Mencampuri Kebebasan Pasar dengan Memalsu

Posted: 9 Juni 2010 in Mu'amalah ( Hubungan Pekerjaan )
Tag:,

Dapat dipersamakan dengan menimbun yang dilarang oleh Rasulullah s.a.w., iaitu: seorang kota menjualkan barang milik orang dusun. Bentuknya –sebagai yang dikatakan oleh para ulama– adalah sebagai berikut: Ada seorang yang masih asing di tempat itu membawa barang dagangan yang sangat diperlukan orang ramai untuk dijual menurut harga yang lazim pada waktu itu. Kemudian datanglah seorang kota (penduduk kota tersebut) dan ia berkata: Serahkanlah barangmu itu kepada saya, biarkan sementara di sini untuk saya jualkan dengan harga yang tinggi. Padahal seandainya si orang dusun itu sendiri yang menjualnya, sudah barang tentu lebih murah dan dapat memberi manfaat pada kedua daerah dan dia sendiri akan mendapat untung juga.

Bentuk semacam ini, waktu itu sudah biasa terjadi di masyarakat, sebagaimana yang dikatakan oleh sahabat Anas r.a.: “Kami dilarang orang kota menjualkan barang orang dusun, sekalipun dia itu saudara kandungnya sendiri.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, mereka boleh belajar: bahawa kemaslahatan umum harus lebih diutamakan dari kepentingan pribadi. Sabda Nabi: “Tidak boleh orang kota menjualkan untuk orang dusun; biarkanlah manusia, Allah akan memberikan rezeki kepada mereka itu masing-masing.” (Riwayat Muslim)

Dari kata-kata Nabi yang singkat biarkanlah manusia, Allah akan memberikan rezeki kepada mereka itu masing-masing kita dapat membuat satu rumusan sebagai prinsip yang sangat penting dalam dunia perdagangan, iaitu: kiranya masalah pasar, harga dan pertukarannya dibiarkan mengikuti selera fitrah dan faktor-faktor tabi’i, tanpa dicampuri oleh suatu pemalsuan dari sementara orang.

Ibnu Abbas pernah ditanya tentang maksud orang kota tidak boleh menjualkan untuk orang dusun, kemudian ia berkata: iaitu orang kota tidak menjadi orang tengah (broker) untuk orang dusun,

Pengertiannya, kalau orang kota itu menunjukkan harga dan memberi nasihat serta memberitahukan tentang keadaan pasar, tanpa ada maksud mencari keuntungan seperti yang biasa dilakukan oleh broker-broker itu, maka hal semacam ini tidaklah berdosa. kerana dia memberi nasihat demi mencari keridhaan Allah. Sedang nasihat adalah salah satu bahagian dari agama, bahkan agama itu sendiri seluruhnya adalah nasihat. Seperti kata Nabi: “Agama itu adalah nasihat” (Riwayat Muslim)

Dan dalam hadis yang lain beliau bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu minta nasihat kepada saudaranya, maka nasihatilah dia.” (Riwayat Ahmad)

Broker atau orang tengah secara umum bermaksud mencari keuntungan, yang kadang-kadang dia lupa terhadap kepentingan umum.

Komentar
  1. […] dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada di atas dipan yang bertahtakan emas dan permata seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak […]

  2. […] bekerjasama dengan adiknya yang bernama Imran, seorang yang ahli dalam analisis sistem, laboratorium genetiknya mendapatkan proyek dari pemerintah. Proyek tersebut awalnya […]

  3. […] bekerjasama dengan adiknya yang bernama Imran, seorang yang ahli dalam analisis sistem, laboratorium genetiknya mendapatkan proyek dari pemerintah. Proyek tersebut awalnya […]

  4. […] dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada di atas dipan yang bertahtakan emas dan permata seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak […]

  5. […] atau seumpama si fulanah untuk melenyapkan aib bagi keluarganya rela membunuh anak (menggugurkan kandungannya) sahingga melakukan perzinahan yang diharamkan sungguh merupakan salah satu tanda-tanda akan […]

  6. […] dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada di atas dipan yang bertahtakan emas dan permata seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak […]

  7. […] dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada di atas dipan yang bertahtakan emas dan permata seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak […]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s