Arsip untuk 8 Agustus 2010

IslamBermula dari ucapan Nabi Musa as terhadap Bani Israil :

“YÁOHU UL thy ULHIM will raise up unto thee a Prophet from the midst of thee, of thy brethren, like unto me; unto him ye shall hearken.” (Deuteronomy 18 :15)

Pada ayat diatas, Nabi Musa menyebutkan bahwa Allah akan membangkitkan SEORANG NABI kepada Bani Israil yang berasal dari saudara mereka yang mana Nabi tersebut akan memiliki karakteristik SAMA seperti halnya Nabi Musa.

Dalam beberapa perdiskusian yang pernah saya lakukan dengan kaum Ahli Kitab (Nasrani), mereka menyandarkan bahwa terhadap Yesus-lah nubuatan Nabi Musa ini ditujukan. Namun bila kita kaji lebih jauh, rasanya kesimpulan tersebut terlalu dini untuk dinisbatkan kepada Yesus.

Kalimat “brethren atau dari antara saudaramu” yang tercantum dalam kalimat Nabi Musa as pada ayat diatas, jelas dari tidak merefer pada kalangan Yahudi sendiri.

Mari kita analogikan ayat tersebut :

1. Arman X Saudaranya Arman (Adik atau kakak saya)
Disini saudara Arman bukanlah Arman itu sendiri, melainkan harus orang lain

2. Seorang Israel X Saudaranya Israel
Saudaranya Israel adalah bukan Israel itu sendiri tetapi Bani Ismail

Jadi ayat Ulangan 18:15 jo Ulangan 18:18 tersebut jika kita artikan secara harfiah akan memiliki makna :

“Seorang Nabi akan dibangkitkan lagi oleh Allah bagi kaum Bani Israil tetapi Nabi tersebut berasal dari saudara mereka, yaitu Bani Ismail, dimana Nabi dari Bani Ismail ini akan memiliki karakteristik dan keagungan sama seperti Musa yang berasal dari Bani Israil.”

Saudara Bani Israel terkecuali Bani Ismail, tidak ada yang mengeluarkan doktrin keNabian, termasuklah didalamnya dari benih Ketura. Hanya Bani Ismail sajalah yang kita dapati Nabi dari antara saudara Bani Israi tersebut.

Islam menolak konsep bahwa Musa telah bertemu dengan Allah secara berhadapan muka, sebab Allah tidak dapat dilihat. Dan jika kita kembalikan pula hal ini pada Bible, kita pun akan mendapati keterangan yang serupa, Allah itu adalah Dzat yang Maha Halus yang tidak bisa dicapai dengan penglihatan. Dan perihal adanya nas terlihatnya Allah dalam beberapa ayat Bible yang justru menimbulkan suatu kontradiksi dalam ayat-ayat Bible sendiri.

Lihat Kejadian 17:22 … apakah maksudnya Allah naik meninggalkan Abraham ?
Apakah anda menyetujui bahwa Allah bisa terlihat oleh Abraham sebagaimana pada Kejadian 17:1 ? Jika jawabnya “Ya” maka berupa apakah Allah ini yang terlihat oleh Abraham pada kejadian ini ? Ingat pada Kejadian 17:1 jelas disebut Allah terlihat kepada Abraham dan pada Kejadian 17:22 Tuhan naik meninggalkan Abraham yang menurut penafsiran saya yang awam ini adalah – maaf – seperti seorang pilot pesawat terbang yang tinggal landas meninggalkan bandara.

Lalu pada Kejadian 18:1 dinyatakan lagi Abraham kembali melihat Tuhan dekat pohon Mamre dan kali ini rupanya Tuhan datang bertiga dan disembah oleh Abraham pada Kejadian 18:2 sambil menyediakan dirinya untuk membasuh kaki 3 orang Tuhan ini yang rupanya kotor setelah menemui Abraham.

Kejadian ini rupanya seringkali terjadi.
Banyak ayat dalam Bible yang menyatakan bahwa Tuhan dapat dilihat oleh manusia. Mereka yang pernah melihat Tuhan antara lain: Ishak (Kejadian 26:2), Yakub (Kejadian 35:9), Musa, Harun, Nadab, Abihu dan 70 orang Israel (keluaran 24:9), bangsa Israel (Bilangan 14:14) dan (Yeremia 31:3), Yesaya (6:1)

Bahkan Yakub telah berhasil mengalahkan Tuhan dalam pergumulannya dan menang (Kejadian 32:28) dan juga penamaan tempat Pniel pada Kejadian 32:31 yang dinyatakan bahwa Yakub melihat Allah berhadapan muka serta Musa pada Ulangan 34:10.

“And he said, Thy name shall be called no more Jacob, but Israel: for as a prince hast thou power with Elohim and with men, and hast prevailed.” (Genesis 32:28)

“And Jacob called the name of the place Peniel: for I have seen Elohim face to face, and my life is preserved.”(Genesis 32:30)

Padahal Injil Yohanes/Yahya/Johnpada 1:18 menyebutkan bahwa Allah belum pernah dilihat oleh seorangpun juga melainkan hanya dinyatakan melalui Jesus selaku utusan-Nya sebagaimana yang dinyatakan oleh Jesus sendiri dalam Injil Yohanes 17:8 dan Samuel 7:22

“Maka kata Pilipus kepadanya: ‘Ya Tuan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, maka padalah (dengan begitu akan cukuplah) itu bagi kami. Kata Jesus kepadanya: ‘Hai Pilipus, sekian lamanya aku bersama-sama dengan kamu, dan tiadakah engkau kenal aku ? Siapa yang sudah melihat aku, ia sudah melihat Bapa. Bagaimanakah katamu : ‘Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami ?'” (Johanes 14:8-9)

Jadi akhirnya Yesus sendiri menunjukkan kepada Pilipus, bagaimana membuktikan kehadiran Tuhan kepada murid-muridnya; bahwa hal itu tidak mungkin.

Adalah salah apabila umat Kristen menangkap kesan bahwa Jesus sudah menyatakan dirinya sama dengan Allah (alias Bapa). Bagaimana mungkin menafsirkan yang demikian sementara Jesus sendiri menolak anggapan tersebut dalam dua ayat dibawah ini:

John 13:16 – Douay
“Amen, amen I say to you: The servant is not greater than his lord; Neither is the apostle greater than he that sent him.”

John 14:28 – Douay
“Because I go to the Father: for the Father is greater than I.”

Jelas dari kalimat diatas, bahwa Allah tidaklah sama dengan Jesus, Allah jauh lebih berkuasa, lebih mulia daripada Jesus yang hanya sebagai hamba dari Allah itu sendiri, sebagai utusan Allah kepada Bani Israil.

Kita harus mempercayai eksistensi Tuhan hanya dengan memperhatikan makhlukNya, matahari, bulan, seluruh makhluk dan termasuklah Jesus sendiri yang merupakan ciptaan Tuhan.

Jesus juga menyatakan didalam Johanes 4:24 Elohim is a Spirit (Tuhan adalah Roh …), Ye have neither heard his voice at any time, nor seen his shape. (Kamu belum pernah mendengar suaraNya atau melihat rupaNya.)” – Johanes 5:37

Bagaimana anda dapat melihat suatu roh ?
Yang dapat mereka lihat adalah Yesus, bukan Tuhan.

Paulus didalam 1 Timotius 6:16 mengatakan hom no man hath seen, nor can see (…yang tiada pernah dilihat atau dapat dilihat orang…)’ Hal ini juga terjadi pada Keluaran 33:20 And he said, Thou canst not see my face: for there shall no man see me, and live.

Dalam AlQur’an sendiri dinyatakan :

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”(QS. al-An’aam 6:103)

Bagaimana menurut pendapat anda ini ?
Saya rasa anda tidak akan lari dari kebenaran, bukan ?

Lalu sekarang kita kembalikan pembahasan kita pada diri Nabi Musa yang dikatakan telah berhadapan dengan Tuhan secara muka bukan dalam arti yang sesungguhnya sebagaimana saya umpamanya berhadapan dengan anda disuatu ruangan lobi sebuah hotel.

Melainkan bahwa Allah telah berkenan untuk menyampaikan langsung wahyu-Nya kepada Nabi Musa as tanpa perantaraan malaikat-Nya, dan ini pun dialami oleh Nabi Muhammad Saw ketika mendapatkan kewajiban sholat dalam perjalanan Mi’raj beliau ke Sidratul Muntaha.

Sekarang, untuk menghormati pemahaman Kristen bahwa Nabi yang dimaksud dari “Brethern of Israel” itu adalah Jesus, mari sama-sama kita lihat dan pelajari secara objektif.

Dalam hal apa persamaan Jesus terhadap Musa ?
Jika ditilik dari garis keturunan, adalah benar Jesus serupa dengan Musa, yaitu sama-sama orang Yahudi. Dan ditilik dari status mereka-pun adalah sama, yaitu Musa adalah seorang Nabi dan Jesus-pun diakui sebagai Nabi.

