Arsip untuk 22 Juni 2010

HAKIKAT BID’AH DAN KUFUR

TANYA JAWAB BERSAMA
AL-IMAM AL-MUHADDITS

MUHAMMAD NASHIRUDDIN AL-ALBANI RAHIMAHULLAHU

Dengan nama Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sholawat dan Salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya. Rekaman ini merupakan Silsilah Fatawa oleh Syaikh Nashiruddin al-Albani rahimahullahu yang direkam oleh Abu Laila al-Atsari pada 7 Sya’ban 1413 yang bertepatan dengan tanggal 31 Januari 1993. Syaikh Nashir diajukan beberapa pertanyaan penting oleh para pemuda dari Uni Emirat Arab (UEA), semoga dapat memberikan manfaat bagi umat.

Penanya :

Apa pendapat Anda, wahai syaikh, tentang orang-orang yang tidak memperbolehkan tarahum [1] kepada orang-orang yang menyelisihi i’tiqod salaf, seperti an-Nawawi, Ibnu Hajar al-Asqolani, Ibnu Hazm dan Ibnul Jauzi serta orang-orang yang semisal mereka dari (ulama) salaf?[2] Juga tokoh-tokoh kholaf (kontemporer) seperti al-Banna dan Sayyid Quthb, mengingat Anda telah mengetahui dengan baik apa yang ditulis oleh Hasan al-Banna dalam bukunya Mudzakkirat ad-Da’wah wa ad-Da’iyyah dan Sayyid Quthb dalam bukunya Fii Zhilaali al-Qur’an???

Syaikh :

Kami berkeyakinan bahwa rahmat dan tarahum diperbolehkan bagi seluruh kaum muslimin dan diharamkan bagi seluruh orang kafir. Jawaban ini merupakan furu’ (cabang) dari i’tiqod yang dimiliki oleh seseorang. Jadi, barangsiapa yang meyakini bahwa orang-orang yang disebutkan di dalam pertanyaan tadi adalah muslim, maka jawabannya adalah telah ma’ruf (diketahui) –sebagaimana yang telah saya katakan barusan- yaitu boleh mendo’akan : “semoga Alloh merahmati dan mengampuni mereka”. Dan siapapun yang menganggap bahwa mereka yang disebutkan di dalam pertanyaan tadi adalah bukan muslim (kafir) –semoga Alloh tidak mengizinkan hal ini-, maka tarahum tidaklah diperbolehkan, karena rahmat diharamkan bagi orang kafir. Inilah jawabanku berkenaan dengan apa yang datang dari pertanyaan tadi.

Penanya :

Namun Syaikh, Mereka mengatakan bahwa hal ini termasuk bagian dari manhaj salaf, yang mana mereka tidak melakukan tarahum terhadap mubtadi’ (pelaku bid’ah). Konsekuensinya, orang-orang yang disebutkan di dalam pertanyaan pertama tadi dianggap sebagai mubtadi’ dan mereka (para salaf) tidak melakukan tarahum dengan mereka.

Syaikh :

Kami telah katakan tadi, bahwa rahmat atau tarahum diperbolehkan bagi setiap muslim dan tidak boleh bagi seluruh orang kafir. Jika (jawabanku tadi, pent.) ini benar, maka pertanyaan kedua tadi tidak memiliki dasar (hujjah). Jika ini (jawaban saya) tidak benar, maka (pertanyaan kedua tadi) memiliki dasar dan bisa didiskusikan lebih lanjut…

Bukankah mereka yang telah divonis oleh sebagian ulama sebagai mubtadi’, mereka tetap disholati? Dan termasuk i’tiqod salaf yang disepakati oleh kholaf adalah, bahwa kita (tetap) menegakkan sholat di belakang muslim yang shalih sebagaimana pula kita shalat di belakang muslim yang fajir.[3] Kita juga menshalati orang yang shalih maupun orang yang fajir. [4]
Adapun orang kafir tidak boleh dishalati.

Oleh karena itu, orang yang disebutkan di dalam pertanyaan tadi, mau tidak mau, haruslah disebut sebagai ahlul bid’ah.[5] Jadi, haruskah mereka disholati atau tidak?…

Saya sebenarnya tidak berkeinginan untuk mendiskusikan hal ini kecuali karena terpaksa. Jika jawabannya adalah mereka tetap harus disholati, maka jawabannya berhenti sampai di sini, pembahasan selesai dan tak ada lagi tempat untuk mendiskusikan pertanyaan kedua tadi. Namun jika (dijawab) tidak boleh mensholatinya, maka kesempatan untuk diskusi masih terbuka dan dapat dilanjutkan kembali…


[1] Tarahum adalah memohonkan rahmat bagi orang yang telah meninggal seperti ucapan rahimahullahu.

