Arsip untuk 1 Agustus 2010

Islamic Dua Wallpapers 1b

Pada hari-hari terakhir hayatnya Rasul Allah s.a.w., Imam Ali r.a. telah sampai pada puncak kematangannya, baik secara fisik, mental maupun pemikiran. Ketaqwaan dan imannya yang kuat telah teruji dalam pengalaman membela kebenaran Allah dan Rasul-Nya. Ilmu-ilmu Ilahiyah yang diterimanya langsung dari Nabi Muhammad s.a.w. telah cukup untuk menghadapi dan menanggulangi berbagai problem yang akan muncul di kalangan umat Islam. Tentang hal itu Nabi Muhammad s.a.w. sendiri telah menegaskan: “Aku ini adalah kotanya ilmu, sedang Ali adalah pintunya.”

Penegasan Nabi Muhammad s.a.w. tentang kecerdasan dan kematangan fikiran Imam Ali r.a. kiranya cukup menjadi ukuran sejauh mana ilmu-ilmu pengetahuan yang telah dituangkan beliau kepada putera pamannya itu.

Pandangan Nubuwwah

Adalah wajar bila Rasul Allah s.a.w. bangga mempunyai seorang keluarga yang telah dibekali syarat-syarat untuk dapat meneruskan kepemimpinannya atas kaum muslimin. Berkat ketajaman pandangan nubuwwahnya, Nabi Muhammad s.a.w. telah melihat akan terjadinya hal-hal yang tidak menggembirakan sepeninggal beliau di masa mendatang.

Mengenai hal yang terakhir ini, Ibnu Abil Hadid dalam buku­nya Syarh Nahjil Balaghah, jilid X halaman 182-183 mengata­kan: “Pada malam hari setelah mempersiapkan pasukan untuk menghadapi rongrongan Romawi di Balqa –di bawah pimpinan Usamah bin ZaidNabi Muhammad s.a.w. berziarah ke makam Buqai’. Setibanya di makam itu beliau mengucapkan: ‘Assalamu ‘alaikum, ya ahlal-qubur’. Semoga tempat di mana kalian berada ini lebih tenang daripada yang akan dialami oleh orang-orang yang masih hidup. Suatu malapetaka bakal terjadi seperti datangnya malam yang gelap-gulita dari permulaan sampai akhir.

Setelah memohon pengampunan bagi para ahlil-qubur, beliau memberitahu para sahabat: “Biasanya Jibril menghadapkan Al Qur’an kepadaku tiap tahun satu kali, tetapi tahun ini menghadap­kan kepadaku sampai dua kali, kukira itu karena ajalku sudah de­kat.”

Keesokan harinya Rasul Allah s.a.w. mengucapkan khutbah di hadapan jema’ah para sahabat. Beliau berkata: ” Hai orang-­orang, sudah tiba saatnya aku akan pergi dari tengah-tengah kalian. Barang siapa mempunyai titipan padaku hendaknya datang kepadaku untuk kuserahkan kembali kepadanya. Barang siapa mempunyai penagihan kepadaku hendaknya ia datang untuk segera kulunasi. Hai orang-orang, antara Allah dan seorang hamba, tidak ada keturunan atau urusan apa pun yang dapat mendatang­kan kebajikan atau menolak keburukan, selain amal perbuatan. Janganlah ada orang yang mengaku-aku dan janganlah ada orang yang mengharap-harap. Demi Allah yang mengutusku membawa kebenaran, tidak ada apa pun yang dapat menyelamatkan selain amal perbuatan disertai cinta-kasih. Seandainya aku berbuat dur­haka aku pun pasti tergelincir. Ya Allah …, amanat-Mu telah ku­sampaikan!”