Penyandaran kedua hal persamaan diatas, rasanya tidak memiliki pengaruh apapun dalam hal pemenuhan nubuat dari Musa, sebab kriteria ini dapat dipenuhi oleh setiap tokoh setelah Musa seperti Sulaiman, Yesaya, Ezekiel, Daniel, Hosea, Yoel, Malachi, Yohanes pembaptis dan lain sebagainya, karena secara garis keturunan, mereka pun orang Yahudi yang sekaligus juga berstatuskan Nabi, lalu kenapa tidak menetapkan kepada salah seorang Nabi tersebut dan kenapa mesti kepada Jesus ?

jadi, Jesus tidak sama seperti Musa.

1. Bahwa Jesus dalam kalangan Nasrani sekarang ini dianggap sebagai Tuhan sementara Musa bukanlah Tuhan.

2. Jesus telah dianggap wafat untuk menebus dosa-dosa manusia, tetapi Musa tidak wafat untuk hal tersebut.

3. Jesus bangkit setelah 3 hari wafatnya dikayu salib namun Musa tidak bangkit dari kematian setelah 3 hari dari wafatnya

Oleh karena itu : Jesus tidaklah seperti Musa.

Dengan membuat daftar persamaan serta perbedaan antara Nabi Musa – Nabi ‘Isa – Nabi Muhammad Saw.

Bahwa :

Musa memiliki seorang Ayah dan Ibu,
Muhammad Saw juga memiliki seorang Ayah dan Ibu
Jesus hanya memiliki Ibu dan tidak memiliki Ayah, sementara Yusuf Arimathaea hanyalah ayah tirinya

Musa dan Muhammad lahir secara normal dan alamiah, yaitu melalui percampuran phisik antara seorang pria dan seorang wanita, sementara Jesus lahir tidak seperti itu.

Musa dan Muhammad menikah dan mempunyai anak, sementara Jesus menurut sejarah Bible tidak menikah dan tidak beranak.

Musa dan Muhammad diterima sebagai seorang Nabi dan Rasul oleh kaumnya dalam kehidupan mereka bahkan hingga jaman sekarang ini sementara Jesus sendiri ditolak oleh kaumnya (Yahudi) sejak dari awal beliau diutus Allah sampai pada menjelang abad millenium kita sekarang, bahkan Jesus sendiri mengatakan bahwa dia harus pergi karena umatnya tidak sanggup mendengar perintahnya.

Musa dan Muhammad selain sebagai Nabi sekaligus juga berfungsi selaku Raja/Pemimpin yang menetapkan aturan hukum kepada masyarakatnya, tidak menjadi masalah apakah mereka mengenakan mahkota dan pakaian kebesaran kerajaan ataupun tidak, namun yang jelas, keduanya diakui sebagai pimpinan oleh masing-masing umatnya pada waktu keduanya masih hidup, sementara Jesus, kerajaannya bukanlah berasal dari dunia melainkan dia hanyalah sebagai seorang pemimpin spiritual

Musa berhijrah kebumi Median, Muhammad berhijrah kebumi Madinah, Jesus tidak hijrah kemanapun didalam menyebarkan misinya.

Musa dan Muhammad menetapkan hukum-hukum baru, sementara Jesus mengikuti hukum Musa
Musa dan Muhammad wafat secara wajar, Jesus wafat disalib
Musa dan Muhammad dikuburkan didalam bumi sementara Jesus dalam pandagangan Nasrani tidak.

Dengan demikian dari persamaan antara Musa terhadap Jesus atau Muhammad yang dijelaskan diatas, maka Muhammad-lah yang lebih condong untuk sama seperti Musa seperti nubuat Ulangan 18:15.

Selanjutnya, kita juga mengetahui bahwa Nabi Ibrahim alias Abraham memiliki dua orang istri, Sarah dan Hagar dimana keduanya melahirkan Ishaq dan Ismail.Dan jika Ishak serta Ismail adalah anak dari ayah yang sama, maka mereka adalah kakak beradik, karenanya anak dari salah seorang mereka adalah saudara dari anak yang lain.

Keturunan Ishak adalah bangsa Yahudi dan keturunan Ismail adalah bangsa Arab, jadi jika disebutkan pada Ulangan 18:15 bahwa sang Nabi akan muncul of thy brethren, maka saudara dari Bani Israil tentu saja adalah Bani Ismail, yaitu bangsa Arab, garis keturunan yang menurunkan Nabi Muhammad Saw.

Allah sendiri menyatakan kepada Bani Israil pada Ulangan 32:21

“Mereka membangkitkan cemburu-Ku dengan yang bukan Allah, mereka menimbulkan murka-Ku dengan berhala mereka. Sebab itu Aku akan membangkitkan cemburu mereka dengan yang bukan kaumnya dan akan menerbitkan amarahnya dengan satu kaum yang hina.”

Isa alias Jesus didalam Matius 21:43 juga mengukuhkan pernyataan Allah ini :

“Aku berkata kepadamu, bahwa kerajaan Allah akan diambil daripadamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah kerajaan itu.”

Jelas sekali ayat-ayat diatas menunjukkan bahwa Allah akan :

1. Mengambil kerajaan-Nya dari Bani Israel
Disini kita mesti memahami bahwa yang dimaksud dengan kerajaan Allah dapat berupa rahmat, kemuliaan, petunjuk, nikmat kenabian

2. Kerajaan Allah tersebut akan dipindahkan kepada suatu bangsa lain yang bukan berasal dari kaum Bani Israel yang telah dipandang hina oleh mereka sebelumnya yang justru dari kaum tersebut akan menghasilkan buah atau karya yang diinginkan oleh Allah dan menimbulkan kebencian yang mendalam dari Bani Israel.

Kalimat yang diutarakan oleh Jesus pada Matius 21:43 tersebut diucapkan di Bait Allah didalam negri Jerusalem dihadapan seluruh Imam dan tua-tua penganut Taurat dinegri itu (Matius 21:23).

Dan Taurat itu adalah kitab Musa kepada Bani Israil, jadi apabila para Imam itu adalah penganut Taurat bahkan guru Taurat, terlepas dari apakah mereka benar-benar seorang yang patuh atau penyeleweng dari hukum Taurat, namun tetap saja mereka adalah bagian dari Bani Israil, dan jika kalimat ini diucapkan oleh Jesus terhadap Imam mereka (Bani Israil), maka secara otomatis seruan Jesus ini tertuju kepada keseluruhan kaumnya, Bani Israil.

Ingatlah kembali akan apa yang diseru oleh Allah didalam Ulangan 32:21 diatas :

“Mereka membangkitkan cemburu-Ku dengan yang bukan Allah, mereka menimbulkan murka-Ku dengan berhala mereka. Sebab itu Aku akan membangkitkan cemburu mereka dengan yang bukan kaumnya dan akan menerbitkan amarahnya dengan satu kaum yang hina.”

Ayat diatas ini sangat berkaitan erat dengan apa yang disabdakan oleh Jesus sebelumnya, bahwa Allah telah cemburu (murka) terhadap tindakan Bani Israil yang telah menyekutukan-Nya dengan Tuhan-tuhan lain, untuk itu, Allah juga akan membangkitkan marah dan kecemburuan Bani Israil terhadap kemuliaan yang akan dipindahkan Allah diluar kaum Bani Israil, yaitu suatu kaum yang dianggap mereka hina, yaitu Bani Ismail.

Dan inilah terjadinya disaat Allah mengutus Nabi Muhammad Saw dari Bani Ismail sebagai awal perpindahan kerajaan Allah dari Bani Israil menuju kaum selainnya.

Jadi semakin jelas bahwa kebangkitan Muhammad Saw sebagai salah seorang Nabi dari keturunan Ismail yang telah diberkati Allah sebelumnya, adalah dikarenakan pembangkangan dari keturunan Ishak terhadap Allah sehingga menimbulkan murka Allah dan mengalihkannya kepada kaum Ismail yang disebutkan pada Ulangan 32:21 sebagai kaum yang hina, sebab bukankah Ismail dianggap tidak layak untuk bersama dengan Ishak pada kisah pengusiran Hagar dan Ismail yang dilakukan oleh Sarah pada Kejadian 21:10.

Dan kepada benih Ismail inilah Allah memindahkan kerajaan-Nya dari Bani Israil dan apa yang disebut bahwa akan menghasilkan buah Allah itu menjadi kenyataan ketika masa pengutusan Muhammad Saw yang menjadikannya suatu bangsa yang besar, yang dengan gagah berani menyatakan firman-firman Allah dan mengembalikan citra tauhid sejati, membersihkan segala bentuk keberhalaan dan mendirikan kerajaan Allah diatas dunia ini.

Lalu pengukuhan Isa pada Matius 21:43 akan membuktikan firman Allah terhadap kebesaran Ismail dan keturunannya pada Kejadian 17:20 dan Kejadian 21:18 yang membuktikan bahwa Bani Ismail melalui Muhammad Saw akan menjadi suatu bangsa yang besar dan menghasilkan banyak orang yang beriman kepada Allah secara penuh dan totalitas sebagai yang dimaksud dengan buah kerajaan itu (yaitu kerajaan Allah).