[2] Mungkin yang dimaksud penanya adalah gerakan Haddadiyah yang diusung oleh Abu Muhammad al-Haddad dari Yaman yang menyebarkan pemahamannya dari semenjak berdirinya hingga saat ini yang menyusup masuk ke dalam barisan salafiyin. Mereka dikenal sebagai orang yang fanatik dan ghuluw serta mereka mengklaim dan merasa satu-satunya yang berada di atas al-Haq, manhaj salafi yang sesungguhnya dan selain mereka adalah sesat. Di antara ciri mereka sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Rabi’ bin Hadi hafizhahullahu di dalam risalah ringkasnya yang berjudul Mumayyizat al-Haddadiyah adalah –dengan beberapa perubahan dan sedikit tambahan- :

  1. Mereka membenci para ulama salafi zaman ini, merendahkan, membodoh-bodohkan, menvonis sesat mereka dan melakukan kedustaan atas nama mereka.
  2. Mereka berpendapat bahwa siapa saja yang jatuh ke dalam kebid’ahan maka ia adalah mubtadi’. Oleh karena itu an-Nawawi, Ibnu Hajar, Ibnul Jauzi, Abu Hanifah dan selain mereka –rahimahumullahu jami’an– menurut mereka adalah mubtadi’ yang sesat.
  3. Mereka mentabdi’ (menvonis bid’ah) siapa saja yang tidak turut mentabdi’ orang-orang jatuh ke dalam kebid’ahan. Menurut mereka tidak cukup mengatakan, “pada diri fulan ada faham asy’ariyah” namun harus mengatakan “mubtadi’” atau apabila tidak, maka akan diperangi, dihajr, dan dibid’ahkan orang yang tidak mau melakukannya.
  4. Mereka mengharamkan tarahum (mendoakan rahmat) kepada ahlul bid’ah secara mutlak, baik rafidhi, qodari, jahmi maupun seorang ‘alim yang tergelincir ke dalam kebid’ahan.
  5. Mereka mentabdi’ siapa saja yang bertarahum kepada orang-orang semisal asy-Syaukani, Abu hanifah, Ibnul Jauzi, Ibnu Hajar dan lain lain –rahimahumullahu
  6. Ta’ashshub al-a’maa (fanatic buta) dan ghuluw di dalam memuji dan membela tokoh-tokoh mereka.
  7. Mudah mencela dan mengumbar makian terhadap siapa saja yang menyelisihi mereka.
  8. Membakar dan merusakkan buku-buku para ulama yang menurut mereka menyimpang dan sesat.

Syaikh Salim al-Hilali dan Syaikh Muhammad Musa rahimahumallahu telah melansir akan menyusupnya faham ini di barisan para pemuda salafiyin tanpa mereka sadari. Dan siapa saja yang terdapat padanya tanda-tanda (alamat) sebagaimana disebutkan di atas, maka dirinya telah tersusupi oleh faham haddadiyah dan hal ini adalah suatu kenyataan yang terdapat di lapangan.
[3]. Berkata asy-Syaikh Abdul Qodir al-Arna’uth rahimahullahu di dalam al-Wajiz fi Manhajis Salaf : “Termasuk diantara aqidah salaf adalah, sholat boleh di belakang setiap orang yang baik maupun yang fajir selama zhahirnya masih benar…” kemudian beliau berkata pada akhir risalah : “Inilah Aqidah Salaf Sholih yang telah disepakati oleh sejumlah besar para ulama, diantaranya adalah Abu Ja’far ath-Thahawi, yang telah disyarah aqidahnya oleh Ibnu Abil Izz al-Hanafi salah seorang murid Ibnu Katsir ad-Dimasyqi, yang dinamakan dengan Syarh Aqidah ath-Thahawiyah. Diantara mereka juga Abul Hasan al-Asy’ari di dalam kitabnya al-Ibanah ‘an Ushulid Diyaanah, yang di dalamnya terhimpun aqidah beliau yang terakhir. Termasuk pula tulisan tentang aqidah salafus shalih adalah apa yang ditulis oleh Ash-Shabuni dalam kitabnya Aqidah Salaf Ashabul hadits, dan juga diantaranya adalah Muwafiquddin Abu Qudamah al-Maqdisy al-Hanbali dalam kitabnya Lum’atul I’tiqod al-Haadi ila Sabilir Rosyad, dan selain mereka dari para ulama yang mulia. Semoga Allah membalas mereka semua dengan kebaikan
[4]. Berkata al-Imam al-Mubajjal Ahmad bin Hanbal rahimahullahu di dalam Ushulus Sunnah, poin terakhir, “Dan barangsiapa yang meninggal dari ahli kiblat yang muwahid (mentauhidkan Alloh) maka dia disholati, dimohonkan ampunan atasnya, dan kami tidak meninggalkan sholat atasnya dikarenakan dosa-dosa yang dilakukannya baik besar maupun kecil dan urusannya adalah diserahkan kepada Alloh Azza wa Jalla” (lihat : Aqo’id A`immatis Salaf, penghimpun : Ahmad Fawwaz Zamroli, Darul Kutub al-‘Arobi, cet. I, 1415 H, Beirut, hal. 36-37), Beliau juga berkata di dalam as-Sunnah allati tufiya ‘anha Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pada poin ke-6 : “Dan mensholati siapa saja yang meninggal dari ahli kitab” (lihat : idem, hal, 38). Dan hal ini merupakan kesepakatan para ulama salaf.
[5]. Bukanlah maksud Syaikh di sini menyetujui pendapat mereka bahwa orang-orang yang disebut di pertanyaan pertama tadi seluruhnya adalah ahlul bid’ah. Namun syaikh di sini berusaha menunjukkan pengingkaran akan madzhab baru yang mengharamkan tarahum ini kepada muslim yang telah meninggal.

