Menuju Daulah Islamiyah 2/3

Posted: 20 Juni 2010 in Manhaj Salaf
Tag:,

Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
Bagian Kedua dari Tiga Tulisan [2/3]

Akibat (kesenangan dunia) ini kita lihat amat sedikit orang yang mau memperhatikan penyakit ini dan kemudian mendidik para pemuda, terutama yag telah dibukakan simpanan-simpanan bumi bagi mereka dan dilimpahi kebaikan-kebaikan (kemakmuran) serta berkah bumi.

Hanya sedikit orang yang memperingatkan tentang penyakit ini, yang menjadi kewajiban kaum Muslimin untuk membentengi darinya dan agar supaya (penyakit) cinta dunia benci mati tidak menjalar di hati mereka. Dengan demikian maka penyakit ini harus diobati dan manusia harus dididik agar selamat darinya.

Kita kembali kepada penggal (kalimat) yang pertama dan hal itu lebih penting tanpa diragukan lagi, yaitu ucapan kita bahwa haruslah memulai dengan tashfiyah yang diiringi dengan tarbiyah. Di sana ada hadits dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang mengisyaratkan kepada tashfiyah ini, yaitu sabda beliau:

“Apabila kalian jual beli dengan ‘iinah, kalian memegangi ekor-ekor sapi, kalian puas dengan pertanian dan kalian meninggalkan jihad di jalan Allah. (pastilah) Allah timpakan kehinaan atas kalian, Dia tidak akan mencabutnya dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian.” [Shahih Al Jaami’ Ash Shaghiir]

Di dalam hadits ini terdapat keterangan penyakit dan obatnya, yaitu bahwa beliau bersabda di awal hadits: “apabila kalian jual-beli dengan ‘iinah”. ‘Iinah adalah satu jual-beli yang bersifat riba, dan sangat disayangkan dewasa ini terjadi di sebagian negara-negara Islam, bahkan (negara-negara) Arab. Padahal negara-negara ini mestinya memahami Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah, lebih baik daripada pemahaman kaum Muslimin non-Arab.

‘Iinah adalah jika seorang membeli suatu kebutuhan dari penjual dengan harga yang leih tinggi dari harga kontan (tunai). Dia membelinya tidak ontan, atau yang sekarang dinamakan “kredit”, yaitu dengan harga yang lebih tinggi dari harga kontan. Padahal pelakunya (pembeli) tidaklah datang untuk membeli; akan tetapi dia datang (membeli) hanya untuk mengambil dinar (uang tunai), sehingga menjadi kesibukannya dan menjadi batu loncatan (modal) pekerjaanya.

Dan karena kerusakan masyarakan dan terlepasnya ikatan agama (Islam) yang seharusnya (ikatan agama) mereka kerjakan; maka orang yang membutuhkan uang (harta tadi) harus membuat tipu daya terhadap apa yang diharamkan oleh Allah untuk memastikan dirinya mendapatkan uang (harta tadi).

Kemudian orang yang membutuhkan tadi mendatangi penjual dan membeli darinya – (sekadar contoh)- sebuah mobil yang harganya 20.000 dinar secara kredit, padahal harga sesungguhnya lebih murah dari itu. Dan musibah yang tersembunyi pada tindakan di atas, yaitu bahwa pembeli yang membutuhkan tadi tidaklah menerima mobil itu, tetapi dia lansung menjualnya secara kontan kepada penjual tadi dengan harga yang lebih rendah, umpamanya 17.000 dinar. Kemudian dia menerima harga (uang kontan) ini, tetapi selanjutnya dia harus menggenapi angsuran-angsuran yang besar yang telah disepakati pertama kali, misalnya selama stu tahun atau enam bulan.

Inilah jual-beli ‘iinah itu, dan ini adalah perkara nyta dewasa ini di sebagian negara-negara sebagaimana tadi telah kami sebutkan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “apabila kalian (melakukan) jual beli ‘iinah,” berarti membuat tipu daya terhadap apa yang diharamkan oleh Allah kemudian dihalalkannya.

Kemudian sabda beliau lagi, “Kalian memegangi ekor-ekor sapi dan kalian puas dengan pertanian,” dan ini adalah termasuk memburu duniawi dan meninggalkan jihad dijalan Allah. (Maka) akibat buruk apakah yang menimpa kaum Muslimin ini, yang membuat tipu daya paling rendah terhadap hukum-hukum Allah dan menghalalkan apa-apa yang Allah haramkan. Kemudian mereka berpaling dari kewajiban mereka, seperti jihad di jalan Allah karena sebagian mereka lalai disebabkan memburu dunia.

