalifahan akan kuserahkan kepada kaum muslimin!”

Abu Hurairah dan Abu Darda memang bukan diplomat dan bukan pula orang-orang politik seperti Muawiyah atau Amr bin Al Ash. Mereka berdua itu orang-orang bertaqwa, lugu dan polos. Tampaknya mereka tidak dapat meraba apa-apa yang ada dibalik ucapan Muawiyah. Mungkin dua orang itu menganggap Muawiyah sama dengan diri mereka, jujur, terus terang dan tidak bermain lidah.

Pergilah dua orang itu meninggalkan kubu-kubu pertahanan Muawiyah menuju ke kubu-kubu pertahanan Imam Ali r.a. Setiba­nya di sana, mereka diterima oleh Al Asytar, yang ketika itu ber­tindak selaku Panglima pasukan Kufah.

Setelah Abu Hurairah dan Abu Darda menjelaskan maksud kedatangan mereka dan menyampaikan apa yang menjadi pendiri­an Muawiyah dan pendirian mereka sendiri, Al Asytar memberi jawaban: “Hai Abu Hurairah dan Abu Darda, kalian datang kepada orang-orang Syam bukan karena kalian menyukai Muawi­yah. Kalian mengatakan Muawiyah hanya menuntut diserahkan­nya pembunuh-pembunuh Utsman. Dari siapa kalian bisa menge­tahui para pembunuh itu? Apakah dari mereka yang melakukan pembunuhan itu sendiri, ataukah dari mereka yang memberi ban­tuan dalam pembunuhan? Atau kalian mendapat keterangan dari mereka yang memisahkan diri dari Utsman karena mereka tahu dosanya Utsman? Atau kalian mencari penjelasan dari Muawiyah yang menuduh bahwa pembunuh Utsman ialah Ali?”

“Wahai kawan-kawan,” kata Al Asytar lebih lanjut, “bertaq­walah kalian kepada Allah. Kami inilah yang menyaksikan sen­diri, sedang kalian tidak mengetahui terjadinya peristiwa itu. Kamilah yang lebih dapat menetapkan hukumnya dibanding de­ngan orang-orang lain yang tidak menyaksikan sendiri terjadinya peristiwa itu!”

Setelah menerima penjelasan panjang lebar dari Al Asytar, keesokan harinya mereka bertemu dengan Imam Ali r.a. Kepada Imam Ali r.a., Abu Hurairah dan Abu Darda menerangkan: “Anda memang mempunyai keutamaan yang tidak dapat disangkal oleh siapa pun. Anda telah menempuh cara gagah berani dalam menghadapi orang-orang yang buruk perangai. Muawiyah minta supaya anda mau menyerahkan para pembunuh Utsman kepada­nya. Jika anda sudah berbuat itu dan Muawiyah masih tetap me­merangi anda, kami akan bersama-sama anda melawan dia.”

“Apakah engkau tahu siapa-siapa yang membunuh Utsman?” tanya Imam Ali r.a. sambil tersenyum.

“Ya,” jawab kedua orang itu dengan tak ragu-ragu.

“Silakan ambil mereka itu!” sahut Imam Ali r.a. melanjut­kan.

Mereka keluar. Lalu menghampiri Muhammad bin Abu Bakar, Ammar bin Yasir dan Al Asytar yang sedang duduk bersama. Kepada mereka, dua orang itu berkata dengan lantang: “Kalian termasuk orang-orang yang membunuh Utsman. Aku mendapat perintah untuk mengambil kalian!”

Pada saat itu lebih 1.000 orang datang berduyun-duyun me­ngerumuni Abu Hurairah dan Abu Darda sambil berteriak-teriak: “Kami semua inilah yang membunuh Utsman!”

Karena semuanya mengaku membunuh Utsman, dua orang itu kebingungan. Abu Hurairah dan Abu Darda mencoba men­cari keterangan siapa-siapa sebenarnya yang telah membunuh Utsman. Tetapi tiap-tiap bertanya selalu dijawab: “Kami inilah yang membunuh Utsman!”

Dua orang itu tak dapat berbuat apa-apa. Cepat-cepat minta diri, lalu masing-masing pulang ke rumahnya di Himsh.

Meletusnya PerangNight Arabic

Sama seperti di medan-medan tempur lainnya, tiap tempat strategis pasti menjadi incaran pertama dari suatu gerakan militer. Dalam perang Shiffin, sungai Al Furat mempunyai nilai strategi yang sangat vital. Lebih-lebih dalam peperangan di zaman itu, di mana peperangan benar-benar merupakan adu tenaga dan kelincah­an bermain senjata. Bukan hanya anggota-anggota pasukan saja yang membutuhkan air, melainkan ternak-ternak kendaraan se­perti unta-unta dan kuda-kuda perang bahkan lebih banyak meng­habiskan air daripada manusia. Datam perang Shiffin fihak yang menguasai sungai Al Furat pasti akan dapat bertahan lebih lama dibanding dengan fihak yang tidak memperoleh air cukup.