Konteks Pembahasan

Posted: 22 Juni 2010 in Kajian
Tag:

HAKIKAT BID’AH DAN KUFUR

TANYA JAWAB BERSAMA
AL-IMAM AL-MUHADDITS

MUHAMMAD NASHIRUDDIN AL-ALBANI RAHIMAHULLAHU

Di dalam bab  ini ada beberapa cuplikan transkrip (termasuk terjemahannya). Kami tidak berpegang pada terjemahan ini kecuali sebagai perbandingan saja. Perlu diketahui bahwa ada kesalahan-kesalahan penterjemahan pada buku-buku terjemahan di atas (selain referensi no. 4 di atas), sebagai contohnya sebagai berikut :

  • Dalam buku al-Manhajus Salaf ‘indal Albani hal. 93, dikatakan bab ash-Sholatu wat Tarahum ‘ala ahlil bida’ (Sholat dan mendo’akan rahmat bagi ahli bid’ah), namun dalam buku terjemahnnya “Albani dan Manhaj Salaf”, Ustadz Ahmad Yuswaji menterjemahkan dengan “Sholat dan Silaturrahim dengan Ahlul Bid’ah” (hal. 87). Padahal sungguh jauh makna antara tarahum dengan sillaturrahim.
  • Dalam buku al-Manhajus Salaf ‘indal Albani hal. 90, tentang penyebutan pepatah Syam dikatakan, Anta musakkirun wa ana mubaththilun (Jika kamu menutup pintu masjid maka aku tidak sholat), terjemahan al-Ustadz Firanda adalah tepat (lihat hal. 135 “Lerai Pertikaian) dan al-Ustadz Abu Aminah yang menterjemahkan “You’re Closed so I droped the prayer”, namun Ust. Abu Muqbil Ahmad Yuswaji menterjemahkan dengan “kamu pemabuk dan aku pelaku kebatilan” (lihat hal. 85 “Albani dan Manhaj Salaf”), dimana mungkin ustadz membaca musakkir sebagai muskir, dan maknanya adalah jauh.
  • Dalam “Muzilul Ilbas” (terj) hal. 269, tentang syair yang dinukil oleh Syaikh al-Albani yang berbunyi Awradahaa Sa’dun wa Sa’dun Musytamil… Ma Hakadza Ya Sa’du Tuuradul ‘Ibil (Sa’ad ingin menggiring unta sedangkan dirinya berselimut, Bukanlah demikian wahai Sa’ad caranya menggiring unta), Penterjemah buku ini, Ust. Nurkhalis menterjemahkan dengan Mereka maksudkan itu Sa’ad padahal Sa’ad itu beragam, tidak demikian wahai Sa’ad cara menggembala Unta.

Dan masih ada lagi beberapa yang mana bukanlah hal ini tujuan risalah ini sekarang. Juga, hal ini menunjukkan bahwa manusia itu tidak ada yang sempurna, karena manusia itu tempatnya alpa dan lupa. Sehingga apa yang saya lakukan pun pasti juga banyak kesalahannya melebihi dari  mereka-mereka para penterjemah tersebut yang ilmu dan kapabilitasnya jauh dari saya.[3]

Ada suatu hal yang menarik dan perlu dicermati di sini, Ustadz Abu Muqbil Ahmad Yuswaji, Lc. adalah orang yang sudah kita kenal sebagai salah seorang da’i ahlus sunnah (bersama Ust. Ja’far Sholih dkk di Jakarta) yang cukup aktif menterjemah buku, diantaranya –yang kami ketahui- adalah Tanwiiru azh-Zhulumaat bikasyfi Mafaasid wa Sybuhaat al-Intikhobaat karya Fadhilatus Syaikh Muhammad Abdillah ar-Rimi dengan judul “Menggugat Demokrasi dan Pemilu” yang diterbitkan oleh Darul Hadits dan Mahajjatul Baidha’ fi Himayaatis Sunnatil Gharraa’ karya Fadhilatus Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali dengan judul “Obyektifitas dalam mengkritik” yang diterbitkan oleh Cahaya Tauhid Press.