Dan apakah perjalan akhir mereka?
Akibat buruk dan akhir perjalanan mereka adalah Allah menimpakan kehinaan atas mereka, Dia tidak akan mencabutnya dari mereka sampai mereka kembali kepada agama mereka. Dengan demikian secara umum bahwa sesungguhnya penyakit-penyakit yang menimpa kaum Muslimin teringkas dalam dua sisi:

Pertama :
Meninggalkan kewajiban yang dikenal secara pasti dalam agama ini seperti jihad di jalan Allah dengan sebab mereka memburu dunia.

Kedua :
Membuat tipu daya terhadap yang telah diketahui keharamannya dari As Sunnah, seperti ‘iinah dengan nama jual-beli.

Dan contoh-contoh lain banyak sekali, bahkan sampai hari ini, masih ada orang berfatwa “bolehnya nikah tahliil”, padahal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang ini:

“Allah melaknat muhallil (orang yang menikah untuk menghalalkan bagi suami dari wanita yang telah dicerai tiga kali, pent) dan muhallallah (orang yang dihalalkan dengan pernikahan atasnya, pent).” [Hadits Riwayat. Ahmad, An-Nasai, dan At Tirmidzi, lihat Bulughul Maram, kitab An-Nikah, pent]

Hujjah mereka bersandar secara lahiriah bahwa wanita yang dicerai tiga kali itu rela terhadap laki-laki yang mengawininya untuk menghalalkan wanita tersebut bagi suaminya yang pertama; dia rela sebagai ganti suami, demikian pula wali amr(yang mengurusi nikah/pemerintah) rela terhadap hal ini. Dan mereka semuanya sepakat bahwa pernikahan itu tujuannya hanyalah untuk menghalalkan apa yang Allah haramkan dan menyelisihi firmanNya:

{“Talak (yang boleh dirujuk) itu dua kali. Setelah itu boleh dirujuk lagi dengan yang ma’ruf atau dengan menceraikan dengan cara yang baik.”} {Kemudian jika si suami mentalaknya (setelah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya, hingga dia kawin dengan suami yang lain.} [Al Baqarah awal ayat 229 dan awal ayat 230]

Kemudian dengan fatwa tersebut mereka membawa laki-laki yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menamakannya “kambing jantan pinjaman”; sedangkan mereka menamakannya “suami”. Padahal dia bukanlah seorang suami, karena dia tidak menikahi wanita tersebut supaya dengannya dia terjaga, dan supaya wanita itu terjaga dengan dirinya. Akan tetapi hanyalah untuk menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah, yaitu bahwa wanita itu tidak boleh untuk kembali kepada suaminya yang telah mentalaknya tiga kali sampai dia menikah dengan orang yang lain, dengan cara yang syar’i sebagaimana suaminya yang pertama menikahinya.

Dan Rabb kita Ta’ala telah mengisyaratkan hal ini dalam beberapa firmanNya:

” Artinya : Dan Dia telah menciptakan isterinya darinya (tulang rusuk Adam).” [An Nisaa’: 1]

“Artinya : …agar supaya dia merasa senang kepadanya.” [Al A’raaf: 189]
“Artinya : …dan Dia menjadikan rasa kasih sayang di antara kalian.” [Ar-Ruum:21]

Padahal laki-laki tadi mengawininya dengan rasa tidak senang/tenteram terhadap wanita itu. Dan wanita itu tidak merasa senang terhadap laki-laki tersebut. Laki-laki itu hanyalah menghabiskan malam bersamanya dan menerkamnya sebagaimana kambing jantan menerkam kambing betina. Dan setelah masuk waktu subuh dia ceraikan, karena memang dia tidak menikah untuk tujuan yang mulia; tetapi hanya untuk menghalalkan apa yang Allah haramkan.

Maka sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam,”Apabila kalian telah jual-beli dengan ‘iinah” adalah semacam conoth terhadap apa yang dilakukan kaum Muslimin yang berupa penghalalan dan tipu daya terhadap apa yang Allah haramkan. Akan tetapi hal ini tidaklah secara terang-terangan, sebagaimana kaum Muslimin dewasa ini menghalalkan riba dan membuat tipu daya terhadapnya, sehingga terjadi dua musibah atas mereka:

Pertama: Melaksanakan yang haram.
Kedua : berkisar sekitar menghalalkannya.

Dan belum lama ini aku telah menyebutkan bahwa ada orang yang menulis sebuah buku, dan di dalamnya dengan sombong disebutkan: bahwa upaya agar seorang Muslim tidak terjatuh di dalam riba adalah hendaknya dia bernadzar kepada Allah. Yaitu setiap kali dia berhutang harta kepada seseorang, hendaknya dia memberikan 10%-nya sebagai ungkapan syukur kepada Allah. Jika dia meniatkan hal ini pada dirinya, maka jadilah ukuran wajib dipenuhi.