Pembangkangan Bani Israil ini juga disinyalir oleh Allah dalam AlQur’an secara jelas :

“Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka beberapa orang Rasul. Tetapi setiap datang seorang Rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, mereka dustakan sebagian dan mereka bunuh sebagian.” (QS. Al-Ma’idah 5:70)

Lebih jauh kita melihat pada Ulangan 18:17-22 sebagai sambungan dari Ulangan 18:15 :

“Lalu berkatalah TUHAN kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.

Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban. Tetapi seorang Nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati.

Jika sekiranya kamu berkata dalam hatimu: Bagaimanakah kami mengetahui perkataan yang tidak difirmankan TUHAN? — apabila seorang nabi berkata demi nama TUHAN dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan TUHAN; dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepadanya.”

Ulangan 18:19 diatas memperjelas lagi tentang sosok Nabi yang dinubuatkan itu…..Nabi itu datang bukan dari kalangan Bani Israil tetapi dari antara saudara mereka, yaitu bani Ismail ….seperti Musa dimana Allah akan menaruh “firman-Nya” melalui Nabi tersebut dan dia akan mengatakan kepada mereka segala yang diperintahkan Allah kepadanya.

Jesus adalah Firman Tuhan yang menjelma dalam tubuh Jesus itu sendiri .. demikian keyakinan orang-orang Kristen. Tetapi orang yang dijanjikan itu adalah “menyimpan Firman Tuhan itu” dalam mulutnya…. berarti Firman itu diucapkannya dengan mulutnya… dan penyampaian Firman itu adalah dengan “mengatakannya”.

Betapa mungkin nubuatan itu tertuju kepada Jesus yang merupakan penjelmaan Firman Tuhan itu? Kepada siapa lagi nubuatan itu tertuju kalau tidak kepada Muhammad yang senantiasa menyampaikan firman Allah lewat ucapannya Bismillahirahmanirahim…. dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang ?

Selain itu, mari kita lihat apa kata al-Qur’an terhadap pribadi Muhammad Saw :

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”(QS. An Najm 3-4)

Nabi Musa adalah Nabi yang terbesar dikalangan Bani Israel….Semua Nabi-nabi Bani Israil sesudah Musa berhukum kepada Taurat yang diturunkan kepada beliau… dan Taurat adalah Kitab syariat yang paling sempurna untuk Bani Israel, bahkan Jesus sendiri mengatakan bahwa kedatangannya sama sekali tidak hendak untuk merombak hukum Taurat atau juga kitab para Nabi sebelumnya, sebab tercatat hukum Taurat tidak akan dibatalkan hingga langit dan bumi hancur sampai seluruhnya terjadi, datangnya sang Nabi terakhir “Muhammad Saw”.

Nabi Muhammad Saw adalah Nabi yang terakhir dan terbesar untuk semua manusia Bani Adam ini dan risalahnya meliputi semua kaum dan manusia dimuka bumi ini….termasuk Bani Israel.

Dengan kedatangan Nabi Muhammad Saw selesailah misi Nabi Musa yang kedatangannya hanya terbatas untuk Bani Israel saja. Semua pengikut Taurat dan Injil itu harus menerima kerasulan Muhammad Saw sebagaimana isi terakhir dari ayat Matius 5:18 …“sampai seluruhnya terjadi”, yaitu sampai masa Nabi yang dinubuatkan oleh Musa dalam Tauratnya itu tiba, maka Taurat tidak lagi wajib untuk di-ikuti dan berganti dengan kitab selanjutnya.

Selain itu, sebagaimana isi Ulangan 18:22 :

“Apabila seorang nabi berkata demi nama TUHAN dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan TUHAN; dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepadanya.”

Nabi Muhammad Saw berbicara menyampaikan firman Allah kepada seluruh umat manusia tanpa dibatasi oleh golongan maupun bangsa. Semasa hidupnya, beliau Saw menyerukan Islam kepada Heraklius, penguasa Persia, Roma, Najasyi raja Ethiopia, Muqauqis (gubernur Mesir) dan sebagainya.

Dikala Nabi Muhammad Saw melakukan hijrah kekota Yatsrib (Madinah – sekarang), kala itu kota ini masih dihuni oleh berbagai kelompok dari berbagai kaum dan agama.

Diantara mereka ada yang sudah menganut ajaran Islam yang dibawa oleh Muhammad (yaitu kaum Anshar), ada yang masih memiliki budaya pagan atau penyembah berhala yang umumnya berasal dari suku Aus dan Khazraj, ada pula kelompok penduduk Yahudi yang terdiri dari Banu Qainuqa, Bani Quraiza, Banu’n Nadzir serta kelompok Yahudi Khaibar diutara Madinah. Kepada mereka ini pula Nabi Muhammad Saw telah menyerukan ajaran-ajaran Allah.

Lebih jauh, ayat-ayat al-Qur’an sendiri banyak sekali menyeru kepada Bani Israil agar mereka mendengarkan wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad Saw dan menegur kelakuan mereka yang buruk, baik terhadap ajaran Allah, terhadap para Nabi dan pengikutnya maupun kepada para masyarakat lainnya.

Apabila ada pihak yang masih berusaha menyandarkan akan petunjuk Yohanes dalam pasal ke-5 nya:

John from New American Standard Bible (NASB)

45 “Do not think that I will accuse you before the Father; the one who accuses you is Moses, in whom you have set your hope.

46 “For if you believed Moses, you would believe Me; for he wrote of Me.

47 “But if you do not believe his writings, how will you believe My words?”

Sekarang : Apa yang sudah pernah ditulis oleh Musa ?
Kita semua sudah tahu bahwa Musa bukan penulis kitabnya sendiri.
Jadi kalimat ini masih perlu kita selidiki lebih jauh, seberapa benar kalimat yang diungkapkan oleh Johanes ini.

Dan sekarang, sebagai kunci akhir dari penjelasan ayat Ulangan 18 sebelumnya diatas, mari kita lihat Ulangan 34:10

Deuteronomy 34:10
“And there arose no more a prophet in Israel like unto Moses, whom the Lord knew face to face.”

Jelas sekali disana dikatakan bahwa TIDAK AKAN ADA LAGI NABI SEPERTI MUSA YANG BANGKIT DARI ISRAIL.

Untuk itu, mengacu bahwa Jesus merupakan Nabi yang bangkit dari antara saudara Bani Israil yang dimaksud oleh Musa dalam kitab Ulangan sama sekali tidak valid sebab Nabi yang seperti Musa hanya akan bangkit dari luar Bani Israil, yaitu Bani Ismail dan dia adalah Nabi Muhammad Saw al-Amin sang Paraclete dan The Holy Spirit.

https://tausyah.wordpress.com

Abu Dzar Al-Ghifari adalah salah seorang sahabat Rasul Allah s.a.w. yang paling tidak disukai oleh oknum-oknum Bani Umayyah yang mendominasi pemerintahan Khalifah Utsman r.a., seperti Marwan bin Al-Hakam, Muawiyyah bin Abu Sufyan dan lain-lain.

Ia berasal dari qabilah Bani Ghifar. Suatu qabilah yang pada masa pra-Islam terkenal amat liar, kasar dan pemberani. Tidak sedikit kafilah Arab yang lewat daerah pemukiman mereka men­jadi sasaran penghadangan, pencegatan dan perampasan. Abu Dzar sendiri seorang pemimpin terkemuka di kalangan mereka.

Ia mempunyai sifat-sifat pemberani, terus terang dan jujur. Ia tidak menyembunyikan sesuatu yang menjadi pemikiran dan pendiriannya.

Ia mendapat hidayat Allah s.w.t. dan memeluk Islam di kala Rasul Allah s.a.w. menyebarkan da’wah risalahnya secara rahasia dan diam-diam. Ketika itu Islam baru dipeluk kurang lebih oleh 10 orang. Akan tetapi Abu Dzar tanpa menghitung-hitung resiko mengumumkan secara terang-terangan keislamannya di hadapan orang-orang kafir Qureiys. Sekembalinya ke daerah pemukimannya dari Makkah, Abu Dzar berhasil mengajak semua anggota qabilahnya memeluk agama Islam. Bahkan qabilah lain yang berdekatan, yaitu qabilah Aslam, berhasil pula di Islamkan.

Demikian gigih, berani dan cepatnya Abu Dzar bergerak menyebarkan Islam, sehingga Rasul Allah s.a.w. sendiri merasa kagum dan menyatakan pujiannya. Terhadap Bani Ghifar dan Bani Aslam, Nabi Muhammad s.a.w. dengan bangga mengucapkan: “Ghifar…, Allah telah mengampuni dosa mereka! Aslam…, Allah menyelamatkan kehidupan mereka!”

Sejak menjadi orang muslim, Abu Dzar benar-benar telah menghias sejarah hidupnya dengan bintang kehormatan tertinggi. Dengan berani ia selalu siap berkorban untuk menegakkan ke­benaran Allah dan Rasul-Nya.Tanpa tedeng aling-aling ia bangkit memberontak terhadap penyembahan berhala dan kebatilan dalam segala bentuk dan manifestasinya. Kejujuran dan kesetiaan Abu Dzar dinilai oleh Rasul Allah s.a.w. sebagai “cahaya terang ben­derang.”