Selain itu, kami juga melihat beliau memiliki terjemahan yang diterbitkan oleh penerbit Azzam Group semisal Najla press. Diantaranya adalah buku “Albani dan manhaj salaf” tersebut di atas dan “Manhaj Ahlus Sunnah dalam bersikap terhadap penguasa dan pemerintah” karya Fadhilatus Syaikh Abdus Salam Barjas Alu Abdul Karim (judul asli : Mu’amalatul Hukkam fi Dhou’il Kitaabi was Sunnah).

Masih teringat dengan jelas akan sikap sebagian orang yang satu “haluan” dengan Ustadz Yuswaji, yang mengkritik bahkan mencela penerbit-penerbit yang bukan berasal dari mereka. Penerbit-penerbit selain penerbit mereka dikatakan sebagai ‘racun’ dan mereka juga mencela ustadz-ustadz salafiyin yang bukunya diterbitkan oleh penerbit semisal Pustaka Ibnu Katsir dan semisalnya. Padahal penerbit ini (Ibnu Katsir) jauh lebih baik daripada penerbit Najla Press yang bukunya masih ‘campur baur’.

Yang paling “parah” lagi adalah al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf dari Bandung, beliau menulis buku “Aku Melawan Teroris : Sebuah Kedustaan Atas Nama Ulama Ahlussunnah[4] yang diterbitkan oleh CMM (Centre for Moderate Muslim) tahun 2005[5]. Padahal CMM itu adalah penerbit yang berhaluan “liberal” yang berusaha memerangi Islam “fundamentalis” menurut definisi mereka. Lantas, maukah saudara-saudara kita yang senang menghujat dan mencela dengan gegabah tanpa landasan syar’i ini mau kembali dan ruju’ ke manhaj yang haq?!

Semoga risalah yang sederhana dan amal kami yang ringan ini dapat memberikan manfaat bagi kaum muslimin, terutama saudara-saudara kami salafiyun, dan semoga apa yang kami lakukan ini dapat menjadi bekal bagi kami sebagai amal yang shalih di akhirat kelak, dimana anak dan harta tidaklah berfaidah bagi kami melainkan hati yang salim.

Segala kesalahan dan kekurangan adalah berasal dari diri kami pribadi dan syaithan, oleh karena itu tegur sapa, kritik dan saran yang membangun sangatlah kami harap dari pembaca budiman sekalian. Dan segala kebenaran yang ada adalah dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala murni, dan janganlah para pembaca budiman menolak kebenaran ini hanya karena berasal dari kami yang lemah dan banyak salah ini.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبح وسلم

Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan kepada sahabat-sahabatnya.

Malang, 25 Juli 2006

Al-Faqir ila ‘afwa Robbihi

Abu Salma al-Atsari

Email : ibnu_burhan@hotmail.com

Homepage : http://dear.to/abusalma


[3]. Syaikh Muhammad as-Subayyil (Imam dan Khathib Masjid Nabawi) pernah ditanya tentang buku-buku yang ditulis ahlus sunnah namun ada kesalahan di dalamnya dan ada beberapa pemuda yang melarang membaca buku tersebut, maka syaikh menjawab : “Hal ini tidak benar, tidak ada seorangpun yang bebas dari kesalahan. Selama buku tersebut tidak dipenuhi oleh kesalahan dan mengandung banyak manfaat, walaupun kesalahannya ada di sana sini, maka ambillah yang haq dan tinggalkanlah yang salah. Alloh Ta’ala berfirman : “Jika sekiranya al-Qur’an ini bukan dari sisi Alloh, maka niscaya mereka akan mendapatkan pertentangan di dalamnya.

[4]. Bicara tentang buku “Aku Melawan Teroris”, kami teringat dengan buku yang ditulis oleh al-Ustadz al-Fadhil Luqman bin Muhammad Ba’abduh yang berjudul “Mereka Adalah Teroris” (Pustaka Qoulan Sadida, Cet. I, Oktober 2005). Secara umum, buku ini sarat dengan faidah dan manfaat di dalam menjawab syubuhat kaum takfiriyin. Namun sayangnya di sisi lain, ada beberapa hal yang perlu mendapatkan “perhatian khusus”, dan bukanlah di sini pembahasannya.

