Bilakah Minta-Minta Itu Diperkenankan?

Posted: 8 Juni 2010 in Bekerja dan Usaha
Tag:

Namun Rasulullah s.a.w. masih juga memberikan suatu pembatas justru kerana ada suatu kepentingan yang mendesak. Oleh kerana itu barangsiapa sangat memerlukan untuk meminta-minta atau mohon bantuan dari pemerintah dan juga kepada perorangan, maka waktu itu tidaklah dia berdoa untuk mengajukan permintaan.

kerana ada sabda Nabi: “Sesungguhnya meminta-minta itu sama dengan luka-luka, yang dengan meminta-minta itu berarti seseorang melukai mukanya sendiri, oleh kerana itu barangsiapa mahu tetapkanlah luka itu pada mukanya, dan barangsiapa mahu tinggalkanlah, kecuali meminta kepada sultan atau meminta untuk suatu urusan yang tidak didapat dengan jalan lain.” (Riwayat Abu, Daud dan Nasa’i)

Qabishah bin al-Mukhariq berkata: “Saya menanggung suatu beban yang berat, kemudian saya datang kepada Nabi untuk meminta-minta, maka jawab Nabi: Tinggallah di sini sehingga ada sedekah datang kepada saya, maka akan saya perintahkan sedekah itu untuk diberikan kepadamu. Lantas ia pun berkata: Hai Qabishah! Sesungguhnya minta-minta itu tidak halal, melainkan bagi salah satu dari tiga orang: (1) Seorang laki-laki yang menanggung beban yang berat, maka halallah baginya meminta-minta sehingga dia dapat mengatasinya kemudian sesudah itu dia berhenti. (2) Seorang laki-laki yang ditimpa suatu bahaya yang membinasakan hartanya, maka halallah baginya meminta-minta sehingga dia mendapatkan suatu standard untuk hidup. (3) Seorang laki-laki yang ditimpa suatu kemiskinan sehingga ada tiga dari orang-orang pandai dari kaumnya mengatakan: Sungguh si anu itu ditimpa suatu kemiskinan, maka halallah baginya meminta-minta sehingga dia mendapatkan suatu standard hidup. Selain itu, meminta-minta hai Qabishah, adalah haram, yang melakukannya berarti makan barang haram.” (Riwayat Muslim, Abu Daud dan Nasa’i)

Komentar
  1. […] adalah perilaku wanita yang menampakkan perhiasan dan kecantikannya serta segala sesuatu yang mestinya ditutup karena hal itu dapat membangkitkan […]

  2. […] yang  masih  terduduk disamping  nisan  Rima istrinya.  Di  wajahnya  tampak  duka  yang  dalam.  Semuanya  telah  terjadi, […]

  3. […] tahun 3 Hijrah bersamaan bulan Maret tahun 625 Masehi Iman Bukari mengatakan didalam kitab nya : Kitabu’l-jihad wa’l-siyar,Arabic, Bab Ghazwi’l-nisa’ wa qitalihinna […]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s