Pada pribadi Abu Dzar tidak terdapat perbedaan antara lahir dan batin. Ia satu dalam ucapan dan perbuatan. Satu dalam fikiran dan pendirian. Ia tidak pernah menyesali diri sendiri atau orang lain, namun ia pun tidak mau disesali orang lain.

Kesetiaan pada kebenaran Allah dan Rasul-Nya terpadu erat degan keberaniannya dan ketinggian daya-juangnya. Dalam berjuang melaksanakan perintah Allah s.w.t. dan Rasul-Nya, Abu Dzar benar-benar serius, keras dan tulus. Namun demikian ia tidak meninggalkan prinsip sabar dan hati-hati.

Pada suatu hari ia pernah ditanya oleh Rasul Allah s.a.w. tentang tindakan apa kira-kira yang akan diambil olehnya jika di kemudian hari ia melihat ada para penguasa yang mengang­kangi harta ghanimah milik kaum muslimin. Dengan tandas Abu Dzar menjawab: “Demi Allah, yang mengutusmu mem­bawa kebenaran, mereka akan kuhantam dengan pedangku!”

Menanggapi sikap yang tandas dari Abu Dzar ini, Nabi Muhammad s.a.w. sebagai pemimpin yang bijaksana memberi pengarahan yang tepat. Beliau berkata: “Kutunjukkan cara yang lebih baik dari itu. Sabarlah sampai engkau berjumpa dengan aku di hari kiyamat kelak!” Rasul Allah s.a.w. mencegah Abu Dzar menghunus pedang. Ia dinasehati berjuang dengan senjata lisan.

Sampai pada masa sepeninggal Rasul Allah s.a.w., Abu Dzar tetap berpegang teguh pada nasehat beliau. Di masa Khalifah Abu Bakar r.a. gejala-gejala sosial ekonomi yang dicanangkan oleh Rasul Allah s.a.w. belum muncul. Pada masa Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a., berkat ketegasan dan keketatannya dalam ber­tindak mengawasi para pejabat pemerintahan dan kaum muslimin, penyakit berlomba mengejar kekayaan tidak sempat berkembang di kalangan masyarakat. Tetapi pada masa-masa terakhir pemerin­tahan Khalifah Utsman bin Affan r.a., penyakit yang membahaya­kan kesentosaan ummat itu bermunculan laksana cendawan di musim hujan. Khalifah Utsman bin Affan r.a. sendiri tidak ber­daya menanggulanginya. Nampaknya karena usia Khalifah Utsman r.a. sudah lanjut, serta pemerintahannya didominasi sepenuhnya oleh para pembantunya sendiri yang terdiri dari golongan Bani Umayyah.

Pada waktu itu tidak sedikit sahabat Rasul Allah s.a.w. yang hidup serba kekurangan, hanya karena mereka jujur dan setia kepada ajaran Allah dan tauladan Rasul-Nya. Sampai ada salah seorang di antara mereka yang menggadai, hanya sekedar untuk dapat membeli beberapa potong roti. Padahal para pengua­sa dan orang-orang yang dekat dengan pemerintahan makin ber­tambah kaya dan hidup bermewah-mewah. Harta ghanimah dan Baitul Mal milik kaum muslimin banyak disalah-gunakan untuk kepentingan pribadi, keluarga dan golongan. Di tengah-tengah keadaan seperti itu, para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. dan kaum muslimin pada umumnya dapat diibaratkan seperti ayam mati kelaparan di dalam lumbung padi.

Melihat gejala sosial dan ekonomi yang bertentangan dengan ajaran Islam, Abu Dzar Al-Ghifari sangat resah. Ia tidak dapat berpangku tangan membiarkan kebatilan merajalela. Ia tidak betah lagi diam di rumah, walaupun usia sudah menua. Dengan pedang terhunus ia berangkat menuju Damsyik. Di tengah jalan ia teringat kepada nasihat Rasul Allah s.a.w.: jangan menghunus pedang. Ber­juang sajalah dengan lisan! Bisikan suara seperti itu terngiang-ngi­ang terus di telinganya. Cepat-cepat pedang dikembalikan kesa­rungnya.

Mulai saat itu Abu Dzar dengan senjata lidah berjuang mem­peringatkan para penguasa dan orang-orang yang sudah tenggelam dalam perebutan harta kekayaan. Ia berseru supaya mereka kem­bali kepada kebenaran Allah dan tauladan Rasul-Nya. Pada waktu Abu Dzar bermukim di Syam, ia selalu memperingatkan orang: “Barang siapa yang menimbun emas dan perak dan tidak meng­infaqkannya di jalan Allah maka beritahukanlah kepada mereka bahwa mereka akan mendapat siksa yang Pedih. Pada hari kiamat

Di Syam Abu Dzar memperoleh banyak pendukung. Umum­nya terdiri dari fakir miskin dan orang-orang yang hidup sengsara. Makin hari pengaruh kampanyenya makin meluas. Kampanye Abu Dzar ini merupakan suatu gerakan sosial yang menuntut ditegak­kannya kembali prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan, sesuai de­ngan perintah Allah dan ajaran Rasul-Nya.

Muawiyah bin Abi Sufyan, yang menjabat kedudukan sebagai penguasa daerah Syam, memandang kegiatan Abu Dzar sebagai bahaya yang dapat mengancam kedudukannya. Untuk memben­dung kegiatan Abu Dzar, Muawiyyah menempuh berbagai cara guna mengurangi pengaruh kampanyenya. Tindakan Muawiyyah itu tidak mengendorkan atau mengecilkan hati Abu Dzar. Ia tetap berkeliling kemana-mana, sambil berseru kepada setiap orang: “Aku sungguh heran melihat orang yang di rumahnya tidak mem­punyai makanan, tetapi ia tidak mau keluar menghunus pedang!”

Seruan Abu Dzar yang mengancam itu menyebabkan makin banyak lagi jumlah kaum muslimin yang menjadi pendukungnya. Bersama dengan itu para penguasa dan kaum hartawan yang telah memperkaya diri dengan cara yang tidak jujur, sangat cemas.

Keberanian Abu Dzar dalam berjuang tidak hanya dapat dibuktikan dengan pedang, tetapi lidahnya pun dipergunakan untuk membela kebenaran. Di mana-mana ia menyerukan ajar­an-ajaran kemasyarakatan yang pernah didengarnya sendiri dari Rasul Allah s.a.w.: “Semua manusia adalah sama hak dan sama derajat laksana gigi sisir…,” “Tak ada manusia yang lebih afdhal selain yang lebih besar taqwanya…”, “Penguasa adalah abdi masyarakat,” “Tiap orang dari kalian adalah penggembala, dan tiap penggembala bertanggung jawab atas kegembalaannya….” dan lain sebagainya.

Para penguasa Bani Umayyah dan orang-orang yang ber­gelimang dalam kehidupan mewah sangat kecut menyaksikan kegiatan Abu Dzar. Hati nuraninya mengakui kebenaran Abu Dzar, tetapi lidah dan tangan mereka bergerak di luar bisikan hati nura­ni. Abu Dzar dimusuhi dan kepadanya dilancarkan berbagai tuduh­an. Tuduhan-tuduhan mereka itu tidak dihiraukan oleh Abu Dzar. Ia makin bertambah berani.

Pada suatu hari dengan sengaja ia menghadap Muawiyah, penguasa daerah Syam. Dengan tandas ia menanyakan tentang kekayaan dan rumah milik Muawiyyah yang ditinggalkan di Mak­kah sejak ia menjadi penguasa Syam. Kemudian dengan tanpa ra­sa takut sedikit pun ditanyakan pula asal-usul kekayaan Muawiy­yah yang sekarang! Sambil menuding Abu Dzar berkata: “Bu­kankah kalian itu yang oleh Al-Qur’an disebut sebagai penumpuk emas dan perak, dan yang akan dibakar tubuh dan mukanya pada hari kiyamat dengan api neraka?!”

Betapa pengapnya Muawiyah mendengar kata-kata Abu Dzar yang terus terang itu! Muaw iyah bin Abu Sufyan memang bukan orang biasa. Ia penguasa. Dengan kekuasaan di tangan ia dapat berbuat apa saja. Abu Dzar dianggap sangat berbahaya. Ia harus disingkirkan. Segera ditulis sepucuk surat kepada Khalifah Utsman r.a. di Madinah. Dalam surat itu Muawiyah melaporkan tentang Abu Dzar menghasut orang banyak di Syam. Disarankan supaya Khalifah mengambil salah satu tindakan. Berikan ke­kayaan atau kedudukan kepada Abu Dzar. Jika Abu Dzar menolak dan tetap hendak meneruskan kampanyenya, kucilkan saja di pem­buangan.

Khalifah Utsman r.a. melaksanakan surat Muawiyah itu. Abu Dzar dipanggil menghadap. Kepada Abu Dzar diajukan dua pili­han: kekayaan atau kedudukan. Menanggapi tawaran Khalifah itu, Abu Dzar dengan singkat dan jelas berkata: “Aku tidak membu­tuhkan duniamu!”