Dari ucapan-ucapan Rasul Allah s.a.w. malam hari di makam Buqai’ dan dari khutbah beliau yang diucapkan keesokan harinya, jelaslah bagi kaum muslimin kesukaran-kesukaran yang bakal dihadapi sepeninggal Rasul Allah s.a.w. Kesukaran-kesukaran yang hanya dapat ditanggulangi dengan amal perbuatan yang disertai cinta-kasih, sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Secara tidak langsung pun beliau memperingatkan, bahwa barang siapa berbuat durhaka, ia pasti akan tergelincir ke jalan yang tidak diridhoi Allah s.w.t.

Jatuh sakit

Canang dan peringatan Rasul Allah s.a.w. kepada ummatnya itu diucapkan di kala kaum muslimin di seluruh jazirah Arab sudah dalam keadaan mantap. Hanya dalam waktu 10 tahun, jazirah yang seluas itu telah bernaung di bawah kibaran panji-panji agama Allah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, jazirah yang di­huni oleh qabilah-qabilah, suku-suku dan puak-puak yang saling bertentangan, bersaingan dan bercerai-berai itu, kini telah berhasil dipersatukan dalam satu agama, satu aqidah dan satu pimpinan. Agama Islam aqidahnya ialah tauhid dan pimpinannya ialah Rasul Allah s.a.w.

Atas kehendak Allah s.w.t. dan rakhmat-Nya serta berkat ke­bijaksanaan Rasul-Nya, perjuangan mengakhiri paganisme (agama keberhalaan) telah mencapai prestasi yang luar biasa besarnya. Missi suci menyebarkan agama Islam, praktis telah diselesaikan dengan sukses oleh Nabi Muhammad s.a.w.

Sekembalinya dari ibadah haji wada’, Rasul Allah s.a.w. mengangkat Usamah bin Zaid bin Haritsah sebagai panglima pa­sukan muslimin untuk menghadapi rongrongan Romawi di Balqa, sebelah utara jazirah Arab. Pengangkatan Usamah yang baru beru­sia 22 tahun itu, menimbulkan kekhawatiran di kalangan para sahabat terkemuka. Sebab, selain Usamah masih terdapat pang­lima-panglima yang telah banyak makan garam peperangan dan pantas untuk jabatan itu. Namun Rasul Allah s.a.w. tetap ber­pegang teguh pada kebijaksanaan yang telah ditetapkan.

Secara psikologis pengangkatan Usamah bin Zaid adalah tepat. Ia seorang tokoh muda yang cerdas dan penuh inisiatif. Lagi pula ayahnya, Zaid bin Haritsah, bukan nama yang kecil dalam jajaran pahlawan-pahlawan Islam. Ia gugur di Mu’tah sebagai pah­lawan syahid dalam pertempuran melawan pasukan Romawi. Ka­rena itu diharapkan Usamah akan mendapat kesempatan baik un­tuk menuntut balas atas kematian ayahnya.

Pada waktu Usamah bin Zaid dan pasukannya yang besar itu sudah dalam keadaan siaga, tiba-tiba Rasul Allah s.a.w. jatuh sakit. Baru kali ini beliau mengeluh tentang penyakitnya. Beliau menderita penyakit demam tinggi. Tubuh yang selama hayatnya diabdikan kepada perjuangan di jalan Allah s.w.t., kini tiba-tiba hampir tak bertenaga. Kaum muslimin sangat resah melihat pe­nyakit beliau yang tampak gawat.

Meskipun demikian, banyak juga para sahabat yang tidak percaya, bahwa jasmani seorang manusia utusan Allah yang kekar dan kuat itu bisa dibuat tidak berdaya oleh penyakit. Lebih-lebih karena di masa sakit itu, beliau masih sibuk mengatasi keresah­an fikiran sementara sahabat yang kurang bisa menerima peng­angkatan Usamah.

Mengenai Usamah ini, Nabi Muhammad s.a.w. cukup tegas. Putusan yang telah beliau ambil tak dapat ditawar-tawar lagi. Usamah beliau perintahkan agar bertindak sebagai pemimpin eks­pedisi ke utara. Ketetapan yang beliau ambil itu besar artinya bagi kaum muda. Muhammad Husein Haikal dalam bukunya “Hayat Muhammad” tentang hal itu mengatakan: “Timbul ke­yakinan di kalangan kaum muda bahwa mereka pun mampu mengemban tugas berat. Kebijaksanaan beliau itu juga merupakan pendidikan bagi mereka agar membiasakan diri memikul beban tanggung jawab yang besar dan berat.”

