Sumber Islam Tasawuf

Posted: 5 Juni 2010 in Kajian
Tag:

Oleh: Haidar Bagir (Buku Saku Tasawuf)

“….saya harus mengakui…bahwa al-Quran mengandung benih-benih nyata  mistisisme (tasawuf) yang mampu untuk berkembang sendiri  secara otonom  tanpa perlu dibantu  oleh pengaruh-pengaruh asing…” (Louis Massignon)

Kutipan dari seorang orientalis  yang belakangan dikenal mendedikasikan seluruh hidupnya untuk studi tasawuf ini penting,  selain  untuk untuk mengungkapkan tujuan  yang hendak dicapai  oleh bagian ini, karena para  orientalis adalah diantara kelompok  yang menyatakan bahwa tasawuf pada dasarnya adalah pinjaman dari agama Kristen. Pada umumnya mereka berargumentasi bahwa Islam mengajarkan suatu monoteisme simple yang cocok dengan pikiran sederhana kaum  Arab Badui. Kenyataanya, seperti juga diungkapkan oleh Nicholson  – lagi-lagi seorang orientalis  ahli taswuf :

“Kendati Muhammad (Saaw. _ HB) tidak mengajarkan system dogma ataupun (semacam)teologi mistis, Al-Quran jelas-jelas mengandung bahan-bahan bagi keduanya. … (Di dalam  Al-Quran) Allah berfirman:  Allah cahaya langit dan  bumi (QS. An-Nur [24]: 25): Dialah zat Yang Maha Awal dan  Maha Akhir (QS. Al-Hadid [57]: 3); Tidak ada Tuhan  selain  Dia. Segala sesuatu selain  Dia bersifat  sementara dan  fana  (QS. Al-Qashash [28]: 88); Aku titipkan ruh-Ku ke dalam  (diri manusia) (QS. Al-hijr [15]: 29); Kami ciptakan manusia dan  Kami mengetahui apa  yang dibisikkan jiwanya, sebab Kami lebih dekat  kepadanya ketimbang urat lehernya sendiri (QS. Qaf [50]: 16); Ke manapun kamu  berpaling di situlah wajah Allah (QS. Al-Baqarah [2]:

115); barang siapa tidak diberi petunjuk  oleh Allah maka  ia tak beroleh cahaya barang sedikit pun (QS. An-Nur [24]: 40). Jelaslah bahwa benih-benih tasawuf tersemai di sini. Dan bagi kaum sufi awal, Al-Quran bukalah sekadar kalam  Allah, melainkan juga sarana mendekatkan diri kepada-Nya. Dengan merenungkan ayat-ayat Al-Quran pada umumnyadan ayat-ayat misterius tentanh Mi’raj Nabi Saaw. (QS. Al-Isra [117]: 1; QS. An-Najm [53]: 1-18) pada khususnya, kaum sufi berupaya keras untuk mendapatkan pengalamn spiritual Nabi tersebut.”

Ajaran tentang kesatuan spiritual yang bisa dicapai  dengan suatu perjalanan spiritual (memang) tak ada  dalam ayat apa  pun dalam  Al-Quran. Tetapi,  secara jelas,  hal itu diungkapkan dalam  sebuah hadis  qudsi  – yang (oleh sekelompok orang  yang tidak sejalan dengan pandangan tasawuf) diragukan kesahihannya.”

“Seorang hamba terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan ibadah nawafil hingga ketika Aku mencintainya, Aku menjadi  pendengaran yang dengannya ia mendengar, penglihatan yang dengan itu ia melihat,  lidah yang dengannya ia berbicara, dan tangan yang dengannya ia memegang.”

Bahkan Ibnu Khaldun,  yang tidak pernah dikenal simpatinya terhadap masalah-masalah seperti ini, menyatakan bahwa pada walnya spiritualital Islam bersifat  terlalu umum untuk diberi nama, tetapi  “…ketika sebagian orang Islam tenggelam dalam  kecintaan terhadap dunia  tersebar luas dan  sebagian besar orang   (kaum Muslim – HB) tenggelam ke dalam  permukaan mistis maka  misitisime Islam perlu diberi suatu nama yang khusus.”

Selanjutnya para  pendukung tasawuf juga menyoroti  nilai penting  kebeadaan Nabi Saaw. Dalam tahannuts (pertapaan) ketika Jibril dating  kepadanya pertama kali untuk membawakan wahyu Allah sebagai indikasi ajaran khlawat  sebagai salah satu  aspek penting  tasawuf. Hal ini kiranya diperkuat oleh ayat  Al-Quran yang menunjukkan, bukan  hanya tekanan amat  besar yang terkandung dalam  ayat-ayat Allah yang diturunkan kepada Nabi, melainkan juga kekuatan spiritual Nabi ketika menerimanya.