Khalifah Utsman r.a. masih terus menghimbau Abu Dzar. Di­kemukakannya: “Tinggal sajalah di sampingku!”

Sekali lagi Abu Dzar mengulangi kata-katanya: “Aku tidak membutuhkan duniamu!”

Sebagai orang yang hidup zuhud dan taqwa, Abu Dzar ber­juang semata-mata untuk menegakkan kebenaran dan keadilan yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Abu Dzar hanya meng­hendaki supaya kebenaran dan keadilan Allah ditegakkan, seperti yang dulu telah dilaksanakan oleh Rasul Allah s.a.w., Khalifah Abu Bakar r.a. dan Khalifah Umar r.a. Memang justru itulah yang sangat sukar dilaksanakan oleh Khalifah Utsman r.a., sebab ia ha­rus memotong urat nadi para pembantu dan para penguasa bawah­annya.

Abu Dzar tidak bergeser sedikit pun dari pendiriannya. A­khirnya, atas desakan dan tekanan para pembantu dan para pe­nguasa Bani Umayyah,Khalifah Utsman r.a. mengambil keputu­san: Abu Dzar harus dikucilkan dalam pembuangan di Rabadzah. Tak boleh ada seorang pun mengajaknya berbicara dan tak boleh ada seorang pun yang mengucapkan selamat jalan atau mengantar­kannya dalam perjalanan.

Bagi Abu Dzar pembuangan bukan apa-apa. Sekuku-hitam pun ia tidak syak, bahwa Allah s.w.t. selalu bersama dia. Kapan saja dan di mana saja. Menanggapi keputusan Khalifah Utsman r.a. ia berkata: “Demi Allah, seandainya Utsman hendak menyalib­ku di kayu salib yang tinggi atau di atas bukit, aku akan taat, sabar dan berserah diri kepada Allah. Aku pandang hal itu lebih baik bagiku. Seandainya Utsman memerintahkan aku harus ber­jalan dari kutub ke kutub lain, aku akan taat, sabar dan berserah diri kepada Allah. Kupandang, hal itu lebih baik bagiku. Dan se­andainya besok ia akan mengembalikan diriku ke rumah pun akan kutaati, aku akan sabar dan berserah diri kepada Allah. Kupan­dang hal itu lebih baik bagiku.”

Itulah Abu Dzar Ghifari, pejuang muslim tanpa pamrih duniawi, yang semata-mata berjuang untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, demi keridhoan Al Khalik. Ia seorang pahlawan yang dengan gigih dan setia mengikuti tauladan Nabi Muhammad s.a.w. Ia seorang zahid yang penuh taqwa kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak berpangku tangan membiarkan kebatilan melanda ummat.

Peristiwa dibuangnya Abu Dzar Al Ghifari ke Rabadzah sa­ngat mengejutkan kaum muslimin, khususnya para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. Imam Ali r.a. sangat tertusuk perasaannya. Bersama segenap anggota keluarga ia menyatakan rasa sedih dan simpatinya yang mendalam kepada Abu Dzar.

Abu Bakar Ahmad bin Abdul Aziz Al Jauhariy dalam buku­nya As Saqifah, berdasarkan riwayat yang bersumber pada Ibnu Abbas, menuturkan antara lain tentang pelaksanaan keputusan Khalifah Utsman r.a. di atas:

Khalifah Utsman r.a. memerintahkan Marwan bin Al Hakam membawa Abu Dzar berangkat dan mengantarnya sampai di tengah perjalanan. Tak ada seorang pun dari penduduk yang berani mendekati Abu Dzar, kecuali Imam Ali r.a., Aqil bin Abi Thalib dan dua orang putera Imam Ali r.a., yaitu Al-Hasan r.a. dan Al Husein r.a. Beserta mereka ikut pula Ammar bin Yasir.

Menjelang saat keberangkatannya, Al Hasan mengajak Abu Dzar bercakap-cakap. Mendengar itu Marwan bin Al-Hakam dengan bengis menegor: “Hai Hasan, apakah engkau tidak me­ngerti bahwa Amirul Mukminin melarang bercakap-cakap dengan orang ini? Kalau belum mengerti, ketahuilah sekarang!”

Melihat sikap Marwan yang kasar itu, Imam Ali r.a. tak dapat menahan letupan emosinya. Sambil membentak ia mencam­buk kepala unta yang dikendarai oleh Marwan: “Pergilah engkau dari sini! Allah akan menggiringmu ke neraka.”

Sudah tentu unta yang dicambuk kepalanya itu meronta-­ronta kesakitan. Marwan sangat marah, tetapi ia tidak punya keberanian melawan Imam Ali r.a. Cepat-cepat Marwan kembali menghadap Khalifah untuk mengadukan perbuatan Imam Ali r.a. Khalifah Utsman meluap karena merasa perintahnya tidak dihiraukan oleh Imam Ali r.a. dan anggota-anggota keluarganya.

Tindakan Imam Ali r.a. terhadap Marwan itu ternyata men­dorong orang lain berani mendekati Abu Dzar guna mengucap­kan selamat jalan. Di antara mereka itu terdapat seorang bernama Dzakwan maula Ummi Hani binti Abu Thalib.

Dzakwan di kemudian hari Menceritakan pengalamannya sebagai berikut: Aku ingat benar apa yang dikatakan oleh mereka. Kepada Abu Dzar, Ali bin Abi Thalib mengatakan: “Hai Abu Dzar engkau marah demi karena Allah! Orang-orang itu, yakni para penguasa Bani Umayyah, takut kepadamu, sebab mereka takut kehilangan dunianya. Oleh karena itu mereka mengusir dan mem­buangmu. Demi Allah, seandainya langit dan bumi tertutup ra­pat bagi hamba Allah, tetapi hamba itu kemudian penuh taqwa kepada Allah, pasti ia akan dibukakan jalan keluar. Hai Abu Dzar, tidak ada yang menggembirakan hatimu selain kebenaran, dan tidak ada yang menjengkelkan hatimu selain kebatilan!”

Atas dorongan Imam Ali r.a., Aqil berkata kepada Abu Dzar: “Hai Abu Dzar, apa lagi yang hendak kukatakan kepadamu! Engkau tahu bahwa kami ini semua mencintaimu, dan kami pun tahu bahwa engkau sangat mencintai kami juga. Bertaqwa sa­jalah sepenuhnya kepada Allah, sebab taqwa berarti selamat. Dan bersabarlah, karena sabar sama dengan berbesar hati. Ke­tahuilah, tidak sabar sama artinya dengan takut, dan mengharap­kan maaf dari orang lain sama artinya dengan putus asa. Oleh ka­rena itu buanglah rasa takut dan putus asa.”

Kemudian Al-Hasan berkata kepada Abu Dzar: “Jika seorang yang hendak mengucapkan selamat jalan diharuskan diam, dan orang yang mengantarkan saudara yang berpergian harus segera pulang, tentu percakapan akan menjadi sangat sedikit, sedangkan sesal dan iba akan terus berkepanjangan. Engkau menyaksikan sendiri, banyak orang sudah datang menjumpaimu. Buang saja­lah ingatan tentang kepahitan dunia, dan ingat saja kenangan manisnya. Buanglah perasaan sedih mengingat kesukaran di masa silam, dan gantikan saja dengan harapan masa mendatang. Sabarkan hati sampai kelak berjumpa dengan Nabi-mu, dan beliau itu benar-benar ridho kepadamu.”

Setelah Al Hasan, kini berkatalah Al Husein: “Hai paman, sesungguhnya Allah s.w.t. berkuasa mengubah semua yang paman alami. Tidak ada sesuatu yang lepas dari pengawasan dan kekua­saan-Nya. Mereka berusaha agar paman tidak mengganggu dunia mereka. Betapa butuhnya mereka itu kepada sesuatu yang hendak paman cegah! Berlindunglah kepada Allah s.w.t. dari keserakahan dan kecemasan. Sabar merupakan bagian dari ajaran agama dan sama artinya dengan sifat pemurah. Keserakahan tidak akan mem­percepat datangnya rizki dan kebatilan tidak akan menunda da­tangnya ajal!”

Dengan nada marah Ammar bin Yasir menyambung: “Allah tidak akan membuat senang orang yang telah membuatmu sedih, dan tidak akan menyelamatkan orang yang menakut-nakutimu. Seandainya engkau puas melihat perbuatan mereka, tentu mereka akan menyukaimu. Yang mencegah orang supaya tidak mengata­kan seperti yang kaukatakan, hanyalah orang-orang yang merasa puas dengan dunia. Orang-orang seperti itu takut menghadapi maut dan condong kepada kelompok yang berkuasa. Kekuasaan hanyalah ada pada orang-orang yang menang. Oleh karena itu ba­nyak orang “menghadiahkan” agamanya masing-masing kepada mereka, dan sebagai imbalan, mereka memberi kesenangan du­niawi kepada orang-orang itu. Dengan berbuat seperti itu, se­benarnya mereka menderita kerugian dunia dan akhirat. Bukan­kah itu suatu kerugian yang senyata-nyatanya?!”