Kami hanya ingin sedikit memberikan uneg-uneg terhadap satu masalah yang disebutkan oleh al-Ustadz di dalam bukunya, yaitu pada hal. 368, tentang persaksian tokoh-tokoh besar dunia –baik kawan maupun lawan– dalam sejarah atas kemuliaan Raja ‘Abdul Aziz bin Abdurrahman al-Faishal Alu Su’ud. Di sini beliau hanya menukil lima orang saja, dan dari kelima ini, beliau menyebutkan pada orang ketiga (poin C) adalah Rasyid Ridha. Yang menarik di sini, al-Ustadz memberikan footnote sebagai berikut : “Dia adalah seorang tokoh berpemikiran Mu’tazilah yang menolak hadits-hadits ahad dalam masalah aqidah dan manhaj. Kita angkat persaksian dia untuk menunjukkan bahwa fihak lawanpun mengakui ketinggian kedudukan al-Malik Abdul Aziz Ali Su’ud.” Menariknya lagi, dari kelima tokoh yang disebutkan hanya Syaikh Rasyid Ridha saja yang dikomentari sebagai lawan (dakwah salafiyah), mungkin inilah alasan mengapa al-Ustadz memberikan kata –baik kawan maupun lawan– di sub judul bukunya.

Al-Ustadz mungkin sengaja perlu memberikan footnote khusus kepada Syaikh Rasyid Ridha rahimahullahu untuk menjaga agar jangan sampai para pembaca bukunya menganggap dirinya (Rasyid Ridha) sebagai ahlus sunnah dan pembelanya (dan juga mungkin karena alasan historis pertikaian yang terjadi dahulu). Ada beberapa mulahadhot (catatan) yang perlu kami berikan, sebagai bentuk nasehat dan klarifikasi terhadap ucapan ustadz ini.

1. Kenapa al-Ustadz hanya memberikan footnote peringatan terhadap Syaikh Rasyid Ridha saja? Padahal di dalam bukunya, beliau menyebutkan beberapa orang yang sebenarnya merupakan lawan dakwah, namun beliau diamkan. Jika demikian, maka konsistensi al-Ustadz perlu dipertanyakan. Seperti misalnya pada hal. 160, footnote no. 92, al-Ustadz berkata : “Kitab az-Zuhd… tahqiq Habiburrahman al-A’zhami…”, apakah al-Ustadz tidak tahu siapa Habiburrahman al-A’zhami dan bagaimana permusuhannya terhadap ahlus sunnah? Kami yakin al-Ustadz telah mengetahuinya. Bagi para pembaca yang ingin mengetahui siapa Habiburrahman ini, bisa membaca “Silsilah Bantahan Ilmiah Kedua Terhadap Tuduhan Dusta Hizbut Tahrir” (dalam blog kami http://dear.to/abusalma) dan buku ”Albani dihujat” karya al-Akh al-Ustadz Abu ’Ubaidah Yusuf as-Sidawi.

2. Klaim al-Ustadz di atas menyelisihi apa yang ditulis oleh para ulama yang lebih ’alim dan lebih faham tentang Rasyid Ridha dibandingkan al-Ustadz, berikut ini akan kami nukilkan beberapa saja, karena apabila kami nukilkan semua, niscaya risalah ini akan menjadi semakin panjang dan keluar dari konteks tujuan risalah ini disebarkan.

  • Al-Allamah Al-Albani rahimahullahu berkata tentang Sayyid Rasyid Ridha rahimahullahu : ”Sayyid Rasyid Ridha rahimahullahu mempunyai jasa yang besar terhadap dunia Islam secara umum dan khususnya salafiyun. Semuanya ini kembali kepada eksistensinya sebagai sebagai da’i yang langka yang telah menyebarkan manhaj salaf di seluruh penjuru dunia melalui majalahnya al-Manar…. dst.” Kemudian beliau melanjutkan, ”Maka pada kesempatan yang baik ini saya pun menulis kalimat ini agar dapat dibaca dan diketahui oleh siapa saja yang sampai kepadanya tulisan ini, bahwasanya berkat karunia Alloh, lalu beserta apa yang aku berada di atasnya mulai dari aku berittijah (menuju) kepada pemahaman salafiyah, hingga memisahkan hadits-hadits shahih dan dha’if, semuanya ini, jasa dan keutamaannya yang pertama, kembali kepada Sayyid Muhammad Rasyid Ridha rahimahullahu melalui beberapa edisinya al-Manar” (Hayatul Albani, oleh Muhammad Ibrahim asy-Syaibani, hal. 400-4001).
  • Fadhilatus Syaikh Sholih al-’Abud hafizhahullahu (mantan rektor Univ. Islam Madinah) berkata : ”Beliau (Rasyid Ridha) memilki sifat-sifat terpuji, tulisan-tulisan yang munshif (adil) dan penjelasan-penjelasan tentang kebenaran al-Haq dalam majalahnya yang besar al-Manar yang terbit selama bertahun-tahun. Dan beliau menyebarkan semua itu sebagai suatu pembelaan yang mulia terhadap dakwah salaf sholih, dan tidaklah beliau terdorong untuk membelanya melainkan lantaran pengaruh aqidah salaf sholih…” (Áqidah Syaikh Muhammad bin Abd Wahhab as-Salafiyyah wa atsaruha fil ’Alamil Islami, Syaikh Sholih al-’Abud, hal. 683).
  • Syaikh Ahmad bin Hajar Alu Buthami rahimahullahu berkata : ”Benar-benar dakwah yang diberkahi ini turut menyebar di Hadhramaut dan Jawa dengan perantara Syaikh Rasyid Ridha dan didirikannya Jum’iyyah Al-Irsyad di sana yang mengajak kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, memberantas bid’ah dan khurofat yang selaras dengan mabda’ Syaikh Muhammad bin ’Abd Wahhab” (Syaikh Muhammad bin Abd Wahhab, Syaikh Ahmad Alu Buthami).

