Posts Tagged ‘Tafsir’

JIHAD OFENSIF
(Tafsir QS at-Taubah [9]: 123)
Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

sejarah islam

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا قَاتِلُوْا الَّذِيْنَ يَلُوْنَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوْا فِيْكُمْ غِلْظَةً وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang ada di sekitar kalian itu, dan hendaklah mereka merasakan kekerasan dari kalian. Ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (QS al-Taubah [9]: 123).

Ayat ini terdapat dalam surat at-Taubah. Dalam surat ini, dalam beberapa ayatnya, kaum Muslim diperintahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrik. Ayat ini termasuk di antaranya.

Ketika ayat ini diturunkan, perintah memerangi kaum musyrik langsung bisa dijalankan. Pasalnya, saat itu Daulah Islamiyah sudah berdiri kokoh. Surat ini termasuk yang terakhir diturunkan kepada Rasulullah saw. 1

Tafsir Ayat

Allah Swt. berfirman: Yâ ayyuhâ alladzîna âmanu qâtilû al-ladzîna yalûnakum min al-kuffâr (Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang ada di sekitar kalian itu). Kata qâtilû merupakan fi’l al-amr dari mashdar kata al-qitâl atau al-muqâtalah. Secara bahasa, kata al-muqâtalah berarti al-muhârabah (peperangan).2 Pengertian peperangan yang dimaksud tentulah perang fisik.3

Adapun kata yalûna merupakan bentuk mudhâri dari al-waly yang berarti al-qurb wa al-dunuw (dekat).4 Kata yalûnakum pun dapat dimaknai dengan yaqrubûna minkum (yang dekat dari kalian).5 Bertolak dari makna-makna tersebut, ayat ini dapat dipahami sebagai perintah terhadap kaum Mukmin untuk memerangi kaum kafir yang dekat dengan mereka.6

Beberapa ayat dalam QS at-Taubah di atas (yakni ayat 5, 29, dan 36) memang memerintahkan kaum Muslim memerangi kaum kafir secara keseluruhan. Akan tetapi, untuk bisa memerangi mereka dalam waktu bersamaan tentu tidak mungkin. Yang mungkin bisa dilakukan adalah memerangi sekelompok di antara mereka terlebih dulu. Karena harus dipilih, maka kaum yang paling dekat dengan merekalah harus didahulukan.7 Inilah skala prioritas yang ditetapkan ayat ini.

Ar-Razi, az-Zuhayli, dan ash-Shabuni menuturkan, ketika Allah Swt. memerintahkan kaum Mukmin untuk memerangi kaum kafir secara keseluruhan. Dia pun mengajarkan metode yang paling tepat dan cocok untuk ditempuh, yakni mereka harus memulai dari yang dekat-dekat, lalu beralih kepada yang jauh-jauh.8 Dengan metode ini, kewajiban untuk memerangi kaum kafir secara keseluruhan dapat tercapai.9

Metode inilah yang ditempuh Rasulullah saw. dan para Sahabat ra. Pada awalnya beliau memerangi kaumnya, lalu bangsa Arab di Hijaz, kemudian Syam.10 Dari Madinah, Syam memang lebih dekat dibandingkan dengan Irak, Persia, atau Mesir. Setelah Syam dapat dikuasai pada masa Sahabat, kaum Muslim baru beralih ke Irak, berikutnya ke wilayah-wilayah lain.11

Selanjutnya Allah Swt. berfirman: Walyajidû fîkum ghilzhah (dan hendaklah mereka merasakan kekerasan dari kalian). Makna ghilzhah adalah dhidd ar-riqqah (lawan dari halus);12 bisa juga berarti syiddah (keras), quwwah (kuat), dan hamiyyah (gagah berani).13 Menurut al-Andalusi dan al-Baqa’i, dalam ayat ini, kata ghildhah digunakan untuk menunjukkan syiddah li al-harb (kerasnya peperangan).14

Menurut lahiriah ayat ini, yang diperintah untuk merasakan sifat ghilzhah adalah kaum kafir. Akan tetapi, perintah itu sebenarnya ditujukan kepada kaum Mukmin. Mereka diperintahkan memiliki sifat-sifat yang disebutkan itu, yakni sifat ghilzhah dengan segala makna yang tercakup di dalamnya.15 Dengan demikian, ayat ini menggunakan musabab untuk menyatakan sebab. Artinya, jika kaum kafir bisa merasakan kerasnya perjuangan kaum Muslim, hal itu disebabkan oleh kerasnya kaum Muslim terhadap mereka.16

Perintah untuk memiliki segala sifat yang tercakup dalam kata ghilzhah itu amat tepat. Sebab, demikianlah tabiat dan kemaslahatan dalam peperangan.17 Untuk bisa memenangkan peperangan, sifat tersebut harus dimiliki kaum Muslim (Lihat juga: QS at-Taubah [9]: 73).

Ayat ini ditutup dengan firman-Nya: Wa’lamû anna Allâh ma’a al-muttaqîn (Ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa). Di akhir ayat ini Allah Swt. mengingatkan bahwa Dialah Penolong hamba-hamba-Nya yang bertakwa.18

Beberapa Pelajaran

Ada banyak pelajaran yang dapat dipetik dari ayat ini. Di antaranya:

1. Jihad ofensif.
Menurut ayat ini, jihad yang diwajibkan terhadap kaum Muslim tidak hanya bersifat difâ’î (defensif, membela diri), namun juga ibtidâ’i (ofensif, memulai perang terlebih dulu). Ayat ini jelas memberikan kesimpulan demikian.