Memang, sebagian syaikh membenarkan hal itu, padahal mereka hanya berputar-putar sekitar hukum-hukum Islam dan menghalalkan apa yang Allah haramkan. Ini tidak lain adalah jalannya Yahudi di dalam riba. Dan itu adlaah jalan yang berbahaya dan ama membinasakan.

Oleh karena itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan bahwa barangsiapa yang melakukannya, Allah akan menimpakan kehinaan padanya dan tidak akan mencabutnya sampai dia kembali ke agamanya. Dan kembali ke agama adalah permasalahan zaman ini, yang merupakan permasalahan besar dan haruslah ada sedikit perincian mengenainya. Itu karena sebagian penulis dan da’i berpendapat – dan sangat disayangkan- bahwa agama itu mempunyai pemahaman-pemahaman (tafsir) yang beraneka ragam dan bahwa perselisihan dalam hal ini adalah di dalam furu’ (masalah-masalah cabang), bukan di dalam ushul (masalah-masalah pokok).

Akan tetapi aku katakan: “Sesungguhnya perselisihan itu terjadi di dalam ushul, sebagaimana terjadi di dalam furu’. Dan tatkala aku menyebutkan perselisihan, maka yang pertama kali aku maksudkan adalah pra ulama dari seluruh firqah (golongan), karena dari sanalah munculnya perselisihan yang ada di antara kaum Muslimin yang awam.

Dan seandainya kita kembali (melihat) firqah-firqah ini, baik yang dulu maupun sekarang, pastilah kita mendapati adanya perselisihan itu, baik dalam furu’ maupun dalam ushul.

Sebagai contoh (bukan merupakan pembatasan) aku mengingatkan adanya keyakinan berbagai kelompok-kelompok besar kaum Muslimin di berbagai daerah dewasa ini tentang Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam adalah makhluk Allah yang pertama. Kelompok-kelompok tersebut berhujjah dengan hadits yang tidak ada asal-usulnya di dalam sunnah yang shahih, yaitu:

“Pertama kali yang Allah ciptakan adalah cahaya nabimu, hai Jabir (sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam).”

Dan engkau dapati umunya ahli ilmu mendengar kesesatan ini, bahkan dinyatakan terang-terangan di atas mimbar-mimbar, mereka mendengar tetapi mengingkari dan mengaminkan padahal kesesatannya sudah jelas. Dan tidak ada yang menghadapi itu kecuali, yaitu orang-orang yang menegakkan jiwa mereka untuk mengingkari khurafat-khurafat serta kesesatan-kesesatan semacam ini. Dan perselisihan antar ulama Muslimin ini sebagaimana telah nyata adalah perselisihan dalam aqidah (ushul), dan bukanlah dalam cabang fiqh (furu’).

Seandainya kita menghendaki diperpanjang, maka contoh-contohnya banyak, akan tetapi lebih utama aku tidak perdalam. Dan aku lebih baik pindah (pembicaraan) kepada perselisihan yang terjadi antara ulama yang berpendapat bahwa (perselisihan) itu terjadi hanyalah dalam furu’ dan itu tidak berbahaya…

Dan kita berada di depan dua sisi: perselisihan dalam furu’ dan perselisihan dalam furu’ ini tidak berbahaya; dan keduanya adalah serba tidak benar.

Pertama.
Pendapat perselisihan hanya dalam furu’, ini adalah salah. Untuk memperjelas hal ini aku akan menyebutkan tentang perselisihan yang terjadi antara madzhab Hanafiyah pada satu sisi dengan seluruh madzhab yang lain pada sisi yang kedua di dalam permasalahan iman; yaitu apakah iman itu bertambah dan berkurang atau bahwa iman itu tetap tidak bertambah atau tidak berkurang.

Sesungguhnya pada awalnya terjadi perselisihan antara kalangan Maturidiyah di satu pihak dengan Asy’ariyah dan ahli hadits di pihak lain. Perselisihan ini kemudian berkembang menjadi perselisihan yang lain, yaitu apakah iman itu bertambah dan berkurang atau bahw aiman itu tetapi tidak bertambah atau tidak berkurang.