Dan masih banyak lagi persaksian para ulama kepada Syaikh Rasyid Ridha. Bahkan Syaikh Sa’ad al-Hushayin dalam majalah Salafiyah, (no. 4, th. 1419-20) dalam artikel beliau yang berjudul Haqiqotu Da’wah al-Imam Muhammad bin ’Abdil Wahhab, dalam sub judul Mu’allafat Ahlus Sunnah al-Mu’aashiriina fiihi (Tulisan-tulisan ahlus sunnah zaman ini tentang Syaikh Muhammad bin Abd Wahhab), pada nomor ke-4, beliau menyebutkan : ’Allamah asy-Syaam wa Mishr Muhammad Rasyid Ridha. Sungguh, apabila Rasyid Ridha adalah sebagaimana yang dituduhkan oleh al-Ustadz Ba’abduh, maka tidak mungkin para ulama ini akan menyebut Sayyid Rasyid Ridha sebagaimana di atas, atau jangan-jangan  ilmu al-Ustadz lebih tinggi dari para ulama ini sehingga mereka tidak tahu akan kesalahan-kesalahan Sayyid Rasyid Ridha yang diketahui oleh al-Ustadz Ba’abduh. Karena bagaimanapun juga, mereka tidak mungkin menyebutkan dengan nada pujian tanpa mengetahui kesalahan-kesalahan Rasyid Ridha. Dan mereka pun tidak memberikan komentar ataupun footnote semisal al-Ustadz… wallahul muwaafiq

[5] lihat http://cmm.or.id/cmm-ind.php?id=CO_19_3

HAKIKAT BID’AH DAN KUFUR

TANYA JAWAB BERSAMA
AL-IMAM AL-MUHADDITS

MUHAMMAD NASHIRUDDIN AL-ALBANI RAHIMAHULLAHU


إنّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيّئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلّ له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنّ محمدا عبده ورسوله

{يا أيّها الذين آمنوا اتقوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ ولا تَمُوتُنَّ إلاَّ وأَنتُم مُسْلِمُونَ}

{يا أيّها الناسُ اتّقُوا ربَّكمُ الَّذي خَلَقَكُم مِن نَفْسٍ واحِدَةٍ وخَلَقَ مِنْها زَوْجَها وبَثَّ مِنْهُما رِجالاً كَثِيراً وَنِساءً واتَّقُوا اللهََ الَّذِي تَسَائَلُونَ بِهِ والأَرْحامَ إِنَّ اللهَ كان عَلَيْكُمْ رَقِيباً }

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً  يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمالَكمْ ويَغْفِرْ لَكمْ ذُنوبَكُمْ ومَن يُطِعِ اللهَ ورَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً}

أما بعد،فإن أصدق الحديث كلام الله وخير الهدي هدي محمد وشر الأمور  محدثاتها وكلّ محدثة بدعة ، وكل بدعة ضلالة ، وكل ضلالة في النار .

Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah Azza wa Jalla Yang kita memuji-Nya, kita memohon pertolongan dan pengampunan dari-Nya, yang kita memohon dari kejelekan jiwa-jiwa kami dan keburukan amal-amal kami. Saya bersaksi bahwasanya tiada Ilah yang Haq untuk disembah melainkan Ia Azza wa Jalla dan tiada sekutu bagi-Nya serta Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa Salam adalah utusan Allah Azza wa Jalla.

Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan islam”. (QS Ali ‘Imran : 102)

Wahai sekalian manusia bertakwalah kepada Tuhanmu yang menciptakanmu dari satu jiwa dan menciptakan dari satu jiwa ini pasangannya dan memperkembangbiakkan dari keduanya kaum lelaki yang banyak dan kaum wanita. Maka bertaqwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah senantiasa menjaga dan mengawasimu”. (QS An-Nisaa’ : 1)

Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar niscaya Ia akan memperbaiki untuk kalian amal-amal kalian, dan akan mengampuni dosa-dosa kalian, dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya maka baginya kemenangan yang besar”. (QS Al-Ahzaab : 70-71)