Makin hari penyakit yang diderita-Rasul Allah s.a.w. makin gawat. Semula beliau tetap berusaha agar dapat melaksanakan tugas sehari-hari, seperti mengimami shalat jama’ah. Akan tetapi ketika dirasa penyakitnya bertambah berat, beliau memerintahkan Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. menggantikan beliau melaksanakan tugas yang amat mulia itu. Perintah Nabi Muhammad s.a.w. ke­pada Abu Bakar Ash Shiddiq ra. itulah yang kemudian diarti­kan orang sebagai petunjuk, bahwa Abu Bakar r.a. adalah orang yang layak menduduki kepemimpinan ummat Islam sepeninggal Rasul Allah s.a.w.

Wasiyat

Dalam keadaan menderita sakit yang sedang gawat-gawatnya, Rasul Allah s.a.w. menyampaikan pesan kepada para sahabatnya kaum Muhajirin, agar memelihara persaudaraan dan menjaga hu­bungan baik dengan kaum Anshar. “Mereka itu”, yakni kaum Anshar, kata Nabi Muhammad s.a.w., “adalah orang-orang tempat aku menyimpan rahasiaku dan yang telah memberi perlindungan kepadaku. Hendaknya kalian berbuat baik atas kebaikan mereka itu dan memaafkan mereka bila ada yang berbuat salah.”

Imam Al Bukhari dalam shahihnya mengetengahkan sebuah hadits, dengan sanad Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah dan be­rasal dari Ibnu Abbas, bahwa ketika Rasul Allah s.a.w. sedang mendekati ajal, berkata kepada para sahabat yang berada di sekelilingnya. Di antara mereka itu terdapat Umar Ibnul Khattab r.a. Nabi Muhammad s.a.w. berkata:

“Marilah…, akan kutuliskan untuk kalian[1] suatu kitab (secarik surat wasyiat) dengan mana kalian tidak akan sesat se­peninggalku.”

Mendengar itu Umar bin Ibnul Khattab r.a. berkata kepa­da sahabat-sahabat lainnya: “Nabi dalam keadaan sangat payah dan kalian telah mempunyai Al-Qur’an. Cukuplah Kitab Allah itu bagi kita.”

Menanggapi perkataan Umar r.a. itu para sahabat berselisih pendapat. Ada yang minta supaya segera disediakan alat tulis agar Rasul Allah s.a.w. menuliskan wasiyatnya yang terakhir. Ada pula yang sependapat dengan Umar r.a. Terjadilah pertengkaran mulut, sehingga Rasul Allah s.a.w. akhirnya menghardik: “Nyahlah kalian!”

Hadits itu tidak perlu lagi dipersoalkan kebenarannya. Sebab Al-Bukhari sendiri meriwayatkan hadits tersebut di berbagai tem­pat dalam Shaihnya. Juga Muslim dalam Shahihnya pada bagian “Wasiyat terakhir” meriwayatkan hadits tersebut dari Sa’ad bin Zubair yang berasal dari Ibnu Abbas pula.

At-Thabrani dalam “Al-Ausath” mengemukakan: “Pada waktu Rasul Allah s.a.w. menghadapi ajal, beliau berkata: “Bawa­lah kepadaku lembaran dan tinta. Akan kutuliskan untuk kalian yang dengan itu kalian tidak akan sesat selama-lamanya.”

Mendengar ucapan Nabi Muhammd s.a.w. itu, para wa­nita yang menunggu di belakang tabir (hijab) berkata kepada para sahabat Nabi yang berada di tempat itu: “Tidakkah kalian mendengar apa yang dikatakan oleh Rasul Allah ?”