Sambil berlinangan air mata Abu Dzar berkata: “Semoga Allah merahmati kalian, wahai Ahlu Baitur Rahman! Bila melihat kalian aku teringat kepada Rasul Allah s.a.w. Suka-dukaku di Madinah selalu bersama kalian. Di Hijaz aku merasa berat karena Utsman, dan di Syam aku merasa berat karena Muawiyah. Mereka tidak suka melihatku berada di tengah-tengah saudara-saudaraku di kedua tempat itu. Mereka memburuk-burukkan diriku, lalu aku diusir dan dibuang ke satu daerah, di mana aku tidak akan mem­punyai penolong dan pelindung selain Allah s.w.t. Demi Allah, aku tidak menginginkan teman selain Allah s.w.t. dan bersama-Nya aku tidak takut menghadapi kesulitan…”

Tutur Dzakwan lebih lanjut: Setelah semua orang yang me­ngantarkan pulang, Imam Ali r.a. segera datang menghadap Kha­lifah Utsman bin Affan r.a. Kepada Imam Ali r.a. Khalifah ber­tanya dengan hati gusar: “Mengapa engkau berani mengusir pulang petugasku –yakni Marwan– dan meremehkan perintahku?”

“Tentang petugasmu,” jawab Imam Ali r.a. dengan tenang “ia mencoba menghalang-halangi niatku. Oleh karena itu ia ku­balas. Adapun tentang perintahmu, aku tidak meremehhannya.”

“Apakah engkau tidak mendengar perintahku yang melarang orang bercakap-cakap dengan Abu Dzar?” ujar Khalifah dengan marah.

“Apakah setiap engkau mengeluarkan larangan yang ber­sifat kedurhakaan harus kuturut?” tanggap Imam Ali r.a. ter­hadap kata-kata Khalifah tadi dalam bentuk pertanyaan.

“Kendalikan dirimu terhadap Marwan!” ujar Khalifah mem­peringatkan Imam Ali r.a.

“Mengapa?” tanya Imam Ali r.a.

“Engkau telah memaki dia dan mencambuk unta yang di­kendarainya” jawab Khalifah.

“Mengenai untanya yang kucambuk,” Imam Ali menjelas­kan sebagai tanggapan atas keterangan Khalifah Utsman r.a., “bolehlah ia membalas mencambuk untaku. Tetapi kalau dia sampai memaki diriku, tiap satu kali dia memaki, engkau sendiri akan kumaki dengan makian yang sama. Sungguh aku tidak berkata bohong kepadamu!”

“Mengapa dia tidak boleh memakimu?” tanya Khalifah Utsman r.a. dengan mencemooh. “Apakah engkau lebih baik dari dia?!”

“Demi Allah, bahkan aku lebih baik daripada engkau!” sahut Imam Ali r.a. dengan tandas. Habis mengucapkan kata-kata itu Imam Ali r.a. cepat-cepat keluar meninggalkan tempat.

Beberapa waktu setelah terjadi insiden itu, Khalifah Utsman r.a. memanggil tokoh-tokoh kaum Muhajirin dan Anshar termasuk tokoh-tokoh Bani Umayyah. Di hadapan mereka itu ia menyata­kan keluhannya terhadap sikap Imam Ali r.a.

Menanggapi keluhan Khalifah Utsman bin Affan r.a., para pemuka yang beliau ajak berbicara menasehatkan: “Anda adalah pemimpin dia. Jika anda mengajak berdamai, itu lebih baik.”

“Aku memang menghendaki itu,” jawab Khalifah Utsman r.a. Sesudah ini beberapa orang dari pemuka muslimin itu me­ngambil prakarsa untuk menghapuskan ketegangan antara Imam Ali r.a. dan Khalifah Utsman r.a. Mereka menghubungi Imam Ali r.a. di rumahnya. Kepada Imam Ali r.a. mereka bertanya: “Bagaimana kalau anda datang kepada Khalifah dan Marwan untuk meminta maaf?”

“Tidak,” jawab Imam Ali r.a. dengan cepat. “Aku tidak akan datang kepada Marwan dan tidak akan meminta maaf kepadanya. Aku hanya mau minta maaf kepada Utsman dan aku mau datang kepadanya.”

Tak lama kemudian datanglah panggilan dari Khalifah Utsman r.a. Imam Ali r.a. datang bersama beberapa orang Bani Hasyim. Sehabis memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah s.w.t., Imam Ali r.a. berkata: “Yang kauketahui tentang percakapanku dengan Abu Dzar, waktu aku mengantar keberangkatannya, demi Allah, tidak bermaksud mempersulit atau menentang keputus­anmu. Yang kumaksud semata-mata hanyalah memenuhi hak Abu Dzar. Ketika itu Marwan menghalang-halangi dan hendak mencegah supaya aku tidak dapat memenuhi hak yang telah diberikan Allah ‘Azza wa Jalla kepada Abu Dzar. Karena itu aku terpaksa menghalang-halangi Marwan, sama seperti dia mengha­lang-halangi maksudku. Adapun tentang ucapanku kepadamu, itu dikarenakan engkau sangat menjengkelkan aku, sehingga keluar­lah marahku, yang sebenarnya aku sendiri tidak menyukainya.”

Sebagai tanggapan atas keterangan Imam Ali r.a. tersebut, Khalifah Utsman r.a. berkata dengan nada lemah lembut: “Apa yang telah kau ucapkan kepadaku, sudah kuikhlaskan. Dan apa yang telah kaulakukan terhadap Marwan, Allah sudah memaaf­kan perbuatanmu. Adapun mengenai apa yang tadi engkau sam­pai bersumpah, jelas bahwa engkau memang bersungguh-sungguh dan tidak berdusta. Oleh karena itu ulurkanlah tanganmu….!”

Imam Ali r.a. segera mengulurkan tangan, kemudian ditarik oleh Khalifah Utsman r.a. dan dilekatkan pada dadanya.[4]

Bagaimanakah keadaan Abu Dzar Al Ghifari di tempat pembu­angannya? Tidak lain..Ia mati kelaparan bersama isteri dan anak-anaknya. Ia wafat dalam keadaan sangat menyedihkan, sehingga batu pun bisa turut menangis sedih!

Menurut riwayat tentang penderitaannya dan kesengsaraan­nya di tempat pembuangan, dituturkan sebagai berikut:

Setelah ditinggal mati oleh anak-anaknya, ia bersama isteri hidup sangat sengsara. Berhari-hari sebelum akhir hayatnya, ia bersama isteri tidak menemukan makanan sama sekali. Ia me­ngajak isterinya pergi ke sebuah bukit pasir untuk mencari tetum­buhan. Keberangkatan mereka berdua diiringi tiupan angin ken­cang menderu-deru. Setibanya di tempat tujuan mereka tidak me­nemukan apa pun juga. Abu Dzar sangat pilu. Ia menyeka cucuran keringat, padahal udara sangat dingin. Ketika isterinya melihat kepadanya, mata Abu Dzar kelihatan sudah membalik. Isterinya menangis, kemudian ditanya oleh Abu Dzar: “Mengapa engkau menangis?”

“Bagaimana aku tidak menangis,” jawab isterinya yang setia itu, “kalau menyaksikan engkau mati di tengah padang pasir seluas ini? Sedangkan aku tidak mempunyai baju yang cukup untuk dijadikan kain kafan bagimu dan bagiku! Bagaimana pun juga akulah yang akan mengurus pemakamanmu!”

Betapa hancurnya hati Abu Dzar melihat keadaan isterinya. Dengan perasaan amat sedih ia berkata: “Cobalah lihat ke jalan di ­gurun pasir itu, barangkali ada seorang dari kaum muslimin yang lewat!”

“Bagaimana mungkin?” jawab isterinya. “Rombongan haji sudah lewat dan jalan itu sekarang sudah lenyap!”

“Pergilah kesana, nanti engkau akan melihat,” kata Abu Dzar menirukan beberapa perkataan yang dahulu pernah diucapkan oleh Rasul Allah s.a.w. “Jika engkau melihat ada orang lewat, berarti Allah telah menenteramkan hatimu dari perasaan tersiksa. Tetapi jika engkau tidak melihat seorang pun, tutup sajalah muka­ku dengan baju dan letakkan aku di tengah jalan. Bila kaulihat ada seorang lewat, katakan kepadanya: Inilah Abu Dzar, sahabat Rasul Allah. Ia sudah hampir menemui ajal untuk menghadap Allah, Tuhannya. Bantulah aku mengurusnya!”

Dengan tergopoh-gopoh isterinya berangkat sekali lagi ke bukit pasir. Setelah melihat ke sana-ke mari dan tidak menemukan apa pun juga, ia kembali menjenguk suaminya. Di saat ia sedang mengarahkan pandangan mata ke ufuk timur nan jauh di sana, tiba-tiba melihat bayang-bayang kafilah lewat, tampak benda-­benda muatan bergerak-gerak di punggung unta. Cepat-cepat isteri Abu Dzar melambai-lambaikan baju memberi tanda. Dari ke­jauhan rombongan kafilah itu melihat, lalu menuju ke arah isteri Abu Dzar berdiri. Akhirnya mereka tiba di dekatnya, kemudian bertanya: “Hai wanita hamba Allah, mengapa engkau di sini?”

