Bekerja dengan Jalan Bercocok-Tanam

Posted: 8 Juni 2010 in Bekerja dan Usaha
Tag:

Di dalam al-Quran Allah menyebutkan tentang masalah mencari rezeki beberapa pokok yang harus ditepati demi suksesnya bercocok-tanam itu.

Pertama Allah menyebutkan, bahawa bumi ini disediakan Allah untuk menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan memproduksi. Untuk itu Ia jadikan bumi ini serba mudah dan dihamparkan, sebagai suatu nikmat yang harus diingat dan disyukuri. Firman Allah:

“Allah menjadikan bumi ini untuk kamu dengan terhampar supaya kamu menjalani jalan-jalan besarnya.” (Nuh: 19-20)

“Bumi ini diletakkan Allah untuk umat manusia, di dalamnya penuh dengan buah-buahan dan korma yang mempunyai kelopak-kelopak, biji-bijian yang mempunyai kulit dan berbau harum. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (ar-Rahman: 10-13)

Yang kedua, Allah menyebutkan tentang air, Ia mudahkannya, dengan diturunkannya melalui jalan hujan dan mengalir di sungai-sungai, kemudian dengan air itu dihidupkanlah bumi yang tadinya mati. Firman Allah:

“Dialah zat yang menurunkan air dari langit, maka dengan air itu kami keluarkan tumbulr-tumbuhan dari tiap-tiap sesuatu, maka kami keluarkan daripadanya pohon yang hijau yang daripadanya kami keluarkan biji-bijian yang bersusun-susun.” (al-An’am: 99)

“Hendaklah manusia mahu melihat makanannya. Kami curahkan air dengan deras, kemudian kami hancurkan bumi dengan sungguh-sungguh hancur kemudian kami tumbuhkan padanya biji-bijian, anggur dan sayur-mayur.” (‘Abasa: 24-28)

Selanjutnya tentang angin yang dilepas Allah dengan membawa kegembiraan, di antaranya dapat menggiring awan dan mengkawinkan tumbuh-tumbuhan. Ini semua tersebut dalam firman Allah:

“Dan bumi Kami hamparkannya dan Kami tancapkan di atasnya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya dari tiap-tiap sesuatu yang ditimbang. Dan Kami jadikan untuk kamu padanya sumber-sumber penghidupan dan orang-orang yang kamu tidak boleh memberi rezeki kepadanya. Dan tidak ada sesuatu benda melainkan di sisi Kamilah perbendaharaannya, dan Kami tidak menurunkan dia melainkan dengan ukuran tertentu. Dan Kami lepaskan angin untuk mengkawinkan, kemudian Kami turunkan air hujan dari langit, kemudian Kami siram kamu dengan air itu padahal bukanlah kamu yang mempunyai perbendaharaan air itu.” (al-Hijr: 19-22)

Seluruh ayat-ayat ini merupakan peringatan Allah kepada umat manusia tentang nikmatnya bercocok-tanam serta mudahnya jalan-jalan untuk bercocok-tanam itu. Dan sabda Rasulullah s.a.w.: “Tidak seorang muslim pun yang menanam tanaman atau menaburkan benih, kemudian dimakan oleh burung atau manusia, melainkan dia itu baginya merupakan sedekah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dan sabdanya pula yang artinya sebagai berikut: “Tidak seorang muslim pun yang menanam tanaman, kecuali apa yang dimakan merupakan sedekah baginya, dan apa yang dicuri juga merupakan sedekah baginya dan tidak juga dikurangi oleh seseorang melainkan dia itu merupakan sedekah baginya sampai hari kiamat.” (Riwayat Muslim)

Penegasan hadis tersebut, bahawa pahalanya akan terus berlangsung selama tanaman atau benih yang ditaburkan itu dimakan atau dimanfaatkan, sekalipun yang menanam dan yang menaburkannya itu telah meninggal dunia; dan sekalipun tanaman-tanaman itu telah pindah ke tangan orang lain.

Para ulama berpendapat: “Dalam keleluasaan kemurahan Allah, bahawa Ia memberi pahala sesudah seseorang itu meninggal dunia sebagaimana waktu dia masih hidup, iaitu berlaku pada enam golongan: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, anak soleh yang mahu mendoakan orang tuanya, tanaman, biji yang ditaburkan dan binatang (kendaraan) yang disediakan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh.”