“Kalau sajakami turunkan Al-Quran ini ke atas gunung, kau akan  melihatnya merendah, pecah berantakan karena takutnya kepada Allah.” Persis seperti kejadiannya dengan Nabi Musa ketika – atas permintaan Musa yang berkehendak melihat Allah – Allah mengungkapkan diri (tidak secara langsung, melainkan) melalui sebuah gunung dan  berakhir  dengan meledak berkeping-kepingnya gunung itu dan  pingsannya Musa.  Jika kita lanjutkan pengkajian kita atas

ayat-ayat yang paling awal ini kita akan  mendapati bahwa, meski sudah begitu  agung kekuatan spiritual Nabi (“Sesungguhnya,” kata  Al-Quran, “engkau  – Muhammad – memiliki akhlak yang agung”),  sirahnya menunjukkan betapa kekuatan ayat-ayat Allah itu telah menimpakan yang amat  berat  atasnya. Dikisahkan bahwa Nabi Saaw.meminta kepada Khadijah  untuk menumpukan beberapa selimut sekaligus untuk menutupi tubuhnya yang menggigil hebat. Belakangan, nilai penting  peristiwa  ini digarisbawahi dengan turunya  wahyu lanjutan:

“Wahai yang berselubung selimut,  berjagalah dalam  sebagian besar malammu meskipun sedikit, atau  setengah dari (malam),  atau  sebagian darinya  atau  tambahkan atasnya dan bacalah Al-Quran dengan bacaan yang benar.” Kenyataanya, Al-Quran secara spesifik menunjukkan adanya sekolompok orang  dari kaum  Musim yang,  oleh para pendukung tasawuf, menampilkan potret para  sufi yang sesungguhnya, ketika Allah berfirman:

Sesungguhnya Rabbmu mengetahui engkau bejaga selama dua  petiga  malam  , atau  setengah dari itu. Engkau dan  sekelompok orang  yang bersamamu. (QS. Al-Muzammil [73]: 20) Selanjutnya lanjutan  ayat  itu mengajarkan:

Dan sebutkan dalam  zikir nama Tuhanmu serta beribadahlah kamu  kepada-Nyadengan ibadah yang sebenar-benarnya. (QS. Al-Muzammil [73]: 8) Akhirnya rangkaian ayat-ayat ini berujung dengan:

Sesungguhnya ini adalah peringatan, maka  ada  jalan bagi Rabb  bagi siapa yang mau.  (QS. Al-Muzammil [73]: 19). Tasawuf, menurut para  pendukungnya, tak lain dan  tak bukan  adalah jalan itu. Dan mengenai jalan inilah di tempat lain Allah berfirman:

Dan barang siapa yang berjihad  (bersungguh-sungguh) dalam  (mencari) Kami maka  pasti akan

Kami tunjuki jalan-jalan Kami. (QS. AL-Ankabut [29]: 69).

Selain  dalam  berbagi ayat  Al-Quran, yang sebagiannya telah dikutip di atas, kaum  sufi merasa mendapatka penguatan atas paham meeka dari berbagai hadis  qudsi.  Selain  yang dikutip oleh Nicholson  di ats  – dan  hampir selalu  dikutip di buku-buku sufi – di kalangan ini amat  popular  hadis  berikut ini:

“Langit dan  bumi tidak dapat menampung-Ku. Hanya  hati seorang Mukmin yang cukup  luas untuk menampung-Ku.” Hati yang cukup  luas untuk menampung Allah inilah hati yang telah dibersihkan dari berbagai kotoran  akibar  kecintaan tak proporsional kepada dunia,  akibat ketaklukan kepada nafsu  yang terus mendorong-dorong untuk berbuat maksiat (al-nafs

al-ammarah bi al-su).  Karena, setiap orang  Mukmin berbuat maksiat, demikian  ajaran Nabi, makin banyak noktah hitam yang menutupi hatinya.  Inilah tasawuf, sebagaimana diajarkan oleh Allah dan  Rasul-Nya sendiri.

Akhirnya, persis seperti Muthahhari, saya akan  mengakhirinya dengan sebuah catatan. Segala argumentasi bagi para  pendukung tasawuf ini hanyalah semata-mata untuk memaparkan

apa-apa yang mereka pahami sebagai ajaran-ajaran Islam yang mendorong kepada sebuah paham semacam tasawuf itu. Bukan untuk membenarkan semuapandangan mereka. Karena, persisi  seperti dalam  disiplin-disiplin keagamaan lainnya _ apakah itu fiqih, tafsir, dan sebagainya – para  penganut atau  bahkan ahlinya bisa benar atau bisa salah di dalam  memahami ajaran-ajaran Islam sepanjang disiplin yang digelutinya.  Kalu argumentasi para  pendukung tasawuf ini bisa dibenarkan, ia hanya berarti bahwa, tak seperti dinyatakan parapenentangnya, ada  benih-benih bagi tasawufdi dalam  Al-Quran dan  hadis.

Komentar
  1. […] ajal hampir menjemputnya, Ibrahim An-Nakha-i menangis seraya berkata, ” Bagaimana aku tidak menangis pada saat aku menanti utusan Tuhanku, apakah membawa berita bahwa aku ke sorga, ataukah ke neraka […]

  2. […] Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, yang artinya: Manusia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berbusana, dan tidak berkhitan. Kemudian Aisyah berkata: […]

  3. […] Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, yang artinya: Manusia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berbusana, dan tidak berkhitan. Kemudian Aisyah berkata: […]

  4. […] keluar dari persembunyiannya seraya berkata:”Wahai Umar, aku merasa bahagia, aku harap do’a yang dipanjatkan Nabi pada malam kamis menjadi kenyataan, Ia (Nabi) berdo’a “Ya Allah, muliakanlah […]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s