Padahal yang benar Al Qur’an telah menjelaskan bahwa iman itu bertambah:

” Artinya : Dan supaya orang yang beriman bertambah imannya.” [Al Mudatstsir:31]

Di sana ada ayat-ayat yang banyak dalam masalah ini, dan Sunnah juga menambah keterangan pada ayat-ayat di atas secara jelas tentang bertambahnya iman, di antaranya adalah sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:

‘Iman itu mempunyai enam puluh lebih cabang. Yang paling tinggi adalah syahadat laa ilaaha illa Allah. Dan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.” [Muttafaq alaihi]

Walaupun demikian, sesungguhnya kita dapati Maturidiyyah di masa kini yang secara fiqh bermadzhab Hanafiyah mengatakan dengan lantang bahwa iman itu tidak bertambah dan berkurang, bahkan mereka menyebutkan dari imam mereka bahwa “Imanku seperti iman Jibril dan ini berarti bahwa iman manusia yang paling durhaka- yang terkadang orang yang mengatakan dengan lantang tadi- sama dengan imannya Jibril.

Dan ucapan ini -walaupun salah- berkaitan erat dengan keyakinan mereka bahwa iman itu tidak menerima tambah dan kurang. Dan mereka berkata, “Apabila kita katakan bahwa iman itu bertambah, berarti iman bisa berkurang, dan apabila iman berkurang, maka akan bisa menghabiskan iman pemiliknya.” Ucapan ini benar-benar berkaitan erat dengan keyakinan mereka bahwa iman itu hanyalah keyakinan saja. (seharusnya iman itu keyakinan, ucapan dan perbuatan-red).

Adapun keyakinan ahli sunnah dari Asyaa’irah dan ahlul hadits bahwa iman itu bertambah dan berkurang sesuai dengan amal shalih, dan tambahnya iman adalah dengan ketaatan sedang berkurang adalah dengan kemaksiatan. Maka ini adalah perselisihan yang terjadi sejak lama dan terus sampai hari ini, kemudian di belakang hari ini tumbuh perselisihan masalah aqidah yang lain yang berkaitan dengan ucapan jelas, yaitu apakah seroang Muslim mengucapkan “Saya mu’min, insya Allah.” Atau cukup dengan ucapan “Saya mu’min,” tanpa insya Allah?

Barangsiapa yang berkata bahwa iman itu bertambah atau berkurang, dia akan berkata: “saya mu’min insya Allah,” karena ia takut atas dirinya bahwa dia kurang di dalam amalan-amalannya yang shalih. Dan barangsiapa berkata bahwa iman itu tidak bertambah atau berkurang, dia pasti dengan ucapannya, “Saya mu’min.” Dia tidak mencupakan “insya Allah” karena jika dia berkata “insya Allah” maka menurutnya hal itu artinya dia ragu di dalam keyakinannya yang menetap dalam hati. Dan berawal dari perselisihan itu, timbullah perselisihan yang lain, bolehkan mengucapkan “insya Allah” (ketika berkata: saya mu’min) atau tidak boleh?

Dan perselisihan tersebut tidaklah berhenti pada masalah fiqh, tentang bolehnya mengucapkan insya Allah atau tidak bolehnya. Tetapi telah merembet kepada masalah yang berbahaya yang telah menceria-beraikan kaum Muslimin dengan seburuhk-buruknya, yaitu sampai pada tingkar orang Muslim menyerupai orang kafir.

[Diterjemahkan secara bebas oleh Muslim Abu Shalihah dari kitab “Hayaatu al-Albani wa Aatsaaruhu wa Tsanaa-u al-‘Ulamaa ‘Alaihi” oleh Muhammad bin Ibrahim asy-Syaibani, Juz I/377-391 bab “Ath-Thariq Ar-Rasyid Nahwa Binaa-i al-Kiyaani Al-Islamiy”. Penerbit: Ad-Daar as-Salafiyah, cet. I, Th. 1407 H/1987 M. Majalah As-Sunnah Edisi 08/Th. III/1419-1999]


Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=mo re&article_id=248&bagian=0

 

Komentar
  1. […] korbanpun, tapi tidak sedikitpun air sungai Nil mengalir seperti yang diharapkan sehingga mereka berniat untuk […]

  2. […] adalah perisai, shadaqah itu menghapus kesalahan sebagaimana air dapat menghapus api, dan shalatnya seseorang di tengah malam “kemudian beliau membaca surat As […]

  3. […] adalah perisai, shadaqah itu menghapus kesalahan sebagaimana air dapat menghapus api, dan shalatnya seseorang di tengah malam “kemudian beliau membaca surat As sajdah […]

  4. […] hal ini dapat memacu kita semua tetap dekat dengan pengajian-pengajian sehingga dapat membina ibadah serta dapat berdo’a dengan baik dibimbing oleh guru-guru kita, terlebih bagaimana kita menghadapi […]

  5. […] surga `Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat […]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s