Diriwayatkan, ada seorang laki-laki yang bertemu Abu Darda’ ketika itu dia menanam pohon pala. Kemudian orang laki-laki itu bertanya kepada Abu Darda’: Hai Abu Darda’! Mengapa engkau tanam pohon ini, padahal engkau sudah sangat tua, sedang pohon ini tidak akan berbuah kecuali sekian tahun lamanya. Maka Abu Darda’ menjawab: Bukankah aku yang akan memetik pahalanya di samping untuk makanan orang lain?

Salah seorang sahabat Nabi ada yang mengatakan: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. membisikkan pada telingaku ini, iaitu: Barangsiapa menanam sebuah pohon kemudian dengan tekun memeliharanya dan mengurusinya hingga berbuah, maka sesungguhnya baginya pada tiap-tiap sesuatu yang dimakan dari buahnya merupakan sedekah di sisi Allah.” (Riwayat Ahmad)

Dari hadis-hadis ini para ulama berpendapat, bahawa bercocok-tanam (bertani) adalah pekerjaan yang paling baik. Tetapi yang lain berpendapat: bahawa pertukangan atau pekerjaan tangan merupakan pekerjaan yang paling mulia. Sedang yang lain berpendapat: Daganglah yang paling baik. Sementara ahli penyelidik dan pentashih berpendapat:

Seharusnya kesemuanya itu berbeza-beza sesuai dengan perbezaan keadaan. Kalau masalah bahan makanan yang memang sangat diperlukan, maka bercocok-tanam adalah pekerjaan yang lebih utama, kerana dapat membantu orang ramai. Kalau yang sangat diperlukan itu barang-barang perdagangan kerana terputusnya jalan-jalan misalnya, maka berdagang adalah yang lebih utama. Dan kalau yang diperlukan itu soal-soal kerajinan/pekerjaan tangan, maka pekerjaan tangan itu adalah lebih utama [33].

Perincian yang terakhir ini kiranya selaras dengan keutamaan pengetahuan ekonomi moden.

Komentar
  1. […] adalah perilaku wanita yang menampakkan perhiasan dan kecantikannya serta segala sesuatu yang mestinya ditutup karena hal itu dapat membangkitkan syahwat kaum […]

  2. […] seorang wanita yang senang menampakkan diri di hadapan lawan jenisnya dengan segala keindahan yang mengundang perhatian. Misalnya dengan pakaiannya, ucapannya, cara berjalannya maupun semua sikap […]

  3. […] Komentar Terakhir Renungan Bagi Wanita Muslimah Tentang Cara Berhias (Tabarruj) , Berpenampilan, Berwewangian Dan Tidak Berpakaian Hijab Yang Syar’i, Yang Kesemua Itu Menjauhkanmu Dari Syurga Bahkan Mencium Bau Syurgapun Tidak « Tausiyah In Tilawatun Islamiyah pada Perusahaan Melukis, Membuat Salib dan SebagainyaRenungan Bagi Wanita Muslimah Tentang Cara Berhias (Tabarruj) , Berpenampilan, Berwewangian Dan Tidak Berpakaian Hijab Yang Syar’i, Yang Kesemua Itu Menjauhkanmu Dari Syurga Bahkan Mencium Bau Syurgapun Tidak « Tausiyah In Tilawatun Islamiyah pada Jaga Harga Diri dengan BekerjaRenungan Bagi Wanita Muslimah Tentang Cara Berhias (Tabarruj) , Berpenampilan, Berwewangian Dan Tidak Berpakaian Hijab Yang Syar’i, Yang Kesemua Itu Menjauhkanmu Dari Syurga Bahkan Mencium Bau Syurgapun Tidak « Tausiyah In Tilawatun Islamiyah pada Bekerja dengan Jalan Bercocok-Tanam […]

  4. […] 15 tahun. jika ditukir dalam sejarah, saat Siti Aisyah ikut serta didalam peperangan Badar dan Uhud yang artinya dalam peperangan tersebut umur beliau adalah 15 tahun ke atas.  dan berdasarkan […]

  5. […] 15 tahun. jika ditukir dalam sejarah, saat Siti Aisyah ikut serta didalam peperangan Badar dan Uhud yang artinya dalam peperangan tersebut umur beliau adalah 15 tahun ke atas.  dan berdasarkan […]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s