Oleh karena itu pasukan Muawiyah yang datang lebih dulu di Shiffin, segera berusaha menduduki dan memperkuat posisi di daerah-daerah sekitar sungai Al Furat. Dengan tujuan untuk me­nguasai perbekalan air.

Dengan berhasil menguasai sungai itu, pasukan Syam yang berjumlah puluhan ribu orang tidak hanya terjamin kebutuhan air­nya, tetapi sekaligus juga mereka akan dapat membuat pasukan lawan mati kehausan.

Setelah pasukan Syam menguasai sungai Al Furat, Muawiyah memerintahkan kepada semua anggota pasukan supaya jangan membiarkan ada seorang pun dari pasukan Imam Ali r.a. meng­ambil air dari sungai itu.

Dugaan memang tidak meleset. Pasukan Imam Ali r.a. yang belum lama tiba dari Kufah sudah mulai kekurangan air minum. Mereka berusaha mendapatkan perbekalan air dari sungai. Alang­kah terkejutnya mereka, karena pasukan Syam dengan ketat sekali menjaganya agar pasukan Imam Ali r.a. tidak menginjakkan kaki di sepanjang tepi sungai itu.

Ketika melihat ada beberapa orang pasukan Kufah mende­kati sungai untuk mengambil air, pasukan Syam yang mengawal sungai itu berteriak-teriak melarang: “Tidak! Demi Allah, kalian takkan kami biarkan mengambil air barang setetes pun. Biarlah kalian mampus kehausan!” Sambil berkata seperti itu ia menyiap­kan busur dan anak panahnya. Anak buah Imam Ali r.a. segera mundur, kembali ke induk pasukan, dan melapor kepada Imam Ali r.a.

Imam Ali r.a. menyadari benar, bahwa air sungai Al Furat sa­ngat dibutuhkan oleh pasukannya dan hewan-hewan tunggangan. Jika pasukannya sampai tidak mendapat air berarti sudah kalah sebelum bertempur dan semua hewan tunggangan akan mati kehausan.

Cepat-cepat Imam Ali r.a. mempersiapkan pasukan untuk melancarkan serangan kilat dan terbatas guna merebut lokasi yang sangat strategis itu. Tak berapa lama kemudian terjadi per­tempuran sengit antara kedua pasukan memperebutkan sungai Al-Furat. Dengan serangan kilat pasukan Syam terusir dari po­sisinya yang strategis dan pasukan Kufah bersama hewan tung­gangannya dapat minum sepuas-puasnya.

Pasukan Syam kini menghadapi keadaan sebaliknya. Seka­rang mereka menderita kepanasan dan kehausan setengah mati. Beberapa sahabat Imam Ali r.a. mengusulkan supaya pasukan Syam jangan diberi kesempatan sama sekali mengambil air sungai: “Biar mereka mampus digorok kehausan! Kita tidak perlu susah-­susah memerangi mereka.”

Menanggapi usul tersebut Imam Ali r.a. berkata: “Demi Al­lah, tidak! Aku tak akan membalas dengan perbuatan seperti yang mereka lakukan terhadap kita. Berilah mereka kesempatan meng­ambil air minum. Keberanian kita mengadu pedang tidak membu­tuhkan perbuatan semacam itu!”

Orang-orang yang mendengar jawaban Imam Ali r.a. setegas itu merasa kagum terhadap sifat ksatriaannya.

Sewaktu pasukan Syam datang mengambil air dari sungai, dengan penuh disiplin tak ada seorang pun dari pasukan Imam Ali r.a. yang menghalang-halangi. Pasukan Imam Ali r.a. yang ber­tugas mengawal tepi sungai, sama sekali tidak memperlihatkan kesombongan karena menang. Banyak di antara anggota-anggota pasukan Muawiyah karena rasa kagumnya ingin menyeberang ke fihak Imam Ali r.a. Hanya saja mereka tidak mempunyai ke­beranian untuk melakukannya. Khawatir, kalau-kalau para anggo­ta keluarga yang ditinggalkan di Syam akan mengalami tekanan dan berbagai kesulitan.

Pada tahap pertama pertempuran antara kedua pasukan itu hanya berlangsung secara kecil-kecilan saja, yaitu satu lawan satu, kelompok lawan kelompok. Pertempuran belum melibatkan se­luruh pasukan.

Beberapa ahli sejarah menaksir pasukan yang berada di­bawah pimpinan Imam Ali r.a. berjumlah kurang lebih 100.000 orang. Pasukan ini dikenal sebagai “pasukan Iraq”. Sedang pasu­kan Muawiyah yang disebut sebagai “pasukan Syam” berjum­lah kurang lebih 75.000 orang. Jadi di medan perang Shiffin pada akhir tahun 36 Hijriyah itu telah terkumpul tidak kurang 175.000 orang prajurit Islam.