Adapun setelah itu, sesungguhnya sebenar-benar kalam adalah Kalam Allah Azza wa Jalla dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa Salam. Sedangkan seburuk-buruk suatu perkara adalah perkara yang mengada-ada (muhdats) dan tiap-tiap muhdats itu Bid’ah dan tiap kebid’ahan itu neraka tempatnya.[1]

Masalah hajr, tabdi’, tahdzir dan semisalnya adalah permasalahan yang tidak ada habisnya. Fenomena ini terus menerus ada dan semakin lama semakin berkembang subur. Uniknya, fenomena ini berkembang di tengah-tengah barisan orang-orang yang berintisab (berafiliasi) dengan ahlus sunnah. Padahal ahlus sunnah dikenal akan cirinya yang berijtima’ (bersatu) sedangkan ahlul bid’ah dikenal dengan cirinya yang berpecah belah.

Di tanah air kita ini, orang-orang yang mengaku sebagai salafiyun tidaklah sedikit. Namun, pengakuan adalah suatu hal yang mudah, dan pengakuan belaka tanpa diiringi dengan bukti adalah sekedar pengakuan kosong belaka. Sebagaimana seorang penyair pernah berkata:

Ad-Da’awi ma lam tuqiimu ‘alaiha

bayyinatin abna’uha ad’iyaa’

Seorang pengaku-ngaku yang tidak ditopang di atasnya

Keterangan maka hanyalah pengaku-ngakuan belaka

Sesungguhnya, fenomena yang buruk ini, yaitu saling mentahdzir, menghajr, mencela dan mentabdi’ di antara barisan ahlus sunnah adalah suatu hal yang buruk dan berimplikasi negatif bagi perkembangan dakwah ini. Islam dan para ulamanya berlepas diri dari sikap-sikap seperti ini. Banyak para ahli ilmu yang membantah dan membatalkan pemikiran dan pemahaman baru yang merasuk ke barisan ahlus sunnah ini. Di antara mereka adalah Al-Allamah al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullahu.

Risalah ini adalah terjemahan dari ceramah Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullahu yang semula kami terjemahkan dari versi Inggris yang berjudul To The Muslim Youth : Fatwaas of Shaykh Naasirud-Din rahimahullahu yang diterjemahkan oleh Al-Ustadz Abu Aminah Bilal Philips[2] hafizhahullahu. Setelah itu kami muroja’ahkan dengan kaset aslinya. Kami memiliki kaset ini yang merupakan hasil rekaman ulang yang direpro oleh L-Data, Jakarta, dengan judul Man huwa al-Kafir wa man huwa al-Mubtadi’, yang sayang sekali kualitas suaranya tidak begitu baik.

Sebagai amanat ilmiah, Kami juga berpegang pada beberapa buku yang mencuplik sebagian transkrip rekaman ini sebagai perbandingan, diantaranya sebagai berikut :

  1. Al-Manhajus Salafiy ‘inda asy-Syaikh Nashiruddin al-Albani, Penyusun : Syaikh ‘Amru ‘Abdul Mun’im Salim, tanpa penerbit dan tahun, hasil fotokopi dari Ma’had Al-Furqon Gresik.
  2. Albani dan Manhaj Salaf” (terj. Al-Manhajus Salafiy ‘inda asy-Syaikh Nashiruddin al-Albani), Pent. Ahmad Yuswaji, Lc., Penerbit : Najla Press, cet. I, Oktober 2003.
  3. Muzilul Ilbas, Hukum Mengkafirkan dan Membid’ahkan”, (terj. Muziul Ilbas fil Ahkam ‘alan Naasi) Penyusun : Sa’id bin Shabir ‘Abduh, Pent. Nurkhalis, Lc., Penerbit : Griya Ilmu, Cet. I, September 2005.
  4. Lerai Pertikaian Sudahi Permusuhan”, Penyusun : al-Akh al-Ustadz Abu ‘Abdil Muhsin Firanda bin ‘Abidin, Penerbit : Pustaka Cahaya Islam, Cet. I, Februari 2006.

[1]. Kalimat ini disebut dengan khutbatul haajah, shahih diriwayatkan dari Rasulullah r oleh Nasa’i (III/104), Ibnu Majah (I/352/1110), Abu Dawud (III,460/1090). Lihat Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah karya Syaikh Abdul Azhim Badawi hal. 144-145.

[2]. Beliau adalah salah seorang da’i senior yang menyeru kepada al-Qur’an dan as-Sunnah serta madzhab salaf yang terkenal di Eropa. Beliau lahir di Jamaika namun tinggal dan besar di Kanada. Beliau masuk Islam pada tahun 1972. Pada tahun 1979, beliau menyelesaikan program diploma bahasa Arab di Fakultas Ushulud Dien, Universitas Islam Madinah. Beliau menyelesaikan gelar magisternya di Fakultas Tarbiyah Universitas Riyadh pada tahun 1985 dan gelar doktoralnya sebagai Ph.D (Doctor of Phylosophy) pada tahun 1994 di Universitas Wales. Beliau pernah mengajar di sekolah swasta di Riyadh lebih dari 10 tahun, dan selama 3 tahun beliau pernah mengajar di Jurusan Pendidikan Islam, Universitas Islam Syarif Kabunsuan di Kotabato, Mindanao, Filipina.