Umar Ibnul Khattab r.a. segera menyahut: “Kukatakan, ka­lian itu sama dengan wanita-wanita yang mengelilingi Nabi Yusuf. Jika Rasul Allah sakit kalian mencucurkan air mata dan jika beliau sehat kalian menunggangi lehernya!”

Mendengar ucapan Umar r.a. itu Rasul Allah s.a.w. kemudian berkata mengingatkan: “Biarkan mereka itu, mereka itu lebih baik daripada kalian.”

Hadist yang diketengahkan oleh At-Thabrani itu terdapat dalam “Kanzul ‘Ummal”, jilid III, hlm 138.

Penyakit Rasul Allah s.a.w. mencapai puncaknya ketika beliau berada di kediaman Sitti Maimunah r.a., salah seorang isteri beliau. Atas kesepakatan semua isterinya beliau meminta supaya dibawa ke tempat kediaman Sitti Aisyah r.a. Dengan berikat kepa­la, beliau keluar dan berjalan sambil bertopang pada Imam Ali r.a. dan pamannya, Abbas. Beliau tiba di tempat kediaman Sitti Aisyah r.a. dalam keadaan lemah sekali.

Beberapa hari kemudian, di saat banyak orang sedang me­nunaikan shalat jama’ah yang diimami oleh Abu Bakar r.a., ti­ba-tiba Nabi Muhammad s.a.w. muncul di tengah-tengah mereka dengan bertopang pada Imam Ali r.a. serta Al Fadhl bin Abbas. Shalat subuh berjama’ah itu hampir saja tertunda karena hal yang mengejutkan itu. Hal itu tak sampai terjadi, karena Rasul Allah s.a.w. memerintahkan supaya shalat dilanjutkan.

Abu Bakar r.a. sendiri merasa rikuh, berniat mundur dan hendak menyerahkan imam shalat kepada beliau, tetapi Nabi Muhammad s.a.w. mendorongnya dari belakang sambil berucap setengah berbisik: “Teruskan mengimami shalat”. Beliau kemudi­an mengambil tempat di samping kanan Abu Bakar r.a. dan me­nunaikan shalat sambil duduk.

Seusai shalat Nabi Muhammad s.a.w. berbalik menghadap kebelakang dan bertatap-muka dengan jama’ah yang memenuhi masjid. Semua bergembira melihat Rasul Allah s.a.w. berangsur sehat. Lebih tertegun lagi tatkala beliau berkata: ” Hai kaum mus­limin, api neraka sudah bertiup dan fitnahpun akan datang seperti malam gelap-gulita. Demi Allah, aku tidak akan menghalalkan sesuatu selain yang dihalalkan oleh Al Qur’an. Aku pun tidak akan mengharamkan sesuatu selain yang diharamkan oleh Al Qur’an. Terkutuklah orang yang menggunakan pekuburan sebagai tempat bersujud (Masjid).”

Kesehatan Rasul Allah s.a.w. yang secara tiba-tiba tampak pulih kembali dengan cepat tersiar luas dan disambut gembira sekali oleh seluruh kaum muslimin. Usamah bin Zaid, yang se­mula sudah siap untuk membubarkan pasukan, karena Rasul Allah s.a.w. sakit keras, kemudian menghadap beliau untuk minta izin menggerakkan pasukannya ke Syam. Bahkan Abu Bakar r.a. sendiri pun yakin benar bahwa beliau sudah bisa kemba­li menjalankan tugas sehari-hari. Begitu pula Umar Ibnul Khattab r.a. dan para sahabat dekat lainnya, sekarang sudah beranjak me­ninggalkan masjid guna menyelesaikan keperluan masing-masing.

bersambung..

Disadur dari buku :

Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a.
Oleh H.M.H. Al Hamid Al Husaini
Penerbit: Lembaga Penyelidikan Islam

https://tausyah.wordpress.com

BUKU THE BIBLE CODE diterbitkan pertengahan 1997 dan ditulis oleh Michael Drosnin, wartawan berbangsa Yahudi yang terpengaruh oleh penyelidikan dua ahli matematika Israel bernama Eliyahu Rips dan Doron Witztum, kemudian mengembangkannya dan menyimpulkan bahwa Alkitab khususnya Kitab Torat Musa mengandung kata-kata sandi yang meramalkan banyak kejadian pada masakini dan akhir zaman.

