Jangan Disesali

Posted: 17 Juni 2010 in Renungan
Tag:

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu
sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami
menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
(QS. Al Hadiid:22)
Jika memang sudah kehendak Allah SWT, kita bisa apa?. Kita tidak bisa menghindar dari berbagai bencana yang sudah
direncanakan Allah SWT, kita tidak bisa lari dari ketentuan-Nya, kita tidak
melawan-Nya, maka satu-satunya yang bisa kita lakukan ialah menerimanya.
Tunggu, yang dimaksud menerima bukanlah dalam makna “nrimo”, tetapi kita harus menyadari dan meyakini bahwa semua itu adalah kehendak Allah SWT.
Dia-lah yang Maha Berkuasa menetapkan apapun yang terjadi pada kita.
Menerima artinya kita mengembalikan semuanya kepada Allah SWT, sebab
semuanya datang dari Allah, maka kita kembalikan kepada-Nya.
Jika kita sudah beriman akan ketentuan Allah, maka kita tidak lagi perlu larut
dalam kesedihan, penyelasalan, dan kebencian akan masalah, kesulitan,
musibah, dan kegagalan yang menimpa kita. Kita akan tenang menghadapi
usaha dan upaya kita, karena jika terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, itu
adalah sudah bagian dari ketentuan Allah SWT.
Jika hal ini sudah tertanam dalam jiwa, maka tidak ada lagi gundah, tegang,
resah, dan cemas di dalam hati kita. Kita akan menjalani hidup dengan penuh
optimis dan semangat, karena apa lagi yang harus kita cemaskan. Semuanya
sudah tertulis di Lauh Mahfudzh. Saat kesulitan menerpa, serahkan saja kepada Allah SWT.

http://www.motivasi-islami.com

Komentar
  1. […] ummat meluncur ke bawah ini, Imam Ali r.a. tidak dapat berdiam diri. Sebagai sahabat baik, dengan tu­lus ikhlas, diminta atau tidak diminta, ia menyampaikan saran-sa­ran, nasehat-nasehat serta gagasan-gagasan […]

  2. […] Mukminin Sitti Aisyah r.a kini telah kembali ke tem­pat kediaman semula dengan penuh kenangan pahit. Sejak itu sampai akhir hayatnya, ia tidak lagi melibatkan diri dalam kegiatan politik apa pun. […]

  3. […] jawapan itu, si tukang jagal merasa dunia berputar. Karena menyesal dan sadar hatinya gementar, tenggoroknya kering dan hatinya semakin berdebar, dia lalu berkata, “Kau […]

  4. […] rumahnya. Sesekali ia perhatikan perempuan tua yang semakin mengeraskan suaranya yang penuh nada kesedihan dan kedukaan. Dalam lamunannya itu, tiba-tiba Wa’ilah merasakan pelukan perempuan tua itu di bahunya. […]

  5. […] ialah perpaduan tulang, daging, otak dan hati itu beserta organ –organ tubuh yang lain itu sekaliannya, sedang ruh ialah perpaduan pikiran (akal) dan perasaan yang disatukan […]

  6. […] cahaya, suaranya paling merdu, selalu berada dalam keamanan dan ketenangan, selalu dalam kesenangan, selalu rela dan cinta, senantiasa menetap dan mendampingi, dipingit (tidak kemana-mana), selalu memuji […]

  7. […] ialah perpaduan tulang, daging, otak dan hati itu beserta organ –organ tubuh yang lain itu sekaliannya, sedang ruh ialah perpaduan pikiran (akal) dan perasaan yang disatukan […]

  8. […] cahaya, suaranya paling merdu, selalu berada dalam keamanan dan ketenangan, selalu dalam kesenangan, selalu rela dan cinta, senantiasa menetap dan mendampingi, dipingit (tidak kemana-mana), selalu memuji […]

  9. […] ialah perpaduan tulang, daging, otak dan hati itu beserta organ –organ tubuh yang lain itu sekaliannya, sedang ruh ialah perpaduan pikiran (akal) dan perasaan yang disatukan […]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s