Semenjak tahun 1994, beliau mendirikan dan memimpin Pusat Informasi Islam di Dubai, Uni Emirat Arab dan Departemen Literatur Asing Darul Fatah Islamic Press di Sharjah, Uni Emirat Arab. Beliau memiliki banyak karangan dan tulisan yang sangat bermanfaat. Beliau adalah orang yang sangat tawadhu’ dan lapang dada di dalam menerima masukan dan kritikan. Beberapa fitnah dari sebagian salafiyun menimpanya dan menuduhnya dengan tuduhan yang bermacam-macam, mulai dari tamyi’, quthbiy, ikhwaniy, dan semisalnya. Namun, amal dan tulisan-tulisannya menunjukkan bahwa tuduhan-tuduhan itu pada hakikatnya tidaklah benar. Dan apabila benar, maka beliau akan menerimanya dengan lapang dada dan ruju’ darinya…

Kami pernah menanyakan perihal al-Ustadz Abu Aminah hafizhahullahu kepada Syaikh Ali Hasan al-Halabi hafizhahullahu (beliau sering memberikan ceramah di Eropa dan pernah bertemu dengannya) pada saat kami berada di mobil ketika akan pergi ke Masjjid al-Muhajirin Malang beberapa waktu silam. Kami bertanya kepada beliau, “wahai syaikh apakah Anda mengenal Abu Aminah Bilal Philips, salah seorang dari Kanada?”. Beliau menjawab, “na’am…” Kami bertanya lagi kepada beliau, “bagaimana pandangan Anda terhadap beliau?”, maka syaikh menjawab, “Jayyid, seorang yang baik…”, Kami bertanya kembali, “apakah dia ahlus sunnah salafiy?” syaikh menjawab, “thab’an (tentu), salafiy jayyid…”, Kami kembali menukas kepada beliau, “karena banyak fitnah dan tuduhan yang menimpa dirinya dan disebarkan di internet…”, Syaikh tersenyum dan berkata yang intinya menasehatkan supaya kami tidak terlalu ambil pusing dengan fitnah-fitnah di internet, kemudian beliau menceritakan keadaan dakwah salafiyah di Eropa yang tidak jauh beda dengan Indonesia… Selain Ustadz Abu Aminah, kami juga menanyakan tentang Ustadz Abu Saifillah dari Luton-Inggris dan Ustadz Abu Usamah adz-Dzahabi dari QSS (Qur’an Sunnah Society), Toronto Kanada. Dan beliau memuji semua orang-orang ini. Falillahil Hamdu.

Namun, amal dan tulisan-tulisannya menunjukkan bahwa tuduhan-tuduhan itu pada hakikatnya tidaklah benar. Dan apabila benar, maka beliau akan menerimanya dengan lapang dada dan ruju’ darinya…

Kami pernah menanyakan perihal al-Ustadz Abu Aminah hafizhahullahu kepada Syaikh Ali Hasan al-Halabi hafizhahullahu (beliau sering memberikan ceramah di Eropa dan pernah bertemu dengannya) pada saat kami berada di mobil ketika akan pergi ke Masjjid al-Muhajirin Malang beberapa waktu silam. Kami bertanya kepada beliau, “wahai syaikh apakah Anda mengenal Abu Aminah Bilal Philips, salah seorang dari Kanada?”. Beliau menjawab, “na’am…” Kami bertanya lagi kepada beliau, “bagaimana pandangan Anda terhadap beliau?”, maka syaikh menjawab, “Jayyid, seorang yang baik…”, Kami bertanya kembali, “apakah dia ahlus sunnah salafiy?” syaikh menjawab, “thab’an (tentu), salafiy jayyid…”, Kami kembali menukas kepada beliau, “karena banyak fitnah dan tuduhan yang menimpa dirinya dan disebarkan di internet…”, Syaikh tersenyum dan berkata yang intinya menasehatkan supaya kami tidak terlalu ambil pusing dengan fitnah-fitnah di internet, kemudian beliau menceritakan keadaan dakwah salafiyah di Eropa yang tidak jauh beda dengan Indonesia… Selain Ustadz Abu Aminah, kami juga menanyakan tentang Ustadz Abu Saifillah dari Luton-Inggris dan Ustadz Abu Usamah adz-Dzahabi dari QSS (Qur’an Sunnah Society), Toronto Kanada. Dan beliau memuji semua orang-orang ini. Falillahil Hamdu.