Buku ini langsung menjadi best seller karena dibahas dalam wawancara CNN dengan penulisnya Drosnin (4 Juni 1997), dan disebar luaskan beritanya oleh majalah Time (9 Juni 1997) dan Newsweek (16 Juni 1997). Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Anton Adiwiyoto dengan editor Dr. Lyndon Saputra dan diterbitkan oleh Professional Books, Jakarta.

Di awal tahun 1990-an Eliyahu Rips dan Doron Witzum, dua orang ahli matematika Universitas Ibrani di Israel, mengembangkan tehnik yang disebut ‘equidistant letter sequence’ (ELS), caranya, ayat-ayat Torat disambung dengan menghilangkan jarak yang ada di antara kata sehingga dihasilkan deretan huruf-huruf yang panjang.

Kemudian dicari lompatan huruf-huruf yang berjarak sama dan dilihat kata apa yang ditemukan. Disebutkan bahwa Rips dan Witztum dengan bantuan komputer mencoba tehnik ELS ini dan menemukan bahwa dalam kitab Kejadian dapat ditemukan 34 nama rabi Yahudi yang lahir kemudian.

Tehnik ELS dan penemuan Rips dan kawan-kawan-nya itu, mendorong Drosnin mengembangkannya menyelidiki Kitab Torat (Lima Kitab Musa), dan mengeluarkan pernyataan bahwa ia menemukan banyak kata-kata sandi dalam Torat dan menyebutkan bahwa sandi kematian Yitzhak Rabin sudah ditemukan setahun sebelum Yitzhak Rabin terbunuh.

Ramalan lain juga ditemukan seperti tentang perdana menteri Benyamin Netanyahu, juga malapetaka yang ada di Oklahoma, Tokyo maupun Los Angeles. Tidak tanggung-tanggung buku itu juga menyebut bahwa dalam Pentateuch (kelima kitab Musa) bisa ditemukan sandi soal kematian Abraham Lincoln, Anwar Sadat, Gandhi maupun Kennedy, dan mengenai akhir zaman/kiamat.

Bila Rips dkk. menemukan nama-nama rabi yahudi modern melalui kumpulan huruf-huruf berjarak sama (ELS), misal-nya tiap 20, 30 atau 45 huruf, Drosnin mengembangkannya lebih lanjut dan menyebut bahwa dalam Alkitab disamping tehnik itu bisa dijumpai juga baris huruf-huruf baik yang sebaris, menyilang, ke kanan atau ke kiri, dan membentukkombinasi kata-kata sandi yang mempunyai arti dan menunjukkan kejadian-kejadian di masa depan.

Cara-nya, karena nama Yitzhak Rabin muncul dari lompatan 4.772 huruf, maka seluruh jumlah huruf Torat yang jumlahnya 304.805 huruf itu dibagi menjadi 64 baris terdiri dari 4.772 huruf. Di tengah matriks deretan huruf Ibrani itu terletak nama ‘Yitzhak Rabin’ secara vertikal dan yang di potong oleh deretan huruf horizontal berbunyi ‘pembunuh yang akan membunuh’ (hlm.26), kemudian, setelah terjadi pembunuhan oleh Amir, maka Drosnin mencari lagi dan mengatakan bahwa ia menemukan kata Amir (hlm.27). Kata-kata itu disimpulkan sebagai kata sandi yang telah diramalkan sebelumnya.

Pada prinsipnya, Drosnin menganggap bahwa (1) Kitab Torat sejak ditulis pertama kali oleh Musa sama persis huruf-demi-hurufnya dengan Torat Ibrani sekarang, dan (2) bahwa dengan tehnik ELS maupun mencari kata-kata yang berurutan ke arah apapun dapat ditemukan kata-kata sandi tentang masa depan dan akhir zaman. Benarkah argumentasi demikian?