Patut dicatat, jihad ibtidâ’i ini harus dilakukan di bawah komando Daulah Islamiyah. Pasalnya, jihad ini dilancarkan dalam kerangka futûhât, yakni upaya memperluas wilayah kekuasaan Daulah Islamiyah dengan cara menaklukkan wilayah-wilayah lain yang sebelumnya dikuasai penguasa kafir dan sistem kufur. Selanjutnya, wilayah yang telah ditaklukkan tersebut diintegrasikan dengan Daulah Islamiyah. Bertolak dari fakta ini, jihad futûhât tidak bisa dilakukan jika tidak ada Daulah Islamiyah.

Inilah yang dikerjakan Rasulullah saw. dulu. Ketika Rasulullah saw. berhasil mendirikan negara di Madinah, beliau pun mengirim banyak detasemen dan pasukan perang ke wilayah-wilayah lain. Tidak jarang, beliau memimpin langsung pasukan tersebut. Selama Rasulullah saw. hidup, beliau telah memimpin 27 kali peperangan. Adapun jumlah utusan dan ekspedisi militer yang tidak beliau pimpin langsung mencapai 60 kali.19

Dengan jihad ibtidâ’i inilah wilayah kekuasaan Islam terus mengalami perluasan. Jika di awal berdirinya, luas wilayah Daulah Islamiyah sekitar 274 mil persegi (kota Madinah), maka sepuluh tahun kemudian-ketika Rasulullah saw. menghadap Tuhannya-luas wilayah Daulah mencapai lebih dari 1.000.000 mil persegi.20

Kewajiban jihad ibtidâ’i ini juga tidak terlepas dari konteks dakwah. Disebutkan bahwa tatkala Rasulullah saw. memberangkatkan pasukan perang, beliau menyampaikan beberapa pesan kepada panglimanya. Di antara pesan beliau:

«وَإِذَا لَقِيْتَ عَدُوَّكَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ فَادْعُهُمْ إِلَى ثَلاَثِ حِصَالٍ أَوْ خِلاَلٍ, فَأَيَّتَهُ مَا أَجَابُوْكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ, اُدْعُهُمْ إِلىَ اْلإِسْلاَمِ فَإِنْ أَجَابُوْكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ … فَإِنْ هُمْ أَبَوْا فَسَلْهُمُ الْجِزْيَةَ, فَإِنْ هُمْ أَجَابُوْكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ, فَإِنْ أَبَوْا فَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَقَاتِلْهُمْ»
Jika kalian bertemu dengan musuh kalian dari kalangan kaum musyrik maka serulah mereka pada tiga pilihan, mana saja di antara ketiganya, selama mereka bersedia memenuhi seruanmu, maka terimalah dan tahanlah dirimu dari menyerang mereka. Ajaklah mereka memeluk Islam. Jika mereka memenuhi seruan kalian, terimalah dan tahanlah dirimu untuk menyerang mereka….Jika mereka enggan (memenuhi seruan kalian), mintalah mereka membayar jizyah. Jika mereka memenuhi seruan kalian, terimalah dan tahanlah diri kalian untuk menyerang mereka. Jika mereka enggan juga, mintalah perlindungan kepada Allah, kemudian perangilah mereka. (HR Muslim).

2. Keharusan bersungguh-sungguh dalam menjalankan kewajiban jihad.

Dalam ayat ini, kaum Muslim diperintahkan agar memiliki sifat ghilzhah dalam perang menghadapi kaum kafir. Ini berarti, mereka harus menyiapkannya secara sungguh-sungguh sehingga kaum kafir bisa merasakan kerasnya pasukan kaum Muslim dalam pertempuran.

Prinsip ini patut dicamkan dalam diri kaum Muslim. Kendati jihad terkategori tindakan menolong agama-Nya, dan bagi siapapun yang menolong agama-Nya dijanjikan memperoleh pertolongan-Nya (QS Muhammad [47]: 7), kaum Muslim tidak boleh meninggalkan faktor-faktor sababiyyah yang bisa mengantarkan kemenangan. Mereka harus mengerahkan segala kemampuan sehingga menjadi pasukan yang kuat dan handal. (Lihat juga: QS al-Anfal [8]: 60).

Jika kaum Muslim bisa menunjukkan keperkasaan kekuatan militernya, jelas setiap musuh akan merasa gentar menghadapi kaum Muslim. Rasa gentar ini akan menyebar luas kepada musuh-musuh yang nyata maupun yang potensial, sehingga dapat menjadi sarana yang efektif untuk mencegah kemunculan pihak-pihak yang hendak melakukan makar. Pasukan Islam pun tidak perlu menemui banyak perlawanan. Dengan begitu, pertumpahan darah pun dapat dihindari. Inilah yang terjadi pada masa Rasulullah saw. Amat sering pasukan Islam memperoleh kemenangan tanpa mendapatkan perlawanan yang berarti dan tertumpahnya darah. Di antaranya adalah peristiwa dibebaskannya Makkah. Makkah dapat dikuasai pasukan kaum Muslim tanpa harus menumpahkan darah. Demikian juga pada saat Perang Tabuk. Ketika pasukan Islam yang berjumlah 30.000 personel sampai di Tabuk, pasukan Romawi-negara adidaya saat itu-sudah pergi meninggalkan daerah itu. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda:

«نُصِرْتُ بِالرَّعْبِ شَهْرًا يَرْعَبُ مِنِّي الْعَدُوَّ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ»
Aku dimenangkan dengan rasa takut (yang dialami pasukan musuh) sepanjang satu bulan perjalanan. (HR al-Bukhari).