Yang menarik bukan hanya karena besarnya jumlah pasukan tersebut. Sebab, sebelum itu pasukan Islam yang besar jumlahnya telah pernah bergerak dalam pertempuran menghadapi pasukan musuh, yang bukan Islam. Sedang kali ini 175.000 orang pasukan muslimin itu saling bertempur di antara mereka sendiri.

Sampai pada akhir bulan Haji tahun itu, di medan perang Shiffin hanya terjadi pertempuran kecil-kecil. Sedang pada bulan Muharram –bulan suci– sebagai sesama pasukan muslimin, ke­dua pasukan itu dengan kesadaran masing-masing hanya saling berhadapan tanpa melakukan pertempuran. Setelah bulan Safar tiba berkobar lagi pertempuran kecil-kecilan.

Melihat hal ini Imam Ali r.a. tidak bisa bersabar lagi. Keadaan ini hanya mengulur-ulur waktu dan bisa berlarut-larut. Yang un­tung hanya Muawiyah, yang mempergunakan kesempatan itu guna menyebar fitnah untuk mematahkan semangat pasukan Imam Ali r.a.

Imam Ali r.a. segera mengeluarkan perintah serangan umum. Muawiyah yang juga telah menyiapkan pasukan segera bangkit menghadapi serangan besar itu. Pertengahan bulan Syafar tahun 37 Hijriyah ditandai oleh suatu pertempuran dahsyat antara dua pasukan yang berlangsung penuh sepanjang hari. Pada hari ke­duanya terjadi pertempuran yang paling hebat, yang sebelumnya tak pernah dikenal dalam sejarah Islam. Menurut kebiasaan bila senja tiba, pertempuran dihentikan, tetapi kali ini pertempuran diteruskan di kegelapan malam. Darah membasahi bumi Shiffin. Prajurit dan komandan berguguran. Bapak melawan anak, saudara bertempur melawan saudara, muslim membunuh muslim. Malam dilewatkan dengan pertumpahan darah yang tiada hentinya hingga fajar menyingsing.

Setelah beberapa hari bertempur dan Muawiyah melihat pa­sukannya mulai kewalahan, ia berpaling kepada Amr bin Al Ash selaku penasehatnya agar dapat memberikan saran-saran. Amr bin Al Ash muncul dengan tipu muslihatnya. Ia perintahkan kepa­da semua anggota pasukan supaya menancapkan lembaran-lem­baran Al Qur’an di ujung senjata masing-masing dan mengangkat­nya setinggi mungkin agar mudah diketahui oleh pasukan Kufah. Sejalan dengan itu terdengarlah mereka berseru:

“Inilah Kitab Allah. Inilah Al Qur’an yang dari awal hingga akhir tetap berada di antara kita. Allah, Allah, jaga dan lindungilah bangsa Arab. Allah, Allah, jaga dan lindungilah agama Islam. Al­lah, Allah, lindungilah negeri kami. Siapakah yang akan menjaga Syam dari serangan musuh (Romawi) apabila tentara Syam bi­nasa? Dan siapa pulakah yang akan melindungi Iraq apabila ten­taranya musnah?”

Tujuan dari gerak-tipu itu ialah agar pasukan Kufah mengira, bahwa pasukan Syam sekarang telah bersedia menerima penyele­saian secara damai berdasarkan hukum Allah.

https://tausyah.wordpress.com

ALLAH-name on tomatoKitab ini diturunkan pada Nabi Isa a.s dalam bahasa Yahudi Kuno (Ibrani).

Kitab pertama yang asli telah dimusnahkan oleh Paulus dari pihak Gereja Pauline pada 325 M. Semua naskah Injil yang bertentangan dengan Injil resmi kerajaan Romawi saat itu dibakar. Siapa saja yang memiliki salinan naskah asli dihukum mati. Kitab Injil tertua saat ini ada dalam bahasa Yunani Kuno, bukan Yahudi kuno (Ibrani).

Terdiri dari :
Kitab Perjanjian Lama (Old Testament) yang berisi Taurat dan Zabur
Kitab Perjanjian Baru (New Testament) yang berisi Injil Markus, Matius, Lukas dan Yahya, perkataan Nabi Isa dan surat pendakwah (Paulus)

Siapakah Yang Menulis Injil.Di dalam kitab Injil terdapat 2 bagian yaitu Kitab Perjanjian Lama dan Kitab Perjanjian Baru. Namun begitu Umat Kristian melarang penganutan terhadap Kitab Perjanjian Lama. Sebelum diadakan usaha-usaha membentuk kitab Perjanjian Baru, kitab Injil terdiri daripada 75 bab / surah. Surah ini dikarang oleh perseorangan atau kumpulan pendeta. Inilah yang menyebabkan kitab tersebut mengandung banyak pertentangan dan perbedaan yang serius dan nyata. Pengumpul-pengumpul kitab tersebut juga tidak hidup semasa zaman Nabi Isa atau tatkala Nabi Isa masih hidup. Kebanyakan mereka lahir selepas 20-40 tahun setelah peristiwa penyaliban. (lebih…)