“Apakah kalian orang muslimin?” isteri Abu Dzar balik ber­tanya. “Bisakah kalian menolong kami dengan kain kafan?”

“Siapa dia?” mereka bertanya sambil menoleh kepada Abu Dzar.

“Abu Dzar Al-Ghifari!” jawab wanita tua itu.

Mereka saling bertanya di antara sesama teman. Pada mula­nya mereka tidak percaya, bahwa seorang sahabat Nabi yang mulia itu mati di gurun sahara seorang diri. “Sahabat Rasul Allah?” tanya mereka untuk memperoleh kepastian.

“Ya, benar!” sahut isteri Abu Dzar.

Dengan serentak mereka berkata: “Ya Allah…! Dengan ini Allah memberi kehormatan kepada kita!”

Mereka meletakkan cambuk untanya masing-masing, lalu segera menghampiri Abu Dzar. Orangtua yang sudah dalam ke­adaan payah itu menatapkan pendangannya yang kabur kepada orang-orang yang mengerumuninya. Dengan suara lirih ia berkata:

“Demi Allah…, aku tidak berdusta…, seandainya aku mempunyai baju bakal kain kafan untuk membungkus jenazahku dan jenazah isteriku, aku tidak akan minta dibungkus selain de­ngan bajuku sendiri atau baju isteriku…..Aku minta kepada kalian, jangan ada seorang pun dari kalian yang memberi kain kafan ke­padaku, jika ia seorang penguasa atau pegawai.”

Mendengar pesan Abu Dzar itu mereka kebingungan dan saling pandang-memandang. Di antara mereka ternyata ada seorang muslim dari kaum Anshar. Ia menjawab: “Hai paman, akulah yang akan membungkus jenazahmu dengan bajuku sendiri yang kubeli dengan uang hasil jerih-payahku. Aku mempunyai dua lembar kain yang telah ditenun oleh ibuku sendiri untuk kupergunakan sebagai pakaian ihram…”

“Engkaukah yang akan membungkus jenazahku? Kainmu itu sungguh suci dan halal….!” Sahut Abu Dzar.

Sambil mengucapkan kata-kata itu Abu Dzar kelihatan lega dan tentram. Tak lama kemudian ia memejamkan mata, lalu secara perlahan-lahan menghembuskan nafas terakhir dalam ke­adaan tenang berserah diri ke hadirat Allah s.w.t. Awan di langit berarak-arak tebal teriring tiupan angin gurun sahara yang amat kencang menghempaskan pasir dan debu ke semua penjuru. Saat itu Rabadzah seolah-olah berubah menjadi samudera luas yang sedang dilanda tofan.

Selesai di makamkan, orang dari Anshar itu berdiri di atas kuburan Abu Dzar sambil berdoa: “Ya Allah, inilah Abu Dzar sahabat Rasul Allah s.a.w., hamba-Mu yang selalu bersembah sujud kepada-Mu, berjuang demi keagungan-Mu melawan kaum musyri­kin, tidak pernah merusak atau mengubah agama-Mu. Ia melihat kemungkaran lalu berusaha memperbaiki keadaan dengan lidah dan hatinya, sampai akhirnya ia dibuang, disengsarakan dan di hinakan sekarang ia mati dalam keadaan terpencil. Ya Allah, hancurkanlah orang yang menyengsarakan dan yang membuang­nya jauh dari tempat kediamannya dan dari tempat suci Rasul Allah!”

Mereka mengangkat tangan bersama-sama sambil mengucap­kan “Aamiin” dengan khusyu’.

Orang mulia yang bernama Abu Dzar Al-Ghifari telah wafat, semasa hidupnya ia pernah berkata: “Kebenaran tidak meninggal­kan pembela bagiku…”

Bersambung..

https://tausyah.wordpress.com

Pencarian Makna HidupA. Firman Allah dalam Surah Al Maidah ayat 17, bahwa dihukumkan kafir bagi barang siapa yang beranggapan bahwa Al Masih ibnu Maryam adalah Allah.

B. Firman Allah dalam Surah An Nisa’ ayat 157, bahwa sesungguhnya Nabi Isa tidak dibunuh dan tidak disalib, maka berarti anggapan mereka terhadap Isa adalah bukan atas dasar ilmu, tetapi hanya berdasarkan dhon [duga-duga].

C. Firman Allah dalam Surah At Taubah ayat 30, bahwa orang-orang Yahudi dan Nashrani telah mengikuti jejak yang sesat, yaitu beranggapan bahwa Uzair dan Isa itu adalah anak Allah; Hal tersebut merupakan bukti tentang kepercayaan mereka yang hanya berdasarkan “legenda / mythos” dari kepercayaan kuno.

D. Firman Allah dalam Surah An Nisa ayat 171, bahwa Kaum Ahli Kitab benar-benar dalam kesesatan karena pernyataan mereka Tuhan itu Tiga”, sehingga bertambah jelas tentang kepalsuan mereka, padahal Allah telah tetapkan bahwa Al Masih ibnu Maryam adalah “Utusan Allah”.

Analisa dan Pembahasan
Dalil dari ayat-ayat tersebut memberikan gambaran yang cukup jelas, bahwa Ahli Kitab telah merubah Di-nullah menjadi Agama dari hasil imajinasi mereka berdasarkan legenda/mythos, sehingga Bani Israil dinyatakan sebagai kaum yang mendustakan kepada sebagian Utusan Allah dan sebagian lagi mereka bunuh [qa70s5=al maidah]; Pembuktiannya antara lain sebagai berikut:

1. Dalam “Hinduisme”, terdapat kepercayaan tentang “Trimurti” atau Sang Bathara Tri, yaitu mempercayai tentang Tuhan beroknum tiga, yaitu:

a. “Brahma” sebagai Allah Bapak dan sebagai pencipta yang berarti oknum pertama.

b. “Wisynu” sebagai pelindung ummat manusia dan menjelmakan dirinya menjadi manusia, yang berarti oknum kedua.

c. “Syiwa” [:Nara] sebagai prinsip, dasar untuk menguraikan dan memberi keterangan dan dapat kembali sesering mungkin; Maka inilah yang dianggap sebagai ruhul kudus.

2. Dalam “Agama Kristen”, tuhan mempunyai Oknum Tiga, yaitu:

a. “Allah Bapak”, sebagai oknum pertama, dalam bhs.Latin: Pater, dalam bhs.Inggris: Father bhs.Belanda: Vader, bhs.Jerman: Vater.

b. “Anak” yang diartikan Tuhan, sebagai oknum kedua, dalam bhs. Inggris: Lord, bhs. Belanda: Heer.

c. “Ruhul Kudus”, sebagai oknum ketiga, yaitu perpaduan antara Bapak sebagai Pencipta dan Anak sebagai juru selamat [: redeemer].

Ketiga oknum tersebut dikenal dengan istilah “Trinitas”, dalam bhs. Inggris: Trinity, dalam bhs. Belanda: Drieeenheid, dalam bhs. Jerman: Dreieinigkeit, dalam bhs. Indonesia: Tritunggal.

Dengan demikian maka terjadi kejanggalan yang tidak dapat disangkal, bahwa Kitab Injil telah dimasuki oleh unsur-unsur Yunani [Gerika] yang mempunyai hubungan erat dengan Hindu. Maka “Hindu” sebagai sumber puisi, sumber mythos, sumber dongeng, dengan falsafahnya yang pessimistis telah mempengaruhi “Ahli-ahli fikir besar” antara lain Wolfgang von Goethe, Arthur Schopenhauer, Socrates, Plato, Aristoteles, Montesqoueue dan lain-lain.-

Selanjutnya pembuktian tentang keberadaan “Atharva-Veda dengan Perjanjian Baru [Injil]” secara ringkas adalah sebagai berikut:

1. Suatu Mythos dalam Atharva-Veda, terjadi pada 3000 thn sebelum Masehi, Raja Kansa yang berkuasa di negeri Madura, pada suatu malam di waktu Kansa tak dapat tidur dan sedang berdiri di teras istananya, dia melihat “bintang bergerak” dan sinarnya jatuh ke bumi. Maka dia memanggil Brahmana-Brahmana [para pendeta Hindu] dan menyuruh untuk menyaksikan bintang bergerak tersebut dan kemudian agar menceritakan kebenaran. Maka para Brahmana menceritakan bahwa akan turun Tuhan kedalam tubuh seseorang yang sedang dikandung oleh Devanaki [anak Parvady saudara perempuan Raja Kansa], Anak yang dikandung itu yang akan menjadi tuhan di dunia dan sebagai raja dunia.

2. Dalam Injil Matius 2:2-10, tentang orang-orang Majusi yang datang ke Jerusalem menanyakan tentang raja orang Yahudi yang baru lahir, dan mereka akan menyembahnya karena mereka melihat bintangnya di sebelah timur yang berjalan dan berhenti di atas tempat kelahiran Jesus.