3. Resep memperoleh pertolongan.

Dalam ayat ini ditegaskan, Allah Swt. bersama orang-orang yang bertakwa. Sebagaimana dijelaskan para mufassir, ma’iyyah dalam ayat ini bermakna pertolongan dan perlindungan Allah Swt. Itu berarti, siapapun yang ingin mendapatkan pertolongan Allah Swt., dia harus mengikatkan dirinya dengan semua perintah dan larangan-Nya, termasuk kewajiban jihad dengan segala ketentuannya.

Bertolak dari prinsip tersebut, kaum Muslim tidak perlu takut, cemas, ragu, dan khawatir terhadap kekuatan musuh-musuhnya dalam menjalankan jihad, karena Allah Swt. bersama mereka. Jika Allah Swt. telah menjadi Penolong mereka, tentu tidak ada seorang pun yang dapat mengalahkan mereka.

Wallâh a’lam bi ash-shawâb. []

Catatan Kaki :

  1. Ash-Shabuni, Shofwat al-Tafâsîr, vol. 1 (Beirut: Dar al-Fikr, 1996), 421.
  2. Ar-Raghib al-Ashfahani, Mu’jam Mufradât Alfâzh al-Qur’ân (Beirut: Dar al-Fikr, tt), 407.
  3. Zahid Ivan Salam, Jihad dan Kabijakan Luar Negeri (terj. Abu Faiz, dkk) (Bogor: Pustaka Thariqul Izzah, 2003), 58.
  4. Abd al-Qadir al-Razi, Tartîb Mukhtâr al-Shihah (Beirut: Dar al-Fikr, 1993), 879.
  5. Az-Zamakhsyari, al-Kasysyâf, vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1994), 312; al-Nasafi, Madârik al-Tanzîl wa Haqâiq al-Ta’wîl, vol. 1 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2001), 525; al-Baqa’i, Nazhm Durar fî Tanâsub al-Ayât wa al-Suwar, vol. 3 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1995), 403; al-Qasimi, Mahâsin al-Ta’wîl, vol. 5 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1997), 530.
  6. Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, vol. 6 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1992), 517; Abu Ali al-Fadhl, Majmû’ al-Bayân fî Tafsîr al-Qurân, vol. 5 (Beirut: Dar al-Ma’rifah, tt), 127; al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, vol. 9 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1994), 47.
  7. Al-Jashash, Ahkâm al-Qur’ân, vol. 3 (Beirut: Dar al-Fikr, 1993), 230.
  8. Fakhruddin al-Razi, al-Tafsîr al-Kabîr Aw Mafâtîh al-Ghayb, vol. 15 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1990), 181; al-Qinuji, Fath al-Bayan, vol. 5, 427; al-Zuhayli, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 11, 80; al-Shabuni, Shafwat al-Tafâsîr, vol. 1, 529.
  9. Al-Khazin, Lubâb al-Ta’wîl fî Ma’ânî al-Tanzîl, vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1995), 423; Sulaiman al-‘Ajili, al-Futuhât al-Ilâhiyyah, vol. 3 (Beirut: Dar al-Fikr, 2003), 239.
  10. Al-Zamakhsyari, al-Kasyâf, vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1994), 312.
  11. Sulaiman al-‘Ajili, al-Futûhât al-Ilâhiyyah, vol. 3, 240.
  12. Al-Qasimi, Mahâsin al-Ta’wîl, vol. 5, 531; Fakhruddin al-Razi, al-Tafsîr al-Kabîr, vol. 15, 182; al-Khazin, Lubâb al-Ta’wîl fî Ma’ânî al-Tanzîl, vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1995), 423.
  13. Al-Quthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 5 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993), 189; al-Shabuni, Shofwat al-Tafâsîr, vol. 1, 529.
  14. Abu Hayyan al-Andalusi, Tafsîr al-Bahr al-Muhith, vol. 5 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993), 118; al-Baqa’i, Nazham Durar, vol. 3, 403.
  15. Al-Qinuji, Fath al-Bayan, vol. 5, 426- 427
  16. Sulaiman al-‘Ajili, al-Futuhât al-Ilâhiyyah, vol. 3, 240.
  17. Al-Zuhayli, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 11, 80
  18. Abu Ali al-Fadhl, Majmû’ al-Bayân, vol. 5, 127; al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, vol. 9, 47.
  19. Abu al-Hasan Ali al-Nadwi, Sirah Nabaiyyah, terj. Muhammad Halabi dkk. (Yogyakarta: Mardiyah Press, 2005), 454.
  20. Abu al-Hasan Ali al-Nadwi, Sirah Nabaiyyah, 456.


http://tausyah.wordpress.com

Tafsir Kitab Kejadian

Posted: 9 Juli 2010 in Kristologi
Tag:, ,

Pengantar kepada Perjanjian Terakhir

Bermula dari doa Nabi Ibrahim as kepada Allah :

Dan Ibrahim berkata kepada Allah: “Ya Allah, biarlah kiranya Ismail sajalah yang diperkenankan hidup di hadapan-Mu!” (Kejadian 17:18)

Atas doanya ini, Allah kemudian berfirman kepada Nabi Ibrahim :

“Tentang Ismail, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu yang sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas pangeran, dan Aku akan membuatnya menjadi satu bangsa yang besar.” (Kejadian 17:20)

Kemudian firman Allah melalui malaikat kepada Hagar setelah pengusiran yang dilakukan oleh Sarah.

“Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi satu bangsa yang besar.” (Kejadian 21:18)

Bahwa doa Nabi Ibrahim as terhadap putranya, Ismail agar tetap diperkenankan hidup dihadapan Allah bisa kita kaji secara luas dan mendalam, bukan dalam pengertian phisik, sebab tiada seorangpun yang hidup kekal abadi, namun ini merupakan doa rohani dari Nabi Ibrahim akan kelangsungan kemuliaan dari Ismail as dan keturunannya dihadapan Allah.

Apa yang diharapkan oleh Nabi Ibrahim as ini dikabulkan oleh Allah, bahkan Allah telah mengulangi firman-Nya untuk menjadikan keturunan Ismail sebagai bangsa yang besar sebanyak dua kali, yaitu pada kejadian 17:20 dan kejadian 21:18.

Sementara firman Allah untuk memperbanyak keturunan Ismail as juga terulang sebanyak dua kali, yaitu pada Kejadian 16:10 disaat Hagar melarikan diri dari rumah Sarah karena tidak tahan terhadap perlakuan Sarah kepadanya dan pada Kejadian 17:20 sebagaimana telah disinggung diatas.

“Lagi kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: “Aku akan membuat sangat banyak keturunanmu, sehingga tidak dapat dihitung karena banyaknya.” (Kejadian 16:10)

Kalimat bahwa Allah akan memperbanyak keturunan Ismail tentunya juga tidak bisa kita batasi hanya dalam pengertian keturunan phisik semata, namun lebih jauh dari itu kita bisa pula menafsirkannya sebagai pengikut, sebab untuk menjadikan keturunan Ismail suatu bangsa yang besar, dia harus memiliki banyak pengikut, jika tidak, maka firman Allah ini tiada akan terbukti.

Bahkan dalam Bible Terjemahan Indonesia, ayat Kejadian 16:10 ini diartikan : “…bahwa Aku akan memperbanyak anak buahmu ….” (LAI 1963)

Dan sebagai awal terbuktinya firman Allah ini adalah Nabi Ismail telah menurunkan dua belas orang pangeran sesuai janji Allah tersebut :

“Inilah nama anak-anak Ismail, disebutkan menurut urutan lahirnya: Nebayot, anak sulung Ismail, selanjutnya Kedar, Adbeel, Mibsam, Misyma, Duma, Masa, Hadad, Tema, Yetur, Nafish dan Kedma. Itulah anak-anak Ismail, dan itulah nama-nama mereka, menurut kampung mereka dan menurut perkemahan mereka, dua belas orang pangeran, masing-masing dengan sukunya.” (Kejadian 25:13-15)

Nabi Muhammad Saw, terlahir dari keturunan Kedar, putra Nabi Ismail yang kedua.

The Davis Dictionary of the Bible (1980), sponsored by the Board of Christian Education of the Presbyterian Church in the USA, menulis pada artikel Kedar sebagai berikut :

“… A tribe descended from Ishmael (Gen. 25:13) … The people of Kedar were Pliny’s Cedrai, and from their tribe Mohammed ultimately arose.”

“….suatu suku keturunan Ismail (Kej. 25:13)…. masyarakat keturunan Kedar ialah orang Pliny Cedrai, dan dari suku mereka itulah lalu Muhammad dilahirkan secara terhormat.”

Juga The International Standard Bible Encyclopedia dari A.S. Fulton menerangkan :

“… Of the Ishmaelite tribes, Kedar must have been one of the most important and thus in later times the name came to be applied to all the wild tribes of the desert. It is through Kedar (“Keidar” in Arabic) that Muslim genealogists trace the descent of Mohammed from Ishmael.”

Selain itu, Smith’s Bible Dictionary ikut menjelaskan :

Kedar (black). Second son of Ishmael (Gen. 25:13) … Mohammed traces his lineage to Abraham through the celebrated Koreish tribe, which sprang from Kedar. The Arabs in the Hejaz are called Beni Harb (men of war), and are Ishmaelites as of old, from their beginning. Palgrave says their language is as pure now as when the Koran was written (A.D. 610), having remained unchanged more than 1200 years; a fine proof of the permanency of Eastern Institutions.”

Bible sendiri memberikan tempat yang istimewa dalam ayat-ayatnya terhadap keturunan Kedar, misalnya Kedar dan para pangerannya kembali disebut didalam Yehezkiel 27:21

“Arabia, and all the princes of Kedar…” (Ezekiel 27:21)

Atau juga :

“…that I dwell in the tents of Kedar.” (Psalm 120:5)
“I am black, but comely, O ye daughters of Jerusalem, as the tents of Kedar, as the curtains of Solomon.”
(Song of Solomon 1:5)
“…the villages that Kedar doth inhabit..” (Isaiah 42:11)
“All the flocks of Kedar…” (Isaiah 60:7)
“…and send unto Kedar..” (Jeremiah 2:10)
“Concerning Kedar…” (Jeremiah 49:28)

Dan kita kembali pada penyebutan dua belas pangeran (twelve princes) yang keluar dari benih Nabi Ismail adalah sangat tepat sekali, sebab pangeran adalah “raja kecil” (little King) yang akan menjadi cikal bakal raja sebenarnya (The real King) yang akan mengantarkan kaumnya menjadi bangsa yang besar sebagaimana firman Allah pada kitab Kejadian.

Pada kitab Yesaya kita menjumpai bahwa Allah telah memberikan beban kepada orang-orang Arab, dimana jika kita merefer pada tafsir ayat Ezekiel 27:21 bahwa tanah Arabia ini berdiam seluruh keturunan Kedar.

“The burden upon Arabia…” (Isaiah 21:13)
Didalam terjemahan LAI (Bible versi Indonesia) ayat ini diterjemahkan dengan kalimat “Inilah firman akan hal negri Arab..”

