Memanah

Posted: 9 Juni 2010 in Perihal Hiburan
Tag:

Di antara hiburan yang dibenarkan oleh syara’ ialah bermain memanah dan perang-perangan. Sebab di satu saat Nabi pernah berjalan-jalan menjumpai sekelompok sahabatnya yang sedang mengadakan pertandingan memanah, maka waktu itu Rasulullah s.a.w. memberikan dorongan kepada mereka dengan sabdanya: “Lemparkanlah panahmu itu, saya bersama kamu.” (Riwayat Bukhari)

Pertandingan lempar panah itu bukan sekadar hobby atau sekadar bermain-main saja, tetapi salah satu bentuk daripada mempersiapkan kekuatan sebagai yang diperintah Allah dalam firmanNya:

“Dan bersiap-siaplah kamu untuk menghadapi mereka (musuh) dengan kekuatan yang kamu sanggup.”

Dalam menafsirkan ayat ini Rasulullah bersabda: “Ketahuilah! bahawa yang dimaksud ‘kekuatan’ itu ialah memanah – beliau ucapkan kata-kata itu tiga kali.” (Riwayat Muslim)

Dan sabdanya pula: “Kamu harus belajar memanah kerana memanah itu termasuk sebaik-baik permainanmu.” (Riwayat Bazzar, dan Thabarani dengan sanad yang baik)

Namun begitu, Rasulullah s.a.w. memperingatkan para pemain agar tidak menjadikan binatang-binatang jinak dan sebagainya sebagai sasaran latihannya, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh orang-orang Arab jahiliah.

Abdullah bin Umar pernah melihat sekelompok manusia yang sedang berbuat demikian, kemudian Ibnu Umar mengatakan: “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. melaknat orang yang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai sasaran memanah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dilarangnya permainan seperti itu kerana terdapat unsur-unsur penyiksaan terhadap binatang dan merenggut jiwa binatang serta memungkinkan untuk membuang-buang harta, Tidak benar kalau permainan manusia itu dengan mengorbankan makhluk hidup yang lain.

Justru itu pula Rasulullah s.a.w. melarang mengadu binatang [26] seperti yang dilakukan orang-orang Arab dahulu, iaitu mereka membawa dua ekor domba atau sapi kemudian diadu sampai mati atau hampir mati. Lantas mereka senang dan tertawa.

Para ulama berkata: “Bahawa prinsip dilarangnya mengadu binatang, kerana terdapatnya unsur menyakiti dan melumpuhkan binatang tanpa faedah, tetapi hanya sekadar bermain-main.”

Komentar
  1. […] Jelas sekali diterangkan rasulullah bahwa wanita yang seperti itu tidak akan masuk syurga dan mencium baunya pun tidak. Maka ini peringatan bagi kita muslimah untuk bermuhasabah diri. […]

  2. […] melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh anak-anak mereka hingga bahkan seolah menjadi kebanggaan tersendiri bagi kedua orang tuanya. […]

  3. […]  sangat pendiam, sehingga jarang punya teman  yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu […]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s