Sebenarnya dari anggapan (1) seluruh tesis Michael Drosnin dalam bukunya sudah bisa digugurkan, sebab penyelidikan mengenai naskah-naskah Perjanjian Lama menunjukkan bahwa di dunia ini ada berbagai-bagai versi Alkitab Ibrani. Perjanjian Lama khususnya Torat semula diturunkan secara lisan dan diteruskan dari mulut ke mulut, dan setelah berkembangnya tehnik penulisan maka berita lisan itu ditulis dalam huruf Ibrani kuno dan sebagian juga dalam bahasa Aram kuno di atas perkamen kulit yang tidak awet.

Salinan-salinan itu tidak hanya ada satu tetapi banyak dan tidak semuanya identik sama huruf-demi-hurufnya mengingat bahwa kemudian berkembang beberapa tradisi penulisan, apalagi bahasa Ibrani yang berkembang bervariasi di kalangan suku-suku yang menurunkannya.

Di abad ke-XI-BC naskah-naskah tua Torat sudah terserak atau musnah dan hanya tertinggal salinan-salinannya. Perlu juga disadari bahwa da-lam proses penyusunan itu ada juga kitab-kitab Apocrypha yang kemudian ditolak masuk dalam kanon Ibrani MSS tetapi sebagian dimasukkan dalam terjemahan dalam bahasa Yunani Septuaginta (LXX, 280-150BC).

Alkitab Roma Katolik Vulgata dalam bahasa Latin menggunakan salinan LXX sebagai sumber dan yang kemudian digu-nakan dalam penerjemahan Alkitab Roma Katolik. Perjanjian Baru mengutip baik Massiret, Septuaginta maupun yang lain.

Kita harus sadar bahwa bahasa Ibranipun mengalami perkembangan sepanjang sejarahnya mengikuti jalur dialek seperti jalur Mishnah, Rabbi, abad Pertengahan dan Ibrani modern, dan selama ini bahasa Ibrani PL tidak memiliki huruf hidup (vokal) melainkan hanya huruf mati (konsonan).

Baru pada masa pemeliharaan keluarga Massoret (abad ADV-X) ditam-bahkan vokal. Sistem tulisan Ibrani semula banyak dipengaruhi abjad Punisia dan baru sekembalinya dari pembuangan di Babil (abad V-BC), Nehemia mengikuti pola Aram, dan selanjutnya pada masa Talmud (IIIBC-ADV) dihasilkan banyak se-kali salinan PL.

Ini diselingi penghancuran sebagian besar naskah-naskah PL oleh Siria pada masa pemberontakan Makabe (IIBC) dan juga pada masa Talmud, terjadi proses pemusnahan demi standarisasi, artinya salinan-salinan yang dianggap salah atau keliru dibanding naskah favorit dihancurkan.

Kemudian keluarga imam Massoret (ADV-X) memelihara salinan-salinan itu yang juga menghancurkan naskah yang tidak sama. Setidaknya pada masa Massoret ditemukan beberapa versi dalam bentuk kodeks (codex) seperti antara lain kodeks-kodeks Kairo (AD895), Leningrad kitab Nabi-Nabi (AD916), Alepo (AD930), British Museum (AD950), Leningrad (AD1008), dan Reuchlin kitab Nabi-Nabi (1105).

Harus disadari bahwa sekalipun mempunyai kesamaan isi, semua kodeks itu mempunyai variasi kata-kata dan huruf-huruf. Kodeks Leningrad sendiri yang paling lengkap memuat kitab-kitab PL juga disalin dari kodeks yang disiapkan oleh Rabi Aaron ben Moses ben Asher setelah dilakukan koreksi-koreksi perbaikan dan sudah diberi tanda-tanda vokal dan aksen.