Padahal terjemahan sebenarnya bukanlah demikian, sebab “The Burden Upon Arabia” terjemahannya adalah “Beban atas Arab” yang bermaknakan tanggung jawab Muslimin Arab pada mula-mula kebangkitan Islam untuk mengembangkan risalah Islam.

Kita juga melihat arti dari kata “burden” pada the Scofield Study Bible:

“…which also means an oracle is a word sometimes used in the prophetical writings to indicate a divine message of judgment” (Scofield Study Bible New King James Version, note 1, p. 792)

Kita baca dalam kitab Habakkuk 3:3

“Eloah came from Teman, and the Holy One from mount Paran. Selah. His glory covered the heavens, and the earth was full of his praise.” (Habakkuk 3:3)

“Tuhan datang dari Teman dan satu itu yang disucikan datang dari pegunungan Paran. Selah. Kemuliaannya menutupi langit dan bumi dan memenuhinya dengan pujiannya.”(Habakkuk 3:3)

Merefer pada Habakkuk 3:3 ini, mari kita lihat dulu pada apa yang dinubuatkan oleh Jesaya dalam kitabnya pada pasal 21:14

“The inhabitants of the land of Tema brought water to him that was thirsty, they prevented with their bread him that fled.” (Isaiah 21:14)

“Para penduduk dari tanah Tema itu membawakan air kepadanya yang kehausan, mereka menjamunya dengan roti kepunyaan mereka terhadap yang telah melarikan diri.” (Jesaya 21:14)

Lebih jauh pembahasan ini kita mulai dari nubuatan Yesaya pada 21:7 mengenai “Dua pengendara” :

“And he saw a chariot with a couple of horsemen, a chariot of asses, and a chariot of camels; and he hearkened diligently with much heed.” (Isaiah 21:7)

“Dan dia melihat sebuah kereta dengan sepasang penunggang kuda, yang sebuah kereta keledai dan yang sebuah kereta unta, lalu dia mendengar dengan ketekunan dan segenap perhatian.” (Jesaya 21:7)

Dalam hal ini nubuatan Jesaya akan penglihatannya itu terbagi menjadi dua bagian, bahwa seorang penunggang keledai dan seorang penunggang unta, setiap orang Kristen akan segera menjawab dengan pasti bahwa sang penunggang keledai itu adalah gambaran dari Jesus, sebagaimana yang termuat didalam Yohanes 12:14

“And Jesus, when he had found a young ass, sat thereon; as it is written.” (John 12:14)

“Dan Jesus, ketika dia mendapatkan seekor keledai muda, lalu duduk diatasnya seperti yang tersurat”.
(Yohanes 12:14)

Lalu siakapah yang dijanjikan akan mengendarai unta ?
Tokoh yang dinubuatkan oleh Jesaya ini sudah dilalaikan oleh para pembaca Bible, bahwa sang pengendara unta itu adalah Nabi Muhammad Saw. Apabila ayat ini tidak diterapkan kepada beliau Saw, maka kenabian belum terpenuhi. Oleh sebab itulah maka Jesaya dalam pasal yang sama menjelaskan lebih lanjut (21:13)

Baru pada ayat ke-14 kita kembali pada pembahasan masalah “Tema”, sebagaimana ayat yang telah kita kutip dan akan kita kutip lagi dibawah ini :

“The inhabitants of the land of Tema brought water to him that was thirsty, they prevented with their bread him that fled.” (Isaiah 21:14)

“Para penduduk dari tanah Tema itu membawakan air kepadanya yang kehausan, mereka menjamunya dengan roti kepunyaan mereka terhadap yang telah melarikan diri.” (Jesaya 21:14)

Berikut ini akan saya kutipkan pernyataan dari alamat : http://www.aol40.com/prediction.htm

In “The Dictionary of the Bible,” bearing the Nihil Obstat, Imprimatur, and Imprimi Potest (official Church seals of approval), by John McKenzi, we read that “Tema” is:

“a place name and tribal name of Arabia; a son of Ishmael…. The name survives in Teima, an oasis of the part of the Arabian desert called the Nefud in N Central Arabia.”

This word, Tema, is the name of the ninth son of Ishmael (the father of the Arabs), in Genesis 25:13-15

Strong’s concordance tells us that this name was also applied to the land settled by Tema the son of Ishmael. It goes on to explain how this word is “probably of foreign derivation”.

Indeed, this word, Teima, is an Arabic word which means “Barren desert”. It remains the name of a city in the Arabian peninsula just north of “Al-Madinah Al-Munawarah,” or “Madinah” for short.

Yang dimaksudkan dengan Tema disini adalah kota “Madinah” atau “Yathrib”, yaitu kota tempat hijrahnya Nabi Muhammad Saw dan para sahabat beliau setelah mendapatkan siksaan dan perlakuan yang tidak manusiawi dan terusir dinegri kelahirannya, Mekkah.

Sejarah mencatat bahwa dinegri Tema atau Madinah ini Rasulullah Saw mendapatkan sambutan dan penghormatan yang menggembirakan dari penduduk kota tersebut, sesuai dengan Yesaya 21:14 dan Yesaya 21:15.