3. Begitu pula Budha sebagai reinkarnasi tuhan yang lahir tahun 547 sebelum Masehi. Pada waktu Budha wafat berumur 80 tahun, maka terjadi gempa bumi, meteor jatuh, gerhana matahari, dan guntur bersaut-sautan atau langit bergemuruh.

4. Dalam Injil Matius 27:51, kemudian Lukas 23:44-45; Maksudnya secara ringkas bahwa pada saat Jesus wafat tiba-tiba tirai di Bait Allah koyak (robek) terbelah dua, bumi gempa, dan batu-batu gunung terbelah-belah.

Kemudian kira-kira pukul duabelas tengah hari gelap gulita hingga pukul tiga petang, cahaya matahari menghilang.

Dengan perbandingan yang beralasan tersebut, maka berarti bahwa “Perjanjian Baru” [Injil] merupakan suatu agama yang baru berdiri dan berasal dari agama Krisyna yang lama. Dengan demikian berarti bahwa agama Kristen telah membiarkan dirinya diinfiltril oleh Hinduisme. Maka sejarah Injil yang menurut Islam sebagai Dinullah yang diamanatkan Allah atas Jesus [Isa] telah mengalami kekeruhan baik penulis-penulisnya maupun muktamar-muktamarnya dan sebagainya. Kebenaran Dinullah yang murni telah ditekan oleh kaum fanatisme membuat kepercayaan tanpa akal dan fikiran sehat, mengadakan pemotongan-pemotongan dan penjiplakan agama serta pemutar balikan kebenaran, sehingga lantaran itu bermunculanlah syaithon-syaithon yang berkedok agama, sebagai contoh antara lain “Paulus”. Dan ini menimbulkan anggapan bahwa “seolah-olah Paulus sebagai Pendiri Agama Kristen”. [Anggapan tersebut dapat anda baca dalam Encyclopedia Britannica jilid 17 hal.393].-

Paulus sebagai orang yang telah berjasa besar dalam pengembaraannya “meletakkan bagan-bagan agama Kristen yang berantagonisme, yang berlawanan dengan ajaran Isa Al Masih kepada kaum kafir”, karena dia mempunyai pengetahuan yang luas tentang mythologi, dongeng-dongeng tentang “Anak Tuhan” yang turun untuk menebus dosa manusia dengan darahnya, antara lain tentang Dionysus, Krisyna, Mithra, Osiris, Attis, Horus, Apollo, Hercules dan lain-lain tentang Anak Tuhan dari Bapak.

Inilah gambaran Paulus “si Orang Picik”, ibarat Ulama’ Su’, karena hanya merasakan ad-Din itu dan tidak pernah memikirkannya, maka akan merendahkan kemuliaan ad-Din itu sesuai dengan kepicikannya, sehingga Ad-Din berubah menjadi agama.- Dia telah menjadikan Jesus sebagai “kambing hitam” [Scapegoat / Ziindebok].-

Di dalam “The Uses of the Past” hal.80. Prof.Muller menyebutkan [dalam terjemahan]: “Tentunya standar-standar ilmiyah dari suatu Kebenaran bukan satu-satunya ukuran, namun standar-standar ini adalah penting untuk mencapai kebenaran yang sesuai dengan pembacaan, fakta dan histori. Orang Kristen tidak mengusahakan untuk memecahkan apakah Jesus anak Tuhan atau bukan. Mereka hanya memperbincangkan apa yang dikatakannya atau “diperbuatnya” melalui tulisan-tulisan yang tidak pasti”.

Seorang ahli Injil dari Alexandria bernama “Arius” pada thn.325 sesudah Masehi telah menunjukkan buah fikiran yang lebih logis, yaitu dia mengatakan bahwa Tuhan itu Esa, sedangkan Jesus hanya diciptakan Tuhan dari tidak ada, yang mempunyai zat yang berlainan dengan Zat Tuhan [:heteroousios], tetapi akhirnya dia harus dibuang ke Allyria, karena tidak mau menanda tangani “Syahadat” yang telah dipaksakan oleh kaisar Konstantin.-

Begitu juga seorang reformator Kristen, yaitu Marthin Luther, yang mendirikan Protestan, yang merasa kebingungan, sehingga dia tidak habis-habisnya mengeluhkan tentang keberadaan Jesus, sehingga dia membuat surat kepada orang-orang Kristen di Anwerpen menyampaikan isi hatinya tentang kebingungannya terhadap keberadaan Jesus sebagai tuhan atau bukan.-

Pandangan sekilas tentang “Syahadat Keristen”

Pada tahun 325 sesudah Masehi, Kaisar Konstantin, kaisar Roma [272-337], mengumpulkan uskup-uskup berjumlah 2048 orang [-dalam Encyclopedia lain ada tertulis 2000 uskup-] di kota Nikea untuk melangsungkan Muktamar. Kemudian di antara jumlah yang sebanyak itu ternyata yang dibolehkan mengikuti sidang hanya sebanyak 318 orang oleh kaisar. Dalam mengamati orang-orang yang mengikuti sidang itu maka seorang Uskup dari Heraclea bernama “Sabinus” memberikan penilaian terhadap mereka bahwa “Kecuali Konstantin sendiri dan Eusebius Pamphilius, mereka adalah makhluq-makhluq sederhana yang buta huruf yang tak mengetahui apa-apa” [dapat dibaca Herold Sherman dalam “You live after death” hal.112].

Di dalam sidang tersebut hanya “Arius” berasal dari Alexandria seperti “Athanasius”, tetapi Arius bertentangan pendapat dengan Athanasius yang berpendapat bahwa Jesus adalah anak yang sama zat dengan Tuhan.

Maka Arius dengan pengikut-pengikutnya “tidak mau menanda tangani syahadat” yang dipaksakan oleh Konstantin dengan diputuskannya sebagai wahyu Ruhul kudus, dan akhirnya Arius dan pengikutnya “dibuang ke Illyria”.

Kemudian Athanasius dengan dibantu oleh para uskup dari Barat [:Gerika] dan kaisar Konstantin yang menginginkan perdamaian, telah menetapkan dengan suatu keputusan “yang menjadi Syahadat Kristen”, yaitu sebagai berikut:

“We believe in the God, the Father the Father Almighty, Maker of all things, visible and invisible; and in one Lord Jesus Christ the only begotten Son of God, begotten of the Father [that is of the essence of the Father], before all worlds, God of God, Light of Light, God of very God, begotten not made, being one substance [homoousios] with the Father”.-

[=Kami percaya pada Tuhan, Bapak, Bapak Maha Kuasa, Pencipta semua benda, yang kelihatan dan yang tidak; dan kepada satu Tuhan [Lord] Jesus Kristus, Anak lelaki Tunggal dari Tuhan, anak kelahiran dari Bapak [yaitu dari sari (zat) dari Bapak] sebelum seluruh alam, Tuhan dari Tuhan, Cahaya dari Cahaya, Tuhan dari Tuhan yang sesungguhnya, dilahirkan [dari Tuhan] dan bukan dicipta [oleh Tuhan], adalah satu zat dengan Bapak…….dst=].-

Kemudian tentang penetapan “Hari Lahir dan Hari Sembahyang atau Hari Besar”, bahwa dalam menetapkan Hari Lahir Jesus, gereja-gereja Barat telah memilih tanggal 25 Desember, yang sebenarnya adalah hari tradisi orang-orang kafir untuk hari pesta yang dianggap sebagai hari suci untuk “tuhan Matahari”. Raja Konstantin telah mengeluarkan dekrit pada tahun 321 sesudah Masehi, yang menetapkan hari pesta umum pada “Hari Minggu” sebagai pengganti hari Sabbat Yahudi, karena dia benci Yahudi dengan segala yang bersangkutan dengannya, dengan berkata: “Hari ini dianggap Hari permulaan sembahyang, namun hari dari Matahari adalah tuhan kami”. Inilah yang ditetapkan oleh gereja-gereja Barat dengan tanpa mengetahui bahwa hari itu adalah hari penyembahan terhadap Matahari oleh orang-orang kafir [pagan].-

Adapun permasalahan tersebut perlu diketahui oleh Ummat Muslim karena mengingat bahwa Al Qur-an telah menjelaskan secara gamblang tentang kedudukan Nabi Isa [Jesus] sebagai Rasulullah yang wajib dihormati dan dijunjung tinggi akan Kebenarannya, dan Nabi Isa sebagai pembawa Risalah Dinullah yaitu Kitab Injil dari Allah. Oleh karena itu hal tersebut sebagai penambah wawasan, agar dapat diketahui tentang apa dan bagaimana motivasinya, sehingga menetapkan “Kalimah Syahadat” setelah 325 tahun wafatnya Nabi Isa.

Bukankah masalah Syahadat itu wajib diajarkan oleh para Rasulullah yang bersangkutan, dan bukan dikeluarkan oleh manusia yang tidak ada hubungannya dengan kerasulan dari Allah ?.-

(oleh : Ust Muh Bardan Kindarto/MMI)

https://tausyah.wordpress.com