Kita mengakui sekalipun tidak semua salinan berisi sama huruf demi huruf ada pemeliharaan Allah dan kita dapat menjumpai firman isinya yang mempunyai kebersamaan yang luar biasa. Kenyataan yang sama kita jumpai dalam teks Ibrani yang ditemukan di gua Qumran di Laut Mati (Dead Sea Scrolls). Naskah yang ditemukan dari tahun 1947-1956 memuat hampir seluruh PL kecuali kitab Esther berupa versi Ibrani kuno dari abad IIBC-ADII.

Text Qumran ini menarik sekali karena sekalipun ada beberapa perbedaan ejaan, bentuk gramatik, dan beberapa variasi kata-kata, dengan yang digunakan oleh kelompok Massoret yang ditulis 1000 tahun sesudahnya isi beritanya sama! Ini menunjukkan bahwa Alkitab terpelihara melalui waktu sejarah tetapi yang dipelihara bukan huruf-huruf dan kata-katanya tetapi isi beritanya.

Beberapa contoh perbedaan penting dalam hubungan dengan teks Torat /Pentatech antara versi LXX, Qumran (QUM) dan Massoret (MSS) dan kutipan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) adalah misalnya teks Ulg.32:8, Kel.1:5 dan Ulg.32:43.

Karena sudah terbukti bahwa kodeks yang dipakai Drosnin bukan satu-satunya melainkan hanya salah satu dari sekian banyak susunan huruf, maka tentu teka-teki silang Drosnin (2) jelas akan menghasilkan berbagai-bagai versi. Dan, kalau kita mau jujur bila ada satu huruf saja yang berbeda maka susunan kata-kata itu akan berubah apalagi kalau perbedaan itu mencakup beberapa persen.

Dan dengan cara Drosnin itu tidak sukar menemukan kata-kata sandi lainnya. Drosnin sendiri mengatakan bahwa kata Amir baru ditemukan dalam lompatan 9 huruf setelah diketahui bahwa Amirlah pembunuh Rabin karena ditemukan (hlm.27), padahal pada ilustrasi itu dapat dengan mudah ditemukan sedikitnya 10 kata yang berbunyi Libia yang lebih dekat dan berurutan huruf-hurufnya.

Apa arti kata ini, bukankah ini hanya sekedar penafsiran semua penafsir dan dicocok-cocokan? Kasus yang sama tentang pembunuhan Netanyahu (Bab-8, hlm.167dst) yang tidak benar kemudian dicari-cari kata dan ditemukan kata “ditunda”. Bila Netanyahu mati tentu kata ini tidak dicari!

Kita juga harus menyadari bahwa huruf bahasa Ibrani kuno tidak mempunyai huruf hidup (vokal) sehingga susunan huruf-huruf mati bisa mempunyai berbagai arti bila diisi vokal berbeda. Kita dapat menyimpulkan bahwa buku The Bible Code adalah buku yang tidak mengandung kebenaran dan merupakan salah satu buku yang tergolong “sensasi akhir zaman” yang tidak perlu dipercaya.

Eliyahu Rips pengguna pertama ELS dengan komputer mengatakan bahwa “Drosnin berada pada dasar yang tidak kuat, dan bukunya tidak mempunyai nilai apa-apa” (Newsweek, 16 Juni 1997).

Shlomo Sternberg, Rabbi Yahudi sekaligus profesor matematika Universitas Harvard mengatakan bahwa buku itu isinya “sepenuhnya omong kosong,” karena naskah Ibrani sekarang tidak sama huruf-demi-huruf dengan naskah asli yang sudah musnah dan banyak salinan-salinannya yang bervariasi (Time, 9 Juni 1997), demikian juga Rabbi Neil Gillman dari Jewish Theological Seminary di New York mengatakan bahwa “Pengakuan bahwa Tuhan menempatkan sandi-sandi rahasia dalam Torat adalah penyembahan berhala.” (Newsweek, 16 Juni 1997).

Sumber :
http://www.in-christ.net/yba/renungan/r9801_1.htm

https://tausyah.wordpress.com