Dan setelah hijrahnya Nabi Muhammad Saw bersama para sahabat dan pengikutnya ketanah Madinah, yaitu dimulainya tahun Hijriah Islam, maka pada tahun berikutnya yaitu tahun kedua Hijriah, Nabi Allah Muhammad Saw menepati nubuatan Yesaya pada ayat berikutnya, yaitu :

“For thus hath Yahweh said unto me, Within a year, according to the years of an hireling, and all the glory of Kedar shall fail. And the residue of the number of archers, the mighty men of the children of Kedar, shall be diminished: for the LORD God of Israel hath spoken it.” (Isaiah 21:16-17)

Pada tahun kedua Hijriah, yaitu setahun sesudah hijrahnya Rasulullah Muhammad Saw (“within a year according to the years of an hireling”), terjadilah peperangan Badar yang mengakibatkan banyaknya para pemuka Kedar (yaitu kaum serumpun Muhammad Saw yang menyembah berhala dan memusuhinya dikota Mekkah) gugur dalam peperangan tersebut.

Kemenangan kaum Muslimin pimpinan Nabi Muhammad Saw dalam peperangan Badar ini merupakan awal dari kehancuran keturunan Kedar yang menyembah berhala ditanah Arabia.

Lalu kembali kita pada pembahasan Habakkuk 3:3 bahwa :

“Tuhan datang dari Teman dan satu itu yang disucikan datang dari pegunungan Paran. Selah. Kemuliaannya menutupi langit dan bumi dan memenuhinya dengan pujiannya.”(Habakkuk 3:3)

Biasanya umat Nasrani akan mengatakan bahwa isi kitab Habakkuk ini adalah perihal pernyataan Allah kepada Musa yang memimpin umatnya, padahal sama sekali Habakkuk dalam kitabnya tidak pernah ada menyinggung-nyinggung masalah penyertaan Tuhan kepada bangsa Israel dengan pimpinan Musa, isi kitab Habakkuk adalah menceritakan tentang pengagungan kepada Tuhan.

Apa arti kata Selah pada Habakkuk 3:3 ?
Mari kita lihat pada Genesis / Kejadian 49:1 :

“And Jacob called unto his sons, and said, Gather yourselves together, that I may tell you that which shall befall you in the last days.” (Genesis 49:1) “Dan Yakub telah memanggil anak-anaknya, dan berkata, berhimpunlah kalian bersama, bahwa aku hendak mengatakan kepadamu tentang apa yang akan menimpa kepada kamu pada hari kemudian.” (Kejadian 49:1)

Pada ayat yang ke-10 terdapatlah kata-kata :
“The sceptre shall not depart from Judah, nor a lawgiver from between his feet, until Shiloh come; and unto him shall the gathering of the people be.” (Genesis 49:10)

“Tongkat lambang kekuasaan itu tidak akan mundur dari Judah, pemberi hukumpun tidak dari antara kakinya, sehingga datanglah Selah, maka kepadanyalah segala bangsa akan menurut.” (Kejadian 49:10)

Selah, dalam konteks ayat diatas dapat kita artikan sebagai “Shaluah”, yang artinya “Rasul” (Utusan Allah), Selah juga merupakan nama sebuah kota, tetapi pengertian ini kurang tepat bila dimasukkan kedalam pengertian Kejadian 49:10 ini, begitu pula Selah dapat diartikan sebagai bentuk pujian terhadap Allah sebagaimana yang terdapat dalam kitab Mazmur (Psalm).

Sehingga maksud dari Kejadian 49:10 adalah tongkat lambang kekuasaan dalam hal ini wahyu yang mengabarkan tentang kerajaan Allah akan segera berakhir dengan kedatangan “Selah” yang menurut Allah dan juga Jesus sendiri didalam Ulangan 32:21 dan Matius 21:43 bahwa kerajaan Allah itu pada akhirnya akan diangkat dan dipindahkan kepada suatu bangsa selain dari Bani Israel, dan disanalah Selah itu akan mengakhiri wahyu mengenai kerajaan Allah.

“Tuhan datang dari Teman dan satu itu yang disucikan datang dari pegunungan Paran. Selah. Kemuliaannya menutupi langit dan bumi dan memenuhinya dengan pujiannya.”(Habakkuk 3:3)

Bahwa Tuhan datang dari Teman yang bisa diartikan bahwa Tuhan telah menolong Nabi-Nya dikota Tema atau Madinah dan orang yang disucikan itu yakni Nabi Muhammad Saw datang dari pegunungan Paran, bahwa Muhammad Saw selaku keturunan dari Nabi Ismail as yang bertempat dipegunungan Paran telah datang datang kekota Madinah sebagai Selah, yaitu sebagai utusan Allah.

Kemuliaan dari satu yang telah disucikan dari pegunungan Paran itu akan menutupi langit dan bumi dengan kemuliaannya, dan akan memenuhi keduanya dengan pujiannya. Jelas bahwa Nabi Muhammad Saw sebagai Nabi yang telah disucikan oleh Allah, datang sebagai pembawa rahmat kepada seluruh alam, mengagungkan asma Allah dan ketauhidan-Nya, menolak segala bentuk keberhalaan yang menodai ke-Esaan Allah.

Kembali saya kutipkan pernyataan dari alamat : http://www.aol40.com/prediction.htm

“Eloah came from Teman, and the Holy One from mount Paran. Selah. His glory covered the heavens, and the earth was full of his praise.” (Habakkuk 3:3)

However, if we were to look more closely at this verse we would find even greater detail of this coming message. The word which has been translated here as “Holy One” is the Hebrew word “qadowsh” {kaw-doshe’} which has the multiple meaning of “sacred, holy, Holy One, saint, set apart.”

In this specific verse the translators judgment drove them to translate it as “Holy One” (notice the capitals), thus, they understood this verse to simply mean “God came from Teman and God came from mount Paran.” However, if this was the intended reading then why did God choose to use the word “God” in one place and “Holy One” in the other? There must be a reason for this specific wording. Actually, there is.

If we were to read Exodus 19:6 we would find that the same translators of the Bible have translated this same Hebrew word as “holy nation.”

