Isteri yang Melayani Tamu-Tamu Suaminya

Posted: 8 Juni 2010 in Lapangan Ghazirah ( Pergaulan )
Tag:,

Dan lebih tegas lagi, bahawa seorang isteri boleh melayani tamu-tamu suaminya di hadapan suami, asal dia melakukan tata kesopanan Islam, baik dalam segi berpakaiannya, berhiasnya, berbicaranya dan berjalannya. Sebab secara wajar mereka ingin melihat dia dan dia pun ingin melihat mereka. Oleh kerana itu tidak berdosa untuk berbuat seperti itu apabila diyakinkan tidak terjadi fitnah suatu apapun baik dari pihak isteri mahupun dari pihak tamu.

Sahal bin Saad al-Anshari berkata sebagai berikut: “Ketika Abu Asid as-Saidi menjadi pengantin, dia mengundang Nabi dan sahabat-sahabatnya, sedang tidak ada yang membuat makanan dan yang menghidangkannya kepada mereka itu kecuali isterinya sendiri, dia menghancurkan (menumbuk) korma dalam suatu tempat yang dibuat dari batu sejak malam hari. Maka setelah Rasulullah s.a. w. selesai makan, dia sendiri yang berkemas dan memberinya minum dan menyerahkan minuman itu kepada Nabi.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dari hadis ini, Syaikhul Islam Ibnu Hajar berpendapat: “Seorang perempuan boleh melayani suaminya sendiri bersama orang laki-laki yang diundangnya …” Tetapi tidak diragukan lagi, bahawa hal ini apabila aman dari segala fitnah serta dijaganya hal-hal yang wajib, seperti hijab. Begitu juga sebaliknya, seorang suami boleh melayani isterinya dan perempuan-perempuan yang diundang oleh isterinya itu.

Dan apabila seorang perempuan itu tidak menjaga kewajiban-kewajibannya, misalnya soal hijab, seperti kebanyakan perempuan dewasa ini, maka tampaknya seorang perempuan kepada laki-laki lain menjadi haram.

Komentar
  1. […] kabar gembira atas orang-orang yang beriman dan merupakan kabar takut atas orang – orang yang ingkar. Dan Qur;an itu suatu perkabaran Ilmu pengetahuan, renungan, kemuliaan, kesucian, keikhlasan, […]

  2. […] bagi para wanita mukminah untuk menutup seluruh perhiasan, tidak memperlihatkan sedikitpun kepada orang-orang yang bukan mahromnya kecuali perhiasan yang biasa nampak. 2. Tidak ketat sehingga […]

  3. […] lihat kan, aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan […]

  4. […] Aisyah mulai beranjak dewasa Ayah Aisyah, Abu Bakar merasa Aisyah sudah cukup umur untuk menikah, karenanya Aisyah akan dinikahkan dengan Jubayr bin Mut’im, tetapi […]

  5. […] Shahih Bukhari Yang Bertentangan Hadist Hisyam « Tausiyah In Tilawatun Islamiyah pada Isteri yang Melayani Tamu-Tamu SuaminyaUsia Aisyah Radhiallahu Anhu Saat Menikah Dengan Nabi Muhammad Adalah 19 Atau 20 Tahun, Hadist Dhaif […]

  6. […] bagi para wanita mukminah untuk menutup seluruh perhiasan, tidak memperlihatkan sedikitpun kepada orang-orang yang bukan mahromnya kecuali perhiasan yang biasa […]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s