In Exodus 29:31 it is translated as “holy place,” and in Zec. 14:5 they translated it as “saints.”

Thus, we see that according to the witness of these same translators of the Bible, this verse of Habakkuk 3:3 could (or more correctly, should) be translated as “and the saint from mount Paran,” or “and the holy one from mount Paran” (no capitals). This is important, why?

If we were to accept everything these Biblical translators are teaching us and to accept that the word “qadowsh” can be translated as “Holy One,” or as “holy one,” or as “saint,” or as “holy,” etc.

Based upon the meaning most appropriate for the chosen verse, then we realize that although it would be completely appropriate to interpret the coming of Islam from the mountains of Makkah as “the Holy One” coming from “mount Paran”, still, it would be more precise to say that “the holy one” (or “the saint”) came from “mount Paran.” This is because Muhammad (peace be upon him) was born on Paran (Makkah) and first received the message of Islam in the mountains of Makkah.

So why does the first part of this verse say “God came from Teman” and not “The Holy One came from Teman”?

Well, the reason for this is that Islam was indeed first revealed to Muhammad (peace be upon him) in Makkah, however, he and his followers remained persecuted and in constant fear of death from the pagans of Arabia while they resided in Makkah.

This continued for a period of thirteen years. During this period, the Muslims were beaten, starved, tortured, and killed. This situation was hardly conducive of the Muslims openly preaching the message of God to all of mankind. For this reason, the knowledge of the persecution that one must endure upon acceptance of Islam prevented many from openly accepting it or preaching it to others.

However, this all changed in the beginning of the fourteenth year. That is when God Almighty commanded Muhammad (peace be upon him) to emigrate with his companions to Teman (Madinah).

Although the pagans escalated their persecution of the Muslims into all-out warfare at this point, still, within the boundaries of the city of Madinah they had begun to enjoy a measure of freedom and autonomy.

This freedom manifested itself in their ability to not only preach the message of God within the city itself, but they also began to send delegations to the surrounding cities inviting them to Islam. In other words, the message of Islam did not truly begin its “global” phase until it reached “Teman” or Madinah.

This is why the verse says “God came from Teman, and the holy one from mount Paran” In fact, just as the Christian calendar starts with the presumed date of the birth of Jesus (peace be upon him), so does the Islamic “Hijra” calendar start with the year in which the Muslims emigrated to Madinah.

Tidaklah disangsikan bahwa padang belantara Barsyeba yang dimaksud adalah dataran Sinai itu sendiri. Jadi sesudah daratan Paran adalah Mekkah dan Hijaz.
Ahli-ahli Geologi menerangkan bahwa daratan Paran terletak antara Mekkah dan Sinai.

Kitab Ulangan 33:2 berbunyi pula :
“Maka katanya: Bahwa Tuhan telah datang dari sinai dan telah terbit bagi mereka itu dari Seir, kelihatan Ia dengan gemerlapan cahayanya dari gunung Paran, lalu datang dengan sepuluh ribu orang suci, maka dari tangan kanannya terdapat hukum (syariat) yang bernyala-nyala bagi mereka.”

Bukankah pegunungan Paran ini adalah dimana Ismail sebagai putra Ibrahim berdiam sebagaimana isi kitab Kejadian 21:21 ?

Dan bukankah Allah sebagaimana yang kita kutip pada kitab Kejadian sebelumnya juga telah menjanjikan akan berkah dan karunia-Nya bagi Ismail ?

Itulah dia terjadi pada saat kebangkitan Muhammad yang berasal dari benih Ismail manakala beliau Saw mendapatkan wahyu dari Gua Hira dan diangkat menjadi Nabi dan Rasul.

Paran, dimana Hagar dan Ismail bertempat tinggal ialah ditanah Arab, sebagaimana diterangkan dalam Galatia 4:25 sebagai berikut :

“For this Agar is mount Sinai in Arabia, and answereth to Jerusalem which now is, and is in bondage with her children.”

Dengan keterangan beberapa ayat Bible tersebut diatas, dapatlah dipahami bahwa Paran itu adalah sebuah padang belantara yang sangat luas, terletak antara negeri Palestina di Utara sampai gunung Torsina disebelah selatan dan disebelah Timurnya sampai dengan tanah Arab.

Dan pegunungan ditanah Arab disebut “Pegunungan Paran”, adalah wajar kalau lama kelamaan karena bertambahnya penduduk, maka yang dinamakan Paran itu hanya tinggal tempat yang ada dipegunungan Sinai.

Maka sekarang ini, Paran sudah tidak ada lagi setelah penduduknya bertambah padat. Hal ini sama keadaannya dengan pesisir utara tanah Jawa. Jaman dahulu semua pesisir utara tanah jawa adalah termasuk Mataram, tetapi sekarang Mataram itu hanya tinggal Yogyakarta dan Surakarta.

Hal ini mudah dimengerti, karena bangsa Arab pendatang didalam Kitab Kejadian dan kitab-kitab suci lainnya dikenal sebagai golongan Ismail. Sedangkan bangsa Arab pendatang ini menisbatkan silsilahnya kepada Adnan, yaitu nenek dari bangsa Quraisy yang pertama, yang tinggal di Mekkah.

Dan Janji Tuhan pada Kejadian 21:18 dan 17:20 yang menyatakan akan menjadikan keturunan Ismail sebagai suatu bangsa yang besar telah terpenuhi yang diawali dengan kelahiran dan pengutusan Rasulullah Muhammad Saw Al-Amin yang ajarannya kelak akan menghantarkan Bangsa Arab sebagai suatu bangsa yang besar sebagai pusat penyebaran Islam.

Dengan demikian jelaslah bahwa Gua Hira yang berada disalah satu gunung ditanah Arab (Mekkah), adalah termasuk pegunungan Paran, dimana Tuhan dengan gemerlapan cahaya-Nya terlihat digunung Paran, sebagai isyarat turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad Saw.

Dan pada kalimah terakhir pada Kitab Ulangan 33:2 berbunyi “… maka dari tangan kanannya terdapat hukum (syariat) yang bernyala-nyala bagi mereka.”

Maksudnya ditangan Muhammad terdapat hukum atau syariat yang tegas bagi umat manusia dengan diiringi oleh 10 ribu orang-orang suci, yaitu para sahabat Rasulullah Saw.

Jadi semakin jelas sudah bahwa Ulangan 33:2 mengatakan : Tuhan telah datang dari Sinai (ini berupa wahyu kepada Musa), kemudian datang dari Seir, sebuah gunung didaerah Palestina (ini wahyu kepada Isa / Jesus) dan yang terakhir dari pegunungan Paran (yaitu wahyu kepada Muhammad Saw) adalah merupakan nubuatan atas diri Rasulullah Muhammad Saw.

Kedatangan Allah dalam konteks ayat Ulangan 33:2 itu tentunya tidak bisa kita artikan bahwa Tuhan akan muncul face-to-face dengan manusia, sebab baik Bible maupun Qur’an sendiri membantah bahwa Tuhan bisa dilihat oleh manusia, pengertian kedatangan, kebangkitan dan bersinarnya Tuhan dalam konteks ayat diatas haruslah kita artikan sebagai petunjuk atau wahyu yang datang dari Allah melalui tempat-tempat tersebut.

Jika kita lihat terjemahan berbahasa Inggris, didapati kalimat :

“And he said, Yahweh came from Sinai, and rose up from Seir unto them; he shined forth from mount Paran, and he came with ten thousands of saints: from his right hand went a fiery law for them.” (Deuteronomy 33:2)

Makna kata “came from…, and rose up from … he shined forth” jika kita pahami dengan baik maka akan menumbuhkan pengertian yang lebih luas, bahwa Tuhan sudah datang dari Sinai, lalu kenapa disebut dengan “came from” ?

Sebab dalam hal mewartakan wahyu-Nya kepada Musa, Tuhan sendiri yang menghampiri Musa diatas gunung Sinai, dan berikutnya, setelah seluruh yang diwahyukan kepada Musa yang dikenal dengan nama Taurat mulai dirusak dan dimanipulasi serta ditinggalkan oleh kaum Yahudi dalam beberapa periode setelah kematian Musa, wahyu Tuhan akan dibangkitkan lagi (rose up from) oleh ‘Isa al-Masih melalui Injilnya, yang berfungsi mengembalikan atau mengingatkan kembali hukum-hukum Taurat.

Pada akhirnya, setelah semua wahyu Tuhan itu kembali diabaikan oleh manusia dengan pembangkangan mereka, Tuhan akan mendatangkan kembali wahyu-Nya dengan kata-kata “he shined forth”, akan bersinar …. jadi wahyu yang terakhir ini akan berfungsi sebagai penerang, sebagai sumber cahaya, bagaikan matahari yang akan selalu terbit meskipun cahayanya terkadang ditutupi oleh mega hitam yang berlalu, namun kekuatan tembus dari cahaya itu akan mampu menguak setebal apapun mega hitam menggantung, sekalipun malam turut menghadang, namun sang mentari akan meminjam bulan untuk meneruskan cahayanya, menerangi kegelapan.

Itulah AlQur’an, wahyu yang diturunkan oleh Allah, yang senantiasa bersinar, menembusi seluruh hati manusia, menguak kebohongan dan manipulasi yang coba dilakukan oleh pihak-pihak tertentu, menjadi sumber ilmu pengetahuan bagi mereka yang mau mempergunakan akalnya.

Seandainya suku Quraisy dan bangsa-bangsa Arab pendatang lainnya bukan merupakan keturunan Ismail, berarti keterangan Kitab Kejadian itu tidak benar dan janji Allah kepadanya tidak dipenuhi, padahal Allah tidak pernah menyalahi janjiNya.

Karena di Mekkah tiada keturunan Ismail yang Allah beri berkah dan diperbanyak keturunannya serta tidak ada suatu bangsa besar dipenjuru manapun dibumi ini yang valid untuk dinisbatkan kepada beliau. Maka kalau hal ini tidak benar, lalu darimana asal-usul bangsa tersebut jika mereka bukan bangsa Arab pendatang ? DImana tempat mereka itu bermukim, agar janji Allah yang tidak pernah menyalahi JanjiNya itu menjadi suatu kenyataan dan kabar gembiranya terwujud, karena tiadalah kebohongan dengan kabar tersebut ?

Disamping itu, bahasa Arab pendatang ini mirip sekali dengan bahasa Hebrew (Yahudi), yang merupakan bahasa Ibu dari Nabi Ismail dan tetap sampai sekarang menjadi bahasa kebangsaan Yahudi.

Adanya persamaan antara dua bahasa ini tidak mungkin timbul jika tidak ada hubungan silsilah antara kedua kelompok ini. Apabila kedatangan Tuhan dari Paran ini masih dipaksakan kepada Yesus, maka sejauh yang kita ketahui bahwa Yesus sepanjang hidupnya tidak pernah singgah ke Paran atau juga Teman. Sebaliknya Muhammad Saw, beliau lahir di Paran dan diangkat menjadi